Menjadi Tengger dalam keberantaraan kultural (1)

ANDANG SUBAHARIANTO

IKWAN SETIAWAN

 

Salah satu yang sangat tipikal dalam perbincangan tentang masyarakat dan budaya lokal di Indonesia adalah hasrat yang masih kuat dari sebagian besar akademisi untuk me-romantis-kan ritual, kesenian, pakaian adat, maupun bahasa ibu sebagai ‘kekuatan terbayangkan’ yang mampu menyangga bangunan ideal bangsa dalam aspek kebudayaan. Tentu saja, konstruksi akademis tersebut tidak bisa dilepaskan dari perspektif teoretis yang digunakan para akademisi untuk membaca data-data di lapangan. Bagi akademisi yang memahami budaya sebagai satu kesatuan nilai dan kode yang mengikat keseluruhan anggota sebuah komunitas, mereka akan memosisikan masyarakat dan budaya lokal sebagai kenyataan yang tetap, integral, dan mapan, sehingga kenyataan berkembangnya praktik kultural berbeda bukanlah sesuatu yang penting untuk dianalisis. Namun, bagi mereka yang memahami budaya secara dinamis, kenyataan terkait perbedaan, transformasi, maupun perubahan dalam kehidupan sehari-hari seorang anggota ataupun beberapa anggota masyarakat akan tetap diperhatikan sebagai data yang perlu dibaca dan dianalisis lebih jauh. Apalagi, dinamika tersebut berkaitan erat dengan faktor ekonomi dan politik yang digerakkan oleh rezim negara maupun rezim pemodal.

Dari pengalaman di lapangan, menurut kami kerangka pikir dinamislah yang lebih sesuai digunakan untuk menyelami dan memahami tumpang-tindih persoalan kultural dalam masyarakat lokal. Maka dari itu, agar tidak terjebak dalam repetisi temuan dan konsepsi teoretis sebagaimana dilakukan peneliti-peneliti sebelumnya, dalam bab ini, kami akan memfokuskan bahasan kepada “kompleksitas kultural” yang berlangsung dalam masyarakat dan budaya Tengger. Pijakan konseptual tersebut menjadikan kami mengambil cara pandang yang berbeda dari kajian-kajian akademis yang selama ini memproduksi ke-Tengger-an serta melanjutkan kajian-kajian awal tentang dinamika kultural Tengger yang sudah dilakukan dengan menekankan pada penggunaan perspektif hibriditas. Secara berurutan tulisan ini akan mengeksplorasi: (1) produksi pengetahuan ke-Tengger-an yang selama ini menjadi gugusan wacana dalam ranah akademis; (2) pertanian sayur-mayur berorientasi komersil yang dilakukan masyarakat Tengger serta pengaruhnya dalam bentuk kehadiran budaya modern dalam ruang geo-kultural gunung; (3) trend budaya konsumsi dalam masyarakat Tengger; (4) pendidikan modern dan hibriditas orientasi pengetahuan; dan, (5) keyakinan tradisi dalam subjektivitas hibrid.

Memproduksi ke-Tengger-an

Kajian-kajian tentang masyarakat dan budaya Tengger yang telah dilakukan selama ini menjadi gugusan wacana yang memberikan banyak informasi tentang detil ke-Tengger-an; dari legenda, ritual, mantra, hingga kebajikan-kebajikan leluhur yang masih diyakini dan dipraktikkan hingga hari ini (Sutarto, 1997, 2002, 2003a, 2003b, 2006, 2007, 2008). Dalam pandangan Sutarto, masyarakat Tengger merupakan “masyarakat tradisional” yang masih mampu menjaga hubungan harmonis jagat cilik-jagat gedhe. Kategori tradisional yang ia konstruksi lebih didasari pada: (a) ketaatan terhadap ajaran religi leluhur dan legenda masa lampau yang memperkuat kedirian orang Tengger; (b) keharmonisan relasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan dewata; dan, (c) masih berlangsungnya ritual terkait siklus hidup dan ritual besar berupa persembahan. Karena kajian-kajiannya lebih menitik-beratkan pada kearifan kultural, Sutarto tidak membahas pengaruh pertanian kapitalis dan industri pariwisata Bromo terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Tengger; praktik kultural yang penting dalam kajian budaya, karena bisa memberikan gambaran kritis terkait bagaimana masyarakat memaknai dan merasakan pengaruh budaya modern yang dihasilkan dari proses revolusi hijau dan pariwisata Bromo. Meskipun demikian, kajian-kajian yang dilakukan Sutarto bisa menjadi “pintu masuk” bagi lahirnya penelitian-penelitian lanjut karena menyediakan beragam definisi, konsepsi, dan kosa-kata terkait karakteristik religi dan kultural masyarakat Tengger.

Image result for Ladang Sayur masyarakat Tengger

Ritual Mendak Tirta sebagai rangkaian Yadnya Kasada (http://www.wartabromo.com/2017/07/06/suku-tengger-kawasan-gunung-bromo-gelar-ritual-mendak-tirta/)

Apa yang menarik dari kajian-kajian yang dilakukan Sutarto adalah bahwa ada usaha untuk memproduksi pengetahuan tentang ke-Tengger-an yang diposisikan sebagai budaya lokal-ideal di tengah-tengah arus besar perubahan zaman. Ketika bermacam permasalahan berkembang di tengah-tengah masyarakat kontemporer, termasuk yang disebabkan oleh globalisasi dengan masuknya nilai dan praktik kultural asing, masyarakat Tengger secara umum memang tetap mengembangkan sikap hidup positif berbasis keyakinan warisan leluhur. Dalam tataran ideal, produksi pengetahuan tersebut bisa muncul sebagai alternatif ketika paradigma pembangunan arus utama berbasis percepatan pertumbuhan ekonomi ala negara-negara maju yang dikembangkan rezim negara sejak era Orde Baru terbukti gagal untuk memberikan kesejahteraan, baik secara material maupun spiritual. Idealisasi tersebut berjalin-kelindan dengan munculnya semangat untuk memaksimalkan potensi masyarakat lokal sebagai sasaran dan elemen penting dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi oleh rezim negara pasca gerakan Reformasi—yang rupa-rupanya mengikuti trend diskursif di tataran global.

Memang, dengan usaha diskursif yang terus memproduksi pengetahuan ke-Tengger-an dalam lingkup regional, nasional, maupun internasional, masyarakat dan budaya Tengger semakin mendapatkan perhatian dari aparatus negara. Pertanyaannya kemudian adalah apakah segala wacana positif ke-Tengger-an mendapatkan porsi strategis untuk menjadi kekuatan tanding terhadap program-program pembangunan pemerintah yang menggunakan formula pengetahuan global sebagaimana yang digariskan oleh institusi neoliberal seperti IMF dan Bank Dunia? Tentu saja, itu semua berpulang kepada kemauan baik dari rezim negara. Yang pasti, secara struktural, para pemimpin formal dan kultural di wilayah Tengger adalah bagian dari mekanisme negara untuk mensukseskan program-program pembangunan, termasuk semakin meningkatkan kunjungan wisata ke kawasan Gunung Bromo dan maksimalisasi revolusi hijau dalam bidang pertanian.

Dalam konteks itulah, kajian-kajian lain tentang pertemuan masyarakat Tengger dengan proyek-proyek modernitas yang digerakkan rezim negara menjadi penting untuk ditengok. Mengapa? Karena dari kajian-kajian tersebut, kita akan mendapatkan sebuah jagat gunung yang tengah bergerak secara dinamis. Hefner (1999), misalnya, secara kritis mengkaji pengaruh penerapan sistem pertanian kapitalis—sayur-mayur—di wilayah Tengger terhadap kehidupan sosio-kultural masyarakat, dengan fokus pasca tragedi politik 1965. Menurutnya, sudah sejak zaman kolonial Eropa, masyarakat Tengger mengenal tanaman sayur-mayur. Dengan revolusi hijau, para petani Tengger  secara massif mempraktikkan tanaman sayur-mayur pada masa Orde Baru yang menjadikan mereka para petani sukses dengan penghasilan melimpah.

Keberhasilan pertanian tersebut perlahan-lahan memudahkan mereka untuk mengakses modernitas sebagaimana yang berlangsung dalam sekala nasional dan regional. Mereka mulai mengenal benda-benda konsumsi industrial; dari peralatan rumah tangga, televisi, motor, hingga mobil. Selain itu, revolusi hijau telah mengubah sebagian tradisi agraris, seperti pekerjaan di ladang yang semula dilakukan antarkerabat berubah menjadi kerja berupah. Pelaksanaan ritual yang dulu hanya untuk menjalankan perintah leluhur, menjadi ajang prestis sosial. Akibat dari ekonomi-politik pertanian Tengger adalah semakin cairnya identitas dan identifikasi sosial antara masyarakat Tengger dan masyarakat bawah. Perbedaan biner antara masyarakat gunung dan masyarakat ngare yang pada masa lampau selalu dijadikan kekuatan ideologis untuk memosisikan diri-Tengger secara istimewa sudah semakin kabur. Meskipun membicarakan perubahan berbasis data-data kuantitatif dan kualitatif, Hefner tidak sampai membahas dinamika kultural, utamanya persilangan budaya tradisional dan modern yang berlangsung dalam kehidupan masyarakat Tengger, serta siasat kultural di tengah-tengah dinamika tersebut.

Image result for Ladang Sayur masyarakat Tengger

Kawasan pemukian Tengger yang tampak modern (https://persakmi.or.id/infokesmas/kearifan-lokal-keluarga-berencana-ala-suku-tengger-di-ngadiwana/)

Formasi persilangan antara ketradisionalan dan modernitas dalam kehidupan kultural masyarakat Tengger memang tidak bisa dihindari karena meskipun berada di wilayah pegunungan, sejak zaman kolonial mereka sudah bersentuhan dengan tradisi Eropa yang dibawa pihak penjajah dan dilanjutkan oleh rezim negara RI. Setiawan (2008) mengkonseptualisasikan terma “percumbuan” sebagai titik-silang antara kepentingan ritual dan beberapa kearifan lokal Tengger yang membutuhkan biaya besar dengan pertumbuhan budaya pertanian modern—revolusi hijau. Beberapa ritual seperti walagara (ritual pernikahan) dan pemenuhan kebutuhan hidup seperti rumah, kesehatan, maupun ilmu pengetahuan dalam konteks kontemporer membutuhkan biaya besar, sehingga masyarakat Tengger dengan mudah menerima nilai dan praktik pertanian modern yang bisa mendukung kepentingan pertama.

Penerimaan terhadap aspek-aspek modernitas ke dalam kehidupan lokal itulah yang menjadikan masyarakat Tengger hidup dalam keberantaraan dan hibriditas kultural. Dengan nada optimis, Setiawan (2009) memosisikan hibriditas dalam masyarakat Tengger sebagai kekuatan untuk berkontestasi dengan hegemoni budaya global. Dengan menempatkan “subjektivitas antara”, wong Tengger mampu hidup dalam pertemuan modernitas dan ketradisionalan. Subjektivitas tersebut juga berlaku bagi kaum muda Tengger. Sariono, Subaharianto, & Seputra (2010) menegaskan bahwa di tengah-tengah kebiasan mengkonsumsi dan menjalankan sebagian budaya modern yang mereka peroleh dari ruang sekolah maupun narasi media, mayoritas kaum muda Tengger masih tetap meyakini dan menjalankan ajaran leluhur, baik dalam bentuk ritual maupun kearifan hidup sehari-hari. Meskipun demikian, sebagian kecil mulai berani ‘melawan’ dengan menabrak tabu-tabu kultural, seperti seks pra-nikah maupun mengkonsumsi alkohol. Temuan-temuan dalam kajian-kajian tersebut bisa menjadi bahan untuk ditelaah dan dikritisi-kembali, khususnya terkait persoalan-persoalan kultural dan mekanisme lokal untuk tetap melangsungkan ke-Tengger-an dalam atmosfer modern yang sudah semakin biasa.

Menuju pertanian komersil, menikmati budaya modern

Pada sebuah pagi berkabut, 5 Agustus, 2009, di tepi jalan Desa Ngadisari, kami berbincang santai dengan seorang pemuda Tengger bernama Handi. Pemuda berumur 27 tahun ini mengenakan jaket ketat yang sedang populer saat ini, celana jeans, topi, sembari menyelempangkan sarung di lehernya. Ketika kami tanyakan tentang kegiatan pemuda Tengger dalam ranah pertanian, Handi menjelaskan:

“Sehari-hari kalau lagi musim tanam, saya dan kawan-kawan sebaya biasanya ikut ke tegal [ladang, pen], karena dari situlah sumber kehidupan kami. Beberapa kawan saya ada juga yang nyambi nyopir jeep, mengantar para wisatawan. Lumayan buat tambahan penghasilan. Kalau sudah panen, saya diberi uang oleh orang tua untuk membeli pakaian. Biasanya saya dan teman-teman juga membeli pakaian menjelang Hari Raya Karo, karena kami harus menerima tamu dan bertamu ke rumah kerabat dan tetangga, makanya harus tampil bagus. Karena biasa mengenakan pakaian-pakaian modis, anak-anak muda di sini kalau siang jarang mengenakan sarung, tidak seperti orang tua. Kata mereka kurang gaul.” (cetak miring kami)

Ucapan Handi tentang “tegal sebagai sumber kehidupan” menegaskan betapa pentingnya pertanian sayur-mayur bagi keberlangsung hidup masyarakat Tengger. Dengan hasil pertanian pula, Handi dan kawan-kawannya bisa membeli pakaian di Probolinggo, baik untuk dikenakan sehari-hari ataupun menjelang hari raya Karo—semacam hari raya Idul Fitri dalam tradisi Islam. Kebiasaan mereka untuk mengenakan pakaian modis, lebih dari itu, membuktikan bahwa pertanian komersil menjadikan masyarakat Tengger terbiasa mengkonsumsi benda-benda modern buatan pabrik serta menghubungkan mereka dengan citra-citra kemajuan—salah satunya melalui pakaian. Senyatanya, secara historis proses kultural seperti yang dilakoni oleh Handi dan kawan-kawannya sudah berlangsung lama sebagai akibat pertanian komersil yang dijalani wong Tengger.

Image result for Ladang Sayur masyarakat Tengger

Jagung yang ditanam warga Tengger. Bukan lagi tanaman pokok (https://winnyasaari.wordpress.com/2011/08/25/554/)

Sebelum melakukan intensifikasi pertanian dengan tanaman sayur-mayur, masyarakat Tengger adalah petani tradisional dengan pola subsisten yang menanam jagung varietas lokal berusia 9-10 bulan sebagai tanaman utama sekaligus makanan pokok. Pertanian subsisten melahirkan cara pandang hidup dan praktik kultural yang mengedepankan kesederhanaan, keharmonisan, dan komunalisme. Wong Tengger, misalnya, tidak terlalu mengedepankan orientasi pada keberlimpahan duniawi, tetapi lebih mengutamakan capaian-capaian sederhana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang bisa diperoleh dari ladang jagung. Dalam kerja-kerja pertanian, mereka juga mengedepankan kerjasama komunal, baik dengan meminta bantuan kepada sesama anggota keluarga dan kerabat maupun tetangga. Artinya, upah pekerjaan diwujudkan dengan membantu kerja pertanian kerabat atau tetangga yang pernah membantu kerja serupa. Selain itu, kedekatan mereka dengan alam dan penghormatan mereka terhadap kekuatan dewata, menjadikan wong Tengger selalu mementingkan ritual-ritual sebagai doa kepada penguasa jagat, ruh-ruh nenek moyang, dan alam semesta. Namun demikian, kehadiran pertanian modern yang dibawa kolonialisme Eropa, telah mengantarkan masyarakat Tengger ke dalam “alam antara”: antara tradisional dan modern.

Menurut Hefner, wong Tengger sebenarnya mulai menanam sayur-mayur sejak era kolonial Belanda. Mereka menanam sayur-mayur untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Eropa dan Cina, terutama di kota-kota besar; Surabaya dan sekitarnya. Meskipun demikian, jumlahnya tidak terlalu massif. Masyarakat Tengger baru menanam secara massif sayur-mayur pada periode 70-an. Meskipun tanpa diminta oleh pemerintah rezim Soeharto, seperti di wilayah-wilayah dataran rendah, masyarakat Tengger berinisiatif untuk menanam tanaman komersil. Hefner (1999: 15-16) mengatakan:

Pada tahuan 1960-an, sekalipun terjebak ke dalam pertanian subsisten yang suram, para petani kembali melawan keadaan dengan gigih, dengan melakukan berbagai cara untuk menyelamatkan wilayah itu dari bahaya kebangkrutan. Tidak mengherankan ketika pada tahun 1970-an mereka merasa tergelitik oleh berbagai inovasi revolusi hijau yang berlangsung di dataran rendah. Respons mereka tidak menunjukkan watak konsevatif seperti yang biasanya dituduhkan kepada petani. Sebelum pemerintah mengkampanyekan  pada mereka, para petani gunung itu telah mencari bibit-bibit baru dan obat-obatan dengan usaha sendiri. Mereka melakukan berbagai percobaan teknik tanam. Akhirnya mereka menemukan sejumlah jenis tanaman yang dapat menaikkan produksi mereka. Tanpa petunjuk dari pemerintah, para petani gunung telah melancarkan revolusi hijau sendiri.

Wong Tengger dengan sangat sadar melakukan uji-coba pertanian dengan teknik revolusi hijau versi mereka sendiri karena sebelumnya mereka sudah pernah menanam sayur-mayur untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Eropa dan Cina. Keuntungan finansial yang dihasilkan dari praktik pertanian sayur-mayur menjadikan mereka tertarik untuk meniru ketika muncul perkembangan-perkembangan baru terkait dunia pertanian, seperti bibit baru yang lebih menjanjikan ketika panen. Yang menarik adalah inisiatif wong Tengger untuk mencari sendiri bibit dan obat yang bisa mendukung pertanian sayur-mayur mereka. Artinya, mereka dengan sadar menjalankan pertanian modern karena dianggap lebih bisa memakmurkan. Pertemuan dengan tradisi pertanian kolonial yang diyakini lebih menguntungkan menjadikan masyarakat melakukan revolusi pola pikir yang menerobos tradisi subsisten yang dijalankan pada masa pra-kolonial. Akibatnya, ketika mesin rezim Orde Baru hadir dengan para penyuluh lapangan yang memperkenalkan bibit baru, pestisida, dan pupuk, dengan cepat pula mereka menerima. Dengan kata lain, endapan-endapan tentang pertanian modern kolonial berkontribusi besar bagi penerimaan masyarakat Tengger terhadap revolusi hijau sebagai salah satu program utama rezim Orde Baru.

Image result for Ladang Sayur masyarakat Tengger

Warga Tengger menanam sayur di ladang (https://archopodho.wordpress.com/tag/tengger/)

Periode rezim Orde Baru memang menjadi masa di mana masyarakat lokal di sebagian besar wilayah Jawa, khususnya, dan Indonesia, pada umumnya, memasuki era kapitalisme pertanian. Kebijakan Trilogi Pembangunan—stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan hasil-hasil pembangunan—menjadi formula baku untuk merancang kemajuan bangsa. Langkah konkrit bagi pertumbuhan ekonomi adalah memperbanyak investasi dalam bidang perindustrian—baik modal asing maupun swasta nasional—dan melakukan revolusi hijau dalam bidang pertanian. Program pembangunan Orde Baru, pada dasarnya, merupakan perwujudan proyek modernitas yang diintrodusir ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Canclini (1995: 12-13) mengidentifikasi empat elemen utama dari poyek modernitas. Pertama, proyek emansipasi, menekankan pada sekulerisasi dan rasionalisasi ranah kultural, pengaturan individu-individu yang siap berkompetisi, dan individualisme. Kedua, proyek ekspansif, memprioritaskan pada perluasan pengetahuan untuk bisa menguasai alam serta peningkatan produksi, sirkulasi, dan konsumsi barang-barang industri. Ketiga, proyek renovasi, melibatkan kedua aspek sebelumnya untuk memenuhi peningkatan secara ajeg, inovasi yang disesuaikan dengan hubungan pada alam, pembebasan masyarakat dari petuah-petuha suci, serta reformulasi terus-menerus tanda-tanda pembeda dalam konsumsi massa. Keempat, proyek demokratisasi, menegaskan bahwa gerakan modernitas yang diajarkan dalam pendidikan, penyebaran seni, dan pengetahuan dikhususkan untuk meraih evolusi rasional dan moral yang bisa dirasakan semua umat manusia.

Dalam konteks Indonesia di masa Orde Baru, proyek emansipasi dijalankan melalui pendidikan yang mengadopsi kurikulum Barat dengan orientasi kemajuan nalar/rasionalitas, dari level sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikanlah yang diwacanakan akan mampu menciptakan manusia-manusia unggul yang siap berkompetisi di masa depan. Efek dari pendidikan adalah kemampuan untuk menggunakan nalar dalam melihat permasalahan serta menggeser pemikiran-pemikiran feodal dan mistis yang dianggap terbelakang. Apa yang paling tampak luar biasa dari rezim Orde Baru adalah pengembangan proyek ekspansi terhadap sumber-sumber kekayaan alam, baik tambang maupun hutan, serta penerapan revolusi hijau dengan alasan peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat.

Terlepas dari keberadaan proyek-proyek lainnya, satu pengaruh terbesar dari pembangunan menuju Indonesia modern adalah penyebaran kapitalisme sebagai rezim kebenaran yang mengkerangkai dan mengarahkan pola pikir dan praktik hidup masyarakat, dari kota hingga desa. Faruk (1995: 84-85) menjelaskan bahwa kebijakan ekonomi Orde Baru yang terbuka dan kapitalistis telah menyulap dunia masyarakat Indonesia menjadi dunia yang sama sekali baru. Konsep dan kebijaksanaan pertumbuhan ekonomi telah menempatkan uang di pusat segala aktivitas manusia-manusianya. Lembaga-lembaga produksi dan konsumsi menjamur seperti pabrik, pasar, supermarket, bank, ratusan media massa—dari majalah, koran, tabloid, radio, televisi, dan sebagainya. Berbagai benda dan berbagai hal diperlakukan sebagai alat tukar: hasil pertanian, jasa pelayanan, suasana kenyamanan, citra-citra tubuh, dan lain-lain.

Untuk memperluas jangkauan ekonomi-politik pembangunanisme ke wilayah pegunungan, termasuk pegunungan Tengger, rezim Orde Baru menggalakkan program pembangunan jalan aspal guna mempermudah akses masyarakat dan mobilitas produk-produk pertanian serta memperlancar alur distribusi produk-produk industrial dari kota ke wilayah atas. Hefner menjelaskan:

Pada awal 1970-an dampak dari program-progam ini [pembangunan, pen] mulai terasa di wilayah pegunungan Jawa. Di Pegunungan Tengger, pembangunan jalan-jalan telah memudahkan transportasi kendaraan bermotor, barang-barang, konsumsi, serta semakin banyaknya campur tangan pemerintah. Para petani yang mampu membeli obat-obatan tanaman mengganti tanaman pangan mereka [jagung berusia tanam 9-10 bulan, pen] dengan tanaman komersil [sayur-mayur, pen]. Barang-barang konsumsi buatan Jepang mulai menggantikan tradisi slametan sebagai simbol kemakmuran dan prestise. Dalam semua aspek kehidupan, tampaknya, suatu wilayah yang dulu dengan bangga pernah menghindari hirarki dan ketidaksamaan seperti yang terjadi di dataran rendah, kini mendapatkan dirinya sebagai bagian masyarakat Jawa yang lebih luas. Sebuah dunia sedang tenggelam. Surutnya dunia ini tidak saja terlibat pada naiknya pendapatan dan produksi, tetapi juga pada berubahnya dasar-dasar identitas dan otoritas. (1999: 3)

Mengikuti tradisi pemikiran ekonomi-politik Marxian, berubahnya sistem produksi—dalam hal ini pertanian—dan konsumsi sebagai base-structure telah menyebabkan pergeseran dan perubahan pada level ideologis-kultural sebagai superstructure. Pilihan untuk menjalankan petanian komersil yang menghubungkan wong Tengger dengan pasar sayur-mayur regional dan nasional, telah memberikan keuntungan finansial melimpah. Rezeki finansial tersebut memungkinkan mereka membeli barang-barang konsumsi dari kota serta menghubungkan mereka dengan wilayah bawah yang sedang bergerak menuju modernitas. Batasan tradisional tentang wong gunung yang tidak suka pamer harta, tidak membeda-bedakan sesama, dan hidup dalam kesederhanaan, perlahan mencair. Maka, “sebuah dunia ideal gunung” dengan kekuatan identitas dan otoritas tradisionalnya sedang ‘tenggelam’ akibat masuknya pertanian komersil dan budaya konsumsi.

Image result for Ladang Sayur masyarakat Tengger

Bawang pre dan lereng-lereng curam yang ditanami sayur-mayur (http://www.industry.co.id/read/7570/bercengkrama-bersama-masyarakat-suku-tengger-di-desa-argosari-lumajang)

Perubahan menuju kapitalisme pertanian ikut mempengaruhi selera kultural masyarakat lokal, sehingga beberapa aspek budaya lokal—seperti rumah yang dianggap menyatu dengan keyakinan kosmologis tradisional—ikut mengalami perubahan model arsitektur. Mujono, Koodinator Dhukun Pandhita (pemimpin religi dan adat) se-kawasan Tengger yang bertempat tinggal di Desa Ngadas, Kecamatan Sukapura, Probolinggo (meninggal pada pertengahan Pebruari 2014),  menuturkan perihal orientasi perbaikan hidup melalui pertanian komersil dan pengaruhnya terhadap perubahan model rumah Tengger sebagai berikut:

“Sejak saya kecil di zaman Pak Karno, masyarakat Ngadas memang sudah menanam sayur, tetapi tidak seluas sekarang. Kami masih menggantungkan kepada tanaman jagung. Jagung asli Tengger berusia tanam hampir 1 tahun. Namun, tanaman jagung ternyata tidak membawa perbaikan hidup, sehingga akhirnya masyarakat memutuskan menanam kentang, wortel, kubis, dan bawang pre yang laku di pasar. Seingat saya itu mulai era 70-an akhir. Nah, awal 80-an, masyarakat mulai membangun rumah tembok dengan model kota. Memang di sebagian kecil rumah tembok tersebut, masih ada ruang khusus untuk semedi, seperti pada rumah kayu. Namun, sebagian besar sudah tidak ada. Yang tetap dipertahankan memang perapian. Untuk ngobrol sesama anggota keluarga atau tamu kerabat atau sesama warga Ngadas. Adapun tamu dari luar, ya, biasanya kami jamu di ruang tamu depan.” (Wawancara, 28 Juli 2011)

Ideologi kemakmuran yang menjadi orientasi dominan dalam masyarakat di level nasional, nyatanya diikuti oleh masyarakat lokal. Mereka mulai mengubah orientasi dalam memaknai kehidupan; mengusahakan capaian-capaian duniawi melalui pertanian yang “laku di pasar”. Jagung sebagai penanda pertanian subsisten Tengger, misalnya, dianggap tidak bisa “membawa perbaikan hidup”. Dengan demikian, terdapat keterhubungan antara hasrat ekonomi di level lokal dengan perkembangan ekonomi di level regional maupun nasional. Keterhubungan itu mengakibatkan pula keterhubungan selera estetik dalam membangun rumah tembok yang mulai mengikuti arsitektur ala rumah kota.

Penanaman sayur-mayur secara massif, tentu saja, semakin mendekatkan masyarakat Tengger dengan tradisi komersialitas dan ekonomi pasar yang semakin menjadi biasa pada era Reformasi saat ini. Karena mereka terbiasa bertransaksi dengan para pedagang dari kota dan mendapatkan uang dalam jumlah melimpah, utamanya ketika harga sedang baik-baiknya. Kemelimpahan ekonomi berpengaruh kepada struktur dan sistem sosial serta kondisi kultural masyarakat Tengger. Seperti dikatakan Mujono, masyarakat Tengger di Probolinggo, misalnya, mulai membangun rumah-rumah tembok dengan model arsitektur kota, menggantikan rumah-rumah tradisional yang terbuat dari kayu cemara. Meskipun ada sebagian ruang yang dipertahankan dalam model rumah tembok, semisal ruang pawon, tetap saja ada perubahan atmosfer dalam rumah karena pergantian unsur-unsur bangunan. Suasana yang dimunculkan oleh kayu cemara, tentu tidak akan sama dengan suasana yang muncul dari rumah berbahan bata. Selain itu, ada kekayaan kultural-ekologis yang hilang. Kalau dalam rumah tradisional ada penyangga batu pada masing-masing tiang sehingga ketika terjadi gempa karena erupsi Bromo rumah-rumah Tengger hanya begeser dan bergoyang. Dalam rumah modern, tentu yang dibutuhkan fondasi.

Pilihan untuk menanam wortel, kubis, kentang, maupun bawang pre sebagai komoditas unggulan serta kebiasaan menikmati budaya uang, menyebabkan perubahan pola tenaga kerja agraris sebagaimana yang berlangsung di wilayah-wilayah pertanian lain. Hefner (1999: 187) menjelaskan bahwa sebelum berlangsungnya revolusi hijau, wong Tengger memiliki beberapa pola tenaga kerja dalam hal pengelolaan tegal. Pertama, kroyokan, pola kerja yang melibatkan keluarga atau mereka yang tergolong kerabat dekat. Kedua, gentenan, pola tenaga kerja berkelompok yang menuntut balasan setimpal dari kerja yang sudah dilakukan. Maksudnya, ketika ada seorang warga yang dibantu oleh beberapa orang tetangga untuk memanen jagung, maka ia harus membantu mereka yang menolong ketika membutuhkan tenaganya di ladang. Ketiga, rewang pola tenaga kerja yang melibatkan kerabat jauh dari generasi yang sama, tanpa menuntut balasan. Berkembangnya pertanian komersil menjadikan wong Tengger lebih memilih tenaga kerja upahan yang kebanyakan berasal dari wilayah-wilayah di bawah dengan alasan lebih mengefektifkan kerja di bandingkan dengan kerja tradisional. Karena ada imbalan upah berupa uang, para tenaga kerja akan giat bekerja sehingga dalam memanen sayur-mayur bisa dilakukan dengan cepat. Tentu saja, cara berpikir terkait efektivitas dan maksimalisasi kerja merupakan salah satu prinsip ekonomi modern. Dan, wong Tengger memang melakukan pilihan tepat, karena dengan efektivitas dan maksimalisasi kerja, sayur-mayur akan segera bisa dijual dan diangkut ke wilayah-wilayah kota di Jawa Timur maupun provinsi lainnya.

Hamparan ladang sayur (http://www.industry.co.id/read/7570/bercengkrama-bersama-masyarakat-suku-tengger-di-desa-argosari-lumajang)

Apa yang menarik untuk ditelaah lebih lanjut adalah pandangan umum yang memosisikan kolonialisme Eropa maupun program pertanian rezim negara sebagai faktor utama yang menjadikan masyarakat lokal menerima dan meniru nilai dan praktik modernitas dalam kehidupan sehari-hari mereka. Menurut kami, penerimaan secara massif terhadap modernitas dan kapitalisme pertanian tidak bisa dilepaskan dari keberadaan kearifan-kearifan lokal yang berorientasi duniawi dalam masyarakat itu sendiri, meskipun maknanya tetap mengedepankan kesederhanaan. Dalam kearifan sebagian masyarakat Jawa, misalnya, terdapat konsep sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (tempat tinggal) yang menjadi orientasi kultural dan menuntut pemenuhan dengan kerja. Memang pada masa lampau orientasi duniawi tersebut lebih ditekankan kepada kerja-kerja subsisten untuk mewujudkan mereka, perkembangan ekonomi modern telah menghadirkan transformasi kultural dari kearifan-kearifan tersebut dalam wujud-wujud terkini.

Masyarakat Tengger sebagai masyarakat Jawa pegunungan juga memiliki kearifan serupa yang disebut setya laksana. Setya laksana merupakan komitmen individual yang diyakini sebagai kebenaran komunal untuk mewujudkan walima, empat “wa” dan satu “wis” dalam kehidupan duniawi, yakni wareg (cukup makan), wastra (pakaian], waras (kesehatan), wasis (pengetahuan), dan wisma (rumah/tempat tinggal). Kami menyebut kearifan lokal terkait capaian-capaian duniawi sesederhana apapun sebagai titik apropriasi, dari mana masyarakat lokal berusaha menyeleksi, meniru, dan mempraktikkan budaya modern yang mereka terima dari proses kolonialisme yang dilanjutkan dalam program-program pembangunan pascakolonial dengan tetap berpegang kepada nilai-nilai tradisional yang mereka yakini.

Titik apropriasi ini menjadi penting bagi masyarakat lokal untuk transformasi kultural dikarenakan datangnya budaya modern. Aschroft menjelaskan:

Ketika kita mengkaji respons-respons masyarakat terjajah terhadap wacana-wacana yang mengesankan mereka dan mengatur realitas menyeluruh mereka, kita melihat bahwa moda dominan yang berlangsung adalah transformasi. Transformasilah yang memberikan masyarakat-masyarakat tersebut kendali terhadap masa depan mereka. Transformasi mendeskripsikan cara-cara yang di dalamnya masyarakat-masyarakat terjajah mengambil wacana-wacana dominan, mentrasfromasi dan menggunakan wacana-wacana tersebut untuk kepentingan penguatan mereka sendiri. Lebih tepatnya, barangkali, transformasi pascakolonial menggambarkan cara-cara yang di dalamnya masyarakat terdominasi dan terjajah mentransformasi asal-muasal kuasa kultural yang mendominasi mereka…Strategi-strategi yang dengannya masyarakat terjajah mengapropriasi teknologi dan wacana dominan serta menggunakan mereka dalam proyek-proyek representasi-diri merupakan model bagi cara-cara yang di dalamnya komunitas-komunitas lokal di manapun tempatnya terikat budaya global. Hal itu terjadi karena transformasi pascakolonial melibatkan konfrontasi dengan wacana-wacana paling berpengaruh dari modernitas. Terlepas dari bahasa kolonial, dan wacana berpengaruh dari sejarah, geografi, dan semua tingkatan disiplin yang muncul dalam kehidupan intelektual Eropa pada abad ke-19, masyarakat terjajah mensubversi kekuatan-kekuatan yang menjadikan mereka secara habitual terpinggirkan. (2001: 1-2)

Melengkapi cara baca Aschroft dalam memandang kekuatan strategis dan subversif transformasi pascakolonial yang fondasinya sudah dibangun sejak era kolonial, menurut kami, dorongan-dorongan internal dari kearifan tradisional berorientasi duniawi menjadikan masyarakat lokal mengapropriasi wacana-wacana dan praktik kultural dominan, termasuk di dalamnya teknologi, yang dibawa pihak penjajah. Dalam terma strategis apropriasi tersebut dilakukan untuk memperkuat subjektivitas mereka di tengah-tengah kuasa dominan—sebuah subversi. Namun demikian, akibat dari transformasi ini adalah bergeser atau berubahnya cara pandang masyarakat lokal terhadap kearifan tradisional mereka yang disesuaikan dengan nalar modern. Selain itu, aspek penguatan yang ditekankan Aschroft tidak bisa dikatakan sebagai penguatan mutlak untuk memperkuat budaya lokal mereka, tetapi menyesuaikan budaya tersebut ke dalam praktik yang lebih modern, sehingga diharapkan tetap bisa bertahan dan tidak menjadikan mereka larut sepenuhnya dalam atmosfer modern.

Apropriasi-apropriasi yang dilakukan masyarakat Tengger nyata-nyata mentransformasi pemahaman mereka terhadap konsep walima. Sebelum kehadiran pertanian modern, masyarakat Tengger untuk memenuhi kebutuhan pangan cukup dengan menanam jagung. Namun, rezeki ekonomi dari transaksi komersil sayur-mayur dan keinginan untuk meniru tradisi kuliner di masyarakat ngare dan masyarakat metropolitan, mendorong mereka untuk membeli beras dan mengkonsumsi nasi putih sebagai makanan sehari-hari. Nasi jagung berubah menjadi sekedar makanan klangenan. Rumah yang pada masa lampau cukup dibangun dengan kayu cemara gunung, seperti dijelaskan sebelumnya, pada saat ini secara massif berganti dengan rumah-rumah berbahan tembok dengan desain arsitektur berorientasi-kota. Di Desa Ngadas, Wonokerto, Jetak, Wonotoro, maupun Ngadisari (semuanya masuk dalam wilayah Kecamatan Sukapura, Probolinggo), rumah jumlah rumah berbahan kayu bisa dihitung dengan jari. Anak-anak, kaum remaja, dan para pemuda sudah terbiasa dengan pakaian-pakaian modis sebagaimana mereka saksikan dalam tayangan televisi-televisi swasta. Untuk menyembuhkan penyakit, mereka bisa membeli obat di toko maupun pergi ke dokter dan bidan. Pengetahuan yang dalam konsep tradisional memuat ajaran-ajaran leluhur yang cukup diajarkan oleh orang tua dan para dhukun pandita semakin bertambah dengan hadirnya pendidikan berkurikulum modern sebagaimana diwajibkan oleh pemerintah.

Image result for Rumah masyarakat Tengger

Pemukiman warga Tengger (http://www.satuharapan.com/read-detail/read/aktivitas-warga-suku-tengger)

Dengan melimpahnya rezeki ekonomi dari sektor pertanian dan pariwisata, masyarakat Tengger bisa membangun rumah dengan meniru gaya arsitektur rumah-rumah di kota. rumah bergaya kota, seperti yang sedang dibangun di atas, membutuhkan biaya cukup banyak, baik untuk keperluan material maupun tenaga kerja. Tentu saja, masyarakat Tengger sepertihalnya masyarakat-masyarakat lokal lainnya berhak dan bebas untuk meniru dan membangun rumah-rumah modern, sesuai dengan selera mereka. Imajinasi dan orientasi kultural mereka terkait rumah tidak bisa hanya dibatasi oleh konsep-konsep kesederhanaan dalam capaian-capaian duniawi seperti yang diajarkan para leluhur. Mereka hidup pada sebuah masa ketika lalu-lintas citra-citra mewah rumah dihadirkan dalam banyak narasi sinetron maupun lanskap kota yang mereka kunjungi ketika ada keperluan belanja atau keperluan yang lain di Probolinggo, Pasuruan, Malang, maupun Lumajang.

Maka, rumah bagi wong Tengger, sekali lagi, bukan semata-mata tempat untuk belindung dari hujan, panas, dan dinginnya hawa gunung ataupun tempat merebahkan badan setelah bekerja seharian di ladang. Rumah bagi mereka adalah sebuah situs untuk mengapropriasi gambaran-gambaran hidup yang maju dan modern seperti yang dinarasikan oleh media sekaligus sebagai situs untuk mentransformasi kearifan lokal mereka dalam ruang kekinian. Rumah adalah sebuah identitas kultural yang bergerak di mana masyarakat Tengger memberikan makna-makna baru yang keluar dari bingkai tradisional. Ruang tamu, misalnya, tidak cukup hanya diisi dengan meja dan kursi kayu. Ruang tamu, sebagai ruang depan untuk menyambut tamu dari luar Tengger, menjadi sebuah display yang merepresentasikan kemapanan dan kemewahan, melalui keberadaan sofa mewah, meja kaca, dan lemari yang mereka beli dari kota kecamatan maupun kota kabupaten. Kehadiran benda-benda tersebut merupakan kehadiran pola pikir dan praktik modern dalam lingkup domestik rumah sekaligus menunjukkan perubahan kearifan lokal yang tidak cukup dimaknai dalam kesederhanaan ketika rezeki finansial dari pertanian ‘menuntut untuk diekspresikan’. Ekspresi kemewahan rumah, lebih dari itu, merupakan bentuk nyata bahwa budaya dan masyarakat lokal “tidak utuh lagi”. Dan, bagi masyarakat Tengger, konsep keutuhan, kemurnian, maupun ke-tetap-an kultural adalah sebuah kemustahilan karena mereka sudah, sedang, dan akan terhubung dengan kode-kode, narasi-narasi, dan imaji-imaji modernitas.

Lalu, apakah para peneliti masih harus menulis dan menganggit mereka dalam paradigma esensial yang membayangkan masyarakat lokal masih hidup dalam kesederhanaan dan ketradisionalan, sedangkan mereka sendiri ‘asyik’ dengan kehadiran budaya modern? Ada baiknya kita menyimak pendapat Waldron (dikutip dalam Kompridis, 2005: 321) berikut:

Kita hidup dalam jagat yang dibentuk oleh teknologi dan perdagangan; oleh imperialisme agama, ekonomi, dan politis serta turunan-turunannya; oleh migrasi massa dan penyebaran pengaruh kultural. Dalam konteks tersebut, mengikatkan seseorang dalam praktik-praktik tradisional…bisa menjadi eksperimen antropologis yang menyenangkan, namun hal itu melibatkan pengalihan artifisial dari apa-apa yang sebenarnya terjadi di jagat ini. Bahwa itu semua bersifat artifisial dibuktikan oleh fakta bahwa keterikatan seringkali mensyaratkan subsidisasi khusus dan kondisi ekstraordiner bagi mereka yang hidup dalam jagat di mana budaya dan praktik tidak bergerak dari satu sama lain…Dari sudut pandang kosmopolitan, keterikatan pada tradisi komunitas partikular dalam jagat modern sepertihalnya hidup di Disneyland dan berpikir bahwa lingkungan sekitar seseorang mewujudkan apa-apa yang dibutuhkan budaya untuk eksis.

Dalam jagat di mana lalu-lintas kultural antarbangsa maupun antarmasyarakat berjalan begitu dinamis dengan dukungan penuh mekanisme perdagangan, temuan-temuan teknologi informasi-komunikasi, diseminasi makna dan wacana media, serta program-program pemerintah, masyarakat dan budaya lokal adalah realitas kompleks; tidak utuh lagi. Maka, mengkonsepsikan masyarakat dengan praktik tradisional—dalam artian utuh—menunjukkan  berlangsungnya proses pengalihan artifisial. Celakanya, pengalihan tersebut ditambahi dan ‘dibumbui’ dengan konsep-konsep yang menegaskan masyarakat sebagai entitas yang tidak bergerak dari ketradisionalan dan tidak terhubung dengan budaya luar; subsidi khusus dan kondisi ekstraordiner. Yang terjadi kemudian, membayangkan mereka layaknya hidup di taman impian Disneyland maupun cerita-cerita kartun Walt Disney yang banyak menarasikan dongeng-dongeng legenda.

Menurut kami, pengalihan artifisial dari kenyataan “menjadi modern” dalam masyarakat lokal lebih disebabkan oleh dua faktor. Pertama, masih bertahannya warisan paradigmatik penelitian budaya dari masa Orde Baru yang memosisikan budaya tradisional secara esensial sebagai kekuatan dahsyat untuk menyaring pengaruh budaya asing-negatif. Budaya tradisional lebih banyak dikaji dalam kerangka “beku” dan adiluhung karena menyimpan kekuatan komunal sebagai pembentuk jati diri bangsa. Implikasi akademisnya adalah bahwa budaya tradisional lebih banyak dipahami sebagai ritual, kesenian, bahasa lokal, serta kearifan-kearifan komunitas etnis lainnya. Padahal, di balik itu semua terdapat keinginan rezim negara untuk menertibkan warga negara agar tidak melakukan resistensi terhadap pemerintah. Kedua, objek material kajian yang menekankan kepada aspek-aspek tersebut ditambah penjelasan-penjelasan dari pemuka adat yang memang berkepentingan untuk menegosiasikan keunikan dan karakteristik budaya tradisional yang masih berlangsung di masyarakat menjadikan para peneliti berada dalam lingkaran esensialisme sehingga menegasikan kenyataan pergeseran dan perubahan kultural yang berlangsung.  Menjadi wajar ketika membanjirnya barang-barang industrial ke dalam rumah masyarakat lokal serta praktik hidup sehari-hari ketika mereka sudah bersentuhan dengan modernitas diposisikan sebagai hal remeh-temeh yang tidak berkaitan dengan masyarakat dan budaya lokal serta tidak perlu dijadikan data penelitian.

Akibatnya, anggitan-anggitan wacana ketradisionalan menjadi keutamaan dan seringkali diposisikan sebagai kekuatan masyarakat lokal dalam menghadapi perubahan. Dalam konteks masyarakat Tengger, Sutarto (2006) menerangkan:

Situasi tahun terakhir ini, yakni sejak bergulirnya gelombang reformasi tahun 1998 yang disertai dengan krisis multidimensi telah menunjukkan bahwa orang Tengger sebagai komunitas yang masih tetap bergaya hidup agraris dan berpikir agraris lebih tahan banting dalam menghadapi krisis dibandingkan dengan komunitas-komunitas lain yang berada di sekitarnya…Kenyataan ini dapat digunakan sebagai indikator bahwa orang Tengger masih bersikukuh dengan tradisi yang diwarisi dari para pendahulunya. Di samping itu ada pelajaran yang dapat dipetik dari kasus Tengger, yakni bahwa sikap budaya orang Tengger yang tidak terlalu tergantung kepada kekuatan dari luar komunitasnya, baik itu kekuatan yang berdimensi ekonomi, politik, atau budaya merupakan sikap budaya yang pas dalam periode formatif Indonesia modern. (cetak miring asli)

Sebagai anggitan ideal, penggambaran tentang masyarakat Tengger yang “tetap bergaya hidup dan berpikir agraris”, “masih bersikukuh dengan tradisi leluhur”, dan “tidak bergantung pada kekuatan dari luar komunitasnya”, memang bisa menjadi tawaran yang ‘cukup menggiurkan’ di tengah-tengah krisis multidimensi yang melanda masyarakat Indonesia. Namun, masyarakat Tengger bukan lagi masyarakat agraris secara utuh, mereka juga terhubung dengan kekuatan-kekuatan luar, dan tidak sepenuhnya berpikir secara tradisional. Kalau konsep agraris dimaknai sebagai yang berkaitan dengan pertanian, memang betul masyarakat Tengger adalah petani, tetapi pertanian yang sudah modern dan secara kultural bergerak dinamis; melampaui ketradisionalan mereka. Kalau tradisi dipahami sebagai wejangan maupun ritual, memang benar mereka masih menjalankan beberapa nasehat orang tua dan menjalankan ritual warisan leluhur. Akan tetapi, semua itu harus dibaca dalam konteks yang dinamis karena arahan modernitas telah menjadikan mereka mentransformasi tradisi tersebut.

Transformasi dan perubahan kultural benar-benar telah, tengah, dan akan terus berlangsung di mana proses tersebut mengantarkan masyarakat lokal ke dalam ruang modern yang penuh warna. Dalam masyarakat Tengger, hal itu berlangsung hingga saat ini—era Reformasi. Kalau kemudian dikatakan bahwa praktik tersebut sekaligus mensubversi wacana modernitas dan kuasa kapitalisme yang dibawa program pembangunan rezim pascakolonial, menurut kami, hal itu tidak bisa dilepaskan dari mekanisme strategis mereka agar bisa memanfaatkan teknologi dan wacana yang dianggap menguntungkan bagi mereka untuk bisa menjalani hidup, termasuk di dalamnya menjalankan kearifan lokal dengan bentuk-bentuk baru, di tengah-tengah perubahan yang nyata-nyata terjadi secara massif. Transformasi, menurut kami, semakin menjadikan modernitas warna dominan dalam ruang lokal. Sekali lagi, kondisi tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh proyek pembangunan maupun wacana-wacana tentang janji pencerahan, tetapi karena di dalam masyarakat lokal sendiri terdapat kearifan lokal yang mendorong mereka untuk mengapropriasi bentuk-bentuk budaya modern. Pengaruh lain dari apropriasi masyarakat Tengger terhadap modernitas yang didukung kerja-kerja pertanian dan pariwisata adalah berkembangnya budaya konsumsi terhadap benda-benda modern.

(bersambung)

* Tulisan  ini merupakan bagian dari hasil penelitian lapangan “Menjadi Sang Hibrid” di Tengger yang didanai oleh DP2M DIKTI.

Pustaka acuan

Aschroft, Bill. 2001. Post-colonial Future: Transformation of Postcolonial Culture. London: Continuum.

Canclini, Néstor Garcia.1995. Hybrid Cultures: Strategies for Entering and Leaving Modernity (Terj. Inggris Christopher L. Chiappari & Silvia L. López). Minneapolis: University of Minnesota Press.

Faruk.1995. Perlawanan Tak Kunjung Usai: Sastra, Politik, dan Dekonstruksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hefner, Robert. 1999. Geger Tengger: Perubahan Sosian dan Perkelahian Politik (Political Economy of Mountain Java: An Interpretive History) (terjemahan A. Wishnuwardana dan Imam Ahmad). Yogyakarta: LKis.

Kompridis, Nikolas. “Normativizing Hibridity/Neutralizing Culture”. Dalam Jurnal Political Theory, Vol. 33, No. 3. Juni 2005.

Sariono, dkk. 2010. Yang Muda Yang Bertradisi: Integrasi Kaum Muda Tengger ke dalam Harmoni Budaya Lokal Di Tengah-tengah Arus Besar Modernitas. Laporan Penelitian Hibah Strategis Nasional (belum dipublikasikan). Jember: Fakultas Sastra Universitas Jember.

Setiawan, Ikwan. 2009. “Hibriditas Estetik Jaranan: Strategi Survival dalam Ruang Kultural Transformatif Desa”. Dalam Jurnal Kultur, Vol.  1 No. 2.

Setiawan, Ikwan. 2009. “Contesting the Global: Global Culture, Hybridity, and Strategic Contestation of Local Cultures”. Dalam Jurnal, Bulak, 2009.

Setiawan, Ikwan. 2008. “Percumbuan Di Balik Kabut Bromo: Persilangan Ideologi Kultural dan Kerja Pertanian-Modern dalam ‘Ruang Antara’ pada Masyarakat Tengger Poskolonial”. Dalam Jurnal Kultur, Vol. 2, No. 1.

Setiawan, Ikwan. 2007. “Transformasi Masa Lalu dalam Nyanyian Masa Kini: Hibridasi dan Negosiasi Lokalitas dalam Musik Populer Using”. Dalam  Jurnal Kultur, Vol. 1, No. 2.

Sutarto. 1997. Legenda Karo Tengger Lumajang. Jakarta: Balai Pustaka.

Sutarto. 2002. Di Balik Mitos Gunung Bromo. Jember: Kompyawisda JATIM.

Sutarto, 2003a. “Perempuan Tengger: Sosok yang Setia pada Tradisi”, Bende, Media Informasi Seni dan Budaya. Surabaya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur.

Sutarto, 2003b. Etnografi Masyarakat Tengger. (Laporan Penelitian Belum dipublikasikan). Surabaya: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.

Sutarto. 2006. “Sekilas tentang Masyarakat Tengger”. Makalah disampaikan pada acara pembekalan Jelajah Budaya 2006 yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, 7 – 10 Agustus.

Sutarto, 2007. Kami Orang Tengger Kami Punya Agama. Jember: Kompyawisda JATIM.

Sutarto. 2008. Kamus Budaya dan Religi Tengger. Jember. Lembaga Penelitian Universitas Jember.

Share This:

About Andang Subaharianto 7 Articles
Andang Subaharianto adalah Rektor Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) Banyuwangi, juga staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember. Pernah menjabat Pembantu Rektor III Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*