Bârung (Kedai) dan Orang Madura Situbondoan

Dedi Andrianto Kurniawan

 

Download artikel versi PDF

Bârung, atau kedai, bagi kebanyakan masyarakat Situbondo merupakan tempat yang menyenangkan. Di samping sebagai penyedia kebutuhan nutrisi (utamanya makanan dan minuman ringan), harganya sangat terjangkau oleh masyarakat kalangan bawah, juga merupakan wadah bersosial yang aksesibel bagi semua kalangan. Tak peduli rakyat jelata, orang kaya, tua-muda, pria-wanita maupun dari segala macam latar belakang profesi, kedai sangat populer dan diminati. Jauh sebelum melumrah istilah “ngopi” dan “cangkruk”, di Situbondo kedai merupakan destinasi favorit sejak dahulu, baik bagi masyarakat yang ingin meluangkan waktu, bercengkerama dengan kawan, pelarian dari pertengkaran rumah tangga bahkan hingga tempat diadakannya rapat timses pilkada.

Demikian halnya seperti yang biasa saya temui di lingkungan tempat tinggal saya. Adalah Kedai ANU, sebuah kedai yang menjual makanan dan minuman ringan, berlokasi di Jalan Argopuro Situbondo. Selain dekat dengan perkantoran dan pusat edukasi, kedai kecil yang dikelola oleh Aji, seorang duda kelahiran Situbondo ini menjadi magnet bagi masyarakat khususnya anak-anak muda yang meluangkan waktu di sela-sela aktivitas perkuliahan, membolos sekolah, pamer pacar, ataupun sekedar begadang hingga pagi. Tidak hanya karena lokasinya yang nyaman, harganya yang terjangkau, menu yang disuguhkan cukup karib dengan lidah tradisional masyarakat lokal, namun juga karena umumnya kedai seperti ini biasanya buka hingga pagi.

Bagi msyarakat Situbondo yang mayoritas merupakan warga keturunan suku Madura, di tengah himpitan ekonomi yang kian tak pasti dewasa ini, refreshing merupakan sarana untuk melenturkan ketegangan. Adalah Angga Krisgiarto, seorang kawan yang biasa meluangkan waktu di kedai di sela sela aktivitasnya melepas lelah setelah seharian bekerja, abhārung menjadi semacam rutinitas fardhu. Pria keturunan Madura yang dikenal humoris ini senantiasa menjadikan kedai sebagai tempatnya ber-sosial dengan kawan dan kolega. Menurut dia, berdasar karakteristik orang Madura (baik yang tinggal di Pulau Madura maupun yang bermukim di Situbondo turun-temurun) filosofi hidup berbahagia dan berkah itu ada tiga syarat.

Yang pertama yaitu abhāgrembhāg yang berarti “suka berembuk”. Memang watak orang Madura sangat tegas dan keras serta cenderung mengedepankan penyelesaian sengketa melalui pendekatan fisik misalnya carok. Namun, mereka juga merupakan masyarakat yang terkenal menjunjung tinggi musyawarah dan berembuk dalam merumuskan segala sesuatu di setiap aspek kehidupan. Misalnya, menikahkan anak, mendirikan gapura atau portal, pembagian air irigasi, bahkan arisan mingguan tingkat RT. Abhāgrembhāg juga diartikan sebagai proses bersosial, mempererat jalinan silaturahmi sesama teman atau kerabat atau bahkan mencari kawan baru. Bahkan berembuk dianggap lebih penting dari hajatan itu sendiri. Bilamana dalam sebuah hajatan seseorang tidak dilibatkan dalam berembuk niscaya akan membuat tersinggung atau tidak enak hati. Tradisi berembuk bagi orang Madura seolah menjadi sebuah keharusan dalam sistem sosialnya. Tentu saja tradisi abhāgrembhāg ini juga perlu ditunjang dengan relasi sosial yang baik. Semakin luas pergaulan seseorang maka semakin harus seseorang mendahulukan rembug. Bahkan ada ungkapan orang Madura yang menyebutkan; “Mun ta ka tatangghā minta’a tolong ka sapa polé, tarétan. Mun abhāreng kabbhi urusan tak eghārāssah” (Jika tak kepada tetangga, kepada siapa lagi kita meminta tolong, saudara. Jika bersama sama, semua urusan termudahkan) sebagaimana Angga sering berujar.

Yang kedua adalah adhing-gendhing yang berarti “bertransaksi”. Maknanya adalah orang Madura merupakan orang yang gemar bekerja keras. Transaksi dimaknai sebagai bekerja keras, sehingga bekerja bagi masyarakat Madura seolah menjadi sebuah kebutuhan. Bahkan beberapa orang Madura rela bekerja dibayar murah ketimbang harus ongkang-ongkang di rumah, tak melakukan apa-apa. Inilah barangkali yang mendasari perusahaan-perusahaan perkebunan kolonial di Jawa Timur pada era deforestasi 1870-an bergelora mempekerjakan orang Madura, karena upah yang murah dan pekerja keras. Semalas-malasnya orang Madura minimal mereka terjun ke ladang dan persawahan untuk bertani atau melaut sebagai nelayan. “Témbhāng emmak ngaronyam malolo é bengko” (Daripada Ibu mengomel terus di rumah). Lagi, menurut Angga, bekerja keras untuk menafkahi keluarga dianggap sebagai sebuah aktivitas kerohanian. Dikaitkan dengan konteks abhāgrembhāg di atas, menurut Angga, kerohanian yang dilakukan dalam keramaian adalah lebih bernilai ketimbang yang menyepi. Artinya bekerja dan berkarya untuk kemanfaatan orang banyak adalah lebih utama ketimbang karya yang dicetuskan semata untuk kegagahan diri atau golongan sendiri. “Alako mun ta ghabāy majhembhār tang kanca, ghābāy apa polé?” (Untuk siapa lagi bekerja kalu tidak untuk menyenangkan kawan?) Itulah mengapa orang Madura yang sukses biasanya orang Madura yang jaringan pergaulannya luas. Dapat menerima dan diterima di semua kalangan di semua keadaan masyarakat.

Yang terakhir adalah adeng-gālindeng. Secara denotasi adeng-gālindeng dapat diartikan sebagai berkeliling-keliling (berputar-putar), seperti ikan mabuk misalnya (teringat ketika kami sedang memancing di Waduk Pitaloka, sebuah telaga buatan yang menampung air hujan). Maknanya adalah, orang Madura, apapun latar belakangnya, selalu menganggap kebugaran psikologis sebagai sesuatu yang sangat penting di sela-sela penatnya rutinitas sehari-hari. Bagi orang Madura hidup yang tak dapat dinikmati adalah hidup yang sia-sia. Maka dari itu refreshing merupakan jalan keluar yang tepat untuk melepaskan segala macam beban hidup, lebih lebih lagi dalam era yang serba menghimpit seperti sekarang ini. Angga, di sela sela rutinitasnya bekerja dalam bidang kemasyarakatan, senantiasa punya waktu untuk bercengkerama sembari menikmati beberapa puntung rokok dan kopi di kedai. Dengan ditemani satu set kartu gaple, es mamen (begitu saya dan kawan-kawan menyebut es Kuku Bima pakai susu), dan helm full face beraroma bawang gosong, kami biasanya asyik hingga subuh. Lupa terhadap belitan hutang, pertengkaran dengan istri, tugas menumpuk, gajian yang tak kunjung turun, dan segala macam polemik kehidupan. Kendatipun, watak orang Madura cenderung keras dan mudah tersinggung, namun ketika mereka membaur bersama kawan-kawannya, berkelakar merupakan sebuah keharusan. Bahkan jika ada sekumpulan orang Madura yang tak saling berkelakar, hampir dapat dipastikan sedang ada masalah. Masyarakat Madura merupakan masyarakat yang humoris, bahkan mereka tak marah terhadap celaan-celaan jenaka yang dilontarkan, sebagaimana diperlihatkan oleh mayoritas orang Madura di Situbondo.

Bagi kami warga Situbondo yang mayoritas etnis Madura maupun para pendatang yang menetap di Situbondo seperti orang Jawa, Arab, Cina, Using dan turun temurun beranak pinak di wilayah ini, bârung sudah lekat dalam keseharian. Bahkan, lebih populer ketimbang cafe-cafe yang berbau sosialit, hedon, dan kebarat-baratan. Saking populernya, beberapa cafe bahkan menerapkan konsep kedai tradisional agar diminati. Meskipun demikian, cafe-cafe itu belum mampu mengalahkan pamor bârung sebagai kedai yang paling mampu mewakili realitas keseharian masyarakat Situbondo yang jenaka, pekerja keras, solider, dan sangat menikmati hidup. Maka, kalau ingin tahu bagaimana asyiknya warga Madura Situbondoan, jangan malu-malu, jangan pula malas, untuk nongkrong bersama di bârung. Dari bârung itu pula kita bisa tahu bahwa dunia masyarakat Madura adalah dunia yang asyik dan penuh canda.

 

Cover: https://www.minumkopi.com/kedai-kopi-ala-pembeli/

Share This:

About Dedi Kurniawan 1 Article
Dedi Andrianto Kurniawan adalah musisi muda Situbondo. Dia aktif dalam gelaran-gelaran musik di kabupaten Situbondo dan sekitarnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*