Nikmatnya Tergila-gila: Puisi-puisi Ahmad Junaedi Efendi (1)

Muqadimah Cinta

Kau punya mata panah

Kau punya bibir indah

Kau punya senyum rekah

Kau punya malu fitrah

 

Wah

 

Aku punya sajak mahar gelisah

10-01-2006


Nikmatnya Tergila-gila

Tak ada rasa kecuali nikmat saja

Bergegas sukma menuju

Mengajak dansa lalu berbisik

Sebait sajak pusaka

muqadimah cinta

 

Tahukah ia bahwa gelisah ini terlanjur

Menderu dera lara di dada

Mencekam luar biasa

Ciptakan daya terus-menerus

Hingga tiba sebelum titik

Jatuh setekad kata

aku tergila-gila

 

Tak ada nikmat kecuali mencumbu pesonanya

Tahukah bahwa aku tak ingin bermimpi saja

14-03-2006


Tahajud

seorang bujang

 

Malam hitam makin tenggelam: Rambutmu berombak panjang

Bintang gemintang berkerlingan: Socamu sendu batu pualam

Bulan setengah lingkaran: Rautmu salam toleh ke selatan

Embun bungkam turun perlahan: Keringatmu uap kasturi sang perawan

Desau angin beralunan: Nafasmu desah lembut belai sayang

Jerit gagak menakutkan: Peraduanmu setiap waktu terancam

Malam larut dingin mencekam: Dzikirku khawatir selalu terpanjatkan

21-03-2006


Adalah Asa

Cintaku

seluas cakrawala

setinggi angkasa

sedalam samudera

sejagad raya

sepanjang masa

seabadi surga

 

Omong kosong

 

Cintaku

Cuma perkawinan antara

Kertas dan tinta

Membenihkan kata-kata

Menjelma sajak-sajak asa

 

Siapa mau membendungnya

Kubantai ia dengan rasa.

 

Rindu yang purba

02-05-2006


Permata yang Terlupa I

 

Aih,

Naif

Sebutir pesona telah redup

Butuh sehelai sutra

Perlu secawan zam-zam

Sertakan mantra dan dupa

Mengasah, membasuh, menjilati

Aroma aura luruh dalam restu

Wangi

Pancing-memancing gelisah sajakku

 

Aih,

Naïf

Aku tak punya sutra

Aku tak dapat zam-zam

Apa lagi mantra atau dupa

Hartaku hanya makna kata-kata

Seandainya boleh

Biar kujilatkan lidah el-hubbi

Yang tak pernah capek mengi’rabkan puisi

 

Aih?

17-01-2006


Permata yang Terlupa II

 

Tak penting kaca

Pesona adalah cermin sesungguhnya

Tak ada diri pada kaca

Kaca-kaca kamuflasa

Moksa

Pecahkan. Buang ke empat arah penjuru

Akan ada selaksa restu

Memantulkan cahya jingga matahari

Dari peraduan rindu

Nan biru

 

Rembulan tak berdaya jadi saksi di balik senja

24-01-2006


Permata yang Terlupa III

 

Pesona di ujung panah melesat dari socamu terhujam ke dada

Pesona memoles indah kesumba belah bibirmu gelengkan kepala

Pesona semaikan rekah tersungging di senyummu menoreh sajak cinta

Pesona adalah fitrah dihiasi malumu bikinku gila

 

Balutlah dengan sutra akhlak

Rendam dalam zam-zam dzikir

Mantra dan dupa kepulkan doa

Dan dari jauh kulempar kembang tujuh warna

 

Hmmm

Gelisah ini terasa nikmat luar biasa

31-01-2006


Coklat + Bunga ≠ Cinta

 

Masya’

Cinta cukup sepaket cokelat

Kasih cuma seharga serangkai bunga

(seseorang menjual kata-kata demi membeli cinta)

 

Tidak.

 

Itu picisan

Itu kufur

Cinta begitu serius dipercayakan

Berikut pesona yang tak kan pernah usai diukur

 

Cokelat dan bunga

hanya berhala

Makna dan daya

hilang menganga

 

Betapa kata dianugerahi segala

Terlalu berharga jika ditukar sepicis cuma

Masya Allah

14-02-2006


Membaca Kerling Matamu

 

Membaca kerling matamu

Seperti kutangkap sinyal

Lemah namun mengganggu

 

Memancar ke lensa mataku

Kacaukan saraf otak

Mesum tembus ke kalbu

 

Mengajak jiwa berpacu

Masuki nuansa klasik

Romantisme nan biru

 

Menggelegak rindu kagumku

Mabuk menyusun nyali

Tak kuasa oleh malu

 

Membaca kerling matamu

Syahdan sesuatu terjadi

Entah apa aku tak tahu

07-02-2006


Misteri

 

satu lagi

sangsi

bertahta hari ini

jadi puisi

sesuatu diyakini

entahlah nanti

terus saja kui’rabi

kedipan sang bidadari

04-04-2006


Kata Rindu

 

Kata-kataku adalah pengulangan rindu

Orang-orang terdahulu

Rindu kian rindu.

Aku tak perlu menerjemahkan rindu.

Rugi

Siapa tak tahu rindu

Aku cuma ingin nikmati

Dengan caraku

Dengan kata-kata ini

Coba kusampaikan padamu

Untuk kau hikmat

Lalu kaupun setuju

Atau kan kau nafikan lagi begitu

 

Aku

Kamu

Kelu

22-09-2007


Selasa Dini Hari, Sepi

 

Malam ini tak tahu

Apa yang musti kutulis

Tuk rampungkan sebuah puisi

Sebagai persembahan bagi kekasih

 

Macet sudah mesin inspirasi

Kututup buku dan ujung pena

Lebih baik tidur sambil berharap mimpi

Kan datang bidadari

Dan ketika bangun esok pagi

Kudapati sarungpun basah oleh mani

25-04-2006


Cover: http://arriveaccountants.com.au/services/

Share This:

About Matatimoer 6 Articles
Adalah lembaga yang bergerak dalam bidang penelitian budaya dan pemberdayaan komunitas

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*