ADA APA DENGAN CINTA?: Perempuan [cerdas], kontestasi, dan kuasa lelaki

Kaum muda Indonesia—dalam konteks tulisan ini adalah pelajar dan mahasiswa—bukanlah sekedar kelompok sosial berdasarkan kategori umur. Mereka bukan hanya sekedar anak sekolahan/kuliahan yang pada pagi hingga siang ‘bergulat’ dengan buku dan guru/dosen, sementara sore hingga malam hari menemukan kenikmatan di mall atau plasa yang semakin memenuhi lanskap kota-kota besar Indonesia. Kaum muda merupakan kelompok sosial yang memiliki kompleksitas persoalan, dari yang romantis (semisal tentang masalah percintaan), peralihan/pencarian identitas, hingga yang bersifat ideologis (gaya hidup hedon dan konsumtif serta pertarungan dengan generasi tua, misalnya), yang menandai masa peralihan transisi anak-anak menuju dewasa dalam struktur dan relasi masyarakat kapitalis (Barker, 2004: 334-336). Itulah mengapa Siregar (2004: 4) berargumen bahwa film-film dengan tema seputar kehidupan kaum muda akan tetap tumbuh dan digemari sesuai dengan perkembangan zaman, meskipun sering dianggap kurang bermutu, atau bahkan menjual mimpi dan bisa berbahaya bagi generasi muda, budaya, dan nasionalisme Indonesia.[1]

Sayangnya, selama ini, analisis tentang persoalan kaum muda dalam media masih terjebak pada pola refleksi yang bersifat general. Mereka sering diasumsikan sebagai kelompok sosial yang sedang mencari jati diri dan tenggelam dalam gaya hidup penuh mimpi, terjebak dalam kriminalitas, dan bisa membahayakan ketahanan budaya; sebuah kepanikan moral.[2] Refleksi seperti itu lebih dipengaruhi oleh pola pikir yang memosisikan kaum muda sebagai makhluk yang rentan terhadap pengaruh-pengaruh negatif budaya asing karena kelabilan pikiran mereka di tengah-tengah pencarian identitas diri dan kepungan nilai, benda, serta praktik modernitas.

Film-film tentang kaum muda juga lebih banyak dibicarakan pada aspek gaya hidup dan pola pergaulan anak muda perkotaan yang di satu sisi mendambakan kebebasan, tetapi di sisi lain masih harus memperhatikan norma-norma ketimuran. Aspek representasi—bagaimana  makna tentang kaum muda diproduksi—yang disebarkan melalui narasi filmis masih belum banyak dikaji. Di tengah-tengah booming film tentang kaum muda saat ini—setelah  sukses luar biasa dari Ada Apa Dengan Cinta (2002)[3]—kajian yang membaca secara kritis representasi tubuh, diri, dan pikiran kaum muda di tengah-tengah wacana kultural yang lebih beragam selama era Reformasi sangat jarang. Aspek representasi perempuan muda/remaja dalam film menarik untuk dikaji bukan semata-mata terkait pencitraan mereka, tetapi juga terkait wacana, utamanya persoalan gender yang melingkupinya.

Tulisan ini secara khusus akan menganalisis persoalan diskursif yang ada dalam film tentang perempuan remaja/muda, Ada Apa Dengan Cinta? Sangat mungkin dalam euforia film-film tentang kaum muda saat ini tetap terdapat stereotipisasi antara perempuan dan laki-laki serta relasi di antara mereka yang masih dipengaruhi oleh operasi wacana ideologis yang berkembang dalam masyarakat. Di sisi lain, mungkin juga terjadi representasi-representasi yang berusaha memberikan wacana tandingan. Perempuan muda, misalnya, tidak harus selalu terkungkung oleh bingkai patriarki dalam menjalankan peran-peran sosialnya di dalam film atau representasi yang mengharapkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Adapun untuk simpulan dari tulisan ini akan dijadikan satu dengan simpulan tulisan berikutnya tentang film Eiffel I’m in Love, karena keduanya memiliki kemiripian tema.

Membaca AADC

Ada Apa Dengan Cinta? (Rudy Sujarwo, 2001, selanjutnya disingkat AADC) harus diakui merupakan film paling populer dalam ‘genre pelajar’.[4] Popularitas film ini menandai dimulainya babak baru perfilman Indonesia yang baru bangkit dari ‘mati suri’ pada pertengahan sampai akhir 90-an. AADC berbeda dengan film pada era Orba yang lebih banyak mengekspos kehidupan remaja laki-laki dengan kehadiran perempuan-perempuan cantik sebagai pelengkap permainannya. Film ini berani keluar dari ‘pakem laki-laki’ dan menampilkan tokoh perempuan remaja sebagai tokoh utama, bukan sekedar sebagai tokoh pelengkap dunia laki-laki, meskipun permasalahan yang di hadapi tetap saja berkutat pada persoalan cinta. AADC juga tidak banyak mengekspos konflik dengan generasi tua, seperti film-film remaja di era 70 hingga 90-an,[5] tetapi lebih menyuguhkan perayaan jagat perempuan dengan kedinamisan hidup dan persoalan cinta yang mereka hadapi.

AADC 7

Kehadiran tokoh perempuan remaja dalam film ini menyuguhkan sentuhan lain, yakni dialah yang mengisi narasi filmis dengan kisah dinamis. Meskipun demikian, kehadiran laki-laki masih menjadi syarat mutlak bagi kisah cinta tokoh utama perempuan dalam AADC. Dalam hal wacana, apa yang menarik dikaji  adalah: (1) bagaimana perempuan remaja memaknai kisah cinta mereka?; (2) apa arti penting kehadiran laki-laki dalam kisah tersebut?; (3) apakah perempuan remaja bisa menjadi penentu dari kisah cinta tersebut ataukah, justru laki-laki yang menentukan kisah cinta di antara mereka, dan; (4) apakah representasi perempuan remaja berhasil menyuguhkan kontestasi perempuan dalam lingkaran kuasa patriarki atau justru mereka semakin terhegemoni oleh ideologi patriarki?

Dinamika dan Solidaritas Perempuan Remaja

Sebagai film remaja, AADC pada awal cerita menyuguhkan kisah kehidupan masa remaja Cinta bersama geng-nya. Gambaran kehidupan remaja SMA perkotaan menjadi latar yang melekat pada diri dan perilaku sehari-hari mereka. Cinta dan kawan-kawannya saling membantu dan mengisi dalam kehidupan sehari-hari sehingga kekompakan menjadi ciri utama kedirian mereka. Gaya bicara, berpakaian, dan pergaulan mereka dicitrakan sebagai kaum remaja kota yang tidak lepas dari ke-glamor-an kehidupan kota, tetapi mereka masih punya tanggung jawab dan komitmen terhadap persoalan akademis serta persoalan kehidupan lainnya. Cinta merupakan tokoh sentral yang lebih berperan sebagai ‘ketua geng’ dan mampu mengarahkan kawan-kawannya.

Cinta tampil sebagai seorang perempuan remaja cerdas yang mampu mengkoordinir kawan-kawanya untuk menjalani masa remaja yang penuh dinamika tanpa harus larut dalam ‘ketidakmenentuan’ generasinya. Cinta bersama beberapa sahabatnya—Maura, Alia, Karmen, dan Milly—selalu kompak dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Di samping itu, Cinta juga mampu menjadi tumpuhan bagi segala permasalahan yang dihadapi kawan-kawannya. Di sekolah, mereka mengelola majalah dinding sebagai media ekspresi para siswa. Sebagai narasi latar, kreativitas Cinta dan kawan-kawannya memberikan wacana alternatif yang keluar dari stereotipisasi remaja perkotaan yang cenderung dipersepsikan negatif. Mereka adalah remaja kota yang mempunyai prinsip-prinsip idealis untuk berkreasi. Cinta, misalnya, mempunyai kepandaian untuk membuat puisi dan lagu.

AADC 5

Cinta merupakan representasi remaja multitasking—sebagaimana dikonsepsikan oleh Hikmat Budiman (2002: 2-5)—yang di tengah-tengah segala fasilitas dalam keluarga dan lingkungan kota yang bergerak serba cepat, instan, serta hedon, masih mampu mengola pikiran dan daya kreatifnya untuk menjadi satu kekuatan serta bisa melampaui batasan stereotip. Ruang dan peradaban kota yang seolah-olah tidak lagi memberi ruang kepada mereka untuk ‘berbuat sesuatu’, ternyata masih bisa disiasati dengan beragam aktivitas kreatif. Remaja memiliki hasrat dan dinamika pikiran yang tidak sekedar berkaitan dengan pencarian jatidiri, tetapi mampu menjangkau ruang-ruang kreatif yang memberikan mereka inspirasi untuk menjadi “ada”, tanpa harus melupakan kesenangan hidup. Remaja multitasking, pada dasarnya, tidak menutup segala hasrat hedonis yang lahir dalam gaya hidup perkotaan dan perkembangan budaya populer, tetapi masih bisa mengerjakan aktivitas-aktivitas positif yang merupakan bagian integral dari kedirian dan pikiran mereka sebagai manusia dalam alam modern (Handayani, 2005: 32-35 & 39). Narasi besar modernitas yang seringkali menempatkan kaum remaja/muda sebagai korban konsumerisme dimaknai kembali melalui praktik-praktik “konsumsi kreatif” (Abdullah, 2006: 33-35; Lury, 1996: 45; Douglas & Isherwood, 1979: 75) di mana mereka menemukan ruang dan praktik yang sebenarnya tetap bisa menegaskan eksistensi positif dalam lingkaran peradaban kota  Tubuh dan pikiran kaum remaja/muda—yang semula ditundukkan dalam praktik diskursif moralitas, di satu sisi, dan hegemoni budaya konsumen, di sisi lain—berubah menjadi arena pertarungan di mana mereka bisa menggunakan dan meramunya-kembali untuk capaian-capaian ideal sesuai dengan kepentingan kultural kaum muda.

Salah satu peran strategis kehadiran Cinta dalam kehidupan kawan-kawannya adalah mampu mengembangkan solidaritas. Ketika Alia mengalami kekerasan oleh bapaknya, Cinta mengajak Alia dan kawan-kawannya untuk bertemu di kamar pribadinya. Mereka berkumpul untuk memberikan dukungan dan menguatkan batin Alia.  Penggambaran tersebut merupakan penanda yang menekankan hadirnya simpati Cinta dan kawan-kawannya terhadap Alia yang tengah dirundung masalah. Rasa simpati memunculkan konsep solidaritas sesama perempuan, di tengah-tengah kesibukan aktivitas belajar. Lebih dari sekedar memberikan simpati, Cinta memainkan gitar dan menyanyikan lagu barunya dan diikuti kawan-kawannya yang saling menggenggam tangan menandakan peran sentral Cinta berbasis kecerdasan dan kreativitasnya untuk menghibur Alia dan mengikat kawan-kawannya dalam solidaritas dan kerelaan untuk saling mendukung. Kemampuan Cinta untuk membuat lagu juga menggambarkan betapa daya kreatifnya tidak mati meskipun dalam kamar pribadinya ia terbiasa dengan kemewahan. Setelah mengharu-biru dengan solidaritas antarkawan, Cinta mengajak kawan-kawannya menari mengikuti soundtrack. Mereka memaknai kembali musik pop untuk merayakan kebersamaan, bukan sekedar hura-hura. Perempuan remaja di balik semua permasalahan hidup masih mempunyai kekuatan untuk menikmati masa remaja mereka dan suasana gembira sebagai satu kekuatan untuk mengembangkan solidaritas. “Kamar” yang merupakan ruang pribadi berubah menjadi arena kontestasi perempuan remaja untuk menegaskan kembali eksistensi kebersamaan dalam konstruksi budaya lisan yang sangat familiar.[6] Kedinamisan hidup remaja perempuan dan solidaritas hadir menjadi bagian dari kehidupan Cinta dan kawan-kawannya.

Kehadiran peristiwa tersebut memberikan wacana tandingan terhadap stereotipisasi dunia remaja, terutama perempuan remaja. Perempuan remaja di kota-kota besar memang sulit untuk melepaskan diri dari perkembangan zaman yang ditandai oleh pertumbuhan mall. Mereka dengan kekayaan yang dimiliki orang tua, bisa membeli dan menikmati produk-produk fashion terkini atau berhura-hura menghabiskan waktu sambil kongkow di rumah makan cepat saji. Mereka bisa saja terjebak dalam perilaku seks bebas, tetapi, pada dasarnya, mereka tetaplah manusia yang mempunyai beragam hasrat untuk bisa berkembang dengan kemampuan-kemampuan kreatif dan solidaritas sesama kawan. Artinya, tidak semua perempuan remaja kota larut dalam kehidupan hedon karena selalu ada mereka yang dengan kreatif mampu memaknai-kembali semua kemewahan untuk menjadi energi dan daya kreatif. Mereka bisa saja melakukan itu semua di sebuah kamar, bukan di mall ataupun diskotik.

AADC 3

Kedinamisan hidup dan solidaritas yang terbangun dalam hubungan Cinta dan kawan-kawannya, paling tidak, menyiratkan potensi otonomi dan kemandirian mereka sebagai perempuan. Mereka bisa melakukan aktivitas-aktivitas positif tanpa melibatkan campur tangan laki-laki. Mereka bisa melakukan tugas-tugas editing, interviewing, hingga lay-out dalam pengerjaan mading tanpa harus meminta bantuan siswa laki-laki. Sebagai geng dan tim mading mereka merepresentasikan tipe perempuan remaja yang kuat, dinamis, dan kreatif. Cinta, menjadi subjek inspirator yang mampu memunculkan kekuatan pada diri masing-masing kawannya. Artinya, perempuan remaja boleh saja menikmati segala fasilitas modern yang disajikan ruang dan kehidupan kota, tetapi mereka sudah semestinya tetap mengembangkan potensi diri sebagai bentuk subjektivitas berbasis kecerdasan dan kreativitas.

Persoalan cinta dan beroperasinya kuasa laki-laki

Kedinamisan hidup Cinta perlahan berubah ketika pada pengumuman lomba penulisan puisi di sekolah yang menjadi pemenang adalah siswa laki-laki bernama Rangga. Kawan-kawannya semula mengira Cinta akan menjadi pemenang. Peristiwa itu membuat Cinta penasaran dengan sosok Rangga. Lebih penasaran lagi ketika Rangga tidak mau mengambil hadiah dari lomba tersebut. Sampai di sini, Rangga masih menjadi ‘subjek misterius’ yang seolah-olah memiliki rahasia besar. Kemisteriusan Rangga menjadi satu wacana yang pada akhirnya memberikan efek diskursifnya kepada diri Cinta. Dengan membaca puisi Rangga yang sebenarnya akan ditampilkan dalam mading, ia semakin terobsesi untuk mengetahui sosok Rangga. Akibatnya, Cinta menjadi subjek diskursif dalam wacana kemisteriusan subjek laki-laki yang berakibat pada terjadinya praktik diskursif yang semakin menegaskan kuasa Rangga. Mekanisme kuasa yang terjadi bukanlah sebuah “teknik represif yang menghasilkan respons keterpaksaan, tetapi “teknik ketertarikan” dari subjek diskursif untuk mengakui kuasa itu. Cinta, dengan demikian, mampu menciptakan “regulasi-regulasi pendisiplinan diri” sebagai subjek yang mau dan rela membaca apa-apa yang dianggap menjadi representasi kemisteriusan seorang Rangga.

Keseriusan Cinta membaca puisi Rangga, baik di dalam ruang pribadi (kamar) dan ruang sosial (mobil dan ruang redaksi mading ketika dia bersama kawan-kawannya) menandakan rasa penasaran terhadap keseriusan tematik puisi yang ditulis Rangga. Di ruang sosial, ketika ia biasa berbincang dengan kawan-kawannya, kedirian Cinta, bahkan, berubah drastis. Ia mengabaikan kehadiran kawan-kawannya demi memahami puisi Rangga. Keseriusan Cinta dalam membaca puisi Rangga yang bertema “kesunyian manusia” dalam ruang berbeda—di depan kelas, kamar, mobil, dan ruang mading—menandakan betapa sebenarnya ia semakin penasaran dengan kedirian Rangga. Keseriusan tersebut—dipertegas dengan adegan “gigit jari dan mimik muka yang cukup serius”—sekaligus  merupakan pengakuan terhadap kepandaian Rangga dalam membuat puisi. Ia juga pintar membuat puisi, tetapi puisi Rangga, baginya mempunyai kekuatan spesifik yang tidak ia punyai. Maka, secerdas apapun perempuan, laki-laki ternyata masih lebih cerdas dan unggul.

AADC 2

Rasa penasaran berubah menjadi rasa jengkel ketika Cinta mendapati kenyataan bahwa Rangga adalah figur yang cuek dan acuh waktu ia hendak mewancarainya untuk keperluan mading. Kejengkelan itu ia lampiaskan dengan memberikan surat kepada Rangga terkait sifat jeleknya. Rangga marah setelah membaca surat itu dan menemui Cinta untuk mengungkapkan kemarahannya, tetapi Cinta masih bisa membela diri dan memarahinya balik. Kemarahan Cinta merupakan bentuk kontestasi seorang perempuan yang bisa juga bersikap tegas ketika menghadapi laki-laki yang menjengkelkan. Namun, kemarahan itu bisa juga menandakan berlangsungnya efek kuasa dari kehadiran seorang Rangga. Dengan kata lain, Cinta telah menjadi subjek dari praktik diskursif yang berasal dari Rangga yang  membuatnya semakin tidak mampu keluar dari operasi kuasa yang ada di dalamnya. Peristiwa naratif inilah yang menjadi faktor penentu keberlangsungan keseluruhan narasi; Cinta tidak kuasa lagi untuk menolak kehadiran Rangga, meskipun Rangga tidak pernah merasa membuat jejaring atau menebar pesona.

Belum berakhir kejengkelan dan kemarahannya, Cinta harus berhadapan dengan tanda lain dari kemisteriusan seorang Rangga. Kebetulan ia menemukan buku rangga berjudul Aku karya Sumanjaya yang terjatuh setelah mereka bertengkar. Sepertihalnya ketika ia membaca puisi Rangga, buku bacaan tersebut memberikan kesan impresif sehingga semakin menyeretnya ke dalam ke-Rangga-an. Saking seriusnya membaca buku itu ia “harus menggigit jari dan beberapa kali merubah posisi bacanya hingga tertidur pulas”. Sekali lagi, bukan Rangga yang sengaja memberikan pengaruh tersebut kepada Cinta, tetapi Cinta sendirilah yang tidak kuasa menolak salah satu wacana ke-Rangga-an; membaca buku-buku serius, selain menulis puisi. Kenyataan bahwa Cinta merupakan inspirator geng-nya dengan beragam kecerdasan, dinamika, dan otoritasnya, dihancurkan dengan penggambaran denotatif di atas. Memang Cinta sendiri mempunyai ketertarikan dengan bacaan dan puisi yang idealis, tetapi itu tidak menutup kenyataan bahwa Cinta semakin terdorong untuk mempelajarinya setelah kehadiran Rangga. Cinta memang memendam kejengkelan dan kemarahan pada sikap Rangga, tetapi keseriusan dan ketertarikannya kepada puisi dan buku bacaan Rangga menandakan bahwa ia sudah mulai tertarik secara pribadi kepadanya, meskipun belum berarti ada cinta di hatinya. Artinya, ketidakmampuan perempuan remaja untuk tidak tertarik kepada kemisteriusan pikiran laki-laki dimobilisasi sebagai makna-makna yang wajar.

AADC 4

“Ketidakmampuan untuk tidak tertarik” pada kemisteriusan pikiran laki-laki merupakan bentuk penegasan kembali—atau lebih tepatnya “pengakuan terhadap”—superioritas laki-laki di mana rasionalitas dan idealisme pilihan menjadi keutamaan yang terus disebarkan melalui formasi diskursif dalam masyarakat. Kemampuan tersebut adalah pencapaian yang sulit ditandingi perempuan kebanyakan, sehingga, seperti Cinta, mereka harus menggunakan waktu dan ruang yang diwarnai keseriusan untuk bisa menjangkau dan menemukan “sesuatu yang misterius dan idealis” dari capaian laki-laki. Di satu sisi, usaha-usaha serius perempuan untuk memahami dan melakukan apa-apa yang sudah dicapai oleh laki-laki, memang menandakan aktivitas emansipatoris. Di sisi lain, hal itu menunjukkan masih kuatnya budaya patriarki dalam masyarakat karena perempuan sendirilah yang rela untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan laki-laki. Konteks tersebut, saya baca sebagai produktifitas kuasa superioritas laki-laki, sehingga perempuan menjadi subjek yang terus berusaha dan memperbincangkan keunggulan dan kebenarannya sembari melakukan negosiasi dan resistensi dengan cara mewujudkan atau melawan itu semua dalam pola pikir dan tindakan mereka.

Dalam beberapa hal, semisal pendidikan dan ekonomi, perempuan memang sudah memperoleh kesamaan hak, tetapi dalam teks-teks media, mereka masih direpresentasikan harus tetap terikat kepada laki-laki. Mereka membutuhkan kehadiran laki-laki sesuai dengan kapasitas kodrat sosio-kulturalnya untuk mengisi dunia mereka dengan peristiwa-peristiwa romantis yang mampu memenuhi hasrat emotif. Hal itu pula yang dialami oleh Cinta dalam film ini. Ketertarikan terhadap kemisteriusan dunia Rangga, berubah menjadi sesuatu yang menggembirakan setelah Cinta mengembalikannya. Rangga mulai mau berbicara dan tidak tertutup, bahkan dalam salah satu adegan ia menawari Cinta untuk jalan-jalan ke pasar buku bekas guna mencari buku-buku yang bermutu dan Cinta menyanggupinya. Kesediaan menerima ajakan Rangga merupakan bentuk kesepatakan Cinta untuk “memasuki ruang kehidupan Rangga” yang baginya cukup menarik. Kesediaan itu sekaligus menunjukkan bahwa Cinta telah “mengakui arti penting kehadiran Rangga dalam mengisi masa remajanya”, meskipun ia harus mengorbankan waktu yang biasa dilalui bersama kawan-kawannya.

AADC 6

Ruang kehidupan Rangga dengan aspek-aspek idealis seorang lelaki remaja yang tidak terlalu suka dengan hingar-bingar jagat hedonis menjadi pengembaraan alternatif bagi Cinta. Rangga mengajak Cinta masuk ke dalam ruang yang tidak pernah terpikirkan olehnya selama ini. Cinta tidak merasa gagap dengan ruang dan dunia baru ini, karena ia sendiri pada dasarnya memiliki rasa suka kepada bacaan-bacaan serius yang semakin menemukan kontekstualisasinya dengan kehadiran Rangga. Dengan ruang dan dunia baru ini, ia sebenarnya bisa mendapatkan banyak wacana idealis. Namun,  kemungkinan-kemungkinan baru tersebut tidak muncul sebagai kekuatan baginya untuk berbuat lebih banyak sebagai seorang perempuan remaja yang cerdas karena ia tidak kuasa menolak “kehangatan sentuhan-sentuhan personal” seorang Rangga.

Perlakuan hangat laki-laki terhadap perempuan merupakan wacana konsensual dalam praktik sosio-kultural. Laki-laki mampu menghadirkan rasa nyaman dan “pengalaman-pengalaman kecil” tak terlupakan pada diri seorang perempuan. Cinta bisa saja menolak semua perlakukan Rangga. Namun, ketika ia sudah menjadi subjek dari ke-Rangga-an, maka ia tidak kuasa menolak ketika Rangga menggandeng tangannya; sebuah sentuhan yang sangat ia hayati sebagai perempuan. Dengan menghayati perilaku Rangga tersebut ia juga bisa merasakan “pengalaman sensasional” yang belum pernah ia rasakan selama ini. Ia membiarkan perasaan itu mengalir dalam dirinya sehingga hanya bisa menikmatinya sembari “memejamkan mata”. Ia merasa “nyaman” dan “terlindungi” ketika Rangga menggandeng tangannya. Wacana yang dibangun dalam adegan di atas adalah sentuhan hangat seorang laki-laki bisa memberikan rasa nyaman bagi seorang perempuan. Bagi Rangga, hal itu merupakan wujud tanggung jawab seorang laki-laki yang mengajak seorang perempuan melalui jalan yang ramai, tetapi bagi Cinta merupakan pengalaman baru yang, tentunya, lagi-lagi, memberikan kesan mendalam dalam hidupya.

Konsep “melindungi” dan “memberi kenyamanan” dari kehadiran laki-laki dalam dunia perempuan merupakan praktik paling normal dari ideologi patriarki. Perempuan bisa menemukan satu bentuk perlindungan karena dalam habitus sehari-hari mereka di-subordinasi-kan sebagai makhluk lemah yang selalu berada dalam ranah privat keluarga dan ketika keluar rumah, kehadiran laki-laki—yang sudah terbiasa dengan keramaian ranah publik—menjadi penting karena dialah yang akan menuntun perempuan agar selamat dan tidak mengalami hal-hal negatif.

Mereka sempat bertengkar lagi dan berpisah untuk sementara waktu karena Rangga kurang setuju dengan perilaku hedon Cinta bersama kawan-kawannya. Sementara, Cinta menganggap mereka adalah dunianya. Perdebatan ini menegaskan oposisi biner antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki adalah sosok rasionalistis dan idealis yang pada dirinya dibebankan tanggung jawab sebagai manusia super. Tanggung jawab inilah yang memposisikan dirinya sebagai subjek yang sudah berjalan pada jalur “yang benar”, sedangkan perempuan sebagai pada jalur “yang salah” karena terlalu banyak menggunakan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna. Banyak laki-laki membayangkan budaya perempuan sebagai sebuah praktik yang terlalu mengumbar perasaan—untuk ngerumpi, curhat, dan hura-hura di mall—dan tidak banyak menggunakan rasionalitas untuk capaian-capaian idealis. Ketika perempuan menemukan “kenikmatan” ngerumpi sambil membangun solidaritas komunal dengan perempuan lain, maka oleh laki-laki ini dianggap sebagai praktik yang tidak berguna. Sementara, bagi perempuan tradisi tersebut merupakan bentuk negosiasi atas kepentingan mereka.

Berpisah sementara, menjadikan Cinta merasa kehilangan ketika tidak menemukan Rangga di kelasnya, sehingga ia memutuskan untuk menemui Rangga di rumahya. Di rumah itulah, ia mengetahui keadaan keluarga Rangga, terutama sang ayah yang menjadi oposan dan dihilangkan haknya sebagai PNS dosen. Di rumah itu pula, Rangga kembali menyuguhkan sebuah pengalaman yang belum pernah dijalani Cinta, yakni “memasak”. Memasak bagi Rangga yang sejak kecil ditinggalkan ibunya, merupakan pekerjaan yang sudah biasa dan tidak aneh, tetapi bagi Cinta kebiasaan itu mempertegas “karakteristik khusus yang lain” dari ke-Rangga-an. Dengan praktik memasak, Rangga tidak hanya memberikan Cinta sebuah pengalaman baru, tetapi sebuah relasi yang semakin cair di antara mereka. Rangga dengan santun meniup mata Cinta setelah mengiris bawang, yang kemudian di balas Cinta dengan tawa. Artinya, Cinta, lagi-lagi, menikmati pengalaman personal bersama Rangga.

AADC 8

Formasi diskursif arti penting kehadiran laki-laki bagi seorang perempuan kembali diwujudkan dalam adegan ketika Rangga menawari Cinta untuk menonton pertunjukan musik live di sebuah café. Ia begitu bahagia sampai-sampai harus merias dan mempercantik dirinya dan untuk tidak melewatkan pengalaman baru bersama Rangga, ia harus berbohong kepada Alia dengan mengatakan dia hendak ke dokter dan mengatakan akan datang ke rumahnya setelah itu . Pada waktu itu, Alia ingin sekali menginap di rumahnya karena tidak kuat lagi dengan siksaan dari ayahnya. Di café, Cinta kembali mendapatkan pengalaman baru: “ia diminta Rangga untuk menyanyi, tetapi karena ia ragu dengan kemampuannya, ia akhirnya lebih banyak membaca puisi Rangga dan hanya sedikit menyanyi”. Perasaan malu, senang, dan tersanjung bercampur jadi satu dalam diri Cinta karena Rangga berhasil menghadirkan “kejutan-kejutan romantis” yang tidak terduga sebelumnya. Pengakuan Rangga akan arti penting kehadiran Cinta—di mana ia bisa bercerita tentang kondisi keluarganya—semakin membuatnya kagum dan jatuh hati, meskipun tidak harus diucapkan sehingga ketika Rangga hendak menciumnya, tanpa diminta ia dengan rela dan penuh penghayatan menengadakan wajahnya sembari memejamkan mata. Namun, peristiwa itu akhirnya tidak terjadi karena sudah larut malam dan Rangga menyuruhnya masuk ke dalam rumah.

Peristiwa-peristiwa naratif tersebut memperlihatkan adanya ambiguitas yang dimunculkan pada kedirian Cinta. Realitas capaian konstruktif dan positif yang diperagakan sebelumnya sebagai siswa yang cerdas dan kreatif, digantikan realitas “keasyikan” menikmati hasrat akan sebuah kehangatan bersama laki-laki sehingga membuatnya rela melepaskan ikatan solidaritas bersama kawan-kawannya yang sudah dibangun selama ini. Secerdas dan sekreatif apapun seorang perempuan, ia tetaplah makhluk yang begitu mendambakan “kehangatan suasana” bersama seorang laki-laki yang mampu menampilkan kedewasaan dalam berpikir sekaligus membahagiakannya dengan beragam kesenangan.

Ketika memutuskan semua ikatan dengan Rangga karena merasa bersalah akan peristiwa tragis yang menimpah Alia, Cinta menemukan hari-harinya semakin kosong. Melihat kondisi tersebut, kawan-kawannya menyuruh Cinta untuk mengejar Rangga ke bandara karena ia dan ayahnya hendak ke Amerika dan dengan sungguh-sungguh ia meminta Rangga untuk tidak jadi pergi. Di bandara. Rangga menemui Cinta yang berlari-lari memanggilnya.

Cinta : (CU) Rangga, untuk terakhir kali saya ketemu sama kamu, saya nggak marah sama kamu.. Saya marah sama diri aku sendiri. Rangga maafin saya, saya nggak mau kamu ninggalin aku..
Rangga : (CU) Maksud kamu?
Cinta : (CU) Saya, saya sayang banget sama kamu…
Rangga : (CU) Saya juga sayang banget sama Kamu, Ta. Sayang sekali. (Mereka berdua berpelukan)
Cinta : (CU masih memeluk Rangga) Kamu nggak jadi pergi, kan? (CU Rangga ragu) Kamu nggak jadi pergi, kan? (melepas pelukan)
Rangga : (CU Rangga cut to Cinta bersedih menggeleng-gelengkan kepala) Saya harus pergi Ta..
Cinta : (CU menangis) Nggak, nggak, ini nggak fair..Ini nggak fair. (Ayah Rangga memanggilnya untuk mengajak berangkat)
Rangga : (CU) Sebentar Yah. (CU kembali menatap Cinta, mengeluarkan buku harian dan memberikannya ke Cinta) Baca halaman terakhir. (Mereka berdua berciuman. Rangga pergi, Cinta menatap kepergiannya dengan sedih)

Dialog di atas menunjukkan betapa Cinta tidak menghendaki kepergian Rangga karena dia “sayang” dan Ranggga pun demikian. Sekilas, ketika mengungkapkan rasa sayangnya, Cinta tampak menabrak batas-batas tabu yang selama ini menganggap ungkapan seperti itu tidak baik diungkapkan seorang perempuan kepada laki-laki. Namun, apa yang harus dipahami adalah ia sebenarnya sudah tidak bisa keluar lagi dari efek diskursif cinta laki-laki sehingga membuatnya berani mengungkapkan itu semua. Sebuah “pelukan” dan “ciuman mesra” adalah “hadiah terindah” yang pantas diperoleh untuk menjawab semua perasaan Cinta kepada Rangga dan membuatnya sabar menunggu kedatangannya kembali ke Indonesia.

AADC 1

Adegan perpisahan dan ciuman di bandara yang digambarkan dari beberapa sudut pandang pengambilan gambar—close up, medium shot, long shot—menarik untuk dikritisi lebih lanjut. Kesedihan, keharuan, dan ketakkuasaan untuk melepas kekasihnya ke Amerika Serikat tertumpahkan pada wajah sedih Cinta ketika ia memeluk Rangga. Ketidakberdayaan untuk berpisah dari Rangga menjadikannya “perempuan yang pasrah dan akhirnya begitu menikmati ketika Rangga menciumnya” di depan publik bandara. Ciuman di depan umum digambarkan bukan lagi menjadi tabu yang tidak pantas dilakukan perempuan dan laki-laki. Bandara internasional merupakan sebuah “ruang kedatangan dan kepergian” di mana batas-batas negara dan budaya menjadi kabur karena lalu-lintas manusia dari berbagai bangsa. Bandara juga merupakan “ruang antara yang membebaskan” di mana kekakuan budaya dan moralitas dipertanyakan kembali dengan impian-impian akan kebebasan atas nama cinta, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh para pendatang mancanegara dalam dunianya. Dengan kata lain, bandara adalah ruang di mana seorang perempuan sejenak meninggalkan tradisi dan menikmati kebebasan sebagai sesuatu yang indah atas nama cinta. Cinta sudah berani melanggar tabu tradisi dengan melakukan ciuman itu demi mendapat sentuhan romantis dari seorang Rangga yang akan segera pergi.

Pun seragam SMA yang menjadi penanda ketaatan terhadap aturan pendidikan negara tidak bisa menghalangi keinginan untuk merayakan cinta dan kebebasan. Di sekolah, Cinta bisa saja menjadi siswa yang baik, cerdas, dan kreatif, tetapi di bandara ia adalah seorang perempuan remaja yang membutuhkan kebebasan untuk berciuman. “Ciuman”, dengan demikian, adalah sebuah penanda yang tidak hanya menunjukkan kemesraan antara perempuan dan laki-laki, tetapi menunjukkan betapa perempuan harus rela mengabdikan kehidupan dan perasaannya demi menunggu laki-laki memenuhi janjinya.

Image result for Ada Apa Dengan CInta 1

Adegan-adegan di atas sebagai bentuk filmis yang menggambarkan “perubahan perilaku hidup” dan “pengalaman-pengalaman baru” bagi Cinta merupakan efek kuasa diskursif dari kehadiran cinta laki-laki. Dengan adegan-adegan tersebut submitos pengalaman romantis, perubahan hidup perempuan remaja, dan kuasa cinta laki-laki menjadi hadir secara natural dengan alur cerita yang mengalir sepertihalnya yang terjadi dalam kehidupan nyata. Dengan submitos tersebut, seorang perempuan remaja dengan semua kecerdasan dan kreativitasnya direpresentasikan secara wajar tetap menjadi subjek yang lemah dan cenderung merubah “kedirian” yang sudah terbangun dalam masa remajanya. Perempuan remaja mudah meninggalkan dunia yang dijalaninya sehari-hari ketika seorang laki-laki menghadirkan pengalaman-pengalaman baru. Laki-laki bukanlah sosok yang harus ditakuti dengan segala kemungkinan kekerasan ataupun pengkhianatan yang bisa dilakukannya karena ia merupakan subjek yang dengan dan kepadanya seorang perempuan remaja melukis hari-hari.

Normalisasi kehadiran subjek laki-laki dan cintanya dalam kehidupan perempuan remaja merupakan bentuk wacana kuasa patriarki dalam relasi sosio-kultural “atas nama cinta” yang sudah terlanjur disepakati oleh perempuan itu sendiri. Segala realitas keburukan cinta laki-laki, dengan demikian, didistorsi menjadi sekedar mitos yang tidak menemukan kontekstualisasinya dalam kehidupan remaja. Cinta laki-laki dan perempuan dinaturaliasai sebagai medium untuk memunculkan kekuatan hidup dan menjadi energi untuk menghindarkan manusia dari alienasi.[7] Perempuan remaja mungkin merasakan diri, hati, dan pikirannya lebih bermakna di tengah-tengah kehidupan kota yang semakin industrial, tetapi mungkin pula ia akan teralienasi dalam bentuk lain ketika harus menyerahkan hati dan cinta sepenuhnya kepada laki-laki sehingga melupakan potensi kreatif diri. Hegemoni patriarki memang selalu menawarkan kontradiksi; menyenangkan dan menjengkelkan. Ketika “yang menyenangkan”—pengalaman-pengalaman baru yang hangat—menjadi kemutlakan, maka “yang  menjengkelkan” hanya akan menjadi kisah sisipan dan perempuan remaja masih saja menikmati kuasa hegemonik laki-laki melalui cinta.

* Tulisan ini adalah bagian dari tesis S2 saya di KajianBudaya dan Media Sekolah Pascasarjana UGM, Perempuan dalam Layar Bergerak: Representasi Perempuan dan Pertarungan Ideologis dalam Film Indonesia Era 2000-an (2008). Dalam tesis ini saya menerapkan beberapa teori seperti mitos Barthesian, wacana Foucauldian, gender, dan hegemoni.

 

Catatan akhir

[1] Sosiolog Imam B. Prasojo mengatakan bahwa saat ini banyak film dan sinetron tanpa arah. Menurutnya, perkembangan industri film dan sinetron harus didorong agar jangan hanya sekedar menjadi hiburan. Film harus mendorong energi positif; secara visual mengembangkan akal budi, kreativitas, rasionalitas, spiritualitas, dan menumbuhkan nasionalisme. Bahkan Menpora Adyaksa Dault (saat tulisan ini dibuat, pen) mengharapkan film dan sinetron jangan sampai miskin nilai-nilai positif dan mengabaikan budaya bangsa, yang menyebabkan generasi muda kehilangan identitas bangsa. Lihat “Sinetron Kita Miskin Akal Budi”, dalam Kompas, 14 Januari 2007.

[2] Dalam pandangan Hebdige, kaum muda telah terbentuk di dalam dan di berbagai wacana tentang “gangguan” (pemuda-sebagai-gangguan: pemuda-yang-sedang-mengalami gangguan) atau “hura-hura”. Dalam sosok holigan sepak bola, pengendara sepeda motor, dan geng sudut jalan, misalnya, kaum muda diasosiasikan dengan kejahatan, kekerasan, dan penyimpangan. Sebagai alternatif kaum muda direpresentasikan sebagai konsumen yang menyenangkan dari fashion, gaya, dan berbagai aktivitas hiburan. Oleh media, representasi kaum muda cenderung distereotipkan sebagai “iblis masyarakat”. Respon masyarakat, kemudian, adalah kepanikan moral yang berusaha melacak dan menghukum segala budaya kaum muda yang menyimpang. Sedangkan kaum muda merespons dengan semakin meningkatkan penyimpangan, sehingga lingkaran pemberian label, pembesaran, dan penyimpangan terus bergerak. Lihat Barker, 2004: 337 & 352-353.

[3] Dalam 3 minggu pertama pemutaran, film AADC, menurut produsernya, Mira Lesmana, berhasil menyedot 1,3 juta penonton. Ini hasil dari pemutaran di 24 layar (kemudian bertambah menjadi 76 layar) di 12 kota Indonesia. Bisa diperkirakan bahwa hasil yang didapat oleh produser paling tidak Rp. 4,5 milyar. Lihat Kristanto, 2006: 184.

[4] Istilah ini bukan di maksudkan sebagai bentuk baku untuk melengkapi kategori-kategori genre film yang sudah lazim selama ini, semisal genre remaja, drama, drama psikologis, komedi, horor, trilller, dan lain-lain. Istilah ‘genre pelajar’ memudahkan penyebutan dan lebih didasarkan pada kekhususan pada kehidupan kaum pelajar yang menjadi inti dari narasi film.

[5] Film remaja dari era 70 hingga 90-an lebih banyak mengetengahkan konstruksi remaja sebagai kelompok sosial yang berbeda, dan secara umum diakhiri dengan asimilasi mereka ke dalam dunia orang dewasa, baik dengan cara pernikahan di antara mereka (sehingga mereka sudah sah masuk ke dalam fase kedewasaan), penyelesaian masalah dengan orang tua mereka, ataupun kedua-duanya. Secara filmis, remaja banyak didefinisikan sebagai fase kehidupan yang dihiasi dengan kebiasaan dan konflik, meskipun pada akhirnya tetap diselesaikan dengan semakin dewasanya mereka, yang berarti menerima aturan-aturan sosial yang ada. Narasi-narasi tersebut berusaha menghindari konflik antargenerasi. Di samping itu, para remaja dalam film juga seringkali direpresentasikan sebagai mereka yang tidak pernah ketinggalan dalam hal fashion terbaru, makan makanan yang lagi nge-trend, semisal fast food, dan menggunakan bahasa “Engdonesian” (Bahasa Indonesia yang sedikit dicampur dengan Bahasa Inggris). Struktur dari film-film yang ada, seperti sekual Catatan Si Boy, pada dasarnya bisa menjadi alat yang sesuai untuk perkembangan “budaya konsumen” dan juga penyebaran wacana rezim Orba: kepentingan integrasi. Lihat Sen & Hill, 2000: 153.

[6] Apa yang dilakukan oleh Cinta dan kawan-kawannya, mengikuti perspektif Ong (1989: 42-46), merupakan salah satu bentuk psikodinamika dari “kelisanan pertama” yang diadopsi ke dalam produk film sebagai bentuk “kelisanan kedua”, yakni “kedekatan terhadap kehidupan manusia”. Berbeda dengan keberaksaraan yang menghadirkan ruang-ruang kontemplatif dan dipenuhi dengan manual-manual yang analitis serta mempunyai peluang menjarakkan hubungan antarmanusia,  kelisanan menghadirkan manual sebagai bagian integral dari apa yang dibicarakan. Dalam praktik ngerumpi maupun ngobrol, sebagaimana yang banyak dikatakan sebagai “budaya perempuan”, tidak hanya berisi gosip, tetapi bisa membangun interaksi familiar antarperempuan dalam membicarakan secara langsung dan interaktif masalah-masalah yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bisa merasakan empati dan memaknai identifikasi komunal sebagai basis dari solidaritas.

[7] Dalam konteks masyarakat industrial, Fromm (1955: 120) memaknai alienasi sebagai bentuk pengalaman dimana seseorang mengalami/merasakan dirinya sebagai orang asing. Dia menjadi terasing dari dirinya. Dia tidak lagi merasakan dirinya sebagai “pusat jagatnya”, sebagai kreator tindakannya sendiri—tetapi tindakan-tindakannya beserta konsekuensinya telah menjadi tuan-tuannya, yang dia taati, atau bahkan yang dia sembah. Seseorang yang teralienasi kehilangan sentuhan dengan dirinya sendiri, sebagaimana ia kehilangan sentuhan terhadap orang lain.

 

Pustaka Acuan

Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Barker, Chris. 2004. Cultural Studies, Teori dan Praktik (terj. Nurhadi). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Douglas, Mary & Mary Isherwood. 1979. The World of Goods, Toward an Anthropology of Consumption. New York: Routledge.

Budiman, Hikmat. 2002. Lubang Hitam Kebudayaan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Fromm, Erich. 1955. The Sane Society. New York: A Fawcett Premier Book.

Handayani, Christina S. 2005. “Para Saksi Gaya Identitas Dugem”, dalam Budi Susanto. Penghibur (an), Masa Lalu dan Budaya Hidup Masa Kini Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius dan Lembaga Kajian Realino.

Ong, Walter J. 1989. Orality and Literacy, The Technologizing of Words. London: Routledge.

Lury, Celia. 1996. “Material Culture and Consumer Culture” dalam Consumer Culture. Cambridge: Polity Press.

Sen, Khrisna dan David T. Hill. 2000. Media, Culture, and Politics in Indonesia. New York: Oxford University Press.

“Sinetron Kita Miskin Akal Budi”, dalam Kompas, 14 Januari 2007.

Siregar, Ashadi. 2004a. “Ketidakadilan Konstruksi Perempuan di Film dan Televisi”, dalam Nunung Prajarto. Komunikasi, Negara, dan Masyarakat. Yogyakarta: Fisipol UGM.

Share This:

About Ikwan Setiawan 138 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*