BERBAGI SUAMI: Keluar dari poligami dengan hubungan sejenis (2)

IKWAN SETIAWAN

 

Fragmen kedua dari BS adalah kehidupan poligami yang dialami Siti, seorang perempuan Jawa yang berasal dari desa. Ia harus rela dipoligami oleh laki-laki yang di desa dianggapnya sebagai Paklek (Paman).[i] Pada awalnya, Siti mau diajak Paklek-nya ke kota karena dijanjikan akan dikursuskan untuk menambah bekal bagi masa depannya. Paklek-nya yang di desa mengaku sebagai orang penting dalam industri film, ternyata hanya seorang sopir di sebuah rumah produksi dan kehidupannya jauh dari makmur. Ia bersama kedua istri dan anak-anaknya tinggal di sebuah rumah sempit di kawasan kumuh Jakarta serta jauh dari kesan kecukupan. Siti tidak menyangka bahwa dia akan dipoligami oleh Paklek-nya yang sudah mempunyai dua istri.

BrS6

Siti sebenarnya sangat kikuk dan kurang nyaman dengan kehidupan yang dijalani oleh Paklek dan kedua istrinya, apalagi melihat anak-anak mereka yang hidup dalam serba keterbatasan, terutama kamar yang sangat terbatas jumlahnya. Di rumah kontrakan itu hanya terdapat dua kamar tidur. Kamar tidur pertama digunakan Paklek untuk berhubungan intim secara bergantian dengan kedua istrinya. Kamar tidur kedua, digunakan Siti, anak-anak, dan istri yang kebetulan ditidak sedang kebagian giliran untuk bercinta dengan Paklek. Kondisi ini membuat Siti sangat terganggu, apalagi ketika ia mendengar suara-suara erangan dari kamar tidur pertama ketika Paklek bercinta dengan istri yang mendapat giliran. Sebagai perempuan muda yang tidak pernah mengalami suasana tersebut, ia sangat terganggu, tetapi karena sering mendengarnya, lama-kelamaan ia menjadi biasa meskipun masih saja merasa tersiksa. Siti juga harus membiasakan diri dengan kehadiran anak-anak Paklek, termasuk dengan kelahiran bayi dari istri pertama.

Semua kejadian yang dialami dan disaksikan Siti merupakan ‘fase pengkondisian’ agar terbiasa secara natural dengan apa-apa yang terjadi dalam keluarga poligami. Siti tidak diberikan doktrin-doktrin berkaitan dengan poligami, tetapi ia dibiasakan sejak awal dengan perilaku dan tindakan suami dan para istri yang terlibat poligami. Kondisi ini adalah normalisasi wacana dari praktik poligami di mana seseorang yang sebelumnya tidak tahu-menahu dihadapkan pada struktur kebiasaan yang sudah menjadi habitus dalam sebuah keluarga. Dengan pengkondisian ini, seorang subjek yang akan menjadi sasaran poligami diharapkan tidak asing lagi dan bisa memakluminya sebagai praktik yang wajar dan tidak perlu ditakuti ketika kelak ia mengalaminya.

Praktik poligami yang dilakukan Paklek merupakan representasi dari realitas yang ada dalam masyarakat; bahwa poligami tidak hanya dilakukan oleh para lelaki kaya, tetapi juga lelaki miskin. Lelaki miskin dengan segala keterbatasan ekonominya juga mampu memberikan kebahagiaan batin kepada para istrinya, sebagaimana ditunjukkan kedua istri. Mereka berdua memunculkan kesan tidak ada masalah dengan kehidupan rumah tangga yang serba terbatas, bahkan mereka dengan senang hati mengizinkan ketika Paklek hendak memperistri Siti yang mereka anggap sebagai perempuan baik. Mereka berdua juga berusaha meyakinkan Siti untuk mau menerima pinangan Paklek.

Di ruang tamu. Paklek, Istri I, dan II, berusaha meyakinkan Siti agar mau menjadi istri ke-3.

Paklek : (CU) Apa lagi yang dipikirin. (MS Paklek, Istri I, dan Istri II) Wong, semua istri sudah setuju. Belum tau dia. (CU) Jangankan aku yang cuma sopir, sutradara besar saja istrinya dua. (beranjak pergi)
Istri II : (CU Siti, takut dan bingung) Udah ngomong aja ndak usah takut. (CU Istri I dan II) Pumpung cuma kita berdua di sini.
Siti : (CU) Aku ndak mau nyakitin perasaan bulek-bulek. (CU Istri I dan II) Yang udah baek banget. (CU Siti) Kok aku malah kayak orang yang nggak tau diri.
Istri I : (CU Istri I dan II) Kamu itu lucu, Ti. Wong kita sendiri sudah tau kalau kamu itu bakal dikawin. (CU Siti) Tapi kami mau lihat dulu (CU Istri I dan II) bawaan kamu seperti apa. Lha kita berdua malah seneng kok.
Siti : (CU) Tapi aku nggak tahu kalau dari awal mau dikawinin, Bulek. (CU Istri I dan II to Siti) Lagian aku ndak ngerti urusan laki-laki. Apalagi (cut to CU Istri I dan II) urusan cinta.
Istri I : (CU Istri I dan II) Nanti lama-lama juga ngerti.
Istri II : (CU Istri I dan II) Lagian ini nggak ada urusannya sama cinta (CU Siti).
Istri I : (CU Istri I dan  II) Udah nggak usah ngomongin cinta atau apalah, sing penting sekarang kamu sudah dianggap seperti adik kami sendiri (CU Istri II tersenyum). Kamu sekarang nggak perlu lagi panggil Bulek sama kita (CU Siti). Nggak usah takut.
Siti : (CU) Tapi aku masih mau nerusin kursus. (CU Istri I dan II) Pingin kerja.
Istri I : (CU Istri I dan II, Istri II merokok) Gampang Ti. Ntar kalau kami berdua udah lahiran, kamu bisa nerusin kursus (CU Siti) Apalagi (CU Istri I dan II) kalau kamu belum hamil. Masnya pasti ngizinin kamu kerja.

Kerelaan kedua istri untuk menerima Siti sebagai istri ketiga suaminya merupakan representasi kuasa laki-laki dalam kehidupan berumah tangga. Laki-laki adalah tokoh superior yang kehadiranya menjadi kemutlakan di tengah-tengah keluarga yang secara ekonomis sangat bergantung kepadanya. Modal ekonomi—pekerjaan—yang dimilikinya berubah menjadi modal simbolik untuk mengatur dan mengendalikan anggota keluarganya. Istri yang sudah terbiasa dengan habitus tersebut tidak akan mampu melakukan resistensi secara frontal karena akan berakibat pada tindakan-tindakan negatif suami, termasuk menceraikannya. Suami adalah laki-laki yang harus diikuti semua keinginan dan perintahnya. Wacana superioritas suami yang sudah menyatu dalam praktik kehidupan sehari-hari keluarga mampu membiasakan perempuan untuk mengiyakan dan membenarkan tindakan suami, meskipun pada awalnya menyakiti hatinya. Praktik poligami bukan lagi menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi istri yang lebih tua asalkan ia masih mendapatkan nafkah batin dan materiil yang menjadi haknya dalam kehidupan rumah tangga. Poligami, sekali lagi, adalah sebuah kewajaran yang tidak harus diperdebatkan dan ditakuti karena beberapa fakta dalam kehidupan sosial menunjukkan banyak perempuan yang mengizinkan suaminya melakukan poligami, apalagi diperkuat dengan dalil-dalil agama.

BrS7

Segala kuasa patriarki melalui poligami ketika mewujud dalam bentuk adegan filmis di scene ini, tidak lagi menampakkan lagi kehadirannya secara eksploitatif. Siti disorot menyerupai subjek ‘tertuduh’ yang sendirian harus menghadapi tuntutan dari ‘para hakim’—Paklek dan kedua Bulek-nya—yang duduk di kursi panjang. Paklek, dengan penuh keyakinan, berusaha meyakinkan Siti. Ekspresi emosional pada wajah Paklek mempertegas kesan kuasanya. Menyadari penolakan Siti, Paklek beranjak pergi dan membiarkan kedua istrinya berbicara dan ‘melobi’ Siti yang masih takutan dan bingung. Dengan gaya yang begitu santai dan tenang kedua Buleknya—selalu disorot CU bersama-sama—berusaha membuka pintu hati Siti agar mau dipoligami oleh Paklek dan mau menjadi madu mereka. Siti berusaha melakukan resistensi dengan mengatakan bahwa ia tidak mau menyakiti perasaan kedua bulek-nya. Argumen itu tidak berhasil dan mereka malah meminta Siti membuang semua rasa ewuh-pakewuh yang mengganggu pikirannya sebagai seorang gadis Jawa. Argumen Siti untuk melawan dengan mengatakan tidak tahu-menahu “urusan laki-laki dan cinta” juga dimentahkan dengan mengatakan bahwa “lama-lama kelamaan ia akan mengerti sendiri”. Mereka juga mengingatkan bahwa hubungan suami-istri tidak ada hubungannya dengan cinta karena semua akan menjadi biasa ketika dijalani. Guna semakin meyakinkan Siti, mereka memastikan bahwa semua cita-cita Siti untuk melanjutkan kursus akan tetap bisa diwujudkan asalkan ia belum hamil.

Deskripsi di atas memperkuat wacana poligami sebagai praktik yang wajar karena kedua istri sudah memberikan restu sejak awal terhadap rencana suami mereka. Paklek bukan lagi muncul sebagai pihak yang ‘berkuasa’ dalam proses meyakinkan Siti. Dia adalah subjek yang tidak berada di tempat ketika wacana peyakinan ini berlangsung. Kedua istrinyalah yang menjadi subjek kuasa karena mereka dengan gigih berusaha memberi pemahaman kepada Siti. Mereka adalah subjek diskursif yang sudah membenarkan kuasa suaminya dalam melakukan rezim kebenaran poligami. Menghadapi semua keikhlasan dan desakan kedua Buleknya, Siti tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menerima lamaran Paklek dan menjalani sebuah prosesi pernikahan, meskipun dengan linangan air mata. Dengan demikian, adegan dalam Scene 35 menghadirkan submitos poligami dan kerelaan istri-istri yang lebih tua untuk menerima istri muda.

Submitos tersebut, sepertihalnya dalam Fragmen Salma, merepresentasikan wacana ideologis stereotip dalam masyarakat bahwa banyak istri yang dimadu menunjukkan keikhlasan terhadap tindakan suami mereka, meski secara batin belum tentu demikian. Dalam konteks tersebut, adegan-adegan di atas melakukan artikulasi filmis yang mengarah pada hegemoni. Perempuan, tanpa memandang status dan posisi sosialnya—terlebih bagi perempuan miskin seperti Bulek I dan II—adalah subjek yang memang sudah semestinya memperbolehkan praktik poligami karena suami adalah pemimpin yang secara ekonomi-politis berkuasa penuh terhadap masa depan keluarga. Bulek I dan II tidak berdaya secara ekonomi sehingga menjadi wajar ketika mereka tidak mampu melawan kuasa suami dan lebih memilih untuk menyetujui tindakan poligaminya. Namun demikian, kehadiran Siti sebagai Istri III dalam keluarga miskin ini, ternyata menjadi awal lahirnya semangat untuk melakukan resistensi melalui tindakan yang dalam wacana ideologis konsensual dikatakan menyimpang: hubungan seks lesbian.

Ketakutan dan keterpaksaan Siti untuk menjadi istri Paklek ketika ia sendiri belum paham betul tentang seluk-beluk hubungan dengan laki-laki menghadirkan ‘bencana’ pada malam pertama. Ia tidak bisa merasakan kenikmatan dan hanya merasakan sakit ketika Paklek menyetubuhinya. Menyadari kondisi yang aneh pada dirinya, Siti mencoba untuk membicarakannya dengan Istri II, Bulek Dwi. Istri II dengan sabar berusaha memahami kegelisahan Siti. Lama-kelamaan Siti merasa lebih nyaman dan mulai menikmati ‘getaran-getaran yang aneh’ ketika dekat dengan Bulek Dwi. Bahkan, ia merasa galau dan cemburu ketika melihat Paklek dan Bulek Dwi hendak bercinta di kamar. Pada sosok Bulek Dwi ia menemukan tempat untuk mencurahkan perasaan dan gairah cinta yang sesungguhnya. Bulek Dwi ternyata memahami perasaan tersebut. Mereka berdua mulai melakukan tindakan-tindakan cinta sejenis, tentu saja, secara sembunyi-sembunyi ketika Paklek tidak ada di rumah atau ketika sedang bercinta dengan Istri I. Sebuah praktik hubungan sejenis telah dengan berani mereka lakukan demi mendapatkan kenikmatan yang sebenarnya dari sebuah hubungan badan.

BrS 1

Hubungan cinta sesama perempuan (lesbian)[ii] dalam film ini tentu tidak bisa dilepaskan dari wacana dan praktik seksualitas sesama jenis yang terjadi dalam masyarakat, meskipun dalam tradisi sosio-kultural Indonesia—atau bahkan dalam tradisi sebagian sebagian besar masyarakat dunia—masih menjadi tindakan seksual yang menyimpang atau bahkan terlarang serta dianggap sebagai kelainan. Dalam ajaran agama samawi, kisah dogmatis Sodom-Gomorah menjadi tanda kutukan Tuhan terhadap perilaku hubungan sejenis yang pernah dilakukan oleh umat Nabi Lut. Pun demikian dalam perdebatan gerakan dan pemikiran feminis, praktik hubungan sejenis masih menjadi isu krusial hingga saat ini karena sebagian pihak menganggapnya sebagai praktik yang tidak harus dilakukan perempuan ketika mereka hendak menuntut persamaan dengan laki-laki. Sementara, sebagian yang lain menganggapnya sebagai praktik yang membebaskan tubuh dan hasrat seksual perempuan dari kuasa hegemonik patriarki (Tong, 2006: 104-105). Terlepas dari perdebatan tersebut, kaum lesbian radikal sendiri meyakini bahwa hubungan sejenis antarperempuan merupakan bentuk resistensi terhadap perlakuan patriarki yang cenderung mensubordinasi perempuan dan menjadi basis bagi revolusi kultural perempuan.[iii]

Fragmen ini mengekspos secara apik bagaimana hubungan sejenis antara Siti dan Bulek Dwi dalam beberapa adegan. Pada sebuah malam, misalnya, di atas kasur, Siti tidur di samping Bulek yang belum bisa tidur. Ia menyandarkan kepalanya di pundak kiri Bulek. Siti tidur dengan senyum kecil. Bulek mengenakan tank top seksi berwarna coklat. Demikian pula dengan Siti. Bulek menggigit jemari tangan kirinya. Siti tetap tidur. Bulek Dwi menatap tajam ke atas (ke arah kamera), tangan kirinya menyentuh telinga Siti.  Pada kesempatan lain, di depan kamar mandi, Siti menggandeng tangan kiri Bulek yang sedang merokok. Siti mengenakan kaos seksi berwarna coklat dan Bulek mengenakan daster berwarna coklat pula. Siti terlebih dulu masuk kamar. Bulek mengawasi situasi sebelum masuk ke kamar mandi. Tampak bayangan mereka berdua, bercumbu di kamar mandi. Lalu, pada adegan yang lain, di atas kasur, kaki mereka berdua saling menyentuh. Siti dan Bulek memejamkan mata, sembari merasakan sebuah sensasi. Bulek mengenakan daster berwarna hijau lumut, sedangkan iti mengenakan kaos putih. Tangan Bulek menuntun tangan Siti yang tengah meraba pahanya.

Kisah Siti dan Bulek Dwi, sebagaimana digambarkan dalam tampilan bentuk filmis adegan-adegan di atas, berusaha memberikan pandangan alternatif dari submitos kuasa seksualitas laki-laki yang selalu diagungkan dalam tradisi masyarakat patriarki. Siti bisa merasakan tidur nyenyak ketika ia berada di sisi Bulek, yang juga merasakan hal serupa. Bahkan, dalam salah satu adegan, Bulek “menggigit jemari” dan “menatap ke atas”; tanda bahwa ia akan segera menemukan kenikmatan yang sebenarnya dari hubungan cinta yang selama ini tidak pernah ia dapatkan dari suaminya. Boleh saja Paklek beristri banyak, bukankah kenikmatan kedua istrinya tidaklah muncul pada saat hubungan badan dengannya tetapi meledak ketika ia dan Siti saling mengidentifikasi dan menghayati tubuh sesama perempuan? Mereka berdua merasakan solidaritas sesama perempuan yang sama-sama mendambakan diperlakukan sebagai perempuan itu sendiri tanpa penetrasi seorang laki-laki dalam hubungan seksual. Dengan segala keterbatasan ruang—di kamar mandi dan kamar tidur—dan kesempatan, mereka berdua berusaha menikmati “kenikmatan yang ditundukkan” atas nama formalitas pernikahan poligami bernuansa patriarki. Dengan berani dan penuh penghayatan mereka melakukannya di kamar mandi ataupun di kamar tidur ketika si suami berhubungan badan dengan Istri I. Kenikmatan yang dihasilkan dari “rabaan tangan sesama perempuan”, nyatanya memunculkan sensasi yang semakin mengikat hati mereka berdua. Submitos poligami dan kuasa laki-laki, dengan demikian, mendapat gangguan dan resistensi dari dalam rumahnya sendiri berupa pencarian kenikmatan seksual dari istri-istri mudanya.

BrS4

Terlepas dari pertanyaan apakah praktik hubungan cinta antaristri terjadi dalam kehidupan poligami dalam praktik sosial yang sebenarnya, kisah Siti merupakan wacana kritis dari sineas terhadap poligami dengan perspektif radikal. Perspektif tersebut dibangun dengan logika cerita yang mengusung submitos tentang kuasa seksualitas suami, namun kuasa tersebut diganggu dengan hadirnya submitos baru tentang ketidakpuasan seksual para istri menghadapi perilaku seksual suami yang sekedar menjadi ritual pemuasan hasrat tanpa mempertimbangkan seni bercinta yang mampu memberikan kenikmatan berimbang kepada pasangannya. Submitos kuasa laki-laki terhadap istrinya dibiarkan mengalir dalam adegan-adegan filmis, namun pada titik tertentu memberikan dasar bagi lahirnya submitos kedua dari praktik poligami ketika ia sebenarnya tidak mampu memberikan kenikmatan seksual kepada kedua istrinya di balik kuasanya terhadap mereka. Ketidakpuasan itulah yang kemudian memunculkan “perasaan senasib” dan solidaritas untuk kemudian bersama-sama mencari kemungkinan seksual yang lebih memanusiakan potensi cinta sesama perempuan; sebuah bentuk resistensi yang sekaligus berpotensi subversif terhadap kemapanan wacana dan praktik ideologis keluarga heteroseksual, termasuk praktik poligami oleh laki-laki.

Dalam konteks Siti dan Bulek Dwi, kenikmatan seksual yang mereka temukan mampu menjadi energi besar untuk melakukan resistensi yang lebih nyata terhadap suami yang telah memberikan pengalaman dalam keluarga poligami. Ketika merasa sudah cukup mendapatkan kekuatan, terutama dalam hal finansial, mereka berdua memutuskan untuk melarikan diri dari rumah dan membangun satu keluarga lesbian yang mandiri. Mereka juga membawa salah satu anak dari Istri I dan Bulek Dwi. Sebelum melaksanakan niat mereka, Siti membawa Istri I ke Dokter Salma untuk memasang alat kontrasepsi KB agar ia tidak mudah hamil.

Pilihan dan usaha Siti untuk mengajak Istri I memasang alat kontrasepsi merupakan tanda masih kuatnya wacana nilai positif program KB di tengah-tengah masyarakat sehingga sineas BS memilihnya sebagai salah satu solusi bagi permasalahan yang dialami keluarga besar tersebut. Bagaimanapun juga, pelaksanaan program KB yang mengalami sukses secara nasional maupun internasional pada masa rezim Orba telah menjadi satu wacana ideologis hegemonik, meskipun saat ini sudah tidak menjadi program nasional lagi.[iv] Dalam pelaksaanan KB selama Orba tubuh dan seksualitas perempuanlah yang lebih banyak ditertibkan dan didisiplinkan dengan alat kontrasepsi karena perempuan mempunyai kemampuan reproduksi yang bisa memperbesar jumlah penduduk dan menimbulkan kesengsaraan di tengah-tengah masyarakat; sesuatu yang tentu saja akan mengganggu kepentingan politik nasional pada masa itu.[v]

Ketika mengajak Istri I untuk menggunakan alat kontrasepsi, Siti bisa dipandang sebagai subjek yang tidak bisa keluar dari normalisasi wacana reproduksi perempuan dan kuasa negara patriarki. Hal itu sekaligus menandakan bahwa Siti dan Istri I juga masih terpengaruh oleh wacana tentang kekuatan reproduksi perempuan sehingga Istri harus melakukan pemasangan alat kontrasepsi, sementara mereka tidak mampu—atau lebih tepatnya tidak berani—untuk menyuruh Paklek karena takut. Dalam konteks lain, usaha Siti bisa menjadi penanda perjuangan seorang perempuan dengan naluri keibuannya—meskipun ia tidak pernah melahirkan anak dari Paklek—untuk ikut memikirkan masa depan anak-anak dari Istri I karena menyadari kondisi keluarga yang serba pas-pasan (kurang mampu) sehingga tidak mampu memberikan yang terbaik kepada anak-anak, apalagi ketika Siti dan Bulek Dwi sudah tidak ada di rumah itu lagi. Di samping itu, ketika anak Istri I semakin banyak, maka ia sendiri akan repot dan mengalami penderitaan untuk terus-menerus terbebani tugas-tugas rumah tangga. Nalurinya sebagai seorang perempuan yang mampu merasakan betul beban berat seorang ibu inilah yang mendorongnya untuk memberikan yang terbaik kepada Istri I: memasang alat kontrasepsi.

Dibawa sertanya anak-anak dalam pelarian mereka menjadi penanda yang menunjukkan betapa Siti dan Istri II, tanpa kehadiran figur bapak, siap menjadi keluarga utuh yang tetap bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anak yang mungkin tidak akan lebih baik ketika berada di keluarga asalnya, mengingat persoalan ekonomi yang menyelimutinya. Lesbianisme memang bukan semata-mata berkaitan dengan kepuasan seksual, tetapi juga mempunyai kekuatan untuk membangun keluarga utuh demi kehidupan yang lebih baik. Sebuah naturalisasi dari submitos lesbian sebagai praktik yang baik dan mampu memberikan kehidupan yang lebih manusiawi.

Dengan submitos-submitos di atas, kemapanan perkawinan heteroseksual, apalagi yang di dalamnya berlangsung poligami, sebagai penanda dari kuasa patriarki dalam kehidupan keluarga dan masyarakat mendapat resistensi yang bersifat seksual dari para perempuan yang merasa tidak puas dengan praktik tersebut. Kenikmatan seksual yang dicapai kedua istri tersebut sekaligus menjadi resistensi simbolik terhadap kuasa laki-laki yang sebenarnya bersembunyi di balik ketidakmampuannya untuk memberikan yang terbaik kepada para istrinya secara seksual. Dari perspektif Foucauldian, hal itu merupakan resistensi yang bersifat strategis terhadap kuasa karena menggunakan wacana dan praktik seksual perempuan yang sejak lama dinormalisasikan dan dinaturalisasikan menjadi otoritas laki-laki untuk “menyerang balik” melalui kuasa untuk menikmati tubuh sesama perempuan sehingga berhasil membebaskannya dari beragam wacana dan praktik sosio-kultural kuasa seksualitas laki-laki.

Di samping itu, keberanian untuk membangun sebuah keluarga lesbian, tentu, menjadi gangguan terhadap kemapanan wacana konsensual keluarga heteroseksual yang mensyaratkan kehadiran seorang bapak, laki-laki. Bapak adalah subjek yang mempunyai kuasa untuk mengendalikan istri dan anak-anaknya dengan dalil mampu memberikan segala hal bagi keberlangsungan hidup mereka, baik dari aspek jasmaniah maupun ruhaniah. Sementara, istri hanya pengatur rumah yang harus melayani suami dan merawat anak-anaknya. Ketika peran-peran tersebut tidak bisa berjalan dengan baik, terutama terkait pemenuhan kebutuhan seksual dan jaminan masa depan bagi anak-anaknya, apakah pilihan alternatif untuk menjalani keluarga lesbian yang lebih menjanjikan bagi keberlangsungan masa depan layak dipersalahkan? Justifikasi ‘hitam-putih’ dari sebuah praktik seksual yang dianggap menyimpang, memang perlu didekonstruksi untuk memunculkan dan memahami konteks dan alasan partikular dari sebuah pilihan orientasi seksual.

Dalam konteks wacana tandingan yang lebih luas, saya melihat kisah Siti dan Istri II (Bulek Dwi) sebagai usaha untuk menormalisasi wacana dan praktik lesbian. Lesbian merupakan satu praktik yang seharusnya dipandang wajar dalam kehidupan sosio-kultural Indonesia, meskipun “ide-ide normalisasi” tersebut berasal dari tradisi pemikiran Barat terutama akibat gerakan-gerakan lesbian dan gay yang secara terus-menerus disuarakan, dimana dalam banyak kasus masih memunculkan perdebatan di masyarakat maupun di kalangan homoseksual itu sendiri—terutama berkaitan dengan ide dan konsep normalisasi mereka sebagai warga negara.[vi] Kenikmatan seksual sejenis melalui pernikahan dan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dalam keluarga lesbian menjadi satu motivasi untuk membuka wacana normalisasi bagi lesbian guna memperoleh hak-hak sipil sebagai warga negara, seperti menikah, ekonomi, politik, dan lain-lain. Meskipun dalam konteks wacana dan praktik sosio-kultural di Indonesia yang lebih mengedepankan keharmonisan keluarga heteroseksual wacana yang disampaikan fragmen ini merupakan resistensi yang belum tentu bermakna subversif karena sebagian besar perempuan sendiri lebih memilih untuk hidup dalam kenormalan heteroseksual. Dengan demikian, alih-alih secara kritis melakukan kontestasi yang bersifat resisten terhadap normalisasi keluarga heteroseksual, fragmen ini tetap masuk dalam hegemoni pemikiran dan prakik lesbian ala Barat. Namun demikian, narasi dalam fragmen ini merupakan pilihan ideologis untuk bersikap resisten terhadap kuasa seksual laki-laki dalam poligami dan kemapanan keluarga heteroseksual, meski masih banyak kemungkinan lain yang bisa dilakukan perempuan untuk keluar dari jejaring diskursif poligami.

Penceritaan secara visual yang cukup mengganggu dalam fragmen ini adalah kehadiran narasi yang menggambarkan Paklek menyetubuhi Siti. Tujuan adegan ini memang menunjukkan realitas ketidakmampuan Siti untuk merasakan kenikmatan dalam hubungan heteroseksual, tetapi sudut pengambilan gambar dan bentuk gambar yang disajikan menunjukkan kuatnya visualisasi skopopolik laki-laki. Selain itu perisitwa tersebut juga memperkuat lelaki untuk memperlakukan tubuh istri sesuai kehendaknya. Untuk bercinta dengan Siti, Paklek tidak harus melakukannya di ranjang, tetapi cukup dengan bersandar di pintu. Eskpos pada paha dan ekspresi wajah Siti, dari berusaha menikmati sampai merasakan sakit yang luar biasa, menyuguhkan kritik terbuka terhadap pemaknaan seks ala heteroseksual, terutama bagi perempuan yang melakukannya karena keterpaksaan. Namun, adegan-adegan itu bisa memunculkan hasrat seksual tersendiri bagi penonton laki-laki, khususnya bagi mereka yang merasa menang dan puas bisa menikmati keperawanan seorang perempuan. Rasa sakit yang diketengahkan berubah menjadi “kemenangan-kemenangan skopopolik”; bukan hanya bagi Paklek, tetapi juga bagi penonton laki-laki yang bisa membayangkan dirinya sebagai subjek pelaku dari sebuah petualangan seksual yang dilakukan tokoh laki-laki dari fragmen ini. Menurut saya, adegan-adegan di atas memunculkan sebuah makna pertarungan ideologis. Fragmen yang sebenarnya menonjolkan resistensi perempuan melalui praktik lesbian, ternyata tetap (harus?) mengartikulasikan kepentingan pandangan skopopolik laki-laki. Artinya, di balik keberhasilan naratif untuk melogikakan dan menormalkan praktik lesbian, fragmen ini tetap tidak bisa keluar dari representasi stereotip perempuan yang tidak berdaya dalam melayani kepentingan seksual tokoh laki-laki dan juga penonton laki-laki. Kehadiran hubungan seksual dalam perspektif heteroseksual seperti sudah menjadi kewajiban, meskipun hanya menjadi logika awal untuk menggiring pemahaman penonton tentang rasionalisasi dilakukannya praktik lesbian.

* Tulisan ini merupakan bagian dari tesis S2 saya di Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM dengan judul Perempuan dalam Layar Bergerak: Representasi Perempuan dan Pertarungan Ideologis dalam Film Indonesia Era 2000-an (2008). Saya menerapkan beberapa teori seperti semiotika mitos Barthesian, wacana Foucauldian, gender, dan hegemoni.

Catatan akhir

[i] Sebutan Paklek dalam film ini sebenarnya menyisakan masalah tersendiri. Dalam hukum Islam yang sudah menjadi aturan adat dalam masyarakat Jawa, seorang Paman (adik ibu atau bapak), dilarang menikahi keponakannya sendiri, karena bukan muhrimnya. Mungkin dalam film ini Paklek berasal dari keluarga jauh Siti.

[ii] Istilah lesbian sebenarnya lebih bermakna negatif bagi perjuangan pembebasan perempuan dari kuasa seksualitas patriarki. Istilah lesbianisme maupun homoseksualitas laki-laki merupakan kategori kebiasaan yang menjadi penanda negatif dalam masyarakat seksis yang diwarnai dengan peran seks yang kaku dan didominasi supremasi laki-laki. Lesbian merupakan kategori seksual yang dengannya laki-laki membedakan kemanusiaan. Lihat Radicallesbians, “The Women-Identified Women”, dalam Duncombe (ed).2002: 249-251.

[iii] Dalam pernyataan pamflet politisnya, kaum lesbian radikal menyatakan: “Merupakan keunggulan ketika perempuan berhubungan dengan perempuan, ketika perempuan yang menciptakan kesadaran baru terhadap dan dengan sesama yang lain, yang menjadi jantung dari pembebasan perempuan dan basis dari revolusi kultural. Sebagaimana kita melakukan hal itu, kita mengkonfirmasikan kepada yang lain tentang perjuangan itu, sebuah pemahaman awal tentang harga diri dan kekuatan, halangan-halangan mulai mencair, dan kita merasakan perkembangan solidaritas ini dengan saudara-saudara perempuan kita. Kita memandang diri kita sebagai yang utama, menemukan pusat yang berada di dalam diri kita. Kita beranjak dari keterasingan, keterpenggalan, keterkungkungan, ketidakmampuan untuk keluar. Kita merasakan kenyataan, atau paling tidak merasakan kebersamaan dengan diri kita. Dengan diri yang riil itu, dengan kesadaran itu, kita memulai sebuah revolusi untuk mengakhiri pemaksaan semua identifikasi koersif, untuk menerima otonomi maksimal dalam ekspresi manusia.” Ibid.hlm.254.

[iv] Menurut Udasmoro (2004: 150-151), progam KB yang mulai dijalankan rezim Soeharto pada 1970-an, dengan dibentuknya dua lembaga strategis, PKBI dan BKKBN, mampu menjadi pilot project internasional bagi pelaksanaan program serupa di negara-negara lain. Dengan model top-down, program ini secara nyata mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat, dari kota hingga RT di desa. Orientasi ekonomi dan kesejahteraan keluarga dengan slogan “dua anak cukup, laki-laki perempuan sama saja”, mampu menarik hati penduduk Indonesia untuk berperan aktif dalam program KB. Hanya dalam waktu satu dekade terjadi penurunan jumlah penduduk yang cukup signifikan, yakni dari 3,5 % dalam masa Soekarno, menjadi 2,2 % pada masa awal kepemimpinan Soeharto. Bahkan, Indonesia, sejak 1970-an, mampu melatih ribuan delegasi dari 80 negara dalam metode KB. Menurut Bank Dunia, Indonesia merupakan satu contoh impresif dalam transisi demografik di antara negara-negara berkembang. Realitas itulah yang kemudian menjadikan KB sebagai wacana ideologis hegemonik meskipun sudah banyak ditentang oleh para pemikir feminis maupun agamawan berkaitan dengan hak asasi, terutama terkait dengan hak reproduksi. Meskipun, konsep akseptor bagi pemakai alat kontrasepsi sudah dirubah dengan konsep client, nilai penting dan segala keberhasilannya hingga saat ini masih begitu kuat dalam memori kolektif bangsa ini.

[v] 90 % pengguna alat kontrasepsi adalah perempuan. Praktik ini dari normalisasi wacana seksualitas perempuan yang selalu dikaitkan dengan persoalan reproduksi dan sudah menjadi common sense cause dari pertambahan jumlah penduduk. Hal itu didukung oleh wacana ideologis dalam praktik sosio-kultural yang memposisikan perempuan di ranah privat dan laki-laki di ranah publik sehingga mereka dianggap punya tanggung jawab untuk mengatur urusan reproduksinya, sementara laki-laki tidak, serta kuasa negara yang mayoritas dikuasai laki-laki, sehingga perempuan berada dalam pengawasan rezim kultural dan negara. Ibid.hlm.151 & 152.

[vi] Di Barat sendiri, ide normalisasi praktik dan kehidupan lesbian dan gay, tidak serta-merta muncul sebagai alternatif bagi penyadaran publik, tetapi ada sejarah panjang. Pada periode 1950-an, organisasi homophile berusaha mempromosikan tolerasni dan hak-hak sipil bagi kaum homoseksual. Sebagian berargumen bahwa sebagai penyimpangan psikis, kaum homoseksual membutuhkan penyembuhan bukannya hukuman, sementara sebagian yang lain berusaha menjahui model medis karena beranggapan kaum homoseksual adalah orang-orang normal, layaknya kaum heteroseksual. Pada tahun 1960-an, gerakan lesbian dan gay berubah menjadi lebih radikal, dengan perjuangan politik baru yang berusaha membebaskan masyarakat dari ide negatif homoseksual, terutama berkaitan dengan stereotip tidak normal/tidak natural yang melekat pada diri mereka. Pada tahun 1970-an, secara signifikan, kaum liberasionis berusaha menyerang masyarakat mainstream dan institusi-institusi inti serta nilai-nilai budaya yang ada. Adapun yang menjadi inti perlawanan mereka adalah definisi-definisi tradisional tentang keluarga dan peran jender yang cenderung heteronormatif. Tahun 1990-an tercatat adanya gerakan neokonservatif yang diawali oleh penulis gay, seperti Andrew Sullivan dan Bruce Bawer yang mengusung “politik asimilasi” dengan argumen bahwa kebanyakan kaum gay ingin dilihat sebagai warga negara normal, yang secara mendalam ingin berintegrasi ke dalam masyarakat. Ketika lesbian dan gay dikonstruksikan sama dengan mereka yang melakukan heteroseksual, dengan nilai dan gaya hidup yang serupa dengan pasangan heteroseksual dalam lingkungan profesional dan ekonomi, maka asimilasi bisa berlangsung. Sejak 1990 juga dimulai satu gerakan untuk menormalkan gay dan lesbian dalam satu ikatan pernikahan, yang diikuti oleh ranah-ranah lainnya, seperti politik, ekonomi, militer, dan lain-lain. Lihat Richardson, 2004: 395-398.

Pustaka acuan

Radicallesbians (pamflet), “The Women-Identified Women”, dalam Stephen Duncombe (ed).2002. Cultural Resistance Reader. London: Verso.

Richardson, Diane, “Claiming Citizenship? Sexualities, Citizenship, and Lesbian/Feminist Theory”, dalam jurnal Sexualities, Vol 2 (3), 2000.

Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought, Pengantar Paling Komperhensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis (terjemahan Aquarini P. Prabasmoro). Yogyakarta: Penerbit Jalasutra.

Udasmoro, Wening, “Konsep Nasionalisme dan Hak Reproduksi Perempuan”, dalam Jurnal Humaniora, Vol. 16, No. 2, Juni 2004.

Share This:

About Ikwan Setiawan 160 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*