Tarian hidup menjelang embun

IKWAN SETIAWAN

 

Download cerita versi PDF

Mereka bermain dalam lantunan gerak yang memanggil/Pada sebuah mata bersandar malu, beribu tahun/Tapi, apa yang bisa diharapkan dari malu, kecuali lapar/Lapar yang terus menunggu di sebuah jembatan retak

Keinginanku untuk menonton pertunjukan jaranan di Balung akan segera kesampaian siang ini. Bam, pelatih teater di SMA Kencong, setengah berlari menghampiriku ketika aku sedang berteduh di depan sebuah tokoh emas di Pasar Balung. Karena biasa bertemu dalam forum latihan teater pelajar se-Jember selatan, kami berdua jadi akrab. Aku sendiri mendampingi teater pelajar di SMA Balung. Bam masih tampak seperti dulu, awet muda. Aku menduga, gejolak dan keliaran nalarnya dalam berteater-lah yang mungkin menjadikan semesta mengalirkan “energi pucuk daun berembun”, sehingga ia tampak selalu muda. Dengan sepeda motor bebeknya, Bam membawaku ke lokasi pertunjukan jaranan.

Kami melewati jalan desa yang sudah diaspal, meskipun banyak yang lubang. Lahan tebu di kanan kiri jalan, menyeret kami berdua pada himpitan hijau yang begitu panjang. Hampir 30 menit aku menikmati pemandangan ini. Begitu masuk di gapura Desa Glundengan, aku menikmati suasana desa yang dipenuhi nuansa modern. Rumah-rumah dengan arsitektur ala perumahan elit perkotaan menjadi lanskap yang sangat kontras dengan sebutan “desanya”. Meskipun demikian, di sela-sela rumah bergaya kota tersebut, masih terselip rumah-rumah keluarga miskin yang terbuat dari “separuh bambu, separuh kayu”. Maksudnya, tiang-tiangnya terbuat dari kayu jati, tetapi dindingnya terbuat dari separuh kayu separuh bambu. Ada juga rumah yang seluruhnya terbuat dari bambu.

Setelah melewati beberapa gang, kami berdua memasuki gang tempat pertunjukan jaranan dilaksanakan. Di sepanjang jalan gang, para penjual makanan—dari bakso, cilok, es, nasi rawon, nasi soto, buah-buahan hingga kacang godok dan goreng—dan juga para pedagang mainan mulai menata barang dagangannya. Tampak jelas harapan di wajah mereka agar pertunjukan kali ini bisa mendatangkan rejeki. Anak-anak mulai berduyun-duyun menuju tempat pertunjukan yang baru digelar selepas dzuhur. Ibu-ibu muda menggendong anak-anaknya yang masih kecil, sambil berteduh di bawah pohon rindang atau di bawah emperan rumah agar bisa menikmati atraksi jaranan.

Begitu sampai di tempat pertunjukan, Bam langsung mengajakku ke tempat berkumpulnya para pemain di teras samping rumah penanggap. Dengan ramah menyambut kedatangan kami berdua. Pertama kali, aku dikenalkan oleh Bam kepada pemimpin kelompok yang bernama Pak Bagong. Laki-laki ini sehari-harinya, bila tidak ada tanggapan, bekerja sebagai buruh tebang tebu di Pabrik Gula Semboro, tempat kerja yang jauhnya sekitar 30 KM dan hanya ia tempuh dengan sepeda onthel-nya. Setelah dikenalkan dengan Pak Bagong, aku langsung bergabung dengan beberapa lelaki tua yang duduk melingkar sambil menikmati rokok dan kopi.  Mereka adalah Mbah Rohman, penasehat kelompok sekaligus bertugas sebagai tukang gambuh, orang yang biasa menyembuhkan para penari yang kesurupan; Mbah Kodir, tukang mengawasi pertunjukan agar tidak ada kekuatan jahat yang masuk ke arena; Mbah Siro, sama seperti Mbah Kodir, tetapi terkadang suka membantu Mbah Rohman.

Mula-mula mereka menanyai beberapa hal terkait asal-usulku. Setelah mengetahui bahwa aku adalah mahasiswa di Universitas Jember, mereka kaget karena aku jauh-jauh ke desa hanya untuk menonton jaranan. Tidak lupa mereka mempersilahkan aku menikmati kopi maupun penganan tradisional yang ada. Dengan agak malu-malu aku minum kopi yang lumayan pahit dan juga kucur yang masih hangat.

Namun, masih ada yang menarik perhatianku, yakni para jathil wedok yang sedang merias diri mereka. Ah, ternyata mereka masih anak-anak. Ada juga yang berusia remaja. Rukun sekali mereka, saling membantu untuk merias wajah. Kegembiraan begitu jelas tergambar di raut wajah mereka, seolah-olah hidup mereka adalah di pentas. Anak-anak seusia mereka di kota, tentu saja, kalau siang-siang begini masih sibuk berkemas pulang dari sekolah. Tapi mereka, di sini, harus merias diri dan siap memberikan yang terbaik buat penanggap dan penonton yang sudah mulai berdatangan. Beberapa di antara mereka menatapku dengan malu-malu. Ah, hampir saja aku lupa. Kan aku bawa kamera, ini adalah momen yang tepat untuk mendokumentasikan aktivitas pra-panggung. Tapi, sebelumnya aku minta izin kepada para pinisepuh. Dengan senang hati mereka mempersilahkan.

Mulailah aku bergaya layaknya fotografer profesional. Para pinisepuh aku dahulukan. Setelah mendapatkan beberapa gambar, aku beralih ke para jathil wedok yang sudah hampir selesai rias. Mula-mula mereka kaget, tetapi setelah beberapa kali jepret, mereka sudah mulai pintar menata gayanya. Lalu, aku memberanikan diri berkenalan dengan mereka: Nia, Sri, Eva, Ningsih—putri Pak Bagong—sudah  mempunyai anak satu, dan Anna. Kelima jathil inilah yang nantinya akan membuka pertunjukan dengan tarian rancak mereka.

Tukang kendang, seorang remaja berusia 15 tahun, menabuh alat musik kesayangannya dengan begitu bersemangat. Segera saja para jathil wedok berbaris,  keluar satu per satu menuju pentas kalangan, alias tanpa panggung, beralas tanah. Aku memang sengaja tidak mencatat apa-apa dari tarian mereka, karena aku hanya ingin merasakan kenikmatan yang hadir di tengah energi para penari, pemusik, maupun pinisepuh yang bersama-sama memberi ruh pada jaranan ini. Betapa rancak dan kompak gerakan mereka, meskipun kelihatan mereka belum begitu menguasai tarian pembuka ini; jathilan. Tapi, aku segera mengubur evaluasi estetik dalam pikiranku, karena yang lebih penting dari ini semua adalah keberanian para jathil wedok itu. Mereka yang sudah melampaui batas-batas seorang anak atau remaja, yang biasanya hanya bisa meminta. Mereka tidak meminta, mereka memberi. Ya, memberi satu cerita tentang masa kecil dan remaja yang dipenuhi dengan debu, sorot mata penonton, dan kecurigaan moralitas dari para penjaga gerbang agama. Semangat inilah yang ingin aku catat dalam pikiranku, bukan dalil-dalil estetik.

Aku berhasil mengabadikan para jathil wedok dalam beberapa jepretan kamera. Selama 30 menit menari, mereka keluar dari kalangan, dan digantikan atraksi barongan yang menampilkan atraksi tari perkasa dengan seorang pembarong dan seorang yang memainkan naga caplokan, mirip dengan barongsai. Mereka berdua ibarat kekuatan-kekuatan jahat yang ingin menguasai kehidupan manusia dengan nafsu-nafsu kebinatangannya. Ketika sudah sampai pada tarap klimaks, dua orang jathil wedok dipanggil oleh Mbah Rohman untuk menjinakan kedua raksasa tersebut. Maka, kedua Jathil itu berusaha merayu mereka agar mau nurut untuk di ajak keluar dari kalangan. Barongan mau tapi dengan syarat mereka berdua menari. Setelah hampir 5 menit menari, akhirnya barongan itu mau diajak keluar dari kalangan.

Ya, meskipun ini sekedar permainan dalam jaranan, tetapi paling tidak, aku jadi mengerti betapa perempuan sebenarnya mempunyai kekuatan luar biasa untuk menaklukkan segala keangkaramurkaan maupun hawa nafsu. Adegan serupa diulangi lagi ketika atraksi kucingan mencapai klimaksnya, ketika penari kesurupan dan berusaha disembuhkan tukang gambuh. Si penari laki-laki berputar-putar sambil menguliti kelapa. Tukang gambuh bisa menyembuhkan tetapi si penari minta 2 jathil wedok menari untuk menghibur hatinya. Berhasil, 2 jathil wedok segera membawanya ke dalam.

“Kesurupan itu ya beras ya ketan. Maksudnya ya waras ya edan.” Begitulah Mbah Rohman menerangkan tentang si penari yang kesurupan. Saat kesurupan mereka dia tidak lupa diri sepenuhnya. Mereka tetap setengah sadar; tahu kalau banyak orang; tahu kalau dia seperti orang gila. Dan, karena dia tahu banyak orang yang semakin ‘gila’ melihatnya, maka ia berusaha menjadi semakin ‘gila’ dengan atraksi-atraksi yang menakutkan, seperti menguliti kelapa dengan gigi.

“Terus kalau ada yang kersurupan arwah atau jin, gimana, Mbah?” tanyaku semakin penasaran.

Semua penari itu bisa dirasuki jin atau arwah penunggu desa. Karena makhluk-makhluk itu memang sengaja kita undang untuk menyaksikan dan melindungi pagelaran. Soal ada yang masuk ke pikiran penari, bisa diatur, bisa dirembug, bisa diminta baik-baik untuk keluar. Lha, mereka sebenarnya ndak jahat, kok. Biasanya yang masuk arwah danyang penunggu desa,” paparnya dengan penuh keyakinan. Tidak lama kemudian, terdengar adzan Maghrib.

“Saatnya menghadap Gusti Kang Murbeng Dumadi, ayo ke musholla,” begitulah ajaknya kepadaku. Kami berdua menuju sebuah musholla kecil yang tidak jauh dari lokasi pertunjukan. Oleh pemilik musholla dan beberapa jama’ah Mbah Rohman didaulat menjadi imam.

Dari musholla, kami menuju ke tempat para pemain dan pemusik yang sedang beristirahat. Beberapa orang pemusik yang sedang makan nasi rawon. Sementara sebagian yang lain, setelah makan langsung pulang, karena Balung Wetan Kali, tempat kelompok jaranan ini berasal, memang tidak terlalu jauh. Termasuk beberapa jathil wedok. Aku sendiri, tidak ikut Bam pulang ke rumahnya, karena merasa lebih baik di sini untuk menyaksikan ‘pentas di luar kalangan’. Maksudnya, aktivitas para personil jaranan ketika rehat.

“Mas Eka, dari Unej, ya?” sapa seorang remaja dari arah belakangku. Ketika aku menoleh, ternyata Sri yang sudah mengenakan kaos dan celana pendek, rambutnya diikat. Ia, lalu, duduk di sampingku.

“Iya, Sri. Memang kenapa?”

“Ndak pa-pa kok, Mas. Aku sering dengar cuma belum pernah kesana, Mas. Soalnya jauh, harus naik bis, kan aku ndak punya duit, Mas.” Dengan polos Sri bercerita, aku seperti orang yang tergagap, tidak tahu harus berkata apa. Ternyata, Unej begitu jauh bagi remaja seperti Sri yang sehari-hari bergulat dengan kehidupan di desa.

“Tadi nariku gimana?” tanyanya sambil tersenyum menundukkan muka.

“Aku senang kamu dan para jathil lainnya menari. Asyik banget, seperti tidak ada beban. Enteng banget pokoknya.”

“Iya, Mas. Aku sendiri kalau nari merasa gimana gitu, seperti plong pikiranku. Ndak mikir ruwet-ruwet, pokoknya bergerak bebas.”

“Ruwet gimana, Sri?”

“Ya, ruwet, Mas. Bayangkan saja, aku ndak lulus SD. Sekarang sudah berusia 17 tahun. Mestinya aku sudah di SMA, tapi Bapak ndak punya duit, jadinya aku ndak bisa nerusin. Ijasah SD saja ndak punya. Belum lagi, mikir tetangga kanan-kiri yang selalu meremehkan keluargaku. Jadinya, aku tambah kepikiran. Apalagi aku ndak kerja, ndak seperti kawan-kawanku yang kerja di Jember, meski cuma jadi pembantu atau penjaga toko.”

“Lho, kamu kok ndak ikut ke kota? Kok malah milih nari? Apa ndak malu sama tetangga?”

“Ndak mau aku, Mas. Cuma jadi babu, mending main jaranan, meski upahnya sedikit, tapi aku merasa tentram, ndak diperintah, ndak dibentak. Semua anggota di kelompok ini seperti saudara sendiri, guyub. Soal tetangga, ya, biar saja. Ndak usah dipikir. Memang banyak mengataiku, Sri, Sri, ayu, ayu, kok njathil. Tapi kalau aku ndengerin, ya malah bingung sendiri. Nanti kalau sudah capek pasti berhenti sendiri. Lagian, mereka juga sering lihat kalau aku nari.”

Aku merasa kalah telak dalam memahami kehidupan ini, bukan oleh kawan-kawan mahasiswa atau para dosen, tetapi oleh seorang jathil wedhok bernama Sri. Prinsipnya yang tidak ingin jadi babu, sangat bersebrangan dengan keinginan sebagian besar remaja putri yang ingin merasakan kehidupan yang layak, meski harus mengabdi kepada para juragan di kota. Rupa-rupanya, dia tidak perlu membaca Marxisme untuk bisa tahu eksploitasi buruh.

“Sri, ndak pingin beli bakso?”

“Sebenarnya ya pingin, Mas. Tapi, gimana, aku ndak punya duit.” Lagi-lagi ia menjawab dengan polos.

“Ayo, aku traktir.”

“Bener, Mas? Ndak bohong, kan?

“Iya, iya. Ayo!! E, kawan-kawanmu di mana?”

“Lagi mandi, Mas. Yuk, kita berdua saja.”

Kami berdua mencari penjual bakso yang tidak terlalu ramai. Waktu kami jalan berdua beberapa lelaki muda, bersiul. Aku tahu, pasti mereka ingin menggoda Sri, yang menjadi primadona di kelompok jaranan ini. Sri cuek dengan siulan itu. Waktu di jalan, kami bertemu para jathil lain yang baru saja mandi di rumah tetangga penanggap, aku ajak sekalian mereka untuk makan bakso bersama. Sambil makan kami ngobrol tentang beberapa hal, terkait dengan keterlibatan mereka dalam kelompok jaranan ini.

“Emm, kalo aku ikut jaranan ini karena sejak kecil aku selalu diajak Bapak kalau main jaranan. Jadi, ya seneng wae, Mas, meski honornya tidak seberapa, cuma 10 ribu setiap pentas. Kadang ya 15 ribu. Ya, lumayanlah, buat uang jajan di warung sekolah. Hitung-hitung belajar nyari duit,” tutur Nia, siswi kelas 1 di sebuah SMP swasta di Balung.

“Kalo aku, pingin nyari uang, buat nyicil beli buku dan alat tulis, Mas. Kasihan Bapak dan Emak, mereka kan cuma buruh tani.” Ana menimpali, yang juga diamini Eva. Mereka berdua sama-sama duduk di kelas 5 SD.

“Kalau aku sejak kecil memang sudah diharapkan Bapak supaya mau kadi jathil. Jadi, meski sudah punya anak satu, ya, tetap senang menari.” Ningsih, putri Pak Bagong, menambahkan. Sementara, Sri hanya tersenyum mendengar penjelasan teman-temannya.

Sungguh, semula aku kira mereka terpaksa menjalani ini semua, ternyata, tidak ada keraguan dalam diri mereka untuk menjalani profesi sebagai jathil. Eva, Ana, dan Nia, juga bercerita kalau di sekolah seringkali ada sebagian teman yang mencibir keterlibatan mereka dalam jaranan, tapi mereka berani melawan, bahkan menantang mereka untuk berkelahi. Bahkan, Nia pernah dipanggil oleh kepala sekolah karena memukul teman lelakinya hingga hidungnya berdarah.

Setelah hampir satu jam makan bakso dan ngobrol, kami segera kembali ke rumah penanggap karena mereka harus kembali berdandan untuk mempersiapkan pertunjukan selepas Isya. Para pinisepuh terlihat tersenyum dengan kedatangan kami. Aku bergabung dengan mereka untuk menikmati kopi. Aku sodorkan dua bungkus rokok kretek yang tadi aku beli di warung. Di tengah-tengah ‘ritual minum kopi’, aku menghayati sebuah dunia kecil dengan energi besar. Dunia itu adalah dunia keyakinan; dunia batin. Para anggota jaranan ini tidak pernah membayangkan suatu capaian yang terlampau besar. Tetapi, energi mereka untuk meyakini dan menjalani keyakinan terhadap jaranan, telah menjadikan mereka bahagia, meskipun bayaran mereka sangatlah kecil. Mereka juga tidak pernah marah atau mengeluh kepada pemerintah yang tidak pernah memperhatikan nasib jaranan dan para anggotanya, meskipun mereka juga membayar pajak. Bahkan, ketika Reformasi 1998 telah berlangsung 3 tahun ini, pemerintah, baik di level kecamatan, kabupaten, maupun provinsi, tidak pernah nyambangi, sekedar bertanya tentang kegiatan mereka.

Mereka tetap setia pada kesenian rakyat, tapi mereka tidak bergantung pada kesenian itu untuk penghidupan. Jadi, kesenian itu akan tetap hidup meskipun tidak ada yang nanggap. Jaranan memang terbukti mampu bertahan di tengah-tengah serbuan kesenian pop dewasa ini. Mereka masih bertahan di ruang-ruang berdebu di tengah-tengah desa yang jauh dari kota. Pak Bagong, Eva, Ana, Sri, dan Mbah Rohman, mungkin akan tetap bertahan karena kenyataannya masih ada saja orang-orang yang suka melihat atraksi-atraksi mereka. Dengan kesetiaan dan keyakinan mereka akan menyapa wajah orang desa dengan penuh kegembiraan ketika “musim 17-an” ataupun “musim hajatan” datang, pada bulan Juli hingga Agustus. Ya, di bulan-bulan itulah para pemain jaranan akan mendapatkan rezeki lumayan, meskipun, apabila dibandingkan dengan mahalnya kebutuhan hidup sehar-hari, tetap tidak berimbang. “Sing penting ati seneng,” begitu kata Mbah Rohman. Memang, pada akhirnya memang kembali kepada konsep ati seneng, sebuah keyakinan yang mampu melampaui bayangan-bayangan menakutkan akan sebuah kepunahan seni rakyat; melintasi hambatan-hambatan hidup dalam tekanan ekonomi; menghidupkan kegembiraan yang menjadi kunci utama hidup manusia.

Menjelang pukul 22.00. Atraksi tari para jathil wedok dan lanang serta keliaran barongan dan caplokan berganti dengan hiburan “mini campursari”. Disebut mini campusari karena alat yang dipakai biasanya cuma kendang plus ketipung dangdut, organ, maupun kenong. Beberapa orang biduwanita yang berasal dari kelompok atau khusus didatangkan dari desa tetangga sudah siap duduk di pinggir kalangan. Kang Parno, sebagai wiraswara, mengumumkan kepada para hadirin dan tamu yang ingin memesan lagu atau menari bersama penyanyi untuk mempersiapkan diri. Pada acara campursari mini, biasanya lebih banyak bapak-bapak atau generasi muda yang memenuhi kalangan.

Ketika tukang organ sudah memainkan organnya, tukang kendang dan ketipung segera menyautinya dengan irama pukulan yang rancak, secara bergantian. Dua biduwanita dengan pakaian ketat segera menuju ke kalangan untuk melayani para tamu yang hendak ikut menari bergembira. Aku jadi ingat Inul, Dewi Persik, ataupun U’ut Permatasari yang mempunyai nasib lebih mujur dari para biduwan desa ini. Mereka bertiga dulu juga berasal dari desa, tapi sekarang tidak harus lagi bercampur debu. Sedangkan para biduwanita ini harus bermandi keringat dan bercampur debu, untuk memperoleh uang 50 ribu. Kang Parno bilang para biduwanita itu adalah siswi SMA. Kang Parno menambahkan kalau aku, misalnya, bertemu dengan mereka waktu memakai seragam pasti tidak akan mengenali lagi, karena biasanya mereka pakai jilbab. Ada perbedaan ruang dan peran yang mereka sadari sepenuhnya, meskipun para guru agama maupun kyai selalu “mengharamkan” pakaian ketat dan seronok. Di sekolah mereka didisiplinkan oleh seragam, tetapi di kalangan, mereka mendisiplinkan tubuh mereka dengan pakaian ketat demi memenuhi selera penonton dan penyawer.

Aku sempat mengabadikan momen campursari beberapa kali. Ketika aku memotret, tampak para biduwanita itu memasang gaya ala artis dangdut ibukota. Meskipun meliuk-liukkan tubuhnya, mereka tetap memiliki batas-batas kewajaran. Memang serba dilematis bagi mereka, kalau tidak meliukkan tubuhnya, pasti tampilan mereka tidak menarik dan akhirnya tidak disuruh menyanyi lagi. Mereka seperti sudah biasa dengan pandangan-pandangan penuh hasrat dari para penonton laki-laki maupun dari para penyawer. Ini adalah ruang perjuangan yang harus ditundukkan demi membeli baju ataupun membantu orang tua untuk sekedar beli beras. Mungkin saja dalam pikiran mereka terlintas keyakinan seperti itu. Aku sendiri cuma menebak.

Selagi aku dengan para pinisepuh asyik menikmati goyangan para biduwanita dengan para penyawer sambil duduk di lantai teras rumah penanggap, Sri mendekat dan duduk di sampingku. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa. Ia menatapku penuh perhatian. Aku berpura-pura tidak tahu, sambil menghisap rokok, meskipun sesekali aku juga memperhatikannya, ketika ia tidak lagi menatapku. Seperti ada kesedihan, kegundahan, atau apalah namanya, yang sulit aku pahami. Karena diburu rasa penasaran, aku memberanikan diri bertanya.

“Kamu, kenapa, kok sepertinya sedang memikirkan sesuatu?” tanyaku mengagetkan Sri.

“Ah, ndak pa-pa kok, Mas,” jawabnya sambil sesekali memainkan kerikil di pinggir teras dan melempar-lemparkannya ke tanah.

“Bener, ndak ada pa-pa? Kok kamu kelihatan sedih gitu? Jangan bohong lho, ndak baik itu.”

“Ehm, ndak kok, Mas cuma masalah kecil.”

“Iya, masalah kecil apa? Kalau dibiarkan bisa jadi gedhe, lho.”

“Ini, tadi Emak pesan jeruk, Mas. Setelah aku tanya harganya, ehhm, lumayan mahal. 1 kilonya minta 5 ribu. Sudah aku tawar ndak boleh. Kan uang honorku kali ini cuma 10 ribu, Mas. Kalau aku beli jeruk, berarti tinggal 5 ribu. Mana cukup untuk beli sabun dan beras?”

Aku, sekali lagi, hanya bisa diam mendengar pengakuan polos Sri. Betapa mahal, jeruk 1 kilo baginya. Uang 5 ribu tentu tidak bisa membeli sebungkus rokokku. Tapi bagi Sri, uang 5 ribu adalah jumlah yang sangat besar. Lebih dari itu, 5 ribu dengan jeruk 1 kilo di tangan, akan membuat ibu dan adik-adikknya bahagia, meskipun hanya sesaat. Ternyata negeri yang katanya secuil surga ini, tidak pernah memberikan kebahagiaan bagi mereka yang berkawan kemiskinan, meski ini sudah tahun 2001, 3 tahun selepas Reformasi 1998. Ternyata negeri yang katanya kaya akan budaya lokal ini tidak pernah menghitung apa yang seharusnya diberikan kepada para penjuang kesenian Rakyat seperti para pelaku jaranan ini. Selama beberapa saat lamanya aku hanya diam sambil memberontak kepada keadaan dan juga diriku sendiri. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus membelikan jeruk buat Sri? Bagaimana dengan jathil-jathil lainnya kalau sampai mereka tahu? Bisa-bisa aku dicurigai ingin macem-macem dengan Sri.

“Kenapa Mas? Kok sekarang kamu yang melamun?”

“Ah, ndak, cuma lagi mikir sesuatu,” jawabku sambil berpura-pura membuka buku harian di dalam tasku. Pada saat itulah aku melihat dompet yang memang biasa aku taruh di dalam tas. Ternyata aku masih punya uang 150 ribu. Rasanya tidak adil kalau aku hanya membelikan Sri. Akhirnya kuputuskan untuk membelikan jeruk semua jathil perempuan masing-masing 1 kg. Dan, untuk pemain yang lain termasuk pinisepuh, aku belikan 3 kilo. Berarti uangku akan berkurang 40 ribu. Ah, masih cukup untuk beberapa hari lagi di Balung. Toh, uang beasiswa masih ada beberapa ratus ribu di ATM-ku. Segera saja aku, pamit kepada Sri dan para pinisepuh untuk keluar sebentar. Aku mencari penjual jeruk Semboro yang terkenal manis itu.

Sekembalinya ke mereka, aku segera bagikan jeruk kepada Sri dan masing-masing jathil serta memberikan kepada para pemain yang lain serta pinisepuh. Sri, lagi-lagi, memandangku sambil tersenyum. Mengapa ia harus bersikap seperti itu?

“Ehm, aku tahu kok, Mas, tadi pasti kamu hanya ingin membelikan aku. Iya, kan? Tapi karena merasa ndak enak sama yang lain, akhirnya mereka dibelikan juga. Iya, kan?”

“Ah, ndak. Aku lagi ada rejeki. Anggap saja ini ucapan terima kasih karena kalian telah menerimaku dengan baik. Jangan dimaknai macem-macem.”

“Alah, jangan bohong. Aku tahu kok, Mas. Kelihatan, lho. Tu, hidungnya kembang kempis.”

“Ah, kamu, Sri. Biar adil. Sama rata sama rasa. Gitu, lho,” jawabku sambil manggut-manggut melihat para biduwanita menari dan menyanyi.

Menjelang pukul 24.00, pertunjukan selesai. Para seniman jaranan segera mengemasi semua perlengkapan pertunjukan. Tampak sekali keguyuban di antara mereka. Sementara para jathil wedok yang memang sudah kelihatan lelah, membereskan pakaian serta perlengkapan make up. Sesudah semua selesai, Pak Bagong dan beberapa pinisepuh segera pamit ke penanggap. Penanggap, di samping rumah memberikan uang kekurangan pertunjukan, juga membekali para pemain dengan penganan desa yang biasa disebut berkat.

Aku memilih bergabung bersama rombongan, naik pick up. Sementara Bam membonceng salah satu pinisepuh. Di pick up beberapa pinisepuh dengan gembira membicarakan keberhasilan pertunjukan. Sementara, para jathil wedok hanya diam. Mungkin mereka kelelahan setelah sehari menari di depan penonton. Samar-samar kulihat Sri tersenyum memandangku. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum pula.

Malam ini, aku menginap di rumah Bam. Sebuah rumah yang sederhana di tengah-tengah kota kecamatan. Bapak dan Ibunya dengan ramah menyambut kedatangan kami. Setelah mencuci kaki, aku beranjak tidur, tubuhku terasa melayang ketika bersentuhan dengan kasur, mungkin rasa capek seharian ketika menonton dan mengamati pertunjukan jaranan baru terasa malam ini. Bam sendiri sudah terlentang tidur ketika aku masih dalam proses menuju tidur. Sebelum tidur, aku masih tersenyum, demi mengingat apa-apa yang terjadi hari ini, terutama sosok Sri yang luar biasa. Sama luar biasanya dengan Dewi Sri yang menebar benih kehidupan di muka bumi.

***

Malam kedua aku mengikuti pertunjukan jaranan di Dukuh Dempok, Wuluhan. Mbah Rohman sibuk mempersiapkan sesajen di bawah panggung. Sedangkan para jathil wedok dan lanang sudah hampir selesai merias dan mempersiapkan diri. Di ruang ganti penyanyi, aku lihat Bam bercanda dengan tiga penyanyi yang khusus didatangkan dari Kasiyan, Puger, sesuai permintaan dari penanggap. Mereka bertiga mengenakan pakaian yang cukup seksi. Aku sengaja tidak ingin bergabung dengan mereka, karena sebentar lagi pertunjukan akan dimulai. Tidak selang lama, pertunjukan dimulai, para jathil wedok membuka pertunjukan ini dengan wajah sumringah. Beberapa formasi tarian, dari melingkar ke dalam dan keluar hingga berbaris mereka suguhkan dengan apik. Mereka seperti kuda-kuda betina yang trengginas melintasi padang rumput.

Setelah tari jathilan selesai, aku memilih untuk istirahat sejenak, karena dari tadi belum minum kopi. Baru minum seteguk kopi, tiba-tiba aku melihat Sri jatuh pingsan dan membuat panik para jathil lainnya. Awalnya aku pikir ia kesurupan, ternyata pingsan. Bu Bagong yang ada di dekatnya berusaha untuk memanggil-manggil namanya, tapi tidak berhasil. Eva memanggil Mbah Rohman untuk menyadarkannya. Beberapa kali Mbah Rohman mengoleskan minyak senyonyong. Pada olesan kelima, barulah Sri sadar, dan Bu Bagong memberinya air putih. Sri menangis sambil memeluk Bu Bagong.

“Sudah, Ndok, sudah. Ndak enak sama teman-temanmu,” tutur Bu Bagong sambil memeluk Sri. Para jathil wedok memijat-mijat kaki Sri.

“Ada apa, Bu, kok Sri pingsang?” tanyaku.

“Ndak pa-pa, Mas. Mungkin kecapekan. Tidak biasanya Ndoké seperti ini, kok,” jawabnya sambil terus mengelus rambut dan kening Sri.

“Sejak tadi, Mbak Sri ndak makan, Bu, Mas. Sudah aku suruh, tapi katanya males,” celetuk Eva dengan polos.

“Aku tahu, pasti pingin dibelikan bakso lagi,” goda Nia sambil melirik ke arahku. Aku hanya bisa tersenyum dengan tuturan anak ini.

“E, Nia, jangan ngawur, yo,” timpal Sri dengan agak malu.

“Iya, ya, mungkin bener kata Nia,” sahutku.

“Ndak usah repot-repot, Mas. Aku ndak pa-pa, kok. Tapi, emang sedikit lapar, dari tadi siang aku memang males maem,” ucap Sri sambil melepaskan pelukan Bu Bagong dan duduk di sampingnya.

“Ya sudah, begini saja, kamu sekarang ditemani Mas Eka maem bakso. Biar para jathil liyane tetep di sini, kan mereka mau pentas lagi. Gimana, Mas?” tanya Bu Bagong sambil tersenyum.

“Em…ndak masalah, Bu. Tergantung Sri, gimana?”

“Iya, sudah, Mbak. Tapi, jangan lupa, untuk kita-kita dibungkus ya?!” Lagi-lagi Nia nyeletuk tanpa beban. Akhirnya Sri bisa menerima saran tersebut.

“Wah, Mas, aku ngrepoti lagi, ya?”

“Sri, Sri, gitu aja kok ngrepoti. Ntar kalau uangku habis pasti aku tidak akan mentraktir lagi. Iya, nggak?”

“Kamu bisa saja, Mas.”

“E, maaf, ya, kalau aku lancang. Kamu tadi pingsan, sebenarnya karena belum makan, atau karena terlalu berat mikir sesuatu?”

“Ya, dua-duanya, Mas. Aku memang belum makan dari tadi siang. Dan, aku juga sedang punya masalah yang menurutku cukup berat.”

“Lho, lho. Wah, bahaya ini. Tahu nggak, kata orang kalau ada masalah berat dan tidak segera diomongin bisa jadi bisulan di muka, kan malu.”

“Ah, kok, malah bercanda,” ucapnya sambil mencubit habuku.

“Auh, sepertinya sakit.”

“Biarin, biar kapok.”

Percakapan kami berhenti ketika si penjual mengantarkan dua mangkok bakso. Aku memesan beberapa bungkus lagi untuk para jathil lainnya dan juga Bu Bagong. Sehabis menikmati bakso, kami meneruskan obrolan.

“Mas, apa benar kamu mau ingin tahu masalahku?”

“Iya.”

“Begini. Tadi pagi, ada dua laki-laki datang ke rumahku. Satunya muda, satunya sudah agak tua, seusia Bapakku. Aku juga tidak kenal siapa mereka itu. Cuma, dari pembicaraan mereka dengan Bapak, aku jadi tahu ternyata mereka bermaksud nontoni. Oleh Bapak didudukkan setelah menyuguhkan teh. Laki-laki muda itu berulang kali memandangku setelah kami berdua saling berkenalan, sementara Bapak dan laki-laki tua, yang ternyata Pakdenya, asyik ngobrol tentang keluarga masing-masing. Setelah itu, oleh Bapak aku disuruh ke belakang menemani Ibu di dapur. Setelah mereka berdua pamit, aku semakin bingung karena Bapak mengatakan kalau laki-laki muda yang bernama Agus itu berniat menjadikan aku sebagai istrinya. Mereka dan keluarganya akan datang lagi kalau sudah ada kepastian dari pihak keluargaku. Terus terang, aku ingin menolak itu semua, Mas. Tapi, Bapak mengatakan bahwa aku sudah pantas menikah karena sudah 17 tahun. Dan, dengan menikah, aku diharapkan bisa membantu kehidupan keluarga kami yang selalu kekurangan. Aku bingung, Mas, harus mempertahankan pendirianku, atau menuruti semua permintaan Bapak,” tuturnya dengan sedih.

“Tenang, Sri. Semua pasti ada jalan keluarnya.” Aku coba menenangkannya dengan ucapan yang sangat normatif; yang sebenarnya sangat tidak aku suka.

“Iya, Mas. Tapi, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Bapak memintaku terus untuk menerimanya. Itu kalau aku mau menjunjung tinggi nasib keluarga. Jujur, Mas, aku ingin sekali membahagiakan kedua orang tuaku dan adik-adikku, tapi aku tidak tahu dengan cara apa. Sementara aku hanyalah seorang penari jathil dengan bayaran yang serba kurang. Atau, mungkin benar kata Bapakku, aku harus menerima lamaran Agus. Memang, sih, dia juga tidak terlalu jelek untuk ukuranku, dan sepertinya dia tipe laki-laki yang bertanggung jawab. Tapi, apa harus dengan cara seperti itu? Aku masih ingin sendiri, Mas. Bebas, menikmati masa-masa mudaku, seperti jathil yang berlari ke sana ke mari.” Tegasnya. Air matanya tidak keluar lagi.

“Semua impianmu, tidak ada salahnya, Sri. Menurutku, Bapakmu juga tidak salah. Masing-masing punya kebenarannya sendiri-sendiri. Mungkin, akan lebih baik kalau kamu memikirkan kembali persoalan ini. Aku tidak bisa memberi saran lain, selain itu.”

“Iya, Mas. Mungkin benar, aku harus memikirkan kembali. Aku yakin semua bisa kuatasi. Kalau toh, aku harus menikah dengan Agus, aku tidak akan pernah menyesal, karena aku bisa menjadi sesuatu bagi keluargaku. Kalaupun tidak, mungkin aku akan menemukan sesuatu yang lain untuk menyenangkan dan mengangkat harkat keluargaku.”

“Gitu, dong. Kan jathil itu kuat dan lincah,” ucapku. Sri menyambut dengan sebuah senyum kecil yang menarikku ke dalam sebuah pertanyaan dan kegelisahan, tanpa daya, tanpa tahu harus berbuat apa untuk perempuan ini.

Semua pikiran ilmiah dan semangatku sebagai aktivis di kampus yang suka gembar-gembor dengan dalil-dalil kritis atau berekspresi dengan kata-kata indah ketika membaca puisi atau bermain teater menguap bersama hawa gerah malam ini; menjelang tidurku. Nyatanya, ada seorang perempuan, ada sebuah dunia, yang sedang gelisah, tetapi aku tak berdaya. Semua nasehat yang aku berikan hanyalah sebuah gumaman klise yang pasti tidak pernah bisa memberi sebuah jalan terang bagi kegelisahan itu. Aku merasa berada dalam dunia ambang yang mempertemukanku dengan kenyataan menyakitkan, kenyataan pilihan sulit yang harus dihadapi Sri, tetapi aku tidak mampu menjangkaunya, karena aku merasa tidak berani mengulurkan tanganku untuk menjangkaunya.

***

“Kamu jangan menjadi Sinterklas di tengah-tengah mereka, Mas. Itu bisa membuat mereka mengalami ketergantungan dengan kehadiranmu. Ndak baik buat kemandirian mereka. Kamu boleh-boleh saja mendampingi mereka, tapi usahakan untuk memunculkan energi survival dari dalam diri mereka sendiri,” ujar Mika ketika mendengar ceritaku tentang para seniman jaranan di Balung. Mika adalah salah satu anggota organisasi kesenian di tingkat pusat, adik kelasku dari jurusan Sastra Indonesia. Kami akrab karena sering berjumpa ketika menonton pertunjukan teater. Kebetulan siang ini kami berjumpa di depan Aula Sastra.

“Iya, aku paham. Toh, selama ini mereka sudah survive. Aku ndak punya niatan menjadi Sinterklas. Aku hanya ingin mengetahui dunia mereka, Mik. Tidak lebih dari itu, kok,” ucapku sambil mengeluarkan sebatang rokok putihan.

“Untuk apa kamu ingin mengetahui dunia mereka, Mas?”

“Ya, paling tidak, aku ingin menemani mereka, menjalani keyakinan berkesenian, meskipun tidak selamanya. Sekaligus, untuk pelajaran buatku bagaimana memahami proses berkesenian dengan ati seneng. Atau, bisa pula digunakan untuk pelajaran bagi proses berkesenian di kampus. Itu saja.”

“Okelah, itu sudah benar. Asalkan jangan kamu menggunakan tatapanmu, seperti ketika para sarjana kolonial menuliskan seluk-beluk budaya masyarakat kita, untuk kemudian dijual kepada para tuan penjajah, untuk keperluan penguasaan. Kasihan mereka kalau seperti itu,” ucapnya dengan mata penuh haru. Sejenak aku diam sambil menyalakan rokok, lalu menghisapnya dalam-dalam. Perempuan ini pemikirannya semakin kritis dari waktu ke waktu. Dulu, ketika pertama kali mengenalnya, dia masih tampak malu-malu sebagai aktivis teater.

“Benar juga, Mik. Seperti yang banyak dilakukan para aktivis LSM, mereka datang ke dusun-dusun dengan kamera dan buku catatan, membuat laporan, untuk kemudian diterbitkan dan dikirimkan ke para funding mereka di luar negeri. Setelah kontrak habis, mereka tidak pernah datang lagi untuk menjumpai para seniman Rakyat.”

“Itu dia. Mereka masih saja memakai logika kolonial. Para funding Amerika Serikat maupun Eropa, itu masih memosisikan masyarakat dan budaya kita secara eksotis, tradisional. Itu bentuk kerinduan kolonial mereka. Makanya, memberikan dana yang jumlahnya ratusan juta kepada LSM-LSM kebudayaan di Indonesia tidak menjadi masalah. Mereka dapat data, sekaligus bisa memenuhi kerinduan itu. Semoga saja kita tidak seperti mereka, Mas,” tegas Mika. Tidak lama kemudian, Abdi, kekasihnya, teman satu angkatanku di jurusan Sastra Indonesia, datang menjemputnya. Setelah berbasa-basi sejenak, mereka berdua pamit.

Aku segera berhambur ke kantin untuk mengisi perut yang mulai menuntut. Sambil menikmati soto daging, aku masih saja memikirkan semua omongan Mika. Selepas makan, salah satu teman mengajakku ke sekretariat organisasi kesenian untuk membahas pertunjukan teater. Kembali ke kesenian kampus, kembali ke sebuah dunia idealis; sebuah dunia yang dipenuhi impian, gugatan, argumentasi, dan praksis yang jauh dari permasalahan yang dihadapi Sri.

***

Untuk Mas Eka

Di Kampus Unej

Apa kabar, Mas? Semoga sehat menyertaimu. Mas, hampir 1 bulan ya kita ndak ketemu. Jujur aku kangen sama kamu. Bukan bermaksud neko-neko, loo. Sekedar ingin bertemu, ngobrol itu saja. Mas, melalui surat ini, aku ingin memberitahukan, minggu depan, tepatnya tanggal 5 November 2001, aku jadi mau menikah dengan Agus. Sebenarnya, aku masih berat melepaskan masa mudaku. Tapi, aku punya pertimbangan-pertimbangan sendiri tentang pilihan itu. Mas, sebagaimana pernah aku ceritakan kepadamu, aku tidak ingin melihat keluargaku selalu hidup dalam kemiskinan, kemiskinan yang membuatku dan adik-adikku tidak bisa mendapatkan apa yang semestinya kami dapatkan sebagai anak manusia. Dengan menikahi Agus, aku harap aku bisa membawa sedikit kebahagiaan, buat Bapak, Ibu, dan adik-adikku. Setelah aku berbicara dengan Agus, dari hati ke hati, aku berani mengambil keputusan untuk menikah karena ia mau dan merasa wajib untuk ikut membahagiakan orang tuaku dan adik-adikku. Bahkan, ia mau menanggung biaya sekolah adik-adikku kelak. Mas, kalau pada tanggal itu kamu ndak ada kuliah atau kegiatan lain di kampus, aku sungguh senang melihatmu datang ke pernikahanku. Terima kasih.

Salam,

Sri

Membaca surat Sri—yang ia kirimkan lewat Bam yang siang ini ada acara pertemuan teater di Jember—rasa cengengku muncul lagi. Di dalam kamar, aku mbrebes mili. Aku terharu dengan pilihan yang diambil gadis itu. Dalam usianya yang masih belia, dia berani membuat pilihan-pilihan yang aku sendiri takut untuk membayangkannya. Tapi, mungkin ia memang harus memilih menjadi Dewi Sri, yang memberikan kehidupan kepada umat manusia di muka bumi dengan kematiannya. Bedanya, aku berharap Sri tetap merasakan kebahagiaan yang benar-benar ia impikan selama ini. 5 November, 2 minggu lagi, dan Sri akan segera menjadi seorang istri. Dan, seperti yang dikatakan Mika, aku memang bukan sinterklas yang bisa memberikan kebahagiaan buat Sri dan para seniman jaranan itu. Aku memang bukan juru selamat yang bisa mengubah nasib Sri dan mereka. Aku hanyalah orang lain yang merasa mengerti kehidupan mereka, padahal sebenarnya, akulah yang harus belajar dari kehidupan mereka.

 

Foto cover: https://myimage.id/jathilan-cewek-ceweknya-super-cantik/

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 151 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*