Ludruk di tengah perubahan: Siasat survival-kreatif di zaman Reformasi (2-habis)

IKWAN SETIAWAN

 

Terus bersiasat dengan terobosan-terobosan kreatif

Tawaran dari seniman ludruk

Seperti saya sampaikan sebelumnya, bahwa salah satu permasalahan internal kelompok ludruk adalah kurang figur atau tokoh intelektual yang mampu mengatur dan mengelola organisasi dan para anggotanya. Kurangnya figur intelektual ini berimplikasi kepada lemahnya daya inovatif kelompok untuk menciptakan terobosan-terobosan kreatif dalam pertunjukan ludruk. Yang kami maksudkan sebagai intelektual tentu bukan sekedar mereka yang bergelar sarjana, master ataupun doktor, tetapi figur yang memiliki nalar dan kemampuan kreatif untuk mengembangkan eksistensi pertunjukan ludruk di tengah-tengah masyarakat. Mereka inilah yang mampu melampaui batasan-batasan yang membelit dan permasalahan yang melingkari pertunjukan ludruk. Melampaui kami maksudkan sebagai usaha-usaha kreatif yang menjadi kekuatan dan daya-hidup ludruk itu sendiri.

Nyatanya, dari kelompok-kelompok ludruk yang masih eksis di Jawa Timur, terdapat figur-figur intelektual yang selalu merasa gelisah dalam memandang persoalan internal dan eksternal yang dialami oleh kesenian Arek ini. Namun, selama ini suara mereka kurang didengar oleh pengambil kebijakan, sehingga gagasan strategis para seniman ludruk tidak banyak mencuat ke permukaan dan mewujud dalam bentuk kebijakan yang dilegitimasi oleh birokrat. Celakanya, birokrat seringkali meminta bantuan pakar atau konsultan yang pandai dalam hal manajemen, tetapi tidak mengerti permasalahan sesunggunya di lapangan. Berdasarkan penelusuran dari sumber data sekunder, media cetak, kami mendapatkan kenyataan bahwa ada beberapa seniman ludruk yang memiliki gagasan-gagasan bernas untuk mempertahankan dan memberdayakan ludruk. Salah satunya adalah Cak Edy Karya. Dalam sebuah artikelnya di Radar Mojokerto (27 Mei 2012), ia mengusulkan beberapa konsep kreatif dalam mengelola kesenian ludruk, baik dalam hal manajemen maupun pertunjukan.

tandak ludruk 3

Para tandak transvesti Karya Budaya lagi beraksi

Pertama, untuk mengatasi permasalahan regenerasi dan sulitnya mencetak pemain ludruk berkualitas, revitalisasi konsep nyebeng, sepelan, dan tedean bisa dilakukan oleh masing-masing kelompok ludruk. Nyebeng adalah kegiatan mengamati yang dilakukan oleh calon pemain ludruk atau pemain yunior ketika pemain senior sedang menunjukkan kemampuan acting mereka di atas panggung. Biasanya, hal itu bisa dilakukan ketika berlangsung pertunjukan di dalam gedung ataupun tobong, di mana pemain yunior mengintip dari pintu keluar-masuk pemain di sayap kanan dan kiri panggung. Karena pertunjukan model tersebut sudah jarang sekali dilakukan, nyebeng bisa dilakukan pemain yunior dari depan atau samping panggung. Sepelan adalah kegiatan semayanan (janjian) antara pemain senior dan yunior di atas panggung ketika mereka melakoni adegan. Biasanya, sebelum pentas mereka bisa semayanan akan bicara atau bertingkah seperti apa dalam prinsip imbal-balik ketika sudah di atas pentas. Model ini merupakan bentuk percepatan kemampuan pemain yunior. Sementara, tendean merupakan sebuah kewajiban dari pemain yunior untuk meminta nasehat, masukan, ataupun kritikan dari pemain senior tentang adegan yang akan atau telah mereka jalani. Kalau ketiga model regenerasi tersebut bisa dijalankan-kembali, maka ada harapan besar para pemain muda yang mempunyai kapasitas bintang bisa muncul dari sebuah kelompok.

new lawak 2

Dua pelawak Karya Budaya beraksi di tengah penonton

Tentu saja, ketiga aktivitas tersebut tidak harus dipahami secara kaku, apalagi ludruk tobongan sudah tidak pernah laris lagi. Tobongan memang bisa menjadi sarana transfer ilmu acting bagi para pemain yunior karena mereka bersama-sama dengan para pemain senior untuk waktu yang relatif lama, 2-3 bulan. Transformasi dari ketiga metode tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk pelatihan-pelatihan rutin yang diberikan oleh para pemain, pelawak, dan penari kepada para pemain pemula. Atau, bisa juga melalui diskusi-diskusi informal sambil menikmati kopi. Bisa juga melalui pelibatan langsung para pemain pemula dalam pertunjukan teroban, di mana mereka bisa bermain bersama dengan para pemain senior.

Kedua, kalau dahulu dan sekarang hampir-hampir tidak dikenal yang namanya latihan rutin ataupun workshop pada kelompok ludruk, sudah saatnya kelompok ludruk menyelenggarakan latihan secara ajeg, seperti yang telah diterapkan oleh kelompok seni lainnya, seperti tari, teater, musik, dan lain-lain. Memang, jarangnya latihan disebabkan oleh tradisi acting para pemain ludruk yang bersifat hafalan, karena judul lakon juga sangat terbatas. Pengulangan-pengulangan sebuah lakon akan menjadikan mereka hafal, sehingga kebutuhan akan latihan dianggap tidak mendesak. Padahal, latihan rutin, baik dalam tari, kidungan/jula-juli, maupun keaktoran, akan menambah kemampuan kreatif dan daya tarik para seniman di atas panggung. Sebagai contoh, kelompok ludruk biasanya memiliki penari remo atau lawak yang handal, sehingga ketika mereka tidak bisa hadir penonton akan menggerutu, kecewa. Untuk mengubah kebiasaan tersebut, perlu diadakan latihan rutin berkala, sehingga kelompok ludruk bisa mencetak penari atau lawak mumpuni. Selain itu, bisa melakukan eksplorasi estetik. Misalnya, tari remo bisa menampilkan empat penari sekaligus dengan komposisi yang bagus. Dari sini, yang mengemuka dalam pertunjukan ludruk bukan lagi individu bertalenta tinggi (bintang), tetapi kekompakan kelompok.

new tari kreasi

Para transvesti Karya Budaya dalam tari kreasi

Ketiga, untuk bisa memenuhi beberapa konsep tersebut, kelompok ludruk membutuhkan orang-orang kreatif. Kalau perlu merekrut dari kelompok lain ataupun akademisi. Hal inilah yang belum dilakukan oleh kelompok ludruk. Akibatnya, pertunjukan ludruk menjadi monoton, tidak variatif dalam tampilan estetiknya, serta menjenuhkan bagi para penonton. Itulah mengapa banyak kelompok ludruk yang sepi tanggapan dan, pada akhirnya, gulung tikar. Tentu saja, akademisi atau orang-orang kreatif yang bisa diajak untuk memikirkan pertunjukan adalah mereka yang memiliki komitmen untuk mengembangkan dan memberdayakan ludruk. Keempat, mengadaptasi perkembangan teknologi informasi-komunikasi, seperti internet, bisa menjadi cara lain agar kelompok ludruk tetap dikenal luas. Kelompok ludruk bisa menyebarkan informasi tentang keberadaan, perkembangan, dan aktivitas kesenian mereka melalui media internet sehingga bisa dikenal secara regional, nasional, maupun global. Pengalaman Karya Budaya mendapatkan penghargaan dari Aburizal Bakrie (2012) bisa menjadi teladan. Pada saat itu, Lingkaran Survei Indonesia sebagai pihak yang dikontrak Bakrie, mendapatkan data-data tentang Karya Budaya dari searching di Google. Selanjutnya, mereka langsung mendatangi markas Karya Budaya di Cangguh untuk menginformasikan tentang penghargaan yang akan diterima tersebut.

Fakta yang menarik adalah ketika Cak Edy Karya sempat dilanda kebimbangan antara menerima atau menolak penghargaan tersebut. Penyebabnya tidak lain adalah sorotan publik secara nasional maupun internasional terhadap anak perusahaan Bakrie yang diduga menyebabkan bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo yang sangat menyakiti batin masyarakat Jawa Timur. Dia bimbang karena kalau mau menerima penghargaan berupa uang yang diberikan Bakrie, ia akan menjadi sorotan publik, apalagi beberapa budayawan menyatakan menolak untuk menerima penghargaan tersebut. Namun, akhirnya, Cak Edy berpikir konstruktif. Dia mau menerima penghargaan tersebut karena uang yang diterima bisa digunakan untuk membeli peralatan penunjang pertunjukan. Bagi pimpinan ludruk seperti Cak Edy, uang hadiah dari Bakrie tentu lebih bermanfaat ketika bisa digunakan untuk melengkapi peralatan pertunjukan yang akan menjadikan pagelaran Karya Budaya lebih menarik dari aspek tata artistik, misalnya.

kacang 1

Penjual kacang yang setia dan para penonton yang santai

Kelima, perbaikan teknik artistik panggung ludruk perlu diusahakan. Diakui atau tidak, teknik artistik panggung ludruk sudah sangat ketinggalan zaman. Teknik pencahayaan dengan teknologi lighting yang memadai, sound system yang bagus, dan perlengkapan panggung lainnya perlu digarap dengan baik. Masyarakat sudah terbiasa dengan teknologi artistik dari kesenian-kesenian pop maupun televisi. Ketika mereka menonton ludruk dengan teknik-teknik artistik seadanya, tentu akan memunculkan kekecewaan. Keenam, sistem manajemen dalam kelompok ludruk perlu ditata dengan benar. Meskipun rata-rata kelompok ludruk memakai sistem juragan, para juragan seharusnya bukan hanya berpikir mencari uang saja. Paling tidak, mereka harus memikirkan secara serius bagaimana mengembangkan estetik ludruk agar semakin baik dan tetap digemari oleh penonton, sehingga para anggotanya akan tetap mendapatkan kesempatan untuk berkembang sekaligus keuntungan secara komersil. Selain itu, setiap kelompok tidak harus selalu membagi habis hasil pertunjukan. Perlu diupayakan menyisihkan beberapa persen pendapatan sebagai cadangan perbaikan sarana prasarana, kesejahteraan anggota, kepentingan teknologi-informasi, kebutuhan latihan/diklat, membayar tim kreatif, dan lain-lain. Dengan strategi tersebut, setiap anggota akan merasa memiliki kelompok, sehingga ketika diajak untuk melakukan inovasi mereka akan berkenan. Lebih jauh lagi, keterikatan sebagai anggota kelompok yang dijamin oleh keterbukaan dan kemerataan dalam urusan pendapatan akan menjadikan para anggota tidak mudah menjadi kutu loncat yang bisa dengan mudah bermain di kelompok lain.

Lebih jauh, dalam pemahaman para seniman ludruk, apapun inovasi yang dilakukan dalam pertunjukan maupun cerita ludruk sebenarnya tidak menjadi masalah, asalkan tidak meninggalkan pakem utama pertunjukan. Cak Edy menuturkan:

“Bagi seniman dan pimpinan ludruk, tidak masalah mau cerita apapun, yang masa kini atau masa lalu. Asal, pertunjukan tidak meninggalkan tari remo, bedayan tandak tayub, kidungan-jula-juli dan lawakan. Itu adalah elemen utama ludruk. Kalau soal cerita, bebas. Selain itu, bahasa kalau di-ubah ke dalam bahasa Indonesia juga menjadi masalah tersendiri. Karena ludruk itu lahir di wilayah Arek, kalau diubah ke bahasa Indonesia, ludruk akan kehilangan identitasnya.”[1]

Artinya, dalam hal teknologi pertunjukan maupun cerita, ludruk sangat terbuka terhadap inovasi. Meskipun masyarakat sampai sekarang masih menggemari cerita-cerita perlawanan terhadap kolonial, tetapi mereka pada dasarnya juga bisa menerima cerita-cerita yang berasal dari permasalahan aktual dalam masyarakat. Senada dengan pendapat Edy, Mulyono, pimpinan Ludruk Brawijaya, Pacet Mojokerto, menjelaskan:

“Kami di Brawijaya tidak menutup diri terhadap permasalahan-permasalahan masyarakat, khususnya permasalahan wong cilik. Memang kami lebih sering mementaskan naskah berwarna sejarah, tetapi ada beberapa lakon rekaan berdasarkan kisah hidup sehari-hari atau permasalahan politik nasional. Kami, misalnya, pernah mementaskan Sidang Salah Kaprah, mengkritik kondisi hukum Indonesia yang ndak karuan, seperti kita lihat di teve, kita baca di koran. Penontonnya sangat senang, mereka antusias, tentu saja juga disebabkan oleh lawakan dan adegan-adegan lainnya.”[2]

Masalahnya adalah kembali pada kemauan masing-masing pemimpin kelompok dan seniman, berkenan atau tidak untuk melakukan usaha-usaha kreatif pertunjukan. Kalau mereka sudah merasa mapan dengan improvisasi berdasarkan lakon-lakon berwarna sejarah, tentu akan menolak melakukan terobosan berupa lakon atau gaya pertunjukan baru. Selain itu, pemertahanan karakteristik ludruk, baik dalam hal struktur pertunjukan maupun bahasa, meskipun dianggap klasik, tetapi bisa menjadi kekuatan tersendiri dalam pengembangan ludruk. Mengapa kami katakan demikian?

remo lanang 1

Tari remo laki-laki

Bagaimanapun juga, ludruk berkembang di wilayah kebudayaan Arek yang sudah terbiasa dengan gaya bahasa egaliter dan membumi. Ketika bahasa diubah ke dalam bahasa Indonesia, tentu para pemain ludruk akan kesulitan untuk mengembangkan improvisasi yang menjadi ciri khas mereka karena adanya keberjarakan dari kebiasaan linguistik sehari-hari. Begitupula penonton, akan menangkap kesan dan emosi yang berbeda karena bahasa Indonesia bukanlah bahasa sehari-hari mereka. Dengan kata lain, ketika menggunakan bahasa Indonesia, ludruk akan kehilangan identitas Arek-nya dan implikasi lanjutnya adalah ditinggalkan oleh para penonton dan pendukung mereka di wilayah perdesaan. Penggunaan bahasa Arek dan pemertahanan pakem, dengan demikian, tidak akan menjadi masalah serius karena penonton ludruk sudah tersegmentasi. Asalkan, tetap diikuti dengan inovasi dalam teknologi pertunjukan maupun pembaruan cerita yang bersifat kontekstual.

Kontekstualisasi cerita dengan permasalahan terkini yang dialami masyarakat kebanyakan menjadi terobosan multi-fungsi. Pertama-tama, lakon-lakon bertema kekinian akan memperkaya cerita dalam pertunjukan ludruk, sehingga tidak terjebak pada cerita superhero lokal yang merupakan warisan Orde Baru. Memang, dalam konteks saat ini, cerita-cerita superhero lokal masih kontekstual, khususnya untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap beratnya perjuangan untuk merintis kemerdekaan. Juga, bisa ditafsir berkaitan dengan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa yang bersifat kompleks. Lakon Sarip, misalnya, berkaitan erat dengan protes terhadap korupsi dan penyelewengan pajak di masa kolonial serta transformasinya di masa kini yang semakin menggurita (Nurcahyo, 2013). Namun, celetukan-celetukan kritis dalam pertunjukan tetap tidak bisa menghilangkan penangkapan publik bahwa cerita itu berlatar kolonial. Kalaupun cerita superhero tetap dipertahankan, alangkah menariknya kalau latar waktu dan tokoh ditransformasi ke dalam kehidupan terkini, tetapi struktur naratif dan wacana yang disampaikan tetap berpatokan pada naskah awal. Hal itu akan mempermudah tafsir penonton karena mereka memiliki peta konseptual yang serupa dengan tema pertunjukan. Kedua, lakon-lakon kontemporer akan menarik perhatian penonton karena dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hal itu juga bisa menghindarkan para penonton dari “kejenuhan naratif dan diskursif”, sehingga mereka tidak bosan untuk menonton pertunjukan ludruk. Ketiga, bisa memperkaya wacana yang disampaikan kepada penonton, sehingga bisa menumbuhkan nalar kritis mereka terhadap kondisi-kondisi kontekstual. Ini sekaligus memperkuat fungsi edukatif ludruk yang diarahkan kepada penumbuhan nalar-nalar kritis masyarakat, sehingga mereka bisa menjadi subjek-yang-sadar terhadap akar permasalahan dalam kehidupan sehari-hari.

neo lakon 1

Para seniman Karya Budaya dalam sebuah lakon

Kesiapan untuk melakukan kontekstualisasi cerita juga bisa bermanfaat bagi kelompok ludruk ketika mereka harus memenuhi permintaan lakon oleh para penanggap yang bisa saja keluar dari trend yang ada. Sukir, sutradara Ludruk Indah Wijaya, Desa Mojowono, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, menuturkan pengalamannya sebagai berikut:

“Dua minggu yang lalu kami ditanggap oleh panitia sedekah bumi di Desa Karangpilang, Lamongan. Awalnya, panitia meminta cerita Sawunggaling. Karena lakon itu adalah lakon umum bagi para seniman ludruk, kami tidak perlu repot-repot mempersiapkannya. Kurang dua hari, panitia menghubungi saya, minta ganti lakon atas saran para tokoh agama dan sesepuh. Mereka meminta lakon Sunan Kalijaga. Ini tentu naskah yang jarang dimainkan oleh kelompok ludruk di Mojokerto. Namun, sebagai sutradara dan seniman yang tidak boleh menolak permintaan tersebut. Karena hal itu bisa membuat panitia dan warga masyarakat kecewa dan, akhirnya, tidak mau lagi nanggap kami. Saya langsung mengingat-kembali kisah Sunan Kalijaga yang pernah disampaikan mbah buyut dan para alim ulama, selain dari televisi. Saya segera kumpulkan para pemain Indah Wijaya untuk mendapatkan arahan umum tentang jalannya cerita dan dialog masing-masing pemain. Hasilnya, pementasan kami sukses, dan bulan September kami diundang lagi oleh warga di sana untuk pentas.”[3]

Meskipun mayoritas warga di Karangpilang adalah pemeluk Islam, kemampuan Sukir dan para pemain Indah Wijaya mementaskan lakon Sunan Kalijaga menjadi kekuatan dan keunggulan tersendiri bagi kelompok ini. Implikasinya adalah Indah Wijaya mendapatkan nama baik di hadapan para penggemar, masyarakat Karangpilang dan sekitarnya. Job pertunjukan berikutnya menandakan bahwa kontekstualisasi cerita bisa berdampak positif bagi pengembangan ludruk di tengah-tengah kehidupan masyarakat desa yang semakin modern tetapi tetap menjalankan syariat agama. Kemauan dan kemampuan untuk melakukan kontekstualisasi ini menunjukkan “kelenturan kreatif” para seniman ludruk terhadap peluang-peluang cerita dan permintaan tanggapan yang memungkinkan mereka bisa tetap digemari dan, dengan demikian, bisa survive secara kreatif, tanpa meninggalkan keutamaan mereka dalam menggelar pertunjukan live.

neo lakon 3

Sungguh bersemangat para seniman Karya Budaya

Selain pembaruan dan kontekstualisasi cerita, terobosan yang bisa menjadikan sebuah kelompok ludruk laku adalah dengan memformulasi keunggulan-keunggulan estetik. Terobosan tersebut bisa jadi berbeda dari satu kelompok dengan kelompok lain. Ludruk Brawijaya, misalnya, terkenal karena ketersediaan kelir-nya (layar background yang menunjukkan lokasi cerita) yang membuat pertunjukan mereka semakin menarik. Mulyono menuturkan:

“Kebanyakan tanggapan ludruk teroban menggunakan panggung ring tinju, artinya tidak ada kelir, persis tempat pertandingan tinju. Memang hal ini tidak menjadi masalah, itung-itung menghemat biaya pertunjukan. Tapi, kami di Brawijaya menyediakan kelir, biar lakon ludruk bisa tampak semakin hidup, sepertihalnya dalam kehidupan sehari-hari.”[4]

Sementara, Indah Wijaya terkenal dengan para tandak dan pemain yang “asli perempuan”, bukan transvesti atau banci. Sumanik, pimpinan Indah Wijaya, menjelaskan:

“Grup kami terkenal karena dipimpin oleh perempuan, dan para tandaknya asli perempuan. Itu yang membuat orang selalu ingat, sehingga mereka tertarik nanggap. Sebagian besar tandak kami lulusan SMA. Namun, ada juga risikonya. Kalau ada penonton atau warga yang tertarik, mereka bisa meminang dan menikahi para tandak. Kalau sudah seperti itu, kami harus mencari lagi yang lain. Paling tidak, kami masih mendapatkan tanggapan, meskipun tidak selaris grup lain, seperti Karya Budaya.”[5]

Kedua keunggulan tersebut sangat berbeda dengan Karya Budaya yang menonjolkan atraksi transvesti dan lawakan dalam pertunjukan mereka. Salah satu lawak mereka yang cukup terkenal adalah (alm) Cak Supali. Berbekal keunggulan-keunggulan estetik tersebut, grup ludruk, pada dasarnya, masih mampu berkontestasi dalam perubahan zaman yang semakin cepat ini. Masyarakat tentu memiliki kesukaan terhadap hal unik yang bisa diekspos oleh masing-masing grup melalui tangan dingin para sutradara dan kualitas estetik para seniman. Selain itu, kontekstualisasi cerita juga bisa menjadi penegas historis bahwa trasnformasi diskursif dan tematik merupakan sesuatu yang biasa dilakukan oleh para seniman ludruk pada masa lalu. Dengan kata lain, ketika para sutradara dan seniman ludruk tidak mau membuat cerita-cerita baru berdasarkan permasalahan dalam masyarakat, pada saat itulah mereka sebenarnya mengingkari “tanggung jawab historis” untuk terlibat dalam proyek-proyek kebudayaan di tengah-tengah masyarakat. Tanggung jawab inilah yang dicerabut oleh rezim negara Orde Baru, sehingga para seniman ludruk tidak lagi menjadi ‘penyambung lidah rakyat’—meminjam istilah Bung Karno, tetapi penyambung lidah pemerintah. Ludruk hanya sekedar menjadi hiburan yang terlepas dari keterikatannya dengan permasalahan rakyat kecil. Hanya pesan-pesan perjuangan kemerdekaan yang sudah dipoles oleh para pembina dari aparat keamanan yang meluncur dari panggung ludruk.

neo lakon 2

Tawaran lain yang dilontarkan oleh Mulyono adalah penyediaan ruang terbuka, seperti lapangan, untuk merevitalisasi model ludruk tobongan (FGD, 15 Agustus 2014). Dengan model ini grup ludruk bisa mengumpulkan penonton lebih banyak dibandingkan ludruk terob. Tobongan yang dimaksud tentu bukan dalam jangka waktu satu bulan seperti pada masa Orde Baru. Waktu satu minggu mungkin sudah cukup. Paling tidak, dengan model ini, para seniman ludruk bisa ‘menemukan-kembali’ para penontonnya. Karena berdasarkan pengalaman Brawijaya dan Karya Budaya, pertunjukan yang digelar di tanah lapang masih digemari masyarakat, dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.  Untuk memudahkan model ini, tentu saja, dibutuhkan kemudahan persyaratan yang dibuat oleh pemerintah kabupaten sampai pemerintah desa. Misalnya, grup ludruk yang menggelar tobong harus dipermudah proses perizinannya dan tidak harus dikenai pajak pertunjukan karena kepentingan mereka adalah untuk mengembangkan dan memberdayakan budaya lokal masyarakat. Kalau memang ludruk diakui sebagai kekayaan budaya daerah, sudah sepatutnya aparat pemerintah tidak perlu membebani pajak. Biarkanlah keuntungan dari hasil pertunjukan tobong digunakan para pelaku untuk tambahan biaya hidup sehari-hari dan juga tambahan kas kelompok.

Memang, baru Brawijaya yang merevitalisasi tobongan di masa kini. Tentu saja, akan banyak kesulitan yang dihadapi, tetapi sejauh para pelaku meyakini kekuatan dan keefektifan model ini dalam mengumpulkan para penonton, tidak ada salahnya untuk dicoba oleh grup lain. Ke depannya, para juragan ludruk mungkin harus berkolaborasi dengan instansi terkait agar mau membuat semacam rekomendasi kepada sekolah agar para siswa mereka menonton dan membuat apresiasi tulis tentang ludruk. Memang kebijakan itu sedikit memaksa, namun perlahan-lahan bisa memunculkan dan menumbuhkan rasa cinta dan apresiatif generasi muda terhadap pertunjukan ludruk. Di tengah-tengah komunikasi digital, bisa jadi masyarakat perdesaan masih menyimpan kerinduan terhadap suasana komunal yang dihadirkan ludruk tobongan; suasana yang mampu membangkitkan-kembali banyak kenangan dan mempertegas identitas kultural mereka di tengah-tengah globalisasi.

neo lawak

Pelawak dan penonton

Kontekstualisasi durasi waktu pertunjukan juga menjadi pemikiran kreatif agar pementasan ludruk tidak harus berakhir pada saat menjelang Subuh. Sri Wulung, pimpinan Ludruk Among Budaya, Trowulan, Mojokerto, menjelaskan:

“Persoalan mulai dan berakhirnya waktu pertunjukan juga harus dipikirkan. Selama ini, pertunjukan ludruk dimulai pukul 21.00 atau 21.30 WIB. Dengan banyaknya tampilan, acara bisa berakhir menjelang Subuh atau pas Subuh. Hal ini tentu menjadikan cerita ludruk tidak bisa ditonton oleh anak-anak atau remaja, karena mereka harus sekolah, misalnya. Selain itu juga berakibat pada stamina pemain ludruk. Makanya, kalau di wilayah desa pinggiran kota atau desa yang tingkat pendidikannya sudah maju, Among Budoyo selalu memulai pertunjukan selepas Isya’ sehingga dini hari sudah selesai. Namun, kalau untuk di wilayah pelosok yang masyarakatnya masih suka melekan (begadang, pen), kami tetap menggelar pertunjukan seperti biasanya, berakhir menjelang Subuh.”[6]

Kontekstualisasi durasi waktu pertunjukan, dengan demikian, lebih didasarkan kepada regenerasi penonton, yakni usaha untuk menjadikan penonton ludruk tidak hanya generasi tua, tetapi juga anak-anak, remaja, dan generasi muda. Hal ini sangat penting dilakukan, karena terbentuknya kelompok penonton pemula—anak-anak, remaja, dan generasi muda—akan memperpanjang daya-hidup ludruk, meskipun perubahan budaya sudah semakin biasa saat ini. Dari pengamatan kami pada saat pertunjukan Karya Budaya di Desa Tambakberas, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, banyak penonton pemula yang bertahan hingga tengah malam—sampai berakhirnya adegan lawakan—karena acara digelar pada malam minggu. Namun, selepas tengah malam, para penonton pemula sudah memutuskan untuk pulang. Artinya, ludruk masih digemari oleh masyarakat, tetapi untuk bisa menjaring dan membentuk penonton pemula, harus ada penyesuaian durasi waktu  pertunjukan. Bagaimanapun juga, para penonton pemula itulah yang pada masa mendatang akan menjadi penggemar pertunjukan ludruk. Para pelaku ludruk, tentu saja, ingin para penonton pemula—anak-anak dan generasi muda—bisa menikmati lakon pertunjukan, sehingga mereka akan bisa masuk ke dalam jagat ludruk yang utuh, bukan sekedar remo, kidungan dan jula-juli, serta lawakan. Kalau kemudian yang mereka tonton hanya ketiga adegan tersebut, kekayaan diskursif sebuah lakon tidak bisa ditangkap oleh para penonton pemula.

Tawaran dari pengamat

Para pengamat dan peneliti juga merasa prihatin dengan perkembangan ludruk yang dari hari ke hari semakin surut, meskipun masih ratusan kelompok ludruk yang terdaftar di seluruh Jawa Timur. Bagi pengamat dan peneliti, seperti Aribowo, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya, kesenian ludruk sangat terikat dengan konteks perkembangan masyarakat. Menurutnya,

“Sekarang dunia internet sudah merajalela, namun pengelolaan kesenian tradisional tidak ada inovasi. Jika tidak dikelola sebagai sebuah industri dengan manajemen modern, ya akan mati…Yang harus diingat masyarakat sangat industrial. Kalau pentas di tengah kota besar, memakai selebriti bisa menjadi menarik. Selebriti itu kan simbol industrialisasi…Cerita bisa saja yang ringan saja, seperti Bawang Merah Bawang Putih.” (Kompas, 5 Agustus 2007)

Tawaran yang diberikan Aribowo, pada dasarnya, lebih menekankan kepada perspektif industrial-metropolitan dalam pengembangan ludruk, baik aspek manajemen maupun aspek inovasi pertunjukan. Menurut kami, inovasi pertunjukan yang lebih menekankan kepada penggarapan penonton perkotaan hanya akan menghasilkan capaian-capaian instant yang bersifat sesaat. Penghadiran selebritas dalam pertunjukan tentu akan membutuhkan biaya yang sangat mahal dan akan menggerus honor para seniman ludruk yang asli. Selain itu, mengejar trend kesenian industrial yang sudah berkembang di pesat dengan mengadopsinya ke dalam pertunjukan ludruk hanya akan menjadikan para seniman keponthal-ponthal, dalam artian kesulitan. Memindah jagat pertunjukan ludruk yang cukup kompleks ke dalam pertunjukan yang mengandalkan ketenaran seorang selebritas memang cukup menarik, tetapi hal itu bisa jadi akan mereduksi kekayaan estetik dan diskursif hanya sebatas pada kedirian sang bintang. Meskipun demikian, tawarannya untuk mengatur organisasi ludruk secara modern bisa dicoba, walaupun ia tidak menjelaskan secara lebih terperinci.

tari remo transvesti 2

Tawaran senada dilontarkan oleh Henricus Supriyanto. Sebagai praktisi, pengamat, dan pengkaji ludruk di Jawa Timur, ia menawarkan konsep ludra, ludruk drama, yang menurutnya bisa mengangkat-kembali pamor ludruk.

“Saya melontarkan ide ludra, ludruk drama. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari trend kepemilikan televisi maupun VCD players oleh masyarakat desa. Ludra ini menyerupai sinetron atau film, tetapi diangkat dari cerita ludruk dengan bahasa Indonesia ataupun bahasa Arek dengan terjemahan teks berbahasa Indonesia. Jujur, gagasan ini berasal dari percakapan saya dengan seorang sopir angkutan kota. Dia bertanya, apakah tidak mungkin para seniman ludruk mengubah cerita ke dalam bentuk film, seperti Mahabarata yang saat ini tayang di teve, produksi India. Saya pikir memang sudah saatnya para seniman ludruk menggarap konsep ludra, meskipun kendala utamanya tentu dari kebiasaan mereka sendiri yang sudah biasa berimprovisasi, tanpa naskah.”[7]

Tentu saja ide ludra ini akan mendapatkan tentangan dari para pelaku ludruk. Ketika ide ini kami sampaikan dalam FGD di Pondok Jula-Juli, mereka menganggapnya tidak menarik, karena pertunjukan ludruk akan kehilangan karakteristiknya. Selain itu, kebiasaan berimprovisasi berdasarkan arahan sutradara telah mendarah-daging di kalangan seniman ludruk, sehingga untuk di ajak menggarap ludra mereka sangat keberatan. Improvisasi adegan dan dialog merupakan karakteristik sekaligus keunggulan para pelaku ludruk dan drama-drama rakyat lainnya. Para pengamat yang sudah terbiasa dengan tradisi tulis mungkin menganggap model improvisasi sudah ketiggalan zaman, tetapi para pelaku memiliki pandangan berbeda. Mereka dibesarkan dalam dunia panggung yang dipenuhi tradisi lisan, sehingga untuk menerima konsep ludra yang menggunakan skenario dianggap hanya akan menimbulkan permasalahan-permasalahan baru. Selain itu, penggunaan Bahasa Indonesia hanya akan menghilangkan ruh dari pertunjukan ludruk yang terkenal sangat egaliter dengan Bahasa Arek. Ada makna emotif yang hilang ketika para pemain menggunakan Bahasa Indonesia. Penggunaan Bahasa Indonesia dikhawatirkan akan menjauhkan hubungan emotif antara penonton dan pelaku di atas panggung. Bagi para pelaku yang sudah terbiasa dengan Bahasa Arek, menggunakan Bahasa Indonesia tentu akan menghambat keluarnya celetukan, guyonan, maupun kritik yang sudah biasa mereka dilontarkan, sehingga pertunjukan akan terkesan kering.

penonton 3

Penonton yang bersemangat

Sementara, Paring Waluyo dan Happy Budi memiliki pemikiran yang berbeda dari Aribowo. Menurut mereka, agar tetap bersemayam dalam hati masyarakat, seniman ludruk harus terus mengasah kepekaan sosial terhadap permasalahan yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Menurut mereka,

Ludruk dan kritik sosial seolah menjadi bagian tak terpisahkan. Bahkan ludruk, melalui para pemainnya yang selalu tampil cemerlang itu mampu merekam dinamika sosial dalam masyarakat. Inilah yang menjadikan ludruk berkembang baik dan selalu bersemayam di hati masyarakat Jawa Timur. Bagi mereka yang mengalami dan generasi baru yang membaca sejarah ludruk, kesenian rakyat ini kerap kali berfungsi sebagai hiburan sekaligus alat penerangan kepada rakyat dan kritik sosial. (Surya, 8 Mei 2007)

Beragam dan bertumpuk-tumpuk permasalahan sosial, ekonomi, politik, maupun lingkungan dialami oleh masyarakat saat ini di tengah-tengah iklim Reformasi. Tentu saja, para seniman ludruk harus mampu menyerap dan mengimajinasikan lakon, kidungan, ataupun lawakan yang cerdas, mudah dipahami, menghibur, sekaligus memberikan masukan-masukan baru kepada para penontonnya. Meskipun para seniman ludruk tidak bisa memberikan solusi praktis, kepekaan dan artikulasi terhadap kompleksitas permasalahan yang ada akan menjadikan penonton merasa terwakili dalam pagelaran.

Dengan siasat itulah, para seniman bisa terus membangun kedekatan dengan masyarakat penonton. Cara sederhana yang bisa dilakukan para seniman ludruk adalah memahami kebiasaan, kondisi, dan permasalahan sehari-hari masyarakat di tempat mereka akan menggelar pertunjukan.  Lebih lanjut, Paring dan Happy menjelaskan:

Dengan mengenal kebiasaan sehari-hari penonton, maka pemain ludruk dapat membuat cerita, lawakan, maupun kidungan yang bertalian erat dengan nilai-nilai yang dipahami oleh penonton dan kejadian yang dekat dengan ingatan penonton… Melalui pemahaman terhadap peristiwa sehari-hari inilah tak jarang para seniman ludruk menyelipkan kidungan atau lawakan yang bernuansa kritik sosial… Selain kritik yang tepat, seniman ludruk biasanya tahu bagaimana mengemasnya dalam humor. Humor adalah sarana membungkus kritik. (Surya, 8 Mei 2007)

Tawaran strategi di atas, pada dasarnya, menegaskan-kembali karakter pertunjukan ludruk yang bersifat tekstual-kontekstual, karena dari peristiwa sehari-hari dalam masyarakat para seniman ludruk bisa mengkreasi kidungan, lawakan, maupun lakon. Model ini bisa memperkaya pertunjukan ludruk, sehingga penonton merasa direpresentasikan serta tidak sekedar menyaksikan pengulangan-pengulangan tekstual. Keunggulan dari model ini adalah bahwa para seniman ludruk tidak perlu melakukan peringkasan waktu dan cerita, karena mereka hanya membutuhkan inovasi dalam hal tampilan yang disesuasikan dengan kondisi dan permasalahan masyarakat. Dan, secara historis, para seniman ludruk pada masa lalu sudah terbiasa melakukan hal tersebut.

penonton 4

Berdiri pun asyik

Sementara, bagi para praktisi media, seperti televisi, prinsip “meringkas ruang dan waktu” merupakan tawaran model yang paling umum bagi pertunjukan kesenian tradisional, tak terkecuali ludruk. Hal itu bisa dimaklumi karena televisi merupakan bagian dari industri budaya yang membutuhkan efektifitas dan efisieseni jam tayang demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Para kreator di stasiun televisi sangat menyadari bahwa kesenian ludruk masih memiliki para penggemar fanatik di Jawa Timur, khususnya di wilayah kebudayaan arek. Oleh sebab itu, salah satu stasiun swasta lokal terbesar di Jawa Timur—JTV—memproduksi acara lawakan ludruk yang bertahan hingga saat ini. Berbeda dengan pertunjukan live, acara itu hanya menampilkan para pelawak dengan tema lawakan tertentu. Praktik komodifikasi yang dijalankan oleh pihak TV memang menuntut peringkasan waktu karena keterbatasan durasi tayang. Sangat tidak mungkin menayangkan pertunjukan ludruk sesuai dengan pakem yang memakan waktu lebih dari 4 jam. Apalagi secara komersil, tayangan ludruk dianggap tidak bisa mendatangkan iklan karena segmen penontonnya yang sangat terbatas. Pilihan untuk menghadirkan ludruk ringkas, dengan penonjolan unsur lawakan, memang realistis dalam strategi media TV. Tingkat stress tinggi yang dialami masyarakat dianggap sebagai peluang untuk memberikan mereka hiburan eskapis yang bisa membuat tertawa dan sejenak mengendurkan ketegangan. Sebagai sebuah siasat, sah-sah saja para seniman terlibat di dalam tayangan tersebut, apalagi kalau dibungkus dengan alasan memperkenalkan-kembali ludruk kepada masyarakat luas. Yang pasti, produk tersebut akan menjadikan ludruk kehilangan kekomprehensifan dalam pagelaran.

Catatan akhir

[1] Focus group discussion (FGD) dengan para seniman ludruk di Pondok Jula-Juli Karya Budaya, Desa Canggu, Mojokerto, 15 Juli 2014.

[2] Ibid.

[3] Wawancara, 16 Agustus 2014.

[4] FGD.

[5] Wawancara, 16 Agustus 2014.

[6] FGD.

[7] Wawancara, 8 Agustus 2014.

Daftar bacaan

“Ketika Tobong Ditinggalkan Penonton.” Dalam Kompas, 5 Agustus 2007.

“Ludruk Terhambat Regenerasi”. Dalam Surabaya Post, 20 September 2008.

“Masih Untung”. Kompas, 4 Juni 2002.

Musyawir. 2013. “Kesenian Ludruk di Bumi Majapahit Nyaris Hilang”, tersedia di: http://oase.kompas.com/read/2013/03/18/23381457/Kesenian.Ludruk.di.Bumi.Majapahit.Nyaris.Hilang, diunduh 15 Agustus 2013.

“Sistem Juragan Pemegang Kendali”. Dalam Surya, 6 Mei 2007.

Susanto, Eko Edy. 2012. “Ludruk Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan”. Dalam Radar Mojokerto, 27 Mei.

Waluyo, Paring dan Happy Budhi. “Ludruk pun Menyentuh Lumpur Lapindo”. Surya, 6 Mei 2007.

 

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*