HEART: Perempuan, hati, dan superioritas lelaki

IKWAN SETIAWAN

 

Tema perngorbanan subjek perempuan atas nama cinta ternyata masih bisa dengan mudah dijumpai dalam film-film Indonesia era 2000-an, seperti yang terdapat dalam film Heart (Hanny R Saputra, 2006). Kondisi tersebut berkontradiksi dengan formasi diksursif feminisme yang mengedepankan kesetaraan laki-laki dan perempuan serta sudah dikatakan menyebar dalam masyarakat menengah kota, termasuk para sineas muda yang lebih mudah mendapatkan askes terhadap wacana tersebut melalui pendidikan maupun media. Ada dua pertanyaan yang menarik untuk saya ungkapkan: (1) apakah benar feminisme sudah mampu menjangkau kelas menengah kota ataukah sekedar berada dalam menara gading akademis? atau (2) mungkinkah tema pengorbanan cinta bagi subjek perempuan memang tetap menjadi wacana ideologis dominan dalam masyarakat Indonesia kontemporer sehingga para sineas tetap meyakininya sebagai resep populeritas sekaligus menjadikannya medium untuk menyebarkan wacana tersebut?

Heart 3

Kedua pertanyaan tersebut perlu dilihat dari konteksnya masing-masing, tetapi terkait dengan kajian ini, pertanyaan kedualah yang menarik untuk dijawab dengan cara melihat film yang akan dianalisis dan menghubungannya secara ulang-alik dengan formasi diskursif yang berkembang dalam masyarakat. Adapun beberapa persoalan ideologis yang saya analisis dalam konteks pengorbanan perempuan untuk cinta laki-laki: (1) mengapa cinta tokoh perempuan dalam film bisa membuatnya rela berkorban untuk laki-laki?; (2) bagaimana keterikatannya dengan laki-laki yang dicintainya?; (3) apa dan bagaimana pengorbanan yang dia lakukan; (4) apakah dia mendapatkan keuntungan dari pengorbanan itu?; dan, (5) ataukah dia sekedar menjadi subjek untuk kemenangan kuasa laki-laki?

 Cinta (tak terkatakan) dan pengorbanan (1)

Heart merupakan film bergenre drama yang sekilas tampak berusaha menunjukkan sisi kemanusiaan perempuan dalam memandang cinta dan pengorbanan. Film ini, pada awalnya, menceritakan persahabatan antara Rachel dan Farel yang sudah berlangsung sejak kecil. Rachel tumbuh sebagai perempuan muda yang tomboy, enerjik, dan berpenampilan cuek serta ‘berlabel’ mahasiswa. Sementara, Farel adalah laki-laki tampan yang penuh dengan kejutan. Keduanya biasa menikmati hari-hari dengan bermain basket ataupun mengendarai mobil di sebuah perkebunan teh. Kebersamaan dalam konteks persahabatan yang dilakoni Rachel dan Farel, ternyata menghadirkan cinta dalam diri Rachel, meskipun ia tidak pernah mengatakannya.

Heart 7

Film ini, pada awal ceritanya juga, tidak menceritakan persoalan tersebut, tetapi kode-kode dalam narasi menunjukkan betapa Rachel sangat mencintainya. Salah satu adegan memperlihatkan kesedihan Rachel ketika Luna mengajak pergi Farel dengan mobilnya. Bahkan, ia sampai harus memanjat tangga rumah pohon untuk tetap bisa memantau mereka berdua. Dengan latar perkebunan teh, Luna dan Farel di dalam mobil. Mereka hendak pergi meninggalkan Rachel. Dengan latar pohon besar yang di atasnya terdapat rumah kecil tempat mereka berdua biasa bermain di masa kecil, Rachel, mengenakan kaos casual berwarna biru, melepas kepergian mereka dengan senyum yang dipaksakan. Wajah Rachel berubah menjadi sedih. Mobil yang membawa Luna dan Farel tampak di kejauhan melintasi jalan di perkebunan teh. Rachel naik tangga di pohon untuk melihat mobil itu dengan raut muka penuh kesedihan.

Pengambilan gambar yang menunjukkan “ekspresi senyum terpaksa” sampai dengan “ekspresi kesedihan melihat kepergian mereka” yang dialami Rachel dengan jelas menandakan bahwa sebenarnya ia tidak rela Farel perdi berdua dengan Luna. Pesan simbolik itu semakin diperkuat dengan pengambilan ketika dengan “sedih ia bersandar di tangga di pohon” untuk menatap kepergian mobil mereka melintasi jalan di perkebunan teh. Kesedihan itu berasal dari rasa cinta yang sudah terpendam dalam hatinya sejak lama. Ketika ia tidak berani mengungkapkannya, perempuan lain sudah hadir sebagai kompetitor dan ia merasa sebagai subjek yang kalah dalam konteks tersebut hingga mengalami depresi.[1]  Apa yang ia rasakan kemudian adalah perasaan kalah dan kosong sembari meratapi kepergian mereka berdua. Adegan dalam scene ini menghadirkan submitos cinta (tak terkatakan) dan ketidakberdayaan perempuan. Keberadaan submitos tersebut diulang dan dipertegas lagi dalam peristiwa-peristiwa filmis berikutnya, meskipun dalam peristiwa yang berbeda. Dalam sebuah adegan di, misalnya, Rachel harus mengejar mobil yang ditumpangi Farel dan Luna hingga perkebunan teh, dan pada akhirnya ia hanya bisa berteriak memanggil nama Farel.

Ketidakkuasaan untuk mengutarakan cinta bagi seorang perempuan yang diekspos dalam film ini memang terkesan tidak masuk akal apalagi melihat background Rachel sebagai mahasiswi dan kebiasaan sehari-harinya bersama Farel. Tentu ada kontradiksi dengan kenyataan sekarang yang sudah banyak digambarkan sebagai era emansipatoris bagi perempuan. Namun, apa yang harus dicatat adalah bahwa persoalan emansipasi perempuan sejak jaman R.A. Kartini hingga saat ini memang lebih banyak berputar pada persoalan usaha untuk memperjuangkan hak pendidikan, pekerjaan, politik, maupun ekonomi. Sementara, persoalan relasi kuasa dalam bentuk terkecil, semisal relasi cinta laki-laki dan perempuan, kurang banyak disentuh karena (mungkin?) dianggap sebagai kewajaran atau, bahkan, tidak terlalu penting untuk dibicarakan. Realitas itu membutkikan bahwa legitimasi kultural kepasifan cinta perempuan masih berlangsung dan menjadikan mereka “menunggu” tanpa “berkata” serta menghadirkan ketidakberdayaan yang terus dipelihara, bahkan oleh generasi muda. Dengan demikian, persoalan kepasifan cinta perempuan tidak bisa dianggap sepele karena berkorelasi langsung dengan wacana dan praktik gender dalam masyarakat yang masih memandang tabu pengungkapan cinta dari seorang perempuan. Padahal, dengan keaktifan untuk berani mengutarakan cinta, perempuan akan mempunyai kemampuan negosiatif ketika terjadi masalah dalam sebuah hubungan. Atau, paling tidak, mereka tidak akan mengalami penderitaan batin ataupun konsekuensi-konsekuensi negatif lainnya yang akan muncul ketika mereka tidak berani mengungkapkannya.

Heart 1

Perasaan sedih atas nasib cintanya, menjadikan Rachel berusaha mencari pelarian dengan mengatakan pada Farel bahwa ia juga “sudah menemukan cowok yang sesuai dengan gambaran idealnya”. Ia mengatakannya setelah tahu bahwa Farel tidak bisa menemaninya main basket karena sudah membuat janji dengan Luna. Kenyataannya, setelah Farel pergi bersama Luna, ia malah bermain basket sendirian sampai harus kehujanan dan menangis sendiri di rumah pohon. Mengatakan “sudah menemukan cowok yang ideal” merupakan salah satu bentuk pengalihan/pemindahan dan rasionalisasi sebagai mekanisme untuk bertahan dari ketidakmampuannya dalam menghadapi realitas hidup: cinta Farel. Dengan berbohong ia merasa bisa mendapatkan “sedikit pelampiasan” akan kekalahan dan kesedihannya. Ketika perempuan berbohong karena cinta yang kalah menjadi submitos yang dengan natural hadir dalam adegan tersebut.

Kekalahan, kesedihan, dan harapan akan cinta menjadi penyebab dari munculnya jejaring diskursif pada kehidupan Rachel. Pada satu peristiwa pertengkaran akibat Farel tidak konsisten dengan omongannya, misalnya, Farel menyuruh Rachel untuk menabraknya hingga mati karena Luna tidak mau menerima cintanya, tetapi kemudian mengingkarinya sendiri. Rachel marah dan memutuskan persahabatan, namun segera ia mencabut omongannya sendiri dan mengatakan bahwa “ia akan membantu untuk mendapatkan cinta Luna”. Lebih dari itu, ia rela mendatangi dan meyakinkan Luna akan cinta Farel setelah Farel berulangkali gagal meyakinkannya. Rupanya, Rachel tidak rela melihat orang yang dicintainya bersedih dan putus asa karena merasa gagal mendapatkan cintanya.

Di rumah Luna. Rachel datang ketika Luna sedang melukis.

Rachel : (MS) Oh, jadi gini caranya peri yang kesepian ngabisin waktunya nunggu kematiannya. (CU Luna cut to Rachel mendekati Luna) Loe, lari dari kenyataan Luna. (CU Luna cut to Rachel) Kenyataan bahwa ada cowok yang bener-bener mencintai Loe. (CU Luna cut to Rachel) Siap berbagi, nemenin, menerima Loe apa adanya.
Luna : (CU) Bukan aku, Rachel. Tapi, justru Farel yang ngingkarin kenyataan. (CU Rachel cut to Luna) Bahwa aku, udah di ambang kematian.
Rachel : (CU) Luna, Loe pernah mikir nggak sih? Mungkin Tuhan memperkenalkan Loe dengan Farel, karena Dia mau ngasih tahu kalau di dunia ini nggak ada yang sia-sia. (CU Luna) Loe pernah mikir nggak sih, betapa setiap detik Tuhan itu melimpahkan cinta-Nya buat Loe? (CU Rachel cut to Luna) Jangan pernah pikirkan kematian. (CU Rachel) Tanpa dipikirkan pun, kematian akan datang dengan sendirinya. (CU Luna cut to Rachel, memegang kedua lengan Luna) Lakukan apa yang mbuat Kamu bahagia. (CU Rachel mulai sedih cut to Luna menangis) Dan, semestinya Loe tu bahagia. (CU Rachel) Loe udah ketemu ama cowok yang gua cintai. Dan dia, dia mencintai Loe (CU Luna masih menangis) dengan segenap ketulusan hatinya. (CU Rachel menangis lalu pergi meninggalkan Luna yang masih menangis)

Dialog di atas memperlihatkan betapa, pada dasarnya, Rachel tetap berusaha mencintai Farel meskipun ia harus mengakui bahwa Luna-lah yang memenangkan cinta itu. Apa-apa yang disampaikan Rachel adalah kekonyolan seorang perempuan: bagaimana mungkin ia mau meyakinkan perempuan lain yang menjadi saingannya? Sampai-sampai ia harus membawa nama Tuhan. Peristiwa naratif tersebut memang sengaja dihadirkan untuk memosisikan perempuan dalam kontradiksi yang berkembang dalam hatinya ketika harus menyimpan cintanya rapat-rapat. Ketika sudah bisa meyakinkan Luna, ia segera mendandani Farel sebelum bertemu dengan Luna. Ia berpura-pura bahagia, meskipun ia tetap menyimpan kesedihan dan hanya bisa menangis.

Heart 9

Sementara, di kesempatan lain ia berusaha untuk merubah penampilannya agar lebih tampak feminin. Di dalam kamarnya yang tampak modern, Rachel duduk di atas ranjang sambil menundukkan dan menyandarkan kepalanya di atas bola basket. Rachel berdiri di depan cermin, memandang wajahnya di cermin sembari memegang pipinya. Tetap di depan cermin, Rachel mengenakan gaun putih sambil merabah bagian atas dadanya. Tetap di depan cermin, Rachel mengenakan kalung. Rachel mengenakan anting-anting di telinganya. Di depan cermin Rachel memandangi dirinya setelah berdandan. Sambil tersenyum melihat penampilan barunya, tangan kirinya menyematkan penjepit rambut.

Apa yang dilakukan Rachel dalam adegan di atas, tentu berangkat dari kesedihan. Dalam kesedihan itu, ia mencoba berpikir— “meletakkan kepala di atas bola basket”—apa yang bisa dilakukannya untuk menarik hati Farel. Ia mencoba mengidentifikasi-ulang tubuh dan ke-perempuan-annya dengan “bercermin” dan “meraba pipi”, sebelum akhirnya “mengenakan gaun putih”. Mengenakan gaun putih merupakan tindakan yang kontradiktif dengan kebiasaannya sehari-hari sebagai perempuan tomboy. Ia mengenakan gaun mirip seperti yang dikenakan Luna setiap hari. Hal itu menunjukkan kembalinya budaya berpakaian feminin yang lebih memandang keanggunan dan kecantikan dengan gaun. Rachel sebagai subjek liyan berusaha merubah cara berpakaiannya untuk mendapatkan cinta Farel. Dalam perspektif konservatif tersebut, mengenakan kaos maupun celana ala laki-laki tentu bukan sebuah kecantikan. Untuk semakin menimbulkan kesan anggun dan cantik, Rachel “mengenakan anting” dan “penjepit rambut”. Adegan ini menggambarkan betapa demi cinta seorang perempuan harus rela merubah identitas yang selama ini diyakininya.

Pakaian dan aksesoris pelengkapnya telah menjadi kode tertutup yang darinya seseorang mengharapkan satu makna semiotik identitas kediriannya. Kuper (dikutip dalam Nordholt, 1997: 1-2) menjelaskan bahwa dengan memberikan penekanan pada makna penting cara berpakaian bisa diketahui ekspresi identitas sosial, asal-muasal, komitmen, dan kesetiaan individu. Tidaklah mengherankan pakaian bagi seseorang hampir tampak sebagai perpanjangan dirinya sendiri. Wajar kiranya, kalau kita bisa melihat betapa hubungan seseorang dengan pakaian bersifat langsung dan lebih akrab daripada hubungannya dengan semua objek materi yang lain. Lauire (juga dikutip dalam Nordholt, 1997: 1-2) berargumen bahwa pakaian merupakan identitas seseorang karena saat memilih pakaian, ia berusaha mendefinisikan dan mendeskripsikan diri sendiri. Dengan bahasa yang agak berbeda McCracken (1988: 68) menjelaskan pakaian sebagai “kode tertutup” karena darinya anggota/masyarakat mendapatkan pesan-pesan yang sudah mapan, sehingga terjadi pengulangan-pengulangan makna semiotik yang merepresentasikan kategori, prinsip, dan proses kultural.

Rachel, jelas, tidak bisa melepaskan diri dari wacana keanggunan dan, sekali lagi, tindakan itu dilakukan karena ia tetap ingin menarik perhatian Farel. Adegan-adegan tersebut memperlihatkan adanya pola narasi oposisi biner, antara “tetap menyimpan dan memelihara kesempatan untuk mendapatkan cintanya” sembari “membantu laki-laki mewujudkan cintanya”. Pengorbanan dan harapan (tersembunyi) perempuan atas nama cinta, meski harus mengubah jati diri menjadi submitos yang dibangun dari adegan-adegan yang saling beroposisi biner dalam film ini: “selalu ada kekuatan untuk berkorban, tetapi selalu ada kesedihan untuk tidak dicintai”. Adegan-adegan tersebut sekaligus menunjukkan betapa cinta telah menguasai Rachel sehingga ia harus dengan sendirinya menjadi subjek yang menjalankan kuasa itu, tanpa harus menghiraukan kepentingan dirinya.

Heart 8

Narasi mitis tersebut berusaha meyakinkan bahwa cinta bagi perempuan adalah keseluruahn eksistensi kehidupan yang harus dijaga dan dipelihara, sepahit dan sesedih apapun resiko yang dihadapi. Perempuanlah yang harus menggerakkan cintanya terus-menerus—meski harus dengan jalan tidak mengungkapkannya—sebagai  sebentuk idealisasi kehidupan tanpa harus menghiraukan realitas yang dihadapi. “Dia tidak pernah mengatakan cintanya/Tapi membiarkannya tersembunyi, seperti ulat dalam kuncup bunga/Memberinya makan pada pipi damasnya/Dia menutupnya rapa-rapat dalam pikiran/Dan, dengan melankoli ‘hijau’ dan ‘kuning’/Dia menatap, layaknya Keteguhan dalam monumen/Tersenyum dalam kesedihan”, begitulah yang dikatakan Shakespeare, dalam Twelefth Night, tentang perempuan dan cintanya.[2]

Cinta dan kesedihan atau kesedihan dalam cinta seperti sudah menjadi pengetahuan yang begitu wajar bagi perempuan sehingga banyak di antara mereka yang mau berkorban untuk itu semua, termasuk dengan membantu laki-laki yang dicintainya, meskipun ia harus mengorbankan kepentingannya sendiri. Itulah kekuatan untuk terus menghidupkan cinta dan perempuan memang lebih banyak digambarkan sebagai pihak yang harus rela bertanggung jawab atas cinta, meksipun harus menderita. Penderitaan yang dirasakan Rachel memang menyakitkan, tetapi semua adegan dalam scene di atas menunjukkan bahwa itu terjadi bukan karena kesalahan subjek laki-laki, melainkan kesalahannya sendiri karena tidak kuasa menyatakan cintanya. Lagi-lagi, subjek laki-laki tidak menempati posisi yang harus dipersalahkan karena memang dia tidak mengetahui secara jelas perasaan cinta yang ada dalam hati subjek perempuan.

Cinta, kesedihan, dan pengorbanan (2)

Kesedihan yang harus ia rasakan karena harus mencintai sahabat yang telah jatuh cinta kepada perempuan lain, di samping menghadirkan kekuatan untuk berkorban, juga tidak bisa menghilangkan kesedihan dalam hari-harinya. Namun demikian, di hadapan Farel, Rachel tidak mau mengakui semua perasaannya, bahkan cenderung menutupi dengan mengatakan bahwa kesedihannya berasal dari laki-laki idaman yang pergi meninggalkannya. Lagi-lagi, Rachel telah berusaha melarikan diri dari kesedihan. Kesedihan itu memuncak dan menjadi kekecewaan yang luar biasa ketika di depan matanya sendiri Rachel melihat Farel dan Luna bermesraan. Tentu saja, peristiwa ini mengingatkan kita pada cerita-cerita ataupun realitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari ketika seorang perempuan tidak mampu menahan kesedihan dan tangis demi melihat orang yang dicintainya bermesraan dengan perempuan lain. Kita juga sering mendengar berita beberapa perempuan memilih untuk bunuh diri karena laki-laki yang diidamkannya lebih mencintai perempuan lain.

HEart 5

Film ini memang tidak menceritakan itu semua, tetapi menampilkannya ke dalam bentuk narasi yang lebih tragis dan menyedihkan. Dalam sebuah adegan di taman, misalnya, Farel dan Luna bermesraan. Rachel dengan raut muka sedih menatap mereka berdua. Ia mengenakan sweater berwarna merah-darah. Rachel membalikkan muka sambil menangis. Di belakangya, tampak di kejauhan Farel dan Luna tetap bermesraan. Rachel dengan cepat berlari. Dia menuju tebing curam dengan pepohonan kering yang sebagian tumbang. Apakah ada hal lain yang bisa dilakukan perempuan selain sedih dan menangis melihat laki-laki yang dicintainya bermesraan dengan perempuan lain? Adegan di atas memberikan beberapa kemungkinan jawaban atas pertanyaan tersebut. Perempuan memang tidak bisa lepas dari tangis kesedihan. Sekuat-kuatnya Rachel bertahan dengan pengelabuan dan pengalihan perasaan, ia tetap saja membiarkan air matanya mengalir. Rachel dengan “wajah sedih dan tangisnya” menandakan bagaimana sakit dan hancurnya hati seorang perempuan ketika mendapati kenyataan itu. Namun, ekspresi kesedihan dengan tangis belumlah cukup. Rachel masih mempunyai kekuatan untuk melampiaskannya. Ia “berlari sekencang-kencangnya” untuk menembus batas kesedihan dan tangis itu, melampaui segala konflik batin yang dialaminya selama ini, serta memasuki ruang-ruang berbahaya (tebing curam).

Adegan ini menandakan usaha pelampiasan dan pelepasan insting destruktif dalam dirinya ketika menemui kenyataan yang menyakitkan dari cinta. Super ego-nya sudah tidak bisa mengendalikan insting tersebut, sehingga yang terjadi kemudian adalah ledakan-ledakan emosi yang ditujukan bukan kepada orang yang dicintai atau kompetitornya, tetapi kepada dirinya sendiri: dirinya yang sudah kalah dan hancur. Kondisi tersebut bukan berasal dari kesalahan Farel, bukan pula kesalahan Luna. Dia sendiri yang bersalah karena harus mencintai dan tidak pernah berani mengungkapkannya. Cinta, kesedihan, dan insting itulah yang menjadikannya jatuh ke jurang dan mengalami luka parah di salah satu kakinya. Rachel telah kehilangan nalar dan rasionalitas sebagai seorang mahasiswa karena “terlalu mencintai” dan “terlalu sakit akibat cinta”. Dengan penggambaran tersebut submitos yang dihadirkan dalam adegan-adegan di atas adalah perempuan, cinta, kesedihan, dan hilangnya rasionalitas. Submitos tersebut kembali diulang dalam adegan berikutnya, meskipun dalam peristiwa yang berbeda dan dengan memberikan submitos baru untuk lebih menghadirkan adegan-adegan tragis-dramatis.

Heart 2

Setelah mengalami kecelakaan di tebing, Rachel di bawah ke rumah sakit di mana pada saat bersamaan Luna juga harus menjalani perawatan karena penyakitnya kambuh. Ia semakin sedih ketika mendapati kenyataan bahwa kakinya harus diamputasi. Kenyataan itu membuatnya sedih dan putus asa sehingga tidak mau makan. Rachel merasa “hidupnya suram, sudah tidak ada masa depan, hidupnya sudah berakhir”, meskipun Farel sudah berusaha membangkitkan semangat hidupnya dan berjanji akan tetap menjadi sahabat baginya. Ketika Farel pamitan kepadanya, dengan sedih ia bercerita bahwa Luna sudah ingin pulang karena sadar hidupnya akan segera berakhir. Hal itu membuat Rachel menangis. Perasaan sedih akibat kakinya yang akan diamputasi dan kesedihan Farel membuatnya terus-menerus tidak mau makan hingga akhirnya meninggal.

Ternyata sebelum meninggal Rachel menulis wasiat agar hatinya didonorkan kepada Luna, kekasih lelaki yang sangat ia cintainya; untuk selalu menyandingkan hati dan cintanya kepada Farel. Persoalan itu bisa diketahui dari isi surat Rachel kepada Farel yang diberikan oleh Ibunya ketika Farel mengunjungi sahabatnya yang tomboy itu.

Farel, Sahabatku. Aku menulis surat ini sambil mengenang persahabatan kita yang penuh kegembiraan dan tawa. Sejak kecil main basket bersama-sama, berlari-larian di kaki bukit. Kau membuatkan aku mahkota indah dari dedaunan, eh semua itu terlalu indah untuk ku kenang. Persahabatan kita begitu dekat. Sampai tiba saatnya kamu jatuh cinta pada Luna. Sulit sekali kujelaskan bagaimana perasaanku. Aku gembira melihat kamu bahagia. Tapi, entah kenapa aku tiba-tiba merasa kehilangan. Kadang aku cemburu, karena kamu nggak punya banyak waktu lagi untukku. Sungguh aku sangat terpukul, ketika dokter bilang kakiku harus diamputasi. Tanpa kaki, aku nggak akan bisa lagi main basket sama kamu, sembari ketawa berkejaran dalam hujan. Pada akhirnya aku menyadari, aku nggak ingin kehilangan kamu Farel. Tapi, saat perpisahan itu pasti akan datang juga. Karena aku tahu, kamu sangat mencintai Luna, dan suatu ketika kamu akan menikahinya. Aku nggak mau ada kata-kata perpisahan di antara kita Farel. Untuk itulah, akhirnya aku memutuskan untuk mendonorkan hatiku kepada Luna. Dengan hati yang ada di tubuh Luna, maka aku bisa terus mendampinginmu Farel, bahkan sampai kamu menikah dan punya anak. Melalui hatiku yang aku donorkan ditubuh Luna, aku bisa terus bersamamu. Melalui hatiku yang kini ada di tubuh Luna, dengan cara itu, aku mencintaimu.

Rangkaian kata dalam surat tersebut mempertegas kehadiran submitos perempuan, cinta, kesedihan, dan hilangnya rasionalitas. Namun demikian, ada usaha untuk menaturalisasi “hilangnya rasionalitas” itu dalam bingkai—atau lebih tepatnya belenggu?—kemanusiaan atas nama cinta, bukan atas nama persahabatan. Persahabatan adalah “sebuah kamuflase” untuk menutupi cinta yang masih ada. Rachel sebenarnya masih punya harapan hidup, meskipun tidak bisa lagi bermain basket bersama Farel. Toh, Farel siap mendampinginya, setelah Luna meninggal. Masalahnya, Rachel tidak siap dengan pernikahan mereka berdua karena mungkin saja Luna bisa mendapatkan donor hati dari orang lain. Rachel tentu akan semakin sedih menerima kenyataan itu. Rasa cinta yang mendalam dan ketidaksiapannya untuk melihat pernikahan tersebut mendoronngnya untuk mendonorkan hati kepada Luna sebagai cara untuk tetap bisa mendampingi hari-hari Farel sehingga ia merasa akan tetap hidup bahagia dengan cintanya, meskipun dengan tubuh perempuan lain. Betapa berat pengorbanan seorang perempuan untuk mendapatkan cintanya. Dengan demikian, submitos tersebut menghadirkan pesan perempuan, cinta, kesedihan, hilangnya rasionalitas, dan pengorbanan (nyawa). Perempuan  ternyata masih harus terus berkorban, walaupun harus dengan memberikan kehidupannya demi kebaikan perempuan lain dan lelaki yang dicintainya. Seperti diungkapkan oleh Thackery, “siapa yang sudah menuduh perempuan tidak adil? Mereka selalu mengorbankan diri untuk mereka yang lain, atau seseorang untuk kepentingan seseorang yang lain”.[3]

* Tulisan ini adalah bagian dari tesis S2 saya di KajianBudaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM, Perempuan dalam Layar Bergerak: Representasi Perempuan dan Pertarungan Ideologis dalam Film Indonesia Era 2000-an (2008). Dalam tesis ini saya menerapkan beberapa teori seperti mitos Barthesian, wacana Foucauldian, gender, dan hegemoni.

Catatan akhir

[1] Dalam pandangan Freud, depresi bisa terjadi ketika seseorang kehilangan objek—baik manusia atau barang—yang dicintainya. Kondisi kehilangan tersebut akan menggiringnya pada ketertekanan hidup. Seseorang yang mengalami depresi merasakan dirinya sebagai sesuatu yang kosong dan kalah. Lihat Heller, 2005: 71-72.

[2] Dikutip dari Haldeman-Julius, E. What Great Man Have Said About Women. Kansas: Haldeman-Julius Company. Versi on line diunduh dari: Project Guetenberg Ebook, http://www.pgdp.net, 12 Januari 2008.

[3] Dikutip dari Haldeman-Julius, E. Ibid.

Pustaka Acuan

Heller, Sharon. 2005. Freud A to Z. New Jersey: Jhon Wiley and Sons, Inc.

McCracken, Grant. 1988. Culture and Consumption, New Approaches to Symbolic Character of Consumer Goods and Activities. Indiana: Indiana University Press.

Nordholt, Henk Schulte, “Introduction”, dalam Henk Schulte Nordholt (ed).1997.Outward Appearances, Dressing State and Society in Indonesia. Leiden: KITLV Press.

Share This:

About Ikwan Setiawan 138 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*