BERBAGI SUAMI: Penerimaan istri pertama dan misi anti-poligami (1)

IKWAN SETIAWAN

 

Fragmen-fragmen dalam Berbagi Suami

Poligami merupakan persoalan yang masih debatable hingga saat ini. Sebagian besar masyarakat masih menganggapnya sebagai tindakan yang tidak pantas—atau bahkan tidak boleh—dilakukan oleh seorang suami karena akan menyakiti perasaan istri. Sementara, sebagian kecil masyarakat yang mengaku bersendikan nilai-nilai agama menganggapnya sebagai praktik yang diperbolehkan karena tidak bertentangan dengan ajaran agama dan praktik yang pernah dijalankan Nabi-nabi terdahulu. Pemerintah Indonesia pada masa Orba dengan tegas melarang praktik poligami bagi para pegawai negeri sipil (PNS) dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 10 1971. Hal itu menunjukkan bahwa poligami sebagai wacana keagamaan yang diatur dalam kitab suci bisa menimbulkan beragam efeknya, baik yang pro maupun kontra dengan beragam alasan masing-masing. Poligami, kemudian, menjadi pengetahuan bersama dalam masyarakat terutama berkaitan dengan seksualitas dan praktik serta wacana sosio-kultural yang menyertainya.

BrS15

Menurut Benard (2003: 15-17) di kalangan Islam sendiri, masih terdapat perbedaan pandangan menanggapi wacana dan praktik poligami. Kalangan fundamentalis, misalnya, menerima praktik poligami dan cenderung menggunakannya untuk pemaksaan kehendak. Taliban, semasa berkuasa di Afganistan memperkenalkan kembali praktik tersebut, meskipun sebelumnya sudah jarang diterapkan. Pernikahan di usia anak menjadi akibat dari poligami, dan hal itu menjadi biasa dalam masyarakat yang berada di bawah rezim fundamentalis maupun di beberapa tempat yang berada di bawah kontrol kaum tradisionalis-konservatif. Bahkan Taliban dan Al-Qaeda membolehkan juga kawin paksa yang katanya diperbolehkan dalam kondisi perang. Sementara, kalangan tradisionalis-reformis dan tradisionalis-konservatif yang hidup di Barat maupun di negara yang tidak memperbolehkan poligami tidak mendukung praktik poligami secara aktif. Sebagian mereka menolak poligami demi hukum yang berlaku di sebuah negara. Sementara, kaum tradisionalis yang dekat dengan spektrum modernis benar-benar menolak praktik poligami dengan alasan: (1) Nabi Muhammad SAW sebenarnya mempraktikkan monogami semasa hidupnya Kadijah, istri pertama, saat di mana Beliau menerima wahyu Islam, dan inilah yang mestinya menjadi praktik ideal bagi kaum Muslim dan (2) Nabi Muhammad SAW menikah lebih dari satu karena semata-mata demi kepentingan aliansi politik dan penghormatan bagi para janda yang suaminya meninggal dalam perang. Bahkan, kaum tradisionalis-reformis, seperti Akbar Ahmed menjelaskan bahwa terlalu sulit persyaratan yang diterapkan Islam terhadap laki-laki yang hendak melakukan poligami sehingga ia menyimpulkan bahwa spirit Islam yang sebenarnya adalah monogami.

Meskipun demikian, ada juga kalangan tradisionalis-reformis yang mengatakan bahwa poligami memberikan kemudahan bagi perempuan untuk membesarkan anak dan mengerjakan aktivitas domestik sehingga membebaskan mereka dari pekerjaan di luar rumah. Mereka bahkan menandaskan bahwa praktik poligami lebih baik dibandingkan dengan kehidupan keluarga masyarakat Barat yang terlalu banyak perceraian. Sedangkan kalangan modernis tidak merasa perlu untuk terlibat dalam perdebatan tersebut. Mereka meyakini bahwa perubahan waktu akan membawa perubahan kebiasaan dan moralitas. Apa yang diterima selama ratusan tahun yang lalu, tidak harus diterima dan dipraktikkan saat ini. Yang terpenting adalah bagaimana menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat serta menjalankan apa-apa yang sudah diperintahkan dalam Al-Qur’an dan dinasehatkan dalam Hadist.

Hangatnya perdebatan tentang poligami dalam di Indonesia yang menjadi hot issue terutama setelah beberapa pihak berani mengungkapkan keabsahan dan keindahan poligami bagi istri-istri maupun suami,[i] paling tidak, memberikan inspirasi bagi dibuatnya film Berbagi Suami (Nia Dinata, 2006, selanjutnya disingkat BS). BS memang tidak secara radikal melawan apa yang disebut poligami dalam masyarakat, tetapi film ini menyuguhkan cerita tentang poligami yang dialami oleh beberapa perempuan melalui narasi yang mengalir secara wajar sehingga dengan apik memberikan pesan ideologis tentang pemaknaan-ulang poligami dalam perspektif perempuan dengan konteksnya masing-masing.

BS dari segi narasi dan teknis penggarapan memang memberikan sentuhan baru dalam dunia perfilman di Indonesia. Film ini tidak dengan membabi buta menghujat praktik poligami dalam masyarakat, tetapi menceritakannya dengan selera humor tinggi sembari bertutur tentang kerumitan dan kompleksitas poligami—sebuah mitos kedua yang dibangun dari mitos ke-poligami-an. Dari segi teknik naratif, film ini menyuguhkan hal yang berbeda dan tidak biasa dalam film-film Indonesia yang ada. Biasanya film dinarasikan dalam satu narasi tunggal, dari awal hingga akhir cerita, tetapi dalam BS terdapat tiga narasi yang berbentuk fragmen-fragmen terpisah. Masing-masing fragmen mengisahkan perempuan dengan latar belakang keluarga, profesi, dan status sosial yang berbeda, tetapi mereka mempunyai kesamaan dalam hal poligami. Di antara para tokoh perempuan memang pernah bertemu dalam momen-momen tertentu, tetapi mereka tidak pernah menyadari bahwa di antara mereka mempunyai nasib yang sama, dipoligami.

Fragmen I bercerita tentang kehidupan Salma yang di poligami oleh suaminya, seorang politisi sekaligus pengusaha yang sukses di Jakarta. Semula, Salma tidak mengetahui kalau suaminya melakukan praktik poligami. Ia baru menyadari ketika lampu padam pada acara penyerahan hadiah kepada para pelanggan dari salah satu perusahaan suaminya. Waktu lampu padam, tiba-tiba seorang anak perempuan memanggil-manggil nama “Aba” dan ketika lampu menyala kembali, Salma terkejut melihat suaminya menggendong seorang anak perempuan. Pada awalnya Salma tidak bisa menerima tindakan suaminya, tetapi lambat-laun ia bisa menerimanya meskipun dengan berat hati. Faktor anak menjadi penentu keputusan Salma untuk menerima praktik poligami suaminya. Dalam beberapa kesempatan, Salma, bahkan, membela praktik poligami yang dilakukan suaminya di mata warga maupun anak-anaknya. Meskipun suaminya ketahuan beristri lebih dari dua, ia tetap berusaha bisa menerimanya. Ketika suaminya sakit keras, ia, sebagai istri pertama dengan sabar merawatnya. Kesabaran dan kasih sayang istri/ibu dalam menyikapi poligami menjadi penanda penting bagi kedirian seorang Salma dalam film ini.

Fragmen II bertutur tentang Siti, seorang gadis desa yang di bawa ke kota oleh Paklek-nya (Paman) dan dijanjikan akan dikursuskan. Sesampai di rumah kontrakan semua bayangan Siti tentang kemakmuran Pakleknya buyar. Di rumah yang terletak di pemukiman padat ibukota, Siti harus menjalani kehidupan dengan kedua Bulek-nya (Bibi) dan anak-anak mereka. Pada awalnya, ia tidak tahu kalau Paklek hendak menikahinya. Ia baru menyadarinya ketika Paklek mengungkapkan keinginannya di depan para Bulek. Para Bulek berusaha meyakinkan Siti untuk mau dinikahi Paklek. Siti dengan berat hati akhirnya mau menikah dengan Paklek dan menjadi istri ketiga. Keterpaksaan dalam menikah membuat Siti tidak bisa menikmati arti dan keindahan sebuah hubungan badan dengan seorang laki-laki. Pada figur Bulek II-lah ia menemukan indahnya disentuh seseorang, meskipun sejenis. Mereka, kemudian terlibat sebuah hubungan asmara, tanpa diketahui oleh Bulek I dan Paklek. Akhirnya, mereka memutuskan untuk melarikan diri dari rumah, setelah uang mereka sudah cukup untuk menyewa sebuah rumah sederhana. Mereka lari dengan membawa anak Bulek II dan salah satu anak Bulek I.

Sementara, Fragmen III bertutur tentang kisah Ming, seorang gadis Tionghoa yang berprofesi sebagai pelayan di sebuah rumah makan dengan menu bebek panggang. Kecantikan dan kemolekan tubuhnya membuat Koh Abun, si pemilik, jatuh hati dan berusaha mendapatkan cinta Ming, meskipun ia sudah beristri dan beranak dua. Tanpa sepengatuhan Cik Linda, istrinya, ia berusaha meyakinkan Ming untuk mau menjadi istri keduanya. Menyadari rasa nyaman serta kemudahan fasilitias yang akan ia peroleh, akhirnya, Ming menerima Koh Abun sebagai suaminya. Koh Abun kemudian membelikan Ming sebuah apartemen untuk tempat mereka berdua memadu cinta serta mobil mewah. Meski demikian, Ming tetap membina hubungan rahasia dengan mantan pacarnya, Firman, yang menawarkan satu peran dalam film garapannya—satu cita-cita yang diimpikan Ming sejak dulu. Ketika Cik Linda mengetahui hubungan mereka berdua, ia melabrak Ming dan mengambil-alih apartemen. Ming akhirnya memutuskan pergi dan berkarir di dunia film dan menikmati kembali kesendiriannya.

Deskripsi singat di atas menunjukkan adanya ragam pribadi, konteks, dan pertarungan ideologis yang dihadapi masing-masing tokoh perempuan dalam BS. Dengan keragaman tersebut, film ini juga ingin secara tersirat menyampaikan bahwa memahami dan memperdebatkan poligami tidak harus melulu berada dalam satu perspektif, agama misalnya, tetapi harus memperhatikan konteks partikular yang dihadapi oleh pihak-pihak yang mengalami poligami.

Kekuatan istri pertama, ke-ibu-an dan kesabaran Salma

Sebagai seorang perempuan, Salma merupakan figur perempuan modern yang berhasil dalam karir dan rumah tangganya. Ia seorang dokter anak yang mempunyai karir cemerlang di sebuah rumah sakit bersalin. Dalam kehidupan keluarga ia adalah ibu yang bahagia dengan kehadiran seorang anak laki-laki dan seorang suami politisi yang juga mempunyai beberapa perusahaan. Salma, dengan demikian, adalah representasi dari perempuan modern perkotaan yang mampu memadukan antara kebutuhan karir dan kebahagiaan rumah tangga. Tidak seperti para pemikir feminis radikal yang menolak kehadiran institusi keluarga patriarki, Salma adalah representasi dari perempuan yang mampu memadukan kebutuhan untuk memperoleh posisi dan karir setara dengan laki-laki, dengan tetap memperhatikan keutuhan keluarga sebagai institusi yang menyatukan laki-laki dan perempuan dalam sebuah jalinan pernikahan.

Semua kebahagiaan itu mulai terusik dengan kehadiran perempuan lain sebagai istri muda sang suami. Pada awalnya ia tidak mengetahui kehadiran perempuan itu, tetapi dalam sebuah acara pemberian hadiah kepada pelanggan perusahaan sang suami, semua rahasia itu terkuak. Sebagai perempuan, jelas, Salma sakit hati atas tindakan itu. Ia juga bingung mengapa suaminya melakukan itu, apakah ia sudah terlalu tua dan tidak menarik lagi sebagai seorang perempuan? Dalam sebuah adegan menjelang tidur, Salma bercermin. Dengan pelan ia meraba kedua pipinya. Adegan ini menjelaskan usaha Salma untuk mengidentifikasi kembali diri, melalui raut mukanya. Dengan jeli ia memperhatikan kerut-kerut di pipinya yang menandakan semakin bertambahnya usia. Ia melakukan tindakan ini ketika mengetahui suaminya, tanpa seizinnya, telah menikah lagi dengan perempuan lain. Adegan ini menghadirkan wacana bahwa perempuan—istri pertama—yang dipoligami akan cenderung menimbang-kembali kondisi fisiknya karena melihat tampilan istri muda yang tentunya lebih muda dan lebih cantik. Kegundahan melanda batin Salma ketika menemukan kenyataan bahwa istri kedua Pak Haji lebih cantik dan muda. Pun dalam realitas sosial, istri kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, dari seorang suami yang berpoligami biasanya memang lebih cantik dan muda dibandingkan istri pertama. Adegan ini sekaligus menandakan bahwa sebenarnya muncul konflik psikis dalam batin istri pertama ketika mengetahui poligami yang dilakukan oleh suaminya, meskipun dalam beberapa kasus istri yang dipoligami mengaku rela dan ikhlas menjalani keluarga poligami atas nama ajaran agama.[i]

Di kamar pribadi, Salma bercermin memandangi wajahnya. Sebentar kemudian, Pak Haji datang hendak membicarakan sesuatu.

Salma : (CU mereka berdua) Kenapa mesti di tempat ramai begitu, Salma sama dia?
Pak Haji : (CU mereka bedua) Abang nggak ngerti maksudnya apa?
Salma : (CU mereka berdua. Salma beranjak, Pak Haji mengejarnya) Nggak usah ditutup-tutupi lagi. (CU Pak Haji duduk di bath up sambil memandangi Salma) Sudah jelas nasib Salma sama kayak Umi kamu. Untung pake mati lampu. (CU Salma menangis)
Pak Haji : (CU) Jadi kamu lebih senang kalau kamu tahu, gitu? Kalau ndak pake mati itu listrik, Abang juga kasih tahu. Tapi ndak sekarang.
Salma : (CU bersedih) Kapan?
Pak Haji : (CU Salma to Pak Haji) Kalau Salma sudah siap.
Salma : (CU Pak Haji) Berarti apa yang orang bilang selama ini memang benar. (CU Salma) Apa kurangnya Salma, Bang?
Pak Haji : (CU Pak Haji) Nggak ada yang kurang Sal. Abang cuma ngindarin zinah. Jauhin deh, perasaan-perasaan iri yang mendengki ke dia. (Berusaha memegang pundak Salma, tapi ia menghindar)
Salma : (CU Salma) Nggak segampang itu. Tidak segampang itu. (CU Pak Haji) Ternyata begini rasanya. Lebih baik Salma nggak tahu sama sekali.
Pak Haji : (CU Salma menutup muka) Ya udah, lupain peristiwa tadi. Anggap aja nggak pernah ada.
Salma : (CU mereka berdua) How dare you do like that. You kan mestinya tahu Salma ini siapa?
Pak Haji : (CU mereka berdua) Abang nggak akan pernah berubah ke kamu Sal. Lihat aja, apa selama ini Abang berubah? Nggak kan Sal?
Salma : (CU Salma) Mandi dulu, pokoknya kalau mau masuk rumah ini harus mandi dulu.
Pak Haji : (CU Pak Haji) Setiap habis berbuat, Abang selalu mandi junub. Hukumnya kan wajib, Sal?
Salma : (CU Salma) Iya, (MS to CU Pak Haji) tapi sampai di sini harus mandi lagi. Yang bersih!

Dialog di atas menandakan betapa di balik kegundahan hatinya, Salma berusana tegar dan berani mengungkapkan kekecewaan terhadap tindakan poligami Pak Haji. Salma tetap berusaha “menggugat” atas apa yang dilakukan Pak Haji karena sebagai perempuan ia telah berusaha sebaik-baiknya memainkan peran sebagaai seorang istri dan ibu demi keutuhan keluarga. Ungkapan kekecewaannya sekaligus mewacanakan cara pandang kritis terkait realitas bahwa selama ini banyak kekecewaan yang sebenarnya disembunyikan oleh istri pertama atau istri yang lebih tua ketika dipoligami.

Menanggapi gugatan Salma, Pak Haji berusaha membela diri dengan menggunakan justifikasi agama, “menghindari zinah”. Ungkapan tersebut merupakan alasan diskursif dalam konteks legitimasi moralitas dan hukum agama yang sudah lazim digunakan oleh lelaki pelaku poligami di masyarakat untuk mengabsahkan tindakannya.[i] Zinah dalam hukum agama Islam termasuk salah satu dosa besar yang akan mendapatkan hukuman setimpal baik di kehidupan dunia maupun akhirat, terlebih lagi zinah yang dilakukan oleh mereka yang sudah berkeluarga. Persoalan zinah sebenarnya merupakan wacana keagamaan yang secara implisit menunjukkan kuatnya hasrat seksual manusia dan untuk menghindari tindakan zinah, bagi mereka yang sudah cukup umur dianjurkan untuk tidak menunda pernikahan. Masalah muncul bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Wacana dan praktik superioritas laki-laki terhadap perempuan memungkinkan mereka untuk menggunakankan pandangan “dari pada zinah” guna melakukan pernikahan poligami. Hal itu secara eksplisit menegaskan bahwa laki-laki lebih mempunyai kuasa untuk memenuhi hasrat seksualnya, sekaligus menunjukkan bahwa mereka tidak pernah puas hanya dengan satu perempuan. Sementara, pihak perempuan dengan jelas, baik oleh hukum agama maupun sosial dilarang melakukan tindakan serupa—poliandri. Para lelaki merasa mendapatkan legitimasi ketika dari sudut pandang agama Islam, secara sepintas kitab suci Al Qur’an memperbolehkan praktik poligami asal mampu berbuat adil, meskipun dalam praktiknya lebih cenderung diposisikan sebagai alat legitimasi semata.[ii] Ungkapan Pak Haji bahwa ia tidak akan pernah berubah terhadap Salma merupakan representasi dari wacana tentang azas keadilan dalam praktik poligami tersebut. Dalam praktik kehidupan sosial, hal itu bisa dilihat, misalnya dari pembagian jatah bercinta ataupun pembagian jatah hak ekonomi kepada kepada masing-masing istri.

Ketika Pak Haji meminta Salma “melupakan” pertemuannya dengan istri keduanya, Salma mengungkapkan dengan lantang: “How dare you do like that. You kan mestinya tahu Salma ini siapa?” Ungkapan dalam bahasa Inggris tersebut, bukan hanya menunjukkan kadar intelektual Salma. Lebih dari itu, Salma mengekspresikan kemarahannya. Kata “dare” yang berarti “berani” dan “you” yang berarti “kamu”, merupakan diksi untuk bersikap keras kepada orang yang telah melontarkan pernyataan sebelumnya, yakni suaminya. Dengan menggunakan kata “you”, Salma tidak perlu memanggil Pak Haji dengan “Bang”. “You”, dengan demikian, merupakan bentuk keberanian Salma untuk berposisi setara dengan suaminya, meskipun hanya sesaat.

Kemampuan Salma untuk menegosiasikan kepentingannya dengan mengharuskan Pak Haji “mandi dulu sebelum masuk ke rumahnya” menarik untuk dicermati. Ketika Pak Haji berusaha menjelaskan bahwa setelah berhubungan badan, ia memang sudah mandi junub, Salma tetap kukuh dengan keputusannya:  Paj Haji harus tetap mandi junub dua kali. Ketegasan tersebut menandakan usaha Salma membangun otoritas atas kesucian tubuh dan keluargannya. Junub dalam hukum Islam merupakan kewajiban yang harus dilakukan seseorang setelah berhubungan badan. Dengan junub dua kali Salma mengharapkan tubuh Pak Haji benar-benar bersih dan suci ketika berhubungan badan dengannya. Dengan demikian, meskipun dipoligami, ia tetap bisa mempertahankan kedirian dan kepentingannya sebagai seorang perempuan dan ibu serta mempertegas kuasanya dalam mengatur rumah tangga. Rumah bagi perempuan adalah ruang di mana ia bisa mengatur kuasa, termasuk memberikan syarat-syarat negosiatif kepada suami yang melakukan poligami. Ungkapan kekecewaan dan kuasa Salma atas kesucian rumah/tangganya menjadi submitos tentang kekecewaan istri (pertama) yang dipoligami dan kemampuannya untuk melakukan negosiasi kepada suami.

Wacana ideologis yang disampaikan dari submitos tersebut adalah bahwa meskipun istri pertama atau istri yang lebih tua tidak bisa menolak poligami dengan bermacam alasannya, mereka sebenarnya mampu melakukan negosiasi kepada suaminya sebagai nilai tawar agar sang suami tidak semena-mena dalam memahami sebuah ikatan pernikahan dan keluarga. Negosiasi dan nilai tawar akan menjadi sesuatu yang signifikan bagi istri karena memperlihatkan adanya kekuatan di balik semua penerimaan terhadap praktik poligami suaminya. Pesan ideologis dalam fragmen ini memang terkesan sangat lambat karena baru dilakukan ketika suami sudah berpoligami sehingga apa-apa yang dinegosiasikan Salma seperti angin lalu yang tidak bisa merubah keputusan Pak Haji untuk tetap menikmati poligami dengan kuasa penuhnya.

Sekeras apapun gugatan Salma, pada kenyataannya, ia tetap membiarkan praktik poligami Pak Haji berlanjut, meski menyakiti perasaannya. Ketidakmampuan Salma untuk menolak tindakan poligami Pak Haji—dengan meminta cerai, misalnya—memang menandakan betapa istri pertama seringkali berada dalam posisi sulit. Ia tidak kuasa menolak tindakan tersebut karena kepentingan keluarga, terutama anaknya yang membutuhkan figur seorang bapak, maupun kepentingan ekonomi bagi keberlanjutan hidupnya serta anak-anaknya kelak di kemudian hari. Dalam kasus yang dialami Salma, kepentingan ekonomi jelas bukan menjadi alasan utama karena ia sendiri sudah mempunyai karir yang mapan dalam bidang kedokteran dan untuk ukuran finansial tentu sudah mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari maupun pendidikan anak semata wayangnya, Nadim. Kehadiran figur Bapak dalam keluarga merupakan alasan kuat kenapa ia membiarkan praktik poligami Pak Haji. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa keutuhan sebuah keluarga—dengan kehadiran seorang ibu dan bapak—bagi seorang anak tetap menjadi nilai ideologis hegemonik dalam masyarakat. Dengan kata lain, bapak tetap menjadi kemutlakan yang tidak bisa dihindari ketika hendak mewujudkan keluarga yang ideal dan ia tetap akan menjadi makhluk yang berkuasa atas perempuan, anak, dan keluarganya. Dalam konteks ajaran Islam sendiri, yang tentunya masih bisa diperdebatkan, laki-laki tetaplah menjadi qawwamun; pelindung, pemimpin, maupun pengarah bagi kehidupan perempuan dan keluarga.

Dalam Al-Qur’an penjelasan tentang konsep qawwamun diterangkan dalam Surat An-Nisa’: 34. Eissa (1999: 22-41) dengan mengelaborasi beberapa sumber, menjelaskan bahwa tafsir kata itulah yang dijadikan alat legitimasi hegemoni kuasa patriarki terhadap perempuan dalam tradisi Muslim. Dalam pemikiran tradisionalis, qawwamun bisa diartikan sebagai “pelindung”. Bahwa laki-laki memang mempunyai kekuatan superior untuk melindungi sekaligus mendisiplikan perempuan karena laki-laki dipandang mempunyai kapasitas mental dan fisik serta bertanggung jawab untuk menghidupi perempuan. Mengapa laki-laki mempunyai kekuatan tersebut? Karena laki-laki (dalam hal ini Nabi Adam AS) memang diciptakan terlebih dahulu dibandingkan perempuan (Siti Hawa). Meskipun pandangan itu juga ditentang oleh beberapa pemikir karena tidak ditemukan referensi dalam Al-Qur’an yang secara pasti menjelaskannya. Konsekuensi dari tafsir tersebut dalam kehidupan sosio-kultural adalah bahwa perempuan dianggap tidak layak menjadi pemimpin dan juga perempuan harus selalu menampakkan tampilan yang menyenangkan bagi suaminya, meskipun hal tersebut ditolak mentah-mentah oleh Fatima Mernissi.

Masih menurut Eissa, tafsir modernis menghasilkan pemaknaan yang berbeda dari qawwamun. Al Hibri, misalnya, menjelaskan bahwa qawwamun bisa diartikan “pemberi arahan”. Farida Bennani juga menegaskan bahwa kata itu bukan berkaitan dengan kepemimpinan ataupun kontrol, tetapi lebih bermakna tugas, sehingga suami adalah “pembantu” bagi keluarganya, bukan pemimpin seperti yang selama ini banyak diyakini. Dengan menempatkan Surat An-Nisa’:34 dalam konteks ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an, Al Hibri berhasil menunjukkan bahwa tafsir tradisional terhadap ayat tersebut seringkali tidak konsisten dengan ayat-ayat lain yang mengedepankan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Al Hibri berargumen bahwa ayat tersebut dimulai dengan pernyataan umum, “laki-laki adalah qawwamun bagi perempuan”, dan diikuti oleh kondisi-kondisi yang mensyaratkan bagaimana laki-laki bisa menjadi qawwamun bagi perempuan. Kondisi-kondisi tersebut adalah ketika Allah membekali laki-laki dengan kemampuan yang mana kurang bisa dikuasai oleh perempuan dan laki-laki menggunakan uangnya sendiri untuk mencukupinya. Ketika kondisi itu bisa terpenuhi maka bolehlah laki-laki menawarkan nasehat atau arahan kepada perempuan. Meskipun laki-laki mempunyai uang yang cukup, tetapi peran yang ia jalani hanyalah peran untuk memberikan nasehat. Sayangnya, tidak semua laki-laki bisa memenuhi kondisi tersebut. Al Hibri menyimpulkan bahwa ayat tersebut mendeskripsikan kondisi perempuan pada abad ke-7 di mana secara finansial tergantung kepada laki-laki dan bukan untuk mengatur hubungan laki-laki dan perempuan. Dalam kondisi tersebut, laki-laki diberikan tanggung jawab, bukannya keutamaan, untuk mengarahkan atau menasehati perempuan tatkala mereka lebih mumpuni dalam hubungan dengan masalah tertentu.

Pembacaan tekstual terhadap dialog di atas menunjukkan bahwa laki-laki adalah makhluk yang berkuasa atas kehidupan keluarga sehingga ia bisa saja melakukan poligami karena mendapat ‘jaminan’ dari hukum agama. Namun demikian, seorang istri pertama bisa saja melakukan negosiasi untuk kepentingannya, meski akhirnya tetap tidak bisa menolak praktik poligami sang suami karena beragam pertimbangan, terutama kepentingan keluarga. Ketika menjadi bentuk filmis, adegan-adegan dalam scene ini berusaha menandakan bagaimana (1) usaha Pak Haji sebagai suami untuk meyakinkan Salma akan kebenaran poligami yang dilakukannya atas dasar agama dan (2) kesedihan serta negosiasi yang dilakukan Salma.

Deskripsi visual dari dialog di atas juga menarik untuk dicermati lebih lanjut. “Posisi duduk Pak Haji yang lebih tinggi” mempertegas kuasanya sebagai laki-laki dan suami yang berhak melakukan poligami. Dalam adegan di atas, Pak Haji mengambil “tempat duduk di pinggir bath up” yang memungkinkannya untuk menempati posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan Salma yang duduk di atas kursi. Dengan posisi duduk seperti ini, Pak Haji memiliki kuasa untuk mengendalikan percakapan. Sekuat apapun Salma mengutarakan keberatannya, Pak Haji tetap memiliki posisi bicara yang lebih leluasa, sehingga ia bisa mempertahankan pilihan untuk berpoligami dengan argumen relijius. Ia tetaplah laki-laki yang bisa menaklukkan kesedihan Salma dengan ketenangan dan kekuasaannya. Sementara, Salma adalah perempuan yang meskipun berhasil membuat aturan—“junub dua kali”—tetap tidak kuasa menolak poligami Pak Haji. Dengan demikian, unit naratif filmis tersebut menjadi submitos kuasa laki-laki, khususnya dalam poligami dengan dalil-dalil agamanya.

Demi mempertahankan keutuhan rumah tangganya, Salma, bahkan, berusaha ‘membela’ praktik poligami yang dilakukan Pak Haji, termasuk di depan Nadim maupun perempuan-perempuan lain yang tidak bersepakat dengan poligami. Berikut salah satu perbincangan Salma dengan Nadim.

Salma : (MS mereka berdua) Masyaalloh Nadim, Umi kan sudah bilang jangan tidur di sini. Udah segede gini, dimarahiin aba kamu.
Nadim : (MS mereka berdua) Dia juga nggak ada. Kok Aba sekarang kebanyakan di rumah uminya Icha sih Mi.
Salma : (CU beranjak hendak ke kamar mandi) Darimana kamu tahu? Kan dia juga punya bisnis ke Bali.
Nadim : (MS mereka berdua) Percaya gitu aja Umi ke dia ya?
Salma : (MS mereka berdua) Ya percayalah. (CU Nadim) Ya percayalah, istri masak nggak percaya sama suami. Mau jadi apa (Nadim bangun)
Nadim : (CU) Jangan-jangan si aba banyak pendatang baru tu Mi?
Salma : (MS Keluar dari kamar mandi, menggelar sajadah) Biarin deh. Yang penting mereka nggak ngganggu-nggangu kita.
Nadim : (MS mereka berdua, Nadim rebahan, Salma mengenakan mukena) Ntar kalau Nadim punya istri nggak mau cari yang kayak Umi ahh.
Salma : (CU) Apa, kok gitu? Sadis bener kamu sama Uminya.
Nadim : (CU) Aku baca di buku nih Mi, kalau yang namanya laki-laki itu lebih seneng dicemburuin dan dicurigain. Itu namanya cinta (CU Salma tertawa kecil).
Salma : (CU) Kamu jangan terlalu banyak baca buku. Bergaul sana, biar tahu apa rasanya cinta. Pagi-pagi ngomongin cinta.
Nadim : (CU) Jadi Umi nggak cinta nih ama Aba? (CU Salma memperbaiki mukena) Cinta apa nggak Umi ama Aba?
Salma : (CU) Kalau  nggak cinta, ya, nggak ada kamu. Sekarang sama tanya sama aba, cinta nggak dia sama Umi.
Nadim : (CU) Benar juga sih. Entar Nadim tanya sama Aba ahh.
Nadim : (CU) E, jangan, Umi bercanda kok. Kita nggak usah bikin hati aba nggak enak kalau di rumah ini. Udah wuduh sana.

Dalam kesempatan ngobrol dengan Nadim, Salma berusaha menunjukkan rasa cintanya kepada Pak Haji, bahkan setelah sepuluh tahun menjadi istri yang dimadu. Ia juga selalu berusaha mempercayai perilaku suaminya di luar rumahnya dan rumah istri keduanya. Kepercayaan dan cinta ini menandakan betapa meskipun mengalami rasa sakit akibat perilaku Pak Haji, ia tidak ingin berprasangka buruk kepada suaminya sendiri karena hal itu bisa berakibat buruk kepada perkembangan psikis Nadim kelak. Untuk mempertegas keyakinan itu, Salma bahkan berharap kepada Nadim agar bisa menciptakan suasana kondusif ketika Pak Haji berada di rumah. Itu semua ia lakukan demi kehadiran seorang suami dan bapak dalam rumah tangga.

BrS 2

Dalam kehidupan rumah tangga poligami, tindakan Salma menjadi sebuah kewajaran karena kenyamanan suami menjadi tuntutan penting agar ia bisa mencurahkan kasih sayang kepada istri pertama atau yang lebih tua serta anak-anaknya. Ketika ia merasa tidak nyaman, kemungkinan ia akan lebih memperhatikan dan mencurahkan kasih sayang serta cintanya kepada istri-istri lain yang secara fisik lebih muda. Istri pertama atau yang lebih tua jelas akan berusaha memberikan yang terbaik kepada suami demi kelangsungan rumah tangganya. Pada titik inilah dibutuhkan kesabaran dan pemahaman yang lebih dari istri pertama, karena mungkin hanya dengan kesabaran dan kenyamanan itulah sang suami bisa sepenuhnya memberikan tubuh dan pikirannya ketika ia berada di rumah. Tindakan itu sekaligus menunjukkan bhakti seorang istri kepada suaminya, meski ia harus menahan rasa sakit.

Untuk semakin memperkuat bhakti dan kesabarannya sebagai istri pertama, Salma, dalam kesempatan lain, juga menyampaikan kepada publik bahwa pilihan yang dia ambil untuk rela dipoligami sudah sesuai dengan hukum agama dan tidak ada persoalan dalam kehidupan rumah tangga, termasuk dengan anaknya. Salma, dengan demikian, sudah menjadi subjek yang dengan wajar—seolah-olah tanpa paksaan—mengikuti formasi diskursif tentang pengabdian istri kepada suami sekaligus bapak bagi anaknya. Peristiwa filmis berikut terjadi ketika Salma diundang dalam sebuah talkshow di sebuah stasiun televisi. Ia harus berdebat dengan Prof. Ani, seorang feminis.

Host : (CU) Tapi apa selama ini ada perasaan cemburu atau berontak terhadap suami.
Salma : (CU) Pada awalnya ada, tapi seiring waktu perasaan itu hilang (Nadim melihat dengan heran) Karena saya selalu kembali ke agama dan hidup sebagai muslimah yang baik.
Prof. Ani : (CU) Sebenarnya apa yang ada di agama itu tidak bisa kita artikan secara harafiah begitu saja. Ya mungkin zaman dulu banyak lelaki yang jadi korban perang. Intinya janganlah agama dijadikan pembenaran bagi lelaki yang tidak bisa mengontrol nafsu birahinya. (CU Salma)
Host : (CU) Seandainya suami anda terpilih menjadi caleg, berarti praktik poligami ini semakin terbuka kan? Tidak hanya artis atau pelawak yang melakukannya, namun politisi juga melakukannya. Nah, bukankah hal ini berarti kemunduran bagi kaum wanita (CU Salma)
Salma : (CU, ternsenyum) Tergantung dari mana kita melihatnya. Sekali lagi saya hanya berpegang kepada agama dimana jelas tertulis dalam Al Quran surat an nisa yang mengatakan bahwa kawinilah perempuan-perempuan lain yang kamu sukai (MS bertiga) dua, tiga, atau empat…
Prof. Ani : (Menyela, MS mereka bertiga) tapi ayat itu kan ada sambungannya (CU Prof Ani ) yaitu jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka seorang saja.
Host : (CU, mereka bertiga) Dan, selama ini suami anda berlaku adil?
Salma : (CU, mereka bertiga) Bisa dikatakan demikian.
Host : (CU) Bagaimana dengan anak-anak, apakah mereka menerima, dan bagaimana tanggapan mereka?
Salma : (CU) Anak saya baik-baik saja.

Talkshow di atas membahas isu politik berkaitan dengan caleg yang berpoligami. Sebagai seorang politisi dan pengusaha, karir Pak Haji terkait pencalonannya sebagai caleg bisa berada dalam kondisi kritis ketika isu poligami dikampanyekan dalam perspektif negatif. Maka, pengakuan Salma tentang keharmonisan dalam keluarga poligami merupakan senjata ampuh untuk menetralisir kemungkinan buruk yang terjadi sekaligus kembali mendongkrak citra politis Pak Haji di mata masyarakat. Salma, lagi-lagi, menggunakan dalil agama dan keharmonisan keluarga untuk melakukan pembelaannya. Ia mengakui bahwa pada awalnya memang sulit menerima praktik poligami, tetapi karena ia adalah seorang muslimah yang baik maka ia ikhlas menerima itu semua. Guna melengkapi pembelaannya, Salma berargumen bahwa kehidupan rumah tangganya tetap harmonis. Keharmonisan rumah tangga sekaligus menjadi argumen untuk mementahkan semua kritik terhadap dalil agama yang dilontarkan Prof. Ani.

Pembelaan yang dilakukan istri pertama terhadap praktik poligami suaminya, sering juga muncul dalam kehidupan masyarakat. Pembelaan tersebut menjadi penting karena berkaitan langsung dengan karir sang suami yang akan jatuh ketika dihujat dengan argumen-argumen negatif poligami. Pengakuan dan pembelaan istri pertama sebagai subjek yang paling menderita dari praktik poligami tersebut bisa menjadi counter terhadap semua tuduhan negatif, semisal yang berasal dari feminis anti poligami; sebuah proses normalisasi yang cukup berhasil karena istri sendirilah yang membela kepentingan poligami suaminya. Istri, dengan demikian, merupakan subjek yang dianjurkan untuk bersabar dan dengan tegas membela kepentingan suami apapun kondisinya, karena itu akan menunjukkan ketaatan kepada suaminya. Pembelaan istri merupakan kunci sukses bagi setiap laki-laki, apalagi ketika ia menghadapi masa-masa sulit. Realitas tersebut sudah menjadi sebuah kewajaran ideologis yang masih dan terus berkembang di dalam masyarakat.

Ketenangan ekspresi yang ditampakkan oleh Salma ketika memberikan penjelasan tentang poligami suaminya menandakan bagaimana sebenarnya ia bisa menerima apa-apa yang dilakukan oleh suaminya. Dengan tenang pula ia berusaha menjelaskan bahwa poligami bisa diterima dalam kehidupan sosial karena dalam kenyataannya ia sendiri merasa tidak ada masalah yang berat dalam kehidupan rumah tangganya. Kegigihan dan keseriusan Prof. Ani untuk menyanggah dan mengkritisi pernyataan-pernyataannya tidak mampu memancing Salma untuk bersikap emotif. Sebaliknya, ia tetap mengumbar senyum dan ketenangan. Dengan sikap tersebut, ia ingin menegaskan bahwa tidak ada masalah dengan poligami. Peristiwa ini dengan apik menghadirkan submitos kesabaran dan bhakti seorang istri kepada suaminya yang berpoligami, meskipun ia sendiri merasa kecewa atas perilaku poligami suaminya. Poligami merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan rumah tangga karena keluarga masih bisa berjalan dengan harmonis. Untuk menciptakan kesan keindahan dan kebahagiaan dalam keluarga poligami, maka istri pertama atau yang lebih tua harus mampu memunculkan sikap dan perilaku yang memihak suaminya sehingga ketika ada hal-hal negatif yang berkaitan dengan praktik tersebut karir suami tetap bisa terlindungi.

Submitos dan wacana ideologis dari pembacaan-pembacaan di atas memang merepresentasikan relasi kuasa hegemonik dari praktik poligami yang dilakukan seorang suami. Proses artikulasi dalam film ini, secara ideologis, menunjukkan perempuanlah yang harus selalu menyerahkan kehidupannya kepada suami, anak, dan keutuhan keluarga. Wacana ideologis keutuhan keluarga ternyata masih menjadi kebenaran yang harus dipertahankan oleh seorang istri, bukan oleh suami, sebagai tanda akan kesetiaan, ketaatan, dan pengorbanan yang banyak diwacanakan sebagai tanggung jawab seorang perempuan. Meskipun dalam artikulasinya terhadap perempuan sebagai istri pertama bersifat hegemonik, fragmen ini ternyata menggunakannya sebagai cerita latar yang menjadi rasionalisasi tujuan ideologis lain yang muncul dalam narasi berikutnya.

Kesabaran, kesetiaan, dan bhakti Salma kepada Pak Haji akhirnya membuahkan ‘hasil manis’. Ketika Pak Haji terkena stroke selama melakukan kunjungan ke korban tsunami di Aceh, ia memilih untuk tinggal di rumah Salma, tidak di rumah istri kedua ataupun ketiganya yang, tentu saja, lebih muda dan cantik. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Pak Haji tidak bisa menolak kenyataan Salma sebagai istri pertama yang telah memang terbukti lebih sabar dan perhatian sehingga ia memilih untuk tinggal di rumahnya. Bagi Salma sendiri, tentu saja, ini merupakan kemenangan karena akhirnya suaminya mau kembali ke rumah, meskipun dalam kondisi sakit parah. Namun demikian, kemenangan ini harus ia barengi dengan kesabaran untuk menerima istri kedua dan ketiga Pak Haji yang juga ikut merawat di rumahnya.

BrS3

Ia harus merelakan rumahnya dimasuki oleh ‘para pesaing’ yang sejak awal ia tolak kehadirannya dengan cara mensyaratkan Pak Haji junub dulu sebelum masuk ke rumahnya setelah datang dari rumah istri-istri lainnya. Kesabaran Salma diuji tidak hanya dalam hal memperbolehkan istri kedua dan ketiga Pak Haji serta anak-anaknya turut merawatnya di rumah, tetapi juga dalam hal memberi perawatan terbaik kepadanya. Salma memang sakit hati dan kecewa terhadap tindakan Pak Haji, tetapi ia terus berusaha mencurahkan kasih sayang istri kepada suaminya yang sedang sekarat. Ia juga selalu menampakkan senyum kepada istri kedua dan ketiga. Hal itu menandakan bahwa ia tetap ingin menghormati suami dan istri-istri mudanya sebagai tanda bhakti istri pertama.

Dari analisis di atas, bisa diketahui bahwa makna yang dihadirkan dalam kisah Salma adalah kesabaran istri pertama dalam praktik poligami. Submitos tersebut memberikan wacana ideologis tentang kesetiaan dan kesabaran istri pertama dalam memperlakukan suami yang sakit dan menerima kehadiran istri-istri yang lain. Dalam kondisi apapun ia harus memperlihatkan bhaktinya kepada sang suami. Dari sudut pandang kritis, pesan tersebut mengimplikasikan kekalahan dan ketidakberdayaan istri pertama dalam menghadapi tindakan poligami demi keutuhan keluarga, terutama anaknya yang membutuhkan figur bapak. Sejelek apapun tindakan suami, ia adalah figur yang harus dibela dan dihormati demi kutuhan institusi keluarga. Kekalahan dan ketidakberdayaan tersebut masih harus ditambah dengan kesabaran untuk ikhlas merawat suami ketika ia dalam kondisi sekarat.

Sebagai perempuan modern yang mandiri, perilaku Salma, sekali lagi, tentu mengundang pertanyaan: mengapa ia tidak memilih untuk bercerai dari suaminya? Secara ekonomi ia sudah mempunyai pekerjaan mapan yang memungkinkannya terlepas dari ikatan keluarga.[i] Yang harus dicatat adalah Salma merupakan stereotip perempuan modern yang masih memegang teguh norma ketimuran dan agama yang mengajarkan keutuhan keluarga. Ia tidak menuruti rasa sakit hatinya, tetapi lebih berpikir rasional bahwa figur bapak akan sangat berpengaruh kepada perkembangan pribadi seorang anak dan sangat menentukan bagi masa depannya. Dalam konteks itulah, Salma ingin mempertahankan pernikahannya karena ia sadar bahwa anak semata wayangnya jelas membutuhkan kehadiran bapaknya.

Dengan demikian, apakah Salma dan juga istri-istri pertama dalam praktik poligami di masyarakat tidak bisa melakukan resistensi terhadap hegemoni patriarki? Dari sudut pandang feminis radikal, jelas, Salma tetap terjebak dalam kuasa ideologis patriarki. Ia tidak bisa menggunakan kuasa intelektual dan ekonominya untuk melawan dan menuntut cerai dan lebih memilih untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada sang suami. Samahalnya Teh Ninin, yang meskipun seorang sarjana, tetap memilih mengikhlaskan A’a Gym melakukan poligami atas nama agama dan kemanusiaan—meskipun akhirnya ia diceraikan oleh ustadz “jagalah hati” itu. Pentingnya kehadiran figur bapak, sekali lagi, menjadi argumen yang menormalkan ketidakberdayaan dalam melawan praktik poligami, sehingga terus berlangsung dalam kehidupan masyarakat.

Salma memang tunduk secara diskursif dalam relasi kuasa laki-laki berbasis tradisi agama. Namun, menurut saya, dalam konteks fragmen ini, representasi subjektivitas Salma memberikan sudut pandang alternatif bahwa untuk melawan poligami secara radikal dalam sebuah tradisi besar yang sudah dipenuhi oleh kuasa patriarki merupakan pekerjaan yang sangat berat. Pada aspek inilah, kisah Salma berusaha menghadirkan perspektif lain dari kesabaran dan kesetiaan istri pertama; sebuah mitos kedua untuk menunjukkan betapa tetap ada kemenangan-kemenangan semiotik di balik kesetiaan dan kesabaran istri pertama dalam praktik poligami. Pertama, laki-laki—dalam hal ini suami—pada dasarnya tidak berdaya ketika dihadapkan pada kondisi-kondisi sulit, seperti sakit. Ia tidak kuasa untuk tidak kembali kepada figur yang setia dan sabar yang ada dalam diri istri pertama. Secara psikis, suami akan tetap mendambakan kehangatan cinta dan kesabaran istri pertama yang dengan setia dan telaten selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk suami. Kedua, usaha Salma untuk menunjukkan kesetiaan dan kesabaran kepada suami, terutama di hadapan Nadim, memberikan pelajaran yang cukup berharga kepadanya. Sejelek apapun bapak, ia dalah figur yang harus terus dihormati. Kesabaran Salma tersebut berhasil meluluhkan hati Pak Haji yang ternyata mengalami keruwetan dan konflik batin dalam menjalani kehidupan poligaminya, selain mampu menjadikan Nadim anak yang berbhakti kepada bapaknya dengan cara ikut merawat dan mendampingi Pak Haji hingga saat-saat terakhir sebelum meninggal.

Kesabaran Salma, konflik batin dan penderitaan fisik yang dialami Pak Haji, serta bhakti Nadim menjadikan Pak Haji, sebelum meninggal, berpesan kepadanya agar “tidak beristri lebih dari satu” karena itu semua hanya akan menimbulkan masalah dalam kehidupannya. Pesan tersebut merupakan wacana ideologis yang memposisikan poligami sebagai “tindakan yang tidak baik”. Salma memang tidak melawannya secara frontal, tetapi dengan kesabaran, kesetiaan, dan kasih sayang kepada orang yang telah menyakitinya. Apa yang membuat Salma bahagia dengan perjuangan dan resistensinya adalah bahwa Nadim telah mendapatkan pesan dan bekal penting dalam menjalani kehidupan rumah tangganya kelak: jangan berpoligami! Dengan demikian, kisah Salma dalam BS, meskipun tetap mengartikulasikan kuasa hegemonik laki-laki, tetap berusaha menunjukkan usaha melawan praktik poligami dalam resistensi yang mengedepankan semangat keibuan dan keperempuanan serta rasionalitas demi kehidupan masa depan anaknya yang diharapkan tidak berpoligami. Sebuah submitos kedua telah hadir, kesabaran istri yang menghasilkan pengakuan dan pesan dari suaminya agar anak laki-lakinya tidak berpoligami.

* Tulisan ini merupakan bagian dari tesis S2 saya di Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM dengan judul Perempuan dalam Layar Bergerak: Representasi Perempuan dalam Film Indonesia Era 2000-an (2008).

Catatan akhir

[i] Hal ini berbeda dengan istri kedua Pak Haji yang memang tidak mempunyai pekerjaan dan secara ekonomi bergantung sepenuhnya pada kekayaan Pak Haji. Sementara, istri ketiga yang lebih muda dari Salma dan istri kedua—seusia Nadim—mempunyai pertimbangan berbeda untuk menikah dengan Pak Haji. Dalam sebuah percakapan dengan Nadim (Scene 20), ia mengungkapkan jati dirinya sebagai aktivis LSM yang banyak menyuarakan pembelaan terhadap masalah sosial, termasuk perempuan. Sebenarnya, ia adalah tipe perempuan cerdas dan kritis serta sudah memiliki kemapanan ekonomi. Ia rela menikah dengan Pak Haji karena sebagai laki-laki Pak Haji mempunyai perbedaan dengan laki-laki lainnya. Bentuk filmis tersebut sekaligus menjadi submitos kedua yang mengkritisi para aktivis perempuan yang menjadi aktor dalam menyuarakan kepentingan sosial, tetapi ada sebagian dari mereka yang secara sadar menjadi subjek yang menikmati praktik poligami, meskipun si laki-laki secara usia jauh lebih tua. Hal serupa juga terjadi di kalangan selebritas perempuan yang dengan bermacam logika diskursif rela dimadu oleh laki-laki—yang tentunya kaya raya.

[i] van Leeuwen menjelaskan bahwa wacana yang ada dalam ucapan atau tulisan seseorang bisa mengandung usaha untuk memperoleh legitimasi terhadap apa-apa yang sudah dikerjakannya. Legitimasi dalam wacana yang disampaikan seseorang bisa dikelompokkan dalam empat kategori: (1) kekuasaan, legitimasi yang merujuk pada hukum, tradisi, dan kebiasaan, serta dari orang orang-orang yang memiliki kekuasaan institusional; (2) evaluasi moral, legitimasi yang merujuk pada sistem nilai moral; (3) rasionalisasi, legitimasi yang merujuk pada tujuan dan kegunaan tindakan sosial yang terinstitusionalkan  serta pada pengetahuan masyarakat yang mengkonstruksi validitas kognitif; (4) mitopoesis, legitimasi yang diungkapkan melalui narasi yang menghasilkan penghargaan terhadap tindakan legitimit serta menghukum tindakan non-legitimit. Lihat van Leeuwen, 2007: 92.

[ii] Dalam Al Qur’an sendiri, persoalan poligami sebenarnya  masih mengundang multitafsir. Surat An Nisa’: 3, menyatakan: “Dan, jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berbuat adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya yang kamu miliki.Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.” Ayat ini diturunkan karena dalam tradisi masyarakat Arab sebelum kedatangan Nabi Muhammad SAW, poligami sudah begitu kuat, sehingga perempuan benar-benar dieksploitasi semata-mata untuk kepentingan seksual laki-laki. Turunnya ayat ini sekaligus menandai pembelaan Islam terhadap kaum perempuan karena hanya memperbolehkan laki-laki menikahi tidak lebih dari 4 orang saja, dengan satu syarat yang begitu keras: jika bisa berbuat adil. “Adil” di sini bukan semata-mata persoalan pakaian, uang, rumah, tetapi juga berkaitan dengan persoalan kepuasan batiniah, salah satunya adalah perasaan istri dan juga kepuasaan seksual mereka. Allah memahami persoalan hubungan seksual sebagai titik kritis yang bisa menghadirkan ketidakadilan, sehingga dalam An Nisa’: 128, Allah menerangkan: “Dan jika perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau bersikap tidak acuh, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu memperbaiki dan memelihara dirimu dari nusyuz dan sikap acuh tak acuh), maka sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. Dilanjutkan pada ayat 129, “Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan-kecurangan), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Kedua ayat tersebut menyiratkan betapa susahnya berbuat adil terutama dalam hal hubungan seksual maupun menjaga perasaan para istri dalam keluarga poligami. Maka, poligami tidak bisa semata-mata dibenarkan ketika sudah mampu memberikan keadilan dalam hal material, tetapi hal emosional tidak terpenuhi secara adil. Untuk melaksanakan keadilan dalam hal emosional, terutama hubungan seksual, adalah sesuatu yang sangat sulit, bahkan mustahil. Lihat, Al Hikmah: Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surat An-Nisa’ ayat 3, 128, dan 129.

[i] Kasus yang bisa menjadi rujukan pengakuan tersebut adalah penuturan Teh Ninin, istri pertama Aa’ Gym (da’i kondang yang tenar dan populer di media karena kesejukan dakwahnya), yang mengaku rela suaminya beristri lagi dengan alasan untuk menjalankan amalan Islam. Pengakuan itu banyak disiarkan program infotainmen sehingga semakin meramaikan perdebatan seputar poligami. Aa’ Gym yang pada awalnya menganjurkan pembentukan keluarga sakinah dengan mencontohkan kehidupan keluarganya, ternyata tidak bisa untuk tidak tertarik dengan perempuan lain. Meskipun sudah menjadi janda, istri keduanya, jauh lebih muda. Ketika infotainmen mulai menyudutkan praktik yang dilakukannya, Teh Ninin membuat pengakuan di media dengan mengedepankan aspek keikhlasan atas praktik poligami tersebut.

[i] Puspo Wardoyo, pemilik beberapa rumah makan Ayam Bakar Wong Solo, misalnya, membuat Polgami Award yang memberikan pengargaan kepada laki-laki yang mampu menciptakan kehidupan rumah tangga sejahtera dengan banyak istri.

Pustaka Acuan

Al Hikmah: Al-Qur’an dan Terjemahannya.

Benard, Cheryl. 2003. Civil Democratic Islam, partners, resources, and strategies. Santa Monica: RAND Corporation.

Eissa, Dahlia. 1999. Constructing The Notion of Male Superiority over Women in Islam. Diterbitkan oleh Women Liwing Under Muslim Laws.

van Leeuwen, Theo, “Legitimation in discourse and communication”, dalam Jurnal Discourse and Communication, Vol. 1 (1), 2007.

Share This:

About Ikwan Setiawan 162 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*