Aku dan Seorang Perempuan: Di Jurang Sajiwo

IKWAN SETIAWAN

 

Dalam batas sunyi, yang ada hanyalah kesungguhan menembus segala kemungkinan, yang terlalu takut untuk diadakan oleh pikiran. Ada kecupan manis malam, ada sentuhan lembut embun, menyatu dalam batas kesadaran dan mimpi, yang menaklukkan kesombongan-kesombongan manusia.

Tiba-tiba semua menjadi gelap, panas, lalu tiba-tiba berganti dingin. Begitu selama beberapa saat lamanya. Tak ada kepastian di mana dan dalam waktu apa sebenarnya ini semua berlangsung. Batas dan kejelasan menjadi kabur pada warna-warna yang begitu gelap, lalu tiba-tiba terang. Semua sepi, segalanya sendiri. Ketika melihat tubuhku di bebatuan kecil, seketika itu aku menyadari bahwa ini semua sudah berlangsung sekian lamanya, dalam beberapa jam, atau beberapa hari, mungkin.

Susah payah aku melihat-lihat tubuh tanpa darah itu. Dari kaki, pantat, perut, leher, kepala, hingga kuku dan rambut. Ah, inilah yang ditakutkan banyak manusia ketika tubuh tidak menjadi apa-apa. Menjadi semata-mata daging, tanpa makna. Kecuali satu, ya, aku masih mempunyai nyawa yang melayang-layang dalam ketakterhinggaan, menjadi raja bagi nyawa itu sendiri. Semua menjadi indah, melebihi keindahan tubuh, melebihi keinginan, melebihi percumbuan mesra dengan kekasih. Keterbebasan dari beban tubuh ternyata mengundang kenikmatan yang luar biasa.

Lagi-lagi, tiba-tiba, kutangkap sekelebat bentuk tubuh melalui indra yang aku tak tahu namanya, bukan mata. Ternyata tubuh seorang perempuan yang bergerak-gerak. Ah, ia bermain air kali yang jernih. Wajahnya seperti pernah kulihat, tapi aku tidak ingat siapa dan di mana pernah bertemu. Semua menjadi tidak jelas, ingatanku, apakah masih menempel dalam otak? Tapi aku merasa begitu dekat, sangat dekat, semakin dekat. Mungkin lebih baik aku mendekat, toh ia tidak tahu akan kehadiranku. Mungkin.

“Kenapa engkau datang kemari?”

Suara itu membuat berhenti semua yang aku rasakan sebelumnya. Kenikmatan berhenti pada hitungan detik. Koma, sesaat aku diam, tanpa tahu harus berbuat apa. Bagaimana mungkin ia tahu? Ataukah ia sedang bicara dengan tubuh lain? Tapi, di sini tidak ada tubuh yang lain, yang ada hanyalah aku sebagai daging mengerikan. Bingung membawa nyawaku menghantam keangkeran pohon yang sangat lampau.

“Aku tahu, pasti ada sejarah yang coba kau ingat. Sejarah tentang tubuhmu yang pernah datang kemari. Menjumpaiku dalam semangat besar, seorang manusia, seorang lelaki.”

Rupanya dia benar-benar bicara denganku. Dan, sepertinya dia memang mengenalku. Siapa sebenarnya dia? Lalu, dengan apa harus aku balas semua perkataannya. Semuanya menjadi senyap. Bulan tak lagi kuasa menembus kecilnya daun. Air kali berhenti mengalir. Tak ada suara jengkerik. Tak ada hembusan angin. Semesta begitu hening. Aku tidak tahu berapa lama ini semua berlangsung. Karena tak ada waktu yang bergerak.

“Kamu masihlah manusia yang berhak untuk menemui dan menemukan tubuhmu kembali. Kamu masihlah manusia.”

Suara perempuan itu terdengar seperti mantra. Begitu cepat mengumpulkan partikel-partikel nyawaku, menariknya-kembali ke dalam tubuh manusiaku. Cuma, aku melihat tubuhku yang tampak lebih bersih dan bersinar. Perempuan itu hanya memandangi tubuhku. Sepertinya ia tahu bahwa tubuhku belum bisa diajak bicara secara wajar sebagai manusia.

“Kembalilah ke tubuhmu. Sudah aku katakan, kamu tetap berhak menjadi manusia yang utuh. Aku tahu kamu juga belum rela melepaskan tubuhmu sepenuhnya. Tidak usahlah kamu takut masa lalu. Itu semua memang harus terjadi, meski tidak pernah diharapkan. Aku tidak akan marah atau mengutukmu. Bagiku, masa lalumu, bukanlah alasan tepat untuk membiarkan dirimu terus menjadi daging yang selamanya harus diam, mengering. Maka, kembalilah ke tubuhmu dan marilah kita bercengkrama tentang hidup saja.”

Dan, inilah aku, seorang lelaki yang kini duduk diam menunduk di atas sebongkah batu kali besar. Aku tidak tahu, apakah aku harus merasa malu, tidak berdaya, atau marah dengan apa yang telah aku alami. Aku juga tidak tahu sepenuhnya apakah ini mimpi, keajaiban, ataukah sekedar khayalan. Aku merasa baru saja mengalami kecelakaan. Aku jatuh ke jurang, karena hujan yang begitu deras, menjadikan pandanganku kabur, hingga terpeleset. Nyawaku menyaksikan tubuhku jatuh menghantam tanah, batu, duri, akar, dan pepohonan. Tiba-tiba, kini, tubuh dan nyawaku telah kembali utuh oleh mantra seorang perempuan yang tengah duduk bersila di hadapanku.

“Mengapa harus terus menunduk? Bukankah kamu sudah kembali? Bicaralah dan tataplah aku.”

Suara perempuan itu dengan cepat membuyarkan semua kebingunganku. Ketika keberanian untuk menatap wajah perempuan itu muncul, betapa tidak masuk akal ini semua. Ya, perempuan penolongku itu ternyata sama seperti wajah perempuan yang hadir dalam mimpi-mimpiku selama ini. Bagaimana mungkin ia bisa hadir di alam nyata—kalau memang ini nyata? Bagaimana mungkin perkataannya bisa mengembalikan nyawaku ke tubuhku? Bagaimana mungkin? Atau, jangan-jangan ini hanyalah mimpi? Rasanya ini semua sungguh tidak masuk akal. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.

“Tak usahlah kamu bingung memikirkan apa-apa yang sudah terjadi. Anggap saja ini memang harus terjadi dan sudah menjadi bagian dari perjalanan panjangmu. Aneh memang, tetapi tidak akan aneh ketika kamu menyadari sejarah hidupmu yang penuh pencarian, mimpi, dan ketakutan itu,” tutur perempuan itu.

“Bagaimana mungkin kamu bisa tahu semua itu? Dan, siapa sebenarnya kamu?”

“Bagaimana aku bisa tahu? Aku rasa itu semua tidak penting. Dan, tentang diriku, aku rasa kamu sudah tahu sepenuhnya, meski kamu hanya menganggapku mimpi dan impian. Begini saja, yang penting sekarang kamu sudah kembali lagi menjadi manusia. Itu saja.” Perempuan itu hendak beranjak dari duduknya. Dengan sekuat tenaga aku berusaha meraih lengannya.

“Tunggu! Kalau kamu memang tidak mau bercerita tentang siapa sebenarnya dirimu, tidak jadi masalah. Tapi, kamu harus bercerita mengapa nyawaku bisa kembali ke tubuhku.”

“Ya, bagimu semua menjadi aneh. Bagimu aku ini orang sakti, peri, nabi, atau nenek sihir; bisa menghidupkan orang mati yang badannya sudah hancur lebur. Mungkin bagimu aku ini Sang Penghidup, Tuhan, Sang Hyang Widhi, Gusti Allah, Alloh. Tidak. Aku ini manusia biasa. Sebenarnya tubuhmu belum mati. Kamu dikacaukan pikiranmu sendiri karena kamu terlalu memikirkan tubuhmu. Ketika terjatuh ke dalam jurang ini, kamu merasa sejarah dan impian tubuhmu sudah berakhir. Kamu terlalu takut kehilangan sejarah dan impian itu, sehingga semua tampak menjadi kengerian yang mencekam. Padahal semua masih berjalan dengan normal. Yang aku lakukan hanyalah meyakinkan bahwa kamu sepenuhnya masih manusia. Itu saja. Sudahlah, aku mau pergi dulu. Masih banyak yang harus aku kerjakan di sepanjang kali ini. Dan, sekali lagi ingat, aku bukanlah Sang Penghidup! Selamat tinggal!”

Aku hanya bisa menatap kepergiannya tanpa bisa berkata karena pada dasarnya aku masih sulit mengerti atas apa yang terjadi. Perempuan itu berjalan, begitu cepat, tapi ia tidak terbang. Tubuhnya terlihat begitu ringan menembus cahaya matahari yang mulai memudarkan pandanganku. Derasnya air kali dan terjalnya bebatuan, bukanlah halangan serius baginya. Kini, tinggalah aku sendiri ditemani bebatuan, semak, anggrek, pepohonan, dan derasnya air kali, yang diam-diam mentransfer energi ke dalam sel-sel tubuhku yang mulai bergerak. Aku berusaha bangkit sekuat tenaga. Tubuh ini rasanya begitu berat, susah sekali digerakkan. Semakin aku berusaha bangkit, semakin berat rasanya tubuh ini. Namun, aku terus berusaha sembari meyakinkan pikiranku bahwa aku bisa bangkit dan bergerak. Dan, ketika aku sudah hampir bisa berdiri, tiba-tiba kakiku menginjak sesuatu yang licin. Semuanya berjalan dengan begitu cepat, yang aku dengar adalah suara “buk”. Lalu, semuanya menjadi begitu gelap.

Aku tersadar ketika lima jemari mengelus-elus keningku. Ketika membuka mata, aku baru tahu ternyata aku berada di atas ranjang bambu ditemani seorang perempuan dengan wajah bersinar, rambut bergelombang terurai. Sembari duduk di sampingku, perempuan itu tersenyum kecil, seperti sedang melihat seorang anak yang membutuhkan kasih sayangnya. Perempuan itu masih sangat muda. Usianya mungkin 1-2 tahun di bawahku.

“Kamu sudah bangun rupanya. Syukurlah, aku sempat ketakutan karena lima hari kamu tidak sadarkan diri. Aku pikir kamu sudah meninggal. Tapi, hati kecilku berkata bahwa kamu masih hidup. Karena tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya bisa berdoa kepada Sang Penghidup semoga kamu diberi kesembuhan dan diberi kesempatan untuk hidup lagi. Dan, ternyata Dia mendengar dan mengabulkan doaku.”

Aku berusaha bangun dari tidur. Perempuan itu merengkuh pundakku dan membantuku untuk duduk bersandar pada dinding bambu.

“Tenggorokanku…..sangat panas,” ucapku terbata-bata. Perempuan itu menuangkan air dari kendi ke dalam wadah seperti gelas yang terbuat dari bambu.

“Ini minumlah. Air ini berasal dari sumber di sebelah gubukku. Mungkin air ini bisa membuatmu merasa lebih segar. Aku sudah membuktikan khasiatnya, setiap hari badanku terasa segar.”

Dengan perlahan sekali ia menyodorkan gelas bambu itu ke arah mulutku. Ia memegangi kepalaku dengan sabar. Sembari merasakan segarnya air, aku masih terus memandangi wajah perempuan itu. Tapi mengapa ia berada di tempat yang sangat sunyi seperti ini?

“Kalau kamu masih lelah, lebih baik tidur lagi. Biar besok tubuhmu lebih segar.”

“Ehm, aku sudah merasa baikan. Ehm, ngomong-ngomong aku sekarang berada di mana? Bagaimana aku bisa di sini? Dan, siapa sebenarnya kamu ini?”

Sejenak ia terdiam sambil menundukkan wajahnya. Suara jengkerik dan gemericik air kali semakin menambah kesunyian malam ini.

“Kamu, kamu melamun?”

“Ah, tidak. Aku hanya sedikit berpikir.”

“Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi.”

“Sore itu aku hendak mandi ke sumber. Tiba-tiba aku mendengar suara gemuruh bebatuan jatuh dari atas. Tidak begitu lama, aku lebih kaget lagi, karena seorang laki-laki terjatuh dan tergeletak di pinggir kali. Lelaki itu adalah kamu. Lalu, aku berusaha sekuat tenaga membawamu ke dalam gubukku. Tiap hari aku berusaha meracik ramuan dedaunan untuk menyembuhkan lukamu sembari berdoa agar kamu segera sadar. Satu hari, dua hari, hingga empat hari, kamu tidak kunjung sadar. Aku sudah hampir putus asa dan menganggap kamu sudah mati. Aku sudah hampir menguburmu. Hingga pada malam kelima aku bermimpi bertemu dengan almarhuma nenekku yang tersenyum pada sebuah pagi. Ketika tersadar aku seperti mendapat keyakinan baru bahwa kamu sebenarnya masih hidup. Dan, kenyataannya, kamu memang masih hidup,” ceritanya dengan begitu jelas.

“Lalu, siapa kamu sebenarnya dan bagaimana bisa berada di tempat ini?”

Perempuan itu menuju jendela, lalu membukanya. Matanya menerawang keluar. Tampak bintang berhamburan di langit gelap.

“Aku pikir tidak seharusnya kamu tahu sejarahku. Karena bagiku semua masa lampau haruslah menjadi bagian hidup yang tidak perlu diceritakan pada orang lain. Aku tidak ingin memberikan beban baru, karena kamu mesti memulihkan kondisi tubuhmu. Tidak etis rasanya kalau aku memasukkan masa laluku ke dalam pikiranmu. Cerita hanya akan membentuk koloni-koloni baru dalam benak manusia, yang membuatnya tidak merdeka lagi; terbebani. Toh, kamu bukan siapa-siapaku. Aku juga tidak pernah ingin tahu sejarahmu. Lebih baik masing-masing dari kita membawa masa lalu dan membiarkannya mengkristal dalam memori. Tanpa harus dibicarakan dan diceritakan. Mungkin itu akan lebih baik daripada kita harus menambah beban pikiran orang lain.”

Aku berusaha berdiri meski harus berpegangan pada dinding bambu. Aku berusaha mendekatinya dan hendak menyentuh bahunya dari belakang. Namun itu semua aku urungkan dan aku memilih untuk duduk di kursi bambu.

“Mengapa kamu berkata seperti itu? Sekarang aku di sini bersamamu. Kita hanya berdua di gubuk ini. Mengapa kamu masih menganggapku sebagai orang lain? Aku memang bukan keluargamu, tapi bukankah aku bisa menjadi sahabatmu. Dan, aku akan sangat berdosa kalau tidak tahu apa-apa yang menyebabkanmu berada di tempat ini. Aku mau sedikit berbagi pikiran dengan masa lalumu.”

Segera perempuan itu berbalik arah dan duduk di kursi. Sekarang kami saling berhadapan dan memandang satu sama lain. Mata kami saling menembus warna hitam, jauh ke dalam.

“Dengar. Aku sangat menghargai keinginanmu. Masalahnya, aku juga punya hak untuk tidak mengatakan sejarahku. Lagipula aku sudah terlalu bahagia hidup di jurang ini. Jauh dari semua hingar-bingar yang menyesakkan. Di sini yang ada hanya kedamaian. Aku pikir hanya itu yang ingin aku pertahankan. Dan, ketika aku ceritakan masa laluku kepadamu, pasti akan muncul masalah-masalah baru yang mengganggu semua kedamaian ini. Yang lebih mengerikan lagi, aku akan kehilangan keindahan-keindahan peristiwa yang sudah aku alami di sini. Aku yakin kamu bisa memahaminya.”

“Kalau itu memang keinginanmu, aku akan mengikutinya. Permisi, aku mau ke belakang sebentar.”

“Tunggu. Kamu jangan sendiri, mari aku antar, jalannya sangat licin.”

Dengan hati-hati perempuan itu menggandeng pundakku. Kami berdua perlahan menuju kamar kecil di pinggir kali yang hanya ditutupi dedaunan. Setelah mengantarku sampai kamar kecil itu, ia beranjak menjauh. Aku mengerti maksudnya. Sembari buang air kecil aku memandang ke atas. Ternyata jurang itu sangat curam. Sungguh keajaiban aku masih hidup. Di atas jurang sesekali terlihat cahaya mobil melintas di tikungan tajam. Ya, pasti di tikungan itu aku kehilangan kendali dan akhirnya jatuh.

Setelah selesai, perempuan itu menggandengku kembali ke dalam gubuk. Sambil berjalan itulah aku sempatkan menanyakan siapa namanya. Aku begitu senang karena ia tidak merahasiakan soal nama.

“Kalau memang aku tidak boleh tahu sejarahmu, bolehkah aku tahu siapa namamu?”

“Orang tuaku menyematkan nama Savitri Arumbumi kepadaku. Cukup panggil aku Vee saja, dengan dua huruf e. Kalau kamu?”

“Ivan Sandyawan. Paggil aku Van. Budhe-ku, seorang guru SD, yang memberi nama itu. Katanya Ivan itu nama orang bule, tetapi juga dekat dengan konsep Islam, ikhwan, yang berarti sahabat. Sandyawan, katanya bermakna yang menjaga rahasia. Aku sendiri tidak ambil pusing atas makna itu. Yang penting aku punya nama, dan kawan-kawan memanggilku, Van.”

Sesampai di dalam, Vee menyuruhku berganti pakaian. Bentuk pakaian itu begitu aneh dan primitif. Aku berpikir demikian karena sudah terbiasa memakai pakaian buatan pabrik.

“Aku membuatnya dari kulit pohon yang masih muda. Aku menghaluskan, mengeringkannya, lalu merajutnya. Lumanyanlah bisa menutupi tubuh. Aku belajar memaklumi kondisi di jurang ini. Aku harus beradaptasi agar bisa hidup di sini. Termasuk dalam hal pakaian. Mungkin inilah cara hidup purba. Baiklah, aku akan memasak bubur singkong di dapur, kamu bergantilah pakaian. Sebentar lagi kita akan makan malam.”

Selesai berganti pakaian dari kulit, aku merasa ada yang aneh. Aku seperti menjadi manusia purba. Tapi benar kata Vee, aku harus belajar memaklumi dan beradaptasi dengan kondisi. Vee, perempuan itu begitu baik. Perempuan itu begitu kuat. Aku masih tidak bisa bernalar, bagaimana mungkin bisa ia hidup seorang diri di sini. Apakah ia tidak ingin kembali ke alam manusia di atas? Apakah dia tidak lagi mempunyai keinginan menikmati masa-masa yang indah? Vee, ia tetaplah perempuan misterius. Aku yakin sepenuhnya Vee adalah perempuan terpelajar. Dari kalimat-kalimat yang ia utarakan aku tahu, perempuan itu minimal pernah mengenyam pendidikan tinggi.

“Saatnya makan malam,” ujarnya membuyarkan kebingunganku, “Van, ini aku buatkan bubur singkong. Kamu pasti belum pernah merasakan. Emm, enak, lho. Kamu harus makan yang banyak biar badanmu cepat sehat.”

“Emm, kok baunya harum sekali ya. Apa mungkin karena terlalu lapar hingga bubur singkong pun beraroma bubur ayam?” kelakarku.

“E, kamu jangan menghina. Bubur ini adalah penemuan terbesarku selama di sini. Aku meracik singkong yang sudah dihaluskan dengan rempah dan umbi-umbian yang banyak terdapat di sini. Di dunia atas sana, kamu pasti tidak pernah makan ini sebelumnya.”

“Ya, jelas saja. Di atas sana, masih banyak beras. Mengapa harus susah-susah memasak singkong jadi bubur. Buang-buang waktu, Vee.”

“Iya. Orang-orang di atas memang terlalu fanatik pada beras sehingga makanan lain yang sebenarnya melimpa, mereka lupakan. Padahal gizinya tidak jauh berbeda. Ketika orang-orang semakin fanatik beras, harganya semakin tinggi, banyak orang tidak mampu membelinya lagi. Kelaparan adalah konsekuensi, khususnya bagi mereka yang miskin,” tutur Vee seperti seorang profesor.

“Dan…itu pulah yang membuatmu lebih memilih tinggal di sini. Karena kamu tidak tergantung lagi pada beras. Begitukan?” tanyaku memancing.

“Aku tidak mengatakan seperti itu. Ah, sudahlah, ayo kita makan. Nanti buburnya dingin. Nggak enak. E, jangan lupa yang kayak dadar telur itu perkedel singkong ala Vee. Itu lauk yang paling pas untuk bubur singkong ini.”

Akhirnya, kami berdua menikmati bubur singkong. Kami berdua bercanda dan bercengkrama tentang bubur itu. Sesekali Vee bercerita tentang suka duka ia tinggal di dasar jurang ini. Selesai makan, Vee menaruh piring kayu di dapur. Setelah itu, sejenak kami melanjutkan percakapan di meja makan sembari menikmati jahe hangat, tanpa gula. Semua berlangsung dalam suasana yang menyenangkan, meskipun Vee mungkin tidak merasakannya.

“Vee, mungkin pertanyaanku ini terkesan seperti anak kecil. Tapi aku merasa perlu untuk menanyakannya. Apakah kamu tidak takut tinggal sendiri di dasar jurang yang sepi ini?”

“E, jangan memancingku untuk bercerita tentang sejarahku, ya,” sanggahnya sebelum menenggak jahe hangat.

“Tidak, tidak. Ini bukan tentang sejarahmu. Ini tentang yang kamu alami di sini. Semacam kisah aktual.”

“Ehmm, kalau dibilang takut, aku sudah menjalaninya. Kalau dibilang tidak, aku manusia biasa. Yang pasti, mungkin karena sudah terbiasa merasa takut, aku jadi tidak takut lagi. Semua kondisi ini aku anggap sebagai apa-apa yang memang harus aku jalani. Salah satu kenikmatan hidup, menurutku, adalah ketika aku tidak lagi merasa takut kepada apa-apa yang semula aku takuti. Dan, itu bernama kesunyian.”

“Lalu, apa kamu tidak pernah didatangi hantu atau makhluk-makhluk sejenisnya? Siluman, misalnya.”

“Ha, ha, ha. Van, Van, kamu itu orangnya tinggi besar, gondrong, e, malah masih takut sama barang-barang gitu. Kamu pasti terlalu banyak menonton sinetron siluman atau film-film horor. Jadinya, pikiranmu kacau.”

“Bukannya begitu, Vee. Tapi, makhluk-makhluk itu kan juga diciptakan Sang Penghidup, berdampingan dengan manusia, meskipun beda dimensi.”

“Nah, kamu sudah semakin pintar. Kamu sudah tahu jawabannya. Mereka itu beda dimensi dengan kita. Kalau kita tidak menganggu alam mereka, maka sebenarnya mereka juga tidak akan mengganggu alam kita. Itu saja rumusnya. Jadi, untuk urusan jin dan gerombolannya, aku tidak pernah merasa takut. Catat itu.”

Malam semakin jelas menghantarkan dingin. Rasa kantuk menyergapku. Kepala ini terasa begitu berat. Suara keras serangga malam semakin membuat suasana benar-benar mencekam bagiku. Rupa-rupanya Vee menyadari sepenuhnya kondisi ini.

“Sudahlah lebih baik sekarang kita tidur, kamu sudah ngantuk kan?”

“Apa, Vee, kita? Maksudmu kita akan tidur……”

“Iya, kita akan tidur bersama. Memangnya kenapa? Kamu keberatan, Van?”

“Bukan begitu, Vee. Tapi apakah pantas kita tidur berdua? Aku jadi tidak enak.”

“Van, aku harap kamu mengerti. Aku cuma punya satu ranjang karena aku memang tidak pernah menyangka kalau akan ada manusia lain di gubuk ini. Kalau tahu kamu akan datang, pasti aku persiapkan ranjang lain. Ini kondisi darurat. Yang penting kita tidak berbuat apa-apa. Atau jangan-jangan, kamu ingin….”

“E, tidak, tidak. Kamu jangan mengira aku lelaki yang suka gituan. Aku cuma merasa aneh kalau harus tidur seranjang dengan seorang perempuan. Tapi, kalau kamu memang tidak apa-apa, aku ikut saja.”

“Ya, sudah. Ayo kita tidur, sudah malam.”

Malam ini terasa begitu aneh. Aku harus tidur seranjang dengan perempuan yang baru aku kenal. Aku tidur dengan orang yang tidak pernah aku ketahui sejarahnya. Sampai tengah malam, aku belum juga bisa terlelap. Sementara, Vee sudah tertidur pulas. Sesekali aku pandangi wajahnya yang ayu dan anggun, tetapi tegas. Garis wajah yang cukup tegas menandakan kalau ia adalah perempuan yang cukup tegar menghadapi semua kondisi hidup. Kalau tidak, mana mungkin ia memutuskan hidup di dasar jurang ini.

Tiba-tiba tangan Vee memeluk pundakku. Aku tahu ia dalam kondisi tidak sadar ketika melakukannya. Untuk beberapa saat aku begitu menikmati pelukan perempuan ini, meskipun ia tertidur. Wajahnya menyimpulkan senyum kecil yang sangat bahagia. Mungkin ia sedang bermimpi indah. Ah, perempuan ini begitu bahagia dalam tidurnya. Jujur saja naluri kelelakianku tergugah, tapi aku tidak mungkin berbuat jauh. Aku tidak ingin menyakitinya. Lagipula, ia sudah begitu baik merawat dan menolongku selama aku ‘tidak bernyawa’. Aku ingin sekali memindahkan tangannya dari pundakku, tapi aku takut kalau ia terbangun dan semua mimpi indahnya berakhir. Itu artinya aku menghentikan kebahagiaan dari seorang manusia.

Akhirnya aku biarkan saja ia tetap memelukku dalam kebahagiaan mimpinya. Aku tertidur dalam pelukan seorang perempuan yang tidak pernah aku kenal dan tidak pernah menceritakan sejarahnya. Seorang perempuan bernama Vee. Seorang perempuan yang mungkin saja akan mengisi hidupku di hari-hari berikutnya karena aku tidak tahu sampai kapan harus bertahan di sini. Dan, aku juga tidak tahu bagaimana cara untuk bisa menuju dunia di atas sana sementara jurang ini sangat curam. Ya, jurang yang mungkin akan menjadi tulisan baru dalam sejarah hidupku.

***

Pagi ini aku bangun dengan kondisi badan yang lebih segar dan sehat. Tubuhku terasa sangat ringan dan rileks. Dari jendela aku lihat terang matahari yang terhalang ranting dan dedaunan mulai membuat warna penuh arti di jurang ini. Semua jadi lebih indah dan bersemangat. Vee menyuguhkan secangkir wedang kencur. Ah, rupa-rupanya ia sudah mandi, wajahnya begitu segar. Balutan pakaian dari kulit pohon ternyata membuatnya semakin tampak kuat dan tegar. Tapi, bagiku tetap saja ia seorang perempuan anggun yang harus aku hormati di balik segala kemisteriusannya.

“Van, aku mau ke kali mencari udang. Mumpung masih pagi. Biasanya mereka banyak muncul ketika pagi dan sore. Lumayanlah untuk lauk sarapan biar tidak hanya perkedel singkong saja,” ucapnya.

“Vee, aku ikut cari udang, ya. Waktu kecil aku ini terkenal jago mencari ikan di kali dan di rawa-rawa, lho. Pasti tangkapan kita nanti banyak. Boleh, ya!?”

“Tapi, kamu masih sakit, Van. Nanti tambah sakit. Lebih baik kamu mandi saja, biar segar. Aku tidak ingin kamu sakit lagi.”

“Tidak, Vee. Kamu lihat sendiri, aku sudah sehat hari ini. Mungkin gara-gara minum air sumber dan makan bubur singkong semalam. Dan, mungkin karena…em…karena…”

“Karena apa, Van?”

“Ndak, ndak. Mungkin karena kamu terlalu baik jadi aku punya semangat baru. Pokoknya aku mau ikut, kan aku malu hanya tidur dan makan tiap hari.” Sebenarnya aku ingin mengatakan karena “pelukanmu”, tapi aku takut ia tersinggung.

Karena aku terus memaksa, akhirnya ia mengizinkanku ikut mencari udang. Benar sekali yang ia katakan waktu pagi banyak udang yang keluar mencari makan di balik bebatuan kali. Dengan menggunakan tangan kosong kami berlomba-lomba mendapatkan udang. Satu per satu udang kami dapatkan. Aku lihat Vee begitu senang, entah karena mendapatkan udang atau karena kehadiranku. Yang pasti kami berdua pagi ini sangat senang.

Setelah mendapatkan udang yang lumayan banyak, kami mengakhiri ‘perburuan’. Berdua kami membersihkannya. Sementara ia memasak, aku mencari kayu kering yang basah karena di sini memang sangat lembab. Aku membawanya ke dapur, meletakkannya di samping tungku biar cepat kering. Ketika bubur singkong dan udang sudah masak, Vee segera mengajakku menikmati sarapan istimewa itu. Enak sekali. Sesekali ia menyuapi udang ke dalam mulutku. Begitupula sebalikknya. Rasanya kami sudah begitu dekat, meskipun baru sebentar kenal.

Hari-hari berikutnya kami lalui dengan kebahagiaan. Kami mencari udang lalu sarapan. Siang hari kami membuat pakaian dari kulit kayu muda yang dikeringkan terlebih dahulu. Sore hari kami menanam bunga dan anggrek tropis yang sangat elok dan tidak pernah aku jumpai di toko-toko bunga di kota. Malam hari kami makan malam lalu tidur bersama. Aku tidak pernah lagi berusaha menanyakan sejarah perempuan ini karena kebahagiaan yang kami rasakan bersama terlalu indah untuk dibandingkan dengan masa lampau.

Memang, terkadang aku sempat memikirkan kehidupanku di dunia atas. Teman-temanku di kampus, saudara ataupun kedua orang tuaku pasti sedang bersedih karena aku menghilang begitu saja dari kehidupan mereka. Atau, mungkin mereka sudah menganggapku mati. Ah, biar saja. Mungkin lebih baik seperti itu. Saat ini aku hanya ingin menjadikan apa-apa yang sedang terjadi sebagai sebuah keindahan baru dalam hidupku. Aku sendiri sudah lupa, sudah hari keberapa berada di tempat ini. Biarlah aku melupakan waktu, karena semua menjadi begitu berarti di tempat ini.

Malam ini, tiba-tiba, Emak memanggil-manggilku dari tempat yang sangat jauh. O, itu rumahku. Sangat jauh. Emak berdiri di pintu. Aku berlari, ingin segera memeluknya. Tapi, semakin dekat, semakin sulit aku memeluknya. Ada tabir tipis yang menghalangi perjumpaan kami. Emak hanya tersenyum melihatku.

“Aku tak bisa memelukmu, Mak. Mengapa Engkau malah tersenyum?” Aku berteriak meronta.

“Kamu masih takut, Van. Melangkahlah dengan batinmu untuk menjalani kenyataan. Pahami saja apa yang kamu hadapi. Maka, kamu akan leluasa memandang ke belakang dan melangkah ke depanmu lagi.” Secepat kilat, Emak menutup pintu rapat-rapat. Aku terus berteriak, menangis, memanggilnya.

Aku masih saja menangis ketika Di membangunkanku, memberiku minum.

“Kamu mimpi buruk, Van?” tanyanya.

“Sangat buruk, mungkin paling buruk, Vee. Emakku menutup pintu rumah,” jawabku dengan isak yang masih tersisa.

“O…begitu.”

“Aku tidak sanggup diberlakukan seperti itu oleh Emak, Vee. Dialah yang selalu memberi dorongan dalam perjalanan hidupku, selalu mengerti semua kenakalanku. Aku tidak sanggup, Vee.”

Isak tangisku kembali memecah kesenyapan jurang ini. Vee merebahkan kepalaku di pundak kanannya.

“Sudahlah, Van. Aku juga punya orang tua. Tapi, apa yang bisa kita perbuat. Kita sudah berada di jurang ini. Kita sangat jauh dari mereka, Van.”

“Tapi, aku sangat terikat dengan Emak, Vee,” ucapku yang segera membuat Vee menegakkan kembali kepalaku.

“Jangan pernah kau ucapkan kata itu lagi, Van.” Suara Vee membawa perintah tegas.

“Kenapa, Vee? Apa perkataanku mengusik kedamaianmu lagi?”

Lama ia hanya menundukkan kepala. Tidak biasanya dia seperti ini.

“Aku tidak mau terikat. Tidak juga denganmu, Van.”

Pernyataan Vee sungguh membuatku heran. Mengapa harus terlontar pernyataan seperti itu? Belum sempat aku membalas, ia segera berkata lagi.

“Mungkin apa yang aku katakan terdengar cengeng. Kamu mungkin mengira kalau aku penakut dan pengecut. Tapi jujur, aku benar-benar tidak mau terikat dengan seorang lelaki untuk saat ini,” ujarnya sambil menyeka sisa-sisa air mataku yang masih mengalir.

“Mengapa harus seperti itu, Vee? Atau, mungkin kehadiranku yang menjadikannya seperti itu?”

“Tidak, tidak. Kamu tidak salah, Van. Sudah lama aku mencoba bertahan dalam kesendirian, mematikan tubuh dan pikiranku dari hal-hal yang bersifat mengikat.”

“Vee, terikat dengan orang lain bukanlah dosa. Itu sudah menjadi hakikat setiap manusia. Sekeras apapun kamu berusaha menutup mata dan batinmu terhadap orang lain, kamu tidak bisa menolak naluri terikat itu.”

“Ya, aku tahu, Van. Dan, semua hasrat terikat itulah yang aku lawan selama ini. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mengalahkan semua keterikatan dengan manusia lain. Aku bisa hidup sendiri, tanpa harus terikat dengan keluarga, masyarakat, atau orang-orang terdekat yang hanya memberiku penderitaan. Aku bisa, Van. Di sini aku bisa mewujudkan itu semua. Aku merdeka di sini. Aku bisa mengatur diriku sendiri. Aku berhasil membebaskan tubuhku dari semua perintah dan paksaan. Makanya, aku beri nama tempat ini Jurang Sajiwo, satu jiwa, hanya jiwaku yang ada terus-menerus, tanpa segala paksaan.”

Aku hanya bisa diam sembari terus memandangi wajahnya. Aku tidak tahu apakah aku bisa membebaskan pikiranku, melepaskan semua hasrat terikatku, seperti Vee melepaskan semuanya.

“Mau tidak mau, cepat atau lambat, di tempat sesunyi ini pasti kita akan terikat, entah bagaimana bentuknya, Vee.”

Di hanya diam memandanng ke arahku. Lalu, ia menuju jendela. Menyandarkan tubuhnya, memandang ke arahku kembali.

“Masalahnya, sudah sekian lama aku meyakinkan pikiranku bahwa aku memang sudah ditakdirkan untuk menghabiskan hidup sendiri di tempat ini, tanpa seorang teman. Ketika motor yang aku kendarai dari Banyuwangi tercebur ke jurang ini, aku berpikiran sepertimu: mati. Ketika aku terbangun dan masih bisa merasakan semua suasana di jurang ini, aku berusaha untuk berteriak meminta tolong. Percuma, tidak ada orang di atas sana yang mendengar. Seperti ada tabir yang menghalangi suaraku untuk sampai ke atas. Dalam keputusasaan, akhirnya, aku mempersiapkan segala kemungkinan, Van. Termasuk ketika harus mati sendirian di tempat ini. Mungkin itu lebih baik dari pada aku harus hidup di dunia atas dan menjalani pernikahan yang tidak pernah aku sepakati: menikah dengan seorang haji beristri empat karena orang tuaku berhutang puluhan juta kepadanya. Dalam kesendirian dan kesenyapan di jurang ini, aku mulai belajar untuk mempersiapkan kematianku kelak. Tapi, semenjak tubuhmu jatuh di tempat ini, aku merasa ada sesuatu yang pasti akan terjadi, meskipun saat itu kamu dalam keadaan pingsan. Setelah kamu sadar dan kita menjalani hari-hari bersama, pikiran tentang kesendirianku mulai terusik. Aku berusaha keras untuk meyakinkan pikiranku bahwa aku tetap ditakdirkan sendiri. Aku masih memaksa naluriku untuk tidak terikat denganmu, Van.”

“Aku bisa memahami kondisimu, Vee. Jujur, aku sendiri belum siap untuk melepaskan semua keterikatanku dengan dunia di atas sana. Aku punya sejarah, aku punya memori, aku punya mimpi, dan aku mungkin masih menyimpan masa depan dalam pikiranku. Ketika aku menjalani kehidupan bersamamu di tempat ini, aku belum bisa menghilangkan semua itu. Mengerikan, Vee. Hari demi hari aku mencoba meyakinkan batinku, bahwa aku masih hidup, aku masih bisa kembali ke mereka, menghadirkan seutas senyum sederhana ketika senja hadir. Tapi, ketika aku menghadapi kenyataan di jurang ini, jurang yang kamu sebut Sajiwo ini, tak mampu lagi aku rangkai semua keinginan itu. Tetapi, seperti kata Emak, biarlah aku memahami kenyataan yang ada di sini, di Jurang Sajiwo. Suatu saat, biarlah aku nikmati semua sejarah, memori, dan masa depan itu dalam ketakterhinggaan, karena aku sudah di depan. Paling tidak, aku masih punya teman untuk bercerita tentang hidup saja. Meski, sebenarnya aku masih takut memikirkan masa depan.”

“Mengapa masih saja memperbincangkan masa depan kalau masih banyak keindahan di hari ini? Kita tidak akan pernah tahu masa depan, Van. Sama ketika kamu tidak pernah tahu kalau kamu akan hadir di tempat ini. Sama ketika aku dan kamu tidak pernah bisa memahami, mengapa kita masih hidup. Apa yang terjadi biarlah terjadi, dan kita harus bisa menikmatinya, bukan meratapi atau menyesalinya. Aku pikir dengan seperti itu semua akan lebih baik. Dan, kita memang tidak perlu lagi membincangkan keterikatan kita. Biarlah kali itu menjadi contoh yang baik, mengalir. Biarlah suatu saat kita kembali ke masa lampau, ke masa depan, tapi kita tetaplah di sini, merangkai bermacam kisah.”

Aku larut dalam pikiranku sendiri. Aku yang selama ini sangat optimis dalam memandang hidup, mengapa jadi orang tanpa masa depan. Atau, mungkin itu yang benar? Jangan-jangan selama ini aku menjadi orang yang tidak bisa menikmati apa-apa yang terjadi. Jangan-jangan hidupku berjalan dalam skenario yang salah? Belum selesai aku menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Vee memelukku. Membelai rambutku. Mengantarkan berjuta bintang ke dalam batinku.

“Van, lebih baik kita menjalani apa-apa yang sedang terjadi. Karena begitu banyak rencana hanya menimbulkan ketakutan. Ya, anggap saja tempat ini adalah secuil surga yang dipinjamkan Sang Penghidup kepada kita berdua. Mungkin Dia ingin bereksperimen menciptakan Adam dan Hawa kedua, di tengah-tengah kegagalan eksperimen pertama-Nya yang hanya melahirkan manusia-manusia penebar kebiadaban dan bencana. Orang-orang yang dikaruniai agama, tetapi saling membunuh dengan agama itu. Aku pikir tidak salah kalau kita memposisikan diri sebagai manusia yang berhak melakukan apa yang ingin kita lakukan demi kebahagiaan, demi kebaikan, dan demi kehidupan kedua kita. Biarlah Dia menjadi pengawas yang baik dan bijaksana. Aku yakin Dia juga tidak ingin mencampuri kehidupan manusia secara berlebihan. Sudahlah, lebih baik kita tidur. Besok pasti akan menjadi hari yang lebih indah.”

Yang terjadi berikutnya, sungguh menakjubkan. Dalam tidur, Vee menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku membelai rambutnya. Meskipun aku sudah berulangkali bercumbu dengan perempuan, namun kali ini, mengalir sebuah perasaan yang begitu aneh. Entah apa itu namanya. Meski awalnya hanya membelai rambut dan memperhatikan wajahnya, aku seperti melukis romansa yang tidak pernah terbayangkan akan terjadi. Maka, pertemuan bibir kami adalah luapan angin yang jatuh dari bukit di atas; adalah derasnya air sumber yang memberi kehidupan; adalah hembusan segar nafas yang dipinjamkan Sang Penghidup. Perpaduan batin dan pengembaraan sunyi kami, semakin memuncak dengan hujan gerimis yang menjadi orkestra alam; perpaduan gemericik suara air kali, gesekan dedaunan dan ranting, serta jiwa kami yang mengalir dalam kesederhanaan kisah.

Kami baru terbangun ketika sebuah dahan kering jatuh menimpa atap rumah sehingga memunculkan bunyi yang cukup mengagetkan. Aku dan Vee segera keluar rumah, takut akan terjadi apa-apa. Ternyata di luar hujan gerimis. Setelah mengambil dahan kering itu, kami segera menuju emperan depan.

“Van, aku mau masak dulu ya. Mumpung di tungku masih ada bara apinya, biar ndak susah-susah nggosok kayu kering untuk buat api. Kamu mandi dulu sana, biar cakep. Biasanya kalau gerimis air sumber terasa lebih hangat.”

“Iya, sebentar lagi. Aku masih ingin menikmati suasana gerimis di pagi yang masih berkabut ini.”

Vee segera menuju dapur. Aku masih saja diam di emperan depan. Aku tetap berusaha mengingat apa-apa yang terjadi semalam. Aku masih berusaha merasakan sisa-sisa percumbuan semalam. Bagaimana itu semua bisa terjadi? Ah, ini sungguh di luar kuasaku. Atau, mungkin itu semua memang sudah ditakdirkan untuk terjadi? Atau, jangan-jangan aku dan Vee hanya terjebak suasana jurang yang begitu dingin dan senyap ini? Atau, jangan-jangan aku memang selalu berdoa dalam batin agar ini semua terjadi? Betapa kejamnya aku.

“Hei, nglamun lagi,” tegurnya menyadarkanku dari pertanyaan-pertanyaan di otakku yang tidak jelas.

“E, anu, aku,…aku,”

“Aku tahu, pasti kamu masih memikirkan tentang kejadian semalam. Iya kan?”

Aku tidak kuasa menjawabnya. Aku hanya kebingungan tanpa bisa berbuat apa-apa mendengar pertanyaan itu. Matanya menyergap seluruh tubuhku dalam kekakuan yang tak terbahasakan.

“Sudahlah, Van. Kan aku sudah bilang, mungkin kita ini hanya bisa mengikuti jalan cerita yang akan dituliskan di tempat ini. Sudahlah, nikmati saja apa yang akan terjadi, jangan terlalu diributkan. Toh, aku juga tidak akan menuntut apa-apa dari kamu. Asal kita masih bisa mengendalikan diri, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa. Kalaupun terjadi apa-apa, anggap saja itu anugrah. Santai, jangan terlalu dipikir serius. Lebih baik sekarang kita mandi, sembari menunggu bubur singkong masak.”

“Apa? Kita mandi bersama?” Tanyaku setengah tidak percaya.

“Iya, memang kenapa? Kan, kita cuma mandi bersama, tidak ngapa-ngapain kok. Awas, jangan berpikir macam-macam,” ancamnya sambil tersenyum.

Akhirnya aku hanya bisa mengikuti ajakannya dengan kekacauan dan kebingungan pikiran yang tidak mampu aku kendalikan. Aku seperti anak kerbau yang dituntun menuju pemandian, diiringi gerimis, tanpa bisa berbuat apa-apa, kecuali menurut. Selama beberapa saat lamanya, kami berdua mandi tanpa sehelai pakaianpun di badan. Air sumber terasa hangat membasai tubuh kami berdua. Vee dengan santai mengusap seluruh bagian tubuhnya di depanku dan sesekali menenggelamkan tubuhnya sampai leher ke dalam air. Sementara, aku memilih untuk tetap menenggelamkan badanku ke dalam air. Entah aku masih merasa malu. Dan, aku berusaha untuk tidak melihat apa-apa yang dilakukan Vee. Namun, tidak semua usahaku berhasil. Toh, naluriku tetap saja menggiring saraf mataku untuk sesekali melirik pada tubuhnya. Tapi, hanya sebatas itu yang bisa aku lakukan. Sampai pada suatu saat, Vee memegang pundakku. Kami sama-sama menenggelamkan badan sebatas leher. Dan, kami hanya bisa saling pandang, untuk waktu yang sangat lama. Semua tenang. Semua diam. Air gerimis mengantarkan kinanti yang tidak mungkin aku lupakan.

Sebuah kinanti yang menyajikan tetes air satu demi satu, menyegarkan lelah dan sakit dalam tubuh dan jiwaku, mungkin juga melenyapkan semua kesedihan yang dirasakan Vee. Semua lepas, bersama sentuhan-sentuhan anugrah Sang Bumi. Perlahan sekali, energi Adam dan Hawa kedua menggerakkan semua sel dalam tubuh kami, menelusuri jejak-jejak peradaban manusia yang dibangun dari sebuah perjumpaan suci. Sebuah kepasrahan bergerak, memberi keberanian bagi kami untuk sama-sama menemukan celah-celah kekosongan dalam pengembaraan; menempuh sebuah perjalanan senyap, merasakan semua yang berhak dan wajib kami rasakan di sini, di Jurang Sajiwo, di ambang batas segala kekosongan, di ambang batas kenyataan, di ambang batas akal, di ambang batas yang menghilangkan mimpi; sebuah perjalanan yang kami sendiri tidak tahu bagaimana Sang Penghidup menilainya; sebuah perjalanan yang belum bisa kami tebak kapan akan berakhir, karena kami memang tidak ingin tergesa-gesa mengakhirinya.

Entah aku harus bahagia atau merasa bersalah ketika Vee memelukku di tepi sumber. Separuh tubuh kami masih terbenam di beningnya air. Selama beberapa saat, Vee menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku memeluk bahunya.

“Van, aku tahu ada banyak beban, ingatan, ataupun keinginan yang menyebabkanmu sampai terjatuh ke Jurang Sajiwo. Banyak manusia berharap mendapatkan hal-hal terindah dalam hidup mereka. Banyak manusia berharap kehidupan yang mencerahkan. Tapi, mereka tak juga mampu mengerti apa sebenarnya yang mereka inginkan. Pada suatu ketika kamu akan memahami, Van, kalau perjalanan kita sebagai manusia masih sangat jauh: ke belakang, ke depan, jauh dan sangat jauh, tetapi sebenarnya semua terjadi pada waktu kita bernafas. Pada suatu ketika kamu akan ditarik kembali oleh ingatan-ingatan lampau yang lebih menyedihkan dari apa-apa yang sudah pernah kau jumpai. Pada suatu ketika pula kamu akan ditarik jauh ke depan oleh keinginan-keinginan yang tidak pernah terpahami oleh akal. Pada suatu ketika itulah kita akan selalu bertemu. Kita bertemu oleh doa yang tidak pernah meminta dan tidak pernah bersuara. Doa itu adalah tarian hidup dan keyakinan yang sebenarnya, yang selalu kita manjing-kan menjelang dini hari, ketika embun hendak mencumbu debu.” Ucapan Vee seperti air yang tiba-tiba menyiram kepalaku. Seperti ada kekuatan alam yang mendorongku untuk tidak menutupi kegundahan, kebingungan, dan beban batin yang selama ini aku pendam.

“Aku lelaki dengan banyak keinginan terhadap cinta dan hidup, tetapi masih saja tak mampu memperkuat batinku untuk mewujudkannya. Kebodohan itulah yang menjadikan impian dan keinginanku seperti semakin jauh dari kenyataan. Banyak orang di dekatku yang bercerita capaian-capaian besar sebagai manusia, tetapi aku masih tidak ingin meyakininya. Beberapa perempuan yang semestinya aku perjuangkan, harus aku abaikan, atau tepatnya, aku sakiti, karena ketidakmampuanku untuk memahami mereka. Aku sering ragu dalam menentukan sikap pribadiku terkait persoalan-persoalan itu, Vee. Mungkin sudah benar, Sang Penghidup mempertemukan kita di jurang ini, biar aku bisa memahami arti sebuah keterikatan denganmu.”

“Belum tentu kau akan kuat menemaniku di Sajiwo, Van. Tempat ini terlalu sunyi bagi cinta dan hasrat yang terlalu bergairah seperti yang kau bawa. Anggap saja tempat ini sebuah romansa semesta bagi kita untuk tersenyum, menangis, atau berharap ketika membaca ataupun meninggalkan semua kisah tentang aku, kau, dan orang-orang yang pernah menulis cerita dalam hari-hari panjang kita. Sajiwo menyediakan segala yang kita butuhkan untuk mengingat, memasuki, dan melupakan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita.”

“Iya, Vee, karena aku tahu apa yang mestinya aku lakukan saat ini adalah berusaha untuk semakin meyakinkan batinku bahwa aku memang terikat denganmu, meskipun mereka tetaplah kehidupan yang tak akan pernah berhenti melukis apa yang perlu dilukis dalam perjalanan hidupku, atau hidup kita di Jurang Sajiwo.”

“Semoga, Van.”

Sebuah kecupan di keningku mengakhiri mandi kami. Menuju gubuk dan berharap akan ada kisah-kisah lain bersamanya adalah sebuah kepastian. Apalagi kami mulai bisa saling tertawa, sembari menikmati bubur singkong setengah gosong.

 

Foto cover: http://burningmyfeelings.blogspot.co.id/2012/06/escuridao.html

Share This:

About Ikwan Setiawan 148 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*