Ali-ali

Nur Holipah

 

Download cerpen versi PDF

Segara ya ana pesisire, sun welas nana watese

Wedhang kopi belung nangka, raina bengi ya mung katon rika[1]

Entah kali ke berapa, segala janji yang telah kau ucapkan tak sanggup kau tepati. Kau amat mengerti, aku tak menyukai hal itu. Tetapi tak puas hanya sekali kamu melakukannya. Dan yang tidak aku mengerti, mengapa kau berbuat itu berulang kali tanpa timbul sesal dalam hati. Lebih menyakitkan lagi, aku selalu memberi maaf dan melunakkan hati ketika mulutmu bersumpah-sumpah bahkan memohon-mohon agar aku memaklumi.

Gerimis belum habis. Harapanku atas kedatanganmu pun menjadi kikis. Tetapi ternyata kau datang.

“Aku selalu tahu, kapankah aku harus menemuimu.” Suara khasmu itu menembus air langit yang sedang berkecipak menjatuhi kulit bumi. Tanpa kau ucapkan salam pembuka, lekas kau ucapkan kata-kata itu yang lebih mirip semacam pembelaan diri. Sembari kau tanggalkan jaket kulit yang basah di bagian punggung, lalu duduk bersila berhadapan denganku yang disekat meja memanjang. Meraih bungkusan orog-orog[2] serta melepaskan semat[3] penguncinya. Mengangsurkan isinya ke mulut agar sampai ke perut. Mendahulukan urusan itu daripada urusan denganku.

Ya wis kelendi maning, saiki sewang-sewangan…[4]

Aku seperti ingin menangis sebab lagu yang sedang terputar ini. Langit kelihatan murung tidak cerah sedikitpun. Jalanan basah seperti aku yang tetap gelisah mendengarkan kata-katamu. Tidak banyak orang yang berlintasan seperti hari-hari biasa. Orang-orang berlaluan dengan mengembangkan payung masing-masing dan berlindung di bawahnya, mengindari tetesan air langit yang menghantam tubuh mereka.

“Aku tidak peduli, apakah aku sedang terserang rindu atau tidak. Saat semesta mengizinkanku untuk menemuimu, maka akan aku lakukan!” Suaramu yang kedua lebih terdengar berusaha meyakinkan dengan menyertakan kata-kata puitis bin manis. Dan aku fikir, lagi-lagi itu hanya menjadi ucapan pembelaan, aku sama sekali tidak tersanjung atas kalimat-kalimatmu.

Gelang alit nung deriji, aja lali tumekaning pati….[5]

Aku segera menyela sebelum lirik lagu itu menyayat-nyayat di hati. “Aja pati abang-abang lambe[6]!” Setengah tega kuucapkan kalimat itu. Tidak peduli apakah kau akan menjadi sakit hati sebab kata-kataku.

“Isun ngomong paran anane[7]!” kau melakukan pembelaan lagi. Kau mengendus gelagat keraguan dalam diriku. Sedang aku lebih sudi menatap miris pada sepiring kukusan sabrang[8] berwarna ungu yang hampir dingin, daripada mempertemukan bola mataku dengan bola matamu yang penuh kedustaan. Penuh permainan.

Hatiku nelangsa menatap jari manis pada tangan kiriku, yang telah kau lingkarkan sebuah ali-ali.

“Apabila kedatanganku memperkeruh suasana hatimu, aku akan pergi! Kau barangkali perlu menghabiskan waktu sendiri.” Kau melanjutkan kata-katamu tanpa memikirkan kesalahanmu, tanpa memikirkan perasaanku. Bagiku keliru! Kau harusnya meminta maaf padaku, Arifin! Sayangnya, kalimat itu tak pernah kuucapkan padamu—calon suamiku. Aku meredamkan amarah yang timbul dalam hati. Daripada mesti kutanggung malu karena banyak pasang mata yang menatapku dan menatapmu, lebih baik ku pendam dalam hati.

Kepingin kumpul maning, tapi nana dalane. Emaaaaaan![9]

Sementara lagu itu terus mengalun hingga habis dan berganti ke lagu berikutnya, seduhan kopi yang sengaja aku tuangkan ke permukaan lepekan[10] menjadi biasa saja—tidak menggairahkan dan aku tak tertarik untuk mengirimnya ke permukaan bibirku. Kau memasangkan sebatang udud[11] di bibirmu dan mencari-cari korek api, sambil tetap menatapku.

“Kari omes temungkul bain?[12] Kau berkata-kata lagi sambil menyesap sebatang udud yang telah kau nyalakan. Aku mangangkat dagu sedikit, menatap padamu. Aku bukan perempuan yang pandai membuat senyum kepura-puraan. Aku selalu berlaku adil untuk marah, ataupun bahagia kapan saja.

Sepotong perdebatan antara kau dan aku terpaksa menjadi pendukung suasana yang makin sendu, ditambah lagi lagu yang mengalun di warung ini tak mengubah keadaan hati yang terlanjur beku.

***

Gerimis sudah habis.

Amarahmu sudah mengikis, walaupun aku harus membual manis. Aku telah memohon maaf atas kesalahanku yang lambat kusadari. Sebagai lelakimu, aku yang kurang peka. Kebingunganku atas wanita tidak pernah berubah. Aku sulit mengerti; sulit memahami.

Malam ini kuputuskan mengajakmu—perempuanku—berjalan-jalan yang kuanggap sebagai penebus kesalahan.

“Kau selalu tampak manis mengenakan setelan ini.” Pujiku, padamu. Perempuan manapun selalu senang dipuji, aku tahu itu. Kau hanya tersenyum simpul sambil membenarkan letak anak rambut yang menghalangi pandangmu.

Kuakui, kau—Alianah nampak manis mengenakan atasan berwarna kuning gading. Rambut panjang sepinggang kau biarkan tergerai. Kau menyilangkan dua penjepit rambut berwarna emas di bagian kiri. Kau menyisakan beberapa helai anak rambut, di sebelah kanan.

Taman Belambangan malam ini dihujani berpasang-pasang muda-mudi. Hujan tadi sore tidak menghalangi geliat mereka untuk menghabiskan masa bersama. Duduk-duduk melingkar di tikar yang digelar. Menyeruput kopi sambil ngobrol kesana kemari. Ada gelak tawa, cekakakan[13] yang tidak dapat dihindari.

Beberapa penari gandrung dengan omprognya yang meromong[14], telah memenuhi panggung utama yang menghadap ke timur. Tarian pembuka. Seorang panjak dan penabuh serta pemain alat musiknya telah bersiap di tempat masing-masing. Kau melingkarkan lengan ke lenganku, dan ini cukup sabagai pertanda. Antara kau dan aku telah baik-baik saja. Aku sudah memohon maaf, dan kamu memafkanku, dan kau tak mengungkit-ungkit masalah yang sudah berlalu.

Sepasang retinaku menangkap sesosok penari gandrung yang berada di paling muka. Perempuan pemilik bibir sigar kepundung[15] yang tadi sore sempat bertemu dengan bibirku. Perempuan penyebab kadatanganku yang terlambat. Pemicu ke sekian, kau—Alianah menjadi marah-marah, dan berdendam dalam hati.

Perempuan itu mengetahui kedatanganku. Ia menari semakin gemulai. Sementara kau, perempuanku—merapatkan genggaman pada sela-sela jemariku.

Amarahmu benar-benar telah mengikis.

***

Semua orang memang mengetahui bila aku selalu menjadi perempuan yang dicari; menjadi incaran para lelaki; primadona yang tak habis untuk  dipandangi. Menjadi perbincangan nomor wahid sekalipun dengan bahasa-bahasa yang keji. Ucapan-ucapan yang mengganggu birahi.

Berpasang-pasang mata akan menatap keindahan tubuhku malam nanti. Tubuh seorang penari. Namun, sebelum itu kau datang untuk bermain-main denganku.

“Kau telah memiliki kekasih. Kau telah bertunangan, bukan? Mengapa kau tetap mendatangiku?” Kataku, sambil melipat kain Gajah Uling yang malam nanti akan aku kenakan. Kau masih menghisap sebatang rokok yang baru kau hidupkan.

“Rohani….” Kau tak menjawab pertanyaanku. Kau berjalan mendekat ke arahku. Meraih daguku dan mulai menatapku penuh nafsu. Aku menikmatinya. Karena kau—Arifin—pria tampan dan kaya raya yang sudi mengalirkan uang dalam aliran darahku.

Kau menghentikan segala pemujaanmu terhadapku tepat ketika telepon genggammu berdering untuk ke sekian kali. Akupun menghentikan perjamuanku terhadapmu.

“Aku akan berikan apa saja, asal kau tak berkeberatan saat aku ingin menemuimu, Rohani!” Kau mematung diri di hadapan cermin, dan lekas mengenakan jaket. Kau merogoh sakumu, mengeluarkan beberapa lembar berwarna merah. Meletakkannya di bawah vas bunga yang terbuat dari beling, berisikan beberapa tangkai kembang sundel.

“Aku tak akan melarangmu. Datang saja kapanpun kau suka.” Aku mendekat ke tubuhmu, melingkarkan tanganku pada tubuh kekarmu. Aroma laki-laki semacam kau, tak pernah mampu aku lupakan. “Kau akan pergi? Tunggulah hujan sedikit mereda.” Aku berpura-pura memberikan saran serta merebahkan kepala ke punggungmu, sedikit manja.

Kecipak hujan di luar masih terdengar.

“Menarilah dengan anggun. Aku akan menontonmu.” Kalimat yang terucap dari bibirmu itu tidak begitu menyenangkan tatkala aku mengingat-ingat kenyataan. Kau benar-benar pergi setelah berbalik badan sehingga kedua retina kita bertemu, dan kau mendaratkan sekecup di keningku.

“Aku tak pernah tega menjadikanmu yang kedua. Tapi nyatanya aku-pun masih tak bisa menjadikanmu yang pertama.”

“Sungguh manis!” Kataku menatapmu sinis.

Aku mengikuti tubuhmu hingga hilang dibalik pintu. “Sampaikan salamku pada calon istrimu!” Aku mengatakannya tulus. Sungguh. Tapi, kau tanggapi hanya dengan kelakar, dan sungguh tak mungkin akan kau sampaikan.

Sambil memungut lembaran rupiah, aku menekuri diriku ke cermin. Tak pernah menjadi pilihanku, aku akan menjadi perempuan yang ditemui secara sembunyi-sembunyi. Aku tiba-tiba peduli tentang bagaimanakah tanggapan perempuanmu ketika ia mengetahui pertemuanku bersamamu. Apakah harus aku katakan, bahwa kau yang tak bisa menanggalkan sepertemuan saja denganku. Tegakah aku bersuara semacam itu? Atau perlu aku berbicara jujur? Perempuan mana yang akan menolak rizeki? Menemui Arifin merupakan rizeki. Tetapi, sebagai perempuan bila aku menjadi perempuanmu, aku akan marah tatkala kutahu kamu memiliki perempuan yang lain.

Arifin, laki-laki macam apa kau? Tergoda padaku?

Aku menatap diriku pada cermin. Lelaki seperti apakah yang tidak terpikat olehku? Kupandangi wajahku lekat-lekat.

Kupuji seorang diri, aku memang cantik! Kufikir, aku terlalu licik.

Malam nanti aku akan menari. Kau bilang, kau akan menontonku. Aku tahu, kau selalu menepati perkataanmu sekalipun tidak berembel-embel janji.

***

Sudah hampir larut. Malam semakin lesap. Langit semakin gelap. Pikiranku telah melesat pada suara seorang laki-laki dan perempuan yang tengah terlibat pertengkaran.

Aku membersihkan wajahku, sekalian berkemas. Mengusap sisa-sisa rias pada paras.Kukenali betul, pemilik suara itu. Kau, Arifin. Kau menyebut-nyebut nama perempuan bernama Alianah. Calon istrimu itu mengungkit pertemuan sore tadi, aku dan kau yang sembunyi-sembunyi.

“Jelaskan padaku seberapakah ukuran setia?” Alianah berkata-kata penuh penghayatan. Aku menunggu suaramu, Arifin.

“Membatu-kah hatimu, Arifin? Berapa kali setiaku kau uji?” Sudah kuduga, suara berikutnya adalah suara perempuanmu. Perempuanmu, yang mengenakan baju berwarna kuning gading itu, semacam kecewa.

Aroma pertengkaran makin terasa.

“Siapa Rohani?” Aku baru mengerti kemana-kah arah pembicaraan lelaki dan perempuan itu. Telah mampu kutebak, pasti ada kilat kebencian yang muncul pada binar mata perempuanmu tatkala menyebutkan namaku. Selalu-kah begitu, perempuan-perempuan bila menaruh cemburu?

Perempuanmu menelisik. Hatiku turut berdebar-debar menantikan pertanyaan selanjutnya. “Sejak kapan kau menjadi pemujanya?” Semenit, dua menit, tiga menit, belum ada suara yang keluar darimu.

Aku kagum pada Alianah. Ia tegar, tanpa tersedu sedan. Tapi, aku yakin jauh di ulu hatinya ada perasaan tidak terima.

Gulita sempurna. Kau—Arifin diam tak berucap sekata saja.

***

Tak ada terbersit sedikitpun dalam pikirku, kau akan menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Lebih-lebih kau tanyakan padaku, ukuran setia? Aku mesti menjawab apa? Tentang siapakah Rohani, kau tentu mengetahui bahwa ia adalah seorang penari. Mesti-kah kujelaskan lagi?

Hatiku tidak membatu Alianah, kau tahu itu! Bukankah aku telah memilihmu.

Lelaki macam apa aku ini? Bukan sengaja, aku mengunci mulutku. Tetapi lidahku menjadi kaku.         Kali ini aku belum menemukan kalimat yang tepat untuk membela diriku sendiri.

“Alianah, maafkanlah aku…” Setidaknya aku menyadari benar, salahku. Karenanya, aku haturkan permintaan maaf.

Iya, aku memaafkanmu, masih belum tiba ke pendengaranku. Sementara kau menanggalkan ali-ali yang sekitar enam bulan yang lalu, kuputuskan untuk kupasangkan pada jari manismu. Kala itu, aku dan kamu sepakat menjaga hati di hadapan orang tuaku serta orang tuamu. Acara sakral; sebuah pernikahan akan kita gelar segera—harusnya.

Kenyataannya, memang aku yang berulang kali mengingkari. Aku tidak benar-benar menjaga hati.

“Pasangkan saja pada perempuan itu!” Aku terkejut, tak menduga kalimat itu terlontar dari bibirmu. Wajahmu datar. Apakah aku telah keterlaluan? Ataukah kau menanggapi dengan berlebihan?

“Aku tak akan sanggup mendampingimu. Semoga tak akan ada sesal dalam hatiku!” Demikian kau ucapkan kata-kata itu sembari menaruh ali-ali itu pada telapak tanganku.

Aku menahan gerakmu. Kuraih lenganmu agar tak meneruskan langkah ‘meninggalkanku’.

“Tiadakah penyelesaian yang lain?” aku bersyukur menemukan kalimat itu.

Kau diam dan memejamkan mata. Barangkali giliranmu yang tak menemukan kata-kata.

“Aku sudah tak bernyali…” Kalimat itu terucap juga.

***

Malam perlahan-lahan berlabuh. Gerimis kembali jatuh. Aku sadari hatiku menjadi rapuh. Pikiranku telah keruh. Aku menahan agar air mataku tak tumbuh. Tak mau kugadaikan diriku untuk segenap kesalahan yang ia lakukan dengan sengaja.

Beruntung ia mengajakku menonton perempuan yang ia simpan dariku. Lekas ceritaku dengan Arifin bisa segera kuakhiri.

“Aku sudah tak bernyali…” Harapanku terhadap Arifin telah kupangkas. Kukatakan kalimat tadi dengan tegas. Kisahku dan Arifin kuanggap telah tuntas.

Tidak sudi bila ali-ali itu tetap melingkar pada jemari sementara setiaku berulangkali diingkari. Aku yang selalu dikhianati, aku yang selalu ia bohongi.

Lalu aku berlari: pergi.#

 

[1] Potongan Lagu Gelang Alit, ciptaan Fatrah Abal, alm. Andang CY & Mahfud.

[2] Jajanan tradisional khas Using yang terbuat dari tepung beras, diberi pewarna umumnya hijau dan merah muda).  Rasanya gurih dan legit, biasanya ditambah parutan kelapa untuk menyantapnya.

[3] Lidi yang dibuat meruncing, ukurannya sekitar 2-3 cm untuk pengait jika membungkus sesuatu menggunakan daun pisang.

[4] Potongan Lagu Gelang Alit. Artinya : Ya mau bagaimana lagi, sekarang sudah tidak sejalan.

[5] Cincin yang mengikat di jari, jangan lupakan hingga datangnya mati.

[6] Jangan suka menebar kata-kata yang  manis.

[7] Aku bicara apa adanya

[8] Ubi manis yang dikukus.

[9] Ingin bersatu lagi, tapi tak menemui jalan. Sayang sekali!

[10] Alas cangkir yang biasanya digunakan untuk menuangkan kopi atau teh saat masih panas.

[11] Rokok

[12] Kok betah menunduk saja?

[13] Tertawa keras; terbahak-bahak.

[14] Berwarna terang.

[15] Bibirnya seperti terbelah dua

 

Foto cover: https://www.jakartanotebook.com/cincin-silver-plated-dengan-mata-kristal-hati-silver

Share This:

About Nur Holipah 2 Articles
Nur Holipah adalah penulis muda Banyuwangi. Lulusan Universitas Negeri Malang ini aktif menulis karya sastra dalam bahasa Using dan bergiat dalam kegiatan literasi di Banyuwangi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*