Kisah Dua Lelaki

Nur Holipah

 

Terik.

Lelaki itu mendongakkan kepala ke angkasa. Menatap langit yang dipenuhi gumpalan awan-awan serupa buah kapas yang runtuh dari pohonnya. Diterbangkan angin, kemana saja. Punggungnya ia biarkan terbuka, terpapar sorotan matahari—siang hari. Ia melanjutkan menghantam cangkul yang ia kemudikan sejak pagi ke pematang sawah. Tanah lunak berair  terciprat kemana-mana sejurus dengan hantaman lempengan cangkul ke tanah. Ke muka, juga ke caping yang ia pergunakan untuk penutup kepala. Seciprat, dua cipratan juga menempel pada tubuhnya hitam terpanggang. Mengering terkena matahari, membentuk serupa tompel di tubuhnya.

Se-siang ini, ia baru menyelesaikan tiga kedhokan[1] yang bakal ditanami. Benih-benih padi yang ia semai sudah mulai tumbuh meninggi sebatas mata kaki. Menurut perkiraan, duapuluhlima hari lagi benih-benih tersebut siap ditandur.

Lelaki itu memang bersemangat. Bagaimana tidak bersemangat, lelaki yang berumur sekitar limapuluh tahunan itu masih memiliki empat anak yang semuanya sedang mengenyam pendidikan. Kadang-kadang, saat Sabtu pagi, aku sengaja berjalan-jalan ke belakang rumah, berkeliling ke area persawahan yang aku ketahui adalah garapan lelaki itu. Kami sering terlibat percakapan santai dan ringan. Kadang-kadang membincangkan masalah pekerjaan, masalah pendidikan anak-anak, kadang aku berpura-pura mengerti tentang hal-hal seputar pertanian; menanggapi apa yang sedang ia ceritakan, kadang pula kutunjukkan bahwa aku juga ingin memiliki sawah suatu saat nanti.

Aku banyak mendengar kisah hidupnya, darinya sendiri.

Anak sulungnya yang perempuan sudah berumur duapuluh tahunan, tengah menempuh Strata 1 di Malang. Ia bercerita bahwa anak gadisnya itu mendapatkan beasiswa saban bulan selama berkuliah, sehingga ia bisa membelanjakan uang hasil keringatnya untuk ketiga anaknya yang masih tinggal bersamanya.

Anaknya yang nomor dua, ia kisahkan sedang mengenyam pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri di daerah Sobo, dekat terminal Brawijaya yang juga berdekatan dengan Radio Fajar FM agak ke utara sedikit. Katanya, semester lalu, ia tak mengeluarkan uang sepeserpun untuk uang SPP anaknya itu. Sebab sebelumnya ia meraih peringkat pararel di sekolahnya. Aku masih ingat betul bagaimana lelaki itu menceritakan kisah anak-anaknya dengan berbahagia dengan tatabahasa seadanya. Tak seperti teman-teman sekantorku yang seringkali penuh drama saat membeberkan kisah anaknya.

Dua anaknya yang lain—setiap Minggu sore selalu ikut ke sawah pula—masih duduk di Sekolah Dasar yang juga satu sekolah dengan anakku yang terakhir. Kedua anaknya itu kadang-kadang turut berteriak-teriak mengusir kawanan burung emprit yang hinggap di ujung bulir-bulir padi yang baru melcuti—baru muncul biji padinya. Keduanya berlari-larian di pematang sawah; turut menarik oncreng-oncreng[2].

Sabtu pagi tadi, aku tak berjalan-jalan seperti biasanya. Sedang malas. Selepas mengantar kedua anakku ke sekolah, aku tidak pergi kemana-mana. Aku hanya duduk menghadap jendela, hingga nampaklah pemandangan sawah serta lelaki itu dari tempatku berdiam diri. Alangkah beruntung lelaki itu, berbahagia tanpa harus dikejar deadline pekerjaan berupa tumpukan-tumpukan kertas sepertiku. Bruntung masih bisa menempati perumahan yang masih menghadap ke sawah sehingga ada pelampiasan untuk kupandang selain menatap layar laptop.

***

Tengah hari; ketika aku menyiangi rumput-rumput liar di sela-sela padi; membetulkan saluran air di galengan[3]; mencabuti jawen[4]; atau sedang mengasah ani-ani di dangau, aku selalu nampak seorang laki-laki seusiaku yang berseragam rapi, memarkir motornya di halaman rumah bercat hijau.

Bisa aku pastikan, dahulu tumbuh subur sepohon belimbing wuluh disana.

Sekitar lima tahun lalu, sebelum rumah-rumah di perumahan itu berdiri, aku mengerjakan dan menggarap petakan-petakan sawah yang mampu menyulap keringatku menjadi lembaran-lembaran berjuluk rupiah yang aku pergunakan untuk menghidupi istri dan anak-anakku. Masih kuhapal dengan sungguh-sungguh, petakan mana milik Haji Nur, Haji Sih, Man Suliyono, petakan mana pula milik Pak Kadir yang punya sepasang kuda.

Pasca panen, biasanya di petakan-petakan sawah yang masih digenangi air, akan tumbuh liar tanaman genjer. Bisa pula tumbuh gundha, yang dapat direbus dan dibuatkan sambal terasi yang disertai irisan buah jeruk sambal. Menu sayuran yang amat murah dan mudah untuk didapatkan. Aku dapat meminta istriku untuk memasakkan sambal sere untuk disandingkan dengan kukusan daun semanggi. Atau menggoreng kul sawah yang berjejal di tepian kedhokan, atau di golokan—aliran air—selepas dibajak.

Kini, deretan rumah-rumah itu telah menjadi pengubur kenangan tentang separo perjalanan hidupku yang terjejak disana. Tetapi dengan berdirinya kehidupan-kehidupan baru di atas bekas petakan sawah itu, menjadi babak cerita baru mengenai banyak kisah. Termasuk lelaki berseragam itu.

Laki-laki seusiaku itu, memakai seragam yang rapih dan sepasang sepatu yang mengkilat. Menenteng tas kerja berisi laptop seperti yang telah aku belikan untuk kedua anakku. Anakku yang sedang berkuliah di Malang, serta anakku yang sedang duduk di kelas XI Aliyah.

Aku sering bercakap-cakap dengan lelaki itu. Ia merupakan pendatang. Sebab ia dipindahtugaskan ke Banyuwangi. Awal mula kami bertukar cerita, ia berbahasa Jawa. Sesekali saja ia keceplosan menggunakan bahasa Indonesia yang hanya mampu kutanggapi dengan bahasaku yang alakadarnya; kaku. Maklum saja, aku bukan kaum-kaum yang pernah mencecap pendidikan hingga sarjana. Aku bahkan lupa, apakah dulu aku dinyatakan tamat dari Sekolah Dasar. Itulah sebabnya, aku selalu menolak tiap kali anak-anakku memintaku untuk hadir di acara rapat sekolah atau pembagian rapor. Kupersilahkan istriku yang mendatanginya. Aku tidak begitu berani duduk bersama walimurid lainnya yang mungkin saja akan berbicara melangit, menggunakan istilah-istilah yang sulit aku mengerti seperti apada acara berita-berita di TV.

Jangankan sarjana, dahulu emak dan bapakku mesti mencarikan ‘segelas air’ agar aku mau bersekolah. Bersyukur, bahwa saat ini aku tak mesti melakukan hal-hal tidak masuk akal untuk ke-empat anakku. Tentu, ke-empat anakku jauh berbeda denganku.

Lelaki itu sering bercerita, bila akhir pekan ia selalu mengajak anaknya berjalan-jalan; rekreasi. Tidak seperti aku yang terlalu sibuk mengurus sawah, hanya mampu mengajak anak-anakku ke rumah embahnya di Rogojampi. Itupun ketika aku membutuhkan saran tanggal yang pas untuk masa tanam dari bapak mertua—kakek dari keempat anakku. Atau setelah panen, dan ketika punggungku tidak sedang encok atau linu dan sebagainya.

Anakku yang ragil pernah menegurku. Ia bilang begini dalam bahasa Using, “Pak ayo tah saben minggu nyang umahe anang ambi adon..” Kadang-kadang, aku berfikir memang berbeda kehidupan masa kecilku dengan anak-anakku di jaman sekarang ini. Aku masih sering mengingat-ingat, apakah aku pernah memiliki permintaan yang serupa seperti apa yang diminta anakku yang paling ragil itu kepada almarhum bapakku.

Aku memang tidak pernah bisa mengajak anak-anakku rutin bertamasya saban akhir minggu. Sawah tidak bisa kutinggalkan begitu saja. Ketika Banyuwangi sedang punya pagelaran besar semacam tontonan yang berjuluk festival-festivalan, aku mengizinkan istriku untuk mengajak anakku sekedar menonton sebentar. Aku tidak pernah ikut.

Aku juga tidak mampu membelikan anak-anakku sebuah mainan seperti yang dilakukan lelaki itu kepada anaknya. Terkadang, aku merasa belum menjadi bapak yang baik bila ukuran baik adalah dengan membawa anak-anak berlibur serta membelikannya mainan atau apapun yang sedang ingin dimiliknya.

Dua minggu yang lalu, lelaki itu bercerita kepadaku tentang anaknya yang belum lama ini ia belikan sebuah telepon genggam yang bentuknya besar seperti talenan. Konon, harganya lebih mahal dari harga gabah kering dari hasil panenku. Apalah dayaku, hanya seorang buruh tani yang hanya mampu berkutat dengan teter, kejen, pupuk, cangkul dan sebagainya. Berbeda dengan lelaki itu, yang selalu rapih setiap pagi, pergi ke kantor, bersepatu, memengang pulpen, duduk di meja kerja. Sedang aku? Jangankan bersepatu. Mengenakan sandal saja jarang sekali. Memegang pulpen hanya ketika aku diminta menandatangani rapor anak-anakku.

Bersyukurlah aku, anak-anakku tidak pernah rewel meminta ini dan itu. Mereka selalu mengerti keadaan kedua orangtuanya. Pun mereka tak pernah mengeluh bagaimanapun kondisinya. Maka benar kata istriku, ketika kita perbanyak syukur, serta merta kita akan mendadak lupa untuk mengeluh. Sekalipun aku memberinya uang belanja yang tidak tetap nominalnya, ia selalu mencukupkan. Katanya pula, jangan pernah megkhawatirkan tentang kehidupan sebab selalu ada Tuhan yang selalu melimpahkan uluran.

***

Siang ini, di kantor akan dilangsungkan pengukuhan beberapa pegawai yang naik jabatan. Pagi tadi kusempatkan berjalan-jalan ke sawahan di belakang rumah. Kudapati lelaki itu berpakaian rapi. Tapi aku tidak heran dengan gayanya berbusana yang jelas berbeda itu.

“Anakku yang di Malang, besok diwisuda. Aku akan berkunjung kesana, sekalian menginap dua tiga hari. Anakku juga telah diterima di sekolah untuk mengajar. Menjadi guru.” Ucapnya sambil membersihkan kethong—kotoran sapi di telapak kakinya. Itu sepotong percakapanku tadi pagi. Kuceritakan pula bahwa hari ini akan ada pengukuhan pegawa yang naik jabatan. Dia ucapkan selamat sambil berseloroh, ‘Jangan lupa mengundang makan-makan atau membelikanku gorengan.’

Aku memasuki ruang rapat dengan bersemangat. Beberapa pasang mata menatapku agak berbeda. Aku membiarkannya. Mungkin bagi mereka, aku sedang tidak seperti biasa. Maklum saja, aku menjadi satu di antara pegawai yang naik jabatan. Bagaimanapun, ini adalah pekerjaanku. Biarpun susah, atau tak semenyenangkan pekerjaan lelaki itu, aku harus tetap mensyukurinya.

***

Sore nanti, aku, istri dan ketiga anakku akan berangkat ke Malang. Aku mendapatkan undangan untuk menghadiri upacara wisuda anakku yang pertama. Kuperintahkan anak sulungku untuk memesan penginapan. Anak-anakku girang bukan kepalang.

Anggap saja sebagai wisata. Tiga hari kedepan, aku akan menjadi bapak yang baik. Ya, bila ukuran baik adalah dengan membawa anak-anak berlibur dan berjalan-jalan ke luar kota.

Bahagiaku bertambah, saat anak sulungku yang akan wisuda mengabarkan bahwa ia diminta untuk menjadi pengajar dari salah satu sekolah disana. Sesuai dengan gelar yang akan ia dapat, katanya. Harapanku tentang: anak-anakku tak boleh sepertiku, telah terwujud. Betapa Tuhan merestui asa serta doa yang kupanjatkan berdua; bersama istriku.

Pagi tadi, aku diberi sepasang sepatu yang masih mengkilat dari lelaki penghuni perumahan di petak persawahan yang dulu pernah aku kerjakan. Sekalipun ia berkata sepatu yang ia berikan untukku adalah bekas, namun aku tak pernah berpikir bahwa ia akan se-baik  itu. Dia terheran karena aku mengenakan pakaian yang tidak biasa, sementara masih kukerjakan pekerjaan pagi; membersihkan kandang.

Aku memang tak se-murah hati lelaki itu, apa yang mesti kubagi? Bila lelaki itu menyombongkan diri, tidak masalah karena memang hidupnya berkecukupan. Namun, lelaki itu tidak begitu. Walaupun lelaki itu hidup berkelimpahan, tetapi ia tetap ingat cara berbagi. Lelaki itu juga tak pernah memamer-mamerkan gelimang hidupnya.

Memang begitu, kehidupan buruh tani dan aku menikmatinya. Biarpun susah, atau tak semenyenangkan pekerjaan menjadi orang kantoran, biarpun aku tak bisa mengenakan seragam layaknya dandanan seorang pegawai; necis dan wangi, aku bersyukur jadi petani yang mengantarkan putriku menjadi Sarjana.#

Catatan akhir

[1] Istilah petakan sawah dalam bahasa Using, Banyuwangi

[2] Kaleng bekas yang diisi batu kerikil ditalikan ke tiang bambu, biasanya diletakkan di petakan sawah yang rawan dihinggapi emprit, gunanya sebagai pengusir emprit.

[3] Pematang sawah

[4] Gulma

Foto cover: http://lipi.go.id/berita/single/LIPI-Krisis-Regenerasi-Petani-Masalah-Serius-di-Pedesaan/10846

Share This:

About Nur Holipah 2 Articles
Nur Holipah adalah penulis muda Banyuwangi. Lulusan Universitas Negeri Malang ini aktif menulis karya sastra dalam bahasa Using dan bergiat dalam kegiatan literasi di Banyuwangi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*