BERBAGI SUAMI: Politik tubuh perempuan dan ketidakberdayaan lelaki dalam poligami (3)

IKWAN SETIAWAN

 

Berbeda dengan kedua fragmen sebelumnya, Fragmen III memaknai-ulang poligami sebagai pilihan seorang perempuan muda yang memiliki motif ekonomi dan kesadaran akan potensi tubuhnya. Poligami bukan hanya menjadi bentuk praktik kuasa hasrat seksual laki-laki atas perempuan yang banyak dianggap merendahkan derajat kaum perempuan. Sebaliknya, perempuan juga mempunyai kuasa untuk menggunakan tubuh dan potensi seksualnya untuk memancing dan memperdayai laki-laki demi kepentingan ekonomi, meskipun harus rela berbagi suami dengan istri sebelumnya. Dengan kuasa atas tubuhnya, seorang perempuan, dalam kondisi tertentu, akan leluasa meninggalkan si lelaki demi menemukan kebahagiaan dan kesejahteraan yang lain—tentu saja dengan laki-laki lain yang lebih mampu memberikan kehidupan yang lebih baik.

Ketika Ming memanfaatkan tubuhnya

Ming, seorang perempuan muda Cina, yang bekerja sebagai pelayan di restoran bebek panggang milik Koh Abun, menjadi ‘kembang’ dengan tubuh sensual sehingga membuat para pelanggan—terutama laki-laki—selalu setia datang. Mereka tidak hanya datang untuk menikmati kelezatan bebek panggang, tetapi juga berlama-lama memandang keindahan visual dari tubuhnya. Kemolekan tubuh Ming menjadi daya tarik khusus sehingga membuat restoran Koh Abun semakin ramai sejak kehadirannya. Keindahan tubuh Ming juga menarik perhatian Koh Abun yang diam-diam sudah memendam hasrat kelelakiannya sejak lama, meskipun ia harus sembunyi-sembunyi karena Cik Linda, istrinya yang sudah memberikannya dua anak gadis, memang terkenal galak.

BrS5

Dalam konteks tersebut, representesi tubuh seksi Ming menghadirkan kembali kecenderungan konsensual dalam masyarakat tentang perempuan dengan pakaian dan tubuh seksi yang banyak menjadi objek pandangan obsesif dari pihak laki-laki, baik di lingkungan kerja formal dan informal serta di dalam jagat fiksional dan media.[i] Potensi seksualitas tubuh perempuan modern menghadirkan bukan hanya hegemoni wacana tentang keindahan, lekuk sensual, pakaian seksi, maupun senyum manis, tetapi juga praktik pandangan skopopolik yang memanjakan hasrat birahi tiap laki-laki sebagai makhluk yang mempunyai kuasa untuk menikmatinya. Sensualitas perempuan juga menjadi pendukung bagi berlangsungnya praktik-praktik ekonomi modern yang tidak hanya bertumpuh pada logika hukum dan motivasi finansial, tetapi mensyaratkan adanya kehadiran perempuan-perempuan seksi demi kesuksesan dalam setiap penawaran maupun transaksi. Wajar kiranya ketika banyak perempuan cantik dan seksi, baik yang berprofesi sebagai sekretaris maupun staf personal, mendampingi para direktur laki-laki dalam melakukan perjanjian bisnis maupun jamuan makan siang dengan koleganya. Perempuan modern, dengan demikian, bisa saja menjadi ‘tubuh pemanis’ yang memiliki andil dalam keberlangsungan lalu-lintas ekonomi, meskipun pada kesempatan bersamaan, keliaran pandangan laki-laki dan naluri untuk menguasainya seringkali tidak terhindarkan.

Dalam fragmen ini, Ming menyadari sepenuhnya bahwa tubuh seksinya sangat mungkin mengundang pandangan skopolik dari kaum laki-laki yang ada di sekitarnya. Profesinya sebagai pelayan dalam sebuah restoran memang mensyaratkan strategi-strategi untuk menjadikan para pelanggan betah dan akan kembali lagi pada kesempatan yang lain; termasuk strategi tubuh. Dengan begitu santai dia membiarkan para pelanggan laki-laki menikmati setiap lekuk tubuhnya. Dalam sebuah kesempatan, ketika melayani pesanan para pelanggan,  Ming mengenakan tank top seksi berwarna merah. Selembar perlak ia sampirkan di pundak kirinya. Ia membawa nota pesanan. Sambil tersenyum ia hendak menghampiri para pelanggan lelaki setianya. Di belakangnya, tampak pelanggan lain yang tengah menikmati bebek goreng sambil bercengkrama. Ming menghampiri sekelompok pelanggan lelakinya. Ia tersenyum menanyakan pesanan mereka. Salah satu lelaki muda memesan. Ming menyandarkan lengan kanannya di pundak kiri salah satu lelaki yang mengenakan kaos kuning. Lelaki itu menatap dengan melotot ke arah buah dada Ming.

Adegan di atas mendeskripsikan dengan begitu apik bagaimana Ming berusaha untuk tidak menolak ataupun risih dengan pandangan para pelanggan prianya. Adegan tersebut menandakan kesadaran akan hak para pelanggan pria menikmati keindahan tubuhnya. Ia adalah seorang pelayan yang tidak hanya harus memuaskan selera makan para pelanggannya, tetapi juga selera pandangan birahi mereka. Ketika mereka terpuaskan secara emosinal, maka keuntungan finansial akan berlimpah bagi Koh Abun dan Cik Linda, yang tentu juga akan membawa berkah bagi Ming karena ia akan tetap bisa bekerja. Tubuh Ming, dengan demikian, menjadi properti yang bisa dipergunakan kedua juragannya untuk mengeruk keuntungan dalam berbisnis.

Dari perspektif mitos, apa yang dilakukan Ming dalam adegan di atas bisa menjadi submitos yang menghadirkan tubuh perempuan sebagai objek pandangan skopopolik laki-laki, sehingga menegaskan kuasa hasrat patriarki atas tubuh perempuan. Namun demikian, apabila dicermati, terutama pada bagaimana cara memandang subjek laki-laki—pelanggan berkaos kuning—submitos tersebut bisa sekedar menjadi penanda bagi submitos kedua yang memberikan wacana tandingan. Memang benar Ming membiarkan tubuhnya untuk dikuasai pandangan skopopolik laki-laki. Ia hanya seorang pelayan yang harus memberi kepuasan sepenuhnya kepada para pelanggannya melalui tampilan seksi dan senyum manis. Bukankah di balik keliaran pandangan, si pelanggan terperangah dan tidak berdaya, ketika Ming berada di dekatnya dan menyandarkan lengan di pundaknya? Ketika menanyakan pesanan makananannya, dengan jujur dan sedikit menggoda pelanggan berkaos kuning berkata: “Tambah cantik aja, Ming. Gua jadi nggak laper. Ngelihat Loe aja Gua udah kenyang”. Ungkapan berbeda diutarakan pelanggan yang bertopi: “Kalau Gua sih nambah terus pesennya, apalagi kalau ada Loe Ming”. Cara memandang dan ungkapan pelanggan berkaus kuning dan bertopi menandakan betapa laki-laki sesungguhnya makhluk yang mudah sekali terpancing menghadapi tampilan-tampilan fisik perempuan yang begitu menggoda. Mereka seringkali kehilangan nalar sehat ketika pikiran sudah dipenuhi hasrat seksual sehingga menjadikan mereka makhluk yang tidak berdaya. Melalui bentuk filmis tersebut, adegan ini mewujud sebagai submitos yang menghadirkan kembali kuasa pandangan laki-laki terhadap tubuh perempuan, yang sekaligus menghadirkan submitos kedua ketidakberdayaan nalar laki-laki, terutama ketika mereka berhadapan perempuan seksi yang sedikit menggoda.

Adegan tersebut, dengan demikian, menggunakan kuasa pandangan laki-laki untuk menyerang balik dengan memperlihatkan mereka sebagai makhluk dungu yang begitu mudah takluk oleh tampilan tubuh seksi perempuan. Mereka boleh saja berkoar sebagai subjek superior yang mengagungkan capaian rasionalitas, tetapi, pada dasarnya, mereka hanyalah subjek yang begitu mudah kehilangan kontrol atas rasionalitas ketika di hadapan mereka berdiri seorang perempuan yang berhasil memancing insting dan hasrat seksual. Wacana ideologis konsensual yang menandakan kuasa mereka atas tubuh perempuan yang ditransformasikan dalam praktik sosio-kultural, nyatanya, tampak tidak berarti ketika perempuan dengan sadar memaknai-ulang tubuh yang telah ditundukkan sebagai kekuatan untuk menunjukkan ketidakmampuan dan ketertundukan laki-laki dalam mengendalikan ‘makhluk ciptaannya’ itu. Resistensi yang berlangsung bukan lagi berupa penolakan ataupun perlawanan frontal,[ii] tetapi lebih pada kesadaran posfeminis untuk membiarkan laki-laki memandang tubuhnya. Proses pandangan tersebut menunjukkan betapa laki-laki bisa berubah menjadi subjek inferior demi mendapati objek yang dinikmati secara visual mampu memberikan respon balik; menggoda tetapi tetap dibarengi dengan rasionalitas atas tubuhnya sendiri. Ini adalah sebuah penaklukan perempuan terhadap laki-laki.

BrS12

Kesadaran akan tubuh itu pulalah yang menjadikan Ming dalam sebuah adegan membiarkan Koh Abun leluasa mencium dan meraba bagian-bagian sensitif tubuhnya, leher dan paha. Ia tidak melarang apa-apa yang dilakukan Koh Abun, tetapi ia juga tidak menikmati sentuhan-sentuhan lembut yang menghampiri tubuhnya. Dengan santai ia tetap bekonsentrasi—menatap cermin—untuk merapikan rambut ketika Koh Abun mencium leher jenjangnya. Ia juga tidak terganggu dan tetap mengenakan lipstik ketika Koh Abun mulai berani menyentuh pahanya. Ketenangan Ming merupakan bentuk kuasa Ming atas tubuhnya. Baginya, tubuh adalah bodyscape,[iii] di mana setiap orang yang dekat dengannya—dari pelanggan restoran hingga Koh Abun—berhak memberikan pemaknanaan sesuai dengan rasionalitas dan hasrat yang berkecamuk. Ming tidak terpengaruh oleh ilusi romantisme yang diciptakan Koh Abun. Ia tetap membiarkannya sibuk dengan aktivitasnya sendiri tanpa memberikan respons.

Penggambaran di atas bisa saja memunculkan wacana bahwa Ming adalah ‘perempuan gampangan’ yang begitu mudah membiarkan tubuhnya dihampiri oleh kuasa hasrat seksual laki-laki; sebuah submitos tentang kuasa laki-laki atas tubuh perempuan. Tubuh perempuan adalah situs pertarungan di mana perempuan seolah kehilangan kuasa akan otoritas ke-tubuh-annya karena kehadiran laki-laki. Koh Abun seolah-olah dibiarkan berkuasa penuh atas kenikmatan untuk menjelajah tubuh Ming, tetapi semua itu menjadi sekedar penanda bagi lahirnya submitos kedua yang menghadirkan ketidakberdayaan laki-laki di balik segala wacana dan praktik kuasanya. Ming tetaplah pemenang dari pertarungan yang ada karena ia tetap tidak memberikan respons atas permainan romantis yang diciptakan Koh Abun. Sementara, Koh Abun tetaplah laki-laki yang begitu mudah menjadi tidak berdaya menghadapi segala potensi seksual yang ada pada tubuh Ming. Tindakan Ming juga menjadi penanda yang menghadirkan penolakan terhadap wacana ideologis konsensual bahwa perempuan akan mudah luluh ketika mendapatkan sentuhan-sentuhan di bagian sensitif tubuhnya oleh laki-laki sebagai fase awal lahirnya hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan (Synnott, 2003: 303).

BrS10

Tubuh merupakan bagian integral seorang perempuan di mana ia bebas untuk mengenali, menikmati, mengolah, dan menggunakannya demi strategi dan kepentingan hidupnya. Ming menggunakan tubuhnya untuk melanjutkan kehidupan di Jakarta yang membutuhkan biaya tinggi serta untuk mewujudkan impian-impian idealnya tentang sebuah masa depan yang lebih baik. Pekerjaan sebagai pelayan restoran jelas tidak mampu memberikan keleluasaan finansial bagi masa depannya. Pada titik inilah ia menyadari berkah keindahan tubuhnya yang mampu membuat seorang laki-laki melakukan apa saja demi mendapatkannya.

Koh Abun berkunjung ke kamar kos Ming. Ming membuka pintu, lalu kembali rebahan di ranjang. Sementara Koh Abun tetap duduk di lantai.

 Koh Abun : (CU mereka berdua. Koh Abun memberikan boneka yang ada cincin perkawinan). Ming, Kamu mau nggak kawin?
Ming : (CU mereka berdua, Ming berkata dengan manja sembari memainkan cincin itu). Ming belum kepingin kawin Koh.
Koh Abun : (CU mereka berdua) Koh Abun sudah kepingin banget, kepingin banget. Saya nggak tahan ngelihat kamu dikelilingi sama laki-laki. (Memegang tangan Ming yang masih tiduran) Pokoknya Ming cuma punya Koh Abun aja.
Ming : (CU melepaskan tangan Koh Abun) Enaknya ngomong, Cik Linda gimana?
Koh Abun : (CU) Kalau Cik Linda mah gampang. Nanti saya yang ngomong pelan-pelan. Kita kawin dulu diem-diem. (CU Ming) Saya sudah cinta banget sama kamu Ming.
Ming : (CU) Emangnya kalau cinta meski dikawinin. Bukannya selama masih bisa beli sate kambing, ngapain melihara kambingnya. Gitu. (CU Koh Abun)
Koh Abun : (CU) Itu kan dulu, kalau sekarang nggak perlu lagi makan sate kambing. Buat apaan, sumpah! (Mengangkat dua jarinya).
Ming : (CU manja). Terus Ming dapat apa. (CU Koh Abun) Pastinya kan Koh tidak bisa tinggal terus-terusan di sini. (CU Ming) Apa bedanya sama sekarang? (CU Koh Abun mencium lengan Ming)
Koh Abun   (CU melepas ciuman di lengan) Ming, Ming kan tahu kalau Cik Linda itu hokinya saya. (CU Ming) Jadi nggak mungkin, nggak mungkin deh cerai. (CU Koh Abun) Lagipula kita ini kan orang Katolik, susah punyalah kalau mau cerai, susah punya lah. (CU Ming) Kita ini hubungannya sudah seperti saudara. (CU Koh Abun terus merayu) Gini deh, pokoknya kalau Ming mau kawin sama Koh Abun, Ming minta apa aja, apa aja boleh.
Ming : (CU Ming senang dan bangkit dari tidur, duduk) Bener? Kalau gitu Ming mau punya apartemen sama mobil.
Koh Aubn : (CU mereka berdua, Koh tetap duduk di lantai, Ming duduk di ranjang) Gampang dah, boleh. (Koh Abun duduk di ranjang) Tapi, (menunjuk cincin yang ada di pegang Ming) pake dulu dong. (Ming mengenakannya dengan senang, Koh Abun mencium pundaknya)

Dialog di atas mengungkapkan secara jelas bagaimana negosiasi antara Koh Abun dan Ming dalam hal pernikahan. Koh Abun berusaha sekuat tenaga agar Ming mau dinikahi. Sementara Ming, awalnya menanggapi lamaran itu dengan sedikit keraguan dan berani mengatakan bahwa “kalau cinta itu tidak harus menikah”. Ia juga berusaha mengungkapkan kemungkinan munculnya masalah dengan Cik Linda ketika mereka jadi menikah, tetapi Koh Abun tetap berusaha meyakinkan Ming bahwa ia bisa mengatasi persoalan tersebut. Ming tetap bertahan dengan argumen bahwa ia tidak akan mendapatkan apa-apa ketika Koh Abun tetap jalan dengan Cik Linda. Posisi duduk Ming yang “tetap di atas ranjang” menandakan kekuatannya dalam proses negosiasi tersebut. Koh Abun mengungkapkan fakta bahwa sebagai penganut Katolik ia tidak bisa menceraikan Cik Linda. Sebagai gantinya ia mau menuruti segala keinginan Ming. Ming dengan senang hati mengungkapkan keinginannya untuk tinggal di apartemen dan mempuyai mobil mewah. Karena Koh Abun menyanggupinya, Ming segera mengenakan cincin perkawinan. Apartemen dan mobil sebagai tuntutan Ming adalah sebuah penanda bagi kemakmuran bagi mereka yang ingin menyesuaikan diri dengan trend kemajuan gaya hidup di tengah-tengah kehidupan kompetitif Jakarta.

Tindakan Ming di atas, sekilas, berusaha merepresentasikan perempuan “mata duitan” yang banyak menjadi pembicaraan di masyarakat. Seorang perempuan yang dengan tubuhnya berusaha memperoleh kepuasan material, berupa harta dari laki-laki yang mencintainya, meskipun ia hanya akan menjadi istri simpanan dari seorang lelaki yang lebih tua secara usia dan lebih pantas menjadi figur bapaknya. Fakta di masyarakat memang menunjukkan bahwa banyak laki-laki berduit, baik dari kalangan pejabat, politisi, maupun pengusaha, yang demi memenuhi hasrat seksualnya, menikahi perempuan-perempuan muda dengan memberikan fasilitas yang berlimpah. Beberapa selebritas perempuan rela menjadi istri kedua, ketiga, maupun keempat dari para pengusaha kaya yang bisa mewujudkan impian mereka untuk memenuhi standard hidup yang semakin tinggi.

BrS9

Sebagai bentuk filmis, dialog di atas bisa menunjukkan kontestasi yang dilakukan Koh Abun, di satu pihak, dan Ming, di pihak lain. Koh Abun adalah laki-laki yang dengan segala kekayaannya berusaha dan, akhirnya, mampu memiliki tubuh Ming untuk kemudian menguasainya dari incaran laki-laki lain yang. Sementara, Ming dengan tubuhnya berusaha menegosiasikan keinginan idealnya sebagai perempuan yang tentu ingin menikmati fasilitas material yang berlimpah. Karena sudah dikuasai hasrat yang menggebu, Koh Abun tidak bisa berkata lain kecuali menuruti semua permintaan Ming. Koh Abun memang bisa memiliki tubuh Ming, sebaliknya, Ming juga bisa mendapatkan kesejahteraan yang berasal dari keindahan tubuhnya. Titik tekannya adalah Koh Abun merupakan kelas kuasa yang bisa membeli tubuh perempuan, tetapi, di sisi lain, ia adalah laki-laki yang tidak berdaya menghadapi perempuan dengan tubuh seksi. Dengan demikian, submitos tentang kuasa laki-laki dan perempuan mata duitan digunakan sebagai penggambaran filmis yang melahirkan submitos kedua tentang kuasa tubuh perempuan dan ketidakberdayaan laki-laki.

Realitas penguasaan laki-laki terhadap tubuh perempuan mendapatkan resistensi ketika perempuan menyerang balik dengan menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan keinginan-keinginan idealnya. Tentu saja, hal itu bukanlah satu-satunya cara yang bisa dilakukan perempuan, karena dalam praktiknya banyak perempuan-perempuan mandiri yang memperoleh kemakmuran hidup dengan menjadi profesional muda dalam dunia bisnis di Jakarta. Meskipun demikian, dalam konteks tubuh Ming, perempuan bisa memaknai dan menggunakan keindahan tubuhnya untuk menunjukkan kuasa diri dengan memberikan rasionalitas keuntungan ekonomi demi melihat ketidakberdayaan laki-laki. Ming telah melakukan pembalikan makna “politik tubuh dalam tradisi patriarki” secara sadar untuk menggunakan segala potensi seksualitas tubuh sebagai hak prerogatif demi mewujudkan capaian-capaian ekonomi secara maksimal.[iv] Bagi saya, Ming merepresentasikan wacana ke-tubuh-an posfeminis, di mana seorang perempuan berhak memaknai dan menggunakan tubuhnya untuk mendukung capaian-capaian ideal dalam kehidupannya.

BrS13

Ming bisa memperoleh apartemen mewah di tengah-tengah Jakarta, tempat ia mengisi hari-hari bersama Koh Abun tanpa sepengatuhan sang istri, serta mobil mewah yang menjadi penanda bagi peningkatan kelas sosialnya. Di tengah-tengah perubahan hidupnya itu, ia tidak hanya diam ketika mengetahui peluang yang lebih bagus bagi masa depannya. Ketika Firman, mantan pacarnya, memberikan tawaran bagi Ming untuk menjadi pemeran utama dalam film garapannya, ia menyambutnya dengan hati gembira. Ia menyusun strategi untuk bisa mengejar impiannya menjadi bintang film. Mula-mula, ia mengelabui Koh Abun dengan mengatakan sakit perut, demi bisa bertemu dengan Firman di apartemen guna membahas film dan masa depannya. Dalam adegan pertemuan itu ia sempat membiarkan Firman menciumnya, meskipun tidak sampai berlanjut pada hubungan seksual karena Firman segera menyadari kekeliruannya. Pada kesempatan lain, ia berhasil merayu Koh Abun untuk memberinya izin guna mengikuti kursus akting.

Ming memang sudah mulai terbiasa dengan perlakuan romantis serta perasaan nyaman dan aman yang diberikan Koh Abun, tetapi ia sadar masih mempunyai impian yang harus diwujudkan. Koh Abun boleh saja memiliki tubuhnya ketika berada dalam kamar apartemen, tetapi di luar masih ada peluang-peluang yang lebih bagus bagi masa depannya. Ming secara sadar memainkan politik “ruang dalam” dan “ruang luar” untuk keperluan idealnya. Menjadi bintang film tentu akan lebih memberikan jaminan dan kepuasan bagi kehidupannya kelak, dibanding sekedar menjadi istri simpanan yang harus selalu berada dalam kamar apartemen. Realitas filmis tersebut pada dasarnya berusaha menyuguhkan submitos kedua tentang kuasa laki-laki dan kecerdasan perempuan, terutama dalam hal melihat peluang yang lebih baik.

Apa yang sedikit ‘mengganggu’ dari keberhasilan naratif film ini dalam mengartikulasikan politik tubuh perempuan adalah kenyataan bahwa Ming tidak berdaya ketika Cik Linda dan kedua anaknya mengetahui hubungan mereka berdua. Ming sampai pingsan ketika mereka bertiga mendatangi apartemen dan memarahinya.[v] Peristiwa tersebut menandakan sebuah ketidakberdayaan perempuan yang dipoligami secara diam-diam dalam menghadapi kemarahan keluarga sang suami. Sekuat dan sebebas apapun prinsip hidup yang diyakini Ming, ternyata ia tetap harus kalah dengan realitas yang menyakitkan. Ia juga tidak mempunyai kuasa atas apartemen dan mobil yang dibelikan Koh Abun. Kedua simbol kesejahteraan dan keberhasilan politik tubuhnya dijual oleh Cik Linda karena memang hak kepemilikannya atas nama Koh Abun. Peristiwa tersebut menunjukkan ketidakberartian politik tubuh yang ia jalankan demi mencapai kehidupan yang lebih baik dengan dinikahi oleh Koh Abun, meskipun Koh Abun tetap memberikan segepok uang kepada Ming sebelum ia dan keluarganya pindah ke Amerika.

Ketidakberdayaan Ming juga menjadi kompleksitas artikulasi dari kisah Ming dalam film ini. Di satu sisi ia, dengan politik tubuhnya, berhasil menunjukkan ketidakberdayaan laki-laki dan memperoleh kesejahteraan. Di sisi lain, ia tidak mampu memperkuat nilai tawarnya sebagai istri simpanan ketika semua harta bendanya masih menjadi milik sah keluarga Koh Abun. Submitos ketidakberdayaan perempuan—istri simpanan—dibiarkan mengalir menjadi penanda bagi submitos kedua susahnya menjadi istri simpanan. Dijualnya apartemen dan mobil mewah pemberian Koh Abun, menyebabkan Ming lebih memilih menyewa rumah kontrakan sederhana dan menikmati kembali kebebasan hidupnya. Ia mungkin akan “menuliskan naras-narasi baru”. Pengalaman pahit menjadi istri simpanan itulah yang memberikan inspirasi baru baginya di masa mendatang untuk, lagi-lagi, mempraktikkan politik tubuh kepada laki-laki lain yang lebih kaya dan mapan, tetapi tidak untuk dikawini—yang berarti juga tidak mau dipoligami.

Kompleksitas artikulasi perempuan dalam fragmen ini menimbulkan ambivalensi naratif dalam konteks pertarungan ideologis. Di satu sisi, fragmen ini berhasil menunjukkan kekuatan dan kemampuan negosiasi perempuan muda yang cantik dan seksi untuk mempraktikkan politik ekonomi tubuh demi mencapai semua impiannya. Di sisi lain, fragmen ini kembali merepresentasikan stereotipisasi perempuan yang sudah sewajarnya menggunakan tubuh sehingga pesan ideologis yang ditawarkan cenderung menggiring pada pemahaman konsensual; bahwa di kota-kota besar banyak perempuan muda yang menggunakan tubuhnya—dan bukan kecerdasan dan kreativitas pikiran—untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan makmur.

Di samping itu, kuasa Koh Abun untuk menyentuh dan ‘menjelajahi’ tubuh Ming juga memunculkan wacana ideologis tentang superioritas laki-laki kaya yang dengan kekayaannya bisa dengan bebas menikmati tubuh perempuan muda serta menjalani petualangan-petualangan seksual yang fantastis. Pada akhir fragmen, Ming memang memutuskan tidak mau menjadi istri simpanan, tetapi ia juga tidak menolak untuk berkencan dengan laki-laki yang lebih kaya demi membuat hidupnya bahagia dan berlimpah materi. Prinsip hidup Ming tersebut mewacanakan pilihan ideologis seorang perempuan dengan menggunakan tubuh serta mempersilahkan laki-laki menikmatinya, asalkan mampu memberi kesejahteraan. Alih-alih membuat artikulasi naratif tentang kerelaan dan kuasa perempuan dalam poligami dengan motivasi ekonominya, fragmen ini cenderung membuat representasi stereotip perempuan yang hanya bisa menggunakan tubuhnya. Memang, politik tubuh perempuan dalam perspektif posfeminisme menghasilkan beragam idealitas baru, meskipun masih saja menyisakan kisah-kisah yang bersifat kontradiktif dengan idealitas itu. Sineas film ini, rupanya, lebih memilih untuk mengabaikan kontradiksi tersebut, dan melawan tradisi poligami dengan menggunakan tubuh perempuan yang merdeka dalam pemaknaan ekonomis-politis sebagai bentuk kontestasi.

Melawan poligami dalam budaya populer

Struktur dunia naratif BS memberikan wacana ideologis tandingan tentang pemaknaan-ulang poligami yang bisa melahirkan beragam peristiwa, pengalaman, dan resistensi, tetapi tetap mengedepankan ke-perempuan-an. Peristiwa dan pengalaman para perempuan di dalam struktur dunia naratif film yang hadir melalui rangkaian submitos dan, pada titik tertentu, submitos kedua, merupakan senjata bagi mereka untuk melakukan resistensi dalam konteksnya masing-masing. Mengikuti perspektif Barthesian, keseluruhan cerita film ini mampu menyuguhkan mitos ke-poligami-an dan mitos kedua ke-perempuan-an yang melawan poligami, meskipun di dalamnya tetap banyak memunculkan stereotipisasi perempuan yang berada dalam formasi diskursif kuasa patriarki.

Rangkaian Submitos dalam BS

Fragmen I: (1) Kekecewaan istri pertama yang dipoligami (submitos I) dan kemampuannya untuk melakukan negosiasi kepada suami (submitos II); (2) Kuasa laki-laki, khususnya dalam poligami berbasis dalil agamanya; (3) Poligami dan kesabaran serta bhakti istri pertama; dan, (4) Poligami, kesabaran istri pertama, dan kemenangan-kemenangannya.

Fragmen II: (1) Poligami dan keikhlasan istri-istri yang lebih tua untuk menerima istri yang lebih muda; (2) Kuasa seksualitas suami (submitos I) dan ketidakpuasan seksual para istri menghadapi perilaku seksual suami (submitos II); dan, (3) Lesbian sebagai praktik yang baik dan mampu memberikan kehidupan yang lebih manusiawi.

Fragmen III: (1) Kuasa pandangan laki-laki atas tubuh perempuan (submitos I) dan ketidakberdayaan laki-laki (submitos II); (2) Kuasa laki-laki atas tubuh perempuan (submitos I) dan ketidakberdayaan laki-laki (submitos II); (3) Kuasa laki-laki dan perempuan mata duitan (submitos I) serta kuasa tubuh perempuan dan ketidakberdayaan laki-laki; dan (4) Poligami dan susahnya jadi istri simpanan

Mitos dalam BS: Ke-poligami-an (mitos I) dan ke-perempuan-an yang melawan poligami (mitos II)

Pilihan untuk menarasikan-kembali poligami ke dalam genre komedi menunjukkan kesadaran kreatif dalam ranah budaya populer yang dimiliki sineas film ini. Di sinilah letak kontekstualisasi perspektif cultural studies yang memahami budaya populer sebagai “situs pertarungan” yang memungkinkan terjadinya kontestasi bermacam kepentingan ideologis dalam masyarakat. Dalam film ini konteks pertarungan tersebut tidak ditampilkan sebagai praktik konfrontasi yang cenderung beroposisi binner—“yang kuat/menang dan yang kalah” serta “yang berkuasa dan yang dikuasai”—dan bisa saja berakibat pada narasi filmis yang kaku. Pertarungan yang terjadi adalah bagaimana pihak “yang dikalahkan” terlebih dahulu masuk ke dalam kuasa pihak “yang dimenangkan” untuk menunjukkan secara wajar kelemahan-kelemahan yang berujung pada kekalahan pihak yang dimenangkan dalam tradisi besar masyarakat. Ketika ke-poligami-an sudah menjadi pengetahuan, meskipun dalam praktiknya sendiri belum menjadi sesuatu yang umum karena tidak semua laki-laki di Indonesia melakukannya, untuk mengkritisi dan melakukan resistensi tidak harus dengan alur cerita yang berat, mencercah, ataupun secara frontal melarang poligami. Poligami adalah sebuah wacana dan praktik yang untuk melawannya bisa menggunakan pengalaman-pengalaman yang sangat mungkin dialami para istri yang terlibat di dalamnya. Penarasian-kembali atas apa-apa yang sangat mungkin terjadi dalam poligami bisa menjadi kekuatan resisten untuk mengganggu kemapanan formasi diskursif dan kuasa laki-laki dalam poligami, sehingga diharapkan penonton akan mudah memahami dan mendapatkan pandangan alternatif secara wajar dan natural, tanpa bermaksud menggurui atau menjustifikasinya sebagai tindakan yang salah atau benar.

Di samping itu, kesadaran kreatif lain yang muncul dalam film ini adalah bagaimana menyuguhkan beragam pengalaman dan praktik resistensi para perempuan yang dipoligami. Ketiga fragmen yang dialami Salma, Siti, dan Ming menandakan adanya perspektif beragam dalam memaknai kembali poligami dengan menggunakan kesadaran dari masing-masing perempuan tersebut sebagai kekuatan otonom bagi diri mereka. Apa yang dijalani Salma, Siti, dan Ming adalah pilihan eksistensial sebagai seorang perempuan ketika harus menghadapi praktik sosio-kultural yang sudah menjadi habitus bagi kehidupannya demi mewujudkan kepentingan-kepentingan yang lebih besar di masa mendatang. Bagi Salma, poligami mungkin bisa diterima karena ia menghadapi kenyataan bahwa anaknya membutuhkan kasih sayang seorang bapak, namun tidak demikian halnya dengan Siti maupun Ming. Siti memutuskan untuk menjalani kehidupan rumah tangga lesbian karena ia melihat potensi yang lebih besar bagi kepuasaan seksualnya serta masa depan kedua anak yang dibawanya kabur dari rumah. Sementara, Ming rela dipoligami ketika dengan sadar ia mempunyai motivasi ekonomi, meskipun akhirnya ia harus melawan poligami. Selalu ada kemungkinan-kemungkinan kontekstual dalam melakukan resistensi terhadap poligami sesuai dengan kepentingan para perempuan itu sendiri dan tidak harus dengan perspektif dan tindakan yang homogen.

Perempuan adalah tubuh dan pikiran yang mempunyai otoritas sesuai dengan perspektif dan kontekstualitasnya masing-masing ketika harus memahami dan bersikap resisten terhadap wacana dan  praktik yang mungkin akan merugikannya. Pada suatu saat ia bisa menjadi “feminis kultural-Timur” yang lebih mengedepankan aspek kesabaran dan kesetian seorang istri/ibu dalam menunjukkan fakta kesalahan/kelemahan laki-laki yang berpoligami, sepertihalnya Salma. Ia juga bisa menjadi “feminis radikal-lesbian” yang membebaskan tubuhnya dari kepuasan semu yang dihasilkan dari sentuhan laki-laki yang berlagak perkasa dan menemukan kepuasan seksual sejati dengan pasangan sejenis, seperti Siti dan Dwi. Pada kesempatan lain, ia bisa menjelma sebagai Ming, seorang “posfeminis” yang menimbang rasionalitas dan kepentingan ekonomi atas potensi tubuhnya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tidak dengan cara menikah.

Satu catatan perlu diberikan terkait praktik lesbian yang dilakukan oleh Siti dan Istri II dalam Fragmen II. Sebagaimana dijelaskan secara singkat sebelumnya bahwa fragmen ini secara eksplisit menggambarkan bagaimana pengaruh hegemonik wacana dan praktik lesbian Barat dalam film karena hubungan sejenis semacam itu di Indonesia belum menjadi gerakan yang bersifat massif. Hal ini tidak untuk mengatakan bahwa lesbian tidak ada di Indonesia dan bukan pula untuk menjustifikasi bahwa apa yang diceritakan dalam film ini merupakan hal yang baru, karena jauh sebelumnya juga sudah pernah dibuat film tentang kehidupan lesbian, yakni Jang Jatuh di Kaki Lelaki (sutradara Citra Dewi, 1971) yang bercertia tentang nasib tragis pelaku lesbian—meninggal dalam kecelakaan karena putus asa melihat kekasih sejenisnya kembali ke pelukan suaminya. Namun demikian, perspektif yang memberikan ‘kemenangan’ kepada subjek lesbian dalam film ini bisa dikatakan sebagai usaha untuk yang mewacanakan lesbian sebagai praktik yang normal dan tidak harus ditakuti.

Dalam konteks tersebut, sineas film ini menyuguhkan lesbian tidak sebagai penyakit patologis yang cenderung mendeskriditkan para subjek pelakunya. Dengan menggunakan perspektif film di Amerika, dalam hal ini Hollywood, cerita yang digambarkan dalam film ini—terutama fragmen Siti—hampir sama dengan jenis “film yang menormalisasi lesbian”. Film jenis ini berasal dari industri film mainstream yang berusaha menyuguhkan penggambaran kehidupan lesbian/gay dalam masyarakat normal dimana mereka bisa bersama-sama warga heteroseksual menjalankan pekerjaan ekonomis maupun politis dan mampu membina keluarga layaknya keluarga heteroseksual.[vi] Dengan demikian, terdapat kesadaran dan usaha untuk mewacanakan norma-norma heteroseksual sebagai sesuatu yang sudah seharusnya dianggap wajar oleh pelaku homoseksual ketika mereka ingin diterima oleh masyarakat luas.

Sebagai film mainstream, kisah Siti dan Istri II memang masih belum berani secara frontal melawan kemapanan institusi, wacana, dan praktik heteroseksual dalam masyarakat, sehingga masih berputar ke dalam persoalan seksualitas ala keluarga heteroseksual yang akan mereka jalani berdua. Meskipun demikian, apa yang disajikan film ini sudah menjadi gangguan ketika sebagian besar masyarakat kita belum bisa bersepakat dan masih memandang lesbian sebagai penyimpangan yang penuh dosa dan tindakan yang melawan kodrat manusiawi. Dari perspektif kritis, tindakan kedua istri tersebut cenderung menegasikan kemungkinan-kemungkinan kreatif lainnya yang bisa dilakukan mereka berdua, seperti menuntut cerai ataupun melakukan aktivitas-aktivitas lainnya. Hal itu terjadi karena kisah ini memang lebih merujuk pemikiran feminis redikal-lesbian sebagai referensinya sehingga apa yang digambarkan memang lebih menormalisasi lesbian.

Catatan kritis lain yang perlu diberikan terhadap film ini adalah usaha melakukan resistensi dalam partikularitas masing-masing fragmen yang untuk memunculkan mitos dan wacana resistensi masih banyak melakukan artikulasi yang cenderung mewacanakan kembali hegemoni kuasa ideologis patriarki. Sebagai sebuah usaha untuk merepresentasikan permasalahan sosial yang disebabkan hegemoni praktik patriarkal dalam masyarakat, kemunculkan praktik kuasa laki-laki memang tampak menjadi kewajaran. Hal itu merupakan usaha sineas untuk memudahkan pemahaman penonton. Kerelaan Salma, Istri II, dan III, serta Siti dan Ming untuk mau dipoligami, menunjukkan satu wacana ideologis bahwa mereka tidak punya kuasa untuk menolakknya berdasarkan pertimbangan partikular masing-masing. Kalaupun pesan ideologis adalah “jangan mau dipoligami”, pesan tersebut muncul setelah melewati artikulasi yang berlebihan tentang praktik kuasa hegemonik patriarki.

Praktik resistensi dalam film ini cenderung “tidak tegas” dalam menunjukkan kuasa perempuan. Salma memperoleh kemenangan setelah sekian lama bersabar dan bebhakti kepada Pak Haji. Kesadaran untuk tidak berpoligami juga tidak muncul dari Salma, tetapi dari Pak Haji berupa nasehat kepada Nadim ketika ia mengalami sakratul maut. Nadim memang memperoleh pelajaran berharga untuk tidak berpoligami, tetapi Salma tetap saja menjadi korban yang harus rela masuk ke dalam jejaring diskursif keutuhan dan kebahagiaan keluarga. Siti dan istri II melakukan praktik lesbian setelah merasakan ketidakpuasan dari pengalaman seksual dengan suami mereka, tetapi itu semua berlangsung ketika mereka sudah menjadi istri sah Paklek. Pun tindakan itu berlangsung secara sembunyi-sembunyi sehingga ketika melarikan diri dari rumah mereka harus menunggu Paklek tidak berada di rumah. Ming memutuskan tidak mau menjadi istri simpanan setelah ia merasakan pahitnya dimarahi Cik Linda dan kedua anak perempuannya. Semua tokoh perempuan dalam film ini memiliki kesadaran resisten setelah sekian mengalami poligami dan mengalami peristiwa-peristiwa yang menyakitkan sehingga tidak dibangung sedari awal dalam narasi. Kondisi itu memunculkan kesan perempuan yang baru bisa bangkit dan memutuskan nasibnya sendiri setelah mereka merasakan penderitaan, bahkan mereka tidak berani melakukan resistensi ketika berhadapan langsung dengan pihak laki-laki.

Semua penceritaan tersebut memang menjadi pilihan strategis untuk memunculkan wacana penderitaan ketika seorang perempuan menjadi istri yang dipoligami untuk mendapatkan kemenangan di akhir cerita, sehingga penonton tidak harus menyaksikan narasi yang provokatif. Pilihan itu bisa memunculkan ambivalensi pesan ideologis yang hendak disampaikan kepada penonton. Perempuan bisa resisten kepada laki-laki (yang berpoligami), setelah mengalami kondisi tertekan, itu pun tidak semua berasal dari kesadaran resistennya (seperti Salma). Dalam kondisi normal, di mana relasi perempuan dan laki-laki yang hidup dalam keluarga poligami berlangsung secara wajar, potensi resisten bisa jadi tidak muncul. Artikulasi, baik dalam mengusahakan konsensus maupun resistensi, selalu menyisakan kompleksitas pertarungan ideologis yang harus terus dikritisi. Bagi saya, sineas BS secara sadar lebih memilih untuk mengeksplorasi mitos I dan mitos II terkait ke-perempuan-an yang melawan poligami dalam struktur dunia naratif mainstream, sehingga bisa memperluas jangkauan penonton yang lebih luas. Dengan demikian, gangguan dan resistensi terhadap tradisi poligami diharapkan secara diskursif bisa memunculkan perenungan ataupun kesadaran baru secara terus-menerus dalam pikiran penonton.

* Tulisan ini merupakan bagian dari tesis S2 saya di Kajian Budaya dan Media UGM denga judul Perempuan dalam Layar Bergerak: Representasi Perempuan dan Pertarungan Ideologis dalam Film Indonesia Era 2000-an (2008). Saya menggunakan beberapa teori seperti semiotika mitos Barthesian, wacana Foucauldian, gender, dan hegemoni.

Catatan akhir

[i] Gamman dan Marshment, sebagaimana dikutip Synott (2003: 397), menegaskan bahwa realitas logika visual menjadi gejala universal yang menempatkan laki-laki sebagai “yang mengamati” dan perempuan sebagai “yang diamati”. Di film, televisi, pers, dan cerita-cerita fiksi populer, laki-laki ditunjukkan mengontrol tatapan, sedangkan perempuan dikontrol oleh tatapan itu.

[ii] Synnott menjelaskan bahwa pada dasarnya tatapan pria adalah pengawasan politik, kontrol, dominasi, dan kekuasaan. Tatapan sebagai kontrol sosial dengan demikian bersifat menekan, namun mengundang perlawanan, sebagaimana yang dikembangkan oleh para aktivis dan akademisi feminis. Tatapan, lirikan, kerlingan, pandangan, dan pengawasan laki-laki seperti itu dapat dilawan dengan pelototan, kekerasan, hukum, atau kata-kata. Ibid.hlm.398.

[iii] Istilah bodyscape, pertama kali, dimunculkan oleh Mirzoeff (1995: 3) ketika mengkaji tentang representasi beragam tubuh dan makna metaforis yang ada di dalam lukisan. Tubuh dalam lukisan merupakan tanda yang merepresentasikan dirinya sendiri dan juga memberikan beragam tingkatan makna metaforis di mana seorang pelukis tidak bisa secara penuh mengendalikannya, tetapi hanya berusaha membatasinya dengan menggunakan konteks, framing, dan style. Dengan demikian bodyscape, merupakan tubuh sebagai kompleks tanda-tanda yang bisa kembali dibaca sesuai dengan konteks yang menyertainya.

[iv] Istilah “politik tubuh” di sini mengambil dari penjelasan Mirzoeff tentang representasi tubuh dalam tradisi seni rupa. Tubuh merupakan representasi yang memungkinkan makna-makna politis dilekatkan sehingga akan menimbulkan kuasa bagi mereka yang melihatnya. Tubuh di dalam lukisan bisa saja digunakan untuk menunjukkan otoritas suatu rezim pada masa tertentu, seperti tampak dalam lukisan yang melambangkan kewibawaan raja maupun keanggunan ratu. Tubuh juga bisa menjadi penanda bagi berlangsungnya relasi-relasi jender yang tidak seimbang pada masa klasik Eropa dimana tubuh polos perempuan hanya dijadikan pelengkap dari dunia laki-laki. Ibid.hlm.58-97.

[v] Adegan tersebut secara eksplisit menandakan kuasa penuh Cik Linda dalam urusan bisnis dan keluarga sehingga ia sangat marah ketikan yang nota bene-nya adalah buruhnya ketahuan menjadi istri simpanan Koh Abun. Apakah hal ini menandakan bahwa dalam komunitas China seorang istri mempunyai kuasa penuh sehingga berhak melarang suaminya berpoligami atau memiliki istri simpanan? Sayangnya, penulis belum mendapatkan data tentang persoalan tersebut. Namun demikian, dalam film Cha-Bau-Kan (sutradara Nia Dinata, 2002, Kalyana Shira Film) diceritakan bahwa seorang saudagar China di Batavia, pada masa kolonial, memiliki istri lebih dari satu. Dengan demikian, apa yang terjadi dalam fragmen ini bisa dilihat dalam konteks partikular. Dalam dialog dalam Scene 60, Koh Abun menjelaskan bahwa “Cik Linda adalah hokinya, jadi tidak mungkin ia menceraikannya”. Ungkapan itu menunjukkan bahwa kuasa Cik Linda lebih dikarenakan faktor ekonomi-mistis. Kehadiran Cik Linda dipercayai Koh Abun sebagai pembawa rezeki, sehingga wajar kalau ia tidak mau menceraikannya. Akibatnya, Cik Linda menjadi berkuasa dalam keluarga karena Koh Abun tidak ingin membuatnya kecewa atau menceraikannya karena faktor hoki tersebut.

[vi] Dalam sejarah film Amerika sendiri, usaha normalisasi kehidupan gay/lesbian bukanlah kesadaran yang sedari awal muncul dalam diri sineas Hollywood. Sampai akhir 1980-an, tokoh homoseksual dalam film selalu digambarkan sebagai subjek yang menyimpang serta tipe manusia patologis; dari pembunuh, penyakit sosial, hingga korban penyakit psikologis. Namun, pada era 90-an sudah ada perubahan dalam hal representasi lesbian/gay. Meskipun demikian, masih saja ada representasi stereotip kaum homoseksual sebagai subjek yang inferior. Pemunculan gay dan lesbian merupakan batasan-batasan baru bagi representasi mereka. Citra mereka dalam film memang beranjak dari “homo yang tercemar” menuju “homo yang normal”. Homo yang normal ditampilkan ‘sepenuhnya manusia’ yang secara psikologis dan moral sama dengan kaum heteroseksual. Homo jenis ini diharapkan mengikuti peran jender konvensional, menghubungan seks dengan cinta dan hubungan-yang menyerupai-pernikahan, mempertahankan nilai-nilai keluarga, mempersonifikasikan individualisme ekonomis, serta mempertontonkan kebanggaan nasional. Artinya, tetap ada usaha untuk menampilkan sesuatu yang bersifat esensialis di mana kaum homo harus memutar-balik homoseksualitas mereka. Film-film jenis ini sebenarnya tidak berani melawan norma-norma sosial yang melawan kemapanan institusi, wacana, dan praktik heteroseksual. Menanggapi perkembangan tersebut, muncul usaha untuk membuat tandingan berupa film independen dengan jenis (1) “film bersudut pandang lesbian/gay” dan (2) “queer film”. Film bersudut pandang lesbian/gay menggambarkan detil subkultur homo yang di dalamnya subkultur terdapat usaha untuk melawan gaya, norma, dan nilai heteroseksual. Film jenis ini memang ditujukan kepada pelaku seks sejenis. Sedangkan queer film berusaha menandingi apa-apa yang sudah digambarkan dalam film bersudut pandang lesbian/gay dan film mainstream yang menormalisasi kaum homo. Film jenis ini memang tidak bisa dilepaskan dari gerakan “Bangsa Homo” yang berupaya melakukan tindakan subversif dengan mengedepankan pemunculan identitas secara performatif melawan kode-kode heteroseksual tentang kenormalan. Queer film menyediakan ruang untuk respon kritis dari Bangsa Homo dan teori queer untuk mendesentralisasi identitas seksual esensialis yang memaksakan mayoritas heteroseksual normatif. Queer film melawan pembedaan antara homoseksual yang bagus dan jelek yang mempraktikkan norma-norma monogami ataupun hubungan menyerupai pernikahan. Lihat Dean, 2007: 363-374.

Pustaka acuan

Dean, James Joshep, “Gays and Queers: From the Centering to the Decentering of Homosexuality in American Films”, dalam Jurnal Sexualities, Vol. 10 (3), 2007.

Mirzoeff, Nicholas. 1995. Bodyscape: Art, modernity, and the ideal figure. London: Routledge

Synnott, Anthony. 2003. Tubuh Sosial, Simbolisme, Diri, dan Masyarakat (terj. Yudi Santoso). Yogyakarta: Penerbit Jalasutra.

Share This:

About Matatimoer 6 Articles
Adalah lembaga yang bergerak dalam bidang penelitian budaya dan pemberdayaan komunitas

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*