[M]Batin dalam Kesenyapan

IKWAN SETIAWAN

 

Senyap bukanlah kematian/ia gerak melintas ke depan dan ke belakang/menyapa bermacam kemungkinan/yang tak bisa diduga oleh nalar.

Dukuh Pangkat, Lamongan bagian Barat, dini hari, dua minggu setelah Tragedi Berdarah 30 September 1965 di Jakarta. Suara serangga memenuhi udara ketika bintang bependar melukis langit. Orang-orang masih terlelap dalam tidur, kecuali beberapa lelaki yang masih berjaga di gerdu ronda sambil menikmati menyok—singkong—bakar. Mereka bercanda sekedar mengusir kantuk. Wajah mereka mendadak tegang ketika melihat rombongan laskar bersenjata bersenjata pedang, arit, dan penthungan melewati gardu. Para peronda itu hendak mencegat, namun wajah garang para anggota laskar menciutkan nyali mereka. Para peronda itu tidak berani untuk sekedar bertanya kemana tujuan mereka. Mereka sudah paham bahwa akan ada warga dukuh yang akan ‘diambil’. Rombongan itu terus bergerak membelah dini hari yang mestinya suci. Mereka menuju sebuah rumah joglo tua yang diterangi lampu templek.

Ketua laskar, lelaki muda yang mengenakan kopyah dan berkalung sarung, menggedor pintu rumah. Seorang lelaki setengah baya, Kardi, Lurah Pangkat, didampingi istri dan ketiga anaknya, keluar. Tidak ada ketakutan sama sekali di wajahnya karena dia sudah tahu mereka akan datang mengambilnya, seperti yang terjadi pada kawan-kawannya sesama lurah yang menjadi anggota PKI. Istrinya, Karti, memeluk ketiga anaknya yang masih kecil dan belum tahu apa-apa. Ia tampak sedih dan ketakutan.

Ketua laskar mengatakan kepada Kardi bahwa dia harus ikut. Kardi sudah paham. Dia segera memeluk dan mencium istri dan ketiga anaknya.

“Dik, aku titip anak-anak. Besarkan mereka dengan kasih sayangmu, seperti yang telah kamu berikan kepadaku selama ini. Yakinlah, Gusti Pengeran akan membimbingmu dan anak-anak dalam menjalani hari-hari tanpaku.” Kardi, sekali lagi, memeluk istrinya yang mulai menangis. Melihat Simbok-nya menangis, ketiga anaknya ikut menangis.

Beberapa anggota laskar segera menarik tangan Kardi, seperti menarik seorang maling yang tertangkap. Tangisan dan permohonan ampun Karti tidak dihiraukan.

“Jangan bawa suamiku, dia tidak bersalah!! Ampuni kami. Ampuni kami,” tangis Karti sambil memeluk ketiga anaknya.

“PKI tidak pantas diampuni,” bentak ketua laskar, lelaki muda yang mengenakan kopyah dan berkalung sarung.

Orang-orang itu meninggalkan Karti dan ketiga anaknya dalam tangisan panjang. Perempuan itu hanya bisa memandangi kepergian suaminya dengan kehancuran karena pada hari-hari berikutnya, dia dan ketiga anaknya tidak mungkin lagi bisa bercanda dengan suami yang sudah sepuluh bersama ia dampingi. Perempuan itu mengajak ketiga anaknya masuk ke rumah dengan segenap kehancuran batin karena kesombongan orang-orang yang mencuri hak Gusti Pengeran untuk mengakhiri hidup seorang manusia.

Di dukuh tetangga yang letaknya sekitar 10 KM dari rumah Kardi, tepatnya di pinggir mbarongan, hutan bambu, kepala laskar memukulnya dengan penthungan diikuti beberapa anggota lainnya. Dia tidak bergeming, meskipun darah mengalir segar dari pelipis kirinya. Mukanya lebam. Beberapa anggota laskar memegangi kedua tangannya. Kepala laskar membisiki algojo. Dengan muka garang sembari mengucapkan Bismillahirohmanirohim dan diikuti teriakan Allohu Akbar orang-orang,  dia memenggal leher Kardi dengan pedang panjang. Mereka bengong, tidak percaya. Kardi tidak luka sedikitpun. Dia malah tersenyum, sambil menahan sakit, bukan karena pedang itu, tapi karena pukulan penthungan ketua laskar. Si algojo kembali berusaha memenggal leher Kardi, tetapi sia-sia.

“Bangsat, kamu pasti punya ilmu hitam”, bentak si algojo.

“Ha…ha…tidak ada ilmu hitam itu, semua ilmu itu putih, tergantung orang yang menggunakannya. Kalian setiap hari ngaji Qur’an, bukannya mengamalkan kandungan ilmunya, malah membunuh orang. Apa itu namanya orang Islam? Untung aku tidak memeluk agama ini.” Kardi menjelma orang yang sangat berani.

Beberapa anggota laskar kembali memukulnya dengan penthungan. Mukanya benar-benar sudah menjadi merah oleh darah. Ketua laskar mencengkeram lehernya dengan penuh kemarahan, tidak ada tanda-tanda sama sekali sebagai pemeluk Islam.

“Kamu ini banyak omong. Ayo cepat katakan, apa pengapesan-mu,” bentak ketua laskar, sambil mendorong tubuh Kardi hingga tersungkur. Dia bangun kembali.

“Ha…ha…ha…Kalian itu orang berilmu agama kok malah nanya pengapesan-ku. Wah…wah…apa ndak kebalik.” Tiga orang laskar langsung menyabet lehernya dengan sabit. Lagi-lagi, gagal membunuhnya. Dua orang berikutnya memukulnya dengan penthungan. Kardi sempoyongan, ambruk.

“Kardi, kalau kamu tidak mau memberitahu kami pengapesan-mu, baiklah, istri dan anakmu akan kami jemput juga,” ucap ketua laskar dengan nada pelan.

Mendengar perkataan itu, Kardi mencoba duduk. Dia menundukkan kepala. Tidak menangis. Bayangan masa-masa pengantin muncul kembali di benaknya. Bayangan ketika istrinya melahirkan anak pertama, kedua, dan ketiga memenuhi ruang-ruang otaknya. Dia tidak kuasa melihat mereka harus mati akibat pilihannya bergabung ke dala PKI.

“Baiklah, aku akan ngomong. Tapi ingat, kematianku berarti kekalahan kalian. Kalian tidak bisa mengambil inti dari agama kalian. Kematianku menandakan Gusti Pengeran segera ingin melihat kalian mengalami kehancuran dalam hidup, karena Dia sebenarnya belum ingin aku mati. Aku akan segera menemui Pengeran-ku di langit ketujuh. Cepat lepaskan sabukku. Lalu, ambillah carang, ranting bambu, lancipkan dan tusukkan ke jantungku.” Kardi sujud di atas tanah, mencium Ibu Bumi yang telah membantu Gusti Pengeran membahagiakan kehidupannya selama ini. Ibu Bumi sebentar lagi akan membuka pintunya bagi manusia yang tidak pernah punya niatan membunuh sesama, karena ajaran gurunya melarang untuk menyakiti sesama.

Seorang anggota laskar melepaskan sabuk di celanannya. Seorang lagi mengambil carang dan melancipkannya.

“Allohu Akbar…Allohu Akbar….Allohu Akbar.” Orang-orang memekik, memanggil kebesaran Alloh.

Tepat di jantungnya, carang itu menancap mengalirkan darah segar yang mengiringi senyum Kardi. Dia menengadah ke atas, memandang langit yang mulai terbuka dengan jutaan malaikat yang siap menyambut kedatangannya.  “Gusti Hang Maha Asih, inilah aku, menghadapmu kembali. Segala urusan istri dan anak-anakku, aku pasrahkan kepada keadilan-Mu. Segala urusan orang-orang yang telah mendahului takdir-Mu, aku pasrahkan kepada keadilan-Mu juga,” doa Kardi dalam Batin menyertai kepergiannya dari dunia.

Orang-orang itu segera pergi, meninggalkan begitu saja jasad Kardi di mbarongan. Mereka pergi ketika adzan Subuh mulai memanggil manusia untuk menyambut kehidupan; bukan dengan kebahagiaan, tetapi dengan anyir darah dan tangis yang tak kunjung berhenti istri dan anak-anak Kardi, dan juga tangis istri dan anak-anak lain yang suami dan bapaknya diambil oleh orang-orang yang biasa membaca Al-Qur’an dan mendengar kutbah Jum’at. Di sebuah telaga, orang-orang itu berhenti, mandi dan mengambil wudhu.

***

Selepas Isya’, bulan Desember 1967, istri Kardi, Karti, mendongengi ketiga anaknya di kamar. Kebiasaan ini biasanya dilakukannya bergantian dengan Kardi, karena anak-anaknya memang paling suka didongengi. Lampu ublik menerangi kamar, meski remang-remang. Sebelum mendongeng, Karti mengajak ketiga anaknya mendoakan agar Bapaknya mendapat surga Gusti Allah.

“Dahulu kala di sebuah hutan di sebelah Selatan, jauh dari dusun kita, tinggallah seorang perempuan bersama anaknya, Gadjah, ditemani dua sepasang istri pembantunya dan seekor kucing kesayangannya. Perempuan itu adalah Andongsari, istri selir seorang pembesar di Majapahit. Mereka menjalani hari-hari dengan penuh keprihatinan. Mereka makan buah-buahan dan, terkadang, daging kijang kalau Tunggul, pembantu lelakinya, berhasil dalam berburu. Mereka tidak pernah mengeluh. Mereka selalu berdoa agar Sang Gusti selalu melindungi dari bahaya. Pada suatu hari, ketika Andongsari dan pembantu perempuannya yang bernama Asih mandi dan mencuci baju di telaga, mereka tidak tahu kalau seekor macan mengintip dari balik semak. Waktu itu Tunggul sedang berburu. Pelan-pelan macan itu mendekati Gadjah yang ada di gubuk. Ketika hendak menerkam Gadjah, si kucing datang mencakarnya. Mereka berkelahi. Andongsari dan Asih memanggil-manggil Tunggul. Mereka ketakutan. Akhirnya, setelah lama berkelahi, macan dan kucing sama-sama mati. Gadjah selamat. Andongsari menangis memeluk anaknya. Sementara, Asih memeluk kucing yang berlumuran darah. Ketika Tunggul datang, segera ia menguburkan kucing dan macan itu. Oleh Andongsari daerah itu diberi nama Cancing, macan berkelahi dengan kucing, sama-sama mati.”

“Lalu, gimana nasib mereka selanjutnya, Mbok? Gimana nasib Mada?” tanya anak pertama yang sudah mulai mengantuk. Kedua adiknya sudah memejamkan mata.

“Mereka tetap saja menjalani hari-hari seperti biasanya. Tapi, semakin banyak warga yang datang ke tempat itu. Rata-rata mereka adalah kesatria dan empu yang melarikan diri. Orang-orang itu mengangkat Andongsari sebagai kepala padukuhan Cancing. Sementara, Mada belajar ilmu kanuragan dan perang dari para kesatria. Dari para empu dia belajar ilmu tentang kerajaan. Kelak setelah menginjak usia muda, dia diminta Andongsari menuju kotaraja Majapahit. Akhirnya, pada masa Raja Hayam Wuruk dia diangkat sebagai Mahapatih yang bisa memperluas wilayah kerajaan. Ketika di sekitar Cancing muncul padukuhan-padukuhan baru, semakin banyak warga yang bermukim.”

“Mbok, kita ini kayak Andongsari dan Gadjah Mada, ya, ditinggal Bapak,” ucap anak itu sambil memejamkan mata.

Karti meneteskan airmata mendengar ucapan anaknya itu. Dia tidak tahu bagaimana menterjemahkan perasaannya kini. Lama dia pandangi ketiga anaknya yang masih kecil. Bagaimana nasib mereka kelak, dia belum tahu. Yang pasti beberapa petak sawah peninggalan Kardi masih utuh. Setiap hari dia ke sawah bersama Bapak dan Simbok-nya yang sudah mulai rentah. Dia meyakinkan batinnya bahwa dengan sawah itulah ia akan bisa membesarkan anak-anaknya seperti Andongsari membesarkan Mada.

Kesunyian batin memang sangat menyiksa. Karti selalu ingat bagaimana ia dan suaminya selalu menembangkan tembang-tembang kehidupan setiap tengah malam. Saran tetangga kanan-kirinya agar ia mau menikah lagi muncul kembali, merambat dan meresap dalam dinding kamar yang terbuat dari kayu jati.

“Yuk, Sampean ini kan masih umur 40 lebih sedikit, masih pantas untuk bersuami lagi. Apa ndak cari suami lagi?” tanya Yuk Jum, tetangganya, sambil menumbuk buliran padi di lesung di belakang rumahnya pada sebuah sore.

“Oalah, Yuk, aku malas mikir itu. Lagipula aku sepertinya sudah tidak bisa menerima kehadiran lelaki lain dalam hidupku,” jawab Karti sambil menyingkirkan kerikil yang ada di beras. Anak keduanya, Narni, menghampirinya, meminta uang jajan. Karti hanya memberinya lima rupiah, karena ia memang harus berhemat untuk masa depan ketiga anaknya.

“Lha, coba itu, kalau Sampean punya suami lagi, kan bisa ngasih uang jajan lebih banyak. Terus nanti kalau mereka sudah waktunya sekolah, kan Sampean tidak bingung-bingung lagi mikir biayanya.” Yuk Jum mengeluarkan bulir-bulir beras dari lesung.

“Iya, Yuk, aku ngerti. Tapi, aku masih bisa nggarap sawah untuk menyiapkan sekolah anak-anakku kelak.”

“Kalau punya suami lagi kan ada yang menemani ke sawah. Biar Sampean ndak kecapekkan.”

“Sudahlah, Yuk, ndak usah ngomong itu.”

Begitulah, setiap kali tetangga-tetangga perempuannya menyarankan Karti untuk menikah lagi, jawaban-jawaban penolakan yang selalu dia lontarkan. Dia memang sudah memilih menjalani kehidupannya sendiri, tanpa suami. Semua kebaikan dan kenangan yang ia ditorehkan bersama Kardi dalam kebersamaan batin mereka selalu muncul sebagai kekuatan untuk menolak saran-saran itu. Pilihan itu memang akan membawanya dalam kesenyapan puluhan, ratusan, bahkan ribuan malam.

Dalam kesenyapan malam-malam itulah, Karti selalu sujud menghadap ke Timur, berbicara kepada Gusti Pengeran dengan batin, seperti yang dilakukan Kardi. Suaminya selalu bepesan, “Hanya kepada Gusti Pengeran kita meminta dan berkeluh-kesah, bukan kepada orang-orang yang mengaku pintar agama itu.”

“Gusti, biarlah aku menghabiskan hidupku dalam kesendirian tanpa suami. Aku yakin Engkau akan mengerti pilihan batinku ini. Aku pasrahkan keadilan-Mu terhadap kehidupanku, anak-anakku, bapak, ibu—keluargaku. Biarlah keluargaku dicap sebagai keluarga PKI, biarlah, Gusti. Karena aku tahu, hanya Engkaulah yang berhak menilai setiap kebenaran dari sebuah pilihan. Biarlah kami tidak pernah ke langgar, tetapi batin kami selalu memahami-Mu dalam gerak siang dan malam. Biarlah kami tidak pernah membayar zakat, tetapi izinkanlah kami mendapatkan limpahan berkah-Mu agar bisa memberi beras dan jagung kepada para tetangga miskin kami. Gusti, izinkanlah aku dan keluargaku meneruskan kehidupan kami dengan segala tunduk dan manjing yang tidak harus kami pamerkan, karena Engkau adalah kesenyapan yang berkuasa atas bumi-Mu.”

Sujud-sujud manjing menghadap ke Timur itulah yang selalu dia lakukan, mengisi kekosongan dan kesenyapan malam; melampaui kesendiriannya. Kardi boleh menghadap Gusti Allah, tetapi dia akan selalu hadir dalam doa-doanya, karena dia memang masih tersenyum di batinnya; senyum yang akan terus menemani kehidupannya.

***

Beberapa tahun setelah kepergian Kardi, Karti dan keluarganya nyatanya masih bisa hidup dengan wajar di tengah-tengah masyarakat, meskipun mereka terkadang harus mengalami “tatapan dan rerasan menyakitkan” dari orang-orang yang memang benci kepada PKI. Para perangkat desa, meskipun sudah dipimpin lurah baru yang berasal dari tentara, masih sering ke rumah, sekedar menanyakan kabar atau membelikan jajan kepada ketiga anaknya. Tetangga kanan-kiri, rata-rata berperilaku baik, apalagi Karti sering mempekerjakan mereka saat tanam dan panen padi tiba di musim hujan. Karti juga sering mempekerjakan mereka saat menanam jagung, kedelai, atau teYukau. Namun, Karti harus menerima ketika cap sebagai istri PKI tidak membolehkannya berpartisipasi dalam kegiatan ibu-ibu di Balai Desa.

Hanya dua pemuka agama di Pangkat, Haji Rofiq dan Haji Syafi’i, dan beberapa anggota laskar pencabut nyawa yang masih menatap Karti penuh kemenangan ketika mereka berpapasan di jalan. Kedua haji itu pula yang meminta laskar untuk mengambil suaminya. Dia mendapat informasi itu dari Yuk Jum, tetangganya yang sempat diberitahu oleh istri Haji Rofiq ketika sedang mburuh panen padi. Kepada Yuk Jum istri Haji Rofiq bilang, “kalau PKI dibiarkan, bisa-bisa sawah keluargaku akan dibagi-bagi kepada rakyat, kan kami bisa jatuh miskin.” Mendengar cerita Yuk Jum, Karti hanya mbatin. Dia yakin Gusti Pengeran akan memberi keadilan dengan cara-Nya sendiri.

Yang tidak kalah menyakitkan bagi Karti adalah kutbah kedua haji itu ketika sembahyang Jum’at di masjid kecil di depan rumahya.

“PKI itu tidak punya Gusti Alloh, makanya tidak pantas hidup di Indonesia, juga tidak pantas hidup di Desa Pangkat. Bagi mereka yang bersimpati ke PKI atau keluarganya terlibat, segeralah bertaubat, biar mendapatkan ampunan dari Gusti Alloh.” Begitulah kutbah yang sering diulang-ulang oleh Haji Syafi’i.

“Orang sembahyang yang benar itu menghadap ke Barat, ke Kiblat, di Mekkah sana. Kalau ada yang menghadap selain arah Kiblat, itu namanya kafir, tidak beragama. Jangan pula kita memakai jimat atau suka pergi ke dukun, itu sama saja dengan menyekutuhkan Alloh.” Haji Rofiq tidak kalah hebat kalau berkutbah tentang orang kafir yang hanya dilihat dari arah sujudnya.

Karti tidak habis pikir, bagaimana orang-orang yang sudah bergelar haji dan kemana-mana mengenakan songkok putih begitu dangkal memahami Gusti Pengeran. Dia merasa kutbah-kutbah itu memang dimaksudkan untuk menyindirnya dan juga warga Pangkat yang masih belum banyak sembahyang di masjid. Bermacam pertanyaan muncul dalam benaknya ketika setiap Jum’at ia harus mendengarkan kutbah kedua haji itu dari belakang rumah sambil menumbuk padi atau jagung di lesung dan lumpang. Bagaimana manusia dikatakan tidak punya Gusti Pengeran hanya karena sujudnya tidak menghadap ke Barat? Apakah orang sembahyang itu harus dipertontonkan di masjid, grubyak-grubyuk, tanpa tahu makna do’anya? Mengapa pula ia dan keluarganya tidak berhak hidup di Indonesia dan Pangkat? Mengapa orang yang sudah bergelar haji itu ingin mengambil kekuasaan Gusti Pengeran di muka bumi? Pertanyaan-pertanyaan itu hanya ia pendam, mengendap dalam batin.

Sebenarnya, Yuk Jum dan beberapa tetangga perempuan lainnya sering mengajaknya pergi ke masjid, agar tidak lagi dirasani oleh kedua haji itu. Mereka merasa kasihan kepada Karti dan keluarganya.

“Yuk, tidak ada salahnya kalau Sampean belajar sembahyang di masjid seperti kami,” saran Yuk Jum yang diikuti anggukan kepala beberapa perempuan lain ketika mereka menanam jagung di sawah Karti.

“Yuk, aku tidak mungkin sembahyang dalam bimbingan agama orang-orang yang telah membunuh Kang Kardi. Pasti batin dan pikiranku tidak akan tenang. Buat apa aku melakukan sembahyang tapi tetap membawa dendam kepada mereka? Biarlah aku sembahyang dengan caraku sendiri di rumah.” Jawaban itu membuat Yuk Jum dan para perempuan tetangganya tidak lagi pernah mengajaknya pergi sembahyang ke masjid.

13 tahun setelah Kardi meninggalkannya, Karti mulai merasakan sulitnya hidup akibat menanggung beban sebagai keluarga PKI. Anak lelaki pertamanya, Timur, ditolak masuk SMA negeri favorit di kota Lamongan. Alasan keterlibatan Bapaknya dalam PKI dilontarkan. Dia melawan perlakuan tidak adil itu. Karti mendatangi Kepala Sekolah SMA itu, tetapi sia-sia, anaknya tetap tidak bisa masuk, meski nilainya Danem-nya tertinggi tingkat kecamatan. Sadar usahanya gagal, Karti mengajak Timur ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Kepala dinas itu juga tetap tidak bisa menolong, karena keputusan itu diserahkan ke pihak sekolah.

Di tengah-tengah kelelahan dan kegagalannya, di alun-alun kota, Karti mengajak Timur beristirahat sebelum pulang ke Pangkat, sambil menikmati tahu campur, makanan khas Lamongan.

“Mbok, biarlah aku sekolah di swasta saja. Yang penting aku bisa belajar,” pinta Timur.

“Cong, kamu itu berhak sekolah di SMA negeri. Kepala sekolah itu benar-benar tidak adil. Apa anak PKI tidak berhak mendapatkan pendidikan? Negara ini memang terlalu sombong untuk mengakui jasa-jasa PKI. Bapak Jendral yang terhormat itu akan merasakan akibatnya kelak, karena senyumnya telah membunuh jutaan orang dan menggagalkan impian maju anak-anak PKI. Tapi, kamu jangan khawatir, Cong, Simbok akan tetap berusaha. Kata kepala dinas tadi ada SMA negeri yang baru saja diresmikan. Habis ini kita ke sana, ya, nyoba-nyoba, siapa tahu kepala sekolahnya baik. Mumpung belum tutup kantornya.”

Timur hanya mengangguk saja. Dalam batin dia benar-benar kagum kepada perjuangan Simbok-nya. Segera mereka naik becak, menuju SMA negeri baru tersebut. Setengah jam kemudian, mereka sudah sampai di sekolah tersebut. Letaknya di pinggir kota, di tengah lahan persawahan.

Mereka menemui kepala sekolah. Kepala sekolah itu tampak ramah dan penuh perhatian. Usianya sekitar 50 tahun lebih. Dia membuka berkas-berkas Timur dan catatan dari Koramil Sugiwaras tentang keterlibatan Kardi dalam PKI.

Eman sekali, Bu. Timur anak yang pandai. Tapi keterlibatan Bapaknya dalam PKI bisa menghambat cita-citanya untuk sekolah,” ucap kepala sekolah membuka percakapan.

“Tapi, anak saya kan berhak sekolah juga, Pak? Saya juga tidak pernah melawan negara. Saya selalu tepat membayar pajak,” desak Karti.

“Iya, saya ngerti, Bu. Tapi, aturan pusat memang sangat ketat untuk urusan ini.” Kepala sekolah itu menutup berkas-berkas Timur.

“Tolonglah, Pak. Apa tidak ada jalan lain? Kami ini hanya rakyat kecil.”

Kepala sekolah itu diam, menatap Timur yang hanya menundukkan kepala. Ingin sekali dia menerimanya masuk di SMA yang ia pimpin. Tapi, bagaimana dengan atasan-atasannya? Pasti ia akan dimarahi. Atau, bisa-bisa diturunkan dari jabatannya. Dalam kebingungan, pesan almarhum Bapaknya kembali terngiang, “Bantulah setiap anak yang ingin sekolah, karena itu akan menjadi sodaqoh pengetahuan yang pahalanya tidak akan habis kelak di akhirat.”

“Bu, saya ada usul, mungkin Ibu bisa menyetujuinya.”

“Apa itu, Pak?”

“Bagaimana kalau Timur saya jadikan anak angkat. Kalau tahu anak angkat saya, dewan guru tidak akan ada yang protes. Ya, itung-itung menemani saya dan istri di rumah, karena anak-anak saya sudah kuliah di Surabaya dan Jakarta.”

Karti dan Timur saling berpandangan. Timur tersenyum dan mengangguk mendengar tawaran itu.

“Baiklah, Pak, kami menyetujui tawaran itu. Saya dan Timur benar-benar menghaturkan terima kasih. Meskipun, saya sebenarnya agak berat berpisah dengannya. Tapi, demi sekolahnya, biarlah, ndak apa-apa.”

“Dua hari lagi saya tunggu Timur di rumah. Biar sekalian saya urus surat-surat anak angkatnya. Nanti kalau sudah sekolah, Timur biar pulang dua minggu atau satu bulan sekali.”

Karti dan Timur menjabat tangan kepala sekolah. Mereka berdua pamit pulang. Di dalam mobil angkutan pedesaan, Karti diliputi kebahagiaan. Anaknya segera mengenyam pendidikan SMA, meskipun bukan di SMA negeri favorit. Yang penting dia bisa belajar dan belajar, biar bisa menjadi orang kelak. Biar dia bisa membuktikan bahwa anak PKI bisa dalam hidup.

Satu malam menjelang keberangkatan putranya ke Lamongan, Karti kembali menggelar sewek pemberian Simboknya yang sudah meninggal ketika ia masih remaja untuk alas sujud. Segala diam raga mengiringi suara-suara batin yang memuji kepada kuasa Sang Gusti. Perlahan-lahan ia tundukkan kepala, tubuh, dan pikirannya, lalu rebah sujud menghadap ke Timur; menghadap ke awal segala awal. Dalam posisi itu, batinnnya benar-benar hening, menyuarakan segala puji dan pengharapan seorang ibu.

“Gusti, segala keagungan, keadilan, kesucian, kemurahan, adalah kehendak-Mu. Dalam batinku, dalam darahku, dalam pikiranku, kepasrahan adalah kemutlakkan kepada-Mu. Besok, anakku, Timur, akan berangkat belajar, melanjutkan cita-cita keluargaku. Aku memohon sedikit kuasa-Mu untuk melindungi, membimbing, dan mengarahkannya dalam pencarian diri sebagai manusia. Berikanlah sedikit ilmu-Mu kepada pikiran dan batinnya. Karena segala kehendak adalah kehendak-Mu.”

Setelah sujud kepada Sang Gusti, Karti menuju kamar Timur. Ia pandangi wajah putranya yang sangat mirip dengan suaminya. Beberapa kali ia cium kening Timur. Karti tersenyum sebelum akhirnya tertidur sambil memeluk putranya. Di dalam mimpi itulah, Kardi datang menemuinya sembari berkata, “Matur nuwun, Dik. Aku yakin Timur akan jadi ‘orang’. Selalu berdoalah untuk anak kita itu.” Karti terbangun. Air matanya jatuh, mengalir di atas pipinya.

***

7 tahun kemudian, Timur benar-benar menjadi ‘orang’. Dia mendapat gelar dokter dari Universitas Airlangga Surabaya. Karti merasa bangga dengan keberhasilan anak pertamanya. Paling tidak, hal itu bisa memacu minat sekolah kedua adiknya, Asih yang duduk di kelas 3 SMA dan Jati yang duduk di bangku kelas 3 SMP. Kepada kedua anaknya itu, Karti selalu berpesan agar mereka meneladani keberhasilan Timur. Yang membuat dia semakin bahagia adalah kedua anaknya selalu mendapatkan ranking di kelas, selalu masuk 10 besar.

Para perempuan yang biasa membantunya di sawah juga merasa ikut senang dengan keberhasilan Timur. Rata-rata mereka bangga karena anak Pangkat ada yang bisa jadi dokter.

“Biar, nanti kalau Timur pulang, aku minta suntik, biar linu-linu di punggungku sembuh. Biar ndak beli pil terus,” celetuk Yuk Jum ketika membantu Karti memanen jagung.

Iyo wis, Yuk. Ben sampek mlungker,” sahut Yuk Tumina. Karti tertawa mendengar canda mereka.

“E, Yuk, dengar-dengar Haji Rofik sakit aneh,” kata Yuk Jum sambil mengupas kulit jagung.

“Sakit apa Yuk?” tanya Karti penasaran. Yuk Tumina ikut mendengarkan dengan serius.

“Dia itu tubuhnya gemetar terus. Padahal, kata Kang Gimin, ia sudah dibawa ke kyai dan dukun, tetap saja seperti itu.”

“Walah, kok dibawa ke kyai dan dukun, katanya haji, kok masih percaya kayak gitu. Mestinya ya dibawa ke rumah sakit, Yuk. Kan Haji Rofik kaya. Sawahnya luas,” ucap Karti.

“Eman sawahnya kejual, paling, Yuk. Nanti ndak kaya lagi,” celetuk Yuk Tumina.

“Ya, ndak gitu, Yuk, harta benda itu masih bisa dicari. Lha, kalau nyawa, mau dicari kemana. Itu punya Gusti Pengeran.”

Menjelang adzan Dzuhur mereka pulang. Karti memberi Yuk Tumina dan Yuk Jum bawon jagung. Sementara, dua buruh laki-laki mengangkut jagung yang sudah dikupas dengan sepeda, mereka bertiga jalan kaki. Di depan rumah Haji Rofik mereka berhenti karena banyak orang. Salah satu dari mereka mengatakan kalau Haji Rofik semaput, tak sadarkan diri.

“Hei, PKI, kamu pasti yang nyantet suamiku. Kamu dendam kan, karena suamimu mati? Iya kan?!!!” teriak istri Haji Rofik dari dalam rumah ketika melihat Karti di depan pintu. Semua mata tertuju pada Karti yang kebingungan. Beberapa orang berusaha menahan istri Haji Rofik yang hendak memukul Karti.

“Kok jadi aku yang disalahkan, Yuk. Aku ndak tahu apa-apa kok,” bela Karti.

“Halah, PKI memang banyak alasan. Awas kamu, aku laporkan ke perangkat desa!” ancamnya.

“Lho, salahku apa kok dilaporkan. Buktinya mana kalau aku yang nyanthet Haji Rofik.”

“Buktinya, tiap malam suamiku menyebut-nyebut nama suamimu, Kardi.”

Karti terdiam mendengar omongannya. Beberapa orang masih menatapnya, seolah-olah dia menjadi tertuduh. Tapi, sebagian yang lain berusaha menenangkannya. Akhirnya, Yuk Jum dan Yuk Tumina mengajaknya pulang. Istri Haji Rofik masih saja berteriak-teriak.

Sampai di rumah, Yuk Jum dan Yuk Tumina mendudukkan Karti di kursi dan memberinya air putih dari kendi. Karti tampak kaget dan sedih dengan semua tuduhan itu.

“Bagaimana, Yuk, kalau orang-orang percaya dengan omongannya?”

“Yuk, kalau Sampean merasa tidak melakukannya, ndak usah takut,” kata Yuk Jum berusaha menenangkannya.

“Iya, lagi pula tidak semua orang percaya. Menurutku, Haji Rofik menyebut-nyebut nama Kang Kardi, karena dia merasa berdosa, Yuk. Sudah, Sampean tenang saja.” Yuk Tumina membelai rambutnya. Setelah Karti lebih tenang, mereka berdua pamit pulang. Mereka berjanji setelah mandi dan menyiapkan makan di rumah akan kembali lagi menemaninya.

Baru beberapa menit mereka beranjak, seorang lelaki muda dengan datang dengan mengendarai sepeda motor Binter. Karti seolah tidak percaya bahwa yang datang adalah Timur.

“Timur, anakku,” Karti merangkulnya. Demikian pula Timur.

“Gimana kabar Sampean, Mbok?”

“Simbok baik-baik saja, Cong.”

Beberapa saat kemudian, mereka saling melepaskan pelukan. Timur duduk sambil menyandarkan kepalanya di kursi. Karti duduk di sampingnya.

“Kamu kalau begitu seperti Bapakmu, Cong. Persis, ndak mbuang sama sekali. Bapakmu selalu menyandarkan kepala kalau merasa lelah.”

“Lha, iya, Mbok, aku ini kan anaknya Bapak. O, iya, masak apa, Mbok? Aku kangen sayur asem. Ada?”

“Walah, Cong, Simbok ndak masak, soalnya tadi habis dari sawah, panen jagung. Sebentar lagi, Yuk Jum dan Yuk Tumina ke sini, biar mereka masak untukmu. Nyembeli ayam ta?”

“Ndak usah, Mbok. Adik-adikku mana?”

“Si Asih sekolah di Babat. Dia 1 minggu sekali pulang. Jati di kecamatan, dia kelas 3 SMP. Biasanya pukul 2.00 baru sampai rumah.”

“O, gitu. Ya sudah aku mau rebahan dulu. Nanti kalau Yuk Jum dan Yuk Tumina sudah selesai masak, tolong aku dibangunkan, Mbok.”

“Iya…iya.. Biar aku bersihkan dulu kamarmu.”

“Ndak usah, aku sendiri yang bersihkan. Simbok cepet mandi biar seger.”

“Iya.”

Yuk Jum dan Yuk Tumina datang ketika Karti mulai menanak nasi. Yuk Jum dan Yuk Tumina ikut senang ketika ia beritahu Timur datang. Mereka bertiga akhirnya memasak sayur asem dan telur dadar. Sambil memasak, mereka masih memperbincangkan kedatangan Timur.

Setelah semua masakan siap, Karti membangunkan Timur. Tahu ada Yuk Jum dan Yuk Tumina, Timur bersalaman dengan mereka berdua.

“Cong, itu lho Yuk Jum sama Yuk Tumina ingin tahu kamu kerja di mana?” tanya Karti.

“Aku kerja di rumah sakit Lamongan, Yuk.”

“Oalah, nanti kalau ada keluarga atau warga desa yang sakit enak ya, langsung nemui Mas Timur,” celetuk Yuk Tumina.

“Iya, Yuk. Memang warga Pangkat ada yang sakit?” tanya Timur sambil menambah nasi.

“Itu Haji Rofik, e…anu…” Yuk Jum keceplosan omong. Yuk Tumina mencubit bahunya.

“O, Haji Rofik, yang tukang kutbah itu? Yang anaknya jadi tentara itu?”

“Iya, Cong. Sakitnya aneh, tubuhnya gemetaran. Tadi siang Simbok sempat melihatnya waktu ia semaput. Tapi, Simbok…”

“Tapi, Simbok kenapa?” tanya Timur menghentikan makannya. Karti tidak mampu meneruskan ucapannya.

“Begini, Mas. Tadi, waktu melihat dari luar pintu, istri Haji Rofik marah-marah kepada Yuk Karti. Dia menuduh Yuk Karti nyanthet Haji Rofik karena setiap malam ia mengigau memanggil-manggil nama Bapakmu,” jelas Yuk Jum.

“O, gitu, masalahnya. Ndak usah dipikir, Mbok. Yang penting Sampean tidak melakukannya. Begini saja, biar nanti habis Ashar aku ke rumah Haji Rofik. Biar jelas dia sakit apa. Kalau perlu nanti saya rujuk ke rumah sakit.”

“Jangan, Cong, nanti kamu didamprat istrinya lagi,” pinta Karti.

“Lha, kan aku mau menolongnya, kok malah didamprat. Mestinya yang marah itu aku, Mbok. Bapak mati, sampai sekarang kita ndak tahu maesan-nya ada di mana. Kalau memang aku didamprat, ya, aku balik. Ndak usah repot, Mbok.”

“Jadi, kamu mau ke sana, Cong? Kamu ndak dendam kan sama Haji Rofik?”

“Mbok, kalau dendam itu dipelihara, selamanya akan menjadi masalah. Aku yakin Gusti Pengeran sudah memberi balasan pada semua orang yang membunuh Bapak. Kita ndak perlu dendam. Paling tidak, kedatanganku ke sana akan membuktikan bahwa Simbok tidak nyanthet Haji Rofik, sekaligus membuktikan kepada mereka bahwa kita tidak pernah mendendam. Ini masalah kamanungsan, kemanusiaan, Mbok.”

“Walah, Mas Timur, mugo-mugo diparingi rezeki tambah akeh, atine Sampean jembar banget, Mas,” ucap Yuk Tumina sambil membereskan alat makan di meja.

“Ya sudah kalau begitu. Kamu mandi dulu sana, biar ndak kusut.”

Timur datang ke rumah Haji Rofik selepas Ashar. Anggota keluarga dan tetangga bingung dengan kedatangan Timur. Mereka merasa seperti pernah mengenalnya.

“Ini Timur?” tanya Pak Kasto, seorang kerabat Haji Rofik ketika Timur menyalaminya.

“Nggih, Pak. Saya Timur anak Pak Kardi. Saya dengar Pak Haji sakit, biar saya periksa.”

“Hei, anak PKI, jangan sentuh suamiku. Kamu pasti mau membunuhnya seperti Simbok-mu!” teriak istri Haji Rofik. Beberapa orang memegangi tangannya.

“Yuk, Sampean itu, ndak usah nuduh-nuduh sembarangan. Fitnah itu. Timur mau ke sini memeriksa Gus Rofik itu sudah bagus. Sampean mestinya malah senang. Ayo, silahkan Timur,” kata Pak Kasto sambil mengantarkan Timur masuk ke kamar Haji Rofik.

Tubuh Haji Rofik masih gemetaran ketika Timur memeriksa dengan seksama, dada dan perutnya.

“Pak Haji, tubuhnya terasa sakit?” tanya Timur sambil duduk di sampingnya.

“I…iya…sakit semua. Terus ini gemetaran terus. Kamu siapa?”

“Saya Timur, Pak Haji, anak Pak Kardi.”

“Pak Kardi? Kamu ini anaknya? Duh Gusti Alloh ampuni segala dosa hambamu ini. Timur, kamu sudah besar, Cong,” ucap Haji Rofik sambil mengelus kepala Timur. Ia meneteskan air mata.

“Begini, Pak Haji, menurut perkiraan saya, syaraf Njenengan ada yang bermasalah. Lebih baik dibawa ke rumah sakit Lamongan segera. Nanti saya kasih rujukan. Kalau tidak ditangangi dokter ahli, sembuhnya bisa lama, Pak Haji. Njenengan ingin sehat kan?”

“Iya, Cong. Waduh terima kasih yang banyak ya. Maafkan semua kesalahanku di masa lalu yang menyebabkan Kang Kardi meninggal.”

“Sudahlah, Pak Haji. Saya tahu kondisi waktu itu memang sangat kacau. Warga yang membunuh Bapak saya sebenarnya tidak bersalah, karena mereka dihasut oleh tentara. Kami sekeluarga tidak pernah dendam, Pak Haji. Ya sudah biar saya bilang sama keluarga Njenengan, kalau bisa sore ini segera dibawa ke Lamongan.”

“Iya, terima kasih, Cong. Timur, tunggu sebentar.”

“Nggih, Pak Haji. Ada apa?”

“Cong, aku tahu kamu, Simbokmu, dan adik-adikmu, pasti ingin tahu di mana jenasah Bapakmu dikuburkan oleh anggota laskar.”

“Nggih, Pak Haji, di mana?” tanya Timur bersemangat.

“Datanglah ke telaga Dagel, sekitar 10 KM utara Pangkat. Di sisi utara telaga ada pohon trembesi, besar banget. Di sisi timur trembesi itu ada sebuah batu besar. Di bawah batu itulah Kang Kardi dikuburkan. Bongkarlah kuburan Bapakmu, sempurnakan jasadnya, pindahlah ke kuburan Pangkat. Sekali lagi, maafkan aku dan orang-orang yang telah membunuh Bapakmu.”

Mendengar penjelasan Haji Rofik, Timur meneteskan air mata. Rasa penasarannya selama puluhan tahun akan segera terjawab. Ia mencium tangan Haji Rofik.

“Terima kasih, Pak Haji. Informasi Njenengan tentu akan membuat hidup keluarga kami lebih bahagia, tidak dirundung rasa penasaran.”

Timur segera menemui anggota keluarga Haji Rofik. Tampak istrinya masih agak marah. Timur cuek saja.

“Pak, Bu, Pak Haji harus segera dibawa ke rumah sakit. Ada sedikit gangguan di syarafnya, sehingga tubuhnya gemetaran. Tenang saja, bisa disembuhkan kok. Ini saya kasih surat rujukan, sampai di rumah sakit kasihkan ke bagian administrasi, biar Pak Haji segera bisa dirawat. Dan, sekalian saya ingin menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Simbok saya tidak pernah nyanthet Pak Haji. Penyakit Pak Haji murni berkaitan dengan syaraf. Jadi, saya mohon jangan menuduh Simbok dengan tuduhan yang macam-macam. Saya pamit dulu.” Timur menyerahkan surat rujukan kepada Pak Kasto.

“Terima kasih, Timur. Sore ini juga akan kami bawa ke Lamongan.”

Sampai di rumah Timur segera memberitahu Karti perihal informasi yang diberikan oleh Haji Rofik. Karti menangis bahagia mendengarnya.

“Ya, sudah, kalau begitu segeralah berangkat ke Dagel. Yuk Jum, Yuk, Tum, tolong suami kalian berdua suruh nemani Timur. Aku segera ingin jasad suamiku disempurnakan, meskipun tinggal tulang.”

“Ya, Yuk,” sahut Yuk Jum. Dia segera mengajak Yuk Tumina kembali ke rumah.

“Cong, bertamulah terlebih dahulu ke Kepala Dusun Dagel, Pak Miskan, dia itu masih sepupu Simbok. Biar dia bantu, biar orang-orang tidak curiga.”

“Iya, Mbok.”

Setelah suami Yuk Tumina, Mardi, dan suami Yuk Jum, Sutris, datang, Timur segera membonceng mereka berdua, meskipun agak sesak. Sementara, Karti melepas kepergian Timur sembari memeluk Jati.

Di Dagel, segera ia menuju rumah Pak Miskan, setelah diberitahu suami Yuk Tumina arah rumahnya. Pak Miskan kaget, setengah tidak percaya, ketika Timur mengatakan dirinya anak Kardi, karena sudah lama ia tidak berjumpa dengannya. Namun, penjelasan Mardi semakin meyakinkannya. Pak Miskan sangat senang mengetahui Timur menjadi seorang dokter. Begitu Timur menjelaskan maksud kedatangannya, Pak Miskan menundukkan muka. Ia menangis lumayan keras, sampai istri dan dua anaknya keluar. Istrinya berusaha menenangkannya.

“Su…sudah sangat..l..l..lama, aku ingin tahu di mana kuburan Kang Kardi, Bu. Dia itu orang yang selalu memberi nasehat agar aku menjadi perangkat desa yang baik. Dia dan Yuk Karti jugalah yang menolong keluarga kita ketika kesulitan pangan. Timur, aku itu sampai pergi ke puluhan dhukun untuk menanyakan lokasi kuburan bapakmu. Tapi, semua gelap, tidak ada yang tahu. Lha, kok, ternyata kuburannya di telaga Dagel. Duh, Gusti maturnuwun. Maturnuwun banget. Bu, tolong panggilkan Kirno, Karto, dan Soleh, suruh mereka ke sini membawa lampu petromak. Buat jaga-jaga kalau penggalian jenasah Kang Kardi sampai malam.” Istri Pak Miskan segera keluar.

Tidak lama kemudian, mereka berangkat menuju ke telaga. Mengikuti petunjuk Haji Rofik, suami Yuk Tumina dan Yuk Jum mulai menggalikan, sementara Kirno, Karto, dan Soleh mengumpulkan tanah galian. Timur diliputi ketegangan. Pak Miskan berusaha menenangkannya. Setelah hampir 2 meter, mereka belum juga menemukan jasad Kardi. Karena sudah gelap, Karto dan Kirno segera menyalakan lampu petromaks.

Baru pada kedalaman hampir 3 meter, Mardi dan Sutris berteriak karena menemukan tengkorak manusia dan banyak tulang. Timur segera bersujud, mencium tanah, menghaturkan puji syukur kepada Gusti Pengeran. Pak Miskan meletakkan tengkorak dan tulang-tulang di atas kain sewek yang dibawa dari rumah. Ia terus meneteskan air mata. Begitupula Timur, Mardi, dan Sutris. Kirno, Karto, dan Soleh segera mengembalikan tanah galian ke lubang.

Timur, Pak Miskan, Mardi, dan Sutris segera menuju ke Pangkat. Di perjalanan, sembari membonceng Mardi, ia terus diliputi perasaan haru, senang, dan sedih, bercampur jadi satu. Lelaki yang telah meninggalkannya sekian lamanya, akhirnya bisa segera disempurnakan jasadnya.

Sampai di rumah, ternyata sudah banyak tetangga yang datang. Sebagian menunggu di halaman, sebagian di ruang tamu. Begitu jasad Kardi dibawa Timur ke dalam, semua terharu, sebagian menangis terisak.

“Walah, Kang Kardi, iki aku kang, bojomu. Iki aku Kang,” tangis Karti mencium tengkorak Kardi. Yuk Tumina, Yuk Jum, dan beberapa perempuan lainnya berusaha menenangkannya. Timur memeluk Simboknya, tanpa bersuara. Lama mereka memandangi jasad Kardi yang tinggal tengkorak dan tulang itu.

“Yuk, ini seterusnya harus bagaimana? Apa yang harus kami lakukan?” tanya Pak Miskan.

“Emm..emmm begini saja, Dik, Sampean ajak beberapa warga ke pemakaman untuk menggali kubur. Emmm…aku akan menyiapkan menyucikan jasad Kang Kardi sebentar di kamar belakang. Yuk Jum, Yuk Tum, tolong kalian cari kembang 5 warna. Terserah bunga apa saja pokoknya 5 warna. Cong, tolong bawa jasad Bapakmu ke kamar, Simbok akan mempersiapkan air,” pinta Karti.

Setelah Yuk Tumina dan Yuk Jum datang membawa kembang 3 warna, Karti mengajak Timur dan Jati masuk ke kamar. Ia merendam kembang di dalam genthong. Lalu, ia meminta Timur dan Jati membasuhkan air kembang itu ke tengkorak dan tulang Kardi. Selanjutnya, Karti mengajak mereka berdua sujud untuk mendoakan kesempurnaan jasad Kardi. Sesudah sujud, mereka mengkafani jasad Kardi.

Pukul 20.00, Timur, Karti, Jati, beserta warga yang datang untuk memberikan penghormatan kepada Kardi berangkat ke pemakaman. Sebagian yang beragama Islam mengucapkan kalimat-kalimat suci dengan lirih. Timur dan Jati menggandeng Simbok mereka.

Sampai di kuburan, Timur dan Jati didampingi Pak Miskan masuk ke liang lahat. Mereka menata jasad Kardi dengan pelan-pelan. Kemudian, setelah mereka naik ke atas, orang-orang menguburnya. Sebelum, para pengiring pulang, Karti menyampaikan beberapa pesan.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang saya hormati. Maturnuwun telah mengantarkan dan ikut menyempurnakan jasad Kang Kardi. Saya atas nama keluarga, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kalau selama hidupnya, Kang Kardi pernah menyakiti Sampean semua. Kang Kardi tentu bukanlah manusia sempurna. Kalau Kang Kardi pernah berhutang, tolong beritahu kami, akan kami ganti sesuai dengan nilai uang sekarang. Sekali lagi, maturnuwun. Sebelum kembali ke rumah masing-masing, saya ingin mengatakan kalau kami akan menggelar slametan malam ini. Silahkan datang, kalau Bapak-bapak tidak ada kegiatan. Bagi Ibu-ibu yang longgar, saya mohon untuk membantu di rumah. Maturnuwun.”

Karti, Timur, dan Jati berjalan beriringan didampingi Pak Miskan. Batin mereka kini lebih benderang karena Kardi sudah disempurnakan sebagai jasad. “Kang, tenangkanlah dirimu di surga. Kelak, aku, Timur, Asih, dan Jati serta orang-orang yang mencintaimu akan menyusul dengan senyum,” doa Karti dalam batin sembari memandang benderang bulan di atas.

 

Foto cover: https://writingstoheaven.wordpress.com/2015/06/14/darkness/

Share This:

About Ikwan Setiawan 148 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*