Ludruk KARYA BUDAYA: Bersiasat dalam manajemen dan kreativitas (bagian 2-habis)

IKWAN SETIAWAN

 

Ngunduh hasil

Atas capaian-capaian luar biasa mereka, LKB sering diundang untuk menggelar pertunjukan yang diselenggarakan institusi kebudayaan (seperti tercantum pada poster-poster di atas). Pada 13-16 Desember 2007, LKB diundang untuk menggelar pertunjukan di Festival Bengawan Solo, Surakarta, dan membawa lakon Joko Sambang. Pada 15 Mei 2011, mereka dipercaya sebagai duta seni Jawa Timur untuk menggelar pertunjukan di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dengan mempersembahkan lakon Juragan Dhemit. Pada 2 Maret 2012, Cak Edy dan rombongannya diundang pentas di Balai Pemuda Surabaya dengan lakon Joko Kendil. Sementara, pada 22 Desember 2012 mereka menggelar pentas di TBJT dengan lakon Pak Sakerah. Tentu, pagelaran-pagelaran tersebut hanyalah sebagian kecil dari pagelaran yang dijalani oleh para seniman LKB berdasarkan undangan lembaga-lembaga tertentu. Undangan pertunjukan tersebut menegaskan posisi penting LKB dalam jagat ludruk di Jawa Timur serta adanya pengakuan publik terhadap eksistensi dan terobosan kreatif-inovatif yang dilakukan kelompok ini.

https://mimbarteater.files.wordpress.com/2011/05/budayamojokerto.jpg

Poster LKB (https://mimbarteater.wordpress.com/2011/05/03/juragan-dhemit-ludruk-karya-budaya-mojokerto/)

Meskipun undangan dari panitia festival ataupun parade kesenian secara finansial tidak menguntungkan karena selalu kurang apabila dibandingkan dengan biaya produksi sebuah lakon, Cak Edy selalu berusaha memenuhi undangan tersebut. Kadang dari total biaya produksi Rp. 8.000.000,-, LKB hanya mendapatkan bayaran Rp. 4.000.000,- sampai Rp. 5.000.000,-. Menghadapi situasi demikian, Cak Edy akan menggunakan uang tabungan dari hasil pertunjukan terob untuk menutupi kekurangan biaya. Baginya, undangan untuk menggelar pertunjukan di luar Mojokerto, apalagi di luar Jawa Timur, akan menjadi pengalaman dan pelajaran sendiri, agar mereka tidak punya mentalitas “jago kandang”.[i] Lebih jauh lagi, pengalaman mengikuti festival seni-budaya di luar Mojokerto akan menjadi kebanggaan tersendiri sehingga para anggotanya akan semakin mencintai LKB.

Capaian-capaian estetik dan kultural yang diperjuangkan oleh LKB sejak pertama berdiri sebagai kelompok kesenian tradisional, mendapatkan apresiasi yang cukup besar dari beberapa institusi komersil, baik BUMN maupun swasta. Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk ikut mengembangkan dan memberdayakan kesenian ludruk, PLN berkomitmen memberikan kucuran dana sebesar Rp. 200.000.000,-.[ii] Uang tersebut diberikan secara bertahap sejak Desember 2012 sampai 2013. Untuk tahap pertama, LKB mendapatkan kucuran dana sebesar Rp. 30.000.000,-. Untuk kersajama dengan PLN bentuknya adalah pagelaran keliling sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari institusi bersangkutan. Dana sebesar itu oleh Cak Edy, selaku pimpinan LKB, dialokasikan untuk melengkapi dan memperbaiki kebutuhan pertunjukan. Ia mengalokasikannya untuk perbaikan tata lampu, generator set, dimmer (mesin kendali tata lampu), pembelian seragam pengrawit, dan honor untuk para pemain.[iii] Pilihan tersebut menandakan keseriusan Cak Edy dalam mengelola LKB yang tidak hanya berorientasi pada pembagian rezeki dalam jangka pendek—misalnya, langsung membagi-bagikan dana CSR tersebut untuk para anggotanya. Ia memiliki visi jangka panjang, karena pembelian perlengkapan panggung jelas akan menambah kualitas tampilan artistik LKB, di manapun mereka menggelar pertunjukan.

Poster LKB (https://www.kompasiana.com/jabbarabdullah/551adad8a333117b21b65ac6/pergelaran-periodik-teater-tradisi-2012-ludruk-karya-budaya-mojokerto)

Sementara, dengan perusahaan rokok, LKB pada tahun 2009 disponsori untuk pertunjukan keliling di beberapa titik wilayah di Mojokerto, Malang, dan Trenggalek dengan biaya Rp. 25.000.000,-. Dana yang diberikan oleh perusahaan rokok memang bukan sekedar CSR seperti yang diberikan PLN. Perusahaan rokok itu tentu sudah mengobservasi ketenaran LKB sebagai salah satu grup paling laris se-Jawa Timur. Ketenaran itulah yang diharapkan bisa mendongkrak omset penjualan rokok sehingga secara finansial perusahaan tersebut tetap mendapatkan keuntungan. Bagi LKB sendiri, pertunjukan yang didanai sponsor ini akan menambah jam terbang serta memperluas pasar mereka sekaligus mendatangkan rezeki bagi para anggotanya. Jadi, meskipun penuh kepentingan sponsor, LKB tetap memosisikan pertunjukan keliling tersebut sebagai rezeki yang harus disyukuri karena tidak setiap kelompok ludruk bisa mendapatkan dana sponsor.

Dalam perspektif kritis, keberadaan sponsor dalam memfasilitasi pertunjukan ludruk bisa dibaca sebagai bentuk inkorporasi pemodal terhadap potensi kultural yang masih digemari oleh masyarakat. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari prinsip kelenturan kapitalisme pasar dalam merangkul ketradisionalan dan kerakyatan sebagai upaya untuk memperluas jangkauan pasar dari produk-produk mereka. Dengan kehadiran ratusan penonton dalam pertunjukan ludruk, sponsor akan diuntungkan dari aspek promosi yang diharapkan mendongkrak penjualan mereka. Prinsip memperbesar keuntungan menjadi motivasi yang mendorong pihak perusahaan menyeponsori pertunjukan ludruk. Artinya, dalam iklim kapitalisme neoliberal, aspek-aspek tradisional dan kerakyatan merupakan sumber bisnis baru yang bisa dirangkul—dan bukannya dimusuhi. Meskipun demikian, di tengah-tengah hegemoni produk-produk budaya populer yang menggerus ketenaran perutnjukan rakyat, para juragan dan pemain ludruk bisa memaknai sponsor sebagai sarana untuk terus menegosiasikan eksistensi dan identitas mereka. Selain itu, dana yang diberikan oleh sponsor bisa menjadi semacam stimulan bagi para seniman ludruk untuk terus berkreasi. Mereka memang tidak mungkin bisa menolak tawaran dana dari sponsor ketika secara finansial belum bisa mandiri. Namun, apa yang lebih penting untuk dipahami adalah bahwa keputusan tersebut bisa menjadi arena baru untuk terus menawarkan ludruk kepada masyarakat pendukungnya sekaligus menggiatkan semangat para seniman. Apalagi, rezim negara masih setengah hati untuk menggelontorkan anggaran bagi penyebarluasaan dan pemberdayaan ludruk sebagai salah satu identitas Jawa Timur, khususnya masyarakat dan budaya Arek.

Menempuh jalan digital

Salah satu kenyataan kultural yang menggejala dalam kehidupan masyarakat desa adalah kepemilikan mesin pemutar cakram digital atau VCD/DVD player. Meskipun tidak semua, sebagian besar sudah memiliki mesin ini. Booming VCD/DVD player buatan Cina menjadi penopang utama masuknya masyarakat desa ke dalam peradaban cakram digital. Di waktu senggang selepas beraktivitas di sawah ataupun sektor pekerjaan lainnya, mereka biasa menikmati musik dangdut koplo ataupun pengajian dari para ustadz yang sedang naik daun. Tidak jarang pula menikmati VCD tayuban dan ludruk yang direkam secara amatiran oleh tukang shooting pengantin dan diedarkan secara independen di pasar-pasar desa atau ketika ada pertunjukan kesenian. Kondisi inilah yang mendorong beberapa perusahaan rekaman di tingkat kabupaten maupun di Surabaya untuk merekam dan mengedarkan pertunjukan ludruk dan tayub dalam bentuk VCD.

https://brangwetan.files.wordpress.com/2014/05/img_8140.jpg

Tari remo gaya perempuan dari LKB (https://brangwetan.wordpress.com/2014/05/14/ultah-ludruk-karya-budaya-kidungan-nonstop/)

Ketika kami menonton pertunjukan ludruk di Trowulan, (28 November 2013), dua orang kameraman mengambil gambar adegan remo dalam pertunjukan ludruk Karya Budaya. Layaknya para kameraman profesional, salah satu meng-cover keseluruhan panggung dan adegan-adegan yang terjadi. Sementara, seorang yang lain mengambil adegan per adegan dengan teknik close up (CU), extreme close up (ECU), dan middle shoot (MS). Kedua kamera mereka langsung terhubung ke komputer editing yang di-handle oleh dua orang. Mereka bertugas mengolah gambar dari kedua kamera tersebut. Begitulah gambaran proses shooting pertunjukan ludruk yang dilakukan oleh awak dari perusahaan rekaman di tingkat kabupaten yang bekerjasama dengan perusahaan rekaman di tingkat provinsi. Perusahaan di tingkat kabupaten akan memasok rekaman pertunjukan ludruk dalam bentuk master kepada perusahaan di tingkat provinsi yang sekaligus akan menggandakan master tersebut serta mengedarkannya di beberapa kabupaten yang sebagian masyarakatnya masih menggemari pertunjukan ini.

VCD-VCD pertunjukan ludruk ataupun lawakan dengan mudah kita dapatkan di Mojokerto, Jombang, Surabaya, Lamongan, Malang, dan daerah-daerah lainnya. Biasanya VCD tersebut terdiri dari 2 keping dengan durasi 60 menit. Kelompok ludruk yang sering melakukan rekaman adalah Ludruk Baru Budi Mojokerto. Untuk sekali rekaman mereka akan mendapatkan bayaran Rp. 15.000.000. Sementara, Ludruk Karya Budaya juga beberapa kali melakukan rekaman bekerjasama dengan produser baik dari Surabaya maupun Mojokerto. Kontraknya senilai Rp. 25.000.000 untuk dua lakon. Setiap lakon terdiri dari dua VCD berdurasi 120 menit. Adapun lakon-lakon yang sering direkam dan dipasarkan melalui VCD kebanyakan cerita-cerita rakyat, seperti Sawunggaling, Sarip Tambakoso, Sogol, Maling Cluring, Pak Sakerah, dan lain-lain. Tentu saja, uang sejumlah itu harus dibagi sesuai dengan peran masing-masing para seniman dalam proses pertunjukan untuk rekaman. Adapun sistem kerjasama antara pihak kelompok ludruk dan perusahaan rekaman tidak diikat berdasarkan royalti penjualan VCD, tetapi sistem putus. Artinya, kelompok hanya menerima honor sebesar Rp. 15.000.000, sehingga berapapun VCD yang terjual kelompok ludruk tidak akan mendapatkan keuntungan. Memang, para juragan ludruk tidak bisa menolak tawaran sistem putus ini, apalagi menimbang betapa penggemar ludruk semakin terbatas.

http://1.bp.blogspot.com/-cJgdnmfusv8/TdvdOm2CtFI/AAAAAAAAACM/sniqZZu5mwo/s1600/4+%2528Small%2529.JPG

Transvesti LKB in action (http://dawetnesia.blogspot.com/2011/05/museum-ludruk-karya-budaya-mimpi-cak.html)

Untuk perekaman pertunjukan ludruk selama ini dikenal dua model. Pertama, kelompok ludruk menggunakan gedung tertentu untuk menggelar pertunjukan yang direkam oleh pihak perusahaan. LKB biasanya menggunakan Pondok Jula-Juli di Dusun Sukodono, Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, untuk menggelar pertunjukan yang direkam. Kelompok-kelompok lain yang belum punya gedung pertunjukan sendiri, biasanya menyewa gedung tertentu. Untuk perekaman model ini, sudah dilakukan penyesuaian-penyesuaian tertentu terkait durasi waktu yang berimplikasi kepada keutuhan pertunjukan. Untuk unsur cerita/lakon, memang tetap dipertahakan mendekati lakon aslinya, karena pihak kelompok tidak ingin kehilangan sebagian besar alur cerita yang berimplikasi pada keterpenggalan pesan-pesan sosial yang mereka sampaikan. Kidungan dan lawakan juga tetap dipertahankan meskipun durasi waktunya dikurangi. Adapun yang dihilangkan adalah atraksi-atraksi tambahan seperti fashion show dan jumlah tembang campursari yang dinyanyikan para tandak transvesti. Memang, dalam pertunjukan non-rekaman, kidungan, lawakan, serta fashion show bisa membutuhkan waktu yang relatif lama, sekitar 2 jam. Kedua, pihak perusahaan langsung merekam pertunjukan ludruk teropan yang digelar kelompok tertentu pada acara hajatan warga atau tasyakuran desa. Untuk model kedua, proses pengurangan durasi waktu dan pengurangan tampilan tambahan juga dilakukan selama proses editing. Untuk kedua model tersebut, pihak recording akan mendatangkan kru, mulai dari tukang kamera hingga tukang editing.

Dalam perkembangannya, lawakan ludruk-lah yang laris di pasaran karena masyarakat membutuhkan hiburan bersifat komedi di tengah-tengah permasalahan yang membelit mereka. Mengikuti model Srimulat-an, lawakan ludruk terdiri dari beberapa aktor/aktris yang sudah relatif dikenal oleh masyarakat penggemar ludruk, seperti (alm) Cak Supali. Kehadiran pelawak kondang menjadi daya tarik tersendiri bagi pemasaran VCD. Artinya, meskipun industri rekaman lokal juga mengadopsi sistem bintang, sebagaimana diterapkan dalam industri budaya dalam skala nasional maupun internasional, sebagai mekanisme untuk menjamin keberterimaan produk VCD mereka di tengah-tengah masyarakat. Para pengelola industri rekaman lokal, tentu saja, belajar dari banyak acara di televisi Indonesia maupun film-film populer yang banyak menampilkan bintang-bintang tenar agar produk mereka digemari penonton. Meskipun lawakan, para pelawak tetap mengusung lakon-lakon tematik tertentu berdasarkan permasalahan sehari-hari di masyarakat. Beberapa tema yang sering di mainkan adalah kehidupan pembantu, dilema poligami, dan cerita hantu. Lawakan, paling tidak, menjadi medium untuk melakukan banyolan-banyolan kritis terhadap masalah-masalah yang biasa dihadapi masyarakat kelas bawah.

http://elviradwianggraini.student.umm.ac.id/wp-content/uploads/sites/24475/2016/09/ludruk-karya-budaya.jpg

Lawakan LKB (http://elviradwianggraini.student.umm.ac.id/2016/09/23/about-mojokerto/)

VCD-sasi pertunjukan ludruk, paling tidak, memberikan dua keuntungan. Pertama, dengan direkam dan diedarkan dalam bentuk VCD, para seniman/wati mendapatkan tambahan penghasilan, meskipun tidak bersifat rutin. Kedua, dengan persebaran VCD pertunjukan mereka yang cukup luas di kabupaten-kabupaten tetangga, nama sebuah grup ludruk akan semakin dikenal oleh publik. Dari situlah mereka bisa berharap akan mendapatkan job tanggapan dari masyarakat yang kepincut dengan VCD pertunjukan mereka. Dengan demikian, para seniman/wati ludruk akan mendapatkan kelancaran rezeki dari tanggapan-tanggapan terop pada saat hajatan maupun Agustusan.

Di sisi lain, VCD-sasi ludruk bisa berdampak pada pengurangan bobot dan keutuhan sebuah cerita yang ditampilkan karena keterbatasan durasi waktu. Apalagi kalau penonjolannya sekedar pada aspek lawakan. Teknologi industri budaya memang cenderung meringkas ruang dan waktu, sehingga sangat mungkin berlangsungnya modifikasi dalam struktur pertunjukan. Implikasinya, pesan-pesan sosial yang akan disampaikan cenderung kurang mendapatkan tempat. Namun, realitas tersebut memang tidak bisa dihindari ketika para seniman/wati ludruk memutuskan untuk direkam dan diedarkan oleh produser dalam bentuk VCD. Memang, belum ditemukan data tentang pengaruh bertambahnya tanggapan sebuah kelompok ludruk setelah rekaman pertunjukan mereka beredar dalam bentuk VCD. Inilah yang perlu digali lagi dalam penelitian tahap berikutnya, biar bisa menarik sebuah kesimpulan yang lebih akurat terkait dampak positif dan negatif VCD-sasi pertunjukan ludruk.

Usaha-usaha kreatif di atas hanyalah sebagian kecil dari rekayasa kultural yang dilakukan para intelektual ludruk untuk lebih dekat kepada penonton. Tentu masih banyak rekayasa-rekayasa kreatif yang ia lakukan, demikian pula para intelektual dari grup ludruk lainnya. Paling tidak, mereka sudah punya kesadaran awal untuk menjadikan ludruk sebagai bagian dari industri kreatif berbasis pertunjukan yang masih bisa berkontestasi dengan kesenian-kesenian industrial; berkompetisi untuk mendapatkan tempat dalam selera kultural masyarakat kontemporer, baik di desa maupun di kota.

Belum mau mati di zaman (yang katanya) Reformasi

LKB dan beberapa kelompok ludruk yang masih survive di tengah-tengah ‘pasar budaya’ yang semakin cepat dewasa ini menjadi penanda masih kuatnya kehendak untuk meng-ada secara kultural. Kehendak tersebut menjadikan daya-hidup ludruk mampu melintasi dinamika dan persoalan zaman melalui siasat dan terobosan kreatif yang selalu bersifat kontekstual. Keterbukaan dan sikap adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa harus meninggalkan sepenuhnya pakem yang diwarisi secara turun-temurun menjadi kekuatan tersendiri yang menjadikan LKB dan beberapa kelompok lainnya masih bisa diterima oleh masyarakat pedesaan. Kondisi posmodern, sebenarnya memberi peluang bagus buat para pelaku seni pertunjukan rakyat, karena di tengah-tengah hegemoni modernisme, sebagian masyarakat kota/metropolitan dan pedesaan kembali merindukan hal-hal yang bersifat tradisional, primitif, ndeso, dan eksotis. Apabila kondisi ini dibaca sebagai peluang, maka seniman ludruk sebenarnya masih punya kesempatan luas untuk terus berdialektika dengan zaman guna menemukan formula-formula haru yang lebih menjanjikan untuk kepentingan pemberdayaan ekonomi kreatif dan penyebarluasan nilai dan wacana kultural dinamis di tengah-tengah masyarakat. Namun demikian, peluang tersebut juga menuntut kejelihan para pelaku dalam mentransformasikan nilai-nilai modern dan tradisional di dalam pertunjukan, sehingga penonton tidak mengalami kejenuhan akut.

LKB dalam lakon Sakera (https://henrinurcahyo.wordpress.com/2012/12/23/kepahlawanan-sakera-dalam-ludruk-karya-budaya/)

Nyatanya, masyarakat desa masih banyak yang suka menonton ludruk. Apa yang dibutuhkan kemudian adalah transformasi jagat ludruk ke dalam perubahan sosial, ekonomi, dan kultural masyarakat desa sebagai basis pendukungnya. Model transformasi memungkinkan para pelaku ludruk untuk menemukan dan memformulasi siasat-siasat liat agar eksistensi pertunjukan rakyat ini tidak semakin terpinggirkan oleh derasnya arus budaya populer-digital. Apropriasi terhadap teknologi modern, seperti dilakukan LKB dan beberapa kelompok ludruk lainnya, bisa menjadi contoh bagaimana seniman lokal tidak alergi terhadap perubahan, tetapi menyerap dan mempraktikkannya dalam pertunjukan yang bisa menarik minat penonton. Toh, penggunaan teknologi tersebut tidak menghancurkan pakem yang selama ini diyakini oleh para pelaku. Kontekstualisasi tema dan wacana dalam kidungan dan lakon pertunjukan menjadi pilihan lain yang bisa dilakukan. Bertumpuk-tumpuk permasalahan rakyat kecil menanti untuk dijadikan bahan kreatif yang bisa diolah secara menawan, sehingga ludruk kembali mendekat dan mengartikulasikan struktur perasaan rakyat kebanyakan. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa ludruk sebagai kesenian yang tumbuh dan berkembang dalam bahasa rakyat kecil, mampu mentransformasikan permasalahan yang disebabkan oleh penerapan sistem ekonomi-politik yang merugikan dan menindas. Ketika negara tidak mau hadir untuk berkontribusi dalam pengembangan ludruk, para seniman sejatinya tidak perlu ewuh-pakewuh dalam menampilkan kritik yang dibungkus dengan bahasa dan lakon pertunjukan.

Ketika para seniman belum ingin melihat kematian ludruk, mereka, mau atau tidak mau, harus mulai berpikir-ulang tentang manajemen kelompok dan manajemen kreativitas. Seorang juragan sebagai manajer atau pimpinan sebuah paguyuban harus mampu mentrasnformasi manajemen modern agar para anggotanya bisa diatur dan diarahkan secara lebih baik demi eksistensi kelompok. Meskipun demikian, hal itu tidak berarti bahwa aspek-aspek kebersamaan dan solidaritas sebagai kekuatan tradisional harus diberangus. Sebaliknya, komunalisme tersebut bisa menjadi kekuatan transformatif untuk menjalankan sebagian pola manajemen modern. Implikasinya adalah keberdayaan para anggota dan eksistensi kelompok ludruk. Adapun manajemen kreativitas dibutuhkan agar para sutradara dan pelaku ludruk mampu menemukan terobosan-terobosan kreatif yang bisa melampaui pola tradisional tanpa harus meninggalkan pakem, sehingga penonton yang sudah berubah orientasi kulturalnya tetap bisa menikmati pertunjukan ludruk.

LKB dalam lakon Sakera (https://henrinurcahyo.wordpress.com/2012/12/23/kepahlawanan-sakera-dalam-ludruk-karya-budaya/)

Lebih dari itu, transformasi wacana kerakyatan dalam pertunjukan merupakan keunggulan ludruk di era Reformasi yang memiliki multi-fungsi. Fungsi pertama adalah sebagai proyek diskursif untuk menegosiasikan kesadaran kritis kepada para pelaku dan penonton. Bahwa memang benar mereka saat ini hidup di tengah-tengah zaman yang tidak otoriter, tetapi mereka tidak bisa sepenuhnya lepas dari kuasa-kuasa yang menyebar secara hegemonik, khususnya dalam wujud sistem dan praktik ekonomi-politik neoliberal yang seolah-olah memberikan kemerdekaan dan kemakmuran kepada rakyat. Namun, sejatinya, itu semua hanya kamuflase karena rakyat kembali dieksploitasi dalam mekanisme produksi-distribusi-konsumsi demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya bagi penyelenggara negara, wakil rakyat, dan pemodal besar. Fungsi kedua adalah untuk mengembalikan ludruk pada ruh perjuangan rakyat kecil sehingga pertunjukannya bisa tetap digemari dan didatangi oleh penonton.

Catatan akhir

[i] Lihat, Khoirul Inayah. “Ludruk Karya Budaya Goes to Festival Bengawan Solo”. Dalam Radar Mojokerto, 1 Desember 2007.

[ii] Manajer Komunikasi Hukum dan Administrasi PT PLN Distribusi Jatim, Noerdajanto,menjelaskan, bantuan CSR yang ditujukan untuk seni tradisional jatim ini, sengaja dititik beratkan pada kenyataan kelestarian Ludruk yang kini se-akan mati suri. Noerdajanto mengatakan: “Siapa lagi yang peduli terhadap kesenian tradisional jika bukan dari perusahaan yang memiliki kepedulian seperti yg dilakukan PLN. Kami berharap perusahaan lain maupun BUMN lainnya memiliki kepedulian yang sama dalam upaya menghidupkan seni tradisional ini, sehingga kesenian semacam Ludruk, Reog dan lainnya tidak diklaim sebagai seni budaya negara lain…Kami yakin, Ludruk akan tumbuh menjadi lebih besar dan bertahan diantara seni budaya dari negara lain. Dan masyarakat Indonesia khususnya Jawa Timur masih suka menonton ludruk”.Lihat, “Kucurkan 200 Juta untuk Lestarikan Ludruk Karya Budaya”, tersedia di: http://d-onenews.com/blog/200-juta-untuk-lestarikan-ludruk-karya-budaya/, diunduh 23 Desember 2013.

[iii] Ibid.

Foto cover: http://makantinta.blogspot.com/2010/10/ludruk-karya-budaya.html

Share This:

About Ikwan Setiawan 160 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*