Perubahan dan agenda kuasa dalam hiper-realitas perayaan-perayaan budaya Banyuwangi dalam 3 puisi pilihan Halim Bahriz

HAT PUJIATI

 

Download artikel versi PDF

Peran Banyuwangi sebagai penyelenggara acara festival dan karnaval yang mampu menarik wisatawan untuk datang ke Banyuwangi mendapat perhatian pemerintah pusat. Hal ini terbukti dalam pemilihan tiga acara dari 77 acaranya di tahun 2018 ini untuk menjadi bagian dari 100 acara unggulan di Calender of Event Wonderful Indonesia (CoE WI) 2018. Tiga kegiatan tersebut antara lain: Banyuwangi Ethno Carnival (BEC), yang akan dilaksanakan pada 10 November 2018,  International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), pada 23-26 September 2018 3 dan Gandrung Sewu, pada 20 Oktober 2018 (Adikurnia, Kompas.com 2 Februari 2018) Pengakuan pemerintah pusat terhadap Banyuwangi ini menunjukkan buah dari usaha Pemerintah Bayuwangi dalam mencitrakan kota yang menasbihkan sebagai The Rise of Java karena posisinya yang secara geografis ada di bagian timur pulau Jawa. Kegiatan-kegiatan yang dibuat di Banyuwangi dengan menampilkan kekhasan daerah tersebut tentu saja membutuhkan satu konsensus bersama bahwa seluruh rangkaian tersebut untuk kesejahteraan masyarakat. Sektor wisata merupan target dari komodifikasi lokalitas Banyuwangi. Penanaman lokalitas terhadap peristiwa-peristiwa global yang ditampilkan Banyuwangi menjadi daya tarik dalam dunia yang bergerak melampaui totalitas, keseragaman dan bentuk-bentuk logosentrisme sebagai fenomena masyarakat posmodern. Posmodernisme menolak modernisme pada butir absoluditasnya dan memilih untuk merayakan relativitasnya (Pujiati, 2009;32).  Tekanan-tekanan modernisme yang menuntut kejelasan dan keterukuran rasional menuntun manusia bergerak ke balik tekanan tersebut dan membuka ruang-ruang irasional, melepas keterkungkungan, keseragaman, totalitas, absoluditas dalam perayaan-perayaan yang periperal, yang lokal, yang irasional hingga mengubah aturan main terdahulu (dalam masa modern). Banyuwangi di ruang global ini mengambil peluangnya dengan menampilkan yang lokal sebagai masyarakat dunia yang plural.

Setelah Hadir dengan Lokalitasnya, Kemanakah Banyuwangi Ini Menuju?

Banyuwangi dengan dinamika budayanya telah banyak dikaji secara ilmiah yang dipublikasi secara nasional maupun internasional, bahkan melahirkan profesor-profesor baru melalui kajian mengenai Banyuwangi. Perkembangan Banyuwangi antara lain pada stereotypenya sebagai negeri santet dan kaitannya dengan sejarah politik Indonesia pada akhir rezim orde baru hingga komodifikasi santet pada kaos oleh-oleh Banyuwangi, kepemimpinan Pemerintah Banyuwangi kaitannya pencitraan dan cita-cita politiknya, Using dengan keunikannya, gandrung, seblang dan wisata alam Banyuwangi tak habis dikaji budayawan dan ilmuwan di ruang-ruang publik. Kajian-kajian tersebut kemudian bermuara pada pertanyaan akan tujuan akhir dari Banyuwangi. Sementara itu, pelaku seni dan budaya Banyuwangi terus berkarya dalam hegemoni politik yang sibuk dengan tujuan akhirnya.

Image result for Banyuwangi Ethno Carnival

Halim Bahriz, sebagai sastrawan yang sedang tumbuh di ruang nasional ini pernah menulis mengenai Banyuwangi dan mengkritisi  perayaan-perayaan kultural yang diadakan dalam puisi Ritual Penghapus Ingatan, Kematian Kedua, dan Gandrung Kepaten yang dimuat majalah kampus Fakultas Sastra (FIB sekarang) yaitu IDEAS pada tahun 2014. Karya-karya tersebut mencatat paradoks dari Banyuwangi yang berusaha menghapus jejak kolonialisme dalam dirinya tapi sekaligus memeliharanya (Pujiati dan Irana, 2016:67-72). Jalan Jember-Banyuwangi melalui Gumitir dan terowongan kereta di Mrawan serta jalan memecah Batu Gudang di puncak Gumitir merupakan jejak kolonial di Banyuwangi yang tak pernah disebut-sebut namun menjadi monumen sejarah kerja rodi di daerah tersebut demi akses darat Banyuwangi dengan kota-kota di jalur selatan. Bahriz menuangkan kritiknya dalam kerja estetisnya peristiwa tersebut sebagai berikut:

Dari Ulu Pampang, VOC tiba-tiba datang membangun gerbang masa depan para penjajah, merampasi mimpi janin-janin, menanam ingatan baru pada tanah yang sama: bukit-bukit mulai ditumbuhi kopi, karet dan suara bedil. Sengau alarm pabrik-pabrik mempercepat pagi, melenyap lelap, membuat tangisan tubuh yang panjang, menghujan hingga berabad, menjelma keringat penyubur tanah yang telah diasingkan dari telapak kaki pribumi. Gunung lalu dilubangi. Jalan kereta lalu dibentang sejak Gumitir hingga Ketapang. Di sepanjang jalan itu, ingatan tentang Sritanjung makin hilang: dibawa lari kenyang yang pergi, diusir paksa lapar yang datang.

Di selepas kalah yang meringkus para penjajah, orang-orang bersibuk membangunkan lagi Blambangan yang tenggelam. Membuat ritual baru: penyematan nama-nama dari masa silam. Di sepanjang jalan kereta yang sama, nama Sritanjung dipanggili lagi, mengalir bersama serangkai gerbong yang melewatinya. Lalu mengingat, seperti menulis nama kelahiran pada batu nisan. Setiap orang yang memasuki gerbong itu menjelma mayat-mayat yang menerjuni liang lahatnya sendiri: Kereta Penghapus Ingatan! ───Kelak, saat Jangger sudah tak ada lagi: dalam kepala cucu-cucu kalian akan dibangun stasiun baru yang tak dicatatkan dalam peta. Serangkai gerbong akan datang dan serangkai gerbong akan pergi.

Sritanjung  (dari cerita asal usul Banyuwangi) saat ini diabadikan sebagai nama salah satu kereta jalur Banyuwangi, jalur yang dipakai adalah jalur hasil kerja paksa pada jaman kolonial. Open access pada Blambangan (nama lain Banyuwangi di dalam sejarah) yang dinikmati saat ini, penciptaan Ritual baru dalam membangun Blambangan yang tenggelam justru hanya mereproduksi pemutusan sejarah dan melahirkan penjajahan-penjajahan baru. Gerbong kereta dalam puisi tersebut merepresentasikan modernisme dalam mereifikasi komoditas; ritual-ritual baru yang diciptakan itu tak lagi berjejak dalam gerbong yang hilir mudik menuju dan keluar Blambangan, semua yang memasuki gerbong menjelma mayat-mayat yang menerjuni liang laharnya sendiri kata Bahriz. Kebaruan-kebaruan yang dimutilasi dari akarnya dalam puisi ini digambarkan menuju kehancuran struktural hingga Blambangan tak lebih sekedar kepompong kosong, sekedar persingahan gerbong yang tak bernyawa.

Image result for wisata alas purwo

Dalam Kematian Kedua, Bahriz melanjutkan kegetiran Blambangan dengan kontrak Tumpang Pitu. gunung yang menjadi area tambang karena kekayaan logam mulia terkandung di sana.

Udara Alas Purwo telah disadap sinyal dari misteri lain. Kerinduan antara Angklung Paglak dan genggaman tangan, ──kesibukan jari-jari menapak keyword depan layar monitor yang memayatkan kaki-kakimu── telah dihitung dengan mata uang, seharga bensin, sejauh jarak untuk menemui masa lalumu sendiri: Blambangan masih rapuh, terbaring dalam ingatan para sepuh. Kericuhan antara sulur sampur para Seblang dan rapal mantra yang terseok di penjelang rasuk, juga telah selesai didamaikan bilas cahaya dari ledakan tombol shutter para wartawan. Dan sebuah makam megah tengah disiapkan: Tumpang Pitu akan digali, setelah kematian kedua untuk Blambangan yang kau bangunkan, telah selesai ditanda-tangani.

Alas Purwo merupakan area hutan perawan yang ada di Banyuwangi namun di sini telah disadap sinyal dikatakan dalam puisi tersebut. Keterbukaan akses terhadap Blambangan yang dirayakan sebagai perubahan menuju kesejahteraaan masyarakat karena lapak jualan Blambangan adalah apa yang dimiliki masyarakat; budaya. Eksploitasi terhadap budaya ini mematahkan hubungan manusia dengan alamnya. Tarian seblang tak lagi sanggup trans karena mantra dan jagat ritual yang kehilangan magisnya, rasionalitas membuat budaya itu sendiri mati. Apa yang direkam oleh wartawan melalui kamera-kameranya hanyalah cangkang dari budaya yang kehilangan inti. Masyarakat pelaku budaya tak lagi memperhitungkan roh-roh leluhur sebagai bagian dalam laku budayanya tetapi mereka mulai butuh uang, dan ketika semua berujung pada uang, maka apa pun akan dikorbankan demi uang. Tumpang Pitu adalah makam megah bagi Blambangan menurut Bahriz. Penambangan gunung tersebut menyempurnakan kematian dari eksplorasi budaya yang telah dilakukan secara struktural melalui program-program pembangunan yang mengabaikan ‘jiwa’ sebuah kebudayaan. Hegemoni politik telah mengubah masyarakat tradisional menjadi modern dalam sekejap dan ditautkan pada posmodernitas walau tahapan-tahapan itu cacat karena ketergesaan. Penambangan Tumpang Pitu memiliki konsekuensi ekologis yang tidak ringan, ruang hidup manusia, hewan dan tanaman di kawasan tersebut terancam.

Tiga puisi halim Bahriz ini adalah satu rangkaian dalam dalam mengisahkan kehancuran Blambalangan yang dibangun dari dalam Blambangan sendiri. Uraian kematian Blambangan dari pemutusan sejarah, pemotongan akar kebudayaan mejadi lelakon berkarcis hingga terbentuknya konsesnsus bersama akan pentingnya uang dalam menjalankan kehidupan dan penjualan ritual yang mereka karciskan tersebut. Gandrung sebagai tarian iconic Banyuwangi digambarkan kepaten atau mengalami kematian dalam dua bait terakhirnya sebagai berikut:

Gandrung Kepaten! Gandrung Kelalen! Gandrung Keluwen! Inilah perayaan besar itu: picis-picis dalam kutangmu akan dilemparkan ke udara, berlesatan merajami langit, membuat bunga api bermekaran, rimbun dalam kepalamu. Inilah upacara berkabung untuk kematianmu: carnaval yang merombengi pakaianmu, yang mengulari jalan-jalan di sepanjang kotamu. Inikah Blambangan yang kau bangunkan: peresmian bandara internasional yang membawa mayatmu sebagai undangan untuk pesta lelang selanjutnya, untuk kematian selanjutnya.

Dan saat bau tubuhmu tengah sibuk merambati kota-kota di seberang waktu, setelah kepulangan meledak tepat di depan rumahmu, dalam genggaman tanganmu sendiri, kau akan benar-benar tahu: segalanya memang terasa sia dan terlambat! Cerita kematianmu terlanjur dipahat! Air matamu terlanjur memadat! Jadi prasasti luka menubuh: wastuning catu kang jumeneng, yang tak akan mampu kau runtuhkan. Hanya masa lalu yang berkabung atas kematianmu: Gendhing Blambangan yang keram, ringkih tangis yang tak akan bisa kau dengar lagi. Gandrung Kepaten! Gandrung Kepaten! Gandrung Kepaten! ───Pintu itu, telah berdaun pintu, telah rekat terkunci dari dalam.

Puisi ini semacam peringatan atas perayaan-perayaan yang tak lebih sekedar komuditas masyarakat demi memenuhi ambisi kekuasaan. Pintu liang lahat Blambangan itu telah ada di hadapan mereka dan mereka sedang gegap gempita di depannya, padahal sekali mereka masuk, terperangkap dan tak akan bisa kembali lagi. Kematian yang digambarkan dalam puisi ini sebagai akhir yang tak bisa di-rewind. Perangkat lunak Blambangan yang ada pada masyarakatnya telah dihancurkan melalui perayaan yang dibangun dari dan demi uang hingga kehancuran fisik tanah Blambangan saat ini sudah berjalan. Komodifikasi kultural selama ini menghasilkan kesepakatan atas kekerasan yang mereka alami saat ini. Masyarakat Banyuwangi menyetujui kekerasan itu terjadi hingga bencana Tumpang Pitu tidak dapat ditolak sebagai konsekuensi atas apa yang telah dirayakan. Symbolic poser menurut Pierre Bourdieu sebagai berikut:

Symbolic power – as a power of constituting the given through utterancess, of making people see and believe, of confirming or transforming the vision of the world and, therby, action on the world and thus the world itself, an almost magical power which enables one to obtain the equivalent of what is obtained through force (wether physica or economic), by virtue of the specific effect of mobilization – is a power that can be exercised only if it is recognized, that is, misrecognized as arbitrary. This means that symbolic power does not reside in ‘symbolic systems’ in the form of ‘illocutionary force’ but that it is defined in and through a given relation between those who exercise power and those who submit to it (Bourdieu, 1991: 170).

Dengan demikian, puisi-puisi Bahriz tersebut mengangkat symbolic power yang terjadi di Banyuwangi. Janji-janji kemakmuran yang tertuang dalam kampanye politik membuai masyarakat hingga ketika kekuasaan dipercayakan pada pemangku kebijakan, aturan-aturan itu tidak disadari menuntun mereka pada kesepakatan untuk ditindas demi kekuasaan atau kepentingan kelompok tertentu. Haryatmoko menyimpulkan bahwa kekerasan simbolik ini terjadi “karena ketidaktahuan dan pengakuan dari yang ditindas” (Haryatmoko, 2015: 49).

Image result for Ulu Pang pang Banyuwangi

Para penari gandrung yang terjebak perayaan-perayaan kehilangan unsur magisnya karena hanya menguap dalam pentas-pentas sesaat yang justru mendegradasi kebudayaan yang hendak dijual. Mantra jaran goyang kehilangan ritualnya dan ditansformasi dalam tarian dan nyanyian. Seblang tidak lagi mampu memanggil ruh leluhurnya sehingga gagal trans dan tariannya tak lagi sakral. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa masyarakat seperti yang digambarkan Bahriz bisa mengalami keterputusan-keterputusan tersebut dengan mudahnya? Apakah itu sebuah kemungkinann atau hanya fiktif belaka? Bila bukan di Banyuwangi apa mungkin hal itu terjadi?

Apa yang dialami masyarakat Banyuwangi seperti yang digambarkan Bahriz tersebut bisa menimpa siapa saja karena peradaban saat ini yang mempesona melalui capaian teknologi. Katastropi kebudayaan bisa dipercepat oleh permainan kepentingan penguasa. Bila kekhawatiran-kekhawatiran terhadap laju perkembangan teknologi yang mampu membuat mimpi menjadi mungkin di Amerika direpresentasikan dalam karya-karya disutopis semacam Hunger Games, Maze Runner, Divergent, Free to Fall, Ugly, atau juga The Giver, karya Bahriz ini setara dengan karya-karya tersebut dalam hal imajinasi efek dari modernitas yang kagetan. Amerika dan Banyuwangi berjarak jauh secara geografis namun ada garis yang sama yang mempertemukan keduanya yaitu kekhawatiran pada petaka dunia baik itu secara kultural mau pun fisik baik pada manusia dan juga alamnya akibat modernitas yang mengkomodifikasi segalanya. Pemberhalaan uang untuk kebutuhan yang sebenarnya dimitoskan oleh penguasa kapital dinaturalisasi bahasa. Penemuan-penemuan revolutif telah terjadi sejak awal kebangkitan pengetahuan di jaman Renaisance hingga modern awal ini terus berkembang dengan kerangka inovatif dan terjadi cepat karena arus informasi yang tak tersbendung persebarannya. Kolaborasi teknologi dan informasi ini lah yang mempertemukan masyarakat Banyuwangi dengan penduduk dunia. Perubahan mode informasi yang ditesiskan Mark Poster memiliki konsekuensi setara mode of production yang dibawa Karl Marx.

Every age employs forms of symbolic exchange which contain internal and external structures, means and relations of signification. Stages in the mode of information may be tentatively designated as follows: face-to-face, orally mediated exchange; written exchanges mediated by print; and electronically mediated exchange. Is the first stage is characterized by symbolic correspondences, and the second staged is characterized by the representation of signs, the third is characterized by informational simulations. In the first, oral stage the self is continued as a position of enuciation through its embeddedness in a totality of face-to-face relations. In the second, print stage the self is constructed as an agent centred in rational/imagery autonomy. In the third, electronic stage the self is decentered, dispersed, and multiplied in continuous instability (Poster, 1990: 6).

Setiap zaman membawa bentuk-bentuk pertukaran simbolik yan dalam meliputi struktur internal dan eksternal, peralatan dan hubungan signifikasi. Tahapan mode informasi ini meliputi tatap muka yang dimediasi oral, tulis dimediasi cetak, dan tahapan ketiga adalah mediasi elektronik. Yang tatapmuka dicirikan oleh coresponden simbolik dan tekait langsung dengan hubungan totalitas tatapmuka, tahap 2 oleh representasi tanda-tranda dan diri dikonstruksi sebagai agen yang terpusat pada rasional/otonomi imageri. Tahap yang ketiga oleh simulasi-simulasi informasional dimana diri terpecah, dispersed, dan termultiplikasi dalam instabilitas berkelanjutan. Tahapan komunikasi saat ini ada pada tahapan ke tiga walau pun yang pertama dan kedua bukan berarti tergantikan sepenuhnya, namun relasi-relasi sosial terbangun dengan media elektronik ini memiliki konsekwensi perubahan dalam memandang relasi. Kehadiran tergantikan oleh jejak rekam media sosial yang memiliki keterputusan-keterputusan dengan dunia offline. Seolah-olah apa yang ada dalam dunia cyber lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Peristiwa yang terjadi di dunia online bisa merusak relasi dunia offline. Simulasi-simulasi yang berkelindan di dalam pertukaran informasi electronik ini  menghadirkan hyper-realitas.

Related image

Tanda-tanda mulai hilang petanda sehingga yang tersisa hanyalah korpus tanda. Menurut Baudrillard, era simulasi ini memang ditasbihkan oleh runtuhnya semua referensi, bahkan simulasi ini memunculkan sistem tanda-tanda artifisial yang berupa materi dan lebih mudah diciptakan daripada makna (Baudrillard,1996:1-2). Lebih jauh lagi, konsep runtuhnya referensi pada semua tanda diurutkan dalam empat tahapan. Pada fase awal, tanda menghadirkan realitas yang sebenarnya – disebut sebagai tahapan sakral, kemudian  pada tahapan berikutnya tanda menyembunyikan dan mengubah sifat realitas yang sebenarnya; pada tahap ini Baudrillard mengatakan ini sebagai  tahapan durjana yang merusak hubungan tanda dan referensi. Tahapan ke tiga, tanda mulai memainkan tampilan  yang disebut sebagai tatanan sihir. Sementara di tahapan ke empat, tanda tidak lagi berhubungan dengan tampilan melainkan sepenuhnya simulasi (1996:4). Realitas yang menjadi referensi tanda-tanda kehilangan kesakralannya ketika realitas menyediakan pilihan-pilihan artifisial yang lahir dari simulasi, penghianatan tanda oleh realitas ini tak dapat dihindari ketika tanda memerankan tanda yang lain hingga realitas tak lebih dari sekedar simulasi-simulasi (simulakra) menjelma hyper-realitas yaitu simulasi lebih nyata dari realitas itu sendiri. Kebenaran pun tertunda terus-menerus ketika referensi berlompatan dan runtuh dari tanda menjelma bentuk-bentuk baru. Arus tanda dalam kemasan informasi di kelompok masyarakat penggunanya menjadi masyarakat zisoprenik. Pertukaran tanda dalam sistem informasi yang riuh tanda tanpa referensi ini mengaburkan kebenaran karena referensi sebagai realitas tak lagi berjalan seperti seharusnya. Simulasi-simulasi yang menjadi hiper-realitas dalam kehidupan saat ini kerab kita temui dalam bentuk kenikmatan hoax. Orang mudah sekali dipanoptikon berita yang menyimpang kebenarannya hanya karena dilegitimasi oleh status atau gelar. Ketika ada klarifikasi dari pihak-pihak yang kompeten di bidangnya untuk mengklarifikasi hoax yang telah menyebar tidak juga sertamerta melepaskan yang termakan hoax dari hoax tersebut karena hoax tersebut telah diyakini, fakta tak lagi diperhitungkan dalam justifikasi tindakan dari hoax. Oxford Word of the year 2016 menamai ini sebagai post-truth, yaitu ―keadaan  di  mana  fakta  objektif  kurang  berpengaruh  dalam membentuk opini dibandingkan daya tarik emosi dan keyakinan personal. Masyarakat yang kurang kritis menjadi mudah terpicu dan terlibat chaos.

Image result for Banyuwangi Ethno Carnival

Apa yang terjadi dalam masyarakat Banyuwangi yang digambarkan Bahriz sebagai masyarakat disutopis ini terjadi dalam tahapan-tahapan tersebut. Kekerasan simbolik yang dialaminya merupakan bentukan struktural tak dapat dihindari ketika ruh masyarakat tersebut telah dikapitalisasi. Imajinasi kesejahteraan oleh uang membuat masyarakat tersebut larut dalam ‘kebutuhan’. Padahal kebutuhan itu sebuah konstruksi panjang untuk kebutuhan yang berkepentingan untuk menguasai apa yang dimiliki masyarakat tersebut. Perayaan-perayaan kebudayaan yang diciptakan tak lebih dari sebuah hiper-realitas, kemegahan perayaan ternyata adalah penggalian kubur sendiri kata Bahriz, sebagai ajang bunuh diri masal yang tak disadari massa. Moda informasi memfasilitasi ternjadinya proses ekletis tanda dan petanda. Akan tetapi perubahan sendiri adalah keabadian yang tak bisa dihindari, perubahan sosial merupakan sebuah kepastian. Namun perubahan sosial juga bisa diantisipasi agar tidak dsitruktif.

* Makalah disampaikan dalam Sekolah Kritik Budaya Angkatan II “Fokus Banyuwangi” yang diselenggarakan Matatimoer Institute, 14 April 2018, di Sanggar “Angklung Soren”, Pancoran, Banjarsari, Banyuwangi.

Pustaka

Adikurnia, Muhammad Irzal. 2018. “Banyuwangi Sumbang Acara Paling Banyak untuk Kalender Wisata Indonesia”. https://travel.kompas.com/read/2018/02/02/220000627/banyuwangi-sumbang-acara-paling-banyak-untuk-kalender-wisata-indonesia.

Bahriz, Halim.2014. Ritual Penghapus Ingatan, Kematian Kedua, dan Gandrung Kepaten Jember:Prismaideas (http://persmaideas.com/2014/02/08/puisi-puisi-halim-bahriz/)

Baudrillard, Jean (Trans:Sheila Faria Glaser). 1996. Simulacra and Simulation.Michigan.

Bourdieu, Pierre (Trans: Raymond, Gino).1991. Language and Symbolic Power. Harvard University Press.

Haryatmoko.2015. Membongkar Rezim Kepastian: Pemikiran Kritis Post Strukturalis. Yogyakarta: Kanisius.

Pujiati, Hat dan Irana Astutiningsih. 2016. Spiritualitas sebagai Localpoeic: dari Komunitas Sastra di Daerah Tapal Kuda: Jember-Situbondo-Banyuwangi Jawa Timur. Yogyakarya: Ladangkata.

Poster, Mark. 1990. The Mode of Information: Poststructuralism ans Social Contenxt. Oxford: Polity Press.

Share This:

About Hat Pujiati 7 Articles
Hat Pujiati adalah peneliti di Matatimoer Institute, juga pengajar di Jurusan Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*