Nglencer ke Yunani: Puisi-puisi Abdul Azis (1)

Dibedil dan dicinta

“Mau dibedil?”

“Tidak.”

“Kalau begitu bersihkan dulu bedilnya.”

 

“Mau dicinta?”

“Mau.”

“Kalau begitu bawa kemari bedilnya”.

 

“Aku mau bedil tapi dicinta.

Aku mau cinta tapi  tak dibedil.”

 

“Aku pun maunya begitu.

Nyatanya aku mencinta lalu dibedil.”

 

(Bedil dicinta

Cinta dibedil

Makan buah simalakama)

 

(26 Oktober 2011)


 

Berita Konyol

 

Hidung bupati dientup tawon

Ditulis wartawan masuk koran

Meskipun konyol tak punya tujuan

Tapi lumayan buat hiburan

 

Bapak bupati dikira bunga

Menyimpan madu manis rasanya

Begitu inti berita yang aku baca

Satu minggu setelah itu, beredar kabar tak sedap

Wartawan hilang mati ditembak

 

(4 Desember 2011)


 

Nglencer ke Yunani

 

Bangun tidur terus nglencer

Terasa mimpi kok bisa sampai Yunani

Kulit tangan dicubit, aduh! Ini sungguhan

Ini tempat para filsuf terkenal sepanjang jaman

Tempat Socrates, Plato dan Aristoteles

Mencari dan menemukan nilai-nilai kebenaran

Dan di tempat ini demokratos dirumuskan

 

Lihat! Itu Amphi Teater

Bangunan batu tempat Odipus dipentaskan

Contoh pengorbanan manusia ikhlas

Menghadapi takdir yang telah disuratkan

 

Di sini pula kita  bisa mengambil hikmah

Tentang Olimpiade pertama diadakan

Agar pemain, pengurus dan wasit sepak bola tidak tawuran

 

Di sini pula kita bisa mengambil hikmah

Tentang legenda Herkules putra Zeus sang pemberani

 

Di sini pula kita bisa bandingkan Cycipus

Dengan nasib para guru, buruh dan petani
Di sini pula kita bisa lebih pandai merias diri

Jadi Narcisus atau Onani

Agar tak bosan masuk kamera

Disorot mantap dalam sidang paripurna

 

Jadi jelas

Tak salah kita belajar etika di negeri purba ini

Tak rugi negara nyangoni kita lantaran kelak

Etika harus jadi dasar di setiap undang-undang

 

Maka dalam laporan hasil kunjungan

Kita perlu ajukan anggaran tambahan

Kerna saat tidur di pesawat pulang

Aku mimpi ke Itali mengunjungi Sisilia

Belajar etika jadi mafia


 

Negeri Mahluk Jejadian

 

Lutung Kasarung termenung bingung

Si Tumang cuma bisa tercengang-cengang. Aneh

Pasti ada yang salah dengan mahluk jejadian

Ah, legenda dan cerita lama tak laku untuk dibaca

Tak perlu ada fabel, para binatang sudah pandai bermain peran

 

Aku ksatria, putra Raja Guruminda. Ditenung menjadi lutung

sebagai bakti keikhlasan guna menyunting putri cantik Purbasari

Yang dianiaya saudara kandung sendiri

 

Aku, kata Si Tumang, bapak asli Sangkuriang

Berkorban mengubah wujud menjadi anjing

Agar Putri Dayang Sumbi tak ingkar dari janji

Atas sumpahnya yang suci

 

Aih… Aih … Sekarang jaman sudah klewat edan

Para binatang menjelma jadi manusia

Tikus dan kucing duduk di kantor jadi pegawai negeri

Lalat-lalat hijau berkerumun menempati gedung dewan

Para babi membuat komunitas  gentong babi bikin buncit perut sendiri

Kutu loncat berpindah-pindah partai cari selamat

Dan generasi bebek terus mengekor dari belakang

Sementara kambing congek, bodoh, papa dan nista

Sesekali dituduh sebagai teroris kambing hitam

 

Aih… Aih…Jaman benar-benar klewat edan

Lebih edan dari yang dilukiskan Ronggowarsito

Harimau, helder, serigala, dan beruang berjaga-jaga di pekarangan

 

Aih… Aih…Pasti ada yang aneh dengan mahluk jejadian

Aku pun muak meneruskan prosa lirik ini

Meski dibaca anjing, babi, serigala, tikus, kucing dan raja singa

Tak mungkin mereka mau mengubah hati jadi manusia.

 

Download puisi dalam versi PDF

Cover: https://www.dreamstime.com/royalty-free-stock-photos-ancient-greek-amphitheatre-image26603508

Share This:

About Abdul Azis 1 Article
Guru SMA Negeri Kalisat Jember. Pembina Lab. Teater 56 SMAN Negeri Kalisat dan penggiat di Studi Teater Jember.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*