D’BIJIS: Perempuan yang menggerakkan laki-laki

IKWAN SETIAWAN

 

Film era 2000-an juga ditandai dengan munculnya garapan-garapan yang menarasikan eksistensi dan perjalanan grup band yang terdiri dari sekelompok anak muda laki-laki dengan cita-cita idealis untuk ikut berkiprah dalam jagat musik. Populeritas film jenis ini memang tidak terlepas dari maraknya industri musik di tanah air, di mana band-band baru muncul dengan ragam warna dan aliran musiknya masing-masing. Menariknya, dalam film-film yang bercerita tentang perjuangan laki-laki dalam mendirikan sebuah band, dimunculkan tokoh perempuan yang hadir di tengah-tengah mereka, seperti dalam film D’Bijis (Rako Prijanto, 2007, Rapi Film). Dalam subbab ini, saya menekankan pada bagaimana peran perempuan direpresentasikan dalam menghadapi atau memberi solusi bagi permasalahan dihadapi grup band.

DBJ 3

Film ini menceritakan usaha seorang perempuan muda bernama Asti untuk menghidupkan kembali sebuah grup band yang sudah lama bubar setelah meninggalnya sang vokalis—kakaknya—dalam sebuah pertunjukan. Asti sebenarnya hanyalah tokoh pembantu dalam narasi yang lebih banyak menuturkan permasalahan pelik yang dihadapi masing-masing personel The Bandits, seperti Damon, Gendro, Bule, dan Soljah. Damon, misalnya, harus mengubur impiannya untuk nge-band dan menggeluti pekerjaan sebagai bartender di sebuah klub dangdut—aliran musik yang jauh dari bayangannya sebagai gitaris rock. Gendro, drummer, harus susah payah menjadi sales untuk menghidupi istrinya yang cerewet dan suka marah. Bule, basis, ternyata menjadi seorang waria yang ‘beroperasi’ di jalan ketika malam. Ia juga tinggal bersama seorang laki-laki yang tidak suka kalau ia nge-band. Sementara Soljah, kibordis, suka menyendiri di kamar gelapnya sambil menonton film. Permasalahan-permasalahan tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi Asti dan sekaligus menguji kemampuannya untuk menjadi inspirator bagi kebangkitan kembali The Bandits.

Yang hadir dan menggerakkan di tengah keterpurukan

Sebagai adik dari almarhum Bonnie, mantan vokalis The Bandits, Asti tidak bisa begitu saja melupakan kenangan-kenangan indah ketika pada waktu kecil dia ikut menyaksikan pertunjukan band itu. Tiga belas tahun setelah kematian Bonnie, ia membuka kamar almarhum kakaknya dan menemukan album berisi foto Bonnie dan personel-personel lainnya. Sejak saat itu, selama tiga tahun, ia berusaha mencari para mantan personel The Bandits dan mempertemukan mereka guna menghidupkan band kembali. Ia yakin bahwa jiwa dan pikiran para personel itu masih tetap pada The Bandits dan musiknya. Orang pertama yang berhasil ia temui adalah Damon, gitaris. Damon sebenarnya sudah tidak bersemangat untuk menghidupkan kembali band itu, tetapi Asti tetap berusaha meyakinkannya, seperti terlihat dalam dialog berikut.

Di ruang dapur bar dangdut. Asti bersandar di dinding, sementara Damon merokok.

Asti : (CU bersemangat) Bikin band lagi yuk. Kayak dulu The Bandits. (CU Damon) Rock n Roll!!
Damon : (CU sambil tersenyum, merokok) Sinting.
Asti : (CU tetap tersenyum) Kok sinting sih?
Damon : (CU Damon cut to CU dua perempuan pelayan bar berjoget dangdut) Sekarang ini musik gue.
Asti : (CU tertawa) Kalau ini musik Loe, Loe di sana sekarang. Loe goyang, Loe ketawa, becanda. Loe nggak di sini. (ECU Damon) Bengong, kadang bego.

Di luar bar. Asti dan Damon berjalan berdua.

Damon : (MS mereka berdua berjalan) Asti, gua tau kok. Loe dulu tu fans The Bandits nomor satu. Loe selalu ada tiap kita manggung. Ngintilin Bonnie kemana-mana. Tapi, itu kan dulu. Masa kita udah lewat sekarang.
Asti : (MS mereka berdua) Mon, dulu kalian tu hampir rekaman. Rekaman, Mon! Itu kan salah satu cita-cita Bonnie?
Damon : (MS mereka berdua) Jadi ceritanya, Loe mau balikin lagi cita-cita Bonnie? Ehh, nggak segampang itu lagi. Loe pikir tinggal ngumpulin pemain bandnya, terus rekaman, terus jadi gitu aja?
Asti : (MS mereka berdua) Kan gua belum cerita, cita-cita Bonnie yang satu lagi.
Damon : (MS mereka berdua) Apaan?
Asti : (MS mereka berdua) The Bandits ada lagi. Makanya jangan kelamaan mikir. Jangan kayak Bonnie, kelamaan mikir, tahu-tahu…Ya udah gua cabut, ya? (Menuju mobil)
Damon : (CU mereka berdua. Damon menghampiri Asti yang sudah hampir masuk mobil) Ti, kasih gua satu alasan, kenapa gua harus balik lagi ke Bandits.
Asti : (CU mereka berdua. Asti tersenyum, agak jengkel) Eh, yang tau jawabannya cuma Loe, Mon. Dengerin kata hati Loe. Karena The Bandits itu jati diri Loe, Mon. (Asti masuk mobil)

Setelah berhasil meyakinkan Damon, mereka berdua berhasil menemui Gendro, penabuh drum, dan mengajaknya untuk bergabung, meskipun gagal mengajak Soljah, kibordis. Bertiga mereka mencari Bule yang sudah menjadi seorang waria. Setelah berhasil meyakinkan Bule, masalah baru timbul karena ia tidak mendapatkan izin dari pasangannya, Mas Anang. Asti, sekali lagi, menunjukkan berusaha meyakinkan Bule, sepertihalnya waktu ia meyakinkan Damon.

Di pinggir jalan mereka menemui dan mencoba menyakinkan Bule. Damon dan Gendro gagal meyakinkan Bule. Asti terus berusaha.

………………………………………………………………………………

Asti : (MS mereka berempat. Asti duduk di atas mobil) Kalau dia sayang sama Loe,  harusnya dia rela Loe bahagia.
Bule : (MS mereka berempat) Itu basi, Ti. Sorry ya, Ti, tapi gua nggak mau kehilangan dia.
Asti : (MS mereka berempat) Tapi dia sadar nggak kalau suatu saat Loe bisa ninggalin dia. Kok dia nggak takut sih? (ECU Bule) Nggak adil.
Bule : (CU) Loe ngomong apa sih, Ti? Gua nggak ngerti.
Asti : (CU Asti turun memegang pundak Bule, tetap semangat dan penuh empati) Maksud, gue, Loe coba gertak dia, Loe ngancem Loe bakal pergi. Jadi cewek harus kuat dong, jangan mau kalah ama laki-laki. Kalau nggak berani jangan ngaku cewek deh (CU Bule) Malu sama Ibu Kartini. (CU Gendro dan Damon cuma tersenyum)

Kegigihan Asti untuk menghidupkan semangat para personil The Bandits menunjukkan bahwa sebagai adik perempuan dari almarhum Bonnie ia paham betul terhadap komitmen para personilnya, meskipun saat ini masing-masing dari mereka sudah mengalami permasalahan yang kompleks dan sulit untuk diajak bangkit lagi. Kemampuannya untuk meyakinkan Damon, dengan mengatakan “The Bandits itu jatidiri, Loe”, menandakan bahwa Asti sebenarnya berperan layaknya seorang psikiater yang mampu memunculkan kembali kesadaran dari pasiennya setelah puluhan tahun mengalami keterpurukan. Begitupula ketika ia berusaha meyakinkan Bule yang dilarang sama Mas Anang untuk nge-band lagi. Dengan begitu gigih ia memberikan semangat agar Bule “menggertak dan mengancam” Mas Anang sembari menjelaskan bahwa “jadi cewek tidak boleh kalah sama laki-laki, kalau tidak berani jangan ngaku cewek, malu sama Ibu Kartini”. Ucapan provokatif tersebut memperlihatkan kemampuannya untuk memunculkan semangat dari seseorang yang mengaku dirinya perempuan. Perempuan memang tidak boleh kalah dengan laki-laki, termasuk dalam menegosiasikan kepentingannya dalam relasi cinta. Urusan cinta memang tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengekang salah satu pasangan. Prinsip yang diyakini Asti sekaligus memberikan wacana ideologis alternatif kepada mereka yang sedang jatuh cinta agar tetap mampu memunculkan potensi kreatif diri, tanpa harus selamanya tenggelam dalam logika romantis cinta.

DBJ 5

Secara visual adegan di atas juga memperlihatkan bagaimana Asti dengan sangat meyakinkan memberikan wejangan (nasehat) kepada Bule yang sudah hampir menyerah dengan persyaratan dari Mas Anang. CU pada waktu ia “memegang pundak Bule” dan “ekspresi wajahnya yang penuh semangat sekaligus empati” serta posisi wajah yang tengah menghadap kamera menghadirkan sosok Asti sebagai seorang ‘ibu’ atau ‘sahabat dekat’ yang memberikan semangat baru dan satu tawaran negosiatif yang bisa dilakukan oleh Bule kepada pasangannya. Tidak ada keraguan sama sekali dari raut mukanya karena ia memang yakin bahwa Bule masih mempunyai kekuatan dan keberanian untuk kembali ke The Bandits. Penggambaran-penggambaran dalam adegan di atas menjadi submitos yang dengan secara wajar dan meyakinkan menghadirkan kemampuan perempuan untuk memunculkan kembali keyakinan dan motivasi dalam diri laki-laki/’perempuan’.

Submitos di atas merayakan ke-perempuan-an dengan memberikan wacana ideologis tentang kemampuan perempuan untuk memberdayakan kaum laki-laki, pada khususnya, dan kehidupan, pada umumnya. Hal ini bukan menunjukkan posisi subordinat mereka terhadap laki-laki di mana perempuan sekedar menjadi pelengkap penderita dari subjek laki-laki. Lebih dari itu, kemampuan tersebut, pada dasarnya, menunjukkan arti penting kontribusi perempuan dalam memunculkan kembali semangat hidup demi mencapai target-target yang lebih ideal dalam kehidupan laki-laki. Kondisi ini pula yang membedakan perempuan Barat dan Indonesia secara historis.[i] Kemampuan perempuan untuk mempengaruhi jagat laki-laki, bukanlah ideologi feminis, tetapi lebih menunjukkan ideologis keperempuanan ala Indonesia yang sejak awal memang sudah terlahir dalam keberdayaan dan kesejajaran peran yang saling mendukung dengan laki-laki maupun solidaritas dengan perempuan lainnya. Sayangnya, selama ini wacana dan pengetahuan tersebut telah ditundukkan oleh universalisasi dan euforia feminisme Barat yang berangkat dari tradisi sosio-kultural berbeda.

DBJ 1

Menurut McEwan (2001: 93-100), paling tidak, sejak era 80-an terdapat tendensi dari para feminis Barat untuk mengasumsikan kesamaan perihal kekerasan terhadap perempuan di seluruh belahan bumi ini. Para feminis Barat mengasumsikan bahwa proyek politik mereka bersifat universal dan mampu melintasi batas-batas. Kecenderungan itulah yang kemudian dilawan oleh para feminis poskolonial dengan mengatakan bahwa tidak bisa norma-norma feminis Barat digunakan untuk menjustifikasi bahwa semua perempuan mengalami kekerasan tanpa mau memahami bagaimana sejarah dan tradisi sosio-kultural yang berkembang. Para feminis Barat telah gagal dalam memaknai perbedaan yang ada. Perempuan Indonesia tetaplah memiliki konteks sosio-kultural berbeda, sehingga sebagai subjek pascakolonial yang sadar akan sejarah dan tradisinya mereka bisa memaknai kembali ataupun melawan pemikiran-pemikiran feminis Barat dengan menggunakan ke-perempuan-an yang sebenarnya sudah banyak berkembang di masyarakat kita.

Kegigihan dan kemampuan Asti ditunjukkan bukan hanya dalam hal meyakinkan para personel The Bandits, tetapi juga dengan usaha riil untuk melakukan lobi kepada produser rekaman dengan cara menawarkan proposal. Produser awalnya “merasa kurang yakin dengan band baru”, reinkarnasi The Bandits. Asti dengan “tenang dan tetap tersenyum berusaha meyakinkannya akan prospek yang bagus dari band tersebut”. Peristiwa ini menandakan bahwa perempuan yang gigih dan cerdas, pada dasarnya, akan mampu memanfaatkan peluang kemajuan yang ada, dengan cara melakukan lobi-lobi bisnis yang mampu meyakinkan rekan kerjanya. Ketenangan yang dikombinasikan dengan kecerdasan dalam memanfaatkan peluang akan menjadikan rekan bisnis perempuan berpikir ulang untuk memberikan kesempatan, seperti tampak pada diri si produser: “raut mukanya tidak lagi menandakan kepesimisan, tetapi sebuah senyum untuk memberikan kesempatan”. Asti berhasil mengembangkan wacana kecerdasan dan ketenangan perempuan untuk mempengaruhi keputusan dari si produser. Bentuk adegan di atas menjadi penandaan submitos yang menghadirkan kecerdasan dan ketenangan perempuan dalam meyakinkan rekan bisnis—sama seperti yang dilakukan Monita dalam NJD ketika meyakinkan Nagabonar.

Ketika perempuan berada di tengah konflik

Bertemunya Damon, Gendro, dan Bule untuk berlatih di gudang, bukan berarti meniadakan konflik di antara mereka. Dipicu oleh keinginan Damon untuk menjadi penyanyi band tersebut, keutuhan grup menjadi terancam. Bule tidak sepakat karena memang kualitas suara Damon tidak bisa diandalkan. Bahkan, Bule menceritakan kembali keinginan lama Damon yang ingin menjadi leader. Semua pernyataan Bule membuat Damon kecewa dan marah. Dalam kondisi tersebut Asti berhasil meyakinkan Damon dengan cara memberi kepercayaan kepadanya untuk menjadi penyanyi. Masalah muncul kembali ketika diuji, suara Damon memang tidak kuat, hingga membuat Bule pergi dari tempat latihan. Asti mampu mengatasi persoalan tersebut dengan cara menyusul Damon ke kuburan Bonnie, dengan membawa serta Bule dan Gendro. Deskripsi beberapa adegan tersebut menghadirkan submitos inisiatif perempuan dalam menyelesaikan konflik.

Asti, akhirnya, tidak bisa menghindar dari konflik ketika ia dan Damon terlibat perdebatan seputar jenis musik yang diusung oleh The Bandits. Awalnya ia mencoba untuk berbicara baik-baik dengan menyarankan agar musik The Bandits disesuaikan dengan perkembangan zaman karena sudah dianggap terlalu lawas. Itu semua membuat Damon marah.

………………………………………………………………………………………

Damon : (CU Damon, marah) Loe tau apa sih, soal musik?
Asti : (MSmereka berdua. Damon berdiri menghampiri Asti) Jadi, gue nggak tahu musik, gitu?
Damon : (MSmereka berdua. Damon mulai marah) Kalau Loe ngerti musik, Loe nggak akan ngomong yang barusan. Gue kasih tahu, ya, musik The Bandits itu nggak akan pernah hilang.
Asti : (MS mereka berdua. Asti berusaha tetap sabar) Mon, hari gini, mana ada sih yang ndengerin Skid Row, Posion, Bon Jovi,….Nggak ada lagi.
Asti : (MS mereka berdua) Ada!!
Asti : (MS mereka berdua,) Nggak ada, Mon!!
Asti : (MS mereka berdua) Ada!!
Asti : (MS mereka berdua,) Nggak ada, Mon!! Kalaupun ada, dikit, segmented.
Damon : (MS mereka berdua. Damon semakin marah) Tai, lah..!!
Asti : (MS mereka berdua. Asti mulai marah) Loe bilang apa tadi?!
Damon : (MS mereka berdua) Udah, nggak usah dipikirin. Gua kerja aja (Damon beranjak pergi)
Asti : (MS mereka berdua) Kepingin di anggap leader? (CU Damon berhenti, Asti menyusul)
Damon : (MS mereka berdua) Kok Loe, jadi sinis gitu, sih?
Asti : (MS mereka berdua. Asti tambah marah) Karena Loe yang sinis duluan ama gue, tahu nggak? Loe juga sinis sama Bonnie.
Damon : (MS mereka berdua) Karena gue tahu apa yang dia lakuin itu bisa ngancurin band kita.
Asti : (MS mereka berdua) Bonnie tu hebat lagi. Bonnie bisa jadi leader. Kalian hampir rekaman, Mon.
Damon : (MS mereka berdua) Nyaris. Nyaris rekaman. Terus tiba-tiba dia jadi gila, terus ngilang gitu aja.
Asti : (MS  mereka berdua. Asti Marah setengah berteriak) Bencinya ama Bonnie, ngapain Loe ke sini? Loe pingin jadi leader ya? Dan Loe cuman bisa jadi leader karena Bonnie mati. (Damon pergi meninggalkan Asti. Asti kecewa, sendirian, kembali ke kamarnya)

Sebenarnya Asti berusaha menahan diri, tetapi ketika Damon sudah keterlaluan dengan mengungkit perilaku buruk Bonnie, dia ikut marah. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja ketika ada seseorang berusaha mewacanakan kejelekan orang yang sangat disayangi, terutama saudaranya. Bahkan Asti berani berkontestasi dengan mengungkit niat Damon untuk menjadi leader di band. Perkataan Asti tersebut menandakan bahwa dia punya keberanian untuk melawan kesewenang-wenangan yang dilakukan Damon. Dia tidak pasif. Penggambaran ketika mereka saling marah merupakan usaha visual dari sineas film ini untuk mempertegas bahwa ketika dalam posisi marah, perempuan dan laki-laki sebenarnya memiliki kesamaan dan tidak bisa dimonopoli hanya oleh laki-laki. Kesetaraan posisi tersebut terjadi karena masing-masing pihak mempunyai argumen yang kuat.

Pertengkaran di antara mereka tetap berlanjut sampai di gudang. Ketika Asti berusaha mengisi posisi kibor yang kosong, Damon merasa tidak cocok. Ia marah dan mengungkit keberadaan Asti di band—terkait dengan cinta monyetnya dulu kepada Bule—dan juga kebiasaan-kebiasaan jelek Bonnie. Sampai-sampai menjadikan Bule marah dan menamparnya. Pertengkaran itu menjadikan The Bandits diambang perpecahan. Kondisi itulah yang membuat Asti semakin tertekan dan tidak kuasa menghilangkan kesedihan di hatinya, sampai dia harus menangis di pangkuan Mamanya. Kesedihan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh ingatan akan perjuangan kerasnya membentuk kembali The Bandits dan cita-cita ideal mereka bersama yang sebenarnya sudah hampir menemukan titik temu, tapi harus pecah karena konflik tersebut.

DBJ 4

Adegan di atas memperlihatkan betapa perempuan tetap saja tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis ketika menghadapi permasalahan yang cukup pelik dalam kehidupannya, sampai-sampai dia harus menangis di pangkuan Mama yang selama ini mendukung semua keinginannya untuk menghidupkan kembali The Bandits. Muncul kesan untuk merepresentasikan dan mewacanakan stereotipisasi perempuan cengeng. Namun demikian, apa yang harus diingat adalah bahwa Asti menangis bukan karena dia memikirkan kesedihan dirinya sendiri. Lebih dari itu, ia memikirkan nasib The Bandits kalau harus bubar untuk kedua kali. Bagaimana dengan Bule yang sudah berusaha meninggalkan Mas Anang? Bagaimana nasib Gendro yang meninggalkan istrinya? Pikiran-pikiran itulah yang membuatnya shock. Artinya, dialah yang selama ini berusaha dengan keras merayu dan meyakinkan mereka. Dialah leader yang sebenarnya dari The Bandits. Tentu saja, apa yang ia sesalkan adalah nasib The Bandits dan para personilnya yang sudah mendedikasikan hidupnya untuk band dan musik mereka. Bentuk adegan tersebut menjadi submitos yang menghadirkan tangis perempuan di tengah-tengah cita-cita idealisnya dan juga kawan-kawan laki-lakinya.

Kesedihan tersebut tidak berlangsung terlalu lama karena Bule segera mengajaknya kembali untuk berlatih (Scene 37), apalagi dengan kedatangan Soljah yang berhasil diyakinkan oleh Gendro untuk bergabung kembali dengan The Bandits. Demikian pula dengan Damon yang sudah diajak bicara baik-baik oleh Gendro. Mereka, akhirnya, berkumpul kembali di gudang. Damon minta maaf kepada Bule karena sudah menghinanya. Mereka kembali giat berlatih untuk mempersiapkan materi lagu. Di tengah-tengah latihan, Asti menelpon produser agar mau datang pada acara pertunjukan mereka. Pada saat selesai latihan, Damon meminta maaf pada Asti sembari mengungkapkan rasa cintanya. Asti menerima cinta Damon. Penggambaran-penggambaran tersebut berusaha menunjukkan bahwa semua masalah akan bisa teratasi ketika ada kerjasama yang saling mendukung di antara anggota grup. Gendro dan Bule, yang merasa cinta pada band dan merasakan betapa besar pengorbanan Asti, berusaha membangkitkan kembali kerukunan di antara mereka. Di antara mereka muncul kesadaran untuk saling mengisi kekurangan dan saling memberikan pengertian. Bentuk-bentuk adegan tersebut menjadi submitos tentang kesadaran laki-laki dan perempuan untuk kembali mewujudkan cita-cita ideal mereka.

Sebuah relasi partnership kembali muncul sebagai wacana ideologis yang hendak disampaikan kepada penonton. Selalu ada ruang untuk menyadari kesalahan dan memperbaikinya. Selalu ada kesejajaran dan kesetaraan yang saling melengkapi antara laki-laki dan perempuan dalam mewujudkan satu cita-cita kolektif. Tidak selamanya perempuan harus dirundung kesedihan atas permasalahan hidup. Tidak selamanya kesalahan laki-laki tidak bisa diperbaiki. Begitupula dengan konflik yang tidak harus ditakuti karena selalu ada kesempatan untuk memperbaikinya—tentu saja dengan membuka kesadaran hati dan pikiran laki-laki maupun perempuan yang terlibat di dalamnya. Konflik, dengan demikian, bisa menjadi medium untuk memberikan penyadaran-penyadaran kreatif demi mewujudkan komitmen yang disadari dan diyakini sejak awal. Ketika kesadaran-kesadaran tersebut bisa diwujudkan, maka tidak ada yang lebih indah daripada sukses mengunduh keberhasilan yang lama diharapkan.

The Bandits berhasil mengunduh keberhasilan tersebut. Menjelang pertunjukan, Damon mengusulkan nama band yang baru agar mereka mempunyai semangat baru pula, yakni D’Bijis, yang menurutnya akan menjadi the next generation dari The Bandits. Meskipun di ruang tunggu, mereka berbahagia, tetapi keadaannya menjadi gawat di atas panggung. Bocah kecil yang ditugasi memegang alat untuk memperkuat suara Damon (maaf, berupa penjepit yang harus dijepitkan di bagian depan celana Damon—mengenai alat kelaminnya—sehingga membuatnya kesakitan dan bisa menjerit) terlalu keras menjepitnya sehingga pertunjukan sempat terhenti. Untuk mengatasi keadaan dan menghindari amukan penonton, Asti memberanikan diri membawa gitar dan menyanyikan sebuah lagu. Para personel D’Bijis semakin bersemangat memainkan alat musiknya masing-masing. Produser rekaman juga hadir. Demikian pula dengan Mas Anang yang tersenyum puas.

Adegan di atas menggambarkan bagaimana Asti harus berinisiatif untuk menyanyi ketika Damon tidak bisa mengeluarkan suara melengkingnya karena alat penjepit macet. Dengan begitu percaya diri ia menyanyikan lagu yang dulu biasa dinyanyikan almarhum Bonnie. Keberanian tersebut menjadikan Bule, Damon, dan juga personel lainnya senang. Asti benar-benar menghayati lagu yang dinyanyikannya. Penampakan almarhum Bonnie yang tersenyum di tengah-tengah penonton merupakan menyimbolkan kebangkitan kembali The Bandits, meskipun berganti nama menjadi D’Bijis. Salah satu cita-cita Bonnie adalah membangkitkan kembali The Bandits. Kehadiran Asti menjadikan suasana pertunjukan menjadi semakin meriah dan penonton ikut larut dalam tembang yang dinyanyikannya. Setelah pertunjukan tersebut berhasil, mereka segera melakukan rekaman di studio musik. Bule kembali bahagia dengan Mas Anang. Gendro pulang dan istrinya yang tengah hamil menerimanya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Soljah menurunkan berat badannya dengan cara fitness. Sementara, Asti berbahagia bersama Damon. Bentuk-bentuk adegan tersebut semakin mempertegas submitos yang menghadirkan keberhasilan yang dibangun dengan kerjasama, di mana perempuan menjadi penggeraknya.

DBJ 2

Semua kebahagiaan di atas memang bukan keberhasilan Asti seorang diri sebagai tokoh perempuan penggerak dalam film ini. Keberhasilan dan kebahagiaan yang ada merupakan buah dari perjuangan bersama yang dilandasi idealisme untuk maju dan berkembang dalam sebuah grup musik. Semua bisa menjadi leader dalam sebuah kelompok, karena setiap personel memang harus pandai-pandai memimpin diri, pikiran, dan perasaannya agar bisa menghormati dan bekerjasama dengan personil lainnya. Namun demikian, tanpa kehadiran tokoh penggerak, seperti Asti, mungkin saja kesadaran tersebut tidak akan muncul dan band tidak akan hidup lagi sehingga idealisme para personilnya hanya akan berkutat pada kegundahan di hati dan pikiran masing-masing. Dengan demikian, saya melihat struktur dunia naratif film ini berusaha mewacanakan perempuan yang dengan segala kecerdasan pikiran dan kedewasaan hatinya bisa menjadi kekuatan yang luar biasa bagi keberhasilan, baik untuk dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya. Sekali lagi, perempuan memang bukan sekedar pelengkap jagat laki-laki, karena secara historis, masyarakat kita memang sudah terbiasa mengembangkan kerjasama harmonis antara laki-laki dan perempuan.

Beberapa Catatan Simpulan

Meskipun tidak membicarakan perempuan modern sebagai tema utama narasinya, NJD dan D’Bijis secara apik berhasil menghadirkan representasi perempuan yang mampu mengola kecerdasan nalar sekaligus bisa berprestasi dalam kehidupan, baik dalam bisnis maupun kesenian. Keberhasilan tersebut semakin lengkap ketika kecerdasan juga digunakan dalam memahami cinta secara dewasa. Lebih dari itu, kehadiran kedua tokoh perempuan tersebut juga mempunyai nilai lebih dalam hal menimbulkan dan menggerakkan orang-orang yang dicintainya atau orang-orang yang dekat dengannya untuk lebih berpikiran positif dalam menghadapi permasalahan hidup yang ada, sehingga mempermudah jalan untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Menjadi penggerak dalam kesetaraan

Kemampuan menggerakkan itulah yang menjadikan Monita dan Asti dalam kedua film tersebut pantas disebut sebagai “tokoh-tokoh penggerak”. Penyebaran wacana tersebut melalui film populer bisa memberikan pengetahuan bagi para penonton betapa menjadi perempuan modern tidak harus larut dalam tradisi kebebasan yang berlebihan. Perempuan Indonesia jelas mempunyai hak untuk menikmati pendidikan dan karir yang menjanjikan, tetapi selalu ada negosiasi-negosiasi, baik dalam hal mengambil nilai Barat maupun Timur demi kepentingan dirinya.

Rangkaian submitos dalam NJD

(1) Perempuan, kecerdasan, dan ketenangan dalam memberikan solusi-solusi kreatif; (2) Ambivalensi perempuan modern dalam memaknai cinta; dan, (3)  Keberanian dan kedewasaan perempuan dalam memahami cinta.

Mitos dalam NJD: Kecerdasan perempuan modern dan kedewasaan dalam memandang cinta.

Dengan rangkaian submitos dan juga mitos terkait ke-perempuan-an di atas, NJD, pada dasarnya, ingin memberikan beberapa wacana ideologis tentang perempuan modern dan persoalan cinta. Perempuan modern, semandiri apapun, tidak semua dari mereka mau melakukan tindakan-tindakan di luar norma kultural Timur, misalnya, merayakan seksualitas secara bebas seperti yang ada dalam film Hollywood. Sudah sepantasnya capaian-capaian karir yang dihasilkan dengan kecerdasan pikiran diimbangi dengan kedewasaan dan kejernihan dalam memandang cinta. Hubungan dengan laki-laki memang sudah menjadi wacana dan praktik konsensual dalam masyarakat, tetapi cinta tidak harus menjadi alasan untuk menyerahkan tubuh, karena cukup dengan “ciuman pipi”, cinta sudah terbahasakan dengan penuh impresi. Dalam memaknai cinta, perempuan modern memang tidak bisa terlalu pasif, tetapi juga tidak bisa pula terlalu mengumbarnya di ranah publik. Dengan demikian, perempuan modern dan cinta bisa menjadi kekuatan yang mampu berposisi sejajar, saling mendukung, dan saling melengkapi menuju kehidupan yang lebih harmonis. Menjadi modern, memang tidak harus meninggalkan sebagian kearifan masyarakat. Dalam kearifan tersebut bisa ditemukan kebajikan, sepertihalnya perempuan-perempuan desa yang bahu-membahu bersama suami untuk mengembangkan dan memberdayakan keluarga mereka.

Rangkaian submitos dalam D’Bijis

(1) Kemampuan perempuan untuk memunculkan kembali keyakinan dan motivasi dalam diri laki-laki/perempuan; (2) Kecerdasan dan ketenangan perempuan dalam meyakinkan rekan bisnis; (3) Inisiatif perempuan dalam menyelesaikan konflik; (4) Tangis perempuan di tengah-tengah cita-cita idealisnya dan juga kawan-kawan laki-lakinya; (5) Kesadaran laki-laki dan perempuan untuk kembali mewujudkan cita-cita ideal mereka; dan, (6) Keberhasilan yang dibangun dengan kerjasama, di mana perempuan menjadi penggeraknya.

Mitos dalam D’Bijis: Perempuan sebagai Tokoh Penggerak

Hampir sama dengan NJD, rangkaian submitos dan mitos yang menjadi pijakan narasi D’Bijis berhasil menghadirkan perempuan sebagai tokoh penggerak yang dengan segala perjuangan pikiran dan hatinya mampu membangkitkan kesadaran dan tindakan untuk berbuat lebih baik bagi laki-laki idealis yang sudah hampir putus asa. Perbedaannya, kalau dalam NJD masalah cinta direpresentasikan dalam narasi konfliktual, meskipun dengan sangat sederhana, dalam D’Bijis persoalan cinta antara Asti dan Damon hanya menjadi pelengkap kebahagiaan yang diraih karena kegigihan dalam meneruskan perjuangan musik.

Dengan mitos tentang “perempuan sebagai tokoh penggerak”, D’Bijis memang tidak dimaksudkan sebagai film yang menonjolkan superioritas perempuan terhadap laki-laki dan dunianya. Perempuan dalam film ini lebih direpresentasikan sebagai penggerak yang mampu menciptakan dan membangun kebersamaan dengan laki-laki idealis yang dikenalnya. Film ini memang bercerita tentang dunia laki-laki yang penuh dengan permasalahan dan seolah-olah subjek perempuan yang ada hanya berfungsi melengkapi keberhasilan mereka keluar dari permasalahan-permasalahan yang ada. Namun demikian, sekali lagi, tanpa seorang perempuan, mungkin kaum laki-laki ataupun laki-laki yang merasakan dirinya sebagai perempuan, tidak akan pernah bertemu. Di situlah fungsi penggerak yang mampu merubah habitus yang sudah dianggap sebagai doksa oleh para laki-laki, menjadi habitus baru yang memunculkan kesadaran kreatif. Perempuan yang semula disepelekan karena dianggap tidak tahu apa-apa tentang musik, bisa saja, karena kecerdasan pikiran dan kedewasaan hatinya, menjadi tokoh yang mampu memunculkan inspirasi bagi realisasi idealisme dan mimpi yang tertunda sekian lamanya.

Ketika kebahagiaan berhasil diwujudkan, sudah sepantasnya ia menikmati bersama orang-orang yang selama ini telah bersama-samanya berjuang. Pilihan untuk menerima cinta Damon, bukan menandakan ketidakberdayaannya dalam menghadapi kuasa laki-laki, tetapi, lebih didasarkan pada kesadaran untuk mewujudkan dan menikmati peran setara antara laki-laki dan perempuan dalam konteks keindonesiaan. Cerita cinta yang ada bukanlah menu utama, tetapi menjadi pelengkap yang semakin memperindah keberhasilan, kesetaraan, dan kebahagiaan yang diraih bersama-sama, bukan karena hegemoni salah satu pihak, tetapi karena kerja sama dan kesaling pengertian, sepertihalnya antara Bule dan Mas Anang, serta Gendro dan Istrinya. Memang, semua akan menjadi indah ketika ada kesadaran untuk selalu berlaku dan bersikap setara dalam kerja sama, demi masa depan yang lebih indah, seperti yang terjadi antara Monita dan Bonaga dalam NJD.

Di samping persamaan-persamaan dalam merepresentasikan kekuatan perempuan sebagai penggerak, kedua film ini juga memiliki perbedaan yang cukup signifikan. NJD menghindari setereotipisasi perempuan yang suka menangis ketika menghadapi permasalahan pelik, terutama cinta. Sementara, D’Bijis masih saja menghadirkan tangisan perempuan sebagai kultur yang tidak terelakkan ketika menghadapi permasalahan yang cukup rumit. Monita dalam NJD memang tidak harus menangis, karena masalah cinta yang ia hadapi mampu diredam dengan kemandirian dan kedewasaan pikiran sebagai ideologi yang ia yakini. Sementara, Asti memang tidak bisa menghindari tangisan karena ia tidak sedang menghadapi permasalahan cinta, tetapi permasalahan yang lebih rumit, yakni nasib grup band yang hampir bangkit lagi. Ada impian dan harapan bersama yang sudah terlanjur ia munculkan dan gerakkan sehingga menjadi kesadaran bersama bagi anggota band. Ketika idealitas itu harus hancur karena perselisihan yang tidak seharusnya terjadi, tentu sangat disesalkan. Inilah yang membuat ia menangis. Pada dasarnya, dalam kondisi seperti itu, tidak hanya perempuan yang akan menangis, laki-laki juga akan menangis. Namun demikian, tangisan itu tidak harus membuat Asti larut dalam duka mendalam karena masih—dan akan selalu—kesempatan untuk bangkit kembali ketika masing-masing pihak lebih mengedepankan ideologi kebersamaan dan tidak sekedar mengutamakan emosi.

Yang menggerakkan yang tidak terhegemoni

NJD dan D’Bijis menyuguhkan struktur dunia naratif dan konteks ke-perempuan-an yang berbeda dari film-film yang saya analisis sebelumnya. Meskipun sama-sama merepresentasikan perjuangan perempuan berbasis kecerdasan dan kekuatan hati perempuan, kedua film ini juga tidak sama dengan BTB, BS, MD, maupun MMM. Kedua film ini menawarkan wacana ideologis berbeda yang. Sebagai mitos yang menawarkan wacana-wacana alternatif dalam merepresentasikan perempuan, kedua film tersebut mempunyai nilai ideologis strategis dalam kehidupan perempuan maupun masyarakat. Perempuan tidak lagi menjadi subjek pasif dan subordinat yang hanya tunduk pada kehendak kuasa laki-laki dengan beragam perilaku dan norma-norma hegemoniknya dalam masyarakat, seperti yang banyak dikritisi para feminis Barat. Perempuan juga tidak harus berdahap-hadapan secara frontal dengan lelaki. Perempuan seharusnya mampu menjadi tokoh dalam kegiatan-kegiatan produktif yang mengatasnamakan kecerdasan akal dan profesionalitas, tetapi tetap tidak melupakan usaha untuk membangun relasi konsensual yang mengedepankan kesetaraan dan keharmonisan.

Di samping menekankan kekuatan perempuan di tengah-tengah jagat laki-laki, wacana-wacana ideologis yang dihadirkan dalam NJD dan D’Bijis bisa juga menjadi wacana tandingan bagi hegemoni feminis Barat yang selalu menekankan adanya ketimpangan dalam relasi perempuan dan laki-laki, terutama dalam konteks organisasional dan pekerjaan/karir. Acker (2006: 443-444) menjelaskan bahwa dalam setiap organisasi pasti terdapat rezim ketimpangan yang berkaitan dengan proses, praktik, tindakan, dan makna yang menghasilkan ketimpangan jender, kelas, dan rasial. Bahkan dalam organisasi egaliter selalu saja terdapat ketimpangan, terutama berkaitan dengan jender. Ketimpangan dalam organisasi merupakan pembedaan sistemik diantara partisipan, dalam kuasa dan kontrol tujuan, sumber, dan hasil; keputusan di tempat kerja, seperti cara mengorganisir kerja; kesempatan untuk promosi dan kerja-kerja yang menarik serta menguntungkan; keamanan dalam pekerjaan dan keuntungan; bayaran dan imbalan lain yang berkaitan dengan uang; penghargaan; kesenangan dalam kerja dan relasi kerja. Rezim ketimpangan cenderung cair dan mudah berubah. Rezim ini terkait dengan ketimpangan yang terjadi di masyarakat baik terkait sejarah, politik, maupun budayanya. Basis ketimpangan lebih banyak berkaitan dengan kelas, jender, dan ras. Jender sebagai konstruksi sosial yang menekankan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, juga bisa ditemui dalam kerja-kerja organisasional. Jender kebanyakan terintegrasi di dalam kelas dalam banyak organisasi. Kebanyakan manajer adalah laki-laki; sedangkan pekerja krah putih-rendahan kebanyakan perempuan. Relasi kelas di tempat kerja, seperti praktik supervisori atau proses penetapan-gaji, selalu saja ditetapkan berdasarkan sikap dan asumsi yang terjenderkan dan terseksualisasikan. Memang, tingkatan manajerial saat ini banyak terdiri dari para perempuan, namun sekretaris, juru ketik, maupun pelayan kebanyakan masih perempuan. Perempuan, memang, sudah banyak yang didistribusikan dalam struktur kelas organisasional dengan cara yang serupa dengan laki-laki. Jender dan kelas tampak tidak lagi terintegrasi secara sempurna, tetapi asumsi yang terjenderkan dan terseksualisasikan masih membentuk situasi kelas perempuan dan laki-laki dalam cara-cara yang berbeda.

Pandangan di atas menunjukkan adanya pola pikir yang selalu memandang laki-laki dan perempuan dalam oposisi biner. Laki-laki dalam ranah pekerjaan selalu menjadi kelas pemimpin yang secara hirarkis dan kapasitas berada di atas perempuan. Pola pikir tersebut, memang berasal dari kajian empirik pada masyarakat Barat industrial yang cenderung memposisikan perempuan subordinat dalam hegemoni patriarki. Apa yang harus dipahami adalah bahwa kecenderungan tersebut sebenarnya berasal dari tradisi besar patriarki dalam sejarah masyarakat Barat yang selalu menempatkan para perempuan di ruang-ruang domestik rumah tangga, sehingga ketika mereka bekerja selalu saja berkaitan dengan “peran pelengkap” untuk memenuhi keinginan dan kebijakan orgasisasional yang ditentukan dan dikendalikan oleh para pimpinan laki-laki.

Sementara, dalam konteks Indonesia ataupun negara-negara Asia lain yang sedang berkembang, terdapat partikularitas yang tidak bisa begitu saja disama ratakan dengan apa yang terjadi dalam masyarakat industrial Barat. Perempuan Indonesia modern adalah subjek yang menjadi titik-silang atau berada di ruang ketiga yang mempertemukan wacana ideologis dan tindakan partisipatif dan juga kecenderungan kultural yang berlaku dalam masyarakat Indonesia. Partisipasi dalam dunia kerja modern/industrial, jelas merupakan wacana dan praktik ideologis yang berasal dari Barat, dengan titik berat pada perempuan dari kelas menengah/atas kota. Namun demikian, persoalan kesamaan partisipatif dalam pekerjaan merupakan wacana dan praktik ideologis yang sudah hidup dan berkembang lama dalam kesadaran perempuan Indonesia—baik dalam ranah pekerjaan maupun dalam ranah keluarga dan masih berlangsung hingga saat ini, terutama bagi mereka yang berdomisili di desa, dengan memadukan “sistem partisipasi campuran perempuan dan laki-laki”.[ii] Dalam kehidupan masyarakat, sebagian besar perempuan cenderung menjadi pengendali dalam kehidupan rumah tangga dan sekaligus ikut membantu pekerjaan suami di luar rumah, terutama bertani. Kondisi itu tidak menunjukkan posisi subordinat perempuan, tetapi cenderung memperkuat nilai tawar dari perempuan karena dia bisa melakukan negosiasi-negosiasi mengenai permasalahan yang dihadapi.

Kondisi tersebut memang sudah banyak berubah saat ini, terutama karena pengaruh Revolusi Hijau yang diterapkan rezim Orde Baru dengan penekanan pada intensifikasi teknologi pertanian yang sedikit demi sedikit menggeser peran perempuan dalam pekerjaan tradisionalnya dalam produksi pertanian, dari masa tanam hingga panen.[iii] Meskipun demikian, dalam praktiknya masih bisa dijumpai partisipasi perempuan yang masih dominan dalam bidang pertanian, terutama dalam kerja-kerja strategis termasuk penentuan jumlah tenaga kerja, pembayaran, maupun penentuan harga panen, yang tetap bisa memperkuat posisi tawar mereka dalam ranah rumah tangga maupun publik.[iv] Perubahan tersebut semakin kentara ketika generasi muda perempuan desa mulai lebih banyak menginvestasikan waktu, tenaga, dan pikirannya ke dalam dunia pendidikan di mana mereka bisa mengakses pekerjaan-pekerjaan di luar pertanian, terutama yang ada di kota. Meskipun demikian, di desa-desa masih banyak perempuan yang menjalani pekerjaan sebagai petani ataupun buruh tani sembari mendidik anak-anak mereka agar bisa memperoleh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, minimal SMA. Generasi muda perempuan yang dilahirkan dan dibesarkan, meskipun mendapat pendidikan ala Barat, tetap tidak bisa melepaskan diri dari nilai-nilai emansipatoris perempuan tradisi yang diajarkan ibu-ibu mereka.

Dengan demikian, bisa dikatakan, bahwa meskipun di desa maupun di kota saat ini perempuan sudah banyak yang berpartisipasi dalam kerja profesional-industrial, tidak bisa dikatakan mereka telah sepenuhnya menjadi Barat. Lebih tepat kalau dikatakan bahwa perempuan Indonesia modern yang sadar akan kedirian, nilai kesetaraan warisan tradisi, dan pemikiran-pemikiran Barat, adalah “subjek di ruang antara” yang mampu memadukan antara yang Barat dan yang Timur dalam konteks kesejajaran dan kesetaraan yang lebih bisa menggerakkan penciptaan kerjasama dan capaian-capaian ideal dalam relasi yang harmonis, bukan karena karena subordinasi maupun keterpaksaan. Perempuan juga tidak harus membabi-buta memusuhi laki-laki, karena mereka sebenarnya bisa menciptakan relasi sosio-kultural yang lebih harmonis.

NJD dan D’Bijis secara apik dan inspiratif berhasil menyuguhkan wacana ideologis tentang perempuan Indonesia secara ideal. Di satu sisi, tidak melupakan peran kediriannya sebagai perempuan. Di sisi lain, mampu menjadi faktor penggerak bagi keberhasilan demi tujuan bersama. Memang benar, banyak kasus yang menunjukkan adanya perilaku kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan laki-laki, tetapi banyak juga perempuan yang berhasil membangun komunikasi dan kerjasama yang dilandasi kesetaraan. Kedua film tersebut secara ideologis berhasil mengartikulasikan keberhasilan perempuan dalam menghidupkan dan menggerakkan jagat laki-laki, demi kepentingan mereka bersama. Kondisi itu mungkin bisa saja memunculkan anggapan bahwa pemenang yang sebenarnya tetaplah laki-laki dan perempuan hanya dijadikan alat untuk kemenangan tersebut, tetapi kemenangan laki-laki itu tentu tidak akan terjadi ketika perempuan tidak bergerak. Berarti, siapa yang lebih berkuasa, laki-laki atau perempuan? Atau, jangan-jangan kita selama ini telah ditenggelamkan oleh asumsi-asumsi biner feminis Barat sehingga melupakan kecerdasan, kedewasaan, dan ketenangan perempuan Indonesia, dalam konteks-konteks partikularnya?

Kedua film tersebut memang tidak secara eksplisit mengartikulasikan pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi secara meyakinkan telah mampu menegoasiasikan pengetahuan emansipatoris dan partisipatoris “perempuan-perempuan penggerak” yang banyak kita jumpai dalam kehidupan masyarakat, baik di desa maupun di kota. Pemikiran-pemikiran emansipatoris dan partisipatoris tersebut itu tidak melulu menjadi konsumsi pemikir dan aktivis feminis Barat maupun pemikir dan aktivis feminis Indonesia berpola pikir Barat, tetapi berasal dari kesadaran untuk lebih memahami dan mengaksentuasikan kedalaman pikir dan hati perempuan-perempuan modern Indonesia yang tetap memandang kearifan tradisi sembari terus berpikir maju. Perempuan di negeri ini memang tidak harus larut dalam kuasa hegemonik pengetahuan tentang kebebasan mutlak, tetapi mereka juga tidak harus selalu mengikuti dogma-dogma jender tradisional yang terlalu mengekang orientasi kemajuan. Perempuan Indonesia tidak mungkin kembali ke dalam tradisionalisme feodal yang hanya menguntungkan sekelompok elit laki-laki, tetapi mereka juga tidak harus meniru praktik perempuan Barat yang sebagian besar membebaskan hasrat. Artinya, kemampuan untuk “berposisi di ruang antara” sembari terus bernegosiasi akan menentukan subjektivitas dan kekuatan perempuan dalam proses yang terus menjadi demi mewujudkan prinsip-prinsip ideal ke-perempuan-an.

* Tulisan ini merupakan bagian dari tesis S2 saya di Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM dengan judul Perempuan dalam Layar Bergerak: Representasi Perempuan dan Pertarungan Ideologis dalam Film Indonesia Era 2000-an (2008). Saya menggunakan teori semiotika mitos Barthesian, wacana Foucauldian, gender, dan hegemoni.

Catatan akhir

[i] Tentang pembahasan ini lihat subbab sebelumnya.

[ii] Dalam konteks perempuan dan pembangunan yang terjadi dalam masyarakat agrikultural, Boserup, sebagaimana dikutip Kusujiarti dan Tickamyer, mengidentifikasi 3 tipe ideal masyarakat terkait dengan pembagian kerja berdasarkan jender, yakni: (1) sistem perempuan; (2) sistem laki-laki; (3) sistem campuran perempuan dan laki-laki. Dalam kesemua sistem tersebut, menurut Boserup cenderung menegakkan kuasa laki-laki ketika mereka lebih banyak mendapat banyak akses terhadap teknologi dan pengetahuan/pelatihan. Meskipun demikian, dalam sistem campuran perempuan dan laki-laki yang lebih banyak ditemukan dalam produksi pertanian yang menggunakan irigasi dan teknik-teknik intensifikasi, perempuan dan laki-laki seringkali berbagi tugas yang sama yang menyebabkan kesamaan status dan kuasa secara relatif dalam hal produksi. Masyarakat Jawa di pedesaan, merupakan contoh yang paling menarik dari sistem tersebut, dimana perempuan memperoleh peran dan status yang cukup signifikan dalam proses produksi pertanian. Lihat Kusujiarti & Tickamyer, 2000: 415-416.

[iii] Hal tersebut terutama dipengaruhi oleh penggunaan alat-alat modern yang bisa menghemat tenaga kerja perempuan. Misalnya ani-ani yang digantikan dengan sabit maupun penggunaan huller untuk menggantikan aktivitas menumbuk padi untuk dijadikan beras yang biasa dikerjakan perempuan. Cara memanen kemudian menghadirkan sistem tebasan dan kedokan dimana lebih banyak menggunakan tenaga laki-laki. Akibat dari perubahan tersebut adalah ketidakberdayaan secara ekonomis kaum perempuan di desa, terutama bagi mereka yang tidak mempunyai atau yang hanya sedikit mempunyai lahan garapan. Lihat Hüsken & White, 1989: 254.

[iv] Lihat, Kusujiarti & Tickamyer, 2000: 420.

Share This:

About Ikwan Setiawan 148 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*