Sebuah bahtera: Seorang ratu

IKWAN SETIAWAN

 

Dowload cerita versi PDF

Dalam samudra luas, aku akan mendayung bahtera. Menyampaikan kabar kepada dunia, Sang Putri sedang bahagia. Tidak usah mendung itu hadir. Tidak usah hujan turun. Biarlah waktu bersih sejenak dari debu dan airmata. Karena aku hanya ingin mendayung bahtera.

Begitulah sebait puisi yang ditulis Ridho di selembar kertas. Aku membacanya setelah bangun tidur, di sebuah kamar hotel bintang 4 di tepian pantai berpasir putih di Kutajaya, sebuah kota wisata yang cukup terkenal dan menjadi salah satu yang terbaik di jagat ini. Satu minggu penuh aku menikmati indahnya menjadi pengantin. Ridho mendayung bahtera, membawanya menuju samudra luas. Tanpa batas. Tanpa cakrawala. Ketika matahari terbit, matahari sudah tenggelam.

Sebenarnya, setelah lulus SMA, aku diberi keleluasaan oleh Bapak dan Ibu untuk meneruskan kuliah di Rawakulon, kabupaten tetangga yang terkenal dengan tembakaunya. Kebetulan di sana ada universitas negeri. Namun, aku menolak keleluasaan itu karena aku ingin segera menikah. Ya. Aku ingin segera menikah dengan seorang pemuda alim, pendiam, dan tutur-bicaranya begitu lembut. Ridho, nama pemuda itu. Ia anak sahabat Bapak yang telah lulus dari mondok di Rawakulon di bawah asuhan seorang kyai kharismatik. Aku kenal Ridho ketika ia bersama bapaknya menemui Bapak di rumah untuk urusan pertanian. Mula-mula aku menyuguhkan kopi untuk mereka berdua. Waktu itulah, mata kami saling bertatapan. Gelombang pesisir tiba-tiba menyergapku dalam gulungan-gulungan yang sulit aku tolak. Ribuan camar tiba-tiba bernyanyi. Perjumpaan yang begitu indah. Cinta yang benar-benar pada pandangan pertama.

Kami menjalin cinta setelah beberapa kali berhubungan lewat telepon. Pada sebuah malam minggu ia bertandang ke rumahku. Saat itulah ia mengutarakan cintanya. Dengan malu-malu, aku pun menerimanya. Mengetahui hubunganku dengan Ridho, Bapak tidak marah. Malah Beliau mendukung karena tahu dia anak baik. Setelah beberapa bulan pacaran, pesta pernikahan besar-besaran diadakan, 3 hari 3 malam, full gandrung, full kendang kempul, dan pada malam terakhir ditutup dengan pengajian kyai-nya Ridho dari Rawakulon. Pernikahan itulah yang menutup semua masa kecil dan remajaku. Sebuah fase baru yang kata banyak orang akan menjadikan perempuan semakin dewasa.

Di tanah Arumdalu aku dilahirkan, tanah yang dialiri air-air wangi pembawa kesuburan dari ujung utara hingga ujung selatan, dari ujung barat hingga ujung timur. Pada sebuah siang, 17 Agustus 1970. Bapak dan Ibu sangat senang dengan kelahiranku. Ibu selalu bercerita kalau Bapak sangat bangga dengan kelahiranku, apalagi bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI. Bapak dan Ibu sangat kaya untuk ukuran masyarakat di kecamatanku. Bapakku seorang tuan tanah yang memiliki sawah 30 hektar. Sebagai anak tunggal, aku selalu dimanjakan. Kamarku penuh boneka yang selalu aku pamerkan kepada sahabat-sahabat kecil yang tidak pernah bisa membelinya karena orang tuanya hanyalah buruh yang bekerja pada Bapak.

Meski aku dimanjakan, Bapak sering marah kalau aku ketahuan tidak tidur siang. Apalagi kalau sampai ketahuan menghabiskan waktu dengan anak-anak lelaki ingusan di luar pagar rumah. Dasar sudah sifat. Aku selalu saja mencari celah untuk bisa bermain dengan anak-anak lelaki itu. Meski pagar rumahku dijaga, aku selalu mencari akal agar bisa keluar rumah. Biasanya aku menerobos pintu belakang. Kalau sudah bermain dengan mereka aku menemukan kepuasan. Kami sering main Raja dan Ratu.

Yang membuat aku senang, sebagai Ratu aku tidak kalah oleh Raja, karena yang mengatur mereka semua adalah aku. Sempat beberapa dari mereka protes, kok Raja selalu kalah. Gampang saja aku menghadapi protes mereka. Aku beri mereka uang untuk beli permen atau jajan. Kalau sudah seperti itu, mereka seperti bebek yang hanya bisa nurut. Selama jadi Ratu aku merasakan kepuasan, karena aku dipuja-puja, karena aku yang paling cantik, karena aku paling berkuasa. Adegan yang paling aku sukai adalah ketika anak-anak, para pengawalku, beramai-ramai membopong aku menuju singgasana, sebuah batu besar di kebun.

Yang tidak bisa aku lupakan dari masa kecilku adalah ketika Bapak setiap habis panen padi nanggap kesenian tari pergaulan dan musik campursari. Semua sahabat Beliau diundang ke rumah untuk menikmati pesta makanan, bir, tarian, dan tembang. Tidak ketinggalan, para buruh tani semua datang. Pokonya, semua berpesta-pora. Biasanya acara akan dibuka dengan campursari, menampilkan para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu berlirik Jawa. Saat campursari main, para buruh akan berjoget. Tidak ada kerusuhan, karena mereka semua takut kepada Bapak. Setelah campursari, tari pergaulan langsung menghentak dengan tarian-tarian yang menurutku asyik sekali. Para penari dengan hiasan di kepala berbahan kulit sapi yang cukup indah pahatannya, meliuk-liukkan tubuh mereka, membuka acara dan memancing hasrat para sahabat Bapak untuk segera menari.

Aku sering membayangkan diriku sebagai penari yang dikerubuti banyak lelaki. Pasti sangat menarik dan menantang. Mereka mengejarku dengan tarian tetapi tidak pernah bisa menyentuh tubuhku. Aku membayangkan para teman lelakiku yang mengelilingi dan mengejarku. Pasti seru. Tapi, rupa-rupanya, Bapak tidak suka aku membayangkan diri jadi penari. Pernah suatu saat aku bercerita kepadanya. Langsung saja, mukanya merah padam. “Kamu jangan sekali-kali punya niatan jadi penari. Apa kata orang nanti. Anak perempuan Pak Santoso jadi penari. Malu Bapak. Pokoknya ndak boleh.” Kalau sudah seperti itu aku akan diam.

Kehidupanku berubah ketika aku bersekolah di sebuah SMP negeri di kota. Karena aku kos, aku mendapatkan sedikit kesempatan untuk menikmati masa remaja, meski ibu kosku yang masih sahabat Bapak, terbilang ketat. Aku sering berbohong kepada ibu kos, kalau mau keluar jalan-jalan ke alun-alun Arumdalu atau berjalan-jalan ke toko baju, bersama-sama sahabat perempuanku. Sering juga aku keluar bersama pacar-pacarku. Aku punya pacar tiga. Satu teman sekelasku. Satu siswa di salah satu sekolah SMP swasta. Satu siswa di salah satu SMA negeri. Sampa-sampai, para sahabat perempuanku sering mengingatkan kalau perempuan itu ndak pantas punya pacar banyak. Aku tidak ambil pusing. Yang penting aku menemukan kepuasan, bisa mempermainkan pacar-pacarku.

Semasa kelas 1, aku belum berani macam-macam waktu pacaran. Menginjak kelas 2, aku mulai berani berciuman dengan pacar-pacarku. Aku sangat menikmati momen-momen itu. Kata mereka aku sangat lihai berciuman. Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Aku hanya mengikuti hasratku. Tidak lebih dari itu. Yang membuat aku begitu puas adalah ketika melihat mereka seperti orang edan saat mencium bibirku. Perilaku pacaranku yang seperti itu berlanjut ketika aku duduk di bangku SMA. Perbedaannya, waktu itu aku lebih sedikit liar. Namun, aku tidak pernah mau ketika beberapa pacarku hendak menyetubuiku. Aku pikir mereka mau enak sendiri. Bagaimana kalau aku hamil, pasti mereka bingung. Pasti  aku disuruh menggugurkan kandungan. Tidak. Aku tidak mau membunuh bayi, amanah Gusti Allah.

Semua kenakalan, keliaran, dan keindahan itu harus aku bunuh. Aku telah menjadi milik Ridho dan itu tidak pernah membuatku menyesal, karena cinta telah menjadi prasasti yang harus aku jaga. Setelah satu minggu menikmati bulan madu di Kutajaya, saatnya kini aku melayani suami; menyuguhkan kopi, menyiapkan makanan, dan menemani tidur. Awalnya memang sangat berat karena aku sudah terbiasa menjadi ‘Ratu’ yang harus dilayani. Tapi, aku sudah bertekad membahagiakan suami, seperti Ibu yang selalu setia melayani Bapak.

Karena Ridho bukanlah pegawai negeri atau pegawai swasta, Bapak memberinya kepercayaan untuk mengawasi 30 hektar sawah. Dia tidak disuruh mencangkul, menanam, atau memanen. Dia hanya disuruh mengawasi para buruh bekerja di sawah. “Petani modern”, begitulah aku dan Ridho selalu mengistilahkan ‘profesinya’. Ridho selalu ke sawah dengan mobil TAFT yang dibelikan Bapak sebagai hadiah pernikahan kami. Kadang-kadang aku memaksa ikut ke sawah, meski sering tidak diperbolehkannya, karena takut item.

Tidak lebih dari tiga bulan setelah pernikahan aku hamil. Ridho, Bapak, dan Ibu semua bahagia. Bapak dan Ibu sangat senang karena sebentar lagi penerus trah keluarga Santoso akan berlanjut. Bapak tidak pernah mengungkapkan harapan agar cucunya nanti lahir laki-laki. Aku terkadang juga heran, mengapa Bapak tidak pernah mempermasalahkan jenis kelamin cucunya. Sama ketika dia tidak pernah menyesal punya anak perempuan. Menurut cerita Ibu, pada sebuah malam ketika aku ngidam tidur sekamar dengannya, Bapak awalnya memang berharap anak laki-laki. Namun, setelah lima tahun usia pernikahan, Ibu tak juga hamil, akhirnya Bapak pasrah dan menerima apapun jenis kelamin anaknya.

Pemahaman itu Bapak peroleh dari seorang dukun bayi yang selalu memijat Bapak dan Ibu agar Ibu segera hamil. “Laki-laki atau perempuan itu sama saja, Pak. Semua amanah dan anugrah dari Gusti Allah.” Begitulah, akhirnya Bapak dalam doa-doanya pasrah, tanpa meminta-minta jenis kelamin anaknya. Maka, ketika Ibu hamil, Bapak benar-benar tambah sayang, seperti tidak pernah mau meninggalkan rumah. Ingin sekali menjaga dan merawat Ibu. Sampai-sampai, kata ibu, urusan sawah jadi agak terlantar. Untung saja Bapak punya beberapa buruh kepercayaan yang bisa diandalkan. Ketika aku lahir, kecintaan Bapak di rumah semakin menjadi-jadi. Bahkan sering Bapak kurang tidur karena harus menjagaku semalam suntuk.

Ternyata perlakuan istimewa Bapak kepada Ibu selama hamil, tidak aku dapatkan dari seorang Ridho. Dia sering pulang malam dengan alasan masih ada pekerjaan di sawah yang belum selesai sampai sesudah Maghrib. Terkadang dia beralasan, harus mampir ke rumah orang tuanya. Lebih parah lagi, dia mulai ogah-ogahan ketika aku ajak berhubungan badan. Kalaupun mau, itu semua karena terpaksa. Aku benar-benar tidak pernah mendapatkan kepuasan batin selama hamil. Benar-benar menyiksa.

Karena sudah tidak tahan dengan perlakuannya, pada sebuah malam ketika kehamilanku berusia lima bulan, aku memaksanya untuk mengakui apa yang menyebabkannya berperilaku demikian. Awalnya, dia menolak untuk menjelaskannya. Namun, setelah aku mengancam akan memberitahukan kepada Bapak, dia akhirnya mau.

“Kyaiku bilang kalau anak kita nanti perempuan. Aku tidak bisa menerima ini semua, Lis. Ini jadi beban yang luar biasa,” jelasnya singkat sambil menatap mataku. Belum pernah ia menatapku seperti itu selama berpacaran dan menikah. Aku cukup kaget dengan pengakuannya.

“Mas, kok kamu percaya saja sama omongan Pak Kyai. Memangnya, dia itu malaikat?” Aku Kutajayak menatap matanya.

“Kamu jangan bilang gitu, Lis. Kyaiku itu punya karomah, dia tahu hal-hal ghaib termasuk jenis kelamin anak kita,” bentaknya.

“Kalau memang anak kita perempuan, memang kenapa, Mas? Aku juga perempuan, tapi Bapak tidak pernah mempermasalahkannya. Apa ada yang salah dengan anak perempuan?” Tanyaku lantang.

“Ya…tidak, Lis. Tapi, bagiku anak laki-laki itu akan menjadi penerus trah keluargaku dan keluargamu. Di keluargaku, anak laki-laki itu benar-benar dinomorsatukan. Kayak di pondok, keturunanan yang memimpin pondok, pasti anak laki-laki. Lagipula, kalau anak kita laki-laki, kita ndak usah khawatir”

“Maksudmu apa?”

“Coba pikir, kalau suatu saat anak perempuan kita nakal, terus dia hamil, apa ndak membuat malu keluarga itu namanya? Kalau laki-laki, tidak masalah, Lis.”

Kontan aku menampar wajah Ridho, sekeras-kerasnya. Aku tidak pernah merasakah marah seperti ini. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, selain memegang pipi kanannya yang kesakitan.

“Kamu…kamu berani menamparku, Lis? Dosa besar kamu. Aku ini pemimpin keluarga.” Ia marah, tapi tidak berani mengeluarkan suara keras. Ia berusaha memegang krah gaun tidurku. Aku segera melepaskannya.

“Kamu keterlaluan, Mas. Kamu benar-benar keterlaluan. Kenapa kamu ngomong seperti itu? Omongan itu bisa jadi doa.”

Semalam penuh aku tidak bisa tidur nyenyak, memikirkan apa yang baru saja terjadi. Ridho memilih pergi ke musholla. Pagi-pagi waktu aku ke dapur, Ibu bertanya, “Kenapa Ridho tidur di musholla?” Aku berusaha menutupi apa yang terjadi semalam. “Mungkin, tertidur sehabis sholat tahajjud, Bu,” jawabku singkat.

Hubunganku dengan Ridho tidak juga membaik sampai kehamilanku berusia delapan bulan. Di depan Bapak dan Ibu serta kedua mertuaku, kami memang masih menunjukkan hubungan yang wajar sebagai istri-suami. Ridho baru menunjukkan tanda-tanda sebagai suami yang baik ketika kehamilanku berusia sembilan bulan. Aku juga merasa aneh dengan perubahan itu. Ia mau menyiapkan susu malamku. Ia juga mau membelikan semua permintaanku.

Pada suatu malam, ia mencium keningku dengan mesra. Aku benar-benar menikmatinya. Sudah lama ia tidak melakukan hal yang paling aku sukai sebagai seorang perempuan ini. Setelah itu ia mengutarakan keinginannya untuk berbisnis.

“Lis, aku mau berbisnis di Kutajaya. Ada teman waktu masih mondok menawarkan bisnis buah-buahan. Hasilnya lumayan besar. Itung-itung buat tabungan kita dan anak-anak kita. Tapi, untuk modal awal aku butuh bantuanmu. Aku sudah minta ke Bapakku, tetapi Beliau belum punya uang sebanyak itu.”

“Memang berapa uang yang kamu butuhkan, Mas?” Tanyaku tanpa rasa curiga, karena aku juga senang kalau Ridho mau berbisnis.

“Ya…kira-kira 10 juta, Lis. Uang itu akan aku gunakan untuk modal awal dan kontrak stand. Jangan khawatir, Lis, keuntungan kita bisa dua kali lipat.”

Jujur aku sangat terpengaruh oleh omongan Ridho. Ternyata ia juga bisa menjadi suami yang punya cita-cita. Bayangan yang menakutkan kalau ia tidak akan sayang sama aku dan anakku yang kata kyainya perempuan perlahan sirna.

“Banyak juga ya, Mas. Tapi, aku sangat tertarik dengan bisnis itu. Aku mendukung, Mas. Besok kita ngomong ke Bapak, ya. Pasti Beliau punya tabungan.”

“Terima kasih, Sayang,” ucapnya sambil kemKutajaya mencium keningku. Bahagia rasanya sebagai perempuan.

Besoknya, selepas sarapan, aku mengutarakan keinginan Ridho untuk berbisnis buah di Kutajaya sekaligus meminta uang ke Bapak. Semula Bapak agak keberatan karena akan lebih baik kalau Ridho mengurus sawah. Toh, dari situ sudah cukup untuk keperluan keluarga. Lagi pula, menurut Bapak, semua sawah itu akan jatuh ke tanganku. Namun, aku terus meyakinkannya bahwa bisnis Ridho akan menguntungkan sekaligus buat latihan pengembangan usaha. Akhirnya, Bapak menyerah juga. Beliau menyanggupi untuk memberi uang Ridho 10 juta, tapi dengan syarat ia pergi ke Kutajaya setelah anak kami lagi. Ridho menyanggupi syarat itu.

Ternyata benar terawangan Pak Kyai, anak kami perempuan. Menurutku dia mirip sekali denganku. Tapi, menurut Ridho kedua matanya sangat mirip dengannya. Ah, biarlah mirip siapa terserah. Yang pasti Sang Gusti sudah mengamanahkan anak yang cantik ini. Selamatan pemberian nama dibarengkan dengan aqiqah. Atas kesepakatan kami berdua serta pertimbangan dari Bapak dan Ibu, ia kami beri nama Kinanti Jati Amanah. Sebuah perpaduan nama Jawa dan Islam yang artinya kurang lebih “diri sejati yang dinanti dan diamanahkan” oleh Sang Gusti kepada kami. Mungkin nama anak kami terdengar aneh, karena biasanya nama bayi di desaku tidak lebih dari satu atau dua kata serta menggunakan kata-kata yang terkesan ndesani, seperti Gimin, Suparno, Yanti, Sumiati, dan lain-lain. Kata Bapak, “Kita ini keluarga berada, memberi nama anak ya harus yang beda, yang terkesan ningrat.”

Aku, Ridho, Bapak, dan Ibu sangat gembira dengan kelahiran Kinan, begitu kami memanggilnya. Sayangnya, mertua lelakiku tampak kurang begitu senang dengan kehadirannya, karena dia sebenarnya lebih berharap cucu laki-laki. Biarlah. Toh, siapa tahu nanti anak kedua kami laki-laki.

Satu bulan setelah kelahiran Kinan, Ridho minta izin pergi ke Kutajaya. Meskipun berat, aku harus merelakannya. Di rumah, aku dibantu Ibu dan Pembantu sibuk dengan Kinan yang semakin banyak tingkahnya. Ternyata begini rasanya menjadi seorang ibu. Benar-benar menguras tenagar, pikiran, dan waktu istirahatku. Namun, aku menikmati semua keasyikan itu.

Satu bulan di Kutajaya, Ridho kemKutajaya dengan membawa keuntungan yang lumayan besar. Modal 10 juta bertambah menjadi 15 juta. Aku senang sekali. Tenyata Ridho bisa dipercaya. Tapi yang membuatku lebih senang adalah dia kemKutajaya menjalankan perannya sebagai suamiku dan ayah Kinan. Satu minggu di rumah, Ridho segera berangkat ke Kutajaya. Aku sebenarnya ingin sekali ikut, tapi kata Ibu, Kinan masih kecil. Lagipula, nanti kalau aku ikut siapa yang tinggal di rumah. Aku pikir-pikir benar juga ucapannya. Kasihan Ibu dan Bapak. Pasti rumah jadi sepi tidak ada tangisan Kinan. Begitulah, akhirnya, Ridho menjalani rutinitas bisnis di Kutajaya selama satu bulan, satu minggu di rumah.

Karena kepercayaanku kepada Ridho, aku mengiyakan saja ketika ia meminta tambahan modal. Kali ini tidak tanggung-tanggung, 20 juta. Cukup banyak. Akhirnya, aku meminjam beberapa sertifikat sawah Bapak untuk meminjam uang ke bank. Bunganya lumayan besar. Tapi, Ridho meyakinkanku, bahwa tidak sampai setengah tahun utang di bank bisa ditutup. Begitulah, Ridho membawa uang 20 juta untuk berbisnis buah-buahan di Kutajaya. Aku selalu berdoa agar ia berhasil dan tidak mendapat masalah apa-apa.

Semua berubah ketika pada sebuah malam, sopir keluarga kami, Karso, menceritakan semua perilaku Ridho di Kutajaya. Ternyata, Bapak memang sengaja memintanya untuk membuntuti Ridho ke Kutajaya. Aku sendiri awalnya sangat marah dengan perilaku Bapak, tapi dia menjelaskan itu semua untuk kebaikanku.

“Maafkan saya Juragan, Bu, Mbak Lilis, kalau saya harus menceritakan banyak hal yang tidak terduga tentang Mas Ridho.”

“Tidak apa-apa, So. Ceritakan semuanya. Kami sudah siap,” pinta Bapak setelah menghisap cerutu kesayangannya.

“Begini, Juragan. Selama di Kutajaya saya menyamar menjadi pemulung. Tiap pagi saya melewati rumah kontrakan Mas Ridho dan temannya. Ternyata di rumah itu dia tidak jualan buah-buahan seperti yang diceritakan selama ini.”

“Lalu, dia ngapain, Pak So?” tanyaku memotong.

“Begini, Mbak. Saya mengikuti dia terus. Ternyata dia sehari-hari bermain…bermain…”

“Bermain apa, So?” tanya Bapak.

“Bermain judi, Juragan, di salah satu kasino di Kutajaya.”

“Apa, So? Judi?!!!” tanya Bapak dengan suara keras.

“Duh Gusti….” Aku hanya bisa menangis; tangisan yang tidak pernah aku alami selama menjalani kehidupanku. Ibu menenangkan Bapak, lalu aku.

“Kamu tidak bohong kan, So?” tanya Bapak lagi.

“Mboten, Juragan. Sumpah demi Gusti Allah,” jawab Karso.

“Terus apa lagi yang kamu dapatkan, So?” Ganti Ibu bertanya sambil memelukku.

“Mas Ridho juga suka main perempuan, Bu. Biasanya dia check in dengan perempuan penjaga kasino setelah main judi.”

“Apa, Pak So? Ndak..ndak..kamu pasti bohong…Kamu pasti bohong, Pak So. Ndak mungkin.” Aku menangis, airmataku semakin deras.

“Saya ndak berani berbohong, Mbak. Kebaikan Juragan, Ibu, dan Mbak Lilis kepada saya dan keluarga, tidak mungkin saya balas dengan berbohong,” tutur Pak So polos.

Cerita Pak So benar-benar membuatku sangat tertekan. Satu minggu aku sakit demam, sampai-sampai tidak bisa menyusui Kinan. Bapak mengajakku ke dokter, tapi aku menolak. Aku sungguh ingin marah kepada Ridho. Lelaki itu benar-benar bejat. Sikap alimnya selama ini ternyata hanya kedok. Pesantren ternyata tidak menjamin perilaku seseorang akan baik. Yang membuatku tambah tertekan adalah uang 20 juta yang aku pinjam dengan jaminan sertifikat tanah Bapak. Apa yang harus aku lakukan. Bunganya pasti banyak. Kalau Bapak tidak punya tabungan sebanyak itu, bagaimana? Pasti sawah akan disita pihak bank.

Aku baru sembuh ketika pada hari kelima, Bapak memanggil seorang dokter muda yang dinas di Puskesmas ke rumah. Aku mulai bisa menggendong Kinan, tapi masih belum boleh menyusui, karena masih mengkonsumsi obat. Meskipun badanku sudah lumayan bugar, pikiranku masih kacau. Tambah kacau ketika Bapak memintaku berbicara di gasebo keluarga. Sebuah ruang di belakang rumah induk yang dulu sering digunakan Bapak mendongeng ketika aku masih kecil. Dengan rasa takut, cemas, dan tertekan aku didampingi Ibu menemui Bapak. Kinan diasuh Mbok Siti, Pembantu di rumah kami. Setelah mencium tangan Bapak, aku dan Ibu duduk.

“Bapak tidak tahu harus bilang apa, Ndok. Aku cuma kasihan kepadamu. Mengapa kamu harus menanggung nasib seperti ini.”

“Mungkin sudah kehendak Sang Gusti, Pak,” ucapku sambil menundukkan kepala.

“Ini bukan kehendak Sang Gusti. Ini semua karena kebejatan Ridho. Sungguh bejat dia itu, Ndok. Jebolan pondok pesantren kok kelakuannya kayak asu.” Bapak memukul lantai gasebo dengan keras. Aku dan Ibu hanya bisa diam saja. Kalau sudah seperti itu Bapak berarti sangat marah.

“Harga diriku, harga diri keluarga kita, telah dicabik-cabik oleh bajingan, maling, satu itu. Ini tidak bisa didiamkan. Kamu sendiri bagaimana, Ndok? Apa masih mau berumah tangga dengan lelaki bejat itu?”

Pertanyaan itu seperti petir yang tiba-tiba menyambar di tengah badai. Aku, lagi-lagi, hanya bisa mengalirkan airmata. Ibu mencoba untuk menenangkanku.

“Aku pasrah dan manut semua keinginan Bapak. Jujur, aku merasa sangat terhina. Aku dikhianati, Pak. Aku ingin sekali membunuh lelaki itu. Kalau memang harus cerai, aku sudah siap lahir batin, Pak. Tidak ada yang perlu ditakuti dengan perceraian itu. Aku siap mengasuh Kinan sendiri. Toh, ada Ibu dan Bapak.”

“Baiklah, Ndok. Ini bukan hanya keputusanmu. Ini keputusan keluarga kita. Memang, perceraianmu akan jadi catatan buruk trah keluarga kita, karena dari keluarga Bapak dan Ibu belum ada yang pernah bercerai. Tapi, aku juga tidak mau anak dan cucuku, pewaris keluargaku, harus mengalami nasib buruk. Perceraianmu, aku yakin, akan memberi kebaikan,” papar Bapak. Beliau segera memelukku dan Ibu.

Begitulah. Keputusan sudah aku buat malam ini. Disaksikan Bapak dan Ibu. Keputusan itu aku yakini sebagai kebenaran; keputusan yang mungkin akan merubah seluruh perjalanan hidupku dan Kinan. Persetan dengan segala janji pernikahan. Persetan dengan segala kealiman. Umpatan-umpatan itu yang aku keluarkan ketika Ridho datang. Bapak segera memberitahu bahwa aku akan menggugat cerai. Ridho berusaha untuk meminta maaf dan tidak mengulangi semua kesalahannya. Aku tidak pernah bergeming dengan keputusanku. Dan, tentang semua uang yang ia gunakan dan tagihan bank, Bapak akan menanggung semuanya, tidak akan meminta bantuan keluarga Ridho.

Sidang perceraianku dengan Ridho berjalan dengan cepat. Secepat kehidupan rumah tanggaku dengannya. Secepat aku harus kemKutajaya menikmati hidup bersama Kinan, bersama Bapak, bersama Ibu, tanpa kehadiran lelaki. Pilihan telah aku buat dan aku harus siap.

***

Kehilangan beberapa petak sawah karena disita oleh bank, ternyata membawa dampak yang tidak baik bagi kesehatan Bapak. Aku memakluminya, karena sawah itu adalah warisan dari Mbah Kung dan Uti yang memang diminta untuk dipertahankan agar bisa menghidupi para penerus trah. Aku sangat terpukul dengan keadaan Bapak. Aku benar-benar merasa bersalah. Tapi, Ibu selalu meyakinkanku, Bapak pasti akan pulih. Rasa benciku kepada Ridho semakin menggumpal. Ingin rasanya aku membunuh lelaki brengsek itu.

Aku membesarkan Kinan dengan segala kasih sayangku sebagai seorang ibu, sekaligus orang tua tunggal. Aku benar-benar ingin membuktikan bahwa hidup tanpa suami tidak harus membuatku lemah sebagai orang tua. Menginjak usia dua tahun, Kinan sudah lancar memanggilku, Bu. Kehebatan dunia tidak ada yang bisa mengalahkan persaanku ketika Kinan memanggilku “Bu” untuk pertama kali. Aku menangis. Ketika Kinan memasuki usia 5 tahun, aku memulai bisnis baru di kecamatan. Aku membuka toko elektronik, bersaing dengan para pedagang China. Aku tidak pernah takut, karena pengalaman hidupku telah menjadi guru terbaik.

Aku tidak tahu, apa karena tubuh seksi dan wajah cantikku yang menjadikan kebanyakan pelanggan di tokoku adalah para pemuda. Mungkin karena aku memang masih muda, meski sudah berstatus janda, sehingga para pria itu senang ke tokoku. Mereka membeli tape player, radio, bahkan televisi. Aku sih senang-senang saja, toh tokoku tambah ramai. Meskipun, banyak dari mereka yang menggodaku dengan rayuan-rayuan gombal, aku abaikan semua itu. Yang terpenting bagiku adalah bekerja dan bekerja. Aku ingin mengemKutajayakan sawah Bapak. Lima tahun menjalani bisnis baru ini, aku sudah bisa membeli dua hektar sawah, meskipun tidak langsung lunas. Bapak dan Ibu senang sekali.

10 tahun hidup tanpa sentuhan lelaki dengan 5 tahun hidup bersama rayuan dan puja-puji para pemuda hidung belang, akhirnya membuat keyakinanku untuk hidup tanpa kehadiran lelaki mulai goyah. Aku akui, aku mulai berpikir-ulang tentang hasrat-hasrat yang sekian lama aku kesampingkan dari mimpi dan pikiranku. Kesunyian jiwa dan tubuhku setiap malam benar-benar ingin meledak. Dalam banyak malam, aku menelusuri dataran-dataran indah tubuhku.  Ternyata aku memang masih menemukan kenikmatan itu. Namun, aku tidak mau seorang lelaki hadir sebagai suamiku. Dia pasti akan berperilaku seperti Ridho. Bajingan itu.

Di tengah-tengah kegelisahanku, pada sebuah malam, ketika aku baru saja merayakan ulang tahun ke 28 bersama Kinan, Bapak, dan Ibu dalam sebuah acara kecil bersama para buruh sawah, tiba-tiba peristiwa-peristiwa masa kecil dan remajaku hadir kembali. Aku dibopong para prajurit kecilku sebagai seorang Ratu. Aku mempermainkan pacar-pacarku. “Ah, kenapa aku tidak menempatkan diriku sebagai Ratu lagi? Bermain-main dengan banyak prajurit muda yang tampan, penurut, dan bodoh. Aku bisa memerintah mereka. Mereka bisa menyentuhku, tanpa harus memiliki cintaku. Ya, pasti sangat menyenangkan.” Tapi, bagaimana dengan Bapak dan Ibu? Aku memang menghormati mereka, tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan semua hasratku. Ah, mereka tidak akan tahu. Tentang dosa, biarlah Ridho yang menanggung semuanya, karena dialah yang menyebabkan aku mengambil pilihan ini.

Pertama kali aku mengambil seorang prajurit yang masih berusia 20 tahun. Dia pemuda dari desa sebelah. Satu minggu lebih aku biarkan dia merayu dan menungguiku di toko. Ketika aku sudah yakin bahwa dia bisa diandalkan sebagai prajurit, aku ajak dia mengarungi samudra dengan bahteraku. Bukan dia nahkodanya. Aku tidak ingin dia melakukan seperti yang dilakukan Ridho, menjadi nahkoda dari bahteraku. Aku yang mengatur bahtera ini. Pemuda ini sabar juga bermain-main dengan segala keliaranku yang aku pendam selama 10 tahun. Namun, ketika bahtera ini semakin berani menerobos gelombang samudra, ketika badai petir mengombang-ambingkan kami, dia pasrah dalam kekanak-kanakkan seorang lelaki. Pemuda itu tersungkur dalam pertarungan yang tidak pernah ia menangkan. Dan, bahteraku tetaplah berlabuh dalam gelombang.

Dalam satu tahun pengembaraanku, 10 prajurit muda berhasil aku ajak mengarungi samudra dengan bahteraku. Kepada mereka aku selalu mengancam, “Sekali saja kalian membocorkan rahasia kita, kalian tahu sendiri akibatnya.” Aku ingin tetap menjadikan pengembaraan bahtera ini sebagai rahasia terindah dan terheboh dalam sejarah keperempuananku. Aku tidak ingin Bapak, Ibu, dan Kinan tahu. Kasihan mereka.

Di tahun ketiga, aku bertemu dengan seorang pemuda yang bertampang liar, tapi dia sebenarnya sangat baik. Di tengah-tengah kelelahannya, Andri, nama pemuda itu, mengajakku berbicara tentang kehidupanku.

“Apa yang sebenarnya kamu cari dari permainan ini, Mbak?” tanyanya sambil mencium pinggangku dengan segala ketakjuban.

“Sederhana saja, Ndri. Aku ingin menguji kekuatanku sebagai perempuan.” Aku duduk bersandar di ranjang sebuah kamar hotel melati di kota. Dia duduk di pinggir ranjang sambil memandangku dengan sedih.

“Kekuatan apa maksudmu, Mbak?”

“Iya, kekuatan sebagai perempuan yang membuat lelaki tergila-gila, seperti kamu, Ndri.”

“Mbak, aku ingin menikahimu. Benar, Mbak, aku ingin menikahimu.”

Sebuah perkataan yang langsung membuatku marah dan menamparnya.

“Kenapa kamu menamparku, Mbak? Aku jujur.” Andri menangis, mungkin dia belum pernah diperlakukan seperti itu oleh perempuan. Melihatnya menangis, rasa ibaku muncul. Aku segera memeluknya.

“Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku. Untuk saat ini jangan pernah bicara pernikahan denganku. Aku tidak mau memikirkannya. Nikmati saja apa yang seharusnya kita nikmati. Jangan berpikir rumah tangga. Aku masih belum mau seorang lelaki memilikiku sebagai istri. Lagipula, kamu masih terlalu muda. Jalan hidupmu masih panjang. Aku tidak akan pernah menuntut apa-apa darimu.”

Entah sudah berapa pemuda seperti Andri yang hadir dalam hidupku. Sikapku tegas, tidak untuk pernikahan, tidak untuk sebuah keterikatan. Aku hanya ingin memilki Kinan, Bapak, dan Ibu, yang tak pernah tahu apa-apa tentang semua petualanganku. Seandainya Bapak tahu, aku pasti diusir dari rumah karena sebagai penerus trah Santoso aku telah mencoreng namanya. Kadang-kadang aku merasa ngeri juga kalau memikirkan itu. Tapi, rengekan dan kepasrahan para prajurit muda itu selalu saja membangkitkan keberanianku.

Pernah juga menjelang Isya’ ada seorang pemuda yang tampak alim datang ke toko. Dia mau membeli radio. Dia mengenakan kopyah putih, baju taqwa, dan sarung. Sambil melayaninya, aku pandang dia, aku buru dia dengan segala mata elangku. Ketika mau membayar, aku pegang tangan kanannya selama beberapa detik, dia malu dan segera menariknya.

“Mbak, jangan gitu, haram hukumnya,” ucapnya singkat sambil menundukkan muka.

“Halah, Mas, haram apa, kalau memang sama-sama enak dan mau, itu urusan manusia, bukan urusan Sang Gusti.” Aku terus menggodanya dengan tatapan mata memburu.

“Astaghfirullah, Mbak. Jangan bicara gitu, ndak baik.”

“Mas, jangan terlalu alim. Masa muda dinikmati saja. Nanti biar kalau sudah tua tidak bertingkah, tidak nakal. Banyak lho anak muda yang terlalu alim, di masa tua mereka malah jadi bajingan.”

Lelaki itu pergi dengan tatapan aneh. Aku hanya tersenyum. Dalam batin aku berkata, beberapa hari lagi pasti kamu sudah dalam rengkuhanku.

Benar. Tidak sampai satu minggu dia sudah bersamaku, mengembara ke laut lepas. Awalnya dia kikuk, tetapi lama-lama mengikuti permainanku dengan sempurna. Dia menangis. Sebenarnya, aku kasihan juga. Tapi, tangisan itu seperti sebuah berkah yang luar biasa. Aku bisa menaklukkan pemuda alim yang sebenarnya, bukan berlagak alim seperti Ridho. Sebelum berpisah, dia hanya berkata, kalau apa yang kita lakukan akan dikutuk Alloh, tapi akan lebih dikutuk lagi ketika nanti di masa tua dia jadi orang terkutuk. Aku hanya nyengir mendengarnya.

Memasuki usia ke-29, aku ingin bermain-main seperti masa kecilku. Aku undang semua prajurit muda itu ke rumah sahabatku di pinggir pesisir timur Arumdalu. Sahabatku sengaja aku minta pergi seharian. Aku sengaja ingin mengumpulkan mereka untuk membuat sebuah pesta yang tidak pernah mereka sangka. Ketika sudah berkumpul dan bertatap muka, mereka benar-benar seperti orang bingung. Banyak di antara mereka yang saling kenal. Aku benar-benar menikmati pemandangan ini. Musik disko sengaja aku putar keras-keras. Satu per satu pakaianku aku tanggalkan. Mereka diam. Mereka tidak bereaksi. Aku juga heran dengan sikap itu. Satu per satu dari mereka mengenakan kembali pakaianku. Satu per satu dari mereka keluar pergi. Aku tertawa sejadi-jadinya. Lelaki tetaplah lelaki, makhluk paling egois dalam persoalan seks. Mereka tidak ingin tubuh perempuan yang dicintai dipandang dan dimiliki lelaki lain. Sesudah acara gila itu, aku sudah semakin jarang melabuhkan bahteraku. Terhitung cuma 3 prajurit yang aku ajak berlayar.

***

“Begitulah hidupku, Mas,” ucapku mengakhiri ceritaku kepada seorang mahasiswa dari salah satu universitas di Rawakulon yang duduk di sebelahku. Hari ini aku pulang dari melunasi kredit elektronik ke Koh Bian di Surowetan, Desember 1999. Aku satu bangku dengannya di bus patas menuju Rawakulon. Mahasiswa itu gondrong, hitam manis, memakai kaos lengan warna blue black dengan celana robek. Aku benar-benar ingin menaklukkannya karena aku belum pernah berlabuh dengan mahasiswa. Aku memancing mahasiswa itu dengan senyum dan mataku yang menggoda. Aku mengajaknya berkenalan, tetapi dia tidak mau menyebutkan namanya. Ia memintaku memanggilnya dengan panggilan “Mas” saja. Meskipun agak kesal, aku menuruti saja kemauannya, meskipun secara usia aku lebih tua. Tidak apa-apa,, yang penting aku bisa akrab dengannya. Kami berkenalan dan semakin akrab, sampai aku mau menceritakan semua kisah hidupku.

Lelaki ini beda dengan para prajuritku. Ketika aku rebahkan kepalaku di pundaknya, dia tidak bereaksi. Pun ketika aku pegang tangannya. Dia memang tidak mengalihkan tangan dan kepalaku, tapi sikapnya begitu dingin. Harus aku apakan lelaki ini?

“Aku mau tidur, Mas.” Tiba-tiba aku dapat ide.

“Tidur saja, Mbak, kan kursinya bisa diatur untuk posisi tidur. Sini biar aku bantu,” balasnya sambil hendak mengatur posisi kursiku. Aku segera menolaknya.

“Aku ingin tidur di pangkuanmu, Mas.” Tampak dia mulai bingung.

“Banyak orang, Mbak. Ndak enak.”

“Ngapain peduli orang lain, orang lain tidak peduli kepada kita. Pasti mereka menganggap aku pacarmu. Kan aku belum terlalu tua,” jawabku sambil merebahkan tubuhku di pangkuannya. Tangan kanannya aku letakkan di dadaku. Aku lihat raut mukanya penuh kebingungan. Tapi setelah sekian lama, ia mulai bisa meredakan kebingungan dan ketegangan.

Setelah bus keluar dari jalan tol, ia banyak menanyakan tentang kehidupanku, tentang Kinan, tentang Bapak, dan tentang Ibu. Aku menjawab semua pertanyaannya dengan sesekali mencium tangannya. Terkadang aku paksa tangan itu memasuki sisi terdalam dari tubuhku. Tangan itu awalnya menolak, tetapi akhirnya pasrah. Sesekali ia membelai kulitku, penuh perasaan.

“Kamu pasti mikir aku perempuan murahan, Mas?”

“Semua orang punya alasan, Mbak. Aku tidak berhak menilaimu macem-macem. Itu pilihanmu. Kalau aku boleh tahu, kenikmatan seperti apa yang bisa Mbak Lilis temukan dari hubungan seperti itu?”

“Kenikmatan yang aku nikmati bukanlah saat beribu tangan mendayung bahtera menuju samudra lepas. Bukan, bukan itu. Kenikmatan yang benar-benar aku nikmati adalah ketika wajah-wajah muda itu takluk, berharap bahtera itu jangan berhenti. Mereka kalah. Benar-benar kalah. Aku pemenangnya, Mas. Seru kan?”

“Seru, Mbak, asli, seru banget. Banyak lelaki yang merasa bisa menaklukkan perempuan. Padahal mereka begitu bodoh, karena perempuan punya rahasianya sendiri.”

“Iya, betul itu, Mas. Makanya, aku benar-benar menikmati permainan yang sengaja aku ciptakan sendiri. Aku tidak butuh uang mereka. Aku cuma butuh ketertundukan mereka, Mas.”

“Itu hakmu, Mbak. Cuma, aku ingin tanya satu hal. Apakah Mbak Lilis sudah siap ketika Kinan sudah besar dan dia tidak mau lagi memanggilmu Ibu karena tahu semua permainan itu?”

“Jangan meng-khotbahi ku, Mas, aku ndak suka,” ucapku ketus. Aku langsung bangkit dari tidur dan menyandarkan kepalaku di kursi. Jujur, aku belum siap menerima kenyataan itu.

“Aku minta maaf kalau menyinggung perasaanmu, Mbak,” pintanya sambil menatap kedua bola mataku. Aku merasa tatapannya begitu kuat, meskipun matanya sayu. Mata elangku tak sanggup menaklukkannya. Ternyata matanya lebih tajam.

“Sudahlah, kita ndak usah mbahas soal Kinan. Gimana kalau kita menghabiskan malam di Pantai Watu Ulo. Di sana kan ada hotelnya. Mau, ya? Jangan khawatir aku yang bayar semua biaya, taksi, hotel, makan, minum, dan rokokmu. Aku ingin mengajakmu berlayar dengan bahtera yang sangat indah.”

“Maaf, aku ndak bisa, aku ada rapat di kampus,” jawabnya tetap dengan tatapan tajam.

“O…gitu, ya. Oke. Kapan-kapan kalau ada waktu telepon ke rumah, ya, Mas. Atau, kamu dolan sekalian. Aku jamin, jamuan istimewa siap menyambutmu.” Aku memegang tangannya.

“Semoga ada waktu luang, Mbak. Tapi aku tidak janji untuk datang. Kalau telepon aku usahakan.”

Begitulah, aku gagal menaklukkannya. Dia tidak bisa menjadi prajuritku. Sepanjang jalan menuju Arumdalu, di atas taksi aku terus memikirkan perkataan lelaki itu tentang Kinan. Aku juga bingung kenapa aku harus memikirkan lelaki itu. Di tengah-tengah bukit Gumbira yang menjadi batas Arumdalu dan Rawakulon, taksi yang aku tumpangi dicegat oleh seorang perempuan muda yang mau menumpang. Dia membawa tas berisi buku, seperti seorang mahasiswi. Aku meminta sopir untuk menghentikan taksi dan mempersilahkannya masuk.

“Kamu tidak salah kok, Mbakyu,” kata perempuan itu tiba-tiba tanpa perkenalan.

“Maksudmu apa? Kamu siapa?”

“Aku Nandi, Mbak. Maksudku tadi, semua permainan itu tidak harus membuatmu risau. Kamu sudah benar. Karena kamu memang harus melalui batas-batas kewajaran, agar tidak hanya dibuai mimpi kosong. Lelaki hanya memberi mimpi-mimpi kosong itu. Paling tidak, Mbakyu jadi bisa memaknai diri sendiri untuk menghadapi kenyataan.”

“Bagaimana kamu bisa bicara seperti itu? Apa kamu tahu cerita hidupku? Dari mana kamu tahu?”

“Semesta ini menyimpan partikel-partikel indah yang bisa mengabarkan kisah-kisah terpilih. Kadang nalar kita tidak cukup pandai untuk menangkap dan memaknainya dalam logika kehidupan. Kadang kita selalu saja berbicara baik-buruk, masuk akal-tidak masuk akal, bermoral dan tidak bermoral. Tapi, semesta punya rumusnya sendiri. Dan, aku tahu kisahmu, Mbakyu, karena memang aku tengah mendapat kesempatan membaca partikel-partikel itu: lembar demi lembar yang penuh desah, gairah, dan kebebasan seorang Lilis. Sudahlah, Mbakyu, yang terpenting kini aku bisa duduk bersamamu di sini.” Nandi menyandarkan kepalaku di bahu kirinya. Ada sebuah damai yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, dengan siapapun. Aku mersakan damai membuncah ketika ia membelai rambutku. Aku larut dalam suasana ini, suasana yang dihadirkan mungkin oleh bidadari atau dewi di muka bumi.

“Tapi, apa mungkin aku ini sudah terlalu jauh melampaui batas-batas itu, Nan?” tanyaku.

“Orang-orang yang mengaku beragama maupun orang-orang awam pasti akan mengatakan itu. Tapi, jangan khawatir, selagi Mbakyu bisa mengendalikan permainan, suatu ketika pasti akan bisa menciptakan sebuah adegan yang lebih indah. Dalam adegan itulah, Mbakyu bisa meresapi tetes demi tetes percikan air dari air terjun yang tertimpa angin, sampai akhirnya membuat keputusan besar.”

Belum selesai rasa penasaranku kepada perempuan ini, dia minta turun di Kaliarum, desa di bawah Gumbira, dengan alasan mau mengunjungi rumah neneknya. Dia mengucapkan terima kasih kepadaku dan sopir. Dari jendela taksi aku melihatnya naik dokar. Aneh sekali peristiwa hari ini. Aku bertemu dengan lelaki yang tidak mau aku ajak menghabiskan malam di Watu Ulo. Lalu, Nandi datang dengan kata-kata yang sulit aku pahami.

Satu minggu setelah peristiwa aneh itu, lelaki yang aku jumpai di bus menelepon ke rumah. Sayangnya, aku masih belum pulang dari toko. Kinan yang mengangkat teleponnya. Kinan bercerita kalau lelaki itu menanyakan aku. Terus dia juga bilang ke Kinan, “Kalau besar kuliah di Rawakulon saja, Nan, nanti ketemu sama Om.” Dia juga titip pesan buatku kalau dia tidak bisa ke Arumdalu dalam waktu dekat.

***

Malam ini, ketika usiaku memasuki usia 31 tahun, aku terdiam di kamar seorang diri. Kinan tidur bersama Ibu. Sendiri aku menatap langit-langit kamar. Lebih dari dua jam, aku hanyut dalam gelap yang begitu senyap. Hanya desah nafasku, mengalir, menerobos segala celah ruang di kamar ini, bercumbu dengan detak jarum jam dinding hadiah Bapak. Aku memikirkan semua perjalanan hidupku, masa kecil, remaja, pernikahan, perceraian, dan semua kemenanganku. Senyap begitu senyap.

Tiba-tiba, aku terbawa gelombang dan badai yang sangat hebat. Sendirian di tengah lautan. Tidak ada camar, tidak ada nelayan. Yang ada hanyalah aku yang berusaha sekuat tenaga kembali ke tepian. Berjam-jam aku berjuang. Ketika matahari merah di Barat, aku berhasil merapat ke pesisir. Aku begitu senang ketika Kinan bersama Mbok, almaharhumah nenekku, melambaikan tangannya, memanggilku dengan segala kasih. Segera aku menggendong Kinan. Mbok hanya diam menatapku, mengelus rambutku, mencium keningku. Begitu dalam kesan yang diberikannya.

“Ndok, bahtera tidak harus selalu di tengah laut. Sudah saatnya menepi.” Katanya sambil duduk di sebuah batu besar. Aku tetap menggendong Kinan.

“Mbok, perjalananku belum selesai. Aku masih harus berlayar,” jawabku.

“Sejauh apapun kamu berlayar, seberapa kuat perjuangan dan harapan, suatu ketika kamu akan terdampar, remuk. Saat itulah, kamu tidak akan bisa lagi menemani Kinan berjalan di pesisir pantai ini.”

Setelah berkata itu, Mbok merebut Kinan dari gendonganku. Aku berteriak, menangis, mengejar Mbok yang berjalan semakin cepat. Aku jatuh, tak mampu lagi melangkah. Aku hanya bisa menangis.

Aku baru tersadar, ketika Kinan masuk ke kamarku diantar Ibu. “Dia ingin tidur denganmu, Ndok,” kata Ibu. Lama aku memandangi putri cantikku. Aku memeluknya, aku menciumnya, aku tak ingin kehilangan bidadariku ini.

“Mbok, kenapa Njenengan tiba-tiba hadir dalam mimpiku?” gumamku dalam batin sambil mendekap Kinan. “Apa Njenengan melihat segala tingkah laku cucumu ini dari surga?” Menjelang dini hari, aku bulat dengan keputusanku. Bahtera ini harus bersandar, meskipun tidak harus diikat oleh laki-laki. Aku harus ada untuk Kinan. Njenengan benar, Mbok. Aku masih ingin menggendong Kinan.

Waktu sarapan, aku pandangi Kinan, Bapak, dan Ibu. Sungguh, sudah lama aku meninggalkan mereka demi kebahagiaanku sendiri. Aku memeluk Kinan, Bapak, dan Ibu. Bapak dan Ibu hanya bingung dengan tingkahku ini. Aku hanya tersenyum; tersenyum dalam sebuah adegan yang lebih indah bersama embun yang mencumbu dan memeluk debu di halaman rumah dalam ketulusan.

“Duhai Sang Gusti kalau memang dosaku tidak terampuni, itu memang hak-Mu, tetapi izinkanlah aku menggunakan sisa-sisa hidupku untuk membahagiakan Kinan, Bapak, dan Ibu. Aku ingin membuat mereka tersenyum dengan kehadiranku yang sesungguhnya, bukan kehadiran yang penuh kepura-puraan. Kalaupun aku bahagia, sementara mereka tidak, apalah arti kebahagiaan itu. Pasti bahtera ini hanya berlayar tanpa tujuan. Meskipun aku juga tidak pernah tahu apakah harus benar-benar bisa menghentikan bahtera ini.”

 

Foto cover: https://www.paulbondart.com/paintings/gallery-1/#&gid=1&pid=The-Soft-Lullaby-of-Our-Incarnating

Share This:

About Ikwan Setiawan 160 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*