Menjadi Tengger dalam keberantaraan kultural (2)

ANDANG SUBAHARIANTO

IKWAN SETIAWAN

 

Budaya konsumsi di tengah-tengah dinginnya hawa gunung

Konsumsi merupakan anak kandung kapitalisme, sejak zaman kolonial hingga pascakolonial. Tentu saja, konsumsi di sini tidak dipahami semata-mata sebagai mengkonsumsi makanan maupun minuman. Lebih dari itu, konsumsi merupakan sebuah proses untuk menggunakan, menikmati, dan memaknai produk-produk industrial, baik untuk kepentingan fungsional—memenuhi kebutuhan hidup—maupun kepentingan simbolik. Konsumsi terhadap benda-benda industrial menjadi berkembang dan semakin meningkat dari waktu ke waktu selain disebabkan kecukupan uang yang dimiliki individu-individu dalam masyarakat juga disebabkan citra-citra media yang menawarkan beragam benda industrial dengan makna-makna kultural yang dilekatkan kepada mereka. Dalam konteks Indonesia, semakin lancarnya sarana transportasi dalam distribusi benda-benda industrial ke wilayah-wilayah perdesaan ataupun pedalaman juga berperan penting dalam menyemaikan budaya konsumsi di tengah-tengah masyarakat.

Bagi masyarakat Tengger, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, melimpahnya rezeki dari pertanian komersil telah menjadikan mereka terhubung secara ekonomi dan kultural dengan perkembangan budaya kota, termasuk budaya konsumsi. Perbaikan sarana jalan untuk kepentingan pariwisata Bromo sejak era Orde Baru, menjadikan mobilitas benda-benda dari kota ke wilayah pegunungan menjadi mudah. Demikian pula, warga Tengger yang hendak berbelanja ke kota kecamatan maupun kabupaten menjadi lebih mudah, apalagi dengan tersedianya angkutan umum ataupu kepemilikan terhadap kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil. Kehadiran benda-benda industrial, dari makanan, minuman, pakaian, perabot rumah tangga, sarana hiburan keluarga [televisi, misalnya], kendaraan bermotor, hingga telepon seluler, diakui atau tidak, ikut menghadirkan gaya hidup kota di tengah-tengah dinginnya hawa pegunungan. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari dan ritual mereka masih menampakkan kebersamaan, kehadiran produk-produk industrial dalam ruang privat keluarga maupun lanskap publik gunung menunjukkan bahwa sebuah dunia ideal yang sejak dulu diwacanakan sebagai dunia yang berbeda dari kota berangsur-angsur telah dan tengah berubah karena kehadiran “yang kota” ke dalam “yang nggunung”.

gadis tengger ed

Para gadis Tengger mengenakan celana jeans.

Pakaian pabrikan menjadi penanda yang paling mudah dikenali dari hadirnya gaya hidup kota dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tengger. Anak-anak, kaum remaja, dan kaum muda sudah biasa mengenakan pakaian model terkini, sebagaimana yang mereka saksikan dari layar televisi. Dari pakaian, bisa diketahui dengan jelas bahwa masyarakat Tengger bukanlah masyarakat primitif ataupun tradisional yang masih mengenakan pakaian tenun buatan sendiri. Mereka dengan sadar menyerap dan meniru model pakaian terbaru yang sedang menjadi trend di kota. Kaum muda Tengger mengidentifikasi diri dengan gaya berpakaian yang sedang nge-trend di kota, sekaligus menunjukkan ketidaktertinggalan mereka dalam hal model pakaian sebagai bentuk gaya hidup yang terus-menerus diperbarui oleh perusahaan-perusahaan garmen. Tempat tinggal mereka bolehlah di gunung yang sehari-harinya berkawan kabut dan hawa dingin, tetapi kecepatan mobilitas ke kota menjadikan kaum muda Tengger manusia-manusia bergaya hidup modern dengan mengenakan pakaian-pakaian yang dibeli selepas mendapatkan rezeki panen sayur-mayur ataupun rezeki pariwisata.

Dalam kondisi demikian, batas antara gaya hidup desa dan gaya hidup kota yang pada masa lampau salah satunya ditandai dengan model pakaian menjadi semakin hilang. Memang, masyarakat Tengger memiliki pakaian adat, tetapi hanya dikenakan ketika pelaksanaan ritual, sehingga hanya bersifat temporer. Pakaian tradisional—yang bahan-bahannya juga berasal dari pabrikan—hanya menjadi “penanda identitas temporer” ketika mereka menggelar acara yang bersifat tradisional pula, sedangkan dalam kehidupan sehari-hari pakaian ala kota adalah penanda dominan bagaimana masyarakat Tengger memahami diri sebagai manusia modern melalui pakaian yang mereka kenakan. Kalaupun ada warga yang mengenakan pakaian tradisional, seperti jarit dan baju kebaya untuk perempuan, bisa dipastikan hanyalah para perempuan tua yang mengenakannya. Itupun jumlahnya semakin sedikit. Dengan demikian, dalam pakaian yang mereka kenakan melekat makna-makna yang menegaskan perubahan selera kultural sekaligus menunjukkan bahwa masyarakat Tengger tidak ingin dikatakan sebagai “sekelompok warga yang ketinggalan mode”. Melalui pakaian itu pula, mereka seperti ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat luar bahwa bukan saatnya lagi mengatakan wong Tengger sebagai (sepenuhnya) wong nggunung yang tidak mengetahui perkembangan dunia luar, termasuk dalam hal pakaian.

ruang makanruang belajar

Perabot dalam kedua ruang belajar di atas, tidak jauh berbeda dengan perabot yang ada di ruang belajar di masyarakat kota. Bagi masyarakat kaya, ruang belajar dengan kelengkapan meja belajar dan komputer bukanlah sesuatu yang aneh. Permintaan anak-anak untuk memiliki kelengkapan ruang belajar modern sebagaimana mereka lihat di layar kaca ataupun di sekolah-sekolah menjadikan orang tua tidak kuasa untuk tidak menghadirkan perabot ruang belajar serupa ke dalam rumah di wilayah nggunung. Apalagi secara material, harga perabotan tersebut tidaklah terlalu mahal, khususnya bagi warga kaya. Kode-kode kultural dalam rumah masyarakat kota mereka hadirkan dalam ruang rumah desa di mana para penghuninya juga sudah memiliki kesadaran tinggi terhadap pendidikan. Kesadaran terhadap pendidikan tidak cukup hanya dengan menempuh sekolah, dari level dasar sampai perguruan tinggi, tetapi juga dengan mengidentifikasi kedirian mereka melalui kehadiran perabot-perabot yang dibeli dari kota, seperti kursi dan meja belajar, atau dilengkapi komputer layar-datar.

Kehadiran komputer di meja belajar, tentu saja, bukan hanya sebagai hiasan ataupun untuk pamer. Para siswa yang biasa mendapatkan tugas dari para gurunya di SMP atau SMA akan sangat terbantu dengan kehadiran komputer di meja belajar mereka. Dengan piranti pengganti mesin ketik itulah mereka bisa menyelesaikan tugas membuat makalah yang diberikan guru mereka. Artinya, dalam hal pendidikan, mereka juga terhubung dengan trend nasional atau, bahkan, global terkait penggunaan komputer untuk mempercepat penyelesaikan pekerjaan rumah para siswa. Kondisi inilah yang oleh Appadurai (1990) disebut technoscape, sebuah efek globalisasi di mana perkembangan teknologi yang diproduksi oleh negara-negara maju seperti Amerika Serikat maupun Jepang melintasi batas-batas geo-politik negara. Hal itu juga berlaku untuk perabot-perabot rumah tangga yang pada masa lampau hanya bisa dinikmati oleh masyarakat di negara-negara maju, seperti kulkas, televisi, maupun kompor gas.

Jauh sebelum pemerintah melakukan konversi kompor gas, masyarakat Tengger sudah biasa menggunakan kompor gas untuk keperluan masak-memasak, meskipun mereka juga masih menggunakan tungku terbuat dari batu bata dengan bahan bakar kayu. Demikian halnya dengan televisi yang menghubungkan mereka dengan kode dan pesona modernitas kota. Meskipun mereka selalu mengatakan hidup dalam kesederhanaan, kehadiran narasi televisi dengan citra-citra metropolitannya, tidak pelak lagi menjadi penuntun bagi wong Tengger untuk menjalani kehidupan sehari-hari dalam tanda-tanda modern. Kulkas juga menjadi penanda lain dari kehidupan modern masyarakat Tengger. Menariknya, tidak setiap hari kulkas diisi dengan bahan-bahan makanan maupun minuman karena dinginnya hawa Bromo telah menjadi mekanisme alami untuk membuat makanan bertahan dalam beberapa hari, kulkas tetap saja dihadirkan di dalam rumah. Paling tidak, benda pendingin ini bisa menjadi penanda bagi kemampuan ekonomis dan citra metropolitan keluarga Tengger yang membedakan rumah mereka dengan rumah keluarga miskin.

tv wong tengger

Televisi di rumah keluarga Tengger

Terkait kehadiran televisi dalam rumah keluarga Tengger menarik untuk ditelisik lebih jauh lagi. Pada pertengahan 1970-an, pemerintah mewajibkan satu desa memiliki, paling sedikit, satu televisi hitam-putih sebagai sumber berita peristiwa kebudayaan nasional (Hefner, 1999: 314). Dengan cara ini pula, rezim negara mengintrodusir dan mensosialisasikan program-program pembangunan ke seluruh pelosok perdesaan, sekaligus menegosiasikan relasi kuasa hegemonik dalam arahan rezim militeristik yang direpresentasikan menjadi pembimbing yang baik bagi warga negara—seperti Soeharto yang selalu tersenyum—di seluruh pelosok tanah air dengan proyek-proyek kemajuan mereka (Setiawan, 2011). Pada era yang sama, ketika masyarakat Tengger mulai mengalokasikan sebagian dari penghasilannya untuk perabot-perabot rumah tangga mewah, televisi masih dianggap sebagai milik publik, meski secara semu. Hefner (1999: 314-315) menjelaskan bahwa hal itu bisa dilihat dari peletakkan televisi di beranda rumah, menghadap ke arah jalan, sehingga memungkinkan para tetangga yang belum memilikinya bisa ikut menonton. Artinya, tetangga juga bisa menikmati kekayaan tontonan yang dimiliki sebuah keluarga kaya. Masih menurut Hefner (1999: 315), pola tersebut mulai bergeser pada pertengahan 1980-an ketika televisi berwarna mulai banyak dimiliki oleh warga Tengger. Televisi mulai diletakkan di balik jendela yang kadang dihias dengan barang-barang pelengkap, seperti korden dan kaca berwarna-warni. Dengan kata lain, hanya para tamulah yang bisa ikut menonton televisi, sehingga menjadikan kekayaan tontonan tidak ikut dinikmati lagi oleh tetangga yang belum punya televisi berwarna.

Pada era 2000-an sebagian besar keluarga Tengger sudah memiliki televisi. Benda yang dulunya menjadi pembeda keluarga kaya dan keluarga miskin, saat ini keberadaannya bukan lagi menjadi barang mewah. Dalam kondisi demikian, televisi semakin dibawa masuk ke ruang dalam, yakni di belakang ruang tamu, atau menyatu dengan pawon. Televisi menjadi media yang berfungsi privat sebagai hiburan keluarga untuk melepas lelah setelah sehari penuh bekerja di ladang sembari bercengkrama dengan anggota keluarga di tengah-tengah dinginnya hawa gunung. Meskipun warga Tengger tidak sampai larut menonton televisi karena rasa capek dan kantuk, mereka tetap saja mendapatkan informasi tentang kemajuan zaman, permasalahan sosial-politik di tingkat pusat (baca: Jakarta) maupun regional, barang-barang konsumsi paling up to date, maupun citra-citra kemewahan kontemporer dari narasi-narasi yang hadir di layar kaca. Dengan kata lain, televisi telah menjadi anggota baru dari keluarga-keluarga Tengger.

Kota dengan beragam pernak-pernik gaya hidup yang ditawarkan menjadi ‘bagian dalam’ dari keluarga Tengger dan selalu mengikat anak-anak, kaum remaja, kaum muda, dan orang tua dengan citra, bayangan, impian, dan keinginan seperti yang berlangsung dalam jagat yang dalam pandangan tradisional mereka dianggap penuh pertentangan sosial dan unjuk kekayaan antarwarganya. Pesona-pesona kemewahan dan kemajuan kota metropolitan yang direpresentasikan televisi, dengan demikian, menjadi situs kultural yang memasukkan masyarakat Tengger ke dalam lingkaran dan jejaring modernitas—baik dalam tataran nasional maupun global—secara wajar, tanpa harus dipaksa melalui sistem otoriter. Dan, lebih jauh lagi, membawa mereka ke peradaban pasar yang menjanjikan beragam fasilitas dan kemudahan melalui tayangan-tayangan naratif maupun penandaan-penandaan iklan yang menarik. Anggitan terkait peradaban pasar yang ditampilkan televisi bukanlah sesuatu yang harus ditolak ataupun dilawan karena secara ekonomi masyarakat Tengger mampu membeli dan menikmatinya dari hasil pertanian dan kegiatan pariwisata.

Jeep Tengger 1

Jeep di rumah wong Tengger

Dalam hal transportasi, ‘kuda Jepang’ menjadi tunggangan utama, sementara kuda-kuda sebenarnya dimanfaatkan untuk tunggangan turis ke Bromo—kepentingan komersil pariwisata. ‘Kuda Jepang’ yang paling banyak digunakan masyarakat Tengger adalah sepeda motor dari bermacam merk pabrikan. Bisa dipastikan, hampir semua keluarga Tengger memiliki sepeda motor. Kehadiran sepeda motor sangat membantu mobilitas warga Tengger karena kondisi jalan yang sangat menanjak. Sepeda motor mempermudah mereka untuk menghadiri undangan hajatan atau bertamu ke kerabat di luar desa. Mereka juga semakin mudah menjangkau kota kecamatan untuk berbelanja. Selain itu, saat musim tanam, orang-orang Tengger biasa menggunakan sepeda motor untuk mengangkut pupuk. Sementara, bagi kaum muda biasanya menggunakan sepeda motor untuk nongkrong di warung atau pinggir jalan di waktu-waktu senggang ketika mereka tidak ke ladang. Sebagai penanda, sepeda motor merupakan sebuah moda transportasi yang ikut mempercepat gerakan ekonomi dan kultural yang dilakukan masyarakat Tengger, utamanya dalam membawa gaya hidup kota ke jagat gunung.

Adapun mobil yang banyak dimiliki keluarga Tengger adalah jenis jeep hard-top dan pick up. Sementara, untuk mobil keluarga, seperti Kijang dan Panther hanya dimiliki keluarga tertentu. Jeep menjadi moda angkutan turis yang cukup menguntungkan bagi masyarakat. Para lelaki Tengger yang mempunyai jeep biasanya menggunakannya untuk angkutan wisatawan, sebagian besar dari mancanegara dan sebagian kecil wisatawan domestik. Selain itu, pada saat sepi wisatawan, jeep juga digunakan untuk mengangkut pupuk dan bibit ke ladang. Sedangkan, mobil pick up biasanya dimiliki oleh warga Tengger yang memiliki toko untuk membeli barang-barang dagangan dari kota kecamatan atau kabupaten, selain juga untuk mengangkut hasil panen. Artinya, kepemilikian jeep dan pick up bukan sekedar untuk gengsi, tetapi lebih untuk investasi ekonomi—pariwisata, pertanian, dan perdagangan—yang bisa menambah pundi-pundi penghasilan mereka. Kesadaran untuk menggunakan mobil jeep dan pick up sebagai investasi merupakan kesadaran ekonomi modern yang jeli dalam membaca peluang usaha yang menguntungkan. Dengan rezeki finansial itulah mereka bisa menabung untuk mewujudkan capaian-capaian walima dalam konteks modern. Adapun mobil pribadi biasanya digunakan untuk bepergian ke luar kota atau ke desa lain di luar kabupaten. Mujono, misalnya, sering menggunakan mobil pribadi kepunyaan kerabatnya untuk menghadiri seminar di luar kota, seperti Surabaya dan Jember. Maka, sepeda motor dan mobil, seperti halnya terjadi di masyarakat lokal di dataran rendah dan masyarakat kota, mempunyai ragam-guna terkait perpindahan individu-individu dari satu ruang ke ruang lain secara ulang-alik yang berlangsung dengan cepat; dari rumah ke warung, dari desa satu ke desa lain, dari jagat gunung ke jagat kota, atau bahkan dari jagat sakral ke jagat profan—budaya otomobilitas dalam perspektif sosiologi.

Kalau dulu masyarakat Tengger di Ngadisari, Jetak, Wonotoro, maupun Ngadas harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam ke Sukapura untuk membeli barang-barang pabrikan keperluan rumah tangga, dengan hadirnya toko-toko modern lebih memudahkan akses mereka terhadap barang-barang tersebut. Akibatnya, budaya konsumsi menjadi semakin biasa. Budaya konsumsi tengah mengubah gaya hidup wong Tengger dari petani subsisten menjadi petani modern. Realitas historis menunjukkan bahwa pergeseran dan perubahan gaya hidup masyarakat Tengger sebagai akibat budaya konsumsi sudah menjadi hal yang biasa/keseharian. Sejak merebaknya revolusi hijau di era Orde Baru, mereka telah biasa dengan tradisi konsumsi benda-benda pabrikan, sehingga kearifan terkait kesamaan status juga mulai berubah (Hefner, 1999: 3-5).

Mereka sudah dan tengah meniru serta menikmati gaya hidup modern, dari rumah mewah berorientasi kota maupun budaya konsumsi dalam ruang sehari-hari. Berubahnya masyarakat Tengger menjadi masyarakat konsumsi membawa pengaruh terhadap bergesernya atau berubahnya sebagian kearifan lokal yang dulu diyakini masyarakat sebagai keunggulan di bandingkan masyarakat lain. Identitas wong Tengger sampai saat ini sebagai wong gunung yang “tidak pernah membeda-bedakan sesama” memang masih tampak, misalnya, dalam pola komunikasi warga sehari-hari. Tidak ada unggah-ungguh kebahasaan yang membedakan antara orang berstatus kaya maupun miskin, antara dhukun maupun warga biasa. Sama dengan temuan Hefner (1999: 259) terkait keengganan warga Tengger untuk membicarakan status ekonomi tetangganya, kami pun mendapatkan jawaban serupa ketika menanyakan soal warga dengan status kaya dan miskin. “Kami ini sama, masih satu keturunan, jadi tidak baik membicarakan tetangga, apa mereka itu miskin atau kaya,” begitulah jawaban Mujono. Meskipun demikian, kehadiran benda-benda konsumsi buatan pabrik, apalagi yang berharga mahal, seperti mobil maupun sepeda motor, jelas membedakan status sosio-kultural dalam masyarakat.

Pertanian komersil yang memunculkan masyarakat konsumsi, meskipun tidak merubah keyakinan mereka terhadap kekuatan Bromo dan agama, tetapi merubah perilaku sehari-hari masyarakat Tengger. Perbedaan makanan, pakaian, dan status sangat ditentukan oleh kekayaan material. Artinya, meskipun masih menjalankan sebagian kearifan lokal warisan leluhur, masyarakat Tengger telah mengalami perubahan orientasi terhadap kearifan lokal, karena mereka tidak lagi mengedepankan kesamaan dalam segala aspek. Perbedaan status ekonomi antarwarga akibat kekayaan itulah yang menyebabkan perubahan cara pandang terhadap konsep kesamaan dalam kehidupan warga. Perbedaan antara wong gunung dengan wong ngare, dengan demikian, dalam hal konsumsi, komersialitas, dan perbedaan status sosial sulit lagi ditemukan.

ladang

Ladang sayur di kawasan Tengger

Dalam konteks pertanian komersil dan budaya konsumsi, masyarakat Tengger memang menempati posisi subordinat di mana mereka menjadi kelompok sosial yang menerima secara konsensual posisi modernitas sebagai ordinat yang harus diikuti karena terbukti memberikan kesempatan untuk menikmati kemajuan ekonomi pertanian. Pesona modernitas yang mereka peroleh melalui pertanian komersil dan benda-benda modern menjadikan masyarakat Tengger tidak bisa lepas dari formasi diskursif modernitas yang memang menjadi trend dalam tataran global, nasional, maupun regional. Dengan pembacaan tersebut, bisa dikatakan bahwa masyarakat Tengger saat ini tengah dan mungkin akan terus terhegemoni oleh modernitas. Dalam kerangka hegemoni, kehadiran kelas pemodal besar di tataran global maupun nasional memang tidak harus hadir secara terbuka, tetapi bisa melalui negosiasi nilai, praktik, dan material yang diwacanakan mampu mengartikulasikan kebutuhan-kebutuhan kelas-kelas subordinat, termasuk kelompok petani ataupun masyarakat lokal (Howson & Smith, 2008; Walton, 2008; Williams, 2006; Gregg, 2006; Hall, 1997a; 1997b; Slack, 1997).

Pesona-pesona modernitas Barat yang bertransformasi dari masa kolonialisasi hingga globalisasi saat ini telah menjadi rezim kebenaran yang dilihat, dipandang, ditiru, dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat Tengger. Barat menjadi bentuk peradaban yang mengendalikan perkembangan sejarah umat manusia di manapun mereka berada, meskipun secara historis dan politis mereka pernah merasakan penjajahan yang begitu menyakitkan. Wacana Barat masih kuat dalam pikiran masyarakat pascakolonial, karena ia bersemayam sebagai figur imajiner yang menglobal dan terus dibayangkan, baik dalam kehidupan sehari-hari, praktik bernegara, media, maupun dalam ranah pengetahuan (Ven, 2000: 44-45; Chakrabarty, 2000: 3-4). Demikian pula, masyarakat Tengger yang selalu membayangkan, meniru, menyerap, dan mempraktikkan budaya modern dalam wujud budaya konsumsi yang mengubah makna-makna kesamaan sosial ke dalam makna-makna perbedaan yang ditentukan oleh rumah mewah, perabot rumah tangga buatan pabrik, alat transportasi dan komunikasi, maupun selera makanan. Senyatanya, sebuah dunia ideal yang diwacanakan mengedepankan konsep sak-keturunan (sama-sama satu keturunan) telah dan tengah mengalami keretakan akibat realitas perbedaan sosio-kultural yang berlangsung.

(bersambung)

* Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian “Menjadi Sang Hibrid” di Tengger yang didanai oleh DP2M Dikti.

Pustaka Acuan

Appadurai, Arjun. 1990. “Disjuncture and difference in the global cultural   economy”, Public Culture, 2 (3): 1–23.

Chakrabarty, Diphes. 2000. Provincializing Europe: Postcolonial Thought and Historical Difference. Princenton: Princenton University Press.

Gregg, Mellisa.2006. Cultural Studies’ Affective Voices. New York: Palgrave Macmillan.

Hall, Stuart.1997a. “The problem of ideology, Marxism without guarantees”. Dalam David Morley and Kuan-Hsing Chen. Stuart Hall, Critical Dialogue in Cultural Studies. London: Routledge.hlm.26.

Hall, Stuart. 1997b. “Gramsci’s relevance for the study of race and ethnicity”. Dalam dalam David Morley & Kuan-Hsing Chen. Stuart Hall, Critical Dialogue in Cultural Studies. London: Routledge.

Hefner, Robert. 1999. Geger Tengger: Perubahan Sosian dan Perkelahian Politik (Political Economy of Mountain Java: An Interpretive History) (terjemahan A. Wishnuwardana dan Imam Ahmad). Yogyakarta: LKis.

Howson, Richard & Kylie Smith. 2008. “Hegemony and the Operation of Consensus and Coercion”. Dalam Richard Howson & Kylie Smith (eds). Hegemony: Studies in Consensus and Coercion. London: Routledge.

Slack, Jennifer Daryl.1997. “The theory and method of articulation in cultural studies”. Dalam David Morley & Kuan-Hsing Chen (ed). Stuart Hall, Critical Dialogue in Cultural Studies. London: Routledge.

Venn, Couze. 2000. Occidentalism: Modernity and Subjectivity. London: Sage Publications.

Walton, David. 2008. Introducing Cultural Studies: Learning Through Practice. Los Angeles: Sage Publications.

Williams, Raymond. 2006. “Base/Superstructure in Marxist Cultural Theory”. Dalam Meenakshi Gigi & Douglas M. Kellner (eds). Media and Cultural Studies KeyWorks. Victoria: Blackwell Publishing.

 

Share This:

About Andang Subaharianto 7 Articles
Andang Subaharianto adalah Rektor Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) Banyuwangi, juga staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Pernah menjabat Pembantu Rektor III Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*