30 HARI MENCARI CINTA: Ramai-ramai berburu lelaki

IKWAN SETIAWAN

 

30 Hari Mencari Cinta (Upi Avianto, 2004, selanjutnya disingkat 30HMC) merupaan film komedi yang menarik untuk dikaji. Film ini tidak menjadikan tema percintaan sebagai usaha untuk merepresentasikan subjek perempuan yang ditundukkan oleh laki-laki atas nama cinta, tetapi sebaliknya, merekalah yang secara aktif berusaha menemukan cinta subjek laki-laki, sebuah praktik yang sampai saat ini masih dianggap tabu dalam sebagian besar masyarakat Indonesia.

Untuk mengetahui detil permasalahan tersebut, maka dalam subbab ini saya akan mendasarkan analisis pada beberapa pertanyaan kunci, yakni: (1) bagaimana tokoh perempuan memaknai kehadiran laki-laki dan cinta?; (2) apa yang menyebabkan mereka merasa perlu mencari laki-laki dan cinta?; (3) bagaimana usaha mereka untuk mendapatkan laki-laki dan cinta?; (4) bagaimana konflik yang mereka alami dalam pencarian tersebut?; dan, (5) apakah mereka bisa mengendalikan permainan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut diperlukan karena sekilas film ini hanya mengeksplorasi pencarian cinta tiga orang mahasiswi dengan peristiwa suka dan duka yang menyertainya, sehingga terkesan tidak ada pertarungan ideologis yang menyertainya. Padahal apabila dilihat lebih jelih, ada persoalan-persoalan ideologis yang muncul dalam peristiwa-peristiwa filmis yang terjadi, termasuk alasan mereka untuk mencari laki-laki dan cinta.

Maria Agnes

Alasan mencari laki-laki dan cinta menjadi poin penting untuk menjelajahi keseluruhan narasi film ini dan pertarungan ideologis yang menyertainya. Mengapa? Karena pada awalnya, Gwen, Keke, dan Olin adalah mahasiswi yang terlalu asyik menikmati kehidupan mereka bersama dengan nuansa solidaritas dan keakraban tanpa harus diributkan dengan persoalan laki-laki dan cinta. Mereka mengisi hari-hari dengan canda-tawa di rumah kontrakan dan aktivitas kuliah. Mereka mempunyai keunikan masing-masing; Gwen, si tomboi, yang tidak suka ber-make up, Olin adalah gadis pesolek, sedangkan Keke lebih suka ke fitness. Awal keinginan mereka untuk mencari cinta dan laki-laki sebenarnya bisa dirangkum dalam tiga peristiwa yang ‘serba kebetulan’ yang mendasari tindakan-tindakan naratif berikutnya. Pertama, mereka melihat penampilan Barbara, salah satu kawan sekampus yang semakin seksi sehingga banyak dikerubuti para mahasiswa. Kedua, mereka menonton VCD Titanic yang sangat romantis dan menyedihkan. Di tengah kesedihan tersebut, Keke menyadarkan kedua kawannya bahwa mereka selama ini tidak mempunyai cowok. Saat itu pula, Keke melihat mahasiswi di depan kontrakan mereka sedang dijemput oleh pacarnya. Ketiga, ketika sedang menggunjingkan tubuh seksi Barbara, mereka didamprat olehnya dan dikatakan sebagai perempuan lesbi. Peristiwa terakhir itulah yang membuat mereka marah dan memutuskan untuk mencari laki-laki dan cinta serta mengalami peristiwa-peristiwa lain sebagai bagian praktik diskursif dari pencarian tersebut.

Mereka yang menggunjing tubuh dan seksualitas

Tubuh dalam banyak masyarakat, mengikuti perspektif Foucauldian, memang telah, sedang, dan akan terus menjadi objek menarik untuk diperbincangkan dalam ragam formasi diskursif; di dalam talkshow televisi, buku, majalah, tempat-tempat fitness, maupun film, baik yang menolak pewacanaan terus-menerus tubuh maupun yang menyikapinya dalam konteks analitis-klinis. Pengetahuan dan rasa ingin tahu akan tubuh telah menyebar menjadi kuasa yang cukup produktif, di satu sisi, dan mendisiplinkan (sebuah bentuk normalisasi), di sisi lain. Dalam narasi 30HMC, tubuh, pada awalnya, hadir dalam dua formasi diskursif yang saling kontradiktif satu sama lain: normalisasi (direpresentasikan oleh Barbara dan resistensi (direpresentasikan oleh Gwen dan Keke).

Wacana keseksian tubuh menghasilkan pengetahuan klinis tentang suntik silikon yang oleh banyak perempuan dianggap sebagai praktik yang benar dan wajar untuk menampilkan eksistensinya di hadapan laki-laki. Barbara dengan tubuh seksi, merupakan subjek hasil pendisiplinan tubuh dalam konteks keseksian yang menikmati perayaan tubuh sebagai arena untuk memperoleh penghargaan individual berupa kehadiran laki-laki yang dengan setia “memelototi” dan “mengikutinya”.[1] Demi memperoleh itu semua, ia harus mengikuti regulasi terhadap tubuh sebagaimana yang banyak dikampanyekan dalam media, semisal “suntik silikon” di payudara maupun pusat-pusat fitness dan pembentukan tubuh ideal.[2] Baginya, payudara seksi dengan suntikan silikon adalah sesuatu yang wajar demi menarik laki-laki dalam kuasanya. Sementara, Keke maupun Gwen cenderung menganggapnya sebagai praktik yang tidak perlu dilakukan. Tegangan-tegangan diskursif yang terjadi menarik untuk dianalisis guna mendapatkan gambaran bagaimana sebenarnya mereka memandang tubuh.

Di kantin kampus, Gwen (mengenakan topi dan mengenakan kaos casual berwana biru dan celana jin) dan Keke (mengenakan baju lengan pendek berwarna krem dan becelana jean) kaget melihat kedatangan Barbara dengan kedua temannya. Sementara, Olin bersikap cuek. Dia memakai kacamata dan mengenakan baju lengan pendek berwarna pink. Barbara mengenakan kaos tank top berwarna merah tampak memamerkan tubuh seksinya di depan ketiga sahabat itu. Ia ditemani dua sahabatnya yang juga mengenakan tank top, satu berwarna biru dan satu berwarna merah muda. Keke menampakkan muka sinis melihat penampilan Barbara tersebut. Barbara dikerubuti dua lelaki yang mempersiapkan tempat duduk dan membawakan tasnya, di depan kedua sahabatnya tersebut. Keke, Olin, dan Gwen mulai menggunjing Barbara. Gwen sampai harus menggambarkan besar ukuran payudara Barbara dengan kedua tangannya.

30 e

Sebelum masuk ke dalam analisis dialog yang terjadi di antara mereka, paling tidak, adegan di atas bisa memberi gambaran betapa kuasa tubuh menampakkan pengaruhnya, berupa respons yang diberikan ketiga sahabat tersebut. Kehadiran Barbara dan kawan-kawannya telah memberikan efek kaget kepada Keke dan kedua sahabatnya. Barbara dengan keseksian tubuhnya, terutama bagian payudaranya, begitu percaya diri—bahkan dengan “raut muka yang sedikit sombong dan pamer”—berjalan bersama kawan perempuan dan laki-laki “yang dengan setia mempersiapkan tempat duduk” dan “membawa tas”. Wacana posfeminis memang tampak hadir pada sosok Barbara, meskipun dalam adegan di atas lebih menandakan “usaha pamer tubuh seksi kepada perempuan lain” karena dengan sadar ia memang melihat ketiga sahabat itu. Sebagai praktik diskursif, adegan tersebut memunculkan wacana-wacana lain yang diperbincangkan oleh ketiga sahabat tersebut. “Keke dengan muka sinis”, “keseriusan Gwen dalam berbicara”, serta “obrolan di antara mereka bertiga” menunjukkan masuknya mereka ke dalam wacana tubuh Barbara. Pun wajah sinis Keke, tidak bisa menutupi realitas ketertarikan tersebut. Dengan bersikap sinis berarti ia sendiri telah memperhatikan dan membenarkan keseksian tersebut beroperasi ke dalam pikirannya.

Di kantin, mereka bertiga memperbincangkan Barbara.

Keke : (CU mereka bertiga) Ssst, Loe pada nglihat nggak sih, kayaknya ada yang beda ama Barbara?
Gwen : (CU) Dia sih emang “beda”. Beda kasta, beda aliran, beda negara, beda ideologi, beda cuaca, beda selera cowok, beda ukuran BH
Keke : (CU) Ah…ah. Gue tahu, her boobs, kayaknya tambah gede. Pasti suntik silikon. ( CU mereka bertiga. Gwen dan Olin kaget)
Olin : (CU mereka bertiga) Hah, masa, sih? (Ia berusaha lebih mengarahkan pandangannya dengan merubah arah duduk)
Keke : (MS mereka bertiga. Keke berusaha menariknya) Aduh, iiih, Olin, sekalian aja pake teropong biar dia ngerasa. Heran!
Gwen : (MS mereka bertiga) Kayaknya iya, ya?
Keke : (MS mereka bertiga) Nggak percayaan banget sih? (Bono lewat, Gwen memanggil, “No”)
Bono : (CU Bono dan Gwen) Hei Gwen, belum pesen minum, ya?
Gwen : (CU mereka berdua ) SSttt!! (Menarik baju Bono) Menurut Loe sebagai cowok, ada yang berbeda nggak sama Barbara (Mengarahkan wajah Bono ke Barbara. Cut to MS Barbara dkk)
Bono : (CU) Wow, Men!! Beda ama yang kemarin (Sambil memperagakan tangan di dadanya untuk membandingkan dengan payudara Barbara)
Gwen : (CU) Tu, kan, beda ama yang kemarin.
Olin : (CU) O, mungkin knock down kali, (Bono masih memperagakan dada Barbara) Jadi kemarin dia pake 36 D besok dia pake 36 F (Manajer memanggil Bono, mereka bertiga tertawa)

Pembicaraan tentang Barbara terus berlanjut ketika mereka berbelanja di sebuah minimarket.

Keke : (CU Keke dan Gwen) Gwen, Gue heran deh ngeliat cewek kayak Barbara gitu. Kayaknya dia demen digilain sama cowok-cowok sampe mesti suntik silikon segala.
Gwen : (CU Keke dan Gwen) Don’t keep banget, deh. Ngapain ngelakuin itu semua demi cowok.
Olin : (CU) Kalo gue, sih nggak apa sih sama yang namanya mempercantik diri, sah-sah aja. Banyak kok artis-artis yang sedot lemak, operasi idung (Keke dan Gwen terperanjat), bahkan suntik silikon buat nambah percaya diri (Gwen menunjuk payudara Keke). Penting tu.
Keke : (CU Gwen dan Keke) Ya iya, sah-sah aja. Tapi, helllooo. (CU Keke) Si Barbara kurang gede apanya lagi sih? Sampai musti suntik-suntik silikon segala. He, Loe nggak liat apa udah kayak balon begitu (sambil memperagakan dengan kedua tangannya). Ha..Kalah dong Pamela Anderson. (Menoleh ke Gewn, cut to CU mereka bertiga) He, nggak kalau kayak gue nih, papan penggilesan begini, itu baru mungkin.
Gwen : (CU) Tapi, ya, kalau gue jadi Barbara, daripada gue suntik silikon, mendingan gue cangkok otak biar nggak bego.
Olin : (CU mereka bertiga) Bego-bego gitu tapi, cowoknya banyak.
Gwen : (CU mereka bertiga) Pake susuk kali?
Olin : (CU mereka bertiga) Ah, sudah-sudah, malah ngaco gitu ngomongnya. Penting nggak ngomongin gituan….(Olin segera mengajak pergi ke tempat persewaan VCD)

Dalam konteks Barbara, sejenak narasi film ini mengajak kembali ke dalam wacana umum tentang subjek Indo, dalam hal perbedaan-perbedaan yang sudah biasa ada dalam masyarakat, seperti beda kasta, aliran, negara, ideologi, cuaca, selera cowok, maupun ukuran BH. Subjektivitas perempuan Indo yang dihasilkan dari perkawinan campuran, biasanya Eropa/Amerika dan Indonesia, kembali ditegaskan dengan stereopisasi keliyanan—baik secara ideologis, negara (maksudnya status kewarganegaraan), maupun ukuran fisik payudara—yang  menjadikannya sebagai  subjek “liyan” dalam konstruksi sosio-kultural-politis masyarakat Indonesia. Meskipun permasalahan Indo sebagai subjek liyan dengan segala asumsi-asumsi stereotipnya menjadi persoalan diskursif pada zaman kolonial[3] maupun saat ini,[4] perbincangan tersebut akhirnya hanya dibatasi pada persoalan fisik payudara dan kemampuan intelektualitas.

Pembatasan tersebut merupakan usaha naratif untuk mengembalikan pengetahuan tentang “tubuh perempuan seksi”. Apa yang dikatakan Keke, “Kayaknya dia demen digilain sama cowok-cowok sampe mesti suntik silikon segala”, dan Gwen, “Ngapain ngelakuin itu semua demi cowok”, merupakan wujud pandangan kritis mereka untuk menolak wacana tentang pendisiplinan dan perayaan tubuh seksi yang dewasa ini marak dalam kehidupan masyarakat. Kritik tersebut didukung dengan penalaran Keke yang menyanggah permissifitas yang diungkapkan Olin mengenai praktik tersebut: “Barbara kurang gede apanya lagi sih? Sampai musti suntik-suntik silikon segala. He, Loe nggak liat apa udah kayak balon begitu…Ha..Kalah dong Pamela Anderson”. Bentuk payudara yang sudah given tidak harus dipermasalahkan “kalau hanya untuk atau demi memperoleh perhatian laki-laki”. Pernyataan-pernyataan itu sekaligus menggugat pandangan posfeminisme bahwa tubuh berhak dimaknai kembali dalam konteks keseksian demi tujuan-tujuan politis yang dimiliki si empunya.

Gugatan akan praktik suntik Silikon berlanjut pada ejekan Gwen terkait dengan intelektualitas Barbara: “…kalau gue jadi Barbara, daripada gue suntik silikon, mendingan gue cangkok otak biar nggak bego”. Apakah benar Barbara sebagai perempuan Indo bego di kelas? Paling tidak, ungkapan Gwen sebagai teman sekelas mempertegas kebenaran itu. Apakah kritik terhadap ke-bego-an Barbara ditujukan kepada selebritas-selebritas Indo yang banyak dianggap sekedar menjual tampang? Mungkin terlalu jauh untuk menganggapnya demikian karena tidak semua selebritas Indo hanya menjual tampang tanpa adanya nalar intelektual. Apa yang dilontarkan Gwen merupakan kritik bahwa tidak semua perempuan Indo itu pintar sehingga tidak perlu bersikap inferior di hadapan mereka. Lontaran resisten tersebut sebenarnya masih berpusat pada persoalan tubuh liyan Barbara. “Resistensi lewat ngrumpi” yang terjadi tetap berada dalam medan diskursif tubuh seksi. Betapapun kaya makna yang ada dalam adegan dan dialog di atas—dengan beragam kemungkinan wacana dan pengetahuan yang ada di dalamnya—bentuk filmis yang ditampilkan, tetap menandakan “ketertarikan” dari ketiga sahabat itu, meskipun dilakukan dengan obrolan yang resisten (Keke dan Gwen) ataupun yang memaklumi (Olin).

Dengan penandaan tersebut, submitos yang muncul adalah tubuh seksi perempuan (silikon) yang membuat perempuan lain tertarik, meski harus resisten (submitos kedua). Apa yang menarik dari kemunculan submitos tersebut adalah bahwa tubuh seksi (silikon), sampai dengan adegan dan dialog di atas, tidak sepenuhnya menjadi orientasi dari perempuan-perempuan muda, mahasiswi misalnya, karena masih banyak cara lain untuk menghasilkan tubuh cantik dan seksi, semisal dengan fitness maupun pergi ke salon-salon kecantikan, meskipun tetap tidak bisa membebaskan perempuan dari praktik diskursif pengetahuan tentang tubuh seksi dan cantik.

Meskipun ketiga sahabat itu memiliki cara baca kritis terhadap perilaku Barbara untuk menggaet laki-laki dengan payudara silikon, mereka tetaplah “perempuan-perempuan cengeng”. Keke berusaha menyadarkan mereka tentang kehidupan mereka yang selama ini sangat sepi tanpa kehadiran laki-laki, bahkan di malam minggu yang biasanya mahasiswi mendapat kunjungan atau diajak kencan oleh laki-laki yang mereka cintai. Satu-satunya laki-laki yang hadir di dunia mereka adalah Bono, tetangga dan pelayan di kantin. Bahkan, Keke berusaha menjelaskan secara dramatis perihal kesendirian dan kesepian itu, “Loe pernah ngitung nggak sih, udah berapa ratus atau ribuan malam minggu yang kita lewatin bertiga di rumah nonton VCD doang?”, serta secara ironis membandingkannya dengan cewek-cewek lain, “Sementara cewek-cewek kayak kita lainnya pergi ke luar. Nge-date sama cowoknya, dinner sama cowoknya, nonton sama cowoknya. Coba deh, Loe inget-inget, kapan sih Loe terakhir kalinya nge-date sama cowok, makan malem berdua ama cowok deh, kalo nggak terakhir kalinya Loe dicium sama cowok? Loe nggak inget, kan? Saking kelamaannya. Loe berdua pernah nyadar nggak sih, kalo hidup kita tu ndak normal. Cowok yang pernah ketemu kita siapa?” Dari balik jendela, Keke, mengenakan tank top, mengelus dada dengan kedua tangannya sambil dengan muka memelas menatap seoarang mahasiswi di depan kos yang tengah dijemput kekasihnya. Gwen dan Olin menyusul Keke, bertiga mereka dengan muka melas melihat mahasiswi dan kekasihnya. Seorang mahasiswi dijemput kekasihnya. Sebuah mobil parkir di depan tempat kos mahasiswi itu.

Wacana pendetilan, pembandingan, dan dramatisasi peristiwa yang dilakukan Keke, menandakan dengan apik fakta kesepian hidup—meskipun mereka bertiga selama ini sudah mengisi hari-hari dengan solidaritas penuh keceriaan—tanpa kehadiran laki-laki. Kehadiran laki-laki, lagi-lagi, menjadi penanda eksistensial bagi keindahan hidup perempuan. Sampai-sampai mereka sangat melas ketika dari balik jendela melihat seorang mahasiswi yang dijemput kekasihnya. Proses pembandingan ini menjadi “tahapan cermin”[5] yang membentuk kesadaran baru dalam diri mereka bahwa hidup mereka tidak berjalan secara wajar di tengah-tengah pengetahuan konsensual tentang indahnya hubungan laki-laki dan perempuan. Mereka selama ini seperti mengalami keterasingan dari kehidupan normal; kemana-mana bertiga tanpa kehadiran laki-laki. Dari peristiwa naratif tersebut, saya melihat munculnya identifikasi diri sebagai subjek liyan melalui mekanisme pembandingan dengan subjek yang dianggap normal, meskipun lingkungan tempat tinggal mereka tidak pernah menjustifikasi mereka sebagai liyan. Sebenarnya mereka bisa saja memilih tetap menjadi subjek mandiri yang resisten terhadap semua batasan-batasan kenormalan, tetapi ketika mengetahui fakta “ndak normal”, mereka mulai meragukan subjektivitas yang dipilih selama ini; sebuah ketakutan untuk menjadi liyan.

Ketakutan untuk menjadi liyan kembali menguat ketika di kantin tempat mereka biasa berkumpul, ketika ketiga sahabat itu mendapat hinaan dari Barbara sebagai lesbian. Mendapat perlakukan tersebut, mereka marah. Bahkan, Gwen, si tomboy, memukulnya hingga pingsan. Lesbian, dengan demikian, menjadi “praktik seksual yang dianggap tidak wajar” dalam pandangan ketiga sahabat tersebut. Saya membaca ketakutan dan kemarahan tersebut sebagai pilihan dari narasi film ini untuk bersepakat dengan wacana ideologis konsensual dalam masyarakat yang memposisikan lesbian atau secara umum homoseksualitas sebagai praktik terlarang, meskipun di sebagian negara Barat sudah menjadi pilihan seksual yang legal. Pilihan narasi film ini berarti bersepakat dengan sistem dan struktur masyarakat heteroseksual yang mengidealisasi keharmonisan hidup antara laki-laki dan perempuan.

Homoseksualitas memang tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang wacana dan pengetahuan tentang “seksulitas pinggiran, bukan utama” yang berlangsung dalam berbagai masyarakat, baik melalui dogma agama, norma dan nilai sosial, maupun observasi medis/psikoanalisis. Dalam mengkaji persoalan homoseksual di Eropa, Foucault membuat satu kajian yang menarik, meskipun menggunakan contoh kaum gay. Terkait seksualitas pinggiran, Foucault (1998: 42-43) melihat adanya tahapan diskursif, dari pelarangan praktik-praktik tersebut melalui kode-kode kanonikal maupun masyarakat kuno yang, menuju “inkorporasi dari penyimpangan dan spesifikasi baru dari individu-individu”. Inkorposari penyimpangan dan spesifikasi indidividu merupakan “bentuk baru pelecehan” terhadap praktik seksualitas periperal yang menjelma sebagai kuasa baru dalam menilai seksualitas masyarakat. Dalam perkembangan kontemporer, minoritas lesbian menjadi wacana baru bagi pemikir dan aktivis feminis/lesbian untuk memperoleh hak-hak sebagaimana warga negara lain, terkait persoalan politik maupun hukum. Hal ini merupakan bentuk baru untuk memperjuangkan eksistensi warga negara lesbian dalam konstalasi dan kontestasi kehidupan bernegara. Richardson (2000: 263-264) mencatat beberapa perkembangan wacana yang diusung para pemikir feminis/ lesbian dalam kaitannya dengan perjuangan warga negara lesbian. Pertama, berkaitan dengan perilaku ketidakadilan yang diperoleh warga negara lesbian. Yang banyak menjadi bahan kajian adalah bagaimana dan dengan cara apa kaum lesbian diperlakukan dalam sistem hukum dan kesejahteraan. Adapun gerakan politis yang paling banyak dilakukan adalah untuk memperjuangkan hak mereka agar bisa menikah ataupun mengadopsi anak status homoseksual mereka. Kedua, berkaitan dengan usaha untuk mengusahakan hukum ala lesbian karena kebanyakan hukum negara tidak memihak kepada kaum lesbian.

Dalam masyarakat Indonesia sendiri, ideologi keluarga heteroseksual sudah dianggap sebagai kebenaran, sehingga praktik lesbian dengan beragam argumennya, baik berkaitan dengan persoalan orientasi seksual maupun penyakit psikis, masih diyakini sebagai tindakan yang tidak seharusnya dijalani oleh perempuan. Penyebaran pengetahuan tersebut secara transformatif ke dalam kesadaran sosial masyarakat menjadikan homoseksual sebagai seksualitas liyan yang harus “dijahui”, “ditakuti”, dan “jangan dijalani”, meskipun sampai sekarang tidak ada hukum yang melarang praktik lesbian. Blackwood (2005: 227-228) menjelaskan bahwa wacana negara tentang seksualitas Indonesia memang tidak mengatur secara langsung persoalan homoseksualitas, tetapi melalui penciptaan warga negara normal yang mempunyai kemampuan reproduksi.  Sejak kemerdekaan, negara tidak pernah menghasilkan hukum yang secara tegas melarang praktik seks transgender ataupun sesama jenis kelamin. Bahkan, meskipun pada masa kolonial Belanda aktivitas seks sejenis dilarang, tetapi hal itu lebih ditujukan untuk warga negara Belanda atau Eropa lainnya. Meskipun tidak dilarang, tetapi wacana yang dibangun negara dengan basis reproduksi maupun agama/moralitas ternyata berhasil menjadikan lesbian sebagai pengetahuan dan praktik yang harus dijauhi. Komentar-komentar ulama atau pejabat publik dalam kesempatan tertentu juga ikut mempengaruhi penyebaran pengetahuan tersebut sehingga menjadi wacana-wacana baru dalam masyarakat. Akibatnya, mereka yang menjalani lesbianisme selalu menjadi subjek liyan yang di-minor-kan dan kalaupun ada selalu dipinggirkan dalam wacana publik.

Ketakutan dan kemarahan ketiga sahabat tersebut ketika dikatakan lesbian menghadirkan submitos lesbian sebagai yang terlarang. Adegan-adegan sedih yang dibalut dengan komedi menjadi begitu natural dan tidak menggurui serta berhasil menyampaikan pesan ideologis bahwa lesbian memang sudah sewajarnya dijauhi karena menyimpang dan tidak normal dari wacana dan praktik konsensual yang ada dalam masyarakat Indonesia. Kehadiran laki-laki merupakan satu kodrat yang tidak mungkin ditolak karena ia bisa menghadirkan hidup yang lebih berwarna bagi kaum perempuan, dari kelas sosial bawah hingga menengah ke atas, seperti para mahasiswi dalam film ini. Dengan demikian, meskipun hanya melalui adegan-adegan kecil—atau bisa dikatakan ‘adegan pembuka’ sebelum sampai kepada inti cerita—30HMC berhasil menjadi aparat diskursif untuk menyebarkan hegemoni ideologi heteroseksual ke dalam kesadaran para perempuan muda, sekaligus memasukkan mereka ke dalam kompleksitas cinta dengan laki-laki.

Laki-laki dan cinta sebagai taruhan

Nyatanya, cinta dan kehadiran laki-laki memang tetap menjadi orientasi bagi sebagian besar perempuan Indonesia yang masih menjunjung tinggi relasi heteroseksual dalam kehidupan mereka. Paling tidak, apa yang terjadi dengan ketiga sahabat dalam film ini merepresentasikan kebenaran wacana ideologis tersebut. Karena ketakutan dikatakan lesbian, mereka bersepakat pada sebuah malam minggu pergi ke diskotik untuk “mencari cowok”. Bahkan, sebelum ke diskotik, mereka melakukan persiapan-persiapan untuk mempercantik diri agar tampak seksi, dari make-up hingga memasang penyubal pada payudara (Keke) agar kelihatan lebih besar. Mereka yang pada awalnya mengejek tubuh seksi (silikon) Barbara, ternyata harus melakukan proses peniruan, meskipun tidak sepenuhnya sama. Artinya, mereka sebenarnya tidak bisa melepaskan diri dari pengetahuan tubuh seksi sebagaimana yang direpresentasikan Barbara.

Mereka memang tidak menggunakan silikon seperti Barbara, tetapi hal itu  tetap saja tidak bisa melepaskan mereka dari kuasa diskursif tubuh; bahwa tubuh seksilah yang akan menarik perhatian laki-laki. Mereka melakukan beberapa tindakan pendukung untuk memperindah dan mempercantik diri dengan penuh kesadaran dan rasa senang. Keke mengajari Gwen cara make up yang agak njlimet, seperti “memoles alis mata”, karena selama ini ia memang tidak pernah melakukannya. Selain itu, keseriusan Keke dan dan Olin untuk mengajari Gwen cara berjalan sesuai dengan gaya feminin sampai-sampai harus meletakkan beberapa buku di kepalanya menunjukkan bahwa penampilan feminin masih sangat dibutuhkan agar laki-laki bisa terpikat. Cara berjalan Gwen yang mirip lelaki tentu tidak menarik sama sekali bagi pandangan laki-laki. Usaha Keke untuk menyubal payudaranya semakin mempertegas kebenaran bahwa ia juga ingin memiliki payudara besar. Ia memahami pandangan tertarik laki-laki tetaplah tertuju pada payudara yang sensual. Mereka bertiga juga kompak untuk berlatih menari ala diskotik agar terbiasa dengan tradisi kaum muda yang biasa menghabiskan malam di diskotik. Bukankah itu semua merupakan usaha untuk lebih menarik perhatian laki-laki? Semua idealisme mereka sebagai ‘mahasiswi baik-baik’, dalam artian tidak terlalu menghiraukan penampilan seksi, menjadi sejarah lampau yang tidak harus diingat-ingat. Bentuk adegan tersebut berhasil menghadirkan submitos tubuh seksi sebagai kekuatan perempuan.

30 c

Apa yang mereka lakukan dengan pergi ke diskotik merupakan “usaha kreatif dan berani” dari perempuan untuk masuk ke dalam ruang-ruang dugem Jakarta, demi mendapatkan cowok. Keberanian ini merepresentasikan kekuatan perempuan untuk mendefinisikan dan memaknai-kembali kehadiran laki-laki ke dalam perspektif mereka sendiri. Mereka tidak harus pasif menunggu kehadiran laki-laki dan harus berani mencari serta menemukan mereka, meskipun harus masuk ke dalam ruang diskotik. Kenyataan bahwa mereka gagal di diskotik adalah sebuah awal untuk memulai strategi baru dalam “berburu cowok”. Mereka akhirnya bertaruh selama tiga puluh hari untuk mencari pacar; yang kalah akan mengurus semua pekerjaan yang berhubungan dengan rumah kontrakan.

Dalam beberapa scene berikutnya digambarkan bagaimana kelucuan-kelucuan terjadi selama ‘masa perburuan’ itu. Mereka bertiga meminta bantuan Bono untuk mencarikan kriteria cowok yang sesuai, tetapi semua cowok yang datang tidak sesuai kriteria. Akhirnya, mereka bertiga menemukan laki-laki yang mampu membuat mereka benar-benar berharap bisa menghadirkan cinta. Keke menemukan Brian, laki-laki maniak seks. Olin tertarik kepada Erik, seorang laki-laki yang gemar pergi ke salon. Sedangkan, Gwen mencoba kembali menjajagi hubungan dengan Excel, cowok band beraliran rock, mantan pacarnya yang tidak suka mandi. Kehadiran ketiga cowok tersebut benar-benar mampu memberi warna bagi hari-hari ketiga sahabat tersebut.

Keke, misalnya, harus berusaha mengendalikan nafsu seks Brian yang menggebu-gebu, meskipun Brian selalu berusaha untuk memberikan penjelasan-penjelasan tentang pentingan hubungan seksual dalam cinta. Brian berusaha keras menegaskan bahwa hubungan seksual merupakan “satu momen penegasan sebelum membuat komitmen cinta”.[6] Terlepas dari hasrat seksual tersebut, Keke telah benar-benar jatuh cinta sehingga ketika mengetahui bahwa Gwen sedang asyik melayani telepon dari Brian, ia marah. Begitupula ketika Keke memergoki Brian yang berusaha merayu Olin dengan alasan akan mengajari cara berciuman. Peristiwa-peristiwa itu membuat hubungan mereka renggang. Menjelang hari H, Keke yang sudah terlanjur cinta dan juga tidak ingin kalah dalam taruhan, mulai terpengaruh ajakan berhubungan seks. Ia membaca buku Kamasutra yang mengajarkan seni bercinta ala India.  Bahkan ia, dengan sedikit menyamar, membeli kondom di tempat perbelanjaan di mana Bono menjadi pelayannya.

Sementara, Gwen bergaya layaknya rocker, sebuah gaya yang disukai oleh Excel. Ketika Keke mengingatkannya, ia berusaha tetap membela penampilannya dan perilaku Excel. Menjelang malam penegasan cinta ia berusaha memantapkan hati dengan gaya rambut dan dandanan barunya yang nge-rock, meskipun awalnya ia sendiri juga agak risih. Apa yang dilakukannya menandakan satu perubahan dari Gwen awal yang cenderung tomboy.

Hal yang tidak kalah heboh justru dialami Olin, yang sebelumnya digambarkan sebagai perempuan yang pendiam. Kesamaan dalam hal kebiasaan ke salon dan selera seni—mereka berdua suka menonton Meteor Garden—menjadikan Olin tidak bisa menutupi cintanya kepada Erik. Saking cintanya, ia rela mendorong mobil Erik ketika mogok dan beberapa kali berusaha agar Erik mau menciumnya, meskipun Erik tidak mau melakukannya. Bahkan, ia berlatih ciuman dengan “bantal” dan “tomat” agar bisa memperoleh ciuman yang istimewa dari Erik di malam pembuktian cinta.

Pertengkaran dan ‘perubahan aneh’ tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya mereka sudah larut ke dalam “hasrat untuk dicintai dan mencintai” sehingga batas-batas yang memperkuat citra mereka sebagai ‘perempuan baik-baik’ menjadi kabur. Fakta tentang solidaritas di antara mereka menjadi terganggu karena kehadiran laki-laki dan cinta, sebagai id, sehingga mereka kurang memperhatikan fungsi ego dan mengesampingkan peran superego di dalam diri masing-masing.[7] Hasrat untuk dicintai dan mencintai telah mengganggu kesadaran dan kejernihan pikiran mereka sebagai sahabat yang sudah lama membangun keakraban. Kemauan dan kerelaan “Olin untuk dicium Erik dan mencium guling serta tomat sebagai latihan”, kenekatan “Keke membaca Kamasutra”, dan kegembiraan Gwen untuk “menjadikan dirinya nge-rock” juga menandakan kekurangmampuan mereka dalam mengendalikan pikiran dan kebiasaan mereka untuk menghadapi kehadiran cinta dan laki-laki. Namun demikian, apapun efek negatif dari perubahan mereka, toh, mereka tetap menikmatinya—tanpa beban dan penuh keceriahaan—karena cinta telah menunggu pada malam pembuktian. Dengan penggambaran bentuk-bentuk tadi, submitos cinta dan laki-laki bisa membuat perempuan berubah hadir secara wajar. Submitos tersebut berjalin-kelindan dengan realitas di mana perempuan sangatlah rentan terhadap persoalan cinta karena mereka bisa saja melakukan hal-hal negatif yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan. Betapa banyak perempuan pelajar maupun mahasiswa yang hamil di luar nikah maupun melakukan tindakan-tindakan destruktif lain seperti mengkonsumsi narkoba dan lain-lain.

Namun demikian, di balik semua perubahan sikap dan perilaku, sebenarnya perempuan masih mempunyai kekuatan untuk melawan terhadap ajakan maupun rayuan laki-laki yang hanya ingin mengambil keuntungan dari kelemahan perempuan. Mereka sebenarnya masih mempunyai rasionalitas di balik ketidakberdayaan mereka. Ketika menyadari kuatnya hasrat seksual Brian, Keke berusaha mengembalikan kesadaran rasionalnya untuk mengatakan “tidak” pada hubungan seksual. Keberanian tersebut sekaligus menandakan satu penolakan terhadap normalisasi seks ketika pacaran yang memang lebih banyak memberikan keuntungan untuk peneguhan kuasa laki-laki. Meskipun di Indonesia realitas seks pranikah sudah mulai berkembang dalam kehidupan perempuan muda/remaja, praktik tersebut secara konsensual tetap dianggap sebagai tindakan yang menyimpang dari ajaran moral. Dalam konteks tersebut, film ini, melalui penandaan-penandaan mitis, memang memproduksi kembali kode-kode moral dalam masyarakat yang masih menganggap tabu kebebasan seksual dalam narasi film ini.

Di kamar Brian. Dia sudah bersiap-siap di ranjang, membuka baju dan tinggal mengenakan celana pendek. Keke datang dengan muka sedih.

Keke : (CU) Kayaknya selama ini aku tolol banget deh, kemakan sama semua rayuan kamu. Sampai aku berantem sama temen-temen aku cuma gara-gara kamu. Tapi aku lebih bego lagi, kalau aku sampai mutusin untuk have a sex sama kamu. Cinta bukan alasan untuk berhubungan seks. Selama ini (CU mulai sedih), kamu nggak cinta sama aku kan?
Brian : (CU masih tidur-tiduran di ranjang) Aku cinta sama kamu, Ke.
Keke : (CU mulai nangis) Cinta itu sungguh setia dan tulus, nggak pake persyaratan segala. (Pergi meninggalkan Brian yang sendiri memanggil-manggil).

Keberanian meninggalkan laki-laki yang semula dicintai juga dilakukan oleh Gwen ketika menerima kenyataan bahwa ia harus menunggu selama tiga jam di kafe, tetapi Excel tidak datang juga.

Di sebuah taman kota. Gwen berhenti ketika mengetahui kehadiran Excel yang kelihatan tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Gwen : (CU marah) Kamu tau nggak sih, aku tu sudah nungguin kamu tiga jam. Kamu datang kayak nggak ada apa-apa. Nggak ada apa-apa. Nggak ada perasaan bersalah. Nggak minta maaf. (CU Excel) Kamu bisa bayangin nggak sih perasaan aku tadi kayak gimana? (CU Gwen) Kalau kamu punya perasaan dan sadar, nggak bakal selama ini kamu mikirnya. Aku nyesel udah nyangka kamu sudah bisa berubah. (mulai sedih)
Excel : (CU) Gwen, aku mau berubah, Gwen. Serius! (CU Gwen mulai menangis cut to Excel malah tertawa) Ha, ha, ha, tapi aku nggak tau mau berubah jadi apa?
Gwen : (CU marah) Kepala kamu itu selain ketombe ada otaknya nggak, sih? Kamu tu harus belajar ngehargain perasaan orang lain. (Pergi meninggalkan Excel yang memanggil-manggilnya, sejenak berhenti)
Excel : (U Gwen) Gwen ayo dong jangan marah-marah gitu. Kamu kan belum denger lagu Salju ciptaanku. (Gwen menghampiri Excel lagi)
Gwen : (CU) O, iya, satu lagi. Aku tu nggak suka ngelihat poni aku kayak gini. Nggak tau kenapa aku mesti ndengerin kamu. (Ia ingin pergi, Excel memanggil-manggilnya lagi. Ia menghampirinya lagi, menangis) Kenapa sih kamu nggak bisa ngertiin aku sedikit aja, sedikit aja. Aku nggak minta banyak kok. (Kali ini dia bener-bener pergi, meninggalkan Excel yang berteriak-teriak memanggilnya)

Keputusan Keke dan Gwen untuk meninggalkan laki-laki tersebut merupakan bentuk keberanian dan kesadaran perempuan ketika mendapatkan kenyataan pahit dari kehadiran laki-laki. Kedewasaan mereka untuk bernegosiasi terhadap kuasa patriarki juga menarik untuk dicermati. Mereka tidak serta-merta melawan secara frontal, tetapi dengan memberikan alasan-alasan logis untuk kemudian meninggalkan para laki-laki tersebut, sendirian. Keke dengan tegas mengungkapkan bahwa “cinta bukan alasan untuk berhubungan seks”. Penolakan tersebut sekaligus menjadi praktik resistensi kepada wacana ideologis dan praktik pembebasan seksualitas perempuan. Memang, hubungan seks yang dilakukan perempuan dengan laki-laki bisa jadi menunjukkan kebebasan mereka dalam merayakan hasrat manusiawi yang selama ini banyak dikekang tabu dan norma, tetapi apalah arti sebuah kebebasan ketika mereka harus menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki yang hanya ingin menikmati tubuh atas nama cinta? Dengan demikian, penolakan Keke merupakan nilai tawar perempuan untuk menjaga kehormatannya sebagai seorang manusia serta membebaskannya dari kuasa laki-laki yang mengatasnamakan cinta dan kebebasan seksual.

Sementara, Gwen memberikan alasan betapa Excel “tidak pernah belajar untuk berubah dan menghargai orang lain”, meskipun “hanya sedikit saja”. Ungkapan tegas Gwen itu menunjukkan bahwa ia mempunyai prinsip yang kuat dalam konteks hubungan yang berimbang dan setara. Pada dasarnya, hubungan perempuan dan laki-laki tidak membutuhkan syarat yang rumit, kecuali saling pengertian, tetapi Excel sebagai laki-laki memang mau menang sendiri dan tidak mau memberikan sedikit penghargaan kepada Gwen. Dalam kondisi tersebut, sangat tidak menguntungkan bagi seorang perempuan untuk mempertahankan hubungan. Apakah ini berarti perempuan mempunyai kekuatan dalam memaknai sebuah hubungan? Iya. Wacana ideologis yang dihadirkan memang lebih menekankan kekuatan dan keberanian perempuan untuk meninggalkan laki-laki ketika sudah tidak bisa lagi memberi arti dalam kehidupannya. Sudah bukan zamannya lagi perempuan harus sabar dan selalu mengalah demi cinta yang tidak pernah jelas.

Keke dan Gwen memang sedih dan menangis ketika melakukan resistensi tersebut, tetapi ungkapan-ungkapan yang keluar justru menandakan betapa perempuan di balik semua tangis dan kesedihannya memiliki kedewasaan dalam berpikir di bandingkan laki-laki yang hanya ingin menang sendiri. Penggunaan kata “Aku” dan “Kamu” ketika mereka menegaskan sikap menggantikan kata “Gue/Gua” dan Loe yang biasa mereka pakai dalam percakapan sehari-hari, juga menandakan ketegasan dan keseriusan—tidak main-main—kepada laki-laki dalam hal persoalan-persoalan prinsip. Meninggalkan pasangan masing-masing berarti juga meninggalkan “ruang-ruang kebebasan semu” yang cenderung mengekang dan mengeskploitasi mereka dalam relasi kuasa laki-laki.

Sementara, Olin memang tidak harus melakukan resistensi seperti yang dilakukan oleh kedua sahabatnya karena ia menghadapi realitas bahwa Erik tidak mempunyai ketertarikan terhadap perempuan. Dia seorang gay. Menghadapi realitas itu, Olin hanya bisa sedih karena perjuangan cintanya harus kandas. Namun, Olin juga tidak harus marah kepada Erik, karena orientasi seksual merupakan pilihan personal yang dilandasi bermacam faktor. Tangisannya bukanlah satu bentuk penyesalan kenapa lelaki yang dicintainya berorientasi seksual demikian. Tangisan itu adalah bentuk kesedihan karena ia harus gagal mendapatkan cinta.

Submitos yang hadir dalam adegan-adegan di atas masih menunjukkan kelemahan perempuan, yakni perempuan pada dasarnya cengeng. Namun, ketika mereka bisa melakukan negosiasi untuk keluar dari jebakan diskursif laki-laki meskipun dengan menangis, maka hadir submitos kedua rasionalitas perempuan di balik kecengengannya. Tangis perempuan yang selama ini menjadi stereotip kecengengan merupakan representasi yang terus-menerus diproduksi dan dihadirkan ketika laki-laki mengartikulasikan perempuan dalam jagat fiksional sastra ataupun film. Tangisan seperti sudah menjadi budaya perempuan yang terus bertransformasi, bahkan dalam narasi film yang semestinya menunjukkan kekuatan perempuan. 30HMC memang kembali memproduksi representasi stereotip dari budaya tersebut, tetapi tetap berusaha menegosiasikan kekuatan nalar perempuan di balik tangis tersebut. Artinya, problem representasi resisten perempuan bisa jadi tidak harus menghilangkan karakteristik yang sudah ada, tetapi dengan memberikan penekanan lain yang berkaitan dengan masalah tersebut. Lebih dari itu, tangisan dalam film ini mewacanakan satu pemahaman kritis, bahwa boleh saja perempuan menangis sebagai pelampiasan kesedihan, tetapi mereka tidak harus larut dalam tangisan tersebut karena ada kekuatan dan prinsip yang masih harus diperjuangkan demi melawan kesewenang-wenangan yang diperbuat laki-laki. Mereka harus bangkit kembali demi melakukan sesuatu yang lebih baik bagi kehidupan dan cinta mereka di masa depan.

Dalam sebuah adegan Gwen dan Olin saling menyandarkan kepala masing-masing, mereka menangis. Keke juga bersedih, tetapi mencoba untuk mengajak mereka tersenyum. Mereka bertiga saling menggenggam tangan. Peristiwa filmis ini menceritakan suasana ketika ketiga sahabat itu mengakui “kekalahannya masing-masing”—tidak bisa menemukan cinta dan laki-laki dalam 30 hari. Mereka juga saling mengakui kesalahan karena terlalu mengedepankan kepentingan diri sendiri dan melupakan solidaritas antarsahabat. Ketika menyadari kebodohan dan kesalahan masing-masing, mereka saling minta maaf dan berusaha kembali kepada subjektivitas mereka yang dulu, yang selalu mau mengerti persoalan kawan tanpa harus larut dalam urusan cinta. Meskipun mereka “harus tetap menangis”, toh, mereka kemudian bisa bangkit kembali, “saling menggenggam tangan”. Pengambilan gambar dari sudut pandang mereka bertiga ketika mereka saling bergandeng tangan menandakan kesungguhan dan sikap guyub yang sudah kembali di antara mereka. Dengan penggambaran bentuk adegan tersebut submitos perempuan dan solidaritas hadir secara wajar. Di balik semua keterpurukan dan kegagalan yang mereka alami, perempuan masih bisa dengan jernih mengembalikan energi kebersamaan yang merupakan semangat untuk hidup dalam solidaritas sesama perempuan.

Ketika perempuan memaknai-kembali cinta dan laki-laki

Realitas menyakitkan selama 30 hari “berburu laki-laki” telah memberikan satu pelajaran bagi mereka untuk memaknai-kembali kehadiran laki-laki dan cinta.

Di kantin, mereka bertiga memperbincangkan persoalan cinta sambil menikmati makan.

Keke : (CU mereka bertiga sambil menikmati makan) Kayaknya sebulan ini udah bikin hidup kita kacau, ya? Iya nggak sih? Cuman gara-gara cowok.
Gwen : (CU mereka bertiga) Iya, padahal gua udah belajar pake sepatu hak tinggi segala. Sampe lecet.
Keke : (CU agak malu) Emm, Gue sampek belajar Kamasutra. (CU Gwen kaget)
Gwen : (CU kaget) Ngapain?
Olin : (CU seperti mentertawakan diri sendiri) Gua sampe ciuman ama tomat segala.
Gwen : (CU) Ahhh, Olin. (Bersemangat) Kayaknya kita nggak butuh cowok deh untuk membuat kita agar kelihatan lebih spesial, iya nggak?  Tanpa mereka kita juga udah spesial, kan?
Olin : (CU ikut bersemangat) Iya, punya cowok juga tidak bikin hidup kita lebih happy.
Keke : (CU) Iya, ya. Kenapa kita nggak nunggu aja? Sekarang Gua percaya kalo emang saatnya tepat, cinta bakalan dateng kok ke kita.
Olin : (CU mereka bertiga) Pokoknya kita janji ya, apapun yang terjadi jangan sampek ngerusak persahabatan kita. (Lalu mereka bertiga kembali bercanda. Gwen menggoda Keke perihal buku Kamasutra. Sedangkan Olin tetap dengan keluguan dan ketidaktahuannya)

Gwen begitu yakin bahwa “mereka tidak butuh cowok untuk membuat mereka bertiga spesial karena tanpa cowok mereka pada dasarnya sudah spesial”. Setali tiga uang, Olin menimpali bahwa “punya cowok juga tidak bikin hidup mereka lebih happy”. Kedua pandangan ini sekilas mengesankan munculnya politik kemandirian perempuan untuk tidak tergantung sepenuhnya kepada laki-laki. Keke lebih realistis dalam memandang konteks kehidupan dengan mengatakan bahwa “kenapa tidak nunggu aja” karena “kalau saatnya sudah tepat, cinta akan datang sendiri”. Pernyataan itu sekaligus menunjukkan satu pengakuan atas kesalahan perjuangan yang telah mereka lakukan selama 30 hari. Pandangan Gwen dan Olin memang tampak lebih radikal karena berusaha membebaskan perempuan dari segala ikatan romantis laki-laki yang cenderung menjebak dalam permainan diskursif untuk memperkuat kuasa patriarkal. Pandangan ini tentu berbeda dengan budaya heteroseksual di Indonesia. Sementara, pandangan Keke lebih moderat karena perempuan tidak harus memaksakan sebuah kesendirian, tetapi harus menunggu saat yang tepat untuk menemukan cinta dan laki-laki. Pilihan moderat tersebut juga menunjukkan bahwa secara ideal perempuan tidak harus larut dalam pandangan-pandangan radikal yang menuntut kemandirian mutlak perempun, nir-laki-laki. Dalam konteks masyarakat heteroseksual, relasi laki-laki dan perempuan adalah sebuah konsensus dan tidak harus selalu dimaknai sebagai dominasi patriarki, sebagaimana dilakukan para feminis Barat (radikal).[8]

Saya memaknai pandangan Keke sebagai pilihan bersiasat untuk mendekonstruksi pemaknaan oposisi biner feminisme radikal yang terus-menerus mengintrodusir kontras laki-laki dan perempuan tanpa menimbang perbedaan konteks sosio-kultural yang ada dalam masyarakat Barat dan Indonesia. Memang benar, pilihan tersebut bisa menegaskan pentingnya kehadiran laki-laki dan memasukkan perempuan dalam relasi-relasi kuasa patriarkal. Namun, perempuan masih bisa bersiasat untuk tidak larut sepenuhnya dalam relasi tersebut. Masih ada konsep “menunggu” yang saya baca sebagai “menunda” berlangsungnya relasi kuasa yang merugikan perempuan, karena ia masih bisa memahami laki-laki yang benar-benar diharapkannya. Perempuan bisa juga mengkonstruksi kepentingan-kepentingan idealnya dalam sebuah hubungan cinta. Ketika mereka sudah bisa mempersiapkan subjektivitas, perempuan bisa menentukan kapan saat yang tepat untuk memulai dan dengan siapa membina sebuah hubungan. Ketepatan rasionalisasi tersebut merupakan kekuatan untuk melakukan negosiasi-negosiasi tanpa harus larut dalam sekedar romantisme.

Apakah hal ini bisa dilihat sebagai kembalinya perempuan dalam formasi diskursif tradisional yang menabukan perempuan terlalu aktif mencari laki-laki dan cinta? Menurut saya, terdapat dua perspektif dalam memandang persoalan tersebut. Pertama, perempuan memang kembali masuk dan menjadi subjek dalam formasi diskursif yang berkembang dalam masyarakat, terutama dalam pembatasan kebebasan perempuan untuk mengekspresikan cintanya. Kedua, dalam proses pertama, perempuan bisa berpikir lebih jernih sembari menyusun strategi yang tidak ngawur dalam menemukan cinta dan laki-laki; selalu ada negosiasi di balik praktik hegemoni. Dalam film ini, konteks menunggu bukan semata-mata dalam makna kepasifan, tetapi sembari berusaha terus menemukan cinta dengan berbekal kesadaran untuk tidak serta-merta larut dalam permainan cinta laki-laki.

Dalam adegan penutup digambarkan Gwen, Olin, dan Keke, mengenakan tank top seksi dan celana jean, menari, bersuka-ria. Tiga lelaki tampan menatap tingkah mereka bertiga. Gwen, Olin, dan Keke membelakangi ketiga lelaki itu. Gwen, Olin, dan Keke, membalikkan badan, menatap-balik ketiga lelaki itu dengan mimik penasaran. Ketiga lelaki itu mengarahkan tangan mereka ke ketiga sahabat itu. Gwen, Olin, dan Keke tertawa lepas. Bentuk adegan di atas bisa diposisikan sebagai ‘kode solusi’ karena adegan tersebut sebenarnya berusaha mengartikulasikan penyelesaian persoalan yang dihadapi ketiga sahabat tersebut, sekaligus memberikan teka-teki yang menuntut interpretasi dari penonton atau pengkajinya. Namun demikian, apabila diruntut dari adegan sebelumnya tentang pandangan dan kesepakatan ketiga sahabat tersebut, bentuk adegan di atas merupakan usaha untuk tidak hanya diam menunggu, tetapi juga tidak mengejar cinta dan laki-laki secara membabi-buta. Cara mereka memandang dan merespons kehadiran ketiga laki-laki dalam diskotik—tidak hanya dengan kepasifan, tetapi sebuah pandangan yang terkendali—menandakan bahwa mereka sepenuhnya sadar akan apa yang mereka lakukan. Mereka juga tidak harus “diam dan takjub” tetapi mereka juga bisa “bergembira” melihat kehadiran ketiga laki-laki muda tersebut. Tawaran yang dihadirkan dalam adegan-adegan di atas adalah bahwa perempuan tidak harus diam menunggu laki-laki dan cinta, tetapi mereka juga tidak harus larut dalam pencarian berkepanjangan. Dengan demikian, submitos kekuatan perempuan untuk memaknai cinta menjadi sebuah suguhan penutup dari film ini.

Perempuan yang selama ini banyak direpresentasikan sebagai subjek yang harus larut dalam permainan cinta laki—baik melalui rayuan, jebakan, maupun pandangan—hadir sebagai mereka yang balik memaknai cinta dalam konteks kedirian dan kultural. Wacana ideologis yang sudah terlanjur dianggap benar bahwa perempuan harus menunggu kedatangan laki-laki diganggu bukan melalui pencarian yang sembrono, tetapi juga tidak dengan diam. Proses “menunggu saat yang tepat” yang dibarengi dengan strategi dan tindakan yang bersifat negosiatif, akan memunculkan kedewasaan perempuan dalam mencari dan menemukan cinta. Perempuan masih punyai kekuatan untuk mengendalikan permainan yang biasanya dikendalikan laki-laki dengan beragam formasi diskursifnya. Laki-laki memang sudah sewajarnya hadir dalam kehidupan perempuan, tetapi sudah seharusnya pula perempuan memaknai kehadiran tersebut sebagai sebuah negosiasi kepentingan sehingga mereka tidak terjebak dalam romantisme picisan yang hanya akan memperpanjang daftar kuasa laki-laki atas perempuan dalam ranah sosio-kultural masyarakat.

Simpulan

30HMC berhasil menyuguhkan struktur dunia nartif yang mengajak penonton untuk tertawa sembari berpikir akan kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan perempuan ketika ‘berburu’ dengan laki-laki. Perempuan bisa saja mentertawakan, memandang, mencintai, ataupun menolak cinta yang coba dinegosiasikan dan diwacanakan oleh laki-laki ke dalam dunia mereka.  

Rangkaian submitos dalam 30HMC

(1) Tubuh seksi perempuan (silikon) yang membuat perempuan lain tertarik (submitos I), meski harus resisten (submitos II); (2) Lesbian sebagai yang terlarang; (3) Tubuh seksi sebagai kekuatan perempuan; (4) Cinta dan laki-laki bisa membuat perempuan baik-baik berubah; (5) Perempuan pada dasarnya cengeng (submitos I), tetapi masih ada rasionalitas perempuan di balik kecengengannya (submitos II); (6) Perempuan dan solidaritas; dan, (7) Kekuatan perempuan untuk memaknai cinta.

Mitos dalam 30HMC: Kuasa perempuan untuk terus memaknai laki-laki dan cinta

Sebagai mitos, struktur dunia naratif 30HMC, harus diakui, dengan apik berhasil menawarkan pengetahuan tentang kuasa perempuan untuk terus memaknai laki-laki dan cinta. Pengetahuan tersebut memunculkan resistensi terhadap rezim kebenaran dalam masyarakat bahwa perempuan adalah subjek yang sudah sewajarnya mengakui kuasa cinta laki-laki. Dalam konteksnya masing-masing, sebenarnya perempuan bisa saja melakukan negosiasi, kesepakatan, ataupun resistensi ketika kehadiran laki-laki hanya menciptakan kebahagiaan semu dan mengganggu subjektivitas mereka atau mengarah pada semata-mata hubungan seks. Ketika laki-laki merupakan satu kodrat dalam narasi kehidupan perempuan, maka hal itu tidak seharusnya menjadikan perempuan terjebak dalam kuasa mereka tanpa bisa melakukan negosiasi-negosiasi kepentingan yang berakibat kerugian secara fisik maupun mental terhadap perempuan.

Menariknya, sebelum sampai ke dalam pesan ideologis tersebut, film ini mengartikulasikan beragam wacana yang berkaitan dengan representasi stereotip perempuan cengeng, perempuan liyan, seksualitas liyan, hingga, pada akhirnya, sampai pada kuasa perempuan untuk memaknai cinta dan laki-laki. Usaha untuk memasukkan wacana topikal perempuan dan seksualitas liyan, memang tampak sebagai sekedar ‘narasi sampingan’ atau sedekar ‘tempelan’, meskipun tetap menentukan alur cerita. Dalam konteks ideologis, hal itu tidak bisa dianggap sekedar tambahan, tetapi sebuah negosiasi untuk menyebarkan wacana ideologis konsensual yang masih belum bisa menerima praktik “silikonisasi tubuh” maupun “lesbian” ke dalam praktik sosio-kultural masyarakat Indonesia. Artinya, film ini ikut menjadi aparat diskursif bagi penolakan terhadap kedua praktik tersebut dengan cara yang begitu wajar karena dikaitkan dengan persoalan seksualitas perempuan, di mana para perempuan sendiri yang menolaknya.

Persoalan yang cukup mengganggu dalam film ini adalah bagaimana usaha artikulasi kuasa perempuan untuk memaknai laki-laki tersebut harus diletakkan dalam konteks Barat. Usaha untuk meniru budaya Barat tersebut bisa dilihat dari kehadiran ketiga perempuan tersebut dalam ruang diskotik maupun salon kecantikan yang harus diakui sebagai produk masyarakat Barat. Mungkin ada pandangan alternatif yang ingin menyuguhkan wacana bahwa diskotik yang selama ini diidentikkan dengan dugem, alkohol, perempuan nakal, maupun laki-laki jalang bisa dimaknai dalam konteks yang lain, semisal untuk mencari cinta. Namun demikian, kehadiran mereka dalam diskotik, bisa juga merupakan usaha untuk mewajarkan diskotik sebagai dunia bagi kaum perempuan, terutama bagi mereka yang ingin mendapatkan cinta. Toh, sebenarnya masih ada ruang-ruang lain yang bisa digunakan untuk menemukan cinta. Mungkinkah diskotik sudah dianggap sebagai kemutlakan jagat metropolis sehingga pun mahasiswi sudah wajar masuk ke dalamnya? Atau, mungkinkah yang Barat memang tidak harus dipandang sebagai Barat lagi karena ia sudah menjadi impian yang harus ditiru dan dijadikan bagian integral budaya Indonesia ketika ingin dikatakan maju?

Dengan penggambaran tersebut, seolah-olah diskotik maupun salon kecantikan sudah menjadi bagian integral dari kehidupan perempuan muda ibukota ketika mereka harus menemukan makna-makna baru, termasuk cinta, bagi kepentingan hidupnya. Kalau memang demikian, betapa beratnya perempuan keluar dari jejaring gaya hidup konsumtif sebagai produk kapitalisme lanjut di era posmodern yang membiarkan hasrat mengembara dalam pemaknaan-pemaknaan kreatif bernuansa kebebasan. Betapa kasihan mahasiswi Indonesia karena demi mengejar cinta mereka harus kembali disarankan menjadi subjek-subjek konsumtif. Memang, efek kuasa tidak pernah berhenti pada satu titik dan tidak pernah bisa diresistensi secara total karena akan selalu ada kuasa/pengetahuan baru yang mengikuti kehadirannya.

Terlepas dari persoalan-persoalan tersebut, apa yang tidak boleh dilupakan adalah wacana tandingan yang coba disuguhkan dalam film ini. Resistensi yang ditunjukkan memang tidak bisa keluar dari kuasa kelelakian dan dunianya, termasuk di dalamnya diskotik. Mereka melawan kelelakian dengan masuk ke ruang-ruang yang selama ini dianggap sebagai penyemai kuasa laki-laki, diskotik. Dengan masuk ke ruang tersebut, perempuan bisa melakukan resistensi dalam konteks memaknai cinta untuk kepentingan mereka, bukan untuk ditundukkan oleh kepentingan laki-laki. Mereka bisa masuk dan melakukan praktik dalam “ruang ketiga” atau “ruang antara” untuk meniru sebagian dari yang Barat dan dari kebiasaan laki-laki, tetapi digunakan secara sadar digunakan untuk kepentingan ideologis perempuan. Maka, perempuan sebenarnya bisa mengendalikan laki-laki agar tidak sampai memanfaatkan cinta demi pemenuhan hasrat seksual belaka, karena mereka masih memiliki kepandaian dan kontestasi pikiran yang lebih menjanjikan dibandingkan sekedar kontestasi tubuh demi mendapatkan cinta.

* Tulisan ini merupakan bagian dari tesis S2 saya di Kajian Budaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM dengan judul Perempuan dalam Layar Bergerak: Representasi Perempuan dan Pertarungan Ideologis dalam Film Indonesia Era 2000-an (2008). Saya menggunakan teori mitos Bhartesian, wacana Foucauldian, gender, dan hegemoni.

Catatan kaki

[1] Apa yang dilakukan oleh Barbara bisa dilihat sebagai representasi wacana posfeminisme yang mengedepankan politik tubuh. Tubuh dimaknai, atau bahkan dipahat kembali, sesuai dengan keinginan si empunya demi memenuhi kepentingan-kepentingan tertentu, terutama untuk mengganggu, atau lebih tepatnya, memaknai kembali kategorisasi gender. Perempuan bisa saja membuka sebagian tubuhnya untuk membiarkan patriarki melotot, sekaligus menunjukkan kelemahannya. Dengan tubuh, perempuan bisa berkuasa. Tubuh adalah tubuh yang bisa menampilkan bermacam rupa perempuan sesuai dengan keinginannya. Artinya, tidak ada pandangan tunggal yang mutlak tentang tubuh perempuan, selain fragmentasi-fragmentasi yang beragam. Perayaan untuk mempercantik tubuh sesuai dengan kebutuhan sebagai bentuk pendisiplinan tubuh memungkinkan terjadinya massifikasi budaya konsumen. Populeritas pemikiran posfeminisme, dalam konteks Inggris misalnya, segera dimanfaatkan oleh produsen pakaian Wallis untuk mempromosikan produk-produk pakaian seksi. Yang dimunculkan dalam iklan-iklan tersebut adalah perempuan-perempuan seksi yang mengenakan pakaian Wallis, di mana para laki-laki yang melihatnya bisa mengalami kecelakan, seperti mobil menabrak pembatas jembatan, tukang cukur hampir mengiris leher kliennya, dan lain-lain. Lihat, Whinsip, 2007: 29-35.

[2] Di Indonesia sendiri, praktik suntik silikon bukanlah hal yang baru. Meskipun pada awalnya kurang populer, namun keputusan beberapa selebritas, seperti Kris Dayanti dan Ruth Sahanaya, untuk memperbesar payudara dengan suntik silikon, menjadikannya sebagai praktik yang banyak diperbincangkan di media, terutama dalam tayangan infotainmen. Begitupula dengan hadirnya pusat perawatan dan pembentukan tubuh ideal yang banyak menggunakan beberapa selebritas seksi, seperti Arzheti, Diah Permatasari, Dian Nitami, dan lain-lain.

[3] Pada masa kolonial, persoalan anak Indo menjadi rumit karena status sosial mereka—bukan Belanda/Eropa dan bukan sepenuhnya Hindia-Belanda—dipermasalahkan dalam konteks politik maupun sosio-kultural. Salah satu konsekuensi penting bagi anak-anak hasil perkawinan campuran dan keturunan mereka adalah redefinisi status mereka menurut sentimen-sentimen dan cacat-cacat, bukan menurut pertimbangan-pertimbangan biologis murni. Pada tahun 1814 akses untuk memperoleh status setara Eropa di Hindia-Belanda mencakup salah satu persyaratan hukum yang berupa ‘keseuaian yang sempurna dengan masyarakat Eropa’ yang didefinisikan antara lain dengan pendidikan dalam moral-moral dan ideal-ideal Eropa. Jika yang bersangkutan tidak dibesarkan di Eropa, para pejabat distrik ditugaskan mengevaluasi apakah si kandidat dibesarkan dalam lingkungan Eropa sebagai orang Eropa. Namun, status stara Eropa tadi tidak diberikan hanya berdasarkan penampakan kompetensi dan familiaritas dengan norma-norma Eropa. Kandidat disyaratkan tidak lagi merasa kerasan dalam masyarakat pribumi dan sudah menjauhkan dirinya sendiri dari jati diri pribuminya. Di kalangan pribumi sendiri, keberadaan perempuan Indo juga menjadi subjek liyan karena mereka lebih berperilaku liberal seperti perempuan-perempuan Belanda/Eropa kebanyakan. Salah satu efek kuasa diskursif dari pemahaman tersebut, bisa dilihat misalnya, dalam roman Salah Asoehan karya Abdoel Moeis, yang menyampaikan stereotipisasi perempuan Indo yang tidak seharusnya dinikahi laki-laki pribumi. Lihat, Hunter, 2002: 109-140.

[4] Perkembangan mutakhir dalam industri media menunjukkan sesuatu yang ambivalen. Perempuan selebritas Indo menjadi idola baru seiring gencarnya tayangan televisi maupun film yang menghadirkan mereka sebagai pemeran utama. Kecenderungan tersebut menunjukkan bahwa wajah dan fisik perempuan Indo nyatanya memang lebih cantik dan sempurna dalam sorotan kamera. Akibatnya, kehadiran mereka dianggap sebagai sesuatu yang wajar dalam masyarakat. Meskipun ada juga beberapa elemen yang menganggap mereka tidak lebih jual tampang karena kemampuan acting mereka pada dasarnya lemah.

[5] Istilah “tahapan cermin” dimodifikasi dari pemikiran psikoanalisis yang digunakan oleh Jacques Lacan, ketika menjelaskan bagaimana seorang anak mulai mengartikulasikan “diri” menjadi “aku” dalam praktik kebahasaan. Tahapan cermin, menurut Lacan, mampu memberikan gambaran keseluruhan dialektika antara keterasingan dan subjektivitas. Artinya, dari tahapan ini diri bisa keluar dari keterpisahan dan keterasingan dari lingkungan sekitar ia harus menggunakan bahasa untuk menyatakan subjektivitasnya. Itulah mengapa Lacan menjelaskan bahwa tidak ada pemisahan antara diri dan masyarakat. Manusia menjadi bagian dari kehidupan sosial melalui penguasaan bahasa. Terdapat tiga tahapan dalam tahapan cermin. Pertama, seorang anak yang bersama seorang dewasa di depan cermin meragu atas refleksinya sendiri dengan rekan dewasanya tersebut. Kedua, si anak memperoleh citra dan memahami bahwa refleksi tersebut bukanlah ada yang riil. Ketiga, si anak menyadari bahwa tidak hanya refleski sebagai citra, tetapi bahwa citra itu adalah adalah dirinya dan berbeda dengan citra sang liyan. Hal ini menjadi “bentuk transisi” dari register alamiah hidup si anak menuju pertukaran register kultural kelompok, termasuk hukum, bahasa, dan organisasi. Lihat, Sarup, 1988: 7-8.

[6] Adegan ini sekaligus menandakan kemampuan perempuan untuk bernegosiasi dalam menghadapi hasrat seksual laki-laki yang menggebu-gebu. Adegan ini juga secara natural ingin memperlihatkan bagaimana brengseknya laki-laki. Tetapi Keke tetap tidak bisa dibujuk dengan kata-kata manis. Artinya, sampai dengan adegan tersebut, ia tetap berusaha mengendalikan permainan.

[7] Id, ego, dan super ego merupakan tiga dalil psikonalisis Freudian yang digunakan untuk menjelaskan hasrat pada diri manusia. Id berada di dalam alam bawah sadar, atau menurut analogi Freud merupakan gunung es di bawah air. Dalam bentuk purbanya, id berkaitan dengan dorongan-dorongan seksual dan agresi serta harapan-harapan mendasar manusia yang lain. Ia merupakan kawah hasrat yang penuh dan cenderung chaotic, dihuni emosi-emosi yang bersifat cinta pada diri sendiri, seksual, destruktif, dan barbarik yang selalu berusaha untuk muncul. Di kendalikan oleh prinsip kesenangan, id membutuhkan pemuasan langsung: “Aku menginginkannya sekarang”. Ego merepresentasikan apa yang bisa disebut akal dan common sense, bertolak belakang dengan id. Ego bekerja secara cerdas dalam menimbang dan memutuskan kebutuhan yang membabi-buta dan hambatan-hambatan yang berasal dari dunia luar. Ego mendorong manusia untuk mentaati prinsip realitas—“Aku  ingin memilikinya sekarang tapi Aku tahu bahwa Aku harus menunggu”. Ego mampu memberikan pertimbangan-pertimbangan, mengorganisir, menekan dorongan-dorongan hasrat, serta lebih mengedepankan konsekuensi dari tindakan-tindakan yang akan dijalani. Sedangkan, superego merupakan bagian dari diri manusia yang mengarahkannya untuk sempurna dalam menjalani hidup di dunia. Analogi berikut akan lebih memperjelas: “Ketika kita menginginkan permen (id), maka kita akan berusaha memperolehnya dengan cara membeli (ego). Ketika kita ingin berpuas-puas dengan makan permen sebanyak-banyaknya, maka super ego bisa muncul untuk mengingatkan, atau bahkan melarang kita, karena permen bisa membuat tubuh gemuk.” Lihat, Heller, 2005: 90-93.

[8] Bagi Mohanty (1995: 259-262), kecenderungan hegemonik feminis Barat untuk menghomogenkan dan menghegemonikan pandangan tentang opresi terhadap perempuan secara universal, harus dikritisi. Feminis Barat memandang perempuan-perempuan Dunia Ketiga dengan perspektif dan wacana hegemonik yang menegasikan heterogenitas kultural, agama, ras, maupun kasta dalam kehidupan sosial. Bagaimanapun, terdapat perbedaan konteks sosio-kultural antara perempuan Barat dan Dunia Ketiga. Mohanty menjelaskan bahwa fokus kajian Feminis Barat terhadap perempuan Dunia Ketiga bukanlah pada usaha membongkar kekhususan material dan ideologi yang membentuk sekelompok perempuan partikular sebagai “yang takberdaya” dalam konteks partikular. Mereka lebih berusaha menemukan beragam kasus kelompok perempuan tak berdaya untuk membuktikan dalil umum tentang perempuan sebagai kelompok “yang tak berdaya”. Kekerasan laki-laki harus diinterpretasi ke dalam masyarakat tertentu, baik untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik ataupun untuk secara efektif mengorganisir untuk merubahnya.

Pustaka Acuan

Blackwood, Evelyn, “Transnational Sexualities in One Place: Indonesian Readings”, dalam Jurnal Gender and Society, Vol. 19, No. 2. April 2005.

Foucault, Michel.1998. The Will to Knowledge, The History of Sexuality Volume I (English translation by Robert Hurtley). London: Penguin Books.

Heller, Sharon. 2005. Freud A to Z. New Jersey: Jhon Wiley and Sons, Inc.

Hunter, Thomas. 2002. “Indo as other: Identity, anxiety, and ambiguity in Salah Asoehan” dalam Keith Foulcher & Tony Day (eds). Clearing Space: Postcolonial readings of modern Indonesia literature. Leiden: KITLV Press.

Mohanty, Chandra Talpade. 1995. “Under Western Eyes, Feminist Scholarship and Colonial Discourse”, dalam Bill Aschroft, Gareth Griffiths, Helen Tiffin (eds) The Postcolonial Studies Reader. London: Routledge.

Richardson, Diane. 2000. “Claiming Citizenship? Sexualities, Citizenship, and Lesbian/Feminist Theory”, dalam Jurnal Sexualities, Vol 2 (3).

Sarup, Madam. 1988. An Introductory Guide to Post-structuralism and Postmodernism. London: Harvester Wheatseaf.

Whinsip, Janice. 2000. “Women outdoors: Advertising, controversy, and disputing feminism in the 1990s”, dalam International Journal of Cultural Studies, Vol 3 (1).

Share This:

About Ikwan Setiawan 148 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*