EIFFEL I’M IN LOVE: Perempuan remaja dalam asyiknya patriarki

IKWAN SETIAWAN

 

Sebenarnya cerita dalam Eiffel I’m in Love (Nasri Cheepy, 2003, selanjutnya disingkat EIL) hampir sama dengan AADC, di mana tokoh perempuan remaja direpresentasikan sebagai subjek yang masuk ke dalam relasi kuasa cinta laki-laki. Bedanya, kalau dalam AADC subjek laki-laki pada awalnya tidak berniat untuk memasukkan subjek perempuan dalam formasi cintanya, dalam EIL subjek perempuan sengaja dijerat dalam formasi tersebut. Artinya, subjek perempuan sudah sejak awal dicintai oleh subjek laki-laki dan untuk mendapatkan cinta tersebut ia harus menjalankan sebuah permainan dan jebakan diskursif sebagai bentuk mekanisme kuasanya yang melibatkan subjek-subjek lain. Selain itu, dalam AADC perempuan remaja harus setia menunggu kedatangan kekasihnya dari Amerika Serikat, sementara dalam EIL perempuan remaja pergi mengunjungi lelaki yang ia cintai ke Paris.

EIL 2

Kehidupan Tita sebagai perempuan remaja bisa dibilang sempurna. Ia tinggal dengan keluarga yang harmonis dan kaya raya. Cowoknya, Ergi, adalah laki-laki yang sangat perhatian dan kawan-kawannya di sekolah juga sangat baik. Apa yang ia keluhkan hanyalah ibunya yang sangat protektif. Semua keceriaan sebagai remaja berubah drastis sejak kamar tamu yang berada di sebelah kamarnya ditempati Adit, anak teman bapaknya dari Paris, yang sudah sejak kecil menaruh hati kepada Tita. Ketika berlibur dan menginap di rumah Tita, ia mulai memainkan satu “permainan” yang membuat Tita tidak bisa menolak arti penting kehadiran Adit di tengah-tengah tingkah lakunya yang aneh.

Permainan pertama yang dilakukan oleh Adit adalah menghembuskan isu perjodohannya dengan Tita. Ketika tidak sengaja mendengar isu tersebut, Tita begitu shock karena ia sendiri sudah punya pacar, Ergi. Ia sendiri kurang menyukai sikap Adit yang begitu sombong dan angkuh. Ketika tahu bahwa sosok Adit begitu mempesona, Uni, sahabatnya, malah menyalahkannya.

Setelah berdua melihat Adit dari kamar mandi, Tita dan Uni, sahabat dekatnya, ngobrol di kamar.

Uni : (MS mereka berdua. Uni menutup pintu) Ta, ta cowok tadi siapa? Loe kok kenal?
Tita : (MS mereka berdua. Uni ikut duduk di ranjang) Itu dia yang namanya Adit.
Uni : (MS mereka berdua. Uni kaget) Ha, jadi ia calon suami, Loe? Loe itu bego atau stupid sih, Ta? Cowok setinggi, secakep, setajir itu, mau loe sia-siain begitu aja?
Tita : (CU) Adit nggak secakep yang Loe kira kok (minum air putih).
Uni : (MS mereka berdua) Ta kalau gue bilang, Loe harus mutusin Ergi.
Tita : (MS mereka berdua) Gila Loe ya, saran apaan tu?
Uni : (MS mereka berdua) Ya ampun Tita, Loe itu nggak bisa neglihat cowok cakep ya? Cewek yang neglihat dia itu, pasti langsung suka. Coba aja loe bawa Adit besok ke sekolah, gue yakin kok, semua cewek di sekolah pasti pada heboh..
Tita : (MS mereka berdua) Gila aja Loe. Kan ada Ergi? Ntar muncul gosip yang nggak-nggak lagi.
Uni : (MS mereka berdua) Ih, cuek aja lagi. Gosip murahan gitu nggak usah dipikirin lagi. Ada cowok cakep di rumah yang dimanfaatin dong. Kalau gue jadi Loe Ta, gue baik-baikin tu cowok. Gue ajak kemanapun tu cowok. Gue ajak ke mall, gue suruh dia njemputin dia di sekolah. Yah, pokoknya gue akrab-akrabin deh sama dia. Gue balik dulu ya, ntar sore ada les nih…

Ungkapan-ungkapan penolakan atas apa-apa yang diomongkan Uni dan usahanya untuk menolak saran darinya menandakan Tita masih mempunyai kekuatan untuk tidak terpengaruh oleh kehadiran Adit. Ia masih mempunyai alasan-alasan rasional seorang perempuan remaja yang tidak sekedar mengedepankan kekaguman fisik, meskipun Uni sudah menjadi subjek diskursif dari kehadiran seorang Adit dengan keterperangahan dan kekagumannya.

Adit kembali menunjukkan kelihaian permainannya ketika di mall ia lebih memilih memperhatikan Uni ketimbang Tita. Dari sini, Tita mulai masuk ke dalam jebakan diskursif, meskipun ia masih berusaha untuk tidak terpengaruh. Ia mulai terpengaruh, ketika Adit datang ke sekolah menemui Uni dan mengajaknya makan bakso di kantin. Ia merasa jengkel dan segera mengajak Adit pulang. Kejengkelan ini bukan menandakan “rasa cemburu” tetapi lebih pada “rasa penasaran” kenapa selama ini Adit begitu cuek ke dia yang sehari-hari bertemu di rumah, tetapi dengan Uni ia bisa begitu akrab, bahkan mesra.

Untuk semakin memasukkan Tita ke dalam permainnyanya, ia meminta bantuan mantan kekasihnya, Intan, yang ternyata selingkuhan Ergi, untuk berpura-pura menjadi pacar semalam agar Tita semakin penasaran. Ketika Tita ngobrol dengan Intan, mengalirlah semua cerita perihal Adit dengan segala keangkuhan dan kelebihannya. Sebagai seseorang yang dibayar, Intan tidak hanya berhasil memainkan peran sebagai pacar, tetapi dengan pintar berperan sebagai ‘psikiater’ yang secara aktif melakukan observasi, menanyai, dan memberikan masukan serta saran kepada Tita. Secara persuasif ia menjelaskan kebaikan-kebaikan Adit di balik sifat egois maupun protektifnya terhadap perempuan. Ia juga memastikan bahwa suatu saat Adit akan menyatakan cintanya kepada Tita dan akan membuat Tita bisa menikmati cintanya. Tita dengan serius mendengarkan penjelasan-penjelasan tersebut. Dalam konteks tersebut, Intan sudah berhasil menjadi narator, person, dan aparat yang menyampaikan wacana ke-Adit-an dengan segala pesona dan kekurangannya. Ketertarikan Tita untuk mendengarkan ‘dongeng’ tersebut dengan serius menandakan betapa ia semakin masuk ke dalam jebakan diskursif yang dimainkan Adit. Di tambah lagi sosok Adit yang menjadi “superhero yang kuat dan melindungi”, karena telah menyelamatkannya untuk keluar dari lingkaran cinta Ergi dengan cara menghajarnya. Superhero itu pulalah yang pada akhirnya mampu memberikan sesuatu yang hangat kepada Tita yang selalu gelisah dan menangis dengan persoalan cintanya.

“Kekuatan nalar dan fisik laki-laki” merupakan wacana yang sudah lama berkembang dalam pemikiran-pemikiran filsafat modern (Synnot, 2003: 96-98) dan bertransformasi hingga saat ini, baik dalam kehidupan nyata maupun jagat fiksional populer. Dalam kehidupan sehari-hari, laki-laki selalu diajarkan harus memberi perlindungan yang terbaik kepada anggota keluarga perempuan maupun teman dekatnya karena ia mempunyai kekuatan fisik di atas kemampuan perempuan. Dunia laki-laki adalah “dunia luar” sehingga ia harus mampu memadukan kekuatan fisik dan nalar yang mampu menjadikannya pemimpin yang mengayomi anggota keluarga perempuan maupun istri atau kekasihnya. Wajar kiranya ketika laki-laki terbiasa dengan permainan-permainan berbahaya yang melibatkan fisik maupun nalarnya karena habitus yang mereka jalani membentuknya ke dalam peran pemimpin yang harus dijalankan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara.

Ketika menemukan realitas pengkhianatan yang dilakukan Ergi, maka Tita tidak bisa berbuat banyak, selain menangis dan bersedih. Adit bisa memahami kelemahan tersebut, sehingga ia ‘membuka dada’ selebar-lebarnya untuk Tita “bersandar”; melepaskan segala ketidakmampuannya dalam menyelesaikan permasalahannya secara nalar, selain menangis. Adit begitu tenang ketika memeluk Tita yang bersandar di dadanya. Baginya, ini adalah momen “kemenangan awal” dalam permainannya apalagi ditambah dengan suasana romantis kembang api di taman. Sementara, Tita menjadi makhluk yang seolah-olah memperoleh perlindungan dan kedamaian. Adegan ini menunjukkan bahwa laki-laki tetaplah menjadi makhluk yang seolah-olah ditakdirkan secara nature dan nurture untuk memberikan perlindungan terbaik kepada perempuan yang lemah. Konsep “laki-laki pelindung” kemudian bertransformasi menjadi “penguasaan” ketika Adit dalam memberikan nasehat-nasehatnya seputar permasalahan Tita dan Ergi mulai melarangnya untuk kembali kepada sang mantan dan Tita menuruti itu semua. Adegan-adegan tersebut menjadi bentuk narasi yang menghadirkan submitos kecengengan perempuan remaja, kecerdasan laki-laki, dan ketidakkuasaan perempuan remaja untuk tidak terjebak di dalam permainan laki-laki.

Submitos tersebut, lebih jauh lagi, berkorelasi tidak hanya dengan persoalan kuasa “fisik laki-laki dan perlindungan”, tetapi juga dengan wacana “kecerdasan intelektual laki-laki” yang sudah lama menghegemoni dalam praktik sosio-kultural masyarakat. Laki-laki dengan nalar dan semua kemampuan logikanya bisa melakukan permainan apa saja yang tidak lazim dilakukan perempuan, termasuk membuat perempuan untuk jatuh ke dalam pelukannya melalui serangkaian jebakan-jebakan diskursif. Hal itu menjadi mungkin karena laki-laki sudah terlatih sejak kecil untuk menggunakan nalar melebihi apa yang bisa dilakukan perempuan sehingga ia bisa mempermainkan perempuan dalam kuasanya (Synnot, 2003: 100-101 & 105). Lebih jauh, kehadiran submitos tersebut dalam EIL mempertegas wacana ideologis bahwa capaian-capaian perempuan dalam lingkungan akademis, bisnis, maupun politik dewasa ini yang mampu menunjukkan kemampuan superior untuk melampaui batasan tradisi patriarki serta perkembangan pesat pemikiran feminis yang menggugat kuasa patriarki, tidak akan menghapuskan takdir perempuan yang masih membutuhkan laki-laki. Mereka dalam peristiwa-peristiwa tertentu, seperti kesedihan hidup, tetap membutuhkan kekuatan nalar lelaki.

Tita, di balik semua potensinya untuk maju dan berkembang sebagai perempuan remaja yang didukung dengan segala fasilitas kekayaan orang tuanya, ternyata memang ‘ditakdirkan’ dalam representasi yang lebih menegaskan ketidakuasaannya untuk keluar dari permainan diskursif lelaki. Ia merasa begitu kehilangan ketika Adit hendak kembali ke Paris, apalagi ditambah dengan ucapan bahwa ia adalah calon pendamping hidupnya. Tita, kini, hanya seorang perempuan remaja yang lagi-lagi begitu sedih melihat calon pasangan hidupnya akan segera kembali ke Paris. Dia hanya bisa pasrah serta menikmati “pelukan” dan “ciuman mesra” Adit di bandara, sebagai bentuk “kepastian cinta” dan “kesabaran untuk menunggu”—sama seperti yang dialami Cinta dalam AADC.

Di bagian depan bandara, Adit memeluk Tita penuh penghayatan. Lalu orang yang datang dan pergi menjadi latar. Tita mengenakan kaos tanpa lengan berwarna merah marun dan rok di bawah lutut berwarna putih sembari membawa tas kecil berwarna putih, sedangkan Adit memakai jaket dan celana jean berwarna hitam. Tita dengan wajah sedih menyandarkan kepalanya di dada Adit. Adit melepas pelukannya, lalu memegang dagu Tita yang hanya diam. Adit mencium bibir Tita. Selama beberapa saat mereka saling berciuman dengan latar lalu-lalang orang. Selesai berciuman, Adit membelai pipi dan bibir Tita. Sesudahnya, Tita tersenyum bahagia.

Semua kemarahan, kejengkelan, dan kesedihan luluh oleh rasa bahagia karena sebuah ciuman. Bagi Tita, kemarahan dan kejengkelan hanya “cerita sejarah perjumpaan awal” yang tak harus diingat dan diungkit karena kenyataannya dia sekarang “lebih bisa tersenyum” dan “merasa bahagia”; sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya dalam menjalin cinta. Keterjebakannya dalam permainan Adit, tidak terlalu penting untuk disadari karena, toh, ia begitu menikmati permainan itu sampai-sampai ia harus segera mengubur tangis dan kesedihan karena Adit telah memberikan satu romansa dalam kehidupan cintanya. Lalu-lalang orang di bandara dan keyakinan masyarakat terhadap tabu tidaklah harus diindahkan karena Tita adalah perempuan remaja yang sedang jatuh cinta. Segala tabu harus dijungkir-balikkan demi memperoleh semua keindahan yang mungkin (hanya bisa) terjadi di bandara. Pilihan CU ketika Tita tersenyum setelah berciuman menegaskan ketiadaan beban tabu tradisi dalam benaknya karena yang ia rasakan hanyalah keindahan dari sebuah ciuman.

Pilihan fashion yang dikenakan Tita—kaos tanpa lengan berwarna merah marun, rok di bawah lutut berwarna putih, sembari membawa tas kecil berwarna putih—semakin mempertegas ke-feminin-annya. Sementara, pilihan fashion yang dikenakan Adit—jaket dan celana jean berwarna hitam—semakin memperkuat maskulinitasnya. Jaket dan celana jean secara umum memang sudah disepekati sebagai pakaian lelaki, meskipun ada juga perempuan yang mengenakan. Adapun, rok, tas, dan kaos tanpa lengan, memang sudah lazim dikenakan perempuan. Perbedaan biner dalam hal fashion ini sekaligus menandakan betapa ke-lelaki-an, pada dasarnya, bisa memberikan kehangatan dan kemesraan bagi perempuan yang secara takdir membutuhkan perlindungan dan sentuhan-sentuhan romantis. Maka, tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari pengetahuan ke-lelaki-an karena secara realitas dan kodrat perempuan memang membutuhkannya.

EIL 3

Di Paris, ketika Tita mengunjunginya dengan diantar Bunda, Adit semakin mempertegas komitmen cintanya dengan sebuah ciuman mesra disaksikan menara Eiffel dan “sebuah cincin lamaran” sembari makan di McDonald Paris. Saya melihat kemauan Bunda menemani Tita untuk menemui Adit ke Paris secara spesifik menampilkan posisi diskursif ideal orang tua di tengah-tengah keinginan anaknya. Orang tua tidak harus selalu mengekang keinginan anak untuk merasakan keindahan cinta, karena sudah ada lelaki yang bertanggung jawab. Kalau orang tua ditempatkan sebagai penanda tradisionalisme, narasi film ini berusaha menempatkannya sebagai pendukung, bukannya pengekang, dari perayaan sedikit kebebasan di tengah-tengah modernitas. Pun demikian, ketika orang tua merepresentasikan kehadiran negara, film ini menempatkannya sebagai idealitas baru; negara semestinya tidak terlalu membatasi hasrat kebebasan warga negaranya. Toh, Tita sebagai anak dan warga negara tidak akan mengumbar kebebasan secara berlebihan karena ia hanya ingin sedikit merasakannya bersama lelaki yang bertanggung jawab, yakni Adit.

Dipilihnya Paris sebagai tempat untuk mempertegas komitmen cinta dan melamar Tita juga menarik untuk dikritisi. Paris adalah salah satu kota yang menjadi pusat peradaban Eropa sejak zaman kolonial; dari pemikiran filsafat, mode, hingga atraksi budaya. Menara Eiffel menjadi salah satu elemen penting dari keunggulan Paris. Itulah mengapa banyak orang dari negara-negara Afrika dan Asia yang ingin mengunjunginya, baik untuk kepentingan wisata maupun pendidikan. Kota ini juga terkenal dengan sebagai tempat romantis. Adit yang sejak kecil sudah bermukim di Paris sangat paham akan keunggulan-keunggulan kota ini. Segala fakta tentang Paris yang menjadi salah satu pusat pameran kolonial yang mempertontonkan orang-orang Asia dan Afrika dalam “kategori binatang” (Mrazek, 2006: 147) dihilangkan dengan segala kesan glamor dan romantisnya kehidupan malam. Yang penting bagi Adit adalah menunjukkan kesungguhan cintanya kepada Tita dengan sebuah ciuman mesra disaksikan menara Eiffel. Pun demikian segala fakta kapitalisme McDonald tidak perlu diperdebatkan karena di restoran cepat saji ini Adit mengikat hati Tita dengan sebuah cincin. Maka, Barat—Paris dan McDonald—adalah ‘sahabat’ yang menghadirkan kehangatan hidup dan keindahan cinta sehingga mereka tidak perlu ditakuti, apalagi selalu dipersalahkan atas sejarah panjang kolonialisme maupun kapitalisme. Bagi Adit, berkawan dengan mereka lebih menjanjikan karena ia bisa mendapatkan hati dan diri Tita sepenuhnya.

Dari penjelasan-penjelasan diskursif di atas, saya melihat hadirnya dua submitos yang saling terkait. Pertama, submitos tentang keindahan dan kehangatan negara-negara Barat. Kedua, submitos yang menaturalisasi cinta perempuan remaja dan kuasa cinta laki-laki menjadi begitu nyata hadir dalam bentuk-bentuk filmis tersebut. Barat dengan segala pesona, keberadaban, dan kehangatannya adalah representasi dari kedirian lelaki, termasuk Adit yang sudah sejak kecil bermukim di sana. Bahkan, Adit, untuk menunjukkan ke-Barat-anya dan ke-lelaki-annya tidak perlu menyematkan cincin di jari Tita dengan disaksikan kedua orang tuanya, seperti yang ada dalam tradisi Indonesia. Baginya, segala keramahan dan kehangatan atmosfer Paris dan McDonald adalah wacana dan institusi untuk memperkuat posisi diskursif ke-lelaki-annya di hadapan Tita.

Hampir sama seperti yang terjadi dalam AADC, kuasa laki-laki melalui cinta kembali menawarkan sebuah petualangan beraroma kebebasan yang begitu dinikmati oleh Tita. Namun, EIL mengkonstruksi kebebasan tersebut dalam pesan ideologis tentang posisi perempuan sebagai seorang istri. Hal itu terlihat dari kesediaan Tita untuk menerima cincin pinangan dari Adit di Paris. Paris dengan segala nuansa romantisnya, ternyata telah menjadi saksi, bukan sekedar perayaan kebebasan kaum muda yang sedang jatuh cinta, tetapi juga kepasrahan seorang perempuan remaja untuk dipinang oleh seorang laki-laki muda, seperti yang diimpikannya sejak kecil. Sejak kecil Tita memang sudah memimpikan untuk menjadi seorang istri dan ibu yang baik dalam sebuah ikatan keluarga bahagia. Tidak ada yang salah dengan pilihan itu, asalkan dilandasi oleh kesadaran untuk tidak terlalu pasrah dan tetap mengedepankan prinsip-prinsip negosiasi yang setara antara perempuan dan laki-laki. Masalahnya, Tita dalam film ini direpresentasikan sebagai perempuan yang begitu mudah terjebak dalam permainan diskursif Adit, sehingga negosiasi yang dia lakukan tidak mampu menjadi kekuatan bagi dirinya.

Di samping itu, kesediaan Tita untuk menjadi pendamping hidup bagi Adit, juga menyuguhkan konteks pertarungan ideologis melalui artikulasi yang kompleks. Tita dan juga perempuan-perempuan remaja lain mungkin sudah biasa menikmati ciuman dan kebebasan-kebebasan lain dalam bercinta, tetapi film ini tidak ingin membiarkan wacana ideologis itu berkembang secara berlebihan. Orang tua Tita juga tidak melarangnya untuk pacaran dengan Adit sehingga tidak ada konflik antara generasi tua dan generasi muda yang bisa dibaca secara signifikan dalam film ini, kecuali ketika orang tuanya melarang Tita keluar bersama kawan-kawannya ke mall dan tidak mengindahkan pelajaran. Dalam konteks itu, perempuan remaja sejenak dibebaskan dari norma-norma generasi tua. Generasi tua, sekali lagi, diidealisasi tidak terlalu mengekang. Namun demikian, kesediaan Tita untuk menerima cincin pinangan merupakan penandaan mitis yang mewacanakan kembali wacana ideologis tentang kemapanan keluarga yang menunjukkan kecenderungan untuk mengembalikan norma-norma orang dewasa sebagai acuan ideologis bagi generasi muda dengan pemaknaan baru yang lebih cair.

EIL 1

Dengan demikian, dalam film ini, perempuan remaja mengalami dua kali hegemoni yang mengatas namakan cinta : (1) kuasa hegemonik laki-laki atas nama cinta dan (2) kuasa hegemonik wacana ideologis tentang keluarga sebagai syarat bagi mereka untuk bisa diterima dalam kehidupan orang dewasa. Melalui pemahaman tersebut, representasi perempuan remaja dalam film ini bisa dibaca mempunyai kesamaan dengan film-film remaja dalam masa Orba, dimana mereka dibiarkan merasakan cinta, tetapi kemudian diwajibkan mematuhi norma-norma orang dewasa dengan menjalin ikatan keluarga. Bedanya, dalam film ini perempuan remaja tidak dilibatkan dalam konflik dengan pihak keluarga, seperti yang banyak muncul dalam film-film Orba. Hal ini tidak untuk mengatakan bahwa berkeluarga itu jelek, tetapi dalam konteks pertarungan ideologis, ternyata perempuan remaja masih saja direpresentasikan menjadi subjek yang seolah-olah merasakan kebebasan untuk kemudian terikat kembali dalam kehidupan yang normal. Tentu saja, itu semua terjadi melalui kehadiran seorang laki-laki yang semula dibenci, tetapi pada akhirnya dicintai dan kehadirannya tidak dirasakan lagi sebagai bentuk kuasa, melainkan sebuah kewajaran yang membingkai kehidupan perempuan. Laki-laki memang tidak harus menjabarkan kepentingan kuasanya, tetapi membiarkannya disepakati perempuan melalui kehangatan, kemesraan, dan, akhirnya, kepasrahan cinta.

Cinta Laki-laki yang Membuat Mereka Tunduk

Struktur dunia naratif AADC dan EIL, pada dasarnya, berusaha kembali mereprensetasikan bentuk relasi kuasa laki-laki atas perempuan yang masih belum bisa hilang sepenuhnya dari wacana dan praktik yang terjadi dalam masyarakat Indonesia saat ini. Perbedaannya hanya pada tataran praktik diskursif yang dibangun di dalamnya. Cinta dalam AADC masuk ke dalam relasi kuasa tersebut melalui wacana kekaguman akan capaian-capaian idealis seorang laki-laki yang ternyata mampu memberikan “pengalaman” dan “kejutan romantis” di dalam kehidupannya. Tegangan-tegangan dengan “nilai solidaritas” kawan-kawannya juga menjadi bumbu diskursif yang berusaha meretorikakan Cinta sebagai subjek yang sebenarnya tidak gampang untuk menyepakati cinta dari Rangga, meskipun akhirnya ia tidak kuasa untuk keluar dari jejaring cinta tersebut. Sementara, Tita dalam EIL adalah stereotip perempuan remaja yang benar-benar dibuat tidak berdaya akan permainan diskursif yang diciptakan laki-laki, sehingga ia harus membiarkan dirinya secara jujur mengakui kuasa cinta yang ada.

Rangkaian Submitos dalam AADC:

(1) Kedinamisan hidup perempuan remaja dan solidaritas; (2) Ketidakmampuan perempuan remaja untuk tidak tertarik kepada kemisteriusan pikiran laki-laki; dan, (3) Perubahan hidup perempuan remaja dan kuasa cinta laki-laki

Mitos dalam AADC: Perempuan Remaja, Cinta, dan Kuasa Laki-laki

Rangkaian submitos dalam EIL:

(1) Kecengengan perempuan remaja, kecerdasan laki-laki, dan ketidakkuasaan perempuan remaja untuk tidak terjebak di dalam permainan laki-laki; (2) Keindahan  dan kehangatan negara-negara Barat; dan, (3) Cinta perempuan remaja dan kuasa cinta laki-laki.

Mitos dalam EIL: Perempuan Remaja, Cinta, dan Kuasa Laki-laki

Berdasarkan adegan-adegan dalam scene pada kedua film tersebut (pembentuk rangkaian submitos), ternyata praktik diskursif melalui struktur dunia naratif hanya berpusat pada usaha untuk menjadikannya sebagai mitos perempuan remaja, cinta, dan kuasa laki-laki. Namun demikian, sebelum menjadi mitos, muncul usaha sadar dari sineas untuk mengartikulasi dan menginklusi kepentingan-kepentingan perempuan yang tidak harus pasrah dan sekedar menjadi objek dari kuasa cinta laki-laki. Artikulasi filmis yang dimunculkan adalah membuat perempuan remaja sebagai subjek-subjek yang awalnya secara sadar menikmati keceriaan dunia dan hidupnya; bahwa perempuan remaja tidak harus direprensetasikan hanya tunduk kepada kekangan-kekangan orang tua maupun larut dalam gaya hidup kota. Mereka adalah subjek-subjek yang mempunyai warna dan tradisi yang bisa jadi berbeda dengan kehendak umum masyarakat, di tengah-tengah tuntutan untuk memperoleh ilmu.

Ketika menghadapi kehadiran laki-laki, mereka juga diartikulasikan sebagai subjek-subjek yang tidak mudah untuk pasrah. Mereka, pada awalnya, selalu punya keinginan-keinginan yang harus diperjuangkan sebagai perempuan. Namun demikian, di balik semua artikulasi tersebut, perempuan remaja tetaplah menjadi subjek diskursif yang tidak kuasa untuk menolak kehadiran laki-laki, atau secara halus tidak berdaya untuk melakukan negosiasi-negosiasi yang bisa memerdekakan diri mereka atau memunculkan nilai tawar. Representasi yang muncul dalam film, dengan demikian, tidak lebih dari sebuah usaha kreatif untuk men-stereotip-kan perempuan kembali sebagai subjek yang tidak berdaya dan tidak harus keluar dari relasi kuasa hegemonik laki-laki sebagaimana yang sudah ada dalam praktik dan wacana sosio-kultural masyarakat.

Kedua film ini memang berhasil meyuguhkan cerita cinta sebagai bagian dari kehidupan perempuan remaja yang terus mencari dan menemukan identitasnya di tengah-tengah perkembangan masyarakat kota. Cinta merupakan kekuatan untuk “membuat hidup semakin hidup” dengan pengalaman-pengalaman romantis. Cinta dalam konteks sosiologis merupakan hubungan mutual yang saling menguntungkan bagi kedua pihak, baik perempuan maupun laki-laki. Thagaard (2007: 357-358), mengutip pendapat Giddens, menjelaskan adanya dua jenis cinta, cinta yang mempertemukan dan cinta yang bergantung. Cinta jenis pertama merujuk pada proses yang dengannya pasangan membuka diri untuk saling terbuka satu sama lain; bersifat aktif. Cinta jenis kedua, sebaliknya, semata-mata masuk ke dalam kompleks cinta romantis. Karakter mutual dari cinta jenis pertama berasosiasi dengan ‘hubungan murni’, yang merujuk pada tujuan untuk kepentingannya sendiri, yang dijalani sejauh mana kedua pihak bisa mendapatkan kepuasan. Cinta ini, secara prinsip, tidak berkaitan dengan kuasa, namun menekankan kesamaan emosional dalam ‘memberi dan menerima’, terutama ketika cinta terikat pada prototip hubungan yang murni.

Cinta dalam AADC dan EIL memang berhasil menampilkan cinta secara emosional, namun cenderung lebih berpihak kepada cinta yang bergantung di mana Cinta dan Tita sangat bergantung kepada pasangan laki-laki masing-masing dalam formasi diskursif bersifat romantis yang mereka alami. Mereka menjadi subjek yang sangat bergantung kepada laki-laki sehingga cenderung memposisikan cinta sebagai bentuk kepasrahan kepada laki-laki. Bahkan Cinta, misalnya, harus rela mengorbankan kepentingan pribadinya dengan teman-temannya demi seorang Rangga. Di sinilah muncul ketidakberimbangan di mana laki-laki berusaha memaknai cinta perempuan untuk kepentingannya dalam hegemoni patriarki (Thagaard, 2007: 359). Masing-masing dari kedua tokoh perempuan tersebut, pada akhirnya, memang menemukan cinta seorang lelaki, tetapi hal itu tidak bisa menghilangkan makna ideologis bahwa mereka adalah pihak yang harus menerima beban lebih berat untuk mencintai.

Pemunculan adegan ciuman di bandara Soekarno-Hatta maupun di dekat Menara Eiffel yang dilakukan kedua perempuan remaja dalam kedua film tersebut merupakan penandaan mitis yang menarik untuk dicermati. Tentu bukan sebuah kebetulan ketika adegan tersebut dilakukan di sana. Mungkin bagi tim kreatif, keberadaan adegan dan ruang-ruang tersebut bisa memunculkan kesan “dramatis-romantis” dari mereka yang sedang jatuh cinta dan harus terpisah oleh jarak dan waktu untuk beberapa saat lamanya atau mengikuti perspektif Barthesian, menjadi “pesan ikonik tak berkode” sekaligus “pesan ikonik berkode”.[i]  Apabila kedua ruang dan adegan tersebut dimaknai sebagai tanda mitis dalam konteks poskolonial, maka akan ditemukan cara pembacaan yang berbeda.

Ciuman di depan publik, bagaimanapun juga, merupakan tradisi yang masih dianggap tabu dalam budaya masyarakat Indoensia. Ketika kedua perempuan remaja tersebut dengan ikhlas dan senang hati melakukannya, maka mereka sebenarnya telah melakukan tindakan peniruan terhadap tradisi kebebasan Barat yang memang sudah menganggapnya biasa—seperti terlihat dalam film-film remaja Hollywood. Ruang bandara adalah ruang antara yang menempatkan mereka dalam persimpangan tradisi Timur dan Barat di mana batas-batas kultural di antara keduanya tersebut menjadi kabur. Di ruang tersebutlah segala kemungkinan bisa terjadi; apakah harus meninggalkan tradisi dan wacana ideologis yang ada dalam masyarakat Indonesia untuk kemudian mengikuti sebagian yang Barat atau tetap mengikuti konsensus tradisi tetapi dengan pikiran dan harapan kebebasan demi sebuah perbaikan perempuan itu sendiri. Ketika memilih yang kedua, berarti tidak harus ada adegan ciuman tetapi dengan memunculkan negosiasi-negosiasi untuk kesamaan perasaan dan harapan akan cinta—sesuatu yang memang masih sulit didapatkan dalam budaya masyarakat kita. Kedua film tersebut ternyata cenderung memilih untuk sejenak melupakan tradisi dan sekedar meniru sedikit praktik kebebasan Barat, bukan pikiran dan harapan, karena kedua perempuan remaja tersebut tetap saja terbelenggu oleh permainan dan harapan cinta sebagai kuasa hegemonik laki-laki terhadap perempuan.

Di samping itu, dalam perspektif resistensi, ciuman atas nama cinta di ruang terbuka, bisa jadi merupakan perlawanan terhadap tabu dan norma yang diajarkan generasi tua, yang banyak membatasi kaum muda dalam harapan konservatif. Kekakuan-kekakuan dogma-dogma ortodoks yang mengatasnamakan keindonesiaan didekonstruksi dengan pemahaman-pemahaman yang lebih baru—meskipun berasal dari budaya asing—melalui wacana-wacana cinta ala kaum muda. Sudah lama kaum muda masuk dalam relasi kuasa diskursif dan menjadi subjek-subjek penurut yang akan di-liyan-kan ketika mereka memberontak dengan praktik dan wacana ideologis yang berseberangan dengan tradisi.  Hadirnya ciuman di ruang umum dalam film, bisa jadi, merupakan serangan balik untuk melawan kekangan-kekangan tersebut. Namun, impian resisten yang diartikulasikan ternyata cenderung mengembalikan perempuan ke dalam wacana ideologis konsensual dengan menggantungkan harapan pada laki-laki, bukan dari kepentingan dan kemampuan negosiatif yang tidak harus memberikan ciuman sebagai tanda cinta.

Dengan demikian, dalam kedua film tersebut artikulasi perayaan kebebasan perempuan remaja, ternyata baru sebatas pada gugatan terhadap kekakuan tradisi dalam memahami persoalan ekspresi cinta. Dalam konteks relasi kuasa laki-laki, pertarungan ideologis yang terjadi ternyata masih besifat hegemonik. Para tokoh perempuan memang pada awalnya dibiarkan dalam menikmati kehidupan mereka sebagai pelaku utama dalam struktur dunia naratif. Mereka bisa saja marah kepada laki-laki yang dianggap sombong. Mereka untuk beberapa saat lamanya dibiarkan merayakan kemenangan-kemenangan kecil sebagai tokoh superwomen yang bisa mengendalikan emosinya. Namun, ketika berada dalam persoalan cinta yang sebenarnya, mereka, lagi-lagi, tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa pasrah ketika laki-laki menciumnya sekaligus menguasainya.

* Tulisan ini adalah bagian dari tesis S2 saya di KajianBudaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM, Perempuan dalam Layar Bergerak: Representasi Perempuan dan Pertarungan Ideologis dalam Film Indonesia Era 2000-an (2008). Dalam tesis ini saya menerapkan beberapa teori seperti mitos Barthesian, wacana Foucauldian, gender, dan hegemoni.

Catatan akhir

[i] Pemaknaan tersebut berasal dari cara pembacaan mitis Barthes, sebagaimana dikutip Budiman, untuk menangkap pesan dalam citra. Pesan ikonik tak berkode merupakan tataran denotasi citra yang berfungsi untuk menaturalkan pesan simbolik. Sedangkan pesan ikonik berkode merupakan tataran konotasi yang keberadaannya didasarkan atas kode budaya tertentu atau familiaritas terhadap stereotip tertentu. Lihat Kris Budiman, 2003: 70.

Pustaka acuan

Budiman, Kris. 2003. Semiotika Visual. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik bekerjasama dengan Yayasan Seni Cemeti.

Synnott, Anthony. 2003. Tubuh Sosial, Simbolisme, Diri, dan Masyarakat (terj. Yudi Santoso). Yogyakarta: Penerbit Jalasutra.

Mrazek, Rudolf. 2006. Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Kolon. Jakarta: Yayasan  Obor.

Thagaard, Tove, “Gender, Power, and Love: A Study of Interaction between Spouses”, dalam Jurnal Acta Sociolologica, Vol.40 (4), 1997.

Share This:

About Ikwan Setiawan 160 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*