Hasrat kebudayaan Using dan Blambangan di Banyuwangi

YONGKY GIGIH PRASISKO

 

Download artikel versi PDF

Banyuwangi menjadi kabupaten terluas se-Jawa Timur dengan luas 5.782,50 km2. Beragam kultur masyarakat hidup dan berkembaang di sana. Tahun 1846, 75 tahun setelah runtuhnya kerajaan Blambangan, Epp mengidentifikasi kultur di Banyuwangi antara lain Jawa, Madura, Bali, Mandar, Cina, Arab serta Eropa. Ia menganggap bahwa orang asli Banyuwangi adalah orang Jawa atau nama lainnya orang Blambangan, yang berjumlah sebanyak 91% dari total populasi saat itu. Tahun 1870, seorang ahli bahasa Van der Tuuk, mengidentifikasi sebuah dialek bahasa yang dituturkan oleh orang Jawa asli di Banyuwangi, ia menyebutnya sebagai dialek Banyuwangi (Blambangansch Javaansch). Dialek bahasa Jawa di Banyuwangi tersebut bebeda dengan Jawa Surakarta. Orangnya Jawa, kosa katanya Jawa, tetapi dituturkan dengan cara kuno. Lekkerkerker kemudian menyebutnya sebagai orang Using (Oesingers). Menurutnya, Using berasal dari kata ‘sing’ dari bahasa Bali, yang berarti ‘tidak’. Kepribadian, bahasa dan adat orang Using berbeda dengan orang Jawa lainnya. Setidaknya sampai tahun 1970, orang Using lazim disebut sebagai orang Jawa. Beberapa perbedaan dengan bahasa Jawa lain kemudian membuatnya disebut orang Jawa Using, yakni orang Jawa yang menggunakan kata Using untuk mengatakan tidak, sedangkan orang Jawa lain menggunakan gak atau ora.

Mobilisasi tanda lokal: Usingisasi dan Blambanganisasi Banyuwangi

Tahun 1860, Banyuwangi masih mempertahankan keberagaman kulturnya. Masing-masing kultur bisa hidup tanpa perlu menggeser kultur lain. Namun tahun 1870, tejadi imigrasi besar-besaran di Banyuwangi, terutama dalam hal pemenuhan pekerja perkebunan. Pada tahun itu juga dimulailah periode liberalisasi ekonomi di Hindia Belanda, termasuk salah satunya, swastanisasi perkebunan. Sejak saat itulah muncul keresahan akan tergesernya budaya asli Banyuwangi karena massifnya pengaruh dari budaya para pendatang. Keprihatinan sebab imigrasi muncul perihal ‘ancaman’ ketidakmurnian adat dan kebiasaan. Keresahan ini menjdi alasan dimulainya revitalisasi budaya Using.

gandrung ngamen

Budaya Using dianggap sebagai budaya asli Banyuwangi. Setidaknya anggapan atau usaha revitalisasi budaya Using, khsusnya bahasanya, mulai aktif dilaksanakan pada tahun 1970an. Ben Arps mengklasifikasi periode revitalisasi bahasa Using dalam hal bahasa menjadi 5 yakni:

  • Masa prasejarah tampak akar-akar proses pembentukan budaya dan bahasa.
  • Tahun 1970-an, dimulai Persiapan Transformasi Bahasa. Puncaknya pada sarasehan bahasa Using pada 1990.
  • Tahun 1997 lahir karangan serta makalah yang dipresentasikan yang kemudian melahirkan pengajaran Bahasa Using.
  • Tahun 1997-2002, terbit buku tata bahasa baku, buku pelajaran dan kamus Bahasa Using-Indonesia.
  • Tahun 2002-sekarang, yakni masa konsolidasi.

Selain bahasa, praktik revitalisasi dilakukan dengan pemberian tanda-tanda budaya pada tempat-tempat publik di Banyuwangi. Tahun 2002, stadion Diponegoro yang juga menjadi markas PERSEWANGI, direnovasi dan PEMKAB Banyuwangi memberikannya nama baru, yakni Stadion Jogopati. Jagapati merupakan pemimpin Blambangan yang berperang melawan Belanda dan gugur di Bayu tahun 1771. GOR dinamai Tawang Alun, nama seorang raja Blambangan di masa kejayaannya pada akhir abad ke 17. Radio Khusus Pemerintah Daerah (RPKD) diberi nama Suara Blambangan. Gelanggang Seni Budaya (Gesibu) dinamai Blambangan yang diresmikan pada tahun 1979. Alun-alun dinamai Taman Sri Tanjung, yakni seorang tokoh protagonis dalam legenda Banyuwangi. Di awal tahun 1979, nama Sri Tanjung digunakan sebagai nama jalan di pusat kota, nama sekolah dan nama kejuaraan olahraga lokal. Ada juga radio Sri Tanjung, kapal feri Putri Sri Tanjung dan kereta api Sri Tanjung.

Selamat datang di Banyuwangi - Jawa Timur

Patung Gandrung turut jadi penanda kota Banyuwangi, yang dibangun di berbagai titik kota Banyuwangi sejak pertengahan 1990an. Gandrung merupakan kesenian tari Using. Nama gandrung juga dipakai sebagai nama Kopi Gandrung, Gandrung Pos, Gandrung Kafe. Bahkan di media nasional, Banyuwangi melabeli dirinya kota Gandrung sepanjang tahun 1990an. Pada Desember 2002, penari Gandrung dijadikan maskot Kabupaten Banyuwangi. Tahun 1997, didirikan Dewa Wisata Osing di Kemiren. Tahun 2002, mobilisasi tanda Osing dilakukan melalui senam Lare Using, senam wajib masyarakat Banyuwangi.

Mobilisasi tanda yang cukup signifikan dan efektif menghegemoni yakni lagu pop banyuwangen, yang kerap juga disebut lagu kendhang kempul. Setidaknya mulai tahun 1995-1996, hampir semua stasiun radio di Banyuwangi menyiarkan lagu-lagu Banyuwangen, khususnya program karaoke lagu Banyuwangi, paling tidak seminggu sekali. Di berbagai tempat publik, semisal pasar atau terminal, lagu Banyuwangi biasa terdengar. Lagu Banyuwangi efektif dalam menghegemoni masyarakat, salah satunya karena bahasanya cenderung santai dan temanya kerap disukai. Dua tema yang cukup dominan dalam lagu-lagu Banyuwangi yakni tema cinta dan kepahlawanan/patriotisme.

Nasional vis a vis lokal-regional  

Sekitar tahun 1970an, pemerintah pusat punya kebijakan kebudayaan yang menginstruksikan daerah-daerah di Indonesia untuk memiliki kesenian daerah. Sang arsitek kebijakan awal sosial-politik orde baru, sekaligus pengatur strategi, Jenderal Ali Murtopo turut menyumbang akan pentingnya pembangunan budaya yang dirumuskan dalam suatu kebijakan pemerintah. Sejak saat itu, daerah-daerah mulai mempromosikan lokalitasnya melalui kesenian daerah. Kesenian-kesenian daerah tersebut kemudian dikumpulkan dan mewujud dalam pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang diresmikan pada tahun 1975. TMII merupakan usaha merumuskan kebudayaan nasional dengan basis pemahaman bahwa kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan daerah.

Pengungkapan lokalitas di suatu daerah jadi sesuai dengan kebijakan kebudayaan pemerintah pusat. Dalam kasus Banyuwangi, dinamika yang terjadi berkutat pada soal Blambangan dan Using. Nama Blambangan diyakini memiliki ingatan kolektif perihal kejayaan masyarakat Banyuwangi. Maka dari itu, mobilisasi tanda sejarah Blambangan dilakukan salah satunya seperti penamaan Stadion Jagapati. Rempeg Jagapati bersama Wong Agung Wilis bahkan turut diajukan sebagai pahlawan nasional, namun gagal. Dalam hal Banyuwangi ini, ada dinamika antara yang lokal dengan yang nasional.

Mobilisasi tanda lokal di Banyuwangi turut menggeser tanda-tanda yang bersifat Nasional. Stadion Diponegoro setelah direnovasi diganti menjadi stadion Jagapati. Jagapati dianggap lebih familiar dengan masyarakat Banyuwangi, daripada Diponegoro. Pangeran Diponegoro berperang dalam perang Jawa yang terjadi di Jawa Tengah, yang jaraknya ratusan kilometer dari Banyuwangi. Masyarakat Banyuwangi lebih merasa memiliki pahlawan Jagapati. Di satu sisi, lokal mampu menghegomoni masyarakat jika tetap bersifat lokal, bukan nasional. Di sisi lain, tetap ada usaha menjadikan lokal menjadi nasional, seperti kasus pahlawan Jagapati dan Willis.

Related image

(https://www.antarafoto.com/bisnis/v1512880512/festival-kuwung)

Dinamika lokal-nasional juga terlihat dari segi bahasa, yang ditunjukkan dalam lagu pop Banyuwangi. Bagi Ben Arps, lagu pop Banyuwangi sukses dalam merevitalisasi bahasa Using. Kesuksesan dan keefektifan revitalisasi tersebut salah satunya dikarenakan sifat santai dari lagu yang sesuai dengan praktik bahasa Using yang dituturkan secara populer di kalangan masyarakat Banyuwangi. Sepak terjang lagu pop Banyuwangi ini mampu menggeser dominasi lagu pop nasional. Lagu pop Banyuwangi lebih mampu menghegomoni masyarakat Banyuwangi. Hal ini juga turut ditunjukkan dengan lazimnya memutar musik pop Banyuwangi di tempat-tempat publik di Banyuwangi. Tak hanya lagu, namun sepak terjang industri rekaman di Banyuwangi turut bisa menggeser pengaruh industri musik nasional Indonesia. Produksi indusri rekaman di Banyuwangi bahkan mampu menyaingi produk industri rekaman nasional di pasar lokal-Banyuwangi, maupun regional- Jawa Timur.

Mobilisasi tanda beserta revitalisasi budaya Using-Banyuwaangi, dalam tafsir psikoanalisis, merupakan peneguhan eksistensi melalui konstruksi tatanan simbolik lokal. Sebuah tatanan simbolik turut menyediakan identitas, yang kemudian diobjektivikasi oleh subjek. Identitas, dalam pengertian psikoanalisis, meupakan sesuatu di luar diri kita yang kita mengakui untuk menjadi dia. Tatanan simbolik lokal Using-Banyuwangi, telah membentuk identitas yang dinamakan LAROS atau Lare Osing. Bagi Ben Arps, Lare Osing sebenarnya bukan orang yang fasih berbahasa using, tetapi orang yang menemukan dirinya ketika menyanyikan atau mendengarkan lagu pop Banyuwangi. Dalam hal ini, Lare Osing merupakan subjek lokal, identitas lokal Banyuwangi yang mampu menandingi tatanan simbolik regional bahkan nasional.

Proyeksi kebudayaan Banyuwangi

Using dan Blambangan menjadi label kebudayaan yang bangkit dan berkembang di Banyuwangi berdasar pada alasan keterpurukan budaya yang mesti dibangkitkan kembali. Using menjadi penting dibangkitkan semenjak dimunculkan keresahan akan tergerusnya budaya asli oleh ancaman pendatang di Banyuwangi. Sedangkan Blambangan dibangkitkan untuk memunculkan heroisme serta kejayaan kerajaan Blambangan. Pada kelanjutannya, Using dan Blambangan tak hanya label budaya yang bangkit tetapi ia lalu menjadi kebudayaan yang menghegemoni kebudayaan lain di Banyuwangi.

Membangkitkan budaya Using dan Blambangan dikerjakan dengan membangun simbolik liyan sebagai lawan. Dengan membangun kesadaran budaya Using sebagai budaya asli Banyuwangi maka tercipta sang liyan yang disebut sebagai budaya pendatang dari Jawa maupun Madura. Begitu juga dengan label Blambangan, ia dibangkitkan dengan mengkonstruksi liyan yang bernama Banyuwangi. Pemberian nama Banyuwangi kerap disebut sebagai cara kolonial Belanda untuk mengeliminasi elemen-elemen Blambangan di wilayah bekas kerajaan Blambangan. Dalam konteks ini, budaya Using dan Blambangan menjalankan operasi mekanisme pertahanan diri dalam menghadapi liyan.

Related image

(https://news.detik.com/berita/3762943/gemebyarnya-festival-kuwung-yang-ceritakan-sejarah-banyuwangi)

Dalam psikoanalisis dikenal istilah mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang disebut sebagai cara kerja mental dalam mengatasi dorongan-dorongan nafsu/insting dalam kaitan dengan norma-norma di masyarakat. Mekanisme pertahanan diri akan menjamin keberlangsungan eksistensial individu maupun kelompok. Dalam hal tatanan simbolik, eksistensi bermakna identitas kaitannya dengan wacana di masyarakat. Keberlangsungan suatu identitas di masyarakat, dalam hal ini, bekerja dalam tataran bagaimana individu maupun kelompok mempertahankan eksistensinya dengan membangun wacana.

Eksistensi budaya Using dan Blambangan merasa terancam karena hadirnya budaya pendatang dan pengaruh kolonial. Padahal merekalah ancaman yang sebenarnya. Dalam hal ini, Using dan Banyuwangi karena kekuatan hegemoniknya mengancam keberlangsungan eksistensi kelompok-kelompok budaya lain di Banyuwangi. Cara kerja/operasi kebudayaan semacam ini, dalam istilah psikoanalisis, dikenal sebagai mekanisme proyeksi. Proyeksi bermakna hasrat diri sendiri yang disematkan kepada subjek lain untuk membenarkan tindakannya melakukan pertahanan diri. Semisal, seseorang membenci orang lain. Ia membangun asumsi bahwa orang lain itulah yang membencinya sehingga ia benar untuk membela diri. Padahal, dia sendirilah sebenarnya yang membenci. Dalam tataran komunal, proyeksi bermakna hasrat suatu kelompok untuk menindas kelompok lain dengan alasan membela diri karena eksistensinya terancam. Proyeksi dalam ranah kebudayaan berarti hasrat hegemonik suatu kemlompok yang disematkan kepada kelompok lain untuk membenarkan praktik kekuasaannya.

Usingisasi di Banyuwangi merupakan proyeksi kebudayaan yang dibangun atas dasar ketakutan akan ancaman budaya lain. Dalam hal ini, semangat yang dibangun adalah menjaga kemurnian budaya asli dan keengganan untuk bercampur dengan budaya lain, yang bisa membuatnya tak lagi asli. Sedangkan Blambanganisasi dibangun berdasar pada represi kolonialisme jaman dulu terhadap kejayaan kerajaan Blambangan. Dalam arti ini, potret budaya Using dan Blambangan merupakan proyeksi keresahan, ketakutan dan represi yang berusaha untuk diatasi secara kultural. Pada kenyataannya, praktik Usingisasi dan Blambanganisasi inilah bentuk ancaman dan represi yang sebenarnya terhadap keberagaman budaya yang ada di Banyuwangi.

Sumber Pustaka

Arps, Bernard, 2009, “Osing Kids and the banners of Blambangan Ethnolinguistic identity and the regional past as ambient themes in an East Javanese town” dalam jurnal Wacana, Vol. 11,  No. 1 (April 2009): 1—38.

Arps, Bernard, 2010, “Terwujudnya Bahasa Using di Banuwangi dan Peranan Media Elektronik  di dalamnya”, (Selayang Pandang 1997-2009), dalam Budiman, M dan Moriyama, M. (Ed), 2010, Geliat Bahasa Selaras Zaman:Perubahan Bahasa-Bahasa di Indonesia Pasca-Orde Baru, ILCAA.

Freud, Anna, 1946, The Ego and the Mechanism of Defense, New York: International University Press.

Freud, Sigmund, 1950, Totem and Taboo: Some Points of Agreement between the Mental Lives of Savages and Neurotics, diterjemahkan oleh James Strachey, London: Routledge Classics.

Jones, Tod, 2015, Kebudayaan dan Kekuasaan di Indonesia: Kebijakan Budaya Selama Abad ke-20 Hingga Era Reformasi, penerjemah Edisius Riyadi Terre, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Lacan, Jacques, 1981, “Of the Network of Signifier”, dalam The Seminar of Jacques Lacan, Book XI: The Four Fundamental Concepts of Psychoanalysis, diterjemahkan oleh Alan Sheridan, diedit oleh Jacques-Alain Miller, New York: W.W. Norton & Company.

Ricklefs, M.C., Sejarah Indonesia Modern, penerjemah Dharmono Hardjowidjono, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Share This:

About Matatimoer 6 Articles
Adalah lembaga yang bergerak dalam bidang penelitian budaya dan pemberdayaan komunitas

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*