Ritualisasi tayub: Antara pelestarian dan hasrat ekonomi dalam wisata budaya (2-habis)

IKWAN SETIAWAN

 

Siraman Waranggono atau Siraman Seniman Langen Tayub Tuban

Meniru ketenaran Gembyangan Waranggono Nganjuk, Dinas Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Tuban menyelenggarakan Siraman Waranggono atau biasa juga disebut Citra Resmi Waranggono yang diselenggarakan di Sendang Bektiharjo, sebuah tempat rekreasi yang sangat terkenal di dekat kota Tuban. Sebagaimana di Nganjuk, dalam acara Siraman, para calon waranggono—atau di kalangan masyarakat Tuban lebih dikenal dengan sebutan sindir—diwisuda secara adat oleh aparat pemerintah terkait. Karena acara ini merupakan program wajib, maka semua calon waranggono yang sebelumnya sudah mendapatkan pelatihan menari dan nembang harus mengikutinya, termasuk para sindir senior dan danyang—semacam asisten sindir. Selain sebagai bentuk penertiban dan pembekalan para calon sindir, Siraman di Bektiharjo juga menjadi salah satu agenda wisata budaya andalan Kabupaten Tuban yang diharapkan bisa menarik minat wisatawan mancanegara maupun lokal.

Pada 25 September 2012, peserta Siraman Waranggono berjumlah 95 sindir, 70 pramugari, dan 9 danyang. Tradisi siraman ini diyakini bisa meningkatkan pamor sindir/waranggono dan seniman tayub lainnya, sehingga mereka akan mendapatkan banyak tanggapan dalam setahunnya. Berikut kami petikkan pemberitaan di sebuah media on-line tentang Siraman pada tahun 2012.

Dipilihnya pemandian Bektiharjo, karena tempat tersebut dipercaya sebagai tanah suci, selain punya sejarah besar terkait berdirinya kota Tuban. Tradisi siraman itu sendiri, merupakan pembekalan mental agar kelak setelah mereka jadi sindir tahan banting. Ritual yang mengangkat seni tradisional sebagai media tari pergaulan itu, diawali dengan melakukan iring-iringan panjang atau kirab dari luar tempat pemandian dan langsung masuk tempat wisata pemandian. Sejurus kemudian, mereka berjalan perlahan menuju tempat prosesi siraman dan melakukan tabur bunga di pemandian itu sebelum melakukan ritual yang sesungguhnya. Secara bergiliran seniman tayub tersebut melakukan siraman. Para perempuan berparas rupawan dengan tubuh moleknya, menuruni tangga menuju permukaan air. Satu per satu membasuh mukanya dengan air dari mata air abadi Bektiharjo menggunakan jebor atau gayung dari batok kelapa.[i]

Apa yang menarik pertama-tama dari berita di atas adalah wacana sakralisasi tempat pelaksanaan acara, Sendang Bektiharjo. Banyak warga Tuban meyakini kalau sendang yang terletak wilayah dengan bebatuan kapur ini memiliki aspek historis yang berkorelasi dengan usaha leluhur untuk mendirikan Tuban. Meskipun sulit dilacak kebenaran historisnya, cerita lisan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat seolah-olah meyakini sendang ini sebagai tempat sakral. Keyakinan akan kesakralan itulah yang mendasari diselenggarakannya acara Siraman di sini. Sama dengan Gembyangan, Siraman juga mengambil simbol sumber air sebagai bentuk harapan agar kesenian tayub di Tuban bisa terus ‘mengalir’ untuk memberikan hiburan dan pesan-pesan identitas kultural kepada masyarakat luas. Terlepas dari kesakralan tersebut, Sendang Bektiharjo merupakan tempat wisata yang sejuk, dengan air sendang yang berasal dari bebatuan kapur dengan pohon-pohon besar menjulang. Keterkenalan tempat ini sebagai destinasi wisata andalan masyarakat Tuban merupakan pertimbangan ekonomi dipilihnya acara pelantikan calon sindir di tempat ini.

tuban 1

Para sinden muda bersiap mengikuti ritual

Hampir sama dengan Gembyangan Waranggono, ritual Siraman Seniman Langen Tayub juga mengusung simbol-simbol ketradisionalan berupa busana ningrat yang dikenakan oleh pihak-pihak yang terlibat di dalamya. Para sinden senior dan pramugari mengenakan busana adat. Dipakainya busana adat ini bisa ditafsir dalam beberapa sudut pandang. Secara semiotik, busana adat merupakan penanda dari keadiluhungan masa lampau yang dihadirkan kembali di tengah-tengah modernitas yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga. Penghadiran-kembali makna ketradisionalan ini merupakan selebrasi ‘mata-rantai penanda’ yang selalu dipelihara dalam memori komunal masyarakat melalui kurikulum pendidikan serta acara-acara lain yang dihelat oleh pemerintah kabupaten. Selain itu, busana tradisional bergaya mataraman juga menjadi tanda indeksikal-berjarak dari ketradisionalan itu sendiri. Artinya, ia menjadi penunjuk identitas tradisional yang belum dilepaskan sepenuhnya dari kesadaran kultural masyarakat, meksipun ia juga tidak lagi menjadi orientasi dan praktik dominan. Namun, ketradisionalan tersebut tetap bisa dipanggil-kembali dan dimobilisasi untuk urusan-urusan tertentu, seperti ritual ini. Dalam hal visualitas dan ekonomi, busana tradisional akan memperindah performance ritual dan sekaligus memberikan kesan kepada pengunjung yang sudah terbiasa mengenakan pakaian modern bergaya metropolitan. Dengan demikian, dalam benak pengunjung, baik warga Tuban maupun luar, akan muncul kekaguman sekaligus ketertarikan terhadap acara ini.

1409108836544

Selain busana, prosesi ritual yang dilangsungkan dalam praktik-yang-dikesankan-sakral juga memunculkan kesan eksotis tersendiri. Kesan sakral itu dikonstruksi melalui beberapa tahapan ritual. Pertama, kedatangan bupati/wakil bupati beserta jajaran pimpinan daerah disambut oleh para peserta ritual—waranggono dan pramugari—layaknya kedatangan raja. Seorang lelaki pembawa payung mengiringi si pimpinan. Sementara, di bagian belakang adalah barisan para calon waranggono yang akan diwisuda dan waranggono senior serta para pramugari. Penghadiran-kembali iring-iringan ‘raja’ menjadi makna visual yang dilekatkan dengan kesakralan. Secara semiotik, prosesi tersebut bisa dibaca sebagai bentuk penghormatan terhadap pimpinan daerah yang dianggap mampu memberikan kebajikan berupa kebijakan. Pimpinan daerah dianggap memiliki kepedulian terhadap usaha pemertahanan kesenian lokal yang oleh para pemuka agama diyakini sebagai praktik estetik yang mengandung unsur maksiat. Atas kebajikan tersebut, mereka perlu mendapatkan penghormatan layaknya seorang raja.

1409108838423

Iring-iringan melengkapi Siraman

Penghadiran kesenian lain, seperti kuda lumping pada Siraman Seniman Langen Tayub 2013 atau campursari pada acara tahun 2014, dimaksudkan untuk lebih meramaikan ritual yang diselenggarakan oleh negara. Orientasi menjadikan acara ini sebagai atraksi wisata menjadi alasan utama untuk menghadirkan kesenian-kesenian lokal lain. Hal itu bisa dipahami karena kalau hanya acara ritual siraman, maka agenda wisata tetap Pemkab Tuban ini akan terkesan kurang ramai. Paling tidak, sembari menunggu ritual siraman, penonton yang sebagian besar wisatawan lokal bisa menikmati atraksi-atraksi kesenian yang bersifat menghibur. Selain itu, tambahan pagelaran ini juga dimaksudkan untuk mempromosikan kekayaan budaya lokal yang masih hidup di tengah-tengah masyarakat Tuban.

1409106694792

Tahapan ritual berikutnya adalah pemberian air untuk siraman yang diberikan oleh pimpinan daerah kepadaperwakilan calon waranggono. Air untuk siraman ditaruh di dalam wadah gerabah, tidak lupa diberikan kembang aneka warna. Penghadiran kembang aneka warna memang berkaitan erat dengan ritual dalam tradisi Jawa yang dimaksudkan sebagai pelajaran bagi para pesinden bahwa mereka akan menghadapi bermacam keadaan dan tantangan dalam menjalani profesi tersebut. Diharapkan mereka selalu ingat dan berusaha mengembangkan kepribadian dan kemampuan yang menjadikan kesenian ini selalu dicintai oleh para pengibing dan masyarakat secara luas. Sementara, air dalam wadah gerabah dimaksudkan sebagai simbol dari penyucian para waranggono dari niat-niat jelek dalam berkesenian serta dalam keadaan apapun mereka diharapkan selalu ingat asal-usul manusia yang berasal dan akan kembali ke dalam tanah.

1409106698117 - Copy

Air untuk siraman

Setelah semua rangkaian di atas selesai, para waranggono dan pramugari menuju Sendang Bektiharjo. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya para calon waranggono, waranggono senior, dan pramugari cukup membasuh muka mereka dari air sendang yang ditaruh di wadah gerabah besar, pada tahun 2014 mereka harus masuk ke dalam sendang sampai di lutut, sehingga pakaian bagian bawah basah. Kalau dicari-cari makna filosofis dari acara di atas mungkin dimaksudkan agar mereka berkah alam semesta dalam menjalani karir dalam dunia pertunjukan tayub. Namun, menurut kami, hal itu lebih dimaksudkan untuk menambah keatraktifan acara Siraman di mata para pengunjung. Aspek atraktif masuk ke sendang tentu akan berbeda dengan sekedar membasuh muka, sehingg para penonton pun bisa menikmati peristiwa eksotis seperti ketika para bidadari turun dan bermain air di sendang.

1409108836376

Sinden muda siap mengikuti Siraman

Adegan siraman di Sendang Bektiharjo merupakan eksotisasi visual dari masa lampau ketika para gadis atau ketika para bidadari dalam cerita rakyat mandi di sendang. Meminjam konsep Baudrillard (1997), adegan di sendang tersebut merupakan usaha untuk membuat realitas baru yang melebihi realitas itu sendiri, karena dalam kehidupan sehari-hari sudah tidak ada waranggono yang mandi di sendang. Sebagai adegan simulakra, menceburkan diri ke sendang merupakan usaha untuk memunculkan makna atau kesan dalam benak penonton ataupun pewarta media terkait keindahan dan keatraktifan ritual ini. Harapannya, tentu saja, mereka akan kembali menonton acara serupa pada tahun berikutnya. Sementara, bagi para pewarta diharapkan mereka akan memberitakan kegiatan ini ke khalayak luas. Dengan pemberitaan luas itulah, pemkab menaruh harapan bahwa akan semakin penonton dari Tuban maupun luar daerah serta mancanegara yang tertarik untuk datang pada Siraman. Artinya, makna simulakra dari ritual tersebut bukan lagi semata-mata dilekatkan untuk kepentingan simbolik pelestarian. Lebih dari itu, kepentingan ekonomi pariwisata budaya merupakan kepentingan dominan yang menggerakkan acara ini.

Ritualisasi oleh negara: Antara kepentingan ekonomi-pariwisata dan pemberdayaan (pelaku) tayub

Adalah sebuah gejala umum di masa selepas Reformasi dan otonomi daerah di mana masing-masing provinsi dan kabupaten seperti berlomba-lomba memunculkan dan mempopulerkan kekayaan budaya lokal mereka di tengah-tengah geliat modernitas sebagai akibat pembangunan yang berlangsung. Paling tidak, terdapat dua alasan utama yang menjadi dasar pemerintah kabupaten untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pariwisata budaya, sepertihalnya Gembyangan Waranggono dan Siraman Seniman Langen Tayub di atas.

 1409109237737

Pertama, untuk melestarikan kesenian tradisional warisan leluhur yang dikonstruksi memiliki nilai dan filsafat adiluhung. Praksis pelestarian dimaksudkan agar masyarakat di kabupaten tertentu tidak mudah melupakan identitas lokal mereka yang dalam beberapa hal berbeda dengan masyarakat kabupaten lain. Persoalan identitas kabupaten ini menjadi penting karena sejalan dengan otonomi daerah yang memberikan wewenang pelestarian dan pengembangan budaya lokal kepada masing-masing kabupaten, meskipun untuk urusan-urusan kebudayaan dalam lingkup nasional masih diatur oleh pemerintah pusat. Pelestarian tayub, baik di Nganjuk, Tuban, maupun Lamongan, di satu sisi memang memunculkan permasalahan dilematis karena menguatnya kekuatan agama—khususnya Islam—yang menganggap dan memosisikan kesenian ini penuh dengan kemaksiatan. Di sisi lain, tayub masih menjadi kesenian populis yang digemari banyak anggota masyarakat di masing-masing kabupaten. Pilihan untuk menggelar acara seremonial merupakan bentuk jalan tengah yang ditempuh rezim kabupaten guna memberikan legitimasi kepada kesenian tayub untuk tetap bisa berkembang sekaligus menertibkan para pelakunya sehingga bisa diarahkan agar tidak terlalu berlebihan dalam melangsungkan sikap dan perilaku maksiat dalam pertunjukan. Dengan strategi tersebut, rezim kabupaten tetap mendapaktan keuntungan, yakni mereka tetap bisa mendorong berkembangnya identitas daerah sekaligus mendapatkan simpati publik—khususnya masyarakat penggemar tayub—yang bisa meninggikan nilai tawar politis mereka di mata warga. Lebih jauh lagi, mereka juga akan mendapatkan apresiasi dari rezim negara di atasnya, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.

1409109637492

Sesajen untuk ritual

Kedua, sejalan dengan otonomi daerah, masing-masing pemerintah kabupaten dituntut untuk mengembangkan usaha yang bisa memperbesar pemasukan dana. Pariwisata budaya dengan menampilkan keunikan kultural yang dimiliki masyarakat setempat menjadi pilihan yang paling mudah dilaksanakan oleh dinas-dinas terkait. Pemerintah sangat menyadari bahwa sebesar apapun pengaruh modernitas dalam kehidupan warga, mereka masih belum bisa meninggalkan sepenuhnya tradisi maupun kesenian yang diwariskan oleh nenek-moyang. Dengan kata lain, masyarakat lokal masih menyimpan memori dan kegemaran kolektif terhadap atraksi kultural yang mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan kewilayahan. Ketika kesenian lokal yang selama ini menjadi kegemaran komunal di-ritual-kan dalam program pariwisata, masyarakat pendukungnya pun akan menyambut dengan antusias. Kedatangan mereka tentu dalam agenda pariwisata budaya Gembyangan Waranggono maupun Siraman Seniman Langen Tayub, memang tidak bisa langsung mendongkrak pemasukan daerah, karena mereka tidak dipungut biaya. Namun, pembesaran oleh media dari acara-acara tersebut tentu diharapkan akan mendatangkan wisatawan lokal dari daerah lain dan wisatawan mancanegara. Kedatangan mereka tentu diharapkan akan menggerakkan roda perekonomian, seperti perdagangan sektor informal maupun perhotelan yang berpotensi memberikan tambahan pemasukan kepada pemerintah kabupaten.

1409110016970

Para sinden turun ke sendang

Lalu, bagaimana dampak dari kegiatan yang diselenggarakan oleh rezim kabupaten terhadap para tandhak/waranggono maupun seniman tayub lainnya seperti pramugari dan pengrawit? Secara kultural, ritual-ritual yang melibatkan waranggono serta pembinaan-pembinaan mental dan teknik koreografi kepada para seniman langen tayub memang membawa perubahan, meskipun tidak secara menyeluruh, khususnya terkait stigmatisasi yang diberikan masyarakat. Musrini, salah satu waranggono senior di Nganjuk, mengatakan: “Sekarang tidak ada yang memandang sebelah mata kepada Waranggono seperti kami. Karena kami berperan sebagai seniwati yang bersusila, berbobot, dan sopan”.[ii] Masuknya kesenian tayub dalam agenda pariwisata budaya di Nganjuk dan Tuban, pertama-tama, dibaca sebagai bentuk penghargaan pemerintah terhadap kesenian rakyat yang selama ini oleh kalangan agamawan diposisikan mengumbar maksiat. Dengan agenda ini dan juga kegiatan-kegiatan pembinaan, para waranggono, khususnya, mendapatkan legitimasi terkait aktivitas kesenian mereka, sehingga lambat-laun masyarakat bisa memberikan persepsi yang lebih positif, “bersusila”, “berbobot”, dan “sopan”. Pada masa lampau kebalikan dari ketiga istilah tersebut, yakni “asusila”, “tidak berbobot”, dan “tidak sopan”, menjadi pandangan stigmatik yang dominan, khususnya yang dilontarkan oleh kaum agamawan. Terlepas dari usaha rezim pemerintah untuk menginkorporasi kesenian tayub sebagai bagian proyek politik dan proyek pariwisata budaya, para seniman juga bisa menegosiasikan kepentingan mereka di tengah-tengah semakin gencarnya dakwah keagamaan di wilayah pedesaan sebagai basis perkembangan tayub. Dengan mendapatkan legitimasi yang berarti juga mendapatkan perlindungan dalam regulasi negara, para waranggono tidak lagi harus dirisaukan oleh suara-suara miring yang menuntut pelarangan kesenian ini di tengah-tengah masyarakat, meskipun tidak berarti tuntutan itu hilang sepenuhnya.

1409109984524

Turun ke sendang

Selain itu, ritual Gembyangan dan Siraman, bisa menjadi promosi awal bagi para tandhak/waranggono pemula yang baru di-wisuda. Kehadiran mereka dalam kedua ritual tersebut bisa menjadi penegas eksistensi mereka selanjutnya dalam jagat tayub di kedua kabupaten maupun kabupaten-kabupaten tetangga yang membutuhkan gerak tari dan kelembutan suara mereka dalam pertunjukan. Apalagi, di dalam ritual, mereka juga bertemu dengan para pramugari dan penggila tayub, sehingga perkenalan awal itu bisa menjadi pintu masuk bagi mereka agar dikenal dan direkomendasikan untuk “ditanggap” dalam pertunjukan-pertunjukan tayub berikutnya. Berkah ekonomi sebesar Rp. 300.000 sampai dengan Rp. 500.000 bagi waranggono pemula dalam setiap pertunjukan, dari siang selepas Dzuhur ampai sebelum Subuh, tentu menjadi impian mereka. Pendapatan tersebut bisa berlipat-ganda, dari Rp. 2.500.000 sampai dengan Rp. 4.000.000 ketika mereka semakin sering diundang pentas dan semakin dikenal oleh publik penikmat tayuban. Seperti Wantika, waranggono Tuban, yang bertarif Rp. 4.000.000 dalam setiap pertunjukan tayub. Dengan penghasilan itulah mereka bisa membayar kredit sepeda motor atau, bahkan, mobil, membangun rumah, memenuhi kebutuhan keluarga, hingga membiayai sekolah anak-anak mereka. Sekali lagi, bagi para tandhak pemula, keterlibatan mereka dalam ritual Gembyangan ataupun Siraman menjadi penanda awal keberadaan mereka dalam dunia tayub yang penuh dinamika; menawarkan rezeki ekonomi sekaligus menuntut siasat-siasat tubuh di tengah-tengah sorotan dan keliaran mata para penayub.  

1409109721517

Warga berjubel menyaksikan sinden turun ke sendang

Sementara, bagi waranggono dan pramugari senior kehadiran mereka lebih untuk memberikan dorongan atau semangat kepada para waranggono pemula. Tentu saja, itu tujuan ideal yang diharapkan oleh rezim negara. Meskipun demikian, banyak diantara mereka berkeluh-kesah terkait mahalnya biaya untuk berpartisipasi dalam ritual. Beberapa waranggono senior Tuban yang kami tanya mengatakan bahwa untuk berdandan dan kebutuhan-kebutuhan lain dalam siraman, paling sedikit mereka harus menyediakan dana Rp. 1.000.000. Mereka tidak bisa mengelak dari ritual tersebut karena diwajibkan oleh dinas terkait. Memang muncul sedikit keluhan, tetapi tidak sampai menjadikan mereka berani untuk tidak hadir dalam acara Siraman. Paling tidak dengan hadir di acara tersebut, para waranggono dan pramugari senior menunjukkan dukungan mereka terhadap upaya rezim negara untuk terus melegitimasi kesenian tayub sebagai bagian sah dari budaya lokal. Dengan demikian, mereka pun tetap bisa melanjutkan ikhtiar kultural sekaligus ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan.

Siasat tandhak, bukan peran negara

Namun, apabila ditilik lebih jauh lagi, keberhasilan para tandhak dalam mendapatkan rezeki ekonomi dari pertunjukan tayub bukan semata-mata karena legitimasi negara. Lebih dari itu, mereka harus melakukan siasat-siasat di luar dan di dalam pertunjukan. Di luar pertunjukan, misalnya, mereka harus membina hubungan baik denga ketua/juragan paguyuban tayub yang membawai para pengrawit, penabuh alat musik dalam pertunjukan. Sebagian besar penanggap akan menyerahkan para waranggono yang akan tampil dalam pagelaran kepada para ketua paguyuban, kecuali untuk tandhak tertentu yang dianggap idola. Para penanggap biasanya akan jauh hari mendatangi rumah si tandhak karena padatnya jadwal pertunjukan mereka, baik di Tuban maupun kabupaten-kabupaten tetangga. Para tandhak juga harus membina hubungan baik dengan para pramugari, termasuk tidak pelit berbagi rezeki dari uang saweran pengibing. Para pramugari biasanya juga dimintai pertimbangan oleh calon penanggap terkait para tandhak yang akan ditampilkan. Dengan demikian, semakin baik relasi seorang tandhak dengan juragan tayub dan pramugari akan memperluas kesempatan mereka untuk ditanggap dalam hajatan warga, sedekah bumi, maupun peringatan 17-an.

1409109917825

Di dalam arena pertunjukan mereka juga harus pintar-pintar bersiasat karena ragam sikap dan perilaku para pengibing. Di arena pertunjukanlah para tandhak dituntut tidak hanya memiliki kreativitas—kemampuan tari dan olah vokal, tetapi juga mampu ‘menaklukkan’ hasrat para pengibing. Namun, panoptikonisme negara—melalui wacana penertiban gerak tari erotis dan memancing hasrat seksual—sedikit banyak berpengaruh terhadap siasat yang dilakukan para tandhak. Para tandhak/sindir sejak era Orde Baru bukanlah para penari yang bisa menuruti hasrat pengibing sesuka-hatinya. Mereka harus pandai-pandai bersiasat sehingga mereka tidak harus menolak secara terang-terangan para pengibing yang terkadang liar. Berikut kami kutipkan pengakuan seorang sindir Tuban sebagaimana dicatat oleh Paring Waluyo (2012).

“Menjalani kehidupan menjadi sindir, apalagi di saat memasuki arena tayuban, akan selalu saja menemui lelaki yang ingin menjamah di atas panggung, bahkan di luar panggung. Di sinilah kami para sindir ini harus bisa bersiasat untuk menghindar. Kami jelas bukan perempuan gampangan. Tugas saya itu menghibur, membuat tontonan yang menarik, dengan selalu tersenyum. Saya itu bisa merasakan mas, mana lelaki yang sekedar menikmati hiburan ini, dan mana lelaki yang memiliki niat-niat kurang baik. Ya semua itu saya dapatkan dari seringnya saya menjalani profesi sebagai sindir.”

Para sindir/tandhak sangat memahami bahwa meskipun dakwah keagamaan sudah menggema di setiap sudut desa, hasrat patriarkal untuk bisa “menjamah” tubuh mereka ketika menari di kalangan masihlah kuat. Apalagi mereka memiliki kecukupan ekonomi untuk membayar atau memberikan bonus lebih kepada para tandhak yang disukai. Endapan-endapan stereotip tentang sindir di masa lalu yang bisa digoda atau dijamah di tengah pertunjukan belum bisa hilang sepenuhnya dari benak para penayub. Di sisi lain, para tandhak harus menghadapi wacana negara yang menuntut mereka tertib dalam menari serta pandangan stigmatik kaum agamawan. Maka, pilihan bersiasat dengan cara “menghindar” dari usaha pengibing untuk menjamah adalah sebuah keputusan yang bisa mengurai kompleksitas tegangan dalam benak seorang tandhak. Paling tidak, mereka tidak harus menghindar secara frontal, tetapi tetap “tersenyum” dan menari dengan gemulai. Dengan siasat itulah, para tandhak akan tetap direkam dalam benak para pengibing ataupun penonton, sekaligus bisa menunjukkan kepada aparat pemerintah dan kaum agamawan bahwa mereka tidak memperkenankan tubuh mereka disentuh.

1409109517660

Memang, dengan tetap digemarinya tayub sebagai seni pertunjukan rakyat, para tandhak/ledhek/waranggono bisa hidup berkecukupan—memiliki sepeda motor atau mobil, rumah mewah, mampu membeli sawah, dan membiayai pendidikan anak-anak mereka. Namun, itu semua bukan hasil yang diperoleh secara instan, karena mereka harus menempa diri dengan kecakapan tari dan suara, berdandan cantik, atau, bahkan, ada yang pergi ke orang pintar/dhukun untuk menambah pesona. Mereka juga harus bersiasat di tengah-tengah pertunjukan agar tetap digemari oleh para pengibing. Dan, semua ritual yang dibuat oleh rezim negara bukanlah sebuah jaminan bagi kesuksesan dan keberdayaan tandhak. Karena rezim juga memiliki kepentingan sendiri—ekonomi pariwisata dan politik berbasis kebudayaan—mereka hanya bisa menginkorporasi pertunjukan rakyat ini beserta para pelakunya. Sementara, kebijakan yang sistemik dan terstruktur tidak pernah ditempuh oleh rezim negara. Dalam kondisi itulah, rezim negara hanya menjadi tukang stempel dan pelaksana ritual serta tidak berkontribusi penting bagi keberdayaan para pelaku tayub, dari tandhak/ledhek/sindir/waranggono, pramugari, hingga pengrawit.

Catatan akhir

[i] Lihat, “Ritual Siraman Waranggono: Ikhtiar Mencari Penglaris dan Popularitas”, tersedia di: http://kotatuban.com/ekbis/ritual-siraman-sindir-ikhtiar-cari-penglaris-dan-popularitas/, diunduh 21 Desember 2013.

[ii] Lihat, Jodhi Yudono. 2010. “Waranggono Penjaga Martabat Tayub”, tersedia di: http://oase.kompas.com/read/2010/10/01/01562811/Waranggono.Penjaga.Martabat.Tayub, diunduh 25 Mei 2013.

Pustaka acuan

Baudrillard, J. 1997. Simulacra and Simulation, trans. S. Faria Glaser. Michigan: University of Michigan Press.

Juwariyah, Anik. 2002. “Gembyangan Waranggana: Keberadaannya Masa Kini di Kabupaten Nganjuk”. Tesis S2. Denpasar: Prodi Kajian Budaya Univ. Udayana.

Nordholt, Henk Schulte & Gerry van Klinken (ed). 2009. Politik Lokal di Indonesia. (alih bahasa Bernard Hidayat). Jakarta: Yayasan Obor.

Trisnawati, Cindy. 2013. “Kehidupan Waranggana Ditinjau dari Perspektif Sosial-Ekonnomi di Dusun Ngrajek, Desa Sambirejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.” Skripsi Sarjana. Belum dipublikasikan. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni UNY.

Utomo, Indra Wahyu & Suparwoto. 2016. “Pendidikan Waranggana di Dusun Ngrajek Desa Sambirejo Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk Tahun 1987-2013. Dalam AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah, Vol. 4, No. 1.

Waluyo, Paring. 2012. “Tuak, Tayub, dan Siasat Sindir”. Diunduh dari: http://srinthil.org/68/tuak-tayub-dan-siasat-sindir/, 12 Agustus 2013.

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*