Dongeng di tengah kabut

IKWAN SETIAWAN

 

Download cerita versi PDF

Pada setiap kabut turun, aku mengabdi pada keluhuran. Meski, angin akan menghempaskannya, aku belum berani menerobos kabut itu. Tapi, suatu saat pasti aku berani. Entah itu kapan…

Sendiri, siang ini, aku berjalan menyusuri segara wedi, lautan pasir menuju Gunung Bromo yang suci itu. Angin berhembus kencang menerbangkan butiran pasir tak terhitung, sampai-sampai aku harus menutup wajahku dengan syal. Sepuluh lebih mobil jeep hard top berlalu-lalang mengantarkan para wisatawan bule. Ya, Bromo—gunung suci wong Tengger tempat di mana kami setiap tahun menggelar upacara suci Kasada sebagai penghormatan kepada para leluhur dan rasa syukur atas rezeki yang diberikan Hong Pukulun—memang masih menjadi milik kami dalam hal adat, tetapi milik negara dalam hal aset. Negara memiliki Bromo dan kawasan sekitarnya dengan dalil taman nasional yang perlu dijaga kelestariaannya. Selain itu, pesonanya telah menjadi andalan pariwisata kabupaten, provinsi, dan negara untuk mendatangkan devisa.

Kami harus rela berbagi makna Bromo dengan para turis, baik domestik maupun mancanegara. Bagi mereka, Bromo adalah sebuah keindahan yang bisa memanjakan mata, menghilangkan sejenak beban hidup, memberikan hawa dingin sebagai alasan untuk menikmati minuman beralkohol atau jahe dan kopi panas di kafe hotel, ataupun mengantarkan mereka menuju pertemuan romantis. Bagi kami, Bromo adalah kesucian dan kehidupan itu sendiri. Kesucian karena wong Tengger selalu meyakini bahwa arwah mereka yang sudah meninggal akan dilebur, disucikan dari dosa-dosa duniawi, sebelum menuju Gunung Mahameru, tempat “persinggahan antara” sebelum dikirim ke swargaloka. Kehidupan karena setiap dia meletus, mengeluarkan abu dan pasir—yang oleh para pengamat gunung api dianggap berbahaya—tidak pernah membuat kami mengungsi, tapi mensyukurinya karena beberapa bulan kemudian panen kentang, wortel, kubis, bawang pre, ataupun tomat akan melimpah.

Dari hasil panen itulah wong Tengger bisa membeli beras, bahan makanan dari pasar kecamatan atau dari para mlijoh perempuan Madura dari desa-desa di bawah, membeli pakaian ala kota, hingga alat-alat elektronik, seperti televisi, VCD player, handphone, maupun kulkas, serta sepeda motor dan mobil jeep atau mobil keluarga. Kehadiran para turis juga memberi kehidupan yang lain kepada wong Tengger. Bagi yang mampu membeli jeep, mereka akan mengoperasikannya untuk mengantar para turis menikmati sunrise dari Puncak Penanggungan. Para pemilik kuda bisa mengantarkan turis dari segara wedi sampai tangga Bromo. Dari hasil uang panen dan jasa jeep ataupun ojek kuda itulah wong Tengger menghidupi hidup, berkawan dingin dan kabut, tanpa harus merasa ketinggalan dari masyarakat di dataran rendah ataupun kota-kota besar. Dari uang itu pula, setelah ditabung selama beberapa tahun, kami bisa menggelar upacara adat yang membutuhkan biaya besar, seperti Entas-entas—upacara terakhir untuk mengentas arwah dan mengantarkan mereka menuju nirwana.

Siang ini, langkah-langkah kecilku, Amelia Puji Rahayu, seorang perempuan Tengger, anak seorang petani sayur desa di sisi utara Bromo, menapaki kembali ingatan-ingatan tentang keluhuran masyarakatku, sebagaimana sering diceritakan para dukun—pemimpin adat—setiap kali aku dan teman-teman sebayaku bersembahyang dengan cara Hindu di pura desa, di tengah-tengah pergeseran hidup yang kami alami.

Aku jadi ingat-kembali semua cerita Ibu ketika masih duduk di bangku SD, ketika setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan malam sebelum berangkat tidur, aku menemaninya cethik geni—memasak di perapen/tungku. Ibu bercerita tentang perjuangan suci Rara Anteng dan Jaka Seger untuk bertapa di segara wedi, memohon kepada para Dewata agar diberi keturunan. Setelah sekian lama bersemedi, pepuji mereka didengar Dewata. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi, yakni mengorbankan anak terakhir ke kawah Gunung Bromo. Karena sangat ingin memiliki keturunan, mereka berdua bersepakat untuk memenuhi permintaan mereka.  Akhirnya, mereka menjalani hidup bahagia di tengah-tengah kabut gunung dengan 25 anak. Pernah aku bertanya kepada Ibu, “Kenapa mereka punya anak banyak sekali. Sementara orang Tengger sangat jarang yang punya anak lebih dari 2 atau 3?” Ibu menjawabnya dengan sedikit bercanda, “Mereka meluapkan kegembiraan karena sudah lama tidak punya anak, makanya begitu dikasih anak, bikin terus.” Tapi, Ibu segera mengatakan, “Mereka itu sadar bahwa keturunan mereka akan melanjutkan kehidupan di kawasan Bromo, sehingga semakin banyak anak, semakin banyak kesempatan menghidupkan wong Tengger.”

Mengetahui Rara Anteng dan Jaka Seger tidak juga mengurbankan anak terakhir mereka, Raden Kusuma, Dewata marah. Gunung Bromo meletus, halilintar menghajar bumi, angin ribut memporak-porandakan rumah keluarga besar mereka. Dalam kekalutan dan ketakutan itulah, Rara Anteng mencoba merayu para Dewata dengan bersemedi, tetapi tidak berhasil. Dewata tetap marah. Kusuma mendengar perkataan Rara Anteng tentang janji kepada Dewata. Akhirnya, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, dia menceburkan diri ke kawah Bromo. Beberapa hari berikutnya terdengar suara Kusuma dari dalam kawah menerobos kabut dan segala kekalutan orang dan saudara-saudaranya. Dia meminta kepada orang tua dan saudara-saudaranya agar setiap tahun mereka mengurbankan segala hasil bumi dan hewan ternak ke kawah Brahma sebagai wujud syukur kepada para Dewata.

Di depan tungkulah dongeng tentang keluhuran hidup, ketaatan adat, dan asal-muasal wong Tengger mewujud dalam khayalanku sebagai kebenaran yang harus diyakini dan dilakoni meskipun sejak kecil, aku dan kawan-kawan sebayaku sudah terbiasa dengan aktivitas menonton teve; menikmati indahnya hidup di kota besar seperti Jakarta, melalui acara musik, sinetron, maupun film. Ya, jagat bawah yang penuh fasilitas yang memanjakan hidup manusia memang menarik untuk dibayangkan, meskipun Ibu selalu mengingatkan kalau orang di bawah—di kota—tidak sebaik wong Tengger. Mereka senang bertengkar, pamer kekayaan, suka berfoya-foya, suka makan dan minum berlebihan, dan gampang melupakan ajaran leluhur.

Itulah mengapa ketika melanjutkan pendidikan SMA di Probolinggo dan selanjutnya kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang, Ibu dan Bapak selalu mewanti-wanti agar aku selalu menjaga kehormatan dan tradisi leluhur. Tidak boleh membina hubungan cinta terlalu jauh dengan lelaki. Tidak boleh menghambur-hamburkan uang. Tidak boleh melupakan sembahyang. Dan, masih banyak “tidak boleh” lainnya. Aku menganggapnya sebagai rambu-rambu yang bisa menjaga diri dan kehormatanku, meskipun tetap saja aku tidak mungkin selamanya menjadi perempuan gunung yang kurang pergaulan di kota.

Di Malang aku memang harus bersiasat dengan banyak godaan hidup. Teman-teman kuliah sering mengajakku jalan-jalan ke mall di sekitar alun-alun setiap kali ada waktu luang. Di sana, setiap kali mendapat kiriman bulanan, aku menyempatkan membeli sepotong atau dua potong pakaian, sekedar untuk kepatutan waktu kuliah, biar tidak hanya pakaian-pakaian itu saja yang kukenakan. Meskipun tidak setiap hari, aku dan teman-teman kos sering menikmati ayam crispy di KFC ataupun lezatnya Pizza Hut. Itung-itung, biar lidahku tidak hanya terbiasa dengan sayur bening ala Tengger atau kue aron yang berbahan jagung. Selama 3 tahun kuliah di D-III Ekonomi, terhitung 3 lelaki pernah menjadi kekasihku. Kehidupan muda-mudi di Malang yang relatif bebas, mendorong masing-masing dari mereka mengajakku bersetubuh setelah menikmati percumbuhan yang penuh nafsu dan cinta di beberapa villa di Batu. Namun, nasehat Ibu agar aku tetap menjaga kehormatan sebagai perempuan Tengger selalu terngiang di telingaku. Itulah yang membuatku memutuskan cinta mereka.

Semua hasrat yang memburu ketika di Malang, harus aku luruhkan setiap kali pulang ke desa. Aku harus menjadi anak mantan kepala desa yang berperilaku layaknya perempuan gunung, meskipun banyak kawan kecilku yang sudah menggendong anak mengatakan dandananku sudah mirip perempuan kota seperti yang mereka lihat di teve. Kembali ke desa adalah kembali kepada keagungan leluhur yang harus diwujudkan bukan hanya diomongkan. Bapak dan Ibu selalu mengajakku ke pura desa. Setiap kali ada upacara di balai desa atau di rumah tetangga aku harus berusaha untuk hadir. Saat-saat itulah, Bapak seperti merasa bangga karena anak perempuannya tetap bisa meyakini dan menjalankan tradisi leluhur meskipun kuliah di kota.

Kadang aku juga bertanya-tanya tentang pergeseran makna kesucian yang berlangsung dalam masyarakat Tengger—yang juga aku alami selama ini. Sekarang segara wedi dan Bromo telah dijejaki jutaan kaki, dinikmati jutaan mata, dan diselimuti keliaran-keliaran mereka yang menikmati dingin dan kabut. Sambil terus menyusuri beberapa bukit menuju tangga Bromo, aku berpikir, kenapa Kusuma dan para Dewata tidak marah dengan kedatangan mereka? Kenapa tempat suci ini hanya digunakan sebagai tempat mengeruk uang? Di manakah kesuciannya? Apakah kesuciannya hanya ketika Kasada dilaksanakan? Ah, kenapa juga muncul pertanyaan-pertanyaan seperti itu dalam benakku. Bukankah aku sendiri tidak menjaga sepenuhnya keyakinan leluhur sekaligus tidak bisa menghilangkan semuanya dengan nalar kampus-ku? Kawan-kawanku di desa tidak pernah menanyakan soal itu. Dhukun di desaku juga tidak pernah menyinggung-nyinggung masalah itu ketika aku dan teman-teman bersembahyang di pura. Dia hanya berpesan agar anak-anak muda, meskipun kuliah jauh, tidak usah mengikuti budaya negatif dari kota, karena bisa kuwalat, bisa terkenah musibah—baik berupa sakit maupun susah rezeki. Kami diminta untuk terus mengikuti keyakinan leluhur.

Baru beberapa tangga aku daki, di depanku berdiri seorang perempuan mengenakan baju katun putih dan celana jeans biru. Aku sangat kaget ketika dia memanggil namaku. Ketika aku menanyakan bagaimana dia bisa tahu namaku, perempuan itu tersenyum sambil menutup bibirku dengan jemarinya. Lalu, ia menggandeng tanganku, mengajakku menaiki tangga yang terbuat dari campuran semen dan pasir itu. Aku hanya bisa diam menuruti ajakannya.

“Gunung itu gunung suci, tempat jiwa menghilangkan noda hidup sebelum terbang ke Gunung Mahameru, tangga menuju swargaloka, nirwana. Makanya, Kertanegara, Raja Singasari, dan juga raja-raja Majapahit, menjadikan tanah di lereng dan kaki Bromo sebagai tanah suci, hila-hila, sekaligus menjadi wilayah perdikan. Para Pandhita yang menempati tanah ini dibebaskan dari pungutan pajak kerajaan. Mereka diminta mempertahankan kesucian dan kesetiaan manusia. Tugas mereka hanya sembahyang dan mendoakan keselamatan dan kesejahteraan kerajaan. Mereka hidup dalam dekapan kabut dan dingin, menakutkan. Tapi, sabda raja adalah kebenaran. Mereka harus menuruti permintaan raja untuk sembahyang dan berdoa. Bayangkan, mereka harus hidup dalam serba keterbatasan. Apa yang menjadikan mereka kuat, Mey?”

“Aku tidak tahu, mungkin karena mereka sakti?”

“Kenapa selalu memahami masa lampau dengan kesaktian, kegaiban, ataupun kedigdayaan? Terlalu banyak dongeng yang masuk ke dalam otakmu. Kamu tahu, mereka bertahan karena ada kesetiaan. Kesetiaan kepada suami atau istri. Kesetiaan kepada masa depan anak-anak mereka. Kesetiaan kepada raja. Kesetiaan kepada Dewata. Kesetiaan kepada bumi. Kesetiaan itulah yang yang menjadikan mereka ada sampai sekarang.”

Perempuan itu tetap menggandeng tangan kananku, terus mendaki tangga Bromo. Di puncak, kami berdiri menatap kawah. Bau belerang menyengat. Aku mengajaknya turun, tapi dia menolak. Tiba-tiba, bau belerang lenyap.

“Kesetiaan itu juga menindas. Mereka tidak akan berani melawan kuasa raja. Mereka tidak berani melawan penindasan,” tuturku dengan lantang.

“Penindasan apa yang kamu bicarakan. Raja-raja Singasari dan Majapahit tidak pernah menindas mereka. Mereka diberi tanah. Mereka cuma diminta sembahyang dan mengabdi. Para kesatria kerajaan juga tidak pernah menyerang mereka. Kamu jangan membacanya dari masa kini. Baca dari masa lampau, ketika mereka tidak punya apa-apa. Tidak semua dari yang lampau itu jelek. Keyakinan terhadap cinta dan kesetiaan itulah yang akan menyelamatkan mereka.”

“Bukankah saudara-saudaraku sekarang juga larut dalam pesta politik, pesta materi; dari panen sayur-mayur dan menyewakan mobil jeep. Bahkan, kesucian Bromo hanya menjadi tontontan. Kami bukan orang lampau. Lihat saja rumah dan pakaian kami, tidak ada bedanya dengan rumah elit orang kota.”

“Itulah, Mey. Para pembesar itu telah mengajari mereka tradisi baru. Orang-orang Inggris dan Belanda datang membawa kentang dan wortel. Mereka semakin jarang menanam jagung. Sampai sekarang mereka makan beras. Ada yang berubah. Mereka semakin giat bekerja, bukan untuk sekedar makan, tapi untuk mengisi rumah dengan kemeriahan. Beberapa pemimpin mereka bertemu dengan pembesar di hotel-hotel mewah dengan para perayu tradisi; mereka yang memanfaatkan suara politik atas nama pelestarian, pemberdayaan, dan tetek-bengek lainnya. Yang aku khawatirkan, ketika mereka semakin larut, kutukan demi kutukan akan datang.”

“Tidak ada kutukan di masa kini,” timpalku.

“Kutukan itu masih ada. Karena mereka sudah terikat sumpah. Ketika sumpah menyatu dalam darah, manjing dalam batin, gunung-gunung, angin, langit, tanah, api, akan menyampaikannya kepada Dewata sebagai energi gelombang yang bisa merubah doa dan senyum semesta. Aku masih bisa tersenyum karena sebagian dari mereka masih menjalankan sumpah itu.” Perempuan itu tiba-tiba mengajakku turun.

“Apakah engkau Dewi penjaga Bromo?” tanyaku berani.

“Aku bukan Dewi, aku bukan peri, aku bukan bidadari, Mey. Aku hanyalah penyaksi dari apa-apa yang terjadi di sini; kemarin, saat ini, dan esok,” jawabnya setelah melepaskan tanganku.

“Aku tidak mengerti. Kedirianmu membingungkanku,” ujarku agak ketus. Kami terus berjalan menyusuri segara wedi.

“Karena kamu ke sini membawa banyak beban dalam otakmu, sehingga batinmu tercemari kebingunganmu sendiri. Kamu terlalu memikirkan perjodohan itu. Kamu mencari sejarah bhakti kepada orang tuamu dengan kisah di balik Bromo. Otakmu akan kesulitan, Mey. Kisah lampau itu tak mungkin kamu sepadankan dengan kisah hidupmu. Ada ruang dan waktu yang berbeda. Lagipula, orang tuamu juga terbebani sejarah hidup mereka sendiri. Mereka berusaha menumpahkannya kepada dirimu. Kasihan kamu, Mey.”

Aku tak menghiraukan lagi perkataan perempun tak bernama itu. Ketika kami sampai di jalan setapak menuju hotel dan perumahan penduduk, perempuan itu bertanya tempat penginapanku. Aku tidak memberitahunya dengan alasan privasi. Dia hanya tersenyum, lalu, melambaikan tangan menuju sebuah hotel yang langsung menghadap ke Bromo. Huh, perempuan aneh.

Sampai di rumah penduduk tempatku menginap, aku merebahkan tubuhku. Aku sengaja menginap di home stay untuk menenangkan pikiranku karena hendak dijodohkan dengan lelaki yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Tidak mandi adalah pilihan tepat karena dingin sekali udara sore ini. Tidak selang lama, ibu pemilik rumah yang tinggal di sebelah, mengantarkan tungku untuk menghangatkan badan. Anak perempuannya yang masih kecil membawakan satu gelas teh hangat. Setelah aku mengucapkan terima kasih, mereka berdua pergi. Segera aku menghangatkan badan di depan tungku, berteman teh dan snack yang aku bawa dari kota kecamatan.

Aku masih memikirkan perkataan perempuan berbaju putih itu. Ternyata, kami memiliki kegelisahan yang sama. Apakah aku harus meneruskan bhaktiku seperti halnya bhakti Rara Anteng? Tapi, bukankah ada ruang dan waktu yang berbeda, seperti dikatakan perempuan itu? Kalau aku menolak perjodohan itu, bagaimana dengan rasa malu kedua orang tuaku? Jangan-jangan, aku memang harus merelakan untuk tidak memiliki tubuhku sendiri, mengabdikannya kepada orang tua?

***

“Aku akan menghancurkan hidupku bersama kabut itu; kabut yang menemani hari-hari kecilku; kabut yang selama ini mengajarkan kepadaku tentang bhakti perempuan gunung. Sejak kecil ibuku selalu bilang aku harus berbhakti kepada orang tua, kepada guru, kepada keluarga, kepada tradisi, dan kepada pemerintah, setiap kali aku menghangatkan tubuh di pawon sambil menenaminya masak. Bapakku selalu mendongengiku tentang para leluhur kami; para leluhur yang dengan gagah berani hidup bersama dingin; para leluhur yang selalu memanjatkan kidung puji kepada Sang Gusti; para leluhur yang tidak mau menyakiti sesama; para leluhur yang selalu mengirim sesajen ke Gunung Bromo. Dongeng-dongeng masa kecil itulah yang kini harus aku junjung sebagai bentuk bhaktiku; bhakti yang akan mengakhiri kebahagiaanku sebagai perempuan gunung yang mengenyam kehidupan kota; bhakti yang harus aku persembahkan kepada kedua orang tuaku. Hidupku sudah berakhir, ketika aku harus menerima pertunangan itu. Waktu remaja aku selalu suka putih kabut datang, tetapi aku juga selalu membencinya karena hanya membawa kesuraman. Satu keinginanku, keluar dari kabut itu, melampauinya, aku ingin mengembara. Kenyataannya, aku harus kembali ke dalam kabut itu. Aku belum benar-benar mampu menembus batas putih kabut itu.”

Perempuan itu hanya diam menatapku. Aku tahu dia tidak bisa lagi memberikan ucapan-ucapan yang mendamaikan. Dia yang selama ini selalu membesarkan hatiku, meski hanya melalui ucapan-ucapan sebelum aku tidur, kini benar-benar diam. Aku tahu, dia pasti merasa bersalah karena kali ini tidak bisa mengatakan apa-apa selain diam.

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, sedangkan perempuan itu duduk di meja kamarku. Dia menatapku dalam nanar mata yang ingin mengalirkan luka. Ya, perempuan yang aku jumpai di Bromo itu kini menemaniku dalam senyap yang mendarah ketika semua nalar dan gairahku harus segera dihentikan oleh kehendak gunung.

“Apa di masyarakatmu tradisi perjodohan masih berlaku?” tanyanya sambil menyandarkan tubuhnya di tembok.

“Sebenarnya tidak semua orang tua menjodohkan anak-anak mereka. Teman-teman sepermainanku banyak yang pacaran, meski dengan tetangga sendiri. Mereka menikah dan bahagia. Kalaupun ada yang dijodohkan, biasanya untuk mempererat tali saudara yang agak jauh. Kasusku beda. Aku tidak dijodohkan dengan kerabatku, tapi dengan anak teman Bapak. Aku sendiri tidak pernah tahu sejak kapan aku dijodohkan. Selama ini aku tidak berpikir untuk cepat-cepat berumah tangga karena, seperti kamu tahu, aku menikmati benar pekerjaanku di resort wisata di Batu itu. Yang aku tahu, kemarin Bapak menelepon, dua hari lagi aku diminta pulang untuk acara lamaran sekaligus tunangan dengannya.”

“Maaf, Mey, aku tidak tahu harus berkata apa untuk saat ini.”

“Ndak pa-pa. Aku bisa ngomong semua uneg-uneg-ku, sudah legah rasanya. Maafkan aku ya, sudah nambah beban di pikiranmu.”

Selepas mandi, meski masih capek, kami berangkat ke Probolinggo. Di dalam bus, pikiranku dihantui bayangan-bayangan seram dari sebuah pernikahan yang terpaksa; suamiku jahat, kejam, mau menang sendiri, dan hidupku tersiksa. Benar-benar mengerikan. Perempuan itu mengusap rambutku sembari mendongengkan tentang negeri di atas awan yang sebentar lagi berubah menjadi panas karena kerakusan manusia. Sesampai di Terminal Bayuangga perempuan itu menghilang.

Pernikahan itu benar-benar terjadi pagi ini. Kabut pekat menyelimuti pernikahanku dengan lelaki bernama Derry itu. Lelaki itu berasal dari kota kecamatan yang jauhnya sekitar 25 KM di bawah desaku. Dia bekerja di salah satu lembaga keuangan pemerintah di Jakarta. Wajahnya tidak terlalu jelek, tapi sejak pertunangan kami setengah tahun yang lalu, aku belum bisa mencintainya. Apalagi setelah aku tahu alasan perjodohan ini lebih karena Bapak ingin balas budi karena orang tua Derry pernah membantunya ketika dililit utang karena bisnis sayur-mayurnya berantakan. Aku mengetahuinya ketika kakak perempuanku yang juga anak angkat memberitahunya dua malam sebelum pernikahan ini. Waktu itu aku menangis di dalam kamar karena harus menikah dengan Derry. Tapi, apa yang bisa aku lakukan selain menjalani pernikahan ini? Bapak dan Ibu yang memungut dan merawat sejak aku masih bayi merah serta membesarkanku layaknya anak sendiri begitu baik dan terhormat dalam pandanganku. Aku tidak mungkin menghancurkan kehormatan mereka, meksipun batinku sakit.

Karena Derry dan keluarganya beragama Islam, beberapa hari sebelum pernikahan aku harus berganti agama yang sudah sejak kecil aku yakini, Hindu-Tengger. Yang membedakan Hindu Tengger dengan Hindu Bali adalah ketika ada orang meninggal, jasadnya tidak di-ngaben, tetapi dimakamkan seperti dalam tradisi Islam, dengan kepala menghadap ke Bromo, gunung suci kami. Selain itu, meskipun bersambahyang di pura dan belajar kita Weda, kami masih menjalankan tradisi leluhur, warisan Rara Anteng dan Jaka Seger. Menurut Bapak tidak apa-apa karena inti dari semua agama sama, meyakini ketuhanan. Aku bisa menerimanya, meskipun ingatan-ingatan masa kecil bersama teman-teman di pura tidak bisa hilang begitu saja.

Meskipun kabut pekat, pernikahan kami sangat meriah. Teman-teman dan para kerabat Bapak datang, meski harus menempuh perjalanan jauh, melintasi jalan gunung yang terjal. Mereka datang dari kawasan Tengger Probolinggo, Malang, Pasuruan, dan Lumajang. Bapak dan Ibu tampak bahagia. Kedua mertuaku juga demikian. Teman-teman sekantor Derry juga datang. Aku memang tersenyum kepada suamiku, orang tuaku, kedua mertuaku, dan para undangan, tetapi semua serba terpaksa.

Keterpaksaan itu pula yang aku rasakan ketika tubuhku dikuasai Derry pada malam pertama dan kedua. Tubuhku dijalari rasa sakit yang luar biasa ketika tangan-tangan itu menyentuh setiap bagian tubuhku. Jujur, aku berusaha mengikuti naluri keperempuananku ketika tangan lelaki memberikan belaian. Namun, aku hanya sedikit merasakan kenyamanan, selebihnya hanya sakit karena hatiku memang tidak pernah menerimanya. Bhakti kepada kedua orang tua dan keterpaksaan tersenyum kepada Derry telah menjadikan hidupku benar-benar diliputi kabut. Apalagi ketika Derry melarangku bekerja. Benar-benar aku merasakan hidup dalam penjara suami. Satu-satunya hiburanku adalah obrolan-obrolan dengan perempuan itu.

***

Mengisi hari-hariku yang menjengkelkan aku semakin sering menelpon perempuan itu. Waktu sore aku pilih karena saat itulah aku selesai mengerjakan segala tetek-bengek yang berurusan dengan rumah. Aku melakukannya bukan karena terpaksa, tetapi untuk membunuh waktu agar bisa melupakan segala kebrengsekan si monster dan kemarahan yang aku rasakan. Kami bercakap tentang banyak hal, dari soal Bromo, Tengger, hingga kehidupan pribadiku. Seru sekali. Kalau sudah seperti itu kami biasanya tertawa lepas.

“Jujur, aku beberapa kali bermimpi bertemu sahabat lelakiku, lulusan sebuah universitas di Jember. Kami bersahabat sejak berkenalan di bus ketika sama-sama berangkat ke Malang, ketika kami masih mahasiswa. Kadang, kami bertemu dalam cinta yang luar biasa. Aku benar-benar merasakan bahagia. Kadang, aku bermimpi kami membangun sebuah rumah mungil di lereng gunung. Kami mengasuh anak-anak dengan berkawan kabut. Alangkah indah itu semua. Aku sadar itu tidak bisa menjadi kenyataan. Paling tidak, aku masih bisa bermimpi indah.”

“Indah banget mimpi itu, sayang belum bisa terwujud. Tapi, kamu berhak punya mimpi kok, Mey. Dan, aku bahagia banget kamu bahagia dalam mimpimu.”

“Seandainya kami bertemu di kamar sebuah hotel, apa yang akan kami lakukan, ya?” tanyaku menggoda.

“Apa ya? Mungkin ia akan memeluk dan mencumbumu, Mey,” jawabnya singkat.

“Halah, aku ndak percaya. Pasti dia akan nggituin aku, iya kan?”

“Asal kamu tahu, lelaki itu, meskipun kamu akrab dengannya, tidak mungkin berani melakukannya, Mey. Dia takut akan karma dan kutukan.”

“E, memang kenapa kok dia takut? Kan kita sudah sama-sama dewasa? Lagipula apa benar kutukan dan karma itu masih ada?”

“Mey, lelaki mana sih yang tidak mau melakukan hal itu. Kamu cantik, seksi, segalanya deh. Tapi, lelaki itu benar-benar penakut untuk urusan itu. Biarlah ketakutan itu tetap ia pelihara, karena ia anggap itu yang menyelamatkan perjanjian batin kalian; perjanjian yang tidak harus selalu dimaknai dengan keliaran tubuh, Mey.”

“He, he, paham deh.”

“Terima kasih, Mey.”

Memang, lelaki yang aku panggil Nda itu berhak berprinsip seperti itu. Benar yang dikatakan perempuan itu. Mungkin benar, biarlah hubungan batin kami tidak teracuni oleh persetubuhan. Mungkin itu akan selamanya menjaga hubungan kami, meski aku terkadang merasa kasihan karena harus menanamkan perasaan aneh di batinnya. Mungkin hubungan seperti inilah yang bisa menyembuhkan luka jiwaku; luka yang aku sendiri tidak tahu kapan akan berakhir. Hubungan di ambang batas inilah yang mungkin akan menciptakan keindahan-keindahan baru setiap kami bertemu, meski hanya di telepon.

Meskipun semester akhir aku baru bertemu dengan Nda, rasanya kami sudah bisa merasakan keakraban yang tidak pernah menuntut. Ketika aku mengajaknya untuk menikmati perpisahan dengan pergi ke Bali selepas kelulusanku, ia menolak karena tidak ingin menghadirkan keindahan yang hanya menjadi pelarian. Bahkan ketika aku memintanya memintaku ke kedua orang tuaku, setelah ia wisuda, ia dengan tegas menolak karena tidak ingin membuat runyam urusan keluargaku. Ya, akhirnya, kami hanya menjalin hubungan via telepon, meskipun tidak rutin.

Satu minggu setelah aku menelepon perempuan itu, mens-ku berakhir. Malam ini aku sudah menyiapkan diri di atas ranjang. Sebentar lagi, monster jahat itu pasti akan memperagakan keperkasaan tubuhnya. Benar. Setelah beberapa menit aku mengamati gambar fashion di sebuah majalah perempuan, lelaki itu masuk ke kamar dengan senyumannya yang tidak pernah menarik simpatiku. Aku segera menutup majalah, menyambutnya dengan pura-pura tersenyum.

Perlahan-lahan ia melahap bibirku dengan segala kerakusan seorang lelaki, menyentuh semua bagian peka tubuhku. Seperti biasanya, aku selalu berpura-pura larut dalam permainannya. Mendesah sekeras-kerasanya, karena monster itu memang menyukainya. Dia pasti akan menarik rambutku kalau aku tidak menyuarakan desahan-desahan itu. Setelah puas dengan segala kegilaannya, lelaki itu membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhku. Seperti mendapatkan energi dari para Kurawa yang tengah menelanjangi Durupadi, monster itu selalu membelalakkan matanya. Detik-detik ini adalah detik-detik yang paling menjengkelkan bagiku karena sebentar lagi aku harus berubah menjadi batang pisang yang begitu pasrah; tanpa perasaan, tanpa cinta, tanpa kepuasan, karena aku selalu berusaha menyingkirkan itu semua.

Ketika dia sedang melakukan aksinya, aku segera memperkuat otot-otot keperempuananku, bersiaga sambil men-sugesti pikiranku bahwa sperma yang dihujamkannya tidak akan bisa menembus rahimku. Tidak sampai 15 menit, monster itu sudah jatuh tersungkur. Aku berpura-pura tersenyum puas ketika dia tersenyum kepadaku. Seperti biasanya, dia segera bangun menuju ruang teve.

Aku segera berlari ke kamar mandi di dalam kamar tidur kami. Aku buka lebar-lebar kedua kakiku sambil memasukkan jemari ke lubang yang baru saja dia cemari dengan sperma. Aku tidak ingin bibit-bibit anaknya masuk ke rahimku. Setelah yakin kalau sperma itu keluar, aku baru mandi besar. Membersihkan semua tubuh dan jiwaku dari bau monster itu. Kebiasaan inilah yang aku lakukan selama dua tahun pernikahan kami. Mungkin karena itulah spermanya tidak pernah hidup di rahimku. Inilah kemenanganku. Kemenangan yang selalu menjadi rahasia kamar mandi ini. Kemenangan yang selalu membuatku tersenyum ketika keluar dari kamar mandi. Kemenangan yang, paling tidak, bisa membuatku menang, meskipun aku sebenarnya kalah ketika menikah dengan monster itu.

Hari demi hari, aku menjalani rutinitas sebagai seorang istri yang tidak pernah merasakan kebahagiaan. Memang, lelaki itu selalu berusaha membahagiakanku. Sering, sehabis gajian, dia mengajakku berbelanja pakaian baru di beberapa mall di Malang. Jujur, aku senang belanja. Paling tidak, aku bisa mengoleksi pakaian-pakaian 500 ribu ke atas. Sering pula, dia mengajakku menginap di hotel-hotel mewah, menghabiskan malam minggu dengan segala nafsunya. Nafsu yang membuatku jijik.

Yang membuatku semakin benci ke monster itu adalah kebiasaan jeleknya, membatasi uang belanja. Setiap hari aku dijatah 25 ribu. Aku juga tidak pernah dikasih uang bulanan. Sering aku harus berpura-pura merengek-rengek agar ia mau memberi beberapa lembar ratusan ribu yang akan aku kirim ke Ibu di Wanawetan. Ternyata lelaki ini pelitnya minta ampun untuk urusan uang buat keluargaku. Kadang-kadang, aku berpikir kalau Bapak sampai tahu hal ini, pasti Beliau merasa tertipu oleh kebaikan keluarganya dulu. Karena, anak mereka tidaklah demikian.

Karena keinginan mendapatkan uang sendiri agar bisa mengirim jatah buat Ibu dan mengisi tabunganku, aku cukup antusias ketika ada tawaran dari kawan perempuanku yang bekerja di sebuah resort. Apalagi posisi yang ditawarkan bagian marketing. Dengan ijazah diploma yang baru aku peroleh, posisi itu sangat cocok. Wah, aku mungkin bisa meminta bagian luar kota agar bisa merancang pertemuan dengan Nda.

Beberapa hari aku tidak memberitahukan kepada si monster soal tawaran itu. Aku sengaja mencari waktu yang tepat agar ia mengizinkanku bekerja.

“Pokoknya, kamu ndak boleh bekerja. Kamu di rumah saja, jadi istri yang baik. Titik,” bentak lelaki itu ketika aku meminta izin bekerja selepas dia menumpahkan hasrat seksualnya.

“Aku bosan di rumah, Mas. Setiap hari hanya nonton teve, memasak, mencuci, lalu tidur.”

“Apa masih kurang uang yang aku berikan tiap hari? Apa masih kurang semua materi yang aku berikan kepadamu? Kamu ini benar-benar perempuan tak tahu diuntung.” Lelaki itu benar-benar marah. Dibantingnya vas bunga di meja ruang tamu.

“Kamu pikir perempuan tidak butuh tabungan, Mas!? Aku juga butuh ngirim uang ke Ibu di Wanawetan. Bilang saja kalau kamu takut aku melirik lelaki lain. Iya kan?” tanyaku mulai berani.

“Kamu ini memang…..” Belum selesai kata-katanya, lelaki itu menamparku sekeras-kerasnya.

Aku tidak menangis. Aku tidak merasakan rasa sakit. Aku hanya diam, memendam gemuruh amarah. Sepanjang hidupku, belum ada satu pun lelaki yang berani menampar mukaku. Bahkan Bapak tidak pernah melakukannya, meski aku sering membuatnya kerepotan dengan tangisan-tangisan kecilku ketika meminta mainan di kota. Aku memandangi monster itu dengan kemarahan. Dia hanya memasang muka sinis. Lelaki itu segera keluar, sambil membanting pintu. Suara mobil kesayangannya keluar dari garasi. Aku tidak tahu ia akan pergi ke mana.

Segera aku membuka album pernikahan. Aku robek semua foto pernikahan kami. Prasasti yang selalu ia banggakan kepada teman-temannya yang main ke rumah kami itu berubah menjadi serpihan-serpihan kertas. Biar. Biar hilang semua kenangan indahnya. Lelaki itu benar-benar brengsek.

Lima belas menit berlalu, tiba-tiba HP-ku berdering. Ah, dari Bapak. Pasti monster sialan itu madul, seperti biasanya ketika kami sedang ada masalah. Benar. Bapak bertanya kepadaku perihal pertengkaran kami.

“Aku sudah tidak kuat, Pak.”

“Lha, kamu itu makanya jangan melawan sama suami. Kalau dia bilang kamu tidak boleh bekerja, ya, jangan ngeyel, Ndok.”

“Aku ingin punya pengalaman, Pak. Buat apa ijasah diplomaku? Buat apa Bapak membiayai kuliahku?” Aku sengaja tidak memberitahu alasanku yang sebenarnya.

“Ndok, suamimu itu pemimpinmu. Ingat itu. Kamu tidak ingin membuat malu keluarga kita di mata keluarganya kan? Kamu yang sabar.” Kalau Bapak sudah menyinggung tentang harga diri keluarga aku tidak bisa membantah lagi.

“Iya, Pak.”

Mengapa Bapak tidak pernah mau mengerti harga diriku sebagai perempuan? Mengapa aku yang dikorbankan untuk sebuah harga diri keluarga? Apa karena aku anak asuh? Apa perjuangan mereka membesarkanku harus aku balas dengan kekalahan sepanjang hidupku? Tuhan, di mana letak kebesaran-Mu? Apakah aku harus mempertahankan pernikahanku hanya untuk menjaga harga diri keluarga? Aku masih punya impian, Tuhan. Bersama pertanyaan-pertanyaan penuh gugatan itu, dongeng Ibu tentang nenek-moyang kami, Rara Anteng dan Jaka Seger kembali hadir. Aku ingin seperti Rara Anteng yang juga bisa berjuang membesarkan anak-anaknya, tidak hanya pasrah kepada Jaka Seger, suaminya. Aku bisa berbhakti, tetapi tidak dengan keterpaksaan, dengan kesadaran.

Kadang aku iri kepada kawan-kawan perempuanku di desa. Mereka tidak pernah diperlakukan kasar oleh suami mereka. Di masyarakat Tengger posisi perempuan memang setara, bahkan soal warisan laki-laki dan perempauan dapat jatah yang sama. Derry selalu beralasan bahwa dalam ajaran Islam, istri harus manut ke suami. Menurutku, bukan ajaran Islam yang salah, tetapi suamiku yang salah karena menafsirnya untuk kepentingannya sendiri. Tapi, aku tidak bisa lagi dikalahkan. Aku harus bertindak sesuai dengan keinginanku. Aku tidak mungkin lagi menghormatinya sebagai suami.

Segera aku kemas beberapa helai pakaian casual. Pakaian-pakaian mahal yang ia belikan sengaja aku tinggalkan di lemari. Malam ini aku harus pergi dari rumah neraka ini. Keputusanku sudah bulat. Persetan dengan harga diri keluarga. Persetan dengan monster itu. Aku harus memulai kehidupan baru. Batas kesabaranku sudah habis. Sebelum pergi, aku tulis sebuah kalimat di atas selembar kertas. “AKU MINTA CERAI. JANGAN PERNAH MENCARIKU LAGI.” Aku meletakkannya di depan pintu. Biar monster itu membacanya. Biar dia bilang kepada orang tuanya dan orang tuaku. Biar hancur harga diri itu. Biar. Aku tidak mau mempedulikannya lagi.

***

Selama dua hari aku menikmati ‘kebebasan’ dari monster bersama Nda di Probolinggo. Aku menginap di rumah salah satu sahabat perempuanku semasa SMA. Dua hari aku berusaha menenangkan batinku serta merangkai bermacam kemungkinan yang akan terjadi dengan orang tua, kerabat, dan mertua. Aku sempat menelepon Nda tentang keputusanku. Dia sempat mengkhawatirkan efek dari tindakanku itu. Namun, aku meyakinkannya bahwa semua bisa diatasi kalau aku kuat. Akhirnya, Nda bisa memahami keputusanku.

Pada hari ketiga, aku kembali ke desaku, karena mendapatkan SMS dari kakak perempuanku yang mengabarkan kalau sudah 3 hari Bapak sakit. Selepas Dzuhur aku baru sampai di rumahku. Setelah membayar ojek 50 ribu, aku segera berhambur menuju rumah tempat aku dibesarkan oleh Bapak dan Ibu. Setelah mengucap salam, tampak Ibu dengan tangisnya yang tak terbendung lagi. Dia tidak marah. Dia memelukku dengan penuh kasih sayang dan kerinduan sembari menanyakan keadaanku. Mengetahui kedatanganku, kakak perempuanku, segera memelukku. Kami bertiga segera menuju kamar Bapak. Aku memandang Bapak yang tampak pucat. Ah, tuntutan ceraiku kepada monster pasti menjadi beban mendalam baginya. Ibu membangunkan Bapak dengan bisikan di telinganya. Mengetahui aku sudah duduk di sampingnya, Bapak langsung memaksa bangun dan memelukku.

“Anakku, Ndok, akhirnya kamu pulang juga. Bapak senang banget, Ndok.” Airmatanya menetes.

“Iya, Pak. Maafkan aku sudah merepotkan dan membuat Bapak sakit,” ucapku sambil terisak.

“Yang penting kamu sudah pulang, Ndok. Permasalahanmu, biarlah kita bicarakan nanti. Kamu pulang, hati Bapak lega rasanya. Bapak cuma takut kalau terjadi apa-apa.”

“Tenang, Pak. Aku baik-baik saja. Bapak lihat sendiri kan?”

Selepas Maghrib kami berempat makan malam bersama. Kebetulan suami kakakku sedang mengirim sayur ke Surabaya. Ibu memasak sayur sop kesukaanku sejak kecil. Senang sekali rasanya. Entah karena kedatanganku atau karena obat, Bapak tampak lebih segar.

“Memang selama tiga hari ini kamu nginap di rumah siapa, Ndok? Di mana?” Tanya Bapak di sela-sela makan.

“Aku nginap di rumah teman perempuanku, Pak, di Probolinggo,” jawabku sambil menambah sop.

“O, syukurlah, Ndok. Ibu sampai berdoa setiap malam agar kamu tidak kenapa-kenapa,” tutur Ibu sambil menuangkan air putih untuk Bapak.

“Terima kasih, Bu.”

Selesai makan, Bapak mengajakku ngobrol berdua di kamar. Pasti Beliau akan membicarakan permasalahanku dengan monster itu. Aku duduk sambil memijat kakinya.

“Tiga hari yang lalu orang tua Derry datang ke sini. Mereka menanyakan kenekatanmu minggat dari rumah, juga permintaan ceraimu. Ya, Bapak jawab tidak tahu-menahu. Itu urusan kalian berdua. Mereka marah karena aku dianggap tidak bisa nuturi kamu, Ndok. Ya, aku marah balik.”

“Maafkan aku, sudah melibatkan Bapak dan Ibu dalam masalah ini.”

“Sudahlah, Ndok. Kamu itu anak Bapak. E, kalau boleh tahu, kenapa sampai kamu nekat kayak gitu.”

“Derry menamparku, Pak.”

“Apa menamparmu?!! Kurang ajar banget dia.”

Bapak benar-benar marah. Aku berusaha menenangkannya.

“Aku benar-benar ingin punya tabungan, Pak. Makanya aku mau bekerja. Itu yang membuatnya marah. Aku ingin ngirim uang bulanan buat Ibu dan Bapak. Asal Bapak tahu, aku tidak pernah diberi uang bulanan.”

“Oalah, Ndok. Kok jadi gitu nasibmu. Maafkan Bapak sudah memaksamu menikah dengan Derry.” Bapak memelukku sambil menangis.

“Sudahlah, Pak. Aku mungkin sudah ditakdirkan untuk menjalani semua itu.”

“Kalau memang alasanmu seperti itu, aku tidak akan memaksamu kembali ke Derry. Bapak ndak mau kamu kembali mengalami penderitaan itu, Ndok. Segera kamu urus perceraianmu. Kalau perlu biar Bapak sewakan kepada orang ladang di sebelah selatan desa untuk biaya perceraianmu. Meski tradisi di masyarakat kita tidak menyukai perceraian, biarlah daripada kamu selalu menderita.”

“Terima kasih, Pak, sudah mendukungku,” sahutku penuh rasa haru.

Hari kedua di desa, aku memilih jalan-jalan ke ladang. Di jalan aku berpapasan dengan beberapa kawan masa kecilku, Suryani, Melati, dan Ajeng. Mereka sudah punya anak. Mereka baru saja dari pura karena ada acara sembahyang. Di desaku ini memang hanya sedikit yang beragam Islam. Mayoritas warga beragama Hindu-Tengger. Lima belas menit kami bercanda. Mereka tampak bahagia dengan kehadiran buah hati. Sementara, aku tidak pernah mengharap kelahiran dari rahimku, karena yang menjadi suamiku adalah lelaki itu. Seandainya, aku benar-benar mendapatkan seorang suami yang aku cintai, pastilah aku juga segera ingin punya momongan.

Sampai di ladang, aku melepaskan semua beban pikiranku. Aku membentangkan kedua tanganku, menghirup angin gunung, menyegarkan batinku. Di gubuk favoritku setiap ke ladang, aku duduk. Aneh, tiba-tiba aku membayangkan Nda menemaniku. Ah, lelaki itu pasti sedang tidur. Tiba-tiba HP-ku berdering. Ternyata dari Nda; sebuah kebetulan yang sangat indah. Setelah saling menanyakan kabar, aku memberitahu dukungan Bapak atas rencana perceraianku.

“Nda, Bapak memintaku untuk mengurus perceraianku. Senang banget rasanya.”

“Alhamdulillah, Am. Kapan kamu akan mengurusnya?”

“Mungkin minggu depan, Nda. Aku masih ingin di rumah, menemani Bapak dan Ibu. Memang kenapa, kok tanya gitu?”

“Ndak pa-pa.”

“Kok jawabnya gitu?”

“Lho, memang harus seperti apa?”

“Senang kek, atau apalah.”

“Tentu aku senang, Am. Kamu segera bisa bebas dari lelaki itu. Soal hubungan batin kita, biarkan mengalir saja. Oke?”

“He…he..oke, Nda. Iya biarkan mengalir dalam banyak keindahan.”

“Sip, Am.”

“Sip, juga, Nda.”

Minggu berikutnya, aku menuju Malang. Aku kembali ke rumah itu. Aku menemui monster itu. Dia berusaha merayuku untuk kembali, tetapi keputusanku tidak bisa ditawar-tawar lagi. Ketika dia bilang tidak mau menceraikanku, aku tidak takut karena bisa menempuh jalur persidangan.

Setelah pertemuanku dengan Derry, aku segera menuju Probolinggo untuk mempersiapkan urusan persidangan. Desaku, tempat pernikahan kami, memang masuk wilayah Kabupaten Probolinggo yang terkenal dengan mangga dan anggurnya itu. Aku sengaja memilih tempat kos dengan harga murah untuk tempat tinggalku selama mengurus perceraian di Probolinggo.

Di tengah-tengah kegembiraanku setelah mendapatkan kepastian jadwal persidangan, aku dikejutkan oleh telepon dari Bapak. Ia mengabarkan kalau orang tua Derry baru saja dari rumah. Mereka mengancam akan menagih uang sebesar 50 juta yang pernah diberikan kepada Bapak kalau aku tetap ngotot minta bercerai. Bapak dan Ibu hanya bisa menangis sesenggukkan setelah kedua mertuaku itu pulang. Uang 50 juta tentu sangat banyak. Bisa-bisa mereka menjual ladang, tempat mereka menggantungkan hidup selama ini. Aku remuk. Aku hancur mendengar kabar itu. Beberapa saat lamanya aku diam di kamar. Menangis dan menangis. Kenapa kegembiraan yang sudah di ujung tanduk harus hancur?

Siang sampai sore, aku mengurus pencabutan-kembali gugatan cerai kepada Derry. Para petugas pengadilan agama heran dengan keputusanku. Aku hanya beralasan suamiku mau menerima beberapa persyaratan yang aku sodorkan.

Inilah aku sekarang, seorang perempuan Tengger, Amelia Puji Rahayu, dibesarkan oleh orang tua yang telah menganggapku sebagai anaknya; orang tua yang harus aku junjung dan perjuangkan kehormatan mereka dalam keadaan apapun, termasuk ketika aku sudah hampir menjadi “perempuan baru”. Inilah aku sekarang, kembali meresapi dingin kabut yang menusuk melalui celah-celah di jendela kamar. Aku tidak perlu menangis lagi. Aku tidak perlu membiarkan batinku dipenuhi kesedihan, luka, dan derita. Karena, seperti Rara Anteng, aku harus terus hidup dan menghidupkan keluarga yang sudah hampir sekarat oleh kutukan, bukan kutukan Dewata, tetapi oleh kutukan balas budi.

Sembari menyiram bunga di taman belakang, ingin sekali aku menghubungi Nda dan perempuan itu, sekedar bercerita bahwa aku urung menjadi “perempuan baru”. Tapi, sudahlah, aku tidak ingin menambah beban pikiran mereka berdua.

Malamnya, bersama Bapak dan Ibu, aku menghangatkan tubuhku di dekat tungku. Aku pandangi wajah Bapak yang sudah semakin tua. Aku tatap wajah Ibu yang menyimpan kesedihan. Dengan perlahan, aku meniup arang di tungku biar nyala api semakin menghangatkan tubuh kami. Dengan perlahan pula, aku memeluk mereka berdua. Kembali aku mengingat saat-saat masa kecilku ketika kami menghabiskan waktu menjelang tidur dan Ibu mendongengkan cerita Rara Anteng. Saat itulah sebenarnya aku membayangkan bahwa Rara Anteng bahagia.

 

Foto cover: “Everyday”, Rene Magritte, 1966, https://www.widewalls.ch/surrealist-artists/

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*