Minak Jinggo dan Sri Tanjung: Fiksi yang mengkastrasi

GHANESYA HARI MURTI

 

Download artikel versi PDF

Abstrak

Sastra lisan Sri Tanjung dan kisah Minak Jinggoyang secara fiksional tidak dapat dianggap remeh stastusnya dalam upaya konstruksi mentalitas masyarakat banyuwangi. Fiksi yang bercerita tentang tunduknya kerajaan Blambangan dan juga dosa tak tertebus seorang patih pada seorang perempuan nyatanya terus diproduksi demi mengkeberi (castration) sejarah kejayaan Blambangan sebagai kerajaan yang sulit ditaklukkan sekaligus menanguhkan semangat maskulinitas para kesatria dan lelaki Blambangan sebagai lelaki yang buruk dimata perempuan terhormat serupa Sri Tanjung. Narasi kekalahan tersebut hidup dalam benak masyarakat bahkan terus didiskursifkan melalui nama jalan dan kereta api yang merupakan upaya konstruksi sosial. Fiksi menjadi instrument yang kuat karena menyentuh afeksi dan bukan kognisi. Dalam fiksi, rigoritas dan konsep waktu hilang menjadi narasi yang melenturkan segala ketatnya disiplin teoritis yang rigoris nan akademis, dan justru hal tersebut menjadi kekuatan yang secara implisit membangun nilai dan cara hidup tanpa harus ada citra menggurui yang justru menghadirkan resistensi. Minak Jinggo yang perkasa dan Sri Tanjung adalah fiksi yang terus menjadi imajinasi dan juga memperngaruhi realitas karena fiksi tersebut memberikan disrupsi pada fakta sejarah tentang bagaimana secara politis kejayaan Blambangan sebagai penanda kuat (master signifier) harus dikonstruksi ulang agar mampu dijinakkan dan ditundukkan secara kultural.

 Minak Jinggo dan Sri Tanjung, Fiksi yang diyakini

Literature is not innocent. It is guilty and should admit itself so. Action alone has its rights, its prerogatives. I wanted  to prove that literature is a return to childhood. But has the childhood that governs it a truth of its own? (Bataille, 2012:6)

Kisah fiksi dalam sastra lisan bukanlah bebas nilai dan netral tapi ada permainan kekuasaan yang hendak didaraskan. Dalam fiksi, khususnya sastra lisan yang dituturkan secara turun temurun membentuk kebenarannya sendiri yang secara implisit membentuk cara pandang akan suatu peristiwa.

Minak Jinggo 3

Epos Damarwulan versus Minak jingo menjadi pengingat bahwa dalam pertarungan yang akhirnya menggugurkan seorang Raja digdaya sekelas Minak Jinggo, hanya membutuhkan seorang permuda beridentitas pekathik atau penjaga kuda. Kelihaian dan kelicikan pun dapat ditempuh dengan cara menyuruh dua selir Dewi Sahita dan Dewi Puyengan mencuri pusaka gada wesi kuning saat Minakjingga terlelap[1] karena tak mungkin Damarwulan mampu menang duel secara jantan dengan Minak Jinggo, Raja Blambangan yang terkenal mampu mengalahkan Kebo Mancuet. Minak Jinggo yang seharusnya mampu menjadi Raja Majapahit justru ditolak hanya karena wajahnya tak lagi rupawan setelah perkelahian demi sayembara yang sebenarnya dikhianti oleh pembuatnya sendiri yaitu Ratu Kencana Wungu dari Majapahit[2]. Dalam epos tersebut betapa sikap pengecut dan nir-kesatria ditunjukkan hanya demi meluluskan hasrat kekuasaan. Minak Jinggo melawan dengan seluruh jiwa kesatria ketika berhadapan dengan Kebo Mancet, namun Damarwulan dengan sikap yang justru sebaliknya tiba pada destinasinya yaitu menikahi Ratu Kencana Wungu dengan membawa bukti penggalan kepala Minak Jinggo[3] yang hingga hari ini dipercaya menjadi fondasi pada petilasan bangunan trowulan. Fiksi itu hidup dan menjadi semacam cara untuk tetap menjaga gairah masyarakat jawa dalam mereproduksi kebanggaan dirinya namun dan dalam satu sisi menjinakkan gerak heroik Blambangan.

Dalam cerita yang lain, seperti kisah-kisah cerita rakyat pada umumnya yang menjadi legitimasi asal usul sebuah nama, maka Sri Tanjung perlu dijadikan fiksi yang turut punya andil dalam perubahan nama Blambangan menjadi banyuwangi. Sri Tanjung berkisah tentang bagaimana kontestasi maskulinitas dua pria berkuasa yaitu raja Prabu Sulahkromo dan Patihnya Sidopekso yang terbakar cemburu karena fitnah yang ditimpakan pada Sri Tanjung istrinya. Kontestasi maskulinitas bagi seorang raja yang ditolak oleh bawahannya dan patih yang merasa kehilangan harga diri karena tidak bisa mendidik istrinya berujung terbunuhnya Sri Tanjung oleh suaminya sendiri. Namun dalam sumpah kesuciannya Sri Tanjung memberikan bukti kesuciannya dengan merubah wangi sungai yang semula busuk bisa berubah wangi ketika jasadnya dibuang ke dalamnya[4]. Secara samar-samar dapat dipastikan seorang raja bisa saja mengambil selir atua perempuan cantik diseluruh negeri karena kekuasaannya namun nyatanya hasrat maskulinitas dirinya untuk menundukkan Sri Tanjung lebih besar. Sri Tanjung yang mampu meresistensi kehendak raja tidak hanya dianggap “mbalelo” tapi lebih dari itu dia tunduk pada suaminya yang nyatanya adalah bawahannya yang setia membuat kehendak untuk memiliki Sri Tanjung semakin besar. Resultan dari hasrat Raja yang juga ingin memiliki Sri Tanjung layaknya Sidopekso berbuah violence yang bagi Girard dianalogikan sebagai hasrat mimetic yang memicu kekerasan (Girard,1979:31) dan korbannya, sacrifice, adalah seorang perempuan. Sri Tanjung adalah perempuan ideal yang pantas diperebutkan, sehingga dia pantas dikehendaki, dan layak untuk dijadikan contoh yang ditiru bahkan dikompetisikan demi memenuhi defisit hasrat maskulin raja.

The mimetic aspects of desire must correspond to a primary impulse of most living creatures, exacerbated in man to the point where only cultural constraints can channel it in constructive directions. Man cannot respond to that universal human injunction, ”Imitate me! ” (Girard, 1979:147)

Sri Tanjung menjadi penanda buruknya dua pria yang berkuasa pada dirinya sehingga akan dicatat dalam sejarah ada peristiwa fiksi dalam asal usul terbentuknya Banyuwangi yaitu dua pria yang berdosa pada seorang perempuan demi memenuhi hasrat maskulinnya. Cinta pada analogi Girard hanya bisa dimunculkan jika ada competitor yang hasratnya ditiru “In love, our successful rival, that is our enemy, is our benefactor…If we had no rivals, if we were to believe there were none … For it is not necessary for them really to exist. The snob is also an imitator. He slavishly copies the person whose birth, fortune, or stylishness he envies” (Girard, 1965:24). Struktur dasar, subject-medium-object, yang tak lain adalah raja, patih dan Sri Tanjung inilah yang menjadikan cinta pada Sri Tanjung menjadi teramat pelik dan patut diperebutkan.

Image result for KIsah Sri Tanjung

Dapat dipastikan dua cerita diatas yaitu Minak Jinggo dan Sri Tanjung menjadi penting posisinya dalam benak masyarakat banyuwangi dan sekitarnya karena adanya kedekatan homologis[5] yaitu kesatuan antara realitas yang ada dengan bangunan fiksi yang dinarasikan dalam cerita sebagai bentuk nilai-nilai yang dibatinkan pada terciptanya struktur sosial. Tegangan antara fiksi dan realitas dalam karya sastra semakin cair, kendati dalam sastra lisan masyarakat fiktif yang digambarkannya adalah rekaan, nyatanya dunia sosial yang dialami juga merupakan rekaan karena masyrakat sosial yang dialami sehari juga terlibat dari struktur rekaan nan imajinatif yang menjalankan segala bentuk tatanan sosial yang seolah otomatis (Faruk, 2010:51). Struktur imajinatif bisa saja feodalisme, patriarki dan segala tatanan yang melegitimasi tindakan sosial yang terangkum apik dalam karya sastra.

Relasi aktansial sekaligus sintakmaitis yang dibangun oleh dua cerita diatas juga bisa membuktikan betapa struktur dasar yang salaing beroposisi bisa membuktikan bahwa kisah tersebut adalah dua narasi kekalahan yang secara implicit ditanamkan dalam cerita. Aktan yang dimaksud dapat disinopsis menjadi gerak actor untuk mendapatkan reward karena ada social contract yang dipatuhi “actantial grammar bypasses this important component of ‘trading in the future’ which clinches the contract and later becomes an exchange of social and pragmatic rewards” (Budniakiewicz, 1992:123). Subject dalam cerita hanya dapat jika dia bersusah payah untuk melawan atau menjalan legal system “the legal subject who can serve as the agent of a story militating against or on behalf of a legal system” (Budniakiewicz, 1992:24) demi mendapatkan reward.

Jika definisi Greimas yang dipakai untuk memutuskan subject dalam cerita maka dapat dipastikan Damarwulan adalah subject yang mendapat reward karena berhasil mengalahkan Minak Jinggo sehingga mampu mengaktifkan ulang memori kejayaan Majapahit dan melakukan delegitmasi kejayaan Blambangan beserta keturunannya dengan bukti dipenggalnya kepala Raja maka tidak ada lagi suksesor di masa depan. Blambangan kehilangan penerus karena legal system monarkhi hanya mensyaratkan hanya keturnan raja yang mampu menjadi raja. Kambing hitam dalam cerita tersebut adalah perempuan yang tak lain adalah Kencana Wungu dimana perempuan kembali dikuatkan stigma buruknya, bahwa pemimpin perempuan adalah ingkar tidak bisa menepati janjinya sehingga dia harus dipimpin oleh lelaki ksatria. Pada hemat Sri Tanjung, Sidopekso adalah subject karena dia dimanipulasi oleh sender yaitu Raja yang mengutus dirinya keluar istana sekaligus memfitnah istrinya. Kisah Sri Tanjung baru bergerak jika ada Sidopekso yang harus menerima beban rasa bersalah yang tak tertebus hingga akhir hayatnya.

Narasi kekalahan: Fiksi yang mengkastrasi imajinasi sosial

Castration means that jouissance must be refused, so that it can be reached on the inverted ladder (l’échelle renversée) of the Law of desire.  I won’t go any further here. (Lacan, 2001:241)

Kastrasi adalah istilah Lacan untuk menunjukkan bahwa kenikamtan, pleasure (jouissance), harus berjalan mengikuti kode kebudayaan tertentu atau hukum dimana hasrat seseorang harus patuh pada hukum hasrat yang seharusnya sudah ditentukan. Kastrasi bekerja dalam gerak kebudayaan sebagai kode sosial ataupun syarat hidup agar hasrat bisa dikendalikan. Seorang pria jawa merasa bahagia apabila menikahi perempuan arab tapi hasrat itu harus disembelih karena prasyarat untuk menikahi gadis arab adalah juga dari keturuanan yang sama. Seorang anggota militer tidak bisa masuk dalam sistem partai karena syarat untuk masuk dalam sistem partai adalah dengan meninggalkan segala kebanggaan militer. Karya sastra yang bersifat fiksi juga memiliki fungsi kastrasi karena sastra mendiskursifkan nilai–nilai secara implisit dalam narasinya yang kemudian sangat mungkin diterjemahakan sebagai syarat hidup yang ideal sebagai instrument untuk mendisiplinkan hasrat pembacanya sebagai sebuah pengetahuan atau yang Lacan sebut sebagai university discourse.

Lacan menganggap wacana universitas adalah wacana kepanajangan untuk melayanai kepentingan tertentu yang dominan yang dibahasakan sebagai tuan, ”the university discourse providing a sort of legitimation or rationalization of the master’s will” (Lacan dalam Fink, 1995:132). Hal ini ynag memungkinkan bahwa rasio yang dipakai dalam upaya legitimasi penundukan Blambangan atas Majapahit sangat mungkin dipraktikan melalui sastra lisan sebagai soft power. Pada bagian ini penjelasan Kant tentang reason menjadi penting dan analog dengan lahirnya fiksi Minak Jinggo dan Sri Tanjung, karena bangun rasio didalam teks berfungsi sebagai private use of reason dimana rasio digunakan demi melegitimasi tindakan keliru nan sektarian bagi golongan tertentu (Hardiman, 2010:8).

Related image

Dapat dipastikan pesan pengetahuan yang dapat disimpulkan dari Minak Jinggo sebagai seorang raja adalah raja yang mudah dikalahkan oleh seorang pemuda kelas bawah dari Majapahit. Hal ini bisa diciptakan sekaligus dibatinkan. Hadirnya Damarwulan menunjukkan bahwa sebenarnya mudah saja bagi Majapahit mengalahkan Minak Jinggo, cukup satu pemuda pekathik kuda dari majapahit dan bukan bala tentara yang banyak jumlahnya untuk memenggal kepala raja. Pengetahuan lain yang hendak diproduksi lainnya adalah tidak mungkin adanya tindakan subversi dikemudian hari dari rakyat Blambangan karena sistem trah generasi raja telah diputus. Semangat monarkhi dengan begitu telah diberangus dan ditundukkan.

Pada kisah Sri Tanjung wacana universitas yang dapat dirangkum adalah tidak berdayanya perempuan dan betapa lalimnya dua pria yang tidak hanya memperebutkannya bahkan rela membunuhnya. Beban dosa lelaki yang tidak bisa ditebus terus diingat dan dirawat dalam kisah Sri Tanjung agar semangat maskulin Blambangan benar – benar diputus. Pesan pengetahuan yang lain adalah akan dicatat dan dirawat dalam imaji sosial bahwa begitu kelam riwayat kerajaan yang sibuk memperebutkan dan mengorbankan perempuan dan bukan malah sebaliknya.

Seluruh akumulasi pengetahuan tersebut menjadi master discourse yang dibatinkan “as long as everything works, as long as his or her power is maintained or grows, all is well” (Lacan dalam Fink, 1995:131). Dapat disimpulkan bahwa penanda tuan dalam master discourse adalah narasi kekalahan Blambangan sekaligus lenyapnya maskulinitas seorang bangsawan karena berebut perempuan idaman. Penanda tuan itu hinggap dalam masyarakat dan menjadi sebuah pengetahuan yang terus menerus dibatinkan untuk memastikan tidak akan adal lagi semangat agency yang muncul dari masyarakat. Kebanggaan menjadi warga blamabngan yang harusnya menjadi jouissance/ penanda kenikmatan justru diganti atau secara ekstrem dikastrasi secara neurotic menjadi kode kenikmatan/ jouissance yang harus sesuai dengan penanda tuan sehingga Lacan menyebutkan “what the neurotic does not want, and what he strenuously refuses to do, until the end of the analysis, is to sacrifice his castration to the jouissance of the Other by allowing it to serve that jouissance” (Lacan, 2001:247). Kekalahan dan maskulinitas yang tertawan menjadi narasi kunci untuk menjinakkan Blambangan dan melahirkan Banyuwangi.

Jejak pikiran itu dari dulu hingga sekarang terus diciptakan dengan cara membangun monument dan bangunan berdasarkan referensi fiksi yang sangat sulit melahirkan kritisisme.

In early 1979, the name Sri Tanjung was carried by a street in the town centre, a coconut grove, a secondary school, and a local sports trophy (Sakim 1979). There is a “Radio Sri Tanjung” as well, and the regional government named two ships it acquired in 2001 and 2002 for the Java–Bali ferry connection “Princess Sri Tanjung” (Putri Sri Tanjung) I and II. Many more examples could be cited.  Regional identity is visualized in public space as well, leading to further thematization of ethnolinguistic and historical identity in the ambience of Banyuwangi.(Arps, 2009:6)

Tidak hanya berhenti pada Sri Tanjung sebagai kisah belaka, segala bentuk monument ingatan itu juga dikonservasi pada monument sebagai cara mengganti identitas historis masyarakat Banyuwangi. Pada Minak Jinggo gelar hero diberikan namun nyatanya narasi hero yang kalah bukannya ditampikkan. Secara fakta Minak Jinggo memang pahlawan digambarkan dengan patung yang dibagun pada tahun 2002 untuk menunjukkan perlawanan pada dominasi jawa (Arps, 2009:7) namun semua yang pernah mendengar kisahnya sudah pasti paham bagaimana ending cerita dari pahlawan mereka tersebut.

Related image

Bukannya tidak ada negosiasi untuk memunculkan wacana histeris sebagai upaya menyingkap hilangnya sejarah, “the hysteric pushes … the master’s knowledge lacking…Hysterics, like good scientists, do not set out to desperately explain everything with the knowledge they already have” (Lacan dalam Fink,1995:134). Namun fakta sejarah bahwa Blambangan yang pernah teramat getol melawan 10 ribu personil pasukan imperialis Belanda dalam Puputan Bayu hilang, kendati dalam sejarah dituliskan prajurit Blambangan mampu melawan tentara yang dilengkapi senjata canggih hingga Belanda mengalami kerugian sampai menghabiskan 8 ton emas hanya demi untuk biaya perang dan menangklukkan Blambangan[6]. Nyatanya fakta kejayaan sejarah itu hilang dari angan publik da justru diganti dengan monument Minak Jinggo dan Sri Tanjung. Jadi apa yang disebut kenikmatan untuk mengaktifkan jouissance sebagai semangat primordial pun dibunuh dan diganti dengan sistem penanda kosong melalui daya fiksi yang secara diskursif lebih efektif. Sehinga akan terlihat paradoks ingatan antara epos damarwulan dan sengitnya perang puputan bayu sebagai fakta sejarah. Demi merajut ingatan sekaligus resistansi, maka proses menandai diri menjadi penting.  Masyarakat banyuwangi pada dulunya menegaskan dirinya sebagai masyarakat wetanan sebagai oposisi dari masyarakat jawa kulonan atau barat, kendati akhirnya proses penolakan tersebut justru mereproduksi penanda baru yaitu Osing karena setiap hendak dilabeli bagian dari jawa pada umunya mereka mengatakan Osing pada masyrakat luar yang artinya tidak (Arps, 2009:9). Sebagai sebauh wacana histeris yaitu menolak dominasi wacana tuan (master discourse) kata Osing adalah proses menentang kuasa simbolik penanda tuan sekaligus upaya mengidentifikasi ulang diri dalam bentuk wacana analis. Wacana analis dan histeris berjalin kelindan sebagai upaya menentan adanya bentuk dominasi (Lacan dalam Fink, 1995:133-4) dalam konteks penundukan budaya namun akhirnya justru memunculkan identitas penanda baru yaitu masyarakat Osing yang tentunya memerlukan perjalanan panjang secara histori-kultural agar diterima. Secara psikonalisis pada masa itu masyarakat Banyuwangi mengalami apa yang disebut Lacan sebagai psikosis yaitu menolak untuk ditundukkan (Lacan, 2001:215)

Epilog

Seluruh narasi yang dibangun oleh fiksi Minak Jinggo dan Sri Tanjung, nyatanya, tidak bisa dianggap remeh dalam pengaruh laju perkembangan kebudayaan masyaralat Banyuwangi dan juga dinamika pertumbuhan peradabannya. Suasana sendu tentu narasi kekalahan pahlawan Minak Jinggo dan juga beban dosa bangsawan telah meninggalkan distrust atau ketidakpercayaan pada romantisme sejarah Blambangan yang teramat besar sebagai fakta sejarah. Narasi kekuatan Blambangan yang mampu membuat belanda merugi besar ketika harus berperang ternyata batal menjadi ingatan karena gairah masa lalu tersebut dikubur pada monument Minak Jinggo yang kalah dengan pemuda penjaga kuda Damarwulan. Lebih lebih lagi ada semacam ketidakpercayaan pada bangsawan dimasa lalu yang arif dalam memimpin rakyatnya karena nyatanya justru melahirkan kejahatan pada seorang perempuan yang teramat setia. Luka ingatan yang dibenamkan dan didaraskan sebagai dongeng itu nyatanya lebih efektif melahirkan realitas dalam masyarakat dalam bentuk nama jalan atau kereta api yang berjalan melingkar menuju ke Banyuwangi. Fiksi yang menjadi imaji sosial nyatanya perlu dilacak dimana retak sejarahnya dan apa yang hendak disampaikannya, tidak hanya demi memahami diri dan sejarah lebih baik tapi juga untuk menunjukkan di mana semangat agency bisa dihidupkan. Menguji kebenaran sejarah Blambangan sebagai master signifier dalam berbagai fiksi yang beredar dalam benak masyarakat tidak hanya membutuhkan kecerdasan teoritis-historis tapi juga kecerdasan ethis dimana penikmatnya bisa melihat siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dalam bangun rasionalitas fiksi yang dibatinkan tiap harinya. Pertanyaannya adalah apakah Banyuwangi bisa menemukan ulang master signifier nya dalam fiksi lainnya?

* Makalah disampaikan dalam Sekolah Kritik Budaya Angkatan Kedua “Fokus Banyuwangi” yang diselenggarakan oleh Matatimoer Institute, 14 April 2018, di Sanggar “Angklung Soren”, Banjarsari, Banyuwangi

Catatan akhir

[1]“Damarwulan dan Minakjinggo, Sebuah Pembohongan Sejarah”,  https://kumparan.com/munawir/damarwulan-dan-minakjinggo-sebuah-pembohongan-sejarah diakses pada 4/10/2018

[2] “Damarwulan dan Minakjinggo”,  http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/268-Damarwulan-dan-Minakjingga, diakses pada 4/10/2018 .

[3] “Kisah Tragis Minak Jinggo Tewas Dipenggal”, https://www.viva.co.id/berita/nasional/671075-kisah-tragis-minak-jinggo-tewas-dipenggal diakses pada 4/10/2018.

[4] “Sejarah Singkat”, https://www.banyuwangikab.go.id/profil/sejarah-singkat.html diakses pada 4/10/2018.

[5] Homologi adalah konsep Lucien Goldman yang percaya bahwa pada dasarnya karya sastra dan struktur masyarakat adalah produk dari strukturasi yang sama. Persamaan ini hadir bukan sebagai bentuk refleksi atau substansi tetapi strukturasi, pandangan konsep homologi ini dapat dilacak lebih lanjut dalam Faruk, Pengantar Sosiologi Sastra 2010, Yogyakarta; Pustaka Pelajar hal 64-5

[6] “Puputan Bayu, Perang Habis-habisan Blambangan vs Belanda”, https://tirto.id/puputan-bayu-perang-habis-habisan-blambangan-vs-belanda-cBSX diakses pada 4/10/2018

Daftar bacaan

Bataille, Georges. 2012. Literature and Evil. Penguin Books

Budniakiewicz, Therese. 1992. Fundamentals of Story Logic. Philadelphia: John Benjamins Publishing Company

Girard, Rene. 1965. Deceit, Desire and The Novel. Baltimore London:The Jhon Hopkins Paperbacks

Girard, Rene. 1979. Violence and The Sacred. Baltimore London:The Jhon Hopkins Paperbacks

Faruk, HT. 2010. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta. Pustaka Pelajar

Fink, Bruce. 1995. The Lacanian Subject: Between Language and Jouissance. Princeton: Princeton University Press

Hardiman, Budi.2010. Ruang Publik. Yogyakarta: Kanisius

Lacan, Jacques.  2001. Ecrits, A Selection. London: Routledge

Jurnal

Arps, Bernards.2009. “Osing Kids and the banners of Blambangan. Ethnolinguistic identity and the regional past as ambient themes in an East Javanese town”. Dalam Wacana, Vol. 11 No. 1 (April): 1—38.

Share This:

About Ghanesya Murti 9 Articles
Peneliti di Matatimoer Institute yang mendalami isu-isu psikoanalisis dalam bidang kebudayaan. Juga, mengajar sebagai dosen kontrak di Politeknik Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*