Menyemai gerakan ekologis berbasis budaya: Catatan dari Bhakti Bumi Gunung Mayang 2018

IKWAN SETIAWAN

 

Download artikel versi PDF

Untuk kedua kalinya, masyarakat thethelan bersama Dewan Kesenian Jember (DeKaje), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, dan Pemerintah Desa Suco, sukses menyelenggarakan BHAKTI BUMI GUNUNG MAYANG (BBGM). Tahun ini, BBGM yang juga menjadi peringatan Hari Bumi ini diselenggarakan 21-22 April 2018. Bukan acara mewah, bukan pula acara yang “di-mewah-kan”. Artinya, pihak penyelenggara yang mayoritas berasal dari warga thethelan didampingi pengurus DeKaJe, Pemerintah Desa Suco, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa memang tidak menjanjikan dan menghadirkan gebyar pertunjukan atau ritual yang mempesona. Konsep yang diusung pihak penyelenggara adalah menghadirkan gelaran multidimensi yang bertujuan mengharmoniskan aktivitas kebudayaan dengan kesadaran ekologis. BBGM bertujuan memunculkan dan memperkuat kembali kesadaran ekologis masyarakat di kawasan hutan akan pentingnya kelestarian lingkungan melalui aktivitas kebudayaan yang menyenangkan. Dari gelaran ini diharapkan masyarakat, perangkat desa, dan pihak-pihak terkait akan menemukan-kembali spirit keharmonisan untuk selalu merawat alam di tengah-tengah aktivitas pertanian yang mereka lakoni. Dengan tujuan tersebut, acara ini diharapkan bisa menyemai gerakan eko-kultural yang melibatkan pihak-pihak lintas-sektoral demi mewujudkan lingkungan hutan yang lebih baik dan mensejahterakan masyarakat.

Mengatasi pesimisme

Sebagai sebuah cita-cita ideal, banyak pihak yang meragukan efektifitas BBGM sebagai bagian dari gerakan ekologis berbasis budaya. Alasannya adalah kebiasaan bertani warga thethelan  yang menanam palawija (jagung, kedelai, dan yang lain) susah untuk diubah karena berkaitan dengan kebutuhan hidup. Tanaman palawija jelas tidak berkontribusi kepada usaha konservasi lingkungan hutan. Masalahnya, warga thethelan juga terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidup, sehingga tanaman palawija menjadi orientasi dalam bertani karena waktu menuju panen yang tidak terlalu lama.

IMG_20180422_200953_743

Paradigma konservasi yang memosisikan warga sebagai subjek yang bersalah karena bercocok tanam tanaman komersil dalam konteks perhutanan yang dikuasai perusahaan memang problematis. Di satu sisi, semakin tidak adanya ruang hidup untuk pohon-pohon penahan dan penyimpan air, seperti beringin, bendo, dan kemiri jelas akan memperparah tingkat bahaya lahan di wilayah Gunung Mayang. Salah satu yang sangat terasa adalah berkurangnya secara drastis sumber air, meskipun di Bukit Watu Jubang masih cukup besar. Penanda yang sangat kentara adalah keringnya sungai-sungai kecil yang pada era 80-an hingga 90-an masih dialiri air ketika musim kemarau; tidak seperti sekarang di mana air keruh bercampur tanah mengalir hanya ketika musim hujan. Selain itu, kondisi minimnya tanaman tegakan juga bisa berakibat fatal kepada ancaman longsor dan banjir ketika intensitas hujan tinggi. Di sisi lain, warga thethelan yang sudah lama berada dalam lingkaran kuasa Perhutani juga ingin survive dengan berbagai macam cara, termasuk bercocok tanam palawija yang relatif cepat menghasilkan uang. Mereka yang dulunya mendapatkan akses terbatas untuk menggarap wilayah pinggir hutan, juga ingin memperluas akses sehingga keuntungan finansial yang lebih banyak bisa mereka dapatkan. Pasca Reformasi, pembentukan LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) diidealisasi sebagai langkah konkrit yang menghubungkan para petani penggarap dengan Perhutani. Para petani diperkenankan menggarap lahan yang sudah ditentukan dengan kewajiban ikut menjaga tanaman pohon yang ditanam Perhutani. Namun, dalam praktiknya, tidak semudah membalik tangan. Palawija tentu tidak baik ditanam di bawah pohon yang akan menghalangi sinar matahari. Itulah mengapa tanaman tegakan tidak dominan di area Watu Jubang, Suco, Mumbulsari.

Dengan realitas seperti di atas, melaksanakan agenda-agenda dalam BBGM di wilayah warga thethelan bukanlah pekerjaan mudah. Tantangannya bukan berasal dari luar, tetapi dari tradisi masyarakat yang sudah terbiasa dengan tanaman komersil palawija. Tradisi ini tentu saja membentuk pola pikir dan tindakan bercocok tanam yang kurang—atau, bahkan, tidak—menyenangi ajakan untuk menanam pohon. Pada BBGM 2017, penanaman pohon tidak membuahkan hasil karena warga masih berpandangan pohon sebagai penghambat utama bagi palawija. Itulah yang menjadikan panitia kecil dari DeKaJe yang mengawal pelaksanaan BBGM 2018, harus melakukan social mapping dan cultural observation secara hati-hati karena berkaitan dengan isu sensitif kehidupan warga thethelan.

BBGM 9

Social mapping penting dilakukan guna mengetahui aktor-aktor sosial di wilayah thethelan yang memiliki peran dan pengaruh penting dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam hal pertanian di wilayah Perhutani. Beberapa tokoh penting berhasil diajak ngobrol tentang BBGM 2018. Tentu saja, tim kecil DeKaJe bersama Kepala Desa tidak langsung mengajak mereka berbincang dalam suasana formal, melainkan suasana santai sambil bercanda, baik di rumah mereka ataupun di gubuk di dekat ladang. Observasi partisipatoris ini mulai memunculkan kepercayaan dari para tokoh terhadap kegiatan BBGM yang salah satu menu wajibnya adalah penanaman pohon. Selain membincang soal desain acara, model area pertunjukan, perbincangan juga membahas pertimbangan nilai komersil tanaman pohon. Kesepatakannya, tim kecil mengajukan 14 ribu bibit sengon laut, durian, dan beberapa jenis tanaman lain. Poponk, pengurus DeKaJe, asli Mumbulsari, diberikan amanah untuk mengurus segala keperluan terkait pengajuan bibit. Sementara, Pak Antok, Pak Hendi, Pak Fathor, dan beberapa tokoh lain diberikan kepercayaan untuk menyiapkan keperluan-keperluan acara serta sosialisasi ke warga.

Beberapa kali pertemuan diadakan di rumah salah satu warga thethelan. Pilihan ini merupakan strategi untuk semakin mengakrabkan tim kecil dengan warga, sehingga akan muncul rasa saling mempercayai. Selain itu, pertemuan-pertemuan dalam suasana santai sambil menikmati kopi, teh, dan pisang goreng, akan menjadikan posisi warga bukan sebagai objek, tetapi subjek yang juga berhak bersuara dalam kerja-kerja manajerial untuk menyiapkan acara. Sudah bukan saatnya lagi, orang-orang dari kota membawa desain acara yang sulit dipahami warga desa. Usulan-usulan tentang model pertunjukan publik, gunungan hasil bumi, hingga desain area acara dibahas bersama-sama. Permasalahan-permasalahan terkait keterbatasan dana pun mengalir dalam perbincangan bersama warga. Kesiapan dan kesediaan Taufik, Kepala Desa Suco, untuk ikut membantu dalam urusan pendanaan cukup membuat panitia lega, karena memang sedari awal DeKaJe tidak mempuyai akses pendanaan.

Beberapa aspek yang membutuhkan dana lumayan adalah sewa lahan untuk acara, kebutuhan bambu, konsumsi, dan sound system. Bantuan dana dari Pemerintah Desa Suco dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sementara, untuk konsumsi, DeKaJe meminta kepada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa untuk menyediakan. Ketercukupan kebutuhan dana  membuat panitia bersama semakin bersemangat untuk menyukseskan BBGM 2018. Meskipun tidak mengusung konsep dan desain acara yang glamour, panitia tetap berusaha sebisa mungkin untuk menghadirkan sesuatu yang bersifat kultural yang bisa mengumpulkan massa, sehingga hajatan ini bisa memberikan dampak positif untuk warga thethelan, khususnya terkait kesadaran untuk ikut merawat lingkungan hutan.

Menghadirkan budaya dalam kerja ekologis

Sepertihalnya BBGM 2017, gelaran ini juga tetap menghadirkan atraksi-atraksi kultural yang menyampaikan pesan khusus kepada publik penonton, baik warga thethelan maupun warga desa lain di Kecamatan Mumbulsari. Prinsip pertama yang diambil panitia bersama adalah memaksimalkan potensi kultural yang ada di Mumbulsari, baik yang berkembang di kalangan pelajar maupun kalangan warga. Setelah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, maka untuk pertunjukan publik pada 22 April 2018 akan ditampilkan pelepasan burung merpati dari paguyuban pecinta merpati Mumbulsari, musik hadrah dari warga, atraksi Can-Macanan Kaduk, Opera Watu Jubang dari SMP Negeri 1 Mumbulsari, atraksi pencak silat dari PSHT. Tidak lupa sebagai pembuka acara dihadirkan gunungan hasil bumi.

BBGM 6

Musik hadrah yang digawangi kaum muda Suco menghadirkan sholawatan untuk mengundang para warga dan memulai acara. Sholawatan merupakan tradisi Muslim Madura yang berisi puji-pujian dan doa kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sebagai utusan yang mengabarkan kebaikan dan keadilan kepada umat manusia di seluruh muka bumi. Nabi Muhammad SAW juga banyak memberikan tauladan bagaimana manusia semestinya membangun hubungan harmonis dengan alam. Keselamatan yang akan diperoleh umatnya bersifat komprehensif. Artinya, umat Muslim juga harus memperhatikan keselamatan lingkungan apabila mereka hendak meminta syafa’at dari Kanjeng Nabi. Tentu saja, tafsir ini merupakan hasil pembacaan ideal-relasional yang disesuaikan dengan konteks penyelenggaraan acara. Bisa jadi, warga tidak akan berpikir sejauh itu. Namun, suara sholawatan, paling tidak, memanggil mereka untuk berduyun-duyun datang ke lokasi BBGM 2018 agar mereka bisa menerima pesan ekologis acara ini.

Pelepasan merpati meskipun tujuannya bersifat menghibur warga, meramaikan acara, dan memromosikan tradisi merawat binatang kesayangan warga Madura di Jember, juga bisa dibaca secara kontekstual. Merpati adalah burung yang memiliki sifat setia kepada pemeliharanya. Mereka akan selalu berusaha pulang ke kandang, meskipun di lepas untuk keperluan lomba tota’an dara. Kesetiaan ini menunjukkan bahwa si empunya mampu melakukan aktivitas-aktivitas pemeliharaan dan pelatihan sehingga burung merpati bisa memiliki kedekatan dengan mereka. Maka, semestinya bisa dikomparasikan untuk kesetiaan manusia dalam memelihara kawasan hutan yang berfungsi sebagai wilayah konservasi. Dengan kesetiaan itulah warga thethelan tidak akan kebingungan akan sumber air di musim kemarau. Para generasi penerus juga akan bisa terus menanam lahan yang disediakan Perhutani dalam skema Perhutanan Sosial karena kesuburan dan ketersediaan air masih terjamin. Sekali lagi, tafsir ini bisa bermakna demikian karena dikaitkan dengan konteks dan tujuan BBGM 2018.

BBGM 7

Kedatangan dua Can-macanan Kaduk merupakan representasi binatang-binatang liar yang semestinya bisa hidup di kawasan hutan, tetapi karena ekspansi rakus manusia dengan bermacam kepentingan menggusur ruang hidup mereka. Banyak kasus di Sumatra, misalnya, menunjukkan betapa ada krisis ruang hidup binatang liar seperti harimau semakin terancam akibat ekspansi perusahaan perkebunan. Akibatnya, harimau sering masuk ke wilayah perkebunan dan pemukiman warga. Dan, tragisnya, binatan-binatang itu seringkali diwacanakan mengganggu dan mengancam, padahal para pemodal perkebunanlah yang menggusur mereka, sehingga perlahan-lahan habitat dan jumlah mereka semakin terbatas. Sama seperti harimau Jawa yang sudah dianggap punah di wilayah Jember Selatan. Kehadiran Can-Macanan Kaduk, paling tidak, bisa memberikan gambaran bahwa apa-apa yang dilakukan manusia menguasai hutan adalah tindakan ekspansionis yang bisa menimbulkan kepunahan makhluk-makhluk lain yang semestinya punya hak untuk hidup. Para seniman dari PUTRA HARAPAN, Pakusari, menyuguhkan dua macan-macanan yang ‘memakan’ manusia karena tindakan rakusnya. Adegan ini sekaligus memberikan sinyal, bahwa keliaran alam bisa memberikan ancaman tersendiri bagi kehidupan manusia.

Kehadiran ratusan anggota PSHT yang menghadirkan atraksi-atraksi kekuatan di luar nalar manusia juga bisa dibaca secara kontekstual. Beberapa anggota PSHT, baik laki-laki maupun perempuan, menunjukkan kekuatan fisik yang luar biasa. Kepala mereka dihantam tumpukan genting, gentingnya yang pecah. Begitupula ketika kepala mereka menghancurkan bata putih yang terkenal kuat. Semua itu tidak lepas dari ketekunan mereka dalam berlatih dan memanjatkan doa kepada Tuhan Sang Penguasa Semesta. Kekuatan adikodrati nyata ada dan Tuhan telah mengirimkan banyak tanda. Termasuk kekuatan dahsyat yang dimiliki oleh alam. Masalahnya, manusia seringkali mengabaikannya. Maka, manusia perlu kembali berlatih untuk bisa terhubung dengan kekuatan-kekuatan alam yang bisa menghadirkan energi positif buat kehidupan mereka.

BBGM 5

Kalau ditilik secara tematik, Opera Watu Jubang-lah yang didesain khusus untuk menghadirkan pesan-pesan ekologis kepada publik yang hadir. Pertunjukan yang menggabungkan tarian, gerak teatrikal, dan komposisi musik memang ditujukan untuk pertunjukan publik berdimensi ekologis. Sajian yang disutradari, Jenny, guru Bahasa Inggris SMPN 1 Mumbulsari ini, menampilkan puluhan siswa perempuan yang menari sembari bercanda di pinggir hutan Watu Jubang, tempat pelaksanaan acara. Selain itu, ada juga fragmen pohon-pohon yang mulai ditebangi manusia, sehingga alam mulai terguncang. Manusia bingung akibat bencana yang datang bertubi-tubi. Kerakusan dan hasrat ekspansionis manusia adalah biang-keladi dari bermacam bencana yang diakibatkan rusaknya lingkungan. Dewi Hutan lalu mengutus beberapa bidadari untuk mengirimkan benih kepada manusia sebagai jawaban dari permasalahan yang mereka hadapi. Benih merupakan simbol dari “dimulainya babak baru dalam kehidupan manusia dengan proses menanam”. Sementara, monster pohon mengalahkan dan menyingkirkan para perusak hutan. Menanam adalah budaya manusia untuk memperoleh bahan pangan juga kesejahteraan dalam kehidupan. Namun, proses menanam tanaman untuk kehidupan sehari-hari seyogyanya juga dibarengi menanam pohon yang bisa menahan dan mengumpulkan air sehingga sumber air yang dibutuhkan warga tidak sampai kering atau mati. Pesan ekologis itulah yang disampaikan puluhan siswa putra dan putri dari SMPN 1 Mumbulsari.

Menegaskan komitmen gerakan ekologis berbasis budaya

Mengapa DeKaJe yang notabene organisasi kesenian harus ikut memikirkan persoalan ekologis? Kesenian senyatanya bukan hanya kesenian. Ia terhubung dengan manusia dan budayanya. Kesenian dan budaya juga sudah semestinya berhubungan dengan lingkungan. Bagaimana manusia bisa berkesenian dan berkebudayaan kalau mereka tidak memiliki lagi bahan pangan untuk melanjutkan kehidupan. Itulah mengapa manusia dulu selalu mencari cara agar bisa terus menjalin hubungan harmonis dengan alam. Bermacam ritual dan kesenian menjadi medium untuk mengusahakan keharmonisan. Berbagai tari berkaitan dengan kesuburan, seperti tayub dan gandrung. Bermacam ritual menghubungkan manusia dengan alam dan kekuatan adikodrati. Revolusi Hijau di masa Orde Baru menjadikan para petani mulai mengabaikan pentingnya membangun gerakan ekologis berbasis budaya. Gerakan tersebut, pada dasarnya, mengusung isu ekologis dan mengusahakan dukungan budaya untuk mewujudkannya. Tentu saja, budaya di sini tidak dimaknai semata-mata sebagai atraksi kesenian ataupun ritual. Budaya juga berkaitan dengan orientasi, nilai, dan perilaku yang bisa mendorong penguatan gerakan untuk membangun kesadaran ekologis.

BBGM 4

BBGM hanyalah contoh kecil betapa gerakan ekologis membutuhkan kesabaran, ketelatenan, keuletan, dan kesetiaan semua pihak yang menjadi subjek di dalamnya. Tentu saja, gerakan ekologis bisa mewujud dalam beragam aktivitas lain. Ada kawan-kawan pendamping yang memilih tinggal bersama warga pinggir hutan untuk terlibat secara langsung dalam kehidupan dan permasalahan mereka. DeKaJe tentu tidak memiliki kapasitas demikian, apalagi lembaga ini tidak memiliki akses pendanaan yang mencukupi. DeKaJe bisa mendesain acara yang bisa melibatkan warga masyarakat secara aktif dalam setiap aktivitas, dari perencanaan hingga pelaksanaan. DeKaJe juga bisa meng-encourage tokoh-tokoh lokal untuk menjadi tenaga penggerak yang akan memperluas keterlibatan warga. Selain itu, DeKaJe juga bisa melakukan lobi dan negosiasi dengan dinas-dinas terkait yang bisa memberikan jaminan kepada pemerintah desa tentang kemugkinan-kemungkinan penggunaan anggaran untuk kegiatan ekologis dan budaya. Adalah sebuah kebahagiaan ketika Kepala Desa Suco mengatakan akan membuatkan Peraturan Desa (PerDes) untuk penyelenggaraan BBGM untuk tahun-tahun berikutnya, sehingga panitia bersama tidak akan kebingungan lagi untuk urusan pendanaan.

Komitmen ekologis juga perlu terus disosialisasikan kepada warga thethelan khususnya generasi muda dan para pelajar. Merekalah yang akan menjadi penentu masa depan, sehingga wacana dan pengetahuan ekologis yang mereka peroleh dari keterlibatan dalam BBGM diharapkan mampu menjadi ideologi yang akan menuntun mereka dalam berhubungan dengan alam. Dukungan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa serta Administratur Perhutani Jember kepada kegiatan ini juga menegaskan bahwa komitmen ekologis perlu terus disosialisasikan kepada instansi-instansi terkait sehingga mereka bisa menyiapkan perangkat aturan atau kebijakan yang akan memperluas jangkauan. Sinergitas antarsubjek dalam gerakan ekologis berbasis budaya mutlak dibutuhkan karena kerja-kerja ke depannya akan lebih kompleks dan dinamis.

 

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 160 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*