tiga komposisi sepi: Puisi-puisi Ikwan Setiawan (1)

tiga komposisi sepi

Kalau sepi adalah pertarungan, hujan membekap lukisan lembab:

“Ini bukan pesan yang mesti di tulis dalam kesunyian. Ini bukan mimpi yang harus dicari dalam tumpukan sejarah. Ini bukan pula harapan yang harus diiris dalam kesepakatan-kesepakatan.”

Sepi telah menjadi pertarungan. Seekor kunang mengembalikan dusta:

“Mukamu senja baru saja berlalu, menoreh keyakinan pada kumandang raga. Aku harus terbang melintasi batas-batas waktu, menengok sempurna mata di balik jendela. Ada bohong aku ceritakan kepada angin, kepada wajah menunggu itu.”

Sepi memang masih berlangsung. Sudut-sudut semesta mengutuk dendam:

“Kepastianmu adalah hina dirayakan api dalam keraguan Bubat. Cinta itu adalah darah dipaksa kehendak, menaruh jiwa dalam temaram jingga. Tak usah berpikir lelah, mereka akan memaksamu dalam kesucian melayang.”

Sepi, memang kenyataan harus dirayakan: dengan cinta yang terlanjur anyir.

(Yogyakarta, 18 Pebruari 2008)


tersenyum: untuk lagi sakit

membaca mata menangis itu

seribu tahun terungkap kembali

seribu duka pelan-pelan masuk dalam ketidaksadaran

inilah cerita mungkin kau lupakan

dan begitu saja kau sandarkan di pagar rumah

bersama hujan berbagi keringat

bersama panas berbagi kebekuan senyum

 

perjalanan ini begitu jauh

tak mampu mata dan telinga mengabdi pada otak

tapi tangis itu mengakui ketakkuasaannya

pada kebahagiaan yang ditakdirkan

takdir itu direbut dari mimpi dari nyata dari tangis dari tawa

kaki-kaki kurus merangkak dalam kosongnya masa

naik perlahan membongkar sisa

mungkin tertinggal dari perjamuan agung

inilah sisa-sisa perjamuan begitu indah

harum sedap bercampur dalam anyir

begitu menyengat

 

apakah masih ada sedih

apakah masih tersisa cerita

 

tanya-tanya itu tersisa di belakang kereta kencana

diagungkan sepanjang zaman

orang-orang menundukkan muka

malu untuk lagi bersedih

tersenyum untuk lagi sakit

(Yogyakarta, 14 Pebruari 2008)


pagi: bercerita Senyap

Ke mana perginya harapan, bersemi bersama embun? Pada sentuhan kabut semua masih lelap. Ruas jalan dilalui anjing-anjing penjaga setia mengendus orang-orang. Tak lagi senyap berurai, kembali mendekap mimpi dijaga dengan senyum. Pagi ini, matahari sudah bercerita, bukan tentang harapan, kesenyapan semakin menjadi.

Di ujung jalan, seorang gadis membekap bisu angin terlambat datang. Menanya setiap sisinya melingkari waktu:

“Apakah harus kita tunda waktu, sampai hembusanmu mampu menggerakkan dedaunan? Apakah harus bangun tembok sampai pantulanmu kembali merambati kulit dingin? Tak mesti hari harus berawal dari cerita indah, karena angin tak lagi mampu menggerakkan api.”

Pada siang, gadis itu akan mengantarkan setumpuk cerita dibingkai keringat tak kuasa berkunjung.

(Jember, 13, dini-hari, Januari 2009)


sujud: takjub tanpa kutub

untuk NTW

biarlah rambutmu terurai menjuntai siang

karena kita bersiap menaklukkan mantra

mantra yang dibangunkan dari tidur panjang manusia

mantra yang menyergap manusia dalam kegelisahan bahagia

 

gesang kinanti damar ati

hang memuji tumrap Sang Gusti

samadya tan keno luwih aliwat wates

margi Gusti tansah kinasih

 

lelaku lakon kanti sabdo lanang wadon

tan keno ngowahi karep hang tumuju

kinanti sukma menyang suwargaloka

 

sujud memang terus berkunjung

membuka tabir di antara senyum berganti

kita seakan mau mampu menaklukkan kehendak

menari sepanjang waktu

tapi sekali lagi aku ingin membaui rambutmu terurai

menghitung aliran bahagia pada setiap ujungnya

karena perayaan suci haruslah dimulai

dengan sunyi pada siang membakar

 

pada penghujung siang

kita kembali pada sujud karena senja segera menyergap

kita akan hening memuja malam dalam perjamuan

melingkari setiap sudut arah

karena sujud adalah takjub tanpa kutub    

(Jember, 29 Agustus 2009)


Melampaui Batas Dua Nagari

Selalu saja ada rindu melintasi kokoh batas dua nagari. Sujud gunung ini, menghantar hasrat perjumpaan. Mendung menjatuhkan air ketika pepohonan itu menahan angin. Mataku menembus pekat, mencari sekelebat bayang menuju timur.

“Aku menunggumu bersama air terus mengalir, menyapa beribu wajah berharap berkah. Tak perlu menghitung waktu, karena yakin adalah keinginan, menyatu dalam darah. Tak perlu risau menderu karena senyummu adalah kepastian yang akan menghampiriku bersama tembang wangi pepunden.”

Kelok dan gelap jalanan menggiringku pada suaramu, semakin dekat. Gending dan suara bambu menyibak tirai malam, mempertemukan kita di sebuah bukit. Wajahmu masih teguh menyimpan harapan, meski beban mimpi terlalu berat untuk dihapus.

“Apa yang akan kita lakoni dalam perjumpaan ini? Apakah sebuah percumbuan yang kita nantikan sepanjang masa?”

“Ya, percumbuan yang meluruhkan dendam, menjelajah gemuruh batin; percumbuan yang membebaskan kita dari dalil-dalil suci; percumbuan yang bermula pada sunyi malam dan berakhir pada bang-bang Wetan; percumbuhan yang bermula dan berakhir pada sebuah kosong; percumbuan yang menjelma sujud, sebuah takjub tanpa kutub.”

(Gumitir-Kemiren, Banyuwangi, 24 November 2009)


situs gerimis: di sebuah pagi

kita berjalan

ketika gerimis mengunjungi sebuah pagi

tak juga kalah kepulan asap

semakin pekat mengaungi hidup

pertarungan demi pertarungan masih saja berlangsung

orang-orang berlari memburu waktu

lupakan batas pagi dan siang

karena pekat terlanjur datang

 

pada sebuah lampu merah

suara-suara ini menghunus kesungguhan langkahmu

 

kita harus berpisah di perempatan ini

karena aku harus belok kiri

meneruskan cerita yang tak pernah engkau pahami

menemani sayup-sayup suara semakin ditinggalkan

menemui wajah-wajah yang selalu disedihkan

oleh persekutuan di balik sumpah

aku harus memilih jalan ini

karena kebenaran yang kita bangun

hanyalah cerita usang ketidakmampuan

dan ketidakmauan untuk bersama mereka

aku harus memilih jalan ini

dan engkau turutilah keinginanmu

biarlah perempatan ini menyaksikan perpisahan kita

mungkin pada sebuah masa kita akan bertemu

di perempatan yang lain

 

pada sebuah gerimis

suaramu tak mampu membelah jelaga hitam

tak mampu kudengar dalam tangis beribu tahun

(menyusuri jalan tengah kampus UGM, 9 Juni 2010)


Sisa Hujan: Malam Ini

Ritme air: jatuh, mengungkap senyap di antara secuil surga di muka bumi. Surga yang mulai bercampur dendam: ketika engkau bertutur tentang cinta, cinta yang disuguhkan pada kebahagiaan yang tak pernah dimiliki, bahkan oleh hatimu.

Sisa hujan…malam ini: membawamu kembali berkuasa dalam bayangan senyum yang selalu bercampur airmata terhenti. Bukan karena sedih, tapi perjalanan yang begitu jauh dari doa. Doa untuk membangun sebuah gubuk berkawan kabut dingin selalu setia. Wajahmu disenyapkan harapan: bukan harapanmu, harapan mereka yang mencintaimu sebagai anak dan bidadari pelepas lelah. Menjalani petuah yang digariskan hidup: menempuh jagat tak pernah diinginkan. Selalu tersenyum, meski beribu matapisau mengendap di kedua mata memandangmu.

Sisa hujan…malam ini: melepas suara lirih dari jendela-jendela yang mulai rapat.

“Aku terlahir dari sebuah rahim, di balik gubuk reyot. Seorang perempuan bertaruh beku, ibu bumi membuka langit. Dari sebuah kawah perjanjian, aku ditiup angin melintas samudra pasir, menikmati hidup dalam ayunan hijau. Sampai pada saat, mereka berdua menjemputku, memberi dongeng: putri jelita hidup bahagia. Lena…terlena, waktu demi waktu, tanpa beban menjalani segala kisah, tanpa sadar selalu dikendalikan sebuah bhakti. Sebuah perjanjian suci ditorehkan dalam hitungan-hitungan balas budi, seorang pangeran memanggilku, bersama gemerlap dihantar kereta kuda. Mengajakku, melukis mimpi dalam hingar teramat jauh. Maka, inilah aku, seorang pengabdi yang harus selalu melupakan jiwa, pasrah dalam pertautan yang selalu disucikan. Merasakan hujan sebagai kehangatan, karena aku tak pernah boleh merasa.”

Sisa hujan…malam ini: biarlah melelapkan semua lelahmu, semua sedihmu, semua kemarahanmu. Mungkin masih tersisa mimpi yang membawamu kepada sebuah cerita, berlari menuju padang membentang.

(Yogyakarta, 8-9 Juni 2010)


Sebuah Senyum:  Menguap

Kita berjumpa pada sebuah masa. Senyummu mengalir, bersama air kali begitu keruh. Satu per satu butiran lumpur, kau pungut dalam doamu, dalam semedimu, dalam lelakumu. Tak jua lelah menghampir. Tak jua hujan menghentikan semua langkah kecil.

Kita berjumpa pada sebuah ruang. Ada dendam merayap. Ada rindu memanggil. Semua luruh bersama sebuah senyum, mengendap pada batin selalu kering. Satu per satu huruf menempel pada papan-papan retak oleh zaman. Satu per satu uban melukis waktu, membentang beribu cerita tak sempat terucap.

Kita bersama pada gugusan gunung. Mendaki hidup begitu senyap:

“Jangan pernah merasa tinggi, karena kabut akan membunuhmu dalam desakan angin. Biarlah orang-orang menumpuk kuasa di meja makan, kita mesti terus bersama mereka yang selalu dikalahkan, meski dalam mimpi.” Begitu selalu kau ucap lewat malam-malam membeku, bersama api di dalam tungku.

Kini aku menatapmu, lukisan wajah itu kau pudarkan sendiri. Suara lantangmu perlahan mengukur hitung-hitungan di atas meja jamuan:

“Mereka mengajakku menulis cerita baru, tapi keyakinanku selalu saja mendahuluiku, menolak tembang manis penghantar tidur. Aku tetap ingin di sini, di pusaran sumpah yang mesti dijaga; sembari mendengar gemuruh barisan mereka menuju pendopo. Kadang aku berpikir, orang-orang bersuara suci itu memang sepantasnya duduk tersenyum menebar harum. Aku tetap ingin di sini; tak mungkin bersamamu, karena engkau adalah badai yang hendak meremukkan ketakutanku, untuk berpihak.”

Kini aku masih menatapmu. Mantra-mantra agung, dulu merambat pasti dari bibir indahmu; kini perlahan menguap bersama senja usia. Sementara, ribuan bidadari jelita mengawalmu dalam setiap jengkal langkah; mengajakmu berpesta dalam pepujian para pendamba menghitung kembang.

Kini aku memang masih menatapmu; diam menjadi penyaksi.

(Yogyakarta, 26 Maret 2012)


surat cinta (1)

tentang kangen yang kau kabarkan kemarin

aku hanya tersenyum

sembari melipat tumpukan surat cinta usang

deretan kata mati dalam rindu menjamur

ritus makna menghilang dalam luka melebur

 

tentang janji yang kau sucikan

bersama guyuran air kembang

perlahan membusuk pasti dalam dekapan angin

dibawa terbang lalat-lalat hijau mencari dingin

 

tentang surat-surat cinta itu

jangan lagi kau tanyakan

ketika malam hening menghampiri

aku telah melipat mereka dengan rapi

lalu pelan-pelan memberikan

kepada seorang pemulung

(Semboro, dini hari, 27 September 2014)

 

Dowload puisi dalam versi PDF

Copyright © Ikwan Setiawan

Matatimoer Institute 2018

 

Cover: http://www.2empowerthyself.com/why-silence-is-golden-7-reasons-saying-nothing-heals/

Share This:

About Ikwan Setiawan 126 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*