NAGA BONAR JADI 2: Perempuan modern dalam jagat lelaki

IKWAN SETIAWAN

 

Dalam tulisan ini dan tulisan berikutnya tentang D’Bijis, saya akan mengkaji film-film yang menempatkan perempuan sebagai tokoh pelengkap dalam jagat ke-lelaki-an. Asumsi dasar yang menjadi pijakan dalam analisis ini adalah tokoh perempuan sebagai subjek yang berada dalam permasalahan atau permainan yang dihadapi atau diciptakan laki-laki, baik sebagai sekedar pelengkap maupun partner yang mempunyai kesetaraan. Beberapa pertanyaan yang mendasari analisis ini adalah: (1) bagaimana representasi perempuan ketika mereka hadir dalam narasi filmis yang lebih mengetengahkan permasalahan yang dihadapi laki-laki?; (2) apakah mereka menjadi benar-benar sekedar pelengkap tanpa bisa memberikan kontribusi yang bersifat solutif untuk mengatasi problem yang dihadapi tokoh laki-laki?; (3) apakah peran mereka menjadi dominan?; (4) ketika mereka berada dalam permainan yang diciptakan laki-laki, apakah mereka menjadi subjek pasif yang tidak bisa menunjukkan eksistensi dan kemandiriannya sebagai seorang perempuan?; (5) apakah mereka mudah larut dalam permainan itu?; dan, (6) apakah mereka berhasil melakukan negosiasi sehingga tercipta konsep partnership yang saling melengkapi?

Wacana tentang perempuan sebagai pelengkap dunia laki-laki sebenarnya sudah menjadi pengetahuan bersama pada masa Soekarno dan Soeharto, sehingga film-film yang diproduksi pada periode tersebut juga mereproduksi kembali pengetahuan yang ada. Analisis ini menjadi penting untuk melihat bagaimana film era 2000-an merepresentasikan perempuan-perempuan yang nota-bene dalam kehidupan saat ini sudah banyak dikatakan mengalami kemajuan, baik dalam hal karir, pendidikan, maupun ekonomi. Konsep kesetaraan-emansipatoris menjadi wacana utama yang berkembang, terutama dalam kelas menengah kota, tetapi tetap dalam konteks keindonesiaan yang selalu mengembangkan hubungan harmonis laki-laki dan perempuan.

NJD 8

Toeti Heraty (2003: 126-130) menjelaskan bahwa perkembangan wacana kesetaraan-emansipatoris dalam konteks Indonesia, terutama dalam kelas menengah, sebenarnya mengalami pasang-surut. Pada masa revolusi fisik, perjuangan bermakna laki-laki, sedangkan perempuan selalu bahu-membahu mendampingi laki-laki. Namun, ketika kondisi sudah normal, mereka didudukkan lagi ke dalam posisi dan tugas domestik; istri dan ibu. Memang ada tokoh-tokoh perempuan yang duduk di parlemen dan menjadi menteri, tetapi tidak banyak memberi arti bagi kesetaraan perempuan dan laki-laki. Soekarno, melalui cerita Sarinah, ingin mengembalikan perempuan dalam kodrat merawat dan kasih sayangnya. Pada era 70 hingga 90-an muncul peluang yang lebih luas karena perkembangan ekonomi di waktu itu membuka bidang pekerjaan, terutama di bidang jasa, di mana perempuan bisa berpartisipasi. Perkembangan tersebut terjadi di kelas menengah-atas karena mereka punya potensi dan harapan serta memerlukan legitimasi untuk memanfaatkan peluang itu, terutama karena beberapa faktor: (1) mereka mendapatkan kesempatan pendidikan sehingga ada kesempatan, dan akhirnya negara memberikan kesempatan dengan menyebut peran ganda (karir dan istri/ibu) dan mitra sejajar dan (2) ada paradigma feminisme berpengaruh sampai ke Indonesia. Meskipun dalam praktiknya banyak perempuan kelas menengah-atas yang tidak memanfaatkan peluang itu karena mereka kembali menjadi simbol kemapanan suami.

Kalau ditilik lagi, wacana kesetaraan bukanlah sesuatu yang asing dalam masyarakat Indonesia karena sejak dulu, terutama dalam masyarakat agraris, peran perempuan dan laki-laki memang saling mengisi, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun pekerjaan. Peran tersebut mulai bergeser ketika para perempuan Belanda datang ke Indonesia sebagai agen-agen dari konsep keluarga inti Borjuis—demi kepentingan kolonial—yang menekankan perempuan dalam ranah domestik dan tidak sepantasnya bekerja di luar rumah karena dianggap sebagai pekerjaan yang kasar, meskipun dalam perkembangannya mereka juga mendapatkan pekerjaan di luar rumah terutama yang berkaitan dengan pekerjaan yang menjadi milik perempuan seperti keperawatan maupun kependidikan.

Hartley (2006) merefleksikan kajian beberapa feminis menyatakan bahwa gagasan-gagasan tentang manajemen rumah tangga, masalah keibuan, dan upaya membesarkan anak gaya Barat-modern di negara-negara kolonial yang dilakukan para perempuan Eropa berdampak problematis. Promosi praktik-praktik domestik Barat yang “ilmiah” dan “bersih” terutama di wilayah urban yang dibarengi usaha menyingkirkan kebiasaan lokal yang dikatakan tidak higienis dan ketinggalan zaman telah memperluas kontrol penjajah sampai ranah privat, sehingga tidak memberdayakan perempuan pribumi. Konsep borjuis tetang “ibu rumah tangga” yang membatasi gerak dalam ranah domestik dan privat merongrong jaringan aktivitas kolaboratif dengan kerabat dan tetangga perempuan. Dengan nada serupa, Locher-Scholten (1997: 154-157) menjelaskan bahwa perempuan Eropa yang telah menikah akan segera menjadi ibu rumah tangga. Sesuai dengan norma kebudayaan “kelas menengah-atas Belanda”, tidaklah lazim bagi perempuan Belanda di wilayah kolonial untuk bekerja secara profesional. Sampai dengan tahun 1930, hanya terdapat 15 % perempuan dari 85.000 tenaga kerja Eropa. Sementara, di kalangan masyarakat Jawa dan Madura, 35 % pencari nafkahnya adalah perempuan. Adapun sebagian besar perempuan Eropa yang bekerja adalah bujangan serta banyak berkonsentrasi dalam bidang pendidikan, keperawatan, dan hanya sedikit bekerja dalam pemerintahan, terutama yang melakukan pelayanan domestik. Peran keibuan sangat menonjol, terutama dalam hal mendidik anak. Bagi perempuan Eropa, suami dan anak merupakan prioritas utama; sebuah konsepsi ideal yang harus dipraktikkan. Bagi mereka, setia kepada orang-orang yang dicintai membuat mereka rela tinggal di rumah saja tanpa profesi maupun ambisi; menjalani kehidupan berisi pesiar, tenis, dan pesta. Konsep keluarga inti ala borjuis di kemudian hari diadopsi oleh rezim Soekarno, lebih-lebih Orba yang memposisikan perempuan sebagai istri, ibu, dan konsumen, terutama di wilayah perkotaan.

Sebagai sebuah film, capaian yang diperoleh Nagabonar Jadi Dua (Deddy Mizwar, 2007, selanjutnya disingkat NJD), sekuel kedua dari Nagabonar, bisa dikatakan luar biasa. Film ini berhasil memperoleh pernghargaan dalam Festival Film Indonesia 2007 di Riau untuk kategori Pemeran Utama Laki-laki Terbaik (Deddy Mizwar) dan Film Terbaik. Sebagai film komedi tentang dunia laki-laki, film ini memang tidak begitu menonjolkan tokoh perempuan dan lebih banyak menceritakan konflik kepentingan antargenerasi, modern dan tradisi, kapitalis dan nasionalis, antara Nagabonar (Bapak) dan Bonaga (Anak). Meskipun demikian, peran tokoh perempuan, Monita menarik untuk dikaji, bukan semata-mata karena persoalan cinta, tetapi dalam film ini ia memainkan peran kontributif dalam menyelesaikan persoalan bisnis yang dihadapi oleh Bonaga. Ia berperan sebagai konsultan yang bertugas memberikan solusi kepada pengusaha yang mempunyai masalah.  Bonaga adalah salah satu kliennya. Hubungan mereka yang awalnya berupa hubungan profesional, berubah menjadi hubungan personal yang melibatkan perasaan.

Perempuan modern yang mandiri dan cerdas

Meskipun latar belakang Monita tidak dijelaskan secara detil, baik keluarga maupun pendidikannya, penggambaran naratif memperlihatkan bahwa ia adalah tipe perempuan modern yang berasal dari kelas menengah-atas dengan pekerjaan sebagai konsultan dan bertempat tinggal di salah satu apartemen mewah di Jakarta. Sebagai konsultan ia tentu saja mempunyai latar belakang pendidikan yang lumayan tinggi. Tugas-tugas yang ia jalankan adalah memberikan masukan atau solusi terhadap masalah bisnis yang dihadapi oleh kliennya, termasuk Bonaga; sebuah pekerjaan yang memerlukan kemampuan nalar tentunya.

Dewasa ini, bukanlah hal yang aneh ketika semakin banyak perempuan-perempuan modern yang memperoleh pendidikan tinggi mampu menduduki pekerjaan dan jabatan strategis, baik di dalam birokrasi pemerintah maupun bisnis swasta. Mereka adalah perempuan-perempuan yang tidak sekedar menjadi pelengkap dari pekerjaan laki-laki, tetapi dalam banyak kasus, mereka adalah “perempuan-perempuan super” yang berhasil memperoleh kemapanan karir, bukan dari tubuh atau potensi seksual yang dipunyai, tetapi dari kecerdasan dan keberanian untuk berkompetisi secara sejajar dengan kaum laki-laki. Kecerdasan itulah yang menjadikan mereka pemimpin yang mengendalikan roda organisasi dengan banyak staf, baik laki-laki maupun perempuan. Artinya, mereka sebenarnya tidak kalah dibandingkan laki-laki, sehingga wacana oposisi biner laki-laki ‘rasionalistis’ dan perempuan ‘perasaan’, saat ini mulai bergeser seiring perkembangan formasi diskursif kekuatan nalar perempuan.

NJD 9

Ketika Bonaga menghadapi masalah dengan Nagabonar perihal penjualan kebun kelapa sawit, ia menemui Monita untuk meminta saran agar bisa memberikan alasan yang dapat membuat Bapaknya mau menjual kebun tersebut. Dengan cukup santai ia menanyakan beberapa hal serta memberikan masukan-masukan kepada Bonaga, seperti terlihat dalam dialog berikut.

Di kantin di bagian atas gedung perkantoran

Monita : (LS mereka berdua) Kewajiban perusahaan gue kan memberi advise pada perusahaan Lu. Yang barusan Lu ceritain itu kan urusan Loe sama bokap Loe. (CU Bonaga kesel cut to LS mereka berdua) Ah gitu aja ngambek, Bon. (CU Bonaga masih kebingungan). Duduk. (CU Monita) Yap, gue bisa bantu. (CU Bonaga) Tapi, gue harus tahu dulu manusia macam apa bokap Loe.
Bonaga : (CU) Jadi dari tadi aku bicara kau tidak denger.
Monita : (CU) Bukannya yang dari tadi Loe ceritaain itu cerita diri Loe sendiri. Cuman bedanya tokoh kita yang satu ini sudah tua.
Bonaga : (CU) Bukan tua, tua banget.
Monita : (CU Bonaga dan Monita, tersenyum geli, lalu ia mengetik di laptop) Tidak pernah kuliah di luar negeri. Pernah ikut perang kemerdekaan. Terus apa lagi..?
Bonaga : (CU) Sebelum ikut berperang ia pernah jadi pencopet.
Monita : (CU) Ha, you serious?
Bonaga : (CU) Ya, enggaklah. Bercanda.
Monita : (CU) Ah (terseyum, melirik Bonaga, meneruskan mengetik)
Bonaga : (CU Bonaga dan Monita) Gua mau jual kuburan nenek moyang gua. Itulah yang Bapak pikir.
Monita : (CU) Ya, jelas. Bagi orang kita kuburan itu penting, Bon. Ada penelitian kalau salah satu penghambat program transmigrasi itu ya karena orang-orang kita berat untuk berpisah dengan kuburan leluhur mereka. Loe perhatiin aja Bon, orang-orang yang mampu, yang sukses, selain mereka membuat istana buat mereka selama mereka hidup, ya mereka membuat kuburan yang asri buat keluarga mereka. Iya, kan? (CU Bona mengangguk)
Bonaga : (CU Bona to Monita) Gua denger banyak hal diputuskan setelah orang pulang dari kuburan.
Monita : (CU) Pshhh. Kalau itu sih namannya kuburan keramat, Bon. Dari pada Loe tanya sama orang mati (CU to Bonaga) mendingan Loe tanya sama gue. (CU Bonaga dan Monita) Ok, ok. Gue bisa bantu Loe, tapi gue harus ketemu bokap Loe.
Bonaga : (CU Bona dan Monita) Gua aja susah ketemu dia.

Adegan di atas menunjukkan figur Monita sebagai perempuan karir-modern yang mampu memahami persoalan kliennya, Bonaga. CU yang menunjukkan “ketekunannya dalam mendengar untuk kemudian mencatat keluhan Bonaga”, “sesekali ia tersenyum”, dan “sesekali ia begitu tenang dan serius dalam memberikan nasehat” menandakan bahwa kecerdasannya sebagai seorang konsultan sangatlah lengkap. Ia merupakan tipe perempuan yang mampu memadukan keseriusan dan ketenangan dalam memandang sebuah persoalan, tidak seperti Bonaga yang cenderung menunjukkan “kerisauan” dan “kebingungan”. Kecerdasannya juga ditunjukkan dengan kemampuan “memberikan alasan kenapa kuburan menjadi begitu penting bagi masyarakat Indonesia, sembari memberikan contoh kegagalan program transmigrasi serta kecenderungan orang-orang kaya untuk membangun kuburan yang asri buat keluarga mereka”. Hal itu memperlihatkan bahwa sebelum memberikan masukan, Monita mampu  memahami terlebih dahulu latar belakang persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan bisnis semata, tetapi juga persoalan kultural. Dengan demikian, adegan di atas menjadi submitos yang menghadirkan perempuan karir-modern dan kecerdasannya dalam menghadapi dan memahami masalah.

NJD 2

Kehadiran submitos tersebut sekaligus memunculkan wacana resistensi terhadap pengetahuan tradisional-patriarki yang mengatakan bahwa perempuan kurang atau tidak bisa mencapai prestasi dalam struktur dan sistem pekerjaan masyarakat modern. Markus (1996: 105-106) menjelaskan:

Para perempuan seringkali “dituduh”… tidak “merencanakan karir mereka”, tidak “membuka matanya untuk langkah berikutnya”, tetapi mengubur diri mereka dalam tugas-tugas terkini sembari menunggu “keadilan alamiah” yang akan menghargai kerja kerasnya…Kelambanan para perempuan dalam hal ini memiliki bermacam alasan, termasuk “mobilitas yang lebih rendah” sebagai akibat keterikatan dengan keluarga, tetapi seringkali juga karena nilai yang tinggi yang sering mereka tempatkan pada relasi antarmanusia dalam pekerjaan.

Tuduhan-tuduhan terkait ketidakmampuan perempuan untuk “mengatur” dan “merencanakan” masa depan karirnya lebih disebabkan dominasi rasionalitas dan kecerdasan laki-laki dalam ranah profesional. Generalisasi terhadap rendahnya mobilitas perempuan karena keterikatan keluarga merupakan wacana yang terlalu menyederhanakan permasalahan. Toh, banyak juga perempuan berkeluarga yang bisa memperoleh karir cemerlang dalam pekerjaan modern. Menurut saya, tuduhan-tuduhan stereotip itu lebih menunjukkan ketakutan laki-laki ketika perempuan ‘menguasai’ sektor pekerjaan yang dulunya menjadi ranah mereka.

Monita membuktikan kecerdasannya lagi ketika ia menghadapi Nagabonar, Bonaga, dan para stafnya dalam sebuah presentasi untuk meyakinkan Nagabonar bahwa kuburan orang-orang yang dicintainya tidak akan diterlantarkan begitu saja ketika resort dibangun.

Di ruang pertemuan kantor Bonaga.

Monita : (CU Monita) Bonaga sudah bercerita kepada saya bahwa ia sudah membuat Bapak kecewa sehingga Bapak mau pulang hari ini. (CU Bonaga dan Nagabonar) Bonaga tidak ingin Bapak pulang dengan perasaan sedih dan kecewa, Pak. Makanya ia ingin memperbaiki caranya menyampaikan sesuatu.
……………… . ………………………………………………………………………………………………
Monita : (CU berdiri menjelaskan) Ok, Pak Nagabonar. Kami akan menjelaskan tidak ada maksud Bonaga untuk menjual perkebunan itu. Ini adalah perusahaan kerjasama dengan pihak lain yang memiliki dana.
Nagabonar : (CU) Ya, tapi di sana ada kuburan neneknya, emaknya, dan pamannya…
Monita : (CU menjelaskan) Ada tiga pilihan. Pilihan pertama, kuburan diratakan saja dengan tanah…Pilihan kedua begini…. (animasi …) Kemungkinan ketiganya seperti ini. Kuburan dipertahankan dibuatkan taman sehingga tidak seram lagi…
Nagabonar : (CU Nagabonar dan Bonaga) E, aku mau tanya sama kamu, Mon. Apa tidak aneh..kalau kuburan dijadikan tempat bermain anak-anak..
Monita : (CU tenang menjawab kegundahan Nagabonar) Kenapa membiarkan kuburan menjadi tempat yang seram, Pak? Bukankah keriangan anak-anak (CU Nagabonar kaget sekaligus senang) yang bermain juga membuat gembira orang-orang yang ada di dalam kubur?
Bonaga : (CU) Jadi emakku, nenekku, dan pamanku Si Bujang tidak kesepian lagi. Dan, nanti kalau Bapak mau berziarah ke sana bisa sambil bermain-main bersama anak-anak.
Rekan Bonaga 1  

:

 

(CU) Betul, Om. Jadi nanti kalau punya cucu…

Nagabonar : (CU) Diam kau! Aku tanya sama Kau, (CU to Monita) sebenarnya pikiran Kau atau (CU Nagabonar dan Bonaga) pikiran Si Bonaga? (CU Monita cut to Nagabonar dan Bonaga) Ah, ini pasti pikiran Kau.
Monita : (CU) Tugas saya memang memberi saran dan masukan untuk Bonaga, Pak. (CU Nagabonar)
Bonaga : (CU) Pikiran aku itulah Pak, tapi Monita menyampaikannya dengan lebih baik.
Rekan Bonaga 2  

:

 

(CU) Dua orang ini memang cocok..

Nagabonar : (CU) Kau juga diam. Aku kan sudah bilang sama kalian. Kalian berdua ini cocok jadi suami istri. He, ha, ya, ya? (CU mengarahkan pandangan ke rekan-rekan Bonaga cut to MS mereka mengancungkan jempol sambil tersenyum)
Bonaga : (CU Nagabonar dan Bonaga) Aku antar ke airport dulu.
Nagabonar : (CU senang) Tidak..tidak. Tidak jadi pulang aku. Aku mau main bola…

Cara Monita menyampaikan beberapa pilihan untuk menyelesaikan persoalan kuburan orang-orang yang sangat dicintai Nagabonar, sekali lagi, menandakan kedewasaan dan kecerdasannya dalam memberikan solusi dengan mempertimbangkan beberapa alternatif. Munculnya beberapa solusi tersebut, tentu, tidak semata-mata berpihak pada kepentingan bisnis tetapi lebih menawarkan perpaduan yang juga dilandasi kepentingan emosional Nagabonar sebagai pihak yang sedari awak mempunyai keterikatan batin begitu kuat dengan para almarhum sebagai orang-orang yang telah banyak mengisi dan menentukan kehidupannya. Monita bisa memadukan kepentingan bisnis modern dengan pemikiran idealis-tradisional untuk kemudian menawarkannya sebagai solusi cerdas. Kecerdasan dan kedewasaan pilihan-pilihan yang ditawarkan Monita itulah yang akhirnya memberikan “kelegaan” pada diri Nagabonar, sampai-sampai ia menganggap bahwa Bonaga dan Monita memang cocok menjadi pasangan suami-istri.

Di samping kedewasaan pikiran dalam memberikan solusi, ketenangan Monita dalam menyampaikan presentasi, seperti terlihat dalam adegan di atas, menandakan bahwa ia memang tipe perempuan modern dalam dunia bisnis yang mampu memahami dan mengendalikan situasi ketika menghadapi permasahalan. Meskipun “berada di depan” dan menjadi “pusat pandangan dan perhatian laki-laki” yang mempunyai nalar bisnis (Bonaga dan rekan-rekannya) dan laki-laki idealis-tradisional (Nagabonar), Monita tetap berusaha tenang tanpa merasa grogi ataupun takut. Ketika Nagabonar menanyakan persoalan etika soal rencana kuburan yang akan dijadikan tempat bermain anak-anak, dalam gambar CU, “Monita sembari tersenyum” mampu memberikan argumen dengan penampilan “yang tetap tenang dan santai” sehingga membuat Nagabonar puas atas jawaban tersebut. Dalam konteks tersebut, Monita menjadi perempuan yang ‘sangat berkuasa’ dalam mempengaruhi dan meyakinkan pikiran laki-laki. Melalui bentuk adegan dan dialog di atas, submitos yang menghadirkan perempuan karir-modern, kecerdasan, dan ketenangan dalam memberikan solusi-solusi kreatif menjadi tampak begitu wajar.

Dua submitos di atas, dengan demikian, merupakan usaha untuk mewacanakan tipe perempuan karir-modern dalam dunia bisnis yang mampu memberikan pemecahan-pemecahan masalah dengan kecerdasan, kedewasaan, dan ketenangan pikiran. Perempuan-perempuan yang sukses dalam dunia bisnis adalah mereka yang berhasil mengoptimalkan kecerdasan pikiran mereka, bukannya tubuh dan seksualitas belaka, sebagaimana digambarkan dalam beberapa film dalam era Orba.[i] Mereka bukanlah subjek berbahaya yang mampu mengalahkan laki-laki, tetapi hadir sebagai partner ataupun pemimpin dalam prinsip kesetaraan yang tidak harus memandang kalah dan menang tetapi lebih mengutamakan aspek kemajuan yang bisa diraih bersama-sama. Sudah sewajarnya, perempuan juga memperoleh jabatan maupun pekerjaan yang bisa menghargai kecerdasan pikiran sehingga mereka mampu menjadi subjek-subjek mandiri dalam kehidupan kelas menengah-atas kota yang semakin berkembang dewasa ini. Sekali lagi, itu semua karena kemampuan berpikir mereka, bukan karena tubuh mereka.

Perempuan karir-modern dan persoalan cinta laki-laki

Sebagai perempuan mandiri, Monita sebenarnya bisa saja tidak terlalu risau dalam memandang persoalan cinta. Atau, ia bisa saja membebaskan diri dan pikirannya dari persoalan cinta yang cenderung dipandang negatif oleh para feminis Barat karena menjadi awal hegemoni patriarki. Monita sendiri memang meniru perilaku modern perempuan Barat yang mengedepankan kemampuan pikir. Namun demikian, Monita adalah subjek pascakolonial yang mempunyai kesadaran kritis, mengikuti pemikiran Bhabha, untuk menjalani praktik dalam “ruang ketiga” berupa hibriditas untuk mengambil yang baik dari Barat, tetapi tetap tidak menolak pemikiran dan praktik ala Indonesia yang masih memandang cinta sebagai satu fase untuk menciptakan keharmonisan dalam hubungan laki-laki dan perempuan; sebuah pemahaman budaya yang mampu memberikan ketegasan pilihan tanpa harus selalu tergantung kepada budaya Barat.

NJD 1

Dalil yang seringkali mengatakan bahwa subjek pascakolonial dan budaya poskolonial seringkali mengekor dan meniru apa-apa yang dilakukan penjajah, mungkin sudah seharusnya direvisi. Terkait dengan persoalan tersebut, mengikuti pemikiran Bhabha, Patke (2006: 369-372), menjelaskan bahwa budaya poskolonial bukanlah ruang tertutup tetapi ruang terbuka, “ruang ketiga” di mana berlangsung perlintasan-perlintasan kompleks antara budaya penjajah—Barat—dan terjajah—tradisional. Namun, waktu berjalan dan subjek-subjek pascakolonial telah menempati ruang-ruang baru yang dengan kesadaran pendidikan mampu mengartikulasikan masa depannya tanpa harus dibayang-bayangi beban sejarah masa lampau. Budaya poskolonial bersifat kontingen dan temporer seperti tangga yang harus diletakkan ketika mengantarkan subjek-subjek pascakolonial menjemput masa depan yang lebih baik. Idealitas tersebut memang membutuhkan perjuangan dan pemikiran kritis secara dari subjek pascakolonial karena endapan-endapan ideologis terhadap pesona Barat memang sangat sulit dihapuskan.

Monita sebagai subjek pascakolonial tidak serta-merta larut ke dalam atau tunduk kepada persoalan cinta karena kemandirian yang sudah ia jalani. Ia mempunyai kemampuan negosiatif untuk menjalani cinta sebagai sesuatu yang dinamis. Ia juga bukan tipe perempuan yang tidak mau mengungkapkan cinta yang ada dalam hati dan pikirannya yang bisa menjebaknya dalam kebingungan dan kesedihan, seperti yang terjadi dalam film Heart. Dialog di ruang tamu rumah Bonaga berikut memperlihatkan bagaimana Monita memandang cinta dan hubungan dengan laki-laki bisa dilihat dalam.

Nagabonar : (CU duduk di kursi) Kau pacarnya si Bonaga? (CU Monita kaget) Bukan? (CU Monita menghela nafas, tersenyum) Kenapa?
Monita : (CU) Bapak tanya aja sama dia, Pak.
Nagabonar : (CU) Aku sedang bicara dengan Kau.
Monita : (CU) Tapi pertanyaan itu buat Bonaga saja, Pak.
Nagabonar : (CU) Kalo aku tanya si Bonaga jawabannya selalu berputar-putar, tidak jelas mana kepala mana ekor. (CU Monita tersenyum) Makanya ku tanya kau.
Monita : (CU) Itu pertanyaan tidak etis buat saya, Pak.
Nagabonar : (CU) Bahh, Kau kan tinggal jawab saja. Kalo iya ya sudah, kalo tidak ya sudah.
Monita : (CU memainkan bola) Ok, saya sendiri nggak tahu saya pacarnya Bonaga atau bukan.
Nagabonar : (CU) Ahh..
Monita : (CU) Maksud saya..
Nagabonar : (CU) Sama saja jawabanmu, macam mencari ketiak ular aku.
Monita : (CU tersenyum) Ok, saya mencintai Bonaga.
Nagabonar : (CU senang) Nah, itu baru jelas.
Monita : (CU) Bapak tanya juga sama dia apakah dia mencintai saya atau nggak.
Nagabonar : (CU) Sudah jelas itu. Dari caranya memandangmu aku sudah tahu kalau dia mencintaimu
Monita : (CU Monita tersenyum) Bapak harus tanya…(Muncul Bonaga yang hendak mengantar pulan Monita)
Bonaga : (CU) Mon yuk, gua antar Loe pulang.
Nagabonar : (MS) Bonaga, tadi dia bilang, katanya dia cinta sama kau. (CU Monita terhenyak kaget) Terus dia juga minta sama aku bertanya sama kau. Apa kau mencintainya atau tidak. (CU Monita beranjak pergi)
Monita : (CU kesal) Bon, (melempar bola ke Bonaga) gua balik.

Dialog di atas menandakan adanya ambivalensi dalam diri Monita sebagai perempuan modern yang sebenarnya sangat terbuka dengan persoalan cinta, tetapi ia pada awalnya begitu ragu-ragu untuk mengutarakannya. Keragu-raguan tersebut merupakan efek dari wacana perempuan yang tidak sepantasnya mengutarakan cinta secara terbuka karena itu “tidak etis” dalam konteks Indonesia, apalagi yang ia hadapi adalah seorang Bapak yang memegang kuat kultur tradisional. Dengan kata lain, ia mengatakan “tidak etis” karena ada medan wacana yang menempatkannya berhadapan dengan subjek dan budaya Timur. Ketika terus didesak, ia melihat adanya kesempatan untuk keluar dari jejaring wacana kultural yang hadir dalam sosok Nagabonar, dan dengan jujur mengatakan bahwa “ia mencintai Bonaga”. Namun, ia tidak mau konyol dengan cintanya. Ia berusaha mengeluarkan wacana yang bersifat negosiatif, yakni dengan “meminta Nagabonar untuk menanyakan perasaan Bonaga ke dirinya.” Monita berhasil melakukan negosiasi dalam konteks emansipatoris kepada orang tua seperti Nagabonar. Permintaannya kepada Nagabonar, tentunya, adalah untuk menanyakan kepada Bonaga secara personal, bukan ketika ia ada di antara mereka. Ketika Nagabonar secara terbuka mengungkapkan hal itu di depan Bonaga, Monita memilih untuk pulang sendiri tanpa diantar Bonaga karena ia sungguh kesal mendapati kenyataan tersebut.

NJD 3

Kekesalan Monita merupakan bentuk ketidaksepakatan karena ia memandang ungkapan Nagabonar tersebut tidak bisa tidak sepantasnya dilontarkan. Monita tentu merasa malu dengan ungkapan terbuka itu. Sekali lagi norma Timur kembali hadir dalam persoalan ini, meski pilihan tersebut lebih menjelaskan sikap tegas Monita dalam memahami cinta sebagai sesuatu yang bersifat privat. Ia memang membutuhkan pernyataan verbal dari Bonaga, tetapi tidak harus dengan cara seperti itu. Ia ingin mendengar itu sendiri dari mulut Bonaga, bukan dari Nagabonar. Bentuk dialog tersebut merupakan submitos yang menghadirkan ambivalensi perempuan karir-modern dalam memaknai cinta.

Ambivalensi tersebut bukan berarti untuk mengatakan Monita sebagai tipe perempuan mandiri yang pasif. Sekali lagi, yang ia butuhkan adalah ketegasan cinta dalam ruang privat dari seorang laki-laki, yang sebenarnya ia cintai dan, sebaliknya, si laki-laki juga mencintainya, meskipun tidak pernah berani mengutarakannya.[ii] Ungkapan verbal yang ditunggu oleh Monita akhirnya datang juga ketika mereka berdua berada di tepi kolam renang rumah Bonaga.

Monita : (LS mereka berdua) Saya kagum sama Bapak kamu. Masih memelihara cintanya..
Bonaga : (LS mereka berdua) Ya, makanya aku ingin berusaha menjadi seperti dia.
Monita : (CU mereka berdua. Monita hampir tidak percaya) Iya?
Bonaga : (CU mereka berdua. Bonaga mengangguk) Iya. (Bonaga mencari-cari seseorang. Monita penasaran)
Monita : (MS mereka berdua) Cari siapa sih, Bon?
Bonaga : (MS mereka berdua) Bapaku harusnya ia ada di sini. (Ia memainkan gelas minumannya)
Monita : (MS mereka berdua) Buat apa?
Bonaga : (MS mereka berdua) Ya harus dia ada.
Monita : (MS mereka berdua) Iya, tapi buat apa?
Bonaga : (MS mereka berdua. Bonaga memainkan gelas minuman, Monita minum) Ya, dia pernah bilang sama aku, “kau kan pernah sekolah di luar negeri, (CU Bonaga) kalau kau tidak bisa mengatakan pada Monita aku cinta padamu katakan saja I Love U Monita!!” (CU Monita, kaget dan tersendak dari minumnya hingga batuk-batuk) (CU) Salah ngomong aku, ya? (CU Monita) Sori Mon, anggap aja kau nggak pernah dengar. (CU Bonaga)
Monita (CU) Loe, nggak bisa bilang gua nggak denger. Gue denger, Bon. (CU mereka berdua. Bonaga masih bingung tidak bisa berkata apa-apa. Monita diam sejenak, lalu mencium pipi kanan Bonaga. Bonaga kaget, tapi malah minta pipi yang kiri dicium juga. Kemudian ada telepon dari Nagabonar yang meminta kuburan tidak usah ibuatkan taman, asal setiap saat ia bisa mengunjunginya. Bonaga sedih, Monita berusaha menguatkannya dengan menggenggam tangannya)

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Monita bukanlah tipe cewek pasif. Apa yang ia butuhkan adalah sebuah ruang privat untuk memperbincangkan dan mengeskpresikan cinta. Ia sadar betul bahwa Bonaga selama ini belum berani mengungkapkan cintanya. Ketika secara tidak langsung Bonaga mengungkapkan cinta, meskipun dengan “menyitir kembali omongan Nagabonar”, bagi Monita itu adalah sebuah ungkapan cinta yang ia tunggu-tunggu keluar dari mulut Bonaga. Ia tidak hanya pasif sambil menunggu kata-kata penjelasan berikutnya. Ciuman di pipi kanan dan kiri Bonaga menandakan keaktifan, keberanian, dan keseriusan Monita dalam memaknai cinta yang selama ini ia rasakan juga. Cukup dengan ciuman di pipi, dan bukan ciuman di bibir seperti yang terjadi di AADC dan EIL. Ciuman di pipi sekaligus menandakan kedewasaannya dalam memandang arti cinta. Ia memang mencintai Bonaga yang tampan, pintar, dan kaya, tetapi itu bukan alasan untuk memberikan ciuman di bibir ataupun bagian tubuh yang lain, karena memang belum ada ikatan yang lebih serius di antara mereka. Usahanya  untuk “menggenggam tangan Bonaga” ketika ia sedih sehabis menerima telepon dari Nagabonar juga menjadi penanda kedewasaannya. Bagi Bonaga, Monita adalah semangat hidup baru sehingga ia “mencium tangannya”. Bentuk visual adegan dan dialog tersebut menjadi submitos yang menghadirkan keberanian dan kedewasaan perempuan dalam memahami cinta.

NJD 7

Submitos tersebut memberikan wacana tandingan terhadap perayaan cinta yang dilakukan perempuan dengan beragam kebebasan. Banyak perempuan muda, baik yang masih belajar atau sudah berkarir, memposisikan cinta sebagai bentuk pembebasan untuk merasakan dan merayakan hasrat seksual; dari sekedar mencium bibir, fore play, hingga berhubungan badan. Cinta bukanlah alasan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang sebenarnya bisa merugikan perempuan. Di samping itu, saya melihat submitos tersebut sebagai kritik terhadap kecenderungan film-film Indonesia yang banyak meniru gaya film Hollywood yang dalam urusan cinta cenderung merepresentasikan ‘kebebasan kecil’, semisal dalam hal ciuman di depan publik, tetapi ujung-ujungnya tokoh perempuan tidak bisa mempunyai kuasa untuk menegosiasikan kepentingannya, selain menyandarkan harapan kepada tokoh laki-laki. Cinta yang hadir dalam film ini adalah jenis cinta yang yang saling menyadari dan memahami kepentingan masing-masing subjek sehingga memunculkan wacana ideologis kesetaraan yang berujung pada kebahagiaan bersama. Dengan demikian, meskipun hanya menjadi tokoh pembantu, kehadiran Monita dalam NJD ternyata mampu memberikan perspektif “kompromi-menengahi” atau “menjembatani” yang menggunakan cinta sebagai semangat hidup bagi laki-laki dengan mengedepankan prinsip kesetaraan menuju masa depan yang lebih baik.

* Tulisan ini merupakan bagian dari tesis S2 saya di Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM dengan judul Perempuan dalam Layar Bergerak: Representasi Perempuan dan Pertarungan Ideologis dalam Film Indonesia Era 2000-an (2008). Saya menggunakan teori semiotika mitos Barthesian, wacana Foucauldian, gender, dan hegemoni.

Catatan akhir

[i] Dalam film Direktris Muda (sutradara Kusno Sudjarwadi, 1977) diceritakan tentang perempuan berkeluarga yang berhasil menjadi direktris dan banyak mendatangkan order bagi perusahaan dengan mengumpankan para pegawainya yang cantik-catik juga dirinya sendiri. Sampai akhirnya praktik tersebut terbongkar dan usahannya semakin surut serta mendapat demo dari karyawan. Lihat Kristanto, 2007: 150.

[ii] Tentang ketidakberanian Bonaga dalam mengungkapakan cinta, Nagabonar mengutarakan alasannya dalam Scene 45 sebagai berikut: “…Itulah, si Bonaga lahir, ia hidup, tapi emaknya yang mati. Kau mengerti, kenapa aku begitu mencintai si Bonaga. Setelah itu aku yang mengasuhnya sendiri. Aku ini seorang laki-laki kasar. Aku tidak pandai mengajarkan si Bonaga kelembutan hati. Mungkin itu sebabnya dia tidak bisa merayumu Monita.”

Pustaka acuan

Heraty, Toeti. 2003. “Perihal Rekayasa dan Bias Gender”, dalam Adi Wicaksono, dkk. (ed). Politik dan Gender, Aspek-aspek Seni Visual Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti.

Hartley, Barbara. 2006. “Postcoloniality and the feminine in modern Indonesia literature”, dalam Keith Foulcher dan Tony Day (et.al). Clearing Space: Postcolonial readings of modern Indonesia literature. Leiden: KITLV Press.

Locher-Scholten, Elsbeth, “Summer dress and canned food European women and Western lifestyles in the Indies, 1900-1942”, dalam Nordholt.1997. Outward Appearances, Dressing State and Society in Indonesia. Leiden: KITLV Press.

Markus, Maria. 1996. “Women, Success, and Civil Society: Submission to, or Subversion of, the Achievement Principle”, dalam Seyla Benhabib & Drucilla Cornell. Feminism as Critique: On the Politics of Gender. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Patke, Rajeev S., “Postcolonial Cultures”, dalam Jurnal Theory of Cultural Society, Vol. 23, 2006.

Share This:

About Ikwan Setiawan 151 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*