Klarifikasi tentang kursi untuk wisatawan dalam Ritual Seblang Olehsari 2018

Arif Wibowo

 

Saya mewakili panitia penyelenggara akan menyampaikan beberapa klarifikasi terkait pembukaan kursi khusus untuk wisatawan. Memang secara kasat mata pembukaan kursi khusus wisatawan ini sangat komersial yang bertolak belakang dengan kegiatan ritual. Namun, ini adalah pilihan terbaik panitia dalam upaya menyiapkan infrastruktur pelestarian kegiatan ritual ini secara jangka panjang. Ini adalah tahun pertama kami mencoba belajar mengorganisasi wisata budaya minat khusus kegiatan ritual Seblang di desa kami. Jadi wisatawan bisa menikmati ritual Seblang lebih dekat dengan kursi di bawah pondok beratap tikel balung. Setiap wisatawan yang sudah memesan tiket akan kami berikan fasilitas tempat duduk, memakai udeng bagi pria dan sarung batik bagi wanita, serta makanan berupa kue tradisional (kucur, pisang goreng,dll+air mineral). Dengan harga 20 ribu (lokal), 30 ribu (internasional), wisatawan akan mendapat fasilitas tersebut. Setiap hari kami hanya menyediakan 40 kursi, karena keterbatasan tempat, pertimbangan kenyamanan dan juga agar kami tidak “aji mumpung”. Walau sebenarnya kami bisa melakukan komersialisasi untuk semua penonton yang hadir. Bayangkan jika ditiketkan 5000 rupiah saja setiap penonton yang masuk, sudah berapa pemasukan yang kami dapat selama 7 hari. Tapi kami tahu diri, ini kegiatan selametan desa. Sebuah perhelatan kebudayaan yang memiliki nilai spiritual, sakral namun juga memiliki nilai profan, nilai hiburan siapapun bisa menonton, menari bersama, bergembira bersama tanpa membedakan suku, agama, warna kulit dan kebangsaan. Penonton lain di luar 40 kursi yang mungkin berjumlah 500an lebih itu tentu masih sangat bisa menonton Seblang secara gratis.

Lalu apa dasar pembukaan kursi khusus wisatawan berbayar ini?

Semua sudah mafhum, untuk kebutuhan yang bersifat ritual seperti selametan sebelum dan sesudah kegiatan dan Uba rampe-nya bersumber dari iuran masyarakat disebut dengan istilah MUPU yang sudah menjadi tradisi. Sedangkan untuk dana operasional selama 7 hari. Sebelumnya, panitia di desa selalu direpotkan harus mencari lobby baik kepada pemerintah maupun swasta. Usaha inipun sebenarnya sangat rentan dipolitisasi.

Foto Arif Wibowo.

Ritual Seblang di Olehsari dulu dan kini tentu mengalami perkembangan. Setidaknya, sejak tahun 90-an Seblang mulai dikenal dan menarik perhatian publik. Pemerintah daerah, Media massa dan peneliti/akademisi turut berkontribusi menyebar informasi kepada dunia tentang ritual tarian sakral khas desa kami ini.

Foto Arif Wibowo.

Pejabat daerah seperti Bupati dan jajarannya hampir bisa dipastikan menghadiri ritual Seblang setiap tahunnya. Maka dari itu, panitia selalu menyiapkan tempat duduk khusus undangan agar tidak berjubel dengan penonton pada umumya. Bahkan di hari pertama pembukaan Seblang Senin (18/6) lalu, Menteri Pariwisata Arief Yahya juga nonton Seblang bersama keluarganya. Maka, sebagai warga desa “gupuh, lungguh, suguh” sudah menjadi keharusan. Tahun sebelumnya Keberadaan kursi untuk tamu undangan ini, jika sedang tidak ada kunjungan pejabat, bisa diakses oleh siapapun. Bahkan jika ada guide-guide lokal yang membawa turis, tak segan kami mempersilahkan duduk di kursi-kursi yang tersedia. Maka sebenernya selama ini panitia sudah menyediakan standar hospitality yang paling mendasar untuk wisatawan. Namun itu semua kami gratiskan.

Foto Arif Wibowo.

Beberapa tokoh desa dan pemerintah selalu menyarankan agar panitia membuat kegiatan usaha wisata budaya. Maka, atas inisiatif bersama panitia tahun ini kami membuka kursi khusus bagi wisatawan dengan fasilitas seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Harapannya, panitia kedepannya bisa cukup mandiri secara ekonomi. Jikalau kebijakan dana desa di masa depan akan disetop, maka kami panitia sudah siap menciptakan sumber pendanaan secara mandiri untuk pelaksanaan kegiatan ritual adat Seblang selama 7 hari. Saya pikir ini langkah lebih bijak daripada kita hanya berdiam diri terbuai dengan kondisi nyaman saat ini. Bahkan lebih bijak daripada kita mencari sponsor-sponsor di perusahaan swasta yang mengharuskan panitia menyediakan ruang komersial dan atribut iklan di arena panggung ritual.

Foto Visioning Lulian.

Hasil dari kegiatan wisata budaya ini juga sebagian kami sisihkan untuk diberikan kepada pelaku adat, “sari” istilah lokalnya. Sisanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan panitia penyelenggara. Saya cukup bersyukur dengan antusias pemuda-pemudi Olehsari yang sangat guyub dan kompak. Mereka selain meluangkan waktu sebulan penuh untuk menyiapkan kegiatan ini, juga tambah semangat dengan menyambut kedatangan menteri pariwisata dan juga wisatawan lokal dan mancanegara. Tentunya akan meningkatkan “sense of belonging” kami sebagai pemuda-pemudi Desa Olehsari untuk menjaga aset kebudayaan yang kami miliki.

Foto Arif Wibowo.

Maka, sungguh sangat tidak tepat jika ada anggapan panitia mengkomersilkan kegiatan Ritual Adat Seblang seperti pro dan kontra yang selama ini berkembang di kalangan orang-orang luar desa dan orang-orang yang sebelumnya kami anggap memiliki wawasan terbuka.

* Penulis adalah Ketua Panitia Ritual Adat Seblang Olehsari 2018

Semua foto diambil dari akun FB Arif Wibowo.

Share This:

About Matatimoer 8 Articles
Adalah lembaga yang bergerak dalam bidang penelitian budaya dan pemberdayaan komunitas

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*