Ludruk KARYA BUDAYA: Bersiasat dalam manajemen dan kreativitas (bagian-1)

IKWAN SETIAWAN

 

Cak Edy Karya: Bukan sekedar juragan

Drs. Eko Edy Susanto, M.Si., atau biasa disapa Cak Edy Karya adalah salah satu contoh figur intelektual yang mampu menggerakkan kelompok ludruk yang ia pimpinnya—Karya Budaya—melintasi ruang dan waktu zaman. Ludruk Karya Budaya (selanjutnya disingkat LKB) didirikan pada  29 Mei 1969 oleh Cak Bantu Karya seorang anggota Polsek Jetis, atas saran para tokoh masyarakat di Desa Canggu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.  Pada masa Orde Baru, Cak Bantu dan rombongan selain nobong dan melayani pertunjukan terob, juga sering melayani pertunjukan untuk kampanye pemerintah dan partai pemerintah, Golongan Karya. Melayani pertunjukan yang diselenggarakan Golkar memang terkesan tunduk kepada keinginan partai penguasa. Namun, semua itu dilakukan secara sadar sebagai siasat agar bisa survive di tengah-tengah hegemoni negara. Bagaimanapun juga, Golkar adalah partai penguasa yang sangat menentukan nasib dan masa depan masyarakat, termasuk kelompok dan seniman di ludruk.

Desa Canggu memang menjadi tempat situs desa seni ludruk, karena di desa ini  secara turun-temurun selalu ada paguyuban ludruk, bahkan sejak zaman kolonial. Grup ludruk yang terakhir berdiri adalah Ludruk Kartika Sakti yang dibubarkan oleh pemerintah Orde Baru pada tahun 1965 karena dianggap berafiliasi ke Lekra. Tahun 1993 Cak Bantu Karya wafat dansecara mufakat seluruh anggota memilih putra sulung Cak Bantu Karya, yakni Cak Edy Karya, untuk menggantikannya.[i] Pada peringatan hari lahir yang ke-30, LKB resmi menjadi menjadi Yayasan Kesenian dengan SK Notaris No.06 melalui akte Notaris Grace Yeanette Pohan, SH. Kepemilikan akta notaris merupakan penanda bahwa Cak Edy ingin membawa LKB ke dalam format manajemen organisasi modern. Meskipun demikian, ia tidak menerapkan secara menyeluruh manajemen modern, karena prinsip-prinsip kebersamaan sebagai ciri khas seni pertunjukan rakyat tidak bisa dikendalikan secara kaku—atas nama profesionalisme.

Cak Edy 1

Cak Edy Karya dalam persiapan sebuah pertunjukan

Sebagai seniman ludruk yang mengenyam pendidikan sampai jenjang pascasarjana (S2) Cak Edy menerapkan sebagian manajemen modern untuk mengatur dan memimpin 69 anggota LKB agar selalu mendapatkan tempat di hati para penggemarnya. Tidak heran, kalau dalam setahun LKB bisa mentas 150 kali—sebuah capaian yang luar biasa. Selain mempersiapkan pertunjukan terob LKB dengan tata panggung dan tata lampu yang sangat artistik, Cak Edy juga berhasil membuat terobosan-terobosan inovatif, seperti memperbanyak jumlah penari remo (pangreman) serta memasukkan pagelaran campursari dalam adegan tandhakan yang para pemainnya adalah transvesti. Meskipun demikian, ia tidak pernah melupakan pakem pertunjukan ludruk, sehingga lakon tetap menjadi elemen utama pertunjukan. Dalam pandangan Cak Edy, inovasi yang mengesampingkan pakem, bisa merusak tatanan estetik ludruk sehingga apa-apa yang ditampilkan menjadi tidak jelas dan terkesan hanya meniru mentah-mentah ketenaran kesenian industrial seperti yang banyak muncul di televisi (Wawancara, 12 November 2013). Baginya, pakem ludruk yang menampilkan tari remo, kidungan dan lawakan, dan cerita menjadi daya tarik tersendiri yang bila dihilangkan atas nama inovasi dan tuntutan zaman akan menghilangkan “ruh” pertunjukan ludruk itu sendiri. Senyampang tawaran inovasi tidak menggusur atau menghilangkan pakem pertunjukan, LKB bisa menerimanya karena masyarakat dan budaya tengah berubah secara dinamis.

Menata kelompok menata manusia

Penataan manajemen merupakan salah satu kekuatan LKB yang membedakannya dengan kelompok-kelompok ludruk lainnya di Mojokerto. Kesadaran untuk mengatur kelompok bukan hanya didasari oleh keinginan pragmatis agar para anggotanya manut dan nurut terhadap semua omongan Cak Edy. Lebih dari itu, penataan manajemen LKB diarahkan untuk kepentingan jangka panjang kelompok agar tetap bisa survive dan kreatif dalam kompetisi antarkelompok ludruk atau kompetisi dengan kesenian-kesenian pop-industrial.

Evaluasi tahunan

Selain melakukan terobosan dalam model pertunjukan dan teknik pementasan, Cak Edy juga sangat disiplin dalam mengelola manajemen kelompoknya. Dua kali dalam setahun—pada pertengahan tahun, bulan Juli, dan akhir tahun, bulan Desember—ia mengumpulkan semua anggota LKB untuk melakukan evaluasi (Abdullah, 2012). Semua anggota wajib hadir dalam forum evaluasi kecuali ada halangan. Meskipun durasi evaluasi hanya 2 jam, Cak Edy Karya benar-benar memanfaatkannya untuk melakukan koreksi terhadap penampilan anggota ludruknya di atas panggung selama setengah tahun berjalan. Beberapa yang menjadi perhatiannya adalah (1) kedisiplinan para pengrawit (panjak) yang terkadang malas memakai seragam panjak sehingga saat tampil tidak tampak kerapian dan keserasiannya; (2) rencana untuk memperbarui seragam panjak dan regu koor, agar terkesan “gak ndeso”; dan (3) rencana untuk “nglaras” gamelan dan jika memungkinkan akan menambah wayang lanang, tandak serta pengrawit. Selain itu, evaluasi juga dilakukan terhadap aktivitas pertunjukan terob. Titik tekannya adalah pada jaluk’an (permintaan) penanggap dalam hal lakon dan campursarian. Ia menegaskan agar ada batasan dalam memenuhi permintaan penanggap agar jadwal yang sudah tersusun tidak kocar-kacir. Meskipun begitu, jangan sampai mengabaikan sikap “melayani”. Kalaupun terpaksa menolak permintaan penananggap, maka disarankan agar ditolak dengan cara yang baik agar si penanggap nantinya tidak kapok atau enggan nanggap LKB lagi.

Dalam forum evaluasi pula, para anggota diberi kesempatan untuk berbicara, menyampaikan uneg-uneg dan masukan-masukan untuk pengembangan LKB. Suasana evaluasi tidak menjadi tegang sebab spirit ludrukannya telah manunggal (menyatu) dalam keseharian mereka. Kritik sepedas apapun, jarang sekali yang kemudian menjadi ketersinggungan. Cak Edy Karya juga senantiasa menanamkan kepada anggotanya agar tidak anti kritik. Sebab menurutnya, kritik itu baik untuk “kesehatan proses kreatif” jika disikapi dengan tepat. Dengan adanya kritik itulah, setiap orang bisa terlecut untuk terus tumbuh dan berkembang. Selain mengundang para anggota, dalam forum evaluasi Cak Edy juga mengundang pemerhati dan peneliti ludruk. Mereka diundang agar bisa memberikan masukan dan kritik terhadap pagelaran LKB selama setahun. Beberapa masukan yang diberikan para pemerhati dan peneliti biasanya seputar penyutradaraan, koreografi, komitmen keanggotaan, serta masukan terkait terobosan kreatif dalam hal lakon. Beragam masukan dan kritik menjadi bahan evaluasi dan perbaikan yang akan dilakukan secara kolektif oleh pengelola dan para anggota LKB. Efek dahsyat dari forum evaluasi ini adalah terjaganya kekompakan di antara para anggota LKB, sehingga apapun permasalahan yang terjadi bisa diatasi dengan kepala dingin dan senantiasa mengedepankan semangat guyub. Forum inilah yang jarang sekali dilakukan oleh grup ludruk ataupun kelompok kesenian tradisional lainnya karena semuanya bergantung kepada sang ketua. Dengan forum evaluasi pula, ketua dan para anggota bisa mengusulkan terobosan-terobosan baru dalam hal lakon, teknik pementasan, ataupun model pertunjukan yang bisa menjawab selera kultural masyarakat yang sedang bergeser dan berubah.

Dari evaluasi tahunan ini kita bisa melihat bagaimana Cak Edy menyerap tradisi manajemen modern untuk memperbaiki dan memperkuat eksistensi LKB. Evaluasi tahunan akan memberikan peluang untuk selalu menemukan celah berupa kekuatan dan kelemahan. Tindakan modern ini menegaskan bahwa Cak Edy ingin membawa LKB dalam jalur menuju keberdayaan yang didapatkan dari nalar dan perilaku profesional dalam kelompok. Namun, suasana cair dan guyub memberikan sentuhan komunalisme tradisional yang tidak ingin ditinggalkan oleh para anggota LKB. Dalam suasana cair dan gayeng mereka bisa menemukan kebersamaan yang produktif dan berdaya.

Mengatur kelompok, melampaui model juragan

Meskipun ludruk dikategorikan ke dalam kesenian tradisional, bukan berarti LKB tidak bisa menerapkan pola sistematis dalam mengelola keuangan. Pembagian honor untuk para pemain dan pengrawit disesuaikan dengan peran mereka masing-masing. Untuk pemain yang tidak berperan dominan dalam pertunjukan, mendapatkan honor Rp. 60.000,- setiap kali pentas. Namun, kalau mereka menjalani double casting, biasanya Cak Edy akan memberikan tambahan honor. Sementara, untuk pemain bintang, seperti Cak Supali (alm), mendapatkan honor Rp. 250.000,-. Dari setiap pagelaran, Cak Edy selalu menyisihkan uang untuk keperluan pengembangan, seperti pembelian lampu, perbaikan sound system, dan perbaikan terop. Dengan investasi tersebut, LKB sudah memiliki tata lighting yang cukup modern, tata sound yang memadai, terop, serta truk untuk mengakut peralatan. Dengan kepemilikan tersebut, LKB sudah melakukan penghematan yang luar biasa karena tidak harus menyewa lagi.

Trans 5

Para seniman LKB bersantai sejenak

Selain itu, LKB juga memiliki uang tabungan yang akan dibagikan kepada masing-masing anggota pada akhir tahun. Uang tabungan ini berasal uang yang dipotong dari ongkos tanggapan sebesar Rp. 500.000. Bisa dibayangkan, kalau dalam satu tahun LKB bisa manggung 100 kali, maka akan terkumpul uang tabungan sebesar Rp. 50.000.000. Pada akhir tahun atau menjelang lebaran, uang itu dibagi secara rata kepada semua anggota LKB, baik pengrawit, transvesti, aktor, maupun bagian perlengkapan dan transportasi. Selain itu, Cak Edy juga menyiapkan uang kas untuk keperluan para anggota yang sakit atau keluarga anggota yang meninggal. Dengan model itulah, Cak Edy dan semua anggota LKB bisa terus membangun komitmen kreatif dan komitmen terhadap paguyuban, sehingga mereka tidak mudah menerima bon-bonan dari paguyuban lain ataupun keluar dari LKB.

Model manajemen di atas tentu keluar dari pakem model juragan, di mana seorang juragan (ketua dan pemilik) berkuasa sepenuhnya terhadap eksistensi ludruk dan para anggotanya. Menurut Soewito, seniman ludruk, sistem juragan sudah berkembang sejak 1977 ketika militer mulai melepaskan cengkramannya dalam kepemimpinan grup. Ludruk dimiliki oleh para juragan kaya yang berkuasa penuh baik dalam manajemen maupun penentuan lakon pertunjukan; model pengelolaan yang sangat kontradiktif dengan pengelolaan ludruk di era Sukarno yang lebih demokratis berbasis organisasi.[ii] LKB memang masih menerapkan sistem juragan, tetapi, sebagaimana disampaikan Cak Edy, sistem yang dipakai adalah sistem organisasi modern, sehingga semua anggota merasa memiliki saham bersama untuk membesarkan grup.[iii] Ketika semua anggota—dari penari remo, pemain lawakan, aktor lakon, pengrawit, tukang lampu dan sound system, hingga sopir hingga juru angkut—memikili komitmen dan tanggung jawab tinggi dalam prinsip-prinsip organisasi, maka LKB tetap bisa survive hingga saat ini.

Sementara, untuk memperluas wilayah dan memperbanyak job pertunjukan, Cak Edy mulai merintis pembukaan ‘kantor perwakilan’ di beberapa daerah seperti Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Pasuruan, dan lain-lain. Di masing-masing wilayah, Cak Edy merangkul individu yang dirasa mau dan mampu mempromosikan keberadaan LKB kepada masyarakat di wilayah tersebut serta meyakinkan mereka agar mau nanggap LKB ketika ada hajatan. Dengan model pemasaran seperti ini, Cak Edy berharap gairah masyarakat terhadap pertunjukan ludruk bisa meningkat lagi, sehingga LKB juga akan semakin sering mendapatkan tanggapan yang berarti rezeki bagi para senimannya. Meskipun mengadopsi strategi pemasaran modern, model kantor perwakilan tersebut sebenarnya berakar dari strategi yang dilakukan semasa Cak Bantu masih memimpin LKB. Semasa hidupnya, Cak Bantu membuat siasat pemasaran yang jitu. Ia merangkul banyak tukang becak di beberapa tempat strategis di Mojokerto. Ia meminta para tukang becak menceritakan keberadaan dan kelebihan LKB kepada para penumpang mereka, sehingga ketika akan menggelar hajatan mereka tertarik nanggap ludruk ini. Strategi tersebut ternyata cukup jitu, sehingga pada masa Orde Baru, LKB—selain melayani kampanye Golkar—juga sangat laris, ditanggap orang-orang yang menggelar hajatan ataupun warga masyarakat yang menggelar tasyakuran desa. Atas jasa para tukang becak tersebut, Cak Bantu memberikan honor khusus yang secara nominal cukup lumayan.

Kreativitas menembus batasan

Transvesti kreatif

Para banci yang dalam pandangan penganut agama tertentu dan masyarakat awam dianggap ‘tidak baik’, ternyata bisa menjadi para aktor yang cukup memukau di atas panggung. Cak Edy sangat jeli melihat potensi mereka sehingga ia memutuskan untuk memainkan tidak hanya 1 atau 2, tetapi 18 orang waria. Para transvesti—istilah yang digunakan untuk menggantikan “banci”—biasa menarikan tari remo gaya perempuan secara berkelompok atau tunggal. Selain itu, mereka bisa menghibur penonton dengan suara merdu di saat adegan tandhakan/campursari di mana mereka melayani permintaan tembang dari tuan rumah ataupun para penonton lainnya. Dari para penonton mereka akan mendapatkan saweran berupa uang ataupun barang-barang keperluan sehari-hari. Selain itu, Cak Edy dan tim artistiknya tidak hanya terpaku pada kostum kebaya, tetapi juga dengan kostum modis seperti terlihat pada foto di atas. Dengan kostum modis, Cak Edy berusaha mendekatkan pertunjukan ludruk dengan selera terkini masyarakat yang sudah biasa mengenakan baju-baju modis ataupun melihat pertunjukan modelling di stasiun TV. Efek yang diharapkan adalah penonton bisa tersenyum ataupun tertawa dengan melihat para banci tersebut berlenggak-lenggok layaknya fotomodel kelas atas.

trans 1

Seorang transvesti melakukan make up secara mandiri

Dengan melibatkan para transvesti dalam pertunjukan ludruk, Cak Edy juga memiliki misi khusus untuk memperbaiki citra banci di tengah-tengah masyarakat (Wawancara, 12 November 2013). Mereka biasanya diidentikkan dengan prostitusi sejenis dan sering mangkal di jalan-jalan tertentu di Mojokerto. Dengan merekrut mereka sebagai pemain ludruk, para transvesti bisa mengembangkan kemampuan seni mereka serta bisa mendapatkan honor untuk keperluan hidup mereka sehari-hari. Bahkan, Cak Edy juga memberikan mereka modal untuk membuka usaha-usaha kreatif lain, seperti membuka salon kecantikan, jualan sembako, dan jualan pakaian. Melalui usaha itulah, para transvesti bisa punya penghasilan selain penghasilan dari pentas ludruk. Tentu saja, usaha-usaha kreatif tersebut sangat bermanfaat dan membantu, khususnya ketika pertunjukan ludruk sedang sepi. Lebih dari itu, mereka tidak kembali menjalani transaksi seksual di jalan-jalan.

Dalam tradisi LKB, pelibatan aktif transvesti tidak bisa dilepaskan dari wasiat yang diberikan (alm) Cak Bantu sebagai pemimpin pertama kelompok ini. Ada semacam kekhawatiran ketika pertunjukan ludruk melibatkan perempuan, yakni terjadinya hubungan yang dianggap melanggar norma-norma dalam masyarakat. Selain menjalankan wasiat Cak Bantu, Cak Edy memiliki alasan tersendiri mengapa ia harus mempertahankan keterlibatan kreatif para transvesti di LKB.

Terus terang saja, masyarakat Indonesia secara kultur masih menganggap mereka sebagai ‘sampah masyarakat’ atau melakukan diskriminasi status. Masih sedikit orang yang mau menerima keberadaan seutuhnya mereka di tengah masyarakat umum. Dan keluarga mereka pun sebagian besar masih menganggap transvesti itu suatu beban moral dan sosial. Perlakukan diskriminasi terhadap mereka dalam lingkup keluarga dan masyarakat seolah tak pernah berakhir. Oleh sebab itu, saya ingin mereka menjadi manusia seutuhnya dan punya makna dalam komunitas ludruk serta dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, ludruk menjadi sarana pendidikan informal bagi transvesti. Dalam grup ludruk mereka akan belajar: tari remo, kidungan, akting. (Susanto, 2014: 167-168)

Sementara masih banyak pakar berdebat tentang persoalan transgender—khususnya terkait stereotipisasi, peliyanan, dan moralitas, LKB dan kelompok ludruk lainnya sudah melampaui perdebatan dengan melakukan aksi nyata untuk memberdayakan potensi mereka dalam dunia panggung. Relasi dalam kelompok yang menyerupai keluarga menjadikan para transvesti merasakan kenyamanan dan tidak lagi merasa menjadi liyan seperti dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kegiatan pemberdayaan melalui suntikan modal usaha menjadikan mereka menemukan sebuah dunia yang bisa memperkuat eksistensi transvesti di masyarakatnya. Itulah mengapa, ada atau tidak ada pertunjukan, ikatan dengan LKB tetap kuat.  Bahkan, ada beberapa transvesti yang sudah berhasil dengan usaha pribadinya rela membeli pakaian panggung yang relatif mahal demi menyuguhkan visualitas yang menarik hati para penonton. Maka, dalam dunia LKB dan ludruk secara umum, persoalannya bukan lagi hitam-putih dalam memaknai kehadiran transvesti, tetapi bagaimana mereka bisa hidup dan menghidupkan pertunjukan sehingga eksistensi mereka dinilai melalui karya-karya yang mereka terlibat di dalamnya.

trans 3

Seorang transvesti siap menyuguhkan hiburan

Semua proses kreatif yang berlangsung dalam LKB mampu memberikan kesan, pengalaman, pengetahuan, dan skill yang menjadikan para transvesti siap untuk menjalani kehidupan secara lebih mandiri—dalam artian tidak tergantung pada belas kasihan orang lain. Yanti, 48 tahun, salah satu transvesti idola LKB, menuturkan ungkapan hatinya terkait pengalaman bergabung dengan paguyuban ludruk ini sejak 12 Juni 1994.

“Saat aku menjadi anggota LKB, aku begitu bahagia. Aku belajar remo dengan cara nyebeng. Nyebeng adalah proses latihan dengan melihat seniornya pentas. Sejak itu aku terus berlatih sendiri di rumah, menari remo sambil kidungan. Akhirnya aku bisa. Begitu senang dan bahagiannya aku bisa remo dan kidungan. Dengan arahan dan nasehat-nasehat Pak Edy Karya, membuatku makin percaya diri untuk pentas di panggung ludruk. Darah seniku terus mengalir. Setelah menguasai tari remo dan kidungan, aku belajar akting. Tak kusangka aku pun akhirnya bisa akting di panggung ludruk… Dalam perjalananku, aku sudah bekerja sebagai penjahit baju kebaya dan berdagang kebaya, sambil berkesenian di panggung ludruk.” (dikutip dari Susanto, 2014: 174)

Testimoni Yanti menegaskan kontribusi panggung ludruk—khususnya bersama LKB—dalam membantunya menemukan diri sebagai subjek yang bisa menjalani kehidupan sebagaimana manusia-manusia lainnya, tanpa harus malu dengan statusnya. Hidup adalah sebuah pilihan yang harus dilakoni. Dan, Yanti telah memilih untuk menjadi seniman ludruk sembari mengembangkan usaha ekonomi kecil sebagai penjahit dan pedagang kebaya sebagai penopang keberdayaan hidupnya dan keluarga tercintanya. Dengan demikian, selain mampu berkontribusi secara kreatif bagi pengembangan ludruk di tengah-tengah arus perubahan zaman, para transvesti juga mendapatkan keberdayaan secara individual, baik dalam hal ekonomi maupun kemampuan untuk menjadi subjek yang tidak lagi harus merasa diawasi oleh tatapan-tatapan stigmatik anggota masyarakat.

Pelatihan kreatif

Tidak seperti kelompok ludruk lain yang banyak mengandalkan kemampuan spontanitas para anggotanya di atas panggung, LKB berusaha memperkuat kemampuan para anggotanya dengan melakukan latihan rutin. Kegiatan itu dilakukan berdasarakan masukan-masukan dari pemerhati dan peneliti ludruk karena tanpa adanya pelatihan para seniman ludruk akan melakukan pengulangan-pengulangan tari, lawakan, maupun acting dalam membawakan lakon. Salah satu pelatihan yang dilakukan adalah pelatihan tari yang biasa dilakukan pada bulan Ramadhan, selepas sholat tarawih. Bulan puasa dipilih karena pada bulan ini tidak ada aktivitas pertunjukan.

Pelatihan tari seperti dilakukan LKB, tentu saja, sangat jarang dilaksanakan kelompok ludruk lain di Jawa Timur. Bagi Cak Edy, pelatihan tari merupakan bentuk investasi SDM yang akan menguntungkan para seniman dan kelompok.

“Kita berharap, nantinya [pelatihan tari, pen] dapat bermanfaat dalam atraksi panggung. Kalau yang nanggap puas, toh keuntungan juga kembali ke LKB. Latihan tari diadakan sebanyak 10 kali. Setiap peserta kami beri uang transpor.” (Inayah, 2008)

Untuk mendapatkan hasil maksimal, Cak Edy biasanya mendatangkan koreografer profesional yang ia minta melatih para transvesti di LKB. Meskipun awalnya kikuk, para transvesti pada akhirnya bisa mengikuti pelatihan beberapa tari garapan dengan suka-ria. Kemauan LKB untuk melakukan pelatihan tari menunjukkan kesadaran untuk terus mengembangkan kreativitas para anggotanya demi memberikan sajian terbaik kepada para penanggap. Tentu saja, akan lebih menarik kalau pelatihan yang diselenggarakan tidak sebatas pada tari, tetapi elemen-elemen yang lain, seperti pernaskahan, acting, maupun penyutradaraan, sehingga kemampuan kreatif para seniman LKB akan lebih mumpuni serta selalu peka terhadap perubahan zaman.

Trans 4

Seorang transvesti sedang nembang

Pelatihan kreatif merupakan aspek utama bagi para seniman dan kelompok seni yang ingin memperkaya tampilan estetik dan wacana, sehingga mereka tidak terjebak di dalam batasan-batasan pakem yang stagnan. Pakem tidaklah dilanggar, tetapi diberikan penekanan-penekanan kreatif baru yang menjadikan pertunjukan semakin berwarna, ramai, dan selalu kontekstual dengan perubahan selera kultural masyarakat. Mentransformasi pakem dalam wujud terobosan-terobosan kreatif memang membutuhkan energi lebih karena tidak semua seniman merasa membutuhkan mereka. Kecenderungan habitus yang demikian, pada akhirnya, membunuh nalar kreatif secara pelan tapi pasti dan implikasinya adalah stagnansi pertunjukan yang bisa saja membuat penonton jenuh karena mendapati tampilan estetik yang bersifat repetitif dan kurang sesuai dengan selera zaman.

Merangkul generasi muda

Sebagai upaya untuk memperkenalkan ludruk kepada generasi muda, Cak Edy tidak mau hanya dengan cara promosi atau memberikan pelajaran di kelas. Apa yang ia lakukan adalah mengajak generasi muda, khususnya pelajar SMA dan siswa sanggar seni tertentu, untuk ikut pentas dalam pagelaran LKB. Pagelaran semacam itu biasa disebut ludruk lintas generasi. Pada tahun 2010, misalnya, LKB menggelar pentas lintas generasi di Taman Krida Budaya Malang.[iv] Dengan sponsor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, mereka menggandeng para siswa dari SMA Taman Siswa Kota Malang, Komunitas Seni Persada Mojokerto, dan pemain ludruk pelajar dari Sanggar Panji Laras Probolinggo. Sementara untuk penari remo, Cak Edy menggandeng Sanggar Tari Djava Mojokerto dan Merissa, siswa SMA Taman Siswa Kota Mojokerto. Adapun untuk lawaknya, siswa SMP/SD Islam Terpadu Permata berkolaborasi dengan (alm) Cak Supali.

Untuk lakon yang dipentaskan juga disesuaikan dengan dunia kaum remaja. Pada pentas itu, LKB menampilkan lakon Gelas-gelas Retak karya Cak Edy Karya. Lakon itu menceritakan tentang kehidupan kaum remaja yang sangat dinamis, tetapi mudah terpengaruh oleh nilai-nilai baru yang bisa berdampak negatif. Mereka gampang sekali retak seperti gelas ketika mendapatkan pengaruh-pengaruh negatif seperti seks bebas, minuman keras, maupun narkotika. Paling tidak, dengan menggarap lakon tersebut, LKB ingin menyampaikan kritik kepada orang tua agar lebih memberi perhatian kepada anak-anak mereka yang menginjak usia remaja. Selain itu, melalui pentas lintas generasi ini, LKB berusaha memperkenalkan kepada generasi muda pengalaman estetik dan emosional dalam penggarapan ludruk, sehingga mereka akan merasakan rasa cinta terhadap kesenian ini.

Tentu akan lebih strategis, kalau pertunjukan ludruk lintas-generasi menjadi agenda rutin instansi kebudayaan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Dengan model ludruk lintas-generasi ini, mereka bisa dikatakan telah berusaha memberikan perhatian kepada eksistensi dan pengembangan kesenian ini. Kalau yang terjadi hanya diselenggarakan pada waktu tertentu dan tidak rutin, kesan yang muncul hanyalah “sekedar proyek untuk menghabiskan anggaran di akhir tahun”. Tentu kalau itu yang terjadi, lagi-lagi birokrat kebudayaan memang belum memiliki kerangka-kerja dan arah kebijakan yang jelas untuk memproyeksikan kesenian tradisional seperti ludruk sebagai kekayaan budaya yang secara kultural-ekonomis cukup strategis. Lebih dari itu, nama LKB juga dipertaruhkan karena di mata kelompok-kelompok lain terkesan ‘melayani aparat birokrasi’ yang sekedar menghabiskan anggaran. Alangkah baiknya, kalau LKB, ada atau tidak ada sponsor dari dinas terkait, tetap menggelar ludruk lintas-generasi sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap pengembangan kesadaran generasi muda terhadap salah satu kekayaan budaya arek serta sebagai sarana untuk mencari bibit-bibit seniman ludruk potensial bagi kelompok ini.

Mengembalikan wacana kerakyatan

Kidungan dari kehidupan

Bukan hanya lakon, kidungan sebagai salah satu aspek pertunjukan ludruk juga dikontekstualisasikan dengan kondisi dan permasalahan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Kalau pada zaman revolusi kemerdekaan, kidungan diarahkan untuk menggerakkan semangat revolusioner, pada masa Sukarno dilekatkan dengan tema-tema proletar, dan pada masa Suharto melayani program pemerintah, di era 2000-an ketika bermacam peristiwa politik dan permasalahan sosial berlangsung dalam era keterbukaan dan kebebasan—dari kekangan rezim otoriter, para seniman ludruk juga melakukan adaptasi dalam bentuk kidungan. Tidak ketinggalan pula para seniman LKB. Cak Slamet adalah salah satu pelawak LKB yang punya talenta dalam mengkreasi lirik-lirik kidungan yang bersifat kontekstual. Berita-berita dari media massa—baik cetak maupun elektronik—menjadi bahan yang bisa diolah-kembali untuk kidungan. Berikut kami cantumkan beberapa lirik kidungan kontekstual ciptaan Cak Slamet yang dikutip dari Susanto (2014).

Pilkada

Pesta demokrasi semakin terasa/Rasa kedamean semakin merata/Ayo konco podo ikut serta/Nggunakno hak pilih kita semua

Milih wakil kudu sing legowo/Ojo gegeran lan gawe perkoro/Saling menghormati sarat sing utomo/Supoyo tetep rukun sapodo-podo

Pilgub pilkada yo pemilihan umum/Sing dilaksanakno saben limang tahun/Mulo ayo sing podo rukun/Tentrem ayem sing kito suwun

Milih wakil sing pinter lan ngerti/Kudu teliti lan ati-ati/Kanti roso anteping ati/Supoyo gak getun ono dino mburi

Pesta demokrasi tambah ketok rame/Akeh bener baliho ono kono kene/Supoyo ngerti sing dadi calone/Ojo sampik keliru dadi tujuane

Milih gubernur ojo sampik ngawur/Milih bupati sing ati-ati/Milih lurah ojo nganti salah/Nek milih arek ayu meloko aku

Lirik kidungan di atas secara terang-benderang berisi tentang pesta demokrasi, pemilihan umum secara langsung di era Reformasi, khususnya sejak 2004. Dengan bahasa lugas berdialek Arek, kidungan ini menghadirkan atmosfer positif dan optimis dalam memaknai pesta demokrasi yang akhirnya bisa dilaksanakan secara langsung. Namun, yang menjadi ciri khas dari kidungan ini adalah masih kuatnya unsur ajakan dan pedagogik para seniman ludruk agar masyarakat mau berpartisipasi aktif dalam hajatan Pemilu. Masyarakat tidak semata-mata untuk aktif dalam pemilu, tetapi diingatkan agar tidak terlalu buta dan melupakan pertimbangan kritis ketika mereka hendak memilih wakil, dari DPRD, Presiden, DPRD. Selain itu, pilihan untuk berpihak pada figur atau partai politik tertentu diharapkan tidak memunculkan konflik horisontal yang bersifat destruktif. Wacana untuk selalu waspada dan menimbang secara kritis-komprehensif terhadap para calon wakil rakyat yang nama dan gambarnya terpampang di baliho dihadirkan agar masyarakat tidak memilih calon yang hanya jual tampang; agar mereka tidak menyesal di kemudian hari. Bagaimanapun juga, dalam iklim pemilu langsung, banyak calon yang tidak kompeten dan hanya bertujuan mengeruk keuntungan material ketika mereka sudah terpilih. Hal ini tentu akan merugikan rakyat kebanyakan karena mereka tidak bisa merasakan secara langsung perubahan menuju ke kehidupan yang lebih baik, sebagaimana dijanjikan para kontestan dalam pemilu. Itulah mengapa pada baris akhir dimunculkan guyonan satir, “nek milih arek ayu meloko aku”. Kalimat tersebut memang menjadi ‘penyegar suasana’ yang mengakhiri semua pesan-pesan politik kidungan. Namun, bisa juga dibaca bahwa kalau untuk sekedar memilih perempuan cantik, si pelawak saja bisa melakukan karena dia punya kemampuan khusus untuk melakukannya. Dengan kata lain, dari pada tidak bisa menimbang dengan baik proses pemilu atau dari pada tidak ada calon yang tepat, lebih baik tidak usah memilih dalam pemilu; lebih baik memilih aktivitas lain, termasuk memilih perempuan cantik untuk jodoh, misalnya.

PKL

Aku nek ngrungokno sambate kaum buruh/Awake ajur kayane gak ruh/Atine jengkel semangate rapuh/Kerjane terporsir semangate luyuh

Dadi wong soro kok terus-terusan/Kapan ngrasakno murah sandang pangan/Sing miskin tambah kekurangan/Sing rodo cukup dadi miskin sisan

Nyambut gawe gak duwe bondo/Bondo titik nyukup-nyukupno/Belajar dagang ono jeru kuto/Oleh koyo titik nang ati lego

Nyambut gawe golek dipangan/Kanggo nyukupi kebutuhan/Isane nyambut gawe cuma dagangan/Dagang kaki lima ono pinggir dalan

Kepingin rame pindah nang pasar/Nyambut gawe supoyo lancar/Karcis dispenda tetap tak bayar/Bareng ono satpol PP dikongkon buyar

Pedagang kaki lima akeh rewange/Kono kene podo akehe/Kenek ubrakan sik pancet ae/Akhire sing ngubrak wedi karepe dhewe

Kidungan di atas menyuarakan nasib rakyat kecil yang masih saja menderita di tengah-tengah iklim Reformasi saat ini. Di masa pemerintahan yang katanya menjajikan banyak perubahan dan perbaikan hidup, kaum buruh masih harus mengalami penderitaan sebagai akibat tindakan eksploitatif para pemodal di perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja. Itulah mengapa banyak terjadi gerakan buruh menuntut kepatutan upah yang sebanding dengan tenaga fisik yang mereka keluarkan untuk menghasilkan barang-barang industrial. Nyatanya, sampai saat ini upah mereka masih tidak mencukupi untuk keperluan hidup. Wajar kalau muncul gugatan-gugatan dari rakyat miskin yang secara berkelanjutkan merasakan kemiskinan, tidak pernah merasakan enaknya hidup. Bahkan, semakin naiknya harga-harga barang dan tidak seimbangnya pemasukan menjadikan orang yang dulunya hidupnya cukup menjadi miskin pula. Ini tentu kritik pedas terhadap rezim negara dan rezim pemodal yang bersinergi dalam meningkatkan jumlah penduduk miskin sebagai akibat tidak adanya kebijakan yang pro-rakyat miskin. Tidak ada keinginan baik dari mereka untuk benar-benar meningkatkan derajat hidup kaum miskin, karena logika keuntungan sebesar-besarnya menjadi kebenaran yang menggerakkan mata rantai produksi-konsumsi.

Pada bait ketiga dan keempat, kita menjumpai usaha kaum miskin untuk bertahan hidup dengan berdagang kaki lima. Hanya pekerjaan itulah yang bisa mereka jalani, karena keterbatasan modal. Tidak seperti para pemodal besar yang dengan mudah bisa meminjam uang dari bank untuk memulai atau memperluas usahanya, kaum miskin hanya mengandalkan dana terbatas untuk berjualan makanan atau minuman yang dibutuhkan oleh rakyat miskin yang lain. Dunia yang mereka hadapi, pada akhirnya, bukan dunia kantoran atau perusahaan, tetapi dunia pinggir jalan yang penuh risiko dan tidak begitu banyak memberikan keuntungan. Tentu saja, tidak semua pedagang kaki lima hanya mendapatkan keuntungan kecil. Banyak di antara mereka yang berhasil dengan berjualan makanan dan minuman. Namun, titik tekan dari kedua bait ini adalah kemauan untuk berusaha dari rakyat miskin, meskipun hanya dengan modal kecil dan mendapatkan keuntungan yang hanya cukup untuk menyambung hidup. Sekali lagi, kita menjumpai kritik terhadap ketidakadilan peluang usaha, di mana rakyat miskin tidak diberikan kesempatan untuk memperluas kemampuan ekonomi produktif mereka. Meskipun demikian, mereka tetap merasa bersyukur bahwa dengan menjadi PKL bisa untuk mencukupi kebutuhan dasar mereka sebagai manusia.

trans 9

Seorang pelawak sedang ngidung

Ketika PKL berpindah ke tempat yang lebih ramai bernama pasar, mereka masih menghadapi tekanan dari aparat negara. Mereka harus membayar retribusi ke Dinas Pendapatan Daerah. Celakanya, ketika ada razia yang dilakukan oleh satpol PP, mereka harus menanggung akibat yang menyakitkan, disuruh buyar. Tentu saja, penggusuran PKL oleh satpol PP dengan mudah kita jumpai dalam berita di media. Menariknya, kidungan ini menggambarkan kegandaan sikap rezim negara dalam menangani PKL. Di satu sisi, mereka adalah penggerak ekonomi kecil—sektor informal—yang menyediakan jasa bagi masyarakat lapisan bawah sekaligus penambah devisa daerah melalui karcis retribusi. Terlepas apakah hasil retribusi tersebut masuk ke kantong pribadi pejabat terkait atau benar-benar masuk ke kas negara, yang pasti, para PKL sudah membayar. Artinya, secara legal mereka berhak untuk berjualan di pinggir jalan. Namun, ketika rezim memandang bahwa kehadiran mereka dianggap mengganggu ketertiban atau merusak keindahan kota, maka satpol PP segera diturunkan. Di sinilah letak ketidakkonsistenan rezim negara dalam memosisikan para PKL dan usaha ekonomi kecil lainnya. Hal berkebalikan diberikan kepada para pemodal besar yang ingin membangun pusat-pusat perbelanjaan berorientasi besar.

Meskipun mendapatkan perlakuan semena-mena oleh rezim negara, bait terakhir kidungan ini memberikan penekanan yang berbeda. PKL merupakan kekuatan ekonomi yang terhubung satu sama lain, termasuk dengan pedagang-pedagang lainnya yang bergerak di sektor informal. Mereka diidealisasi memiliki kekuatan kolektif yang menyatukan kepentingan komunal mereka sebagai subjek-subjek yang disisihkan dalam desain pembangunan ekonomi negara. Mereka memang subaltern atau liyan, tetapi tidak diam. Kekuatan kolektif mereka, apabila diperkuat dan diberdayakan dalam kerangka solidaritas, akan menjelma sebagai kekuatan strategis secara ekonomi yang sekaligus bisa membuat takut para petugas satpol PP. Idealisasi ini merupakan ending dari kidungan yang menyampaikan pesan kepada para penonton bahwa sekecil apapun kekuatan ekonomi maupun fisik mereka, apabila bisa dipersatukan, bisa menjadi keunggulan yang bisa membuat aparatus negara ketakutan; sebuah kekuatan revolusioner.

Dua kidungan yang diciptakan dan diperdengarkan di masa Reformasi ini menjadi penanda kembalinya fungsi kritik sosial ludruk dalam menyikapi permasalahan yang dialami rakyat kecil, setelah dibungkam di masa Orde Baru. Memang, kedua kidungan di atas tidak bisa langsung menggerakkan revolusi proletar. Namun, paling tidak, para seniman ludruk mampu merebut-kembali makna kritis yang sempat dihilangkan dari subjektivitas mereka. Dengan mendekatkan tema dan lirik kidungan—termasuk juga lakon pertunjukan—pada permasalahan hidup rakyat kecil, para seniman bisa memperoleh-kembali empati publik pendukung, sehingga pertunjukan ludruk akan tetap digemari. Lebih jauh lagi, keterlibatan seniman dalam mengartikulasikan kondisi rakyat jelata akan menjadi medan penyemai wacana-wacana kerakyatan sehingga mereka bisa memosisikan diri sebagai subjek-subjek atau agen-agen kultural yang tidak pernah lelah untuk bersuara kritis. Dalam pemerintahan yang sama sekali tidak berpihak kepada eksistensi ludruk, pilihan para seniman untuk menyuarakan dan menegosiasikan formasi diskursif kerakyatan akan menjadi obor yang tetap menerangi kesadaran rakyat. Bahwa mereka belum sepenuhnya keluar dari kekuasaan imperialis berwajah baru; imperialisme yang disistemasikan dan digerakkan oleh manusia-manusia pribumi yang berkolaborasi secara manis dengan para pemodal nasional maupun transnasional untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya di Republik ini; imperialisme yang selalu mengatasnamakan rakyat tetapi tidak pernah berpihak ke rakyat.

Catatan akhir

[i] Sebenarnya, Cak Edy semasa muda tidak pernah membayangkan akan menjadi juragan dari LKB, karena ia sendiri sangat suka main ludruk, berbekal ilmu teater yang ia pelajari semasa SMA dan pengalaman menonton pertunjukan ludruk. Namun, Cak Bantu ternyata sudah mempersiapkannya sebagai pemimpin LKB ke depannya, sehingga ia melarang Cak Edy untuk terlalu sering ikut main ludruk (Wawancara, 12 November 2013).

[ii] Lihat, “Sistem Juragan Pemegang Kendali”. Dalam Surya, 6 Mei 2007.

[iii] Ibid.

[iv] Informasi tentang ludruk lintas generasi kami dapatkan dari, “Ludruk Lintas Generasi Pentas di Malang: Karya Budaya Gandeng Siswa”. Dalam Radar Mojokerto, 27 Desember 2010.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*