Opera Watu Jubang: Permasalahan ekologis dalam tatapan kaum remaja

IKWAN SETIAWAN

 

Download artikel versi PDF

Lebih dari 20 remaja putri memasuki arena pertunjukan. Mereka membawa tongkat bambu. Tampak rasa riang dan gembira menghinggapi wajah mereka. Hari yang cerah untuk bermain bersama-sama. Tidak lupa mereka menembangkan lagu-lagu dolanan berbahasa Madura. Jelas sekali, keriangan bermain di tepian hutan tergambar dari permainan yang mereka lakoni.

Itulah gambaran awal pertunjukan publik Opera Watu Jubang (OWJ) yang dipentaskan pada Bhakti Bumi Gunung Mayang (BBGM) 2018, di Suco, Mumbulsari, 22 April 2018. Pertunjukan yang dipersembahkan oleh para siswa SMP N 1 Mumbulsari ini disutradari oleh seorang guru bahasa Inggris bernama Jeni Indri dengan ilustrasi musik Guiral, jebolan Prodi Televisi dan Film Fak.Ilmu Budaya UNEJ. Kedua penggiat kultural tersebut sama-sama pernah berproses di Dewan Kesenian Kampus (DKK) Fakultas Ilmu Budaya UNEJ. Meskipun digarap secara sederhana, baik dalam hal teatrikalisasi topik dan koreografinya, OWJ merupakan usaha kreatif dalam balutan orientasi kritis yang dilakoni para siswa, sutradara, dan anggota tim lainnya sebagai bentuk respons terhadap permasalahan lingkungan yang tengah dihadapi warga Mumbulsari, pada khususnya, dan warga dunia pada umumnya. Bukanlah omong-kosong kalau kita katakan bahwa permasalahan ekologis—dalam beragam bentuknya—merupakan ancaman krusial yang setiap saat bisa menjadikan kehidupan manusia menderita.

BBGM 9

Dalam OWJ, ancaman tersebut digambarkan dalam adegan sederhana, ketika puluhan remaja putri bermain di pinggir hutan. Sambil menembangkan lagu anak-anak, mereka menari dengan riang dalam gerakan-gerakan sederhana. Tidak ada beban. Penggambaran seperti ini tentu saja sudah sangat jarang lagi ada—untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali. Remaja perempuan desa tentu sudah semakin jarang yang bermain-main bersama sembari menyanyikan lagu anak-anak. Bagaimanapun juga mereka adalah individu-individu yang sudah mengenyam modernitas daam beragam bentuknya, dari pendidikan, tontonan televisi, fashion, gadget, kosmetik dan yang lain. Saya membaca penghadiran adegan ini sebagai upaya untuk recalling dan pengingat.

Warga, khususnya generasi tua dan warga yang berumur 50 tahun ke bawah, yang hadir dalam BBGM 2018 diajak mengingat kembali pesona alam dan budaya desa yang dulu pernah mereka rasakan dan jalani sebagai manusia yang tumbuh dalam kesederhanaan. Sebagai bentuk pengingat adegan ini berusaha membangun empati dan ingatan bahwa ada ragam budaya yang perlahan-lahan hilang ketika relasi manusia dengan lingkungan semakin keluar dari jalur harmoni berbasis kebutuhan hidup yang sewajarnya. Ancaman akan hilangnya budaya masyarakat ini memang tidak terasa karena hadirnya nilai dan praktik budaya modern yang lebih menyenangkan. Namun, untuk kepentingan warga, musnahnya sebagian tradisi agraris-hutan akan mengurangi komunalisme yang mengikat mereka. Di sinilah kejelihan Jeni selaku sutradara di mana ia memainkan peristiwa kultural sederhana yang mampu mengajak publik yang hadir untuk sejenak mengingat tradisi yang hilang dalam gelombang perubahan zaman.

BBGM 2

Musnahnya sebagian wilayah hutan memang tidak bisa dilepaskan dari kerakusan eksploitatif manusia, baik yang mengatasnamakan perusahaan pemegang HPH ataupun aktivitas-aktivitas perkebunan serta pertanian yang kurang responsif terhadap kelestarian lingkungan. Dalam OTW kondisi itu digambarkan dengan hadirnya para penebang yang secara rakus menebangi pohon-pohon di hutan. Ilustrasi musik gergaji mesin mengindikasikan bahwa perusak utama dari ruang hidup bagi satwa dan fauna di hutan adalah para pemodal besar atau pemilik perusahaan yang hanya ingin mengeruk keuntungan. Kita tahu di Indonesia, sudah menjadi rahasia umum, bahwa penguasaan atas hutan yang diharapkan mampu menjadi paru-paru bumi dinikmati oleh pemodal-pemodal besar dan oknum-oknum tertentu dari elit politik. Demikian pula pertambangan dan perkebunan. Artinya, Jeni, Iral, dan semua pelaku OWJ berusaha membangun keberpihakan bahwa bukanlah para petani dengan lahan sangat terbatas di hutan yang harus disalahkan terus-menerus apabila ada kebakaran atau bencana, tetapi pemodal besar dan elit-elit politik di negeri ini yang dengan sengaja mengeksploitasi hutan untuk kepentingan bisnis mereka.

BBGM 8

Perusakan dan kerusakan hutan terbukti telah menimbulkan bencana yang juga berakibat fatal bagi manusia. Tentu saja yang dirugikan adalah manusia, flora, dan fauna. Kalau sudah seperti itu, para ‘penguasa’ hutan yang di-metafor-kan dengan sosok Dewi Penjaga harus turun tangan untuk mengatasi bermacam bencana yang diakibatkan manusia-manusia rakus. Ia memerintahkan para bidadari yang mengenakan kebaya dan membawa wadah yang terbuat dari bambu untuk menebar-kembali benih tumbuhan. Sementara, para ‘monster’ pohon diutus untuk mengatasi para perusak hutan. Dewi, bidadari, dan monster merupakan metafor dari kekuatan-kekuatan positif yang berasal dari alam, khususnya kekuatan untuk mengembalikan keseimbangan semesta. Namun, manusia sebenarnya juga memiliki kekuatan ini, asalkan mereka mau menyadari melalui refleksi dan kontemplasi tentang “dosa-dosa ekologis” yang telah mereka lakukan. Selanjutnya, mereka harus melakukan tindakan-tindakan konkrit yang berpihak kepada penyelamatan alam. Sayangnya, kesadaran tersebut bukanlah sesuatu yang mudah. Tidak mengherankan, untuk memudahkan penyampaian pesan, dihadirkanlah dewi, bidadari, dan monster sebagai kekuatan penyelamat yang diharapkan bisa juga mengalirkan energi positif kepada warga yang hadir.

BBGM 11

Adegan para bidadari yang mengajak semua warga menanam benih merupakan ending OWJ yang sekaligus menjadi pesan ideologis bahwa hanya dengan aktivitas itulah hutan sebagai ruang hidup banyak makhluk hidup bisa diselamatkan. Sebagai gerakan populer, rezim pemerintah—baik sekarang maupun sebelumnya—sudah mencanangkan beragam program untuk penanaman pohon. Namun, sayangnya, seringkali kegiatan tersebut hanya menjadi formalitas yang menghabiskan milyaran bahkan triliyunan anggaran tanpa hasil yang jelas pada masa-masa selanjutnya. Paling tidak, para remaja Mumbulsari mengirimkan pesan kepada warga bumi bahwa “menanam” adalah tindakan manusia untuk memperoleh kesejahteraan yang sebenarnya. Pulihnya kondisi hutan akan memungkinkan tumbuh dan berkembangnya beragam flora dan fauna yang bisa dimanfaatkan secara bijak untuk kepentingan manusia. Termasuk, kembalinya sumber air yang mulai menghilang sejalan dengan hilangnya pohon besar dan bambu. Tugas manusia selanjutnya adalah menjaga dan merawatnya. Untuk saat ini, itulah salah satu tugas peradaban manusia di tengah-tengah ancaman krisis ekologis yang semakin nyata mengancam. Dan, tidak ada salahnya, kita belajar dari para remaja SMP yang rela berlatih selama sebulan lebih untuk menghadirkan OWJ dalam BBGM 2018.

Sekali lagi, gerakan teatrikal, tari, pembacaan narasi, dan ilustrasi musik yang mereka sajikan memang sederhana. Namun, bagi saya pribadi, kesederhanaan itu menegaskan bahwa tidak butuh retorika dan garapan estetik yang njlimet untuk melakukan tindakan kultural yang mendukung gerakan ekologis. Para remaja yang dalam tradisi sosiologis sering dikhawatirkan sebagai generasi yang rentan masalah sosial nyatanya mampu menyampaikan sebuah pesan peradaban, sesederhana apapun. Mereka juga menginternalisasi kecintaan terhadap lingkungan. Kaum remaja yang sehari-hari berhadapan dengan bukit yang mulai gundul menawarkan sebuah gagasan terkait kesadaran ekologis yang menjadi tanggung jawab umat manusia di manapun berada. Planet ini tentu membutuhkan semakin banyak peristiwa kultural seperti OWJ dalam BBGM 2018 ini sebagai kerja nyata untuk terus menyebarluaskan kesadaran ekologis. Tentu saja, individu atau komunitas lain yang melakukan kegiatan advokasi terhadap para warga pinggir hutan, penolak tambang, atau penentang proyek infrastruktur yang rakus, harus mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya sebagai bagian dari formasi diskursif untuk membangun gerakan ekologis.

IMG_20180422_200953_740

OWJ dan gelaran-gelaran sejenis, paling tidak, akan menjadi instrumen kultural yang selalu menyatu dalam gerakan ekologis. Karena lahirnya budaya dan bertahannya eksistensi manusia tidak bisa dilepaskan dari alam yang telah memberikan banyak hal tanpa meminta apapun. Kalau untuk keikhlasan yang sudah diberikan alam manusia tidak mau memberikan imbal-balik yang sangat sederhana, maka kita tinggal menunggu waktu kepunahan spesies keturunan Adam-Hawa ini. Bukankah dengan kesediaan merawat alam, manusia juga akan mendapatkan banyak manfaat. Bambu, misalnya, bisa memberikan banyak manfaat untuk kehidupan seperti menjaga sumber air menjadi bahan pembuatan rumah dan wadah-wadah makanan. Dalam lingkup kecil, OWJ memang berusaha mengajak-kembali warga thethelan—warga tepi hutan—untuk menanam tanaman keras yang diharapkan bisa memberikan kemanfaatan ekologis, tanpa melarang mereka untuk menanam tanaman komersil sebagai penyambung hidup. Namun, dalam lingkup luas, tampilan OWJ sebenarnya ditujukan kepada umat manusia di seluruh Indonesia dan planet bumi, bahwa gerakan ekologis yang memberikan manfaat kepala alam dan manusia merupakan tanggung jawab bersama. Tidak boleh hanya dibebankan kepada warga thethelan.

Share This:

About Ikwan Setiawan 148 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*