Membencimu, Mama?

 

Download tulisan versi PDF

“Ma, tolonglah…” pintaku memelas. Dengan suara parau disertai tangis, aku mengakhiri perdebatan singkat malam itu. Bibirku kelu. Mataku sembab. Tak mampu lagi kutahan air mata ini. Rasanya, terlalu sakit keputusan mama untuk kuterima. Ibarat sebuah belati berkarat menghujam ulu hatiku, bertubi-tubi ia mengoyak, meluluh lantahkan organ paling rapuh ini.

Di sofa ruang tengah ujung barat, Mas Haris hanya bisa tertunduk lesu. Kalimat-kalimat yang selama sebulan ia rangkai indah untuk melamarku pada papa dan mama terbuang percuma. Sekeras apapun usahanya meyakinkan mereka berdua tak sejengkal pun bisa menggoyah ketegasan mama mengucapkan kata TIDAK!! Dan lelaki tinggi tegap bermata teduh yang hampir 7 tahun kucintai itu tetap mencoba tersenyum menatapku.

Pandangan teduh itu, caranya menatapku, matanya, hidungnya, bibirnya, semuanya kusuka, Mama. Santun perangainya, lembut tutur katanya, terlebih bagaimana ia memperlakukan aku sungguh hingga detik ini masih terasa. Bersamanya, jarak tiga kota yang memisahkan kisah asmara kami berdua menjadi sekumpulan rindu yang hari demi hari semakin memperkokoh tali cinta. Sifat kebapakannya, ramah, sabar, dan telaten membimbingku merangkai untaian mimpi tentang sebuah kehidupan sederhana di masa depan. Menjadi bagian dari hidupnya, aku merasa sempurna. Dia ada dalam setiap tarikan nafas, namanya bersemayam mengikuti aliran darah. Dia. Dia. Dia. Dia selalu di sini, dalam diriku ini.

Mama..

Apakah aku benar anakmu? Pertanyaan ini yang selalu berkecamuk di otakku. Inginku bertanya langsung padamu kendati perasaan takut menghantuiku. Jikalau benar aku anakmu, mengapa Mama tidak bisa mengeja hatiku? Mengapa begitu mudahnya Mama mematahkan sayap-sayap harapanku? Mengapa Mama tega membuatku menangis? Sejujurnya Mama, andaikan aku tak pernah mengenal tuntunan agama yang mengatakan surga di bawah telapak kaki ibu dan kalau saja aku tidak pernah tahu bahwa murka ibu adalah murka Tuhan niscaya kawin lari satu-satunya jalan. Namun, karena katanya aku anak Papa dan Mama, niat buruk itu dengan segala daya upaya kubuat sirna. Meskipun tertatih, dia pungut satu persatu kepingan hatiku lalu dirangkainya perlahan membentuk kesatuan yang padu dan dengan tangannya yang kokoh ia genggam erat. Dan, inilah aku, masih anakmu yang dulu, gadis kecilmu yang patuh, yang senantiasa tunduk atas titahmu, bahkan mengelak dengan satu kata tidak pun aku tak pernah mampu.

Tahukah Mama betapa dia sangat mencintaiku. Namanya cinta, walau ke ujung dunia akan dikejarnya. Cintanya jualah yang membuatku kuat menjalani kekecewaan dimulai sejak malam itu. Malam di mana Mama menolak lamarannya untuk menikahiku. Malam tatkala dia menunjukkan keseriusannya untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersamaku, pembuktian rasa cintanya padaku yang sejak awal diikrarkan 7 tahun lalu, bersemi, murni, dan abadi. Secuilpun tak pernah lekang walau restu mama sebagai penghalang. Tidakkah hati mama tersentuh dengan ketulusan cintanya pada anakmu ini? Andai mama melihat segalanya dengan mata hati pastilah bisa merasakan besar cintanya padaku.

Mama membekaliku ilmu agama. Karena Mama dia mencintaiku lillahita’ala. Dia tidak sama dengan kebanyakan laki-laki di dunia. Dia sangat berbeda, dia sangat teguh menjaga nafsunya, hanya dengan menyentuh tanganku ia melabuhkan rindunya, Ma.  Dia juga yang mengajariku mengormati Mama dari sudut pandang agama, tapi mengapa Mama tidak sebaliknya? Bukankah mengajak nikah itu adalah bukti bahwa dia seseorang yang memegang teguh ajaran agama? Dia laki-laki bertanggung jawab yang tidak ingin menghabiskan hidupnya dengan berzina. Pun artinya dia ingin meletakkan aku dalam posisi terhormat sebagai istrinya; ibu bagi anak-anaknya kelak.

Mama sudah melakukan kesalahan fatal. Dulu, ketika pertama kali dia berkunjung lalu kusampaikan bahwa dia kekasihku, Mama-lah orang pertama yang menyambutnya hangat. Raut wajah Mama tak kalah sumringah dengan aura wajahku yang berseri merona diliputi perasaan bahagia tiada tara. Mama menerimanya. Mama menyukainya. Mama memberi lampu hijau terhadap hubungan kami meskipun sesekali bersitegang dengan papa yang seratus persen tidak mengijinkanku berpacaran di masa sekolah. Mama bilang di zaman sekarang pacaran bukan hal langka asalkan kami bisa saling menjaga, menjaga kesucian mahkota, sekaligus menjaga kehormatan orang tua. Mama juga bilang kalau kekasihku adalah laki-laki yang baik, dari keluarga baik-baik, berpendidikan, sopan, dan yang utama dia juga seiman. Tapi kenapa mama berubah setelah semuanya berjalan hingga 7 tahun? Kalau memang Mama tidak setuju, kenapa tidak sejak dulu? Setidaknya aku tidak akan seterpuruk ini karena terlanjur tinggi menggantungkan impian. Terbuai dengan terilyunan harapan. Mama adalah ibuku, kenapa bermain-main dengan perasaanku?

Bagiku 7 tahun mama hidup dalam dusta. Semua pura-pura. Mama tak ubahnya sosok wanita pemberi harapan palsu. Mama tega padaku. Kekhawatiran pendidikanku akan putus di tengah jalan bukanlah alasan. Aku sama sekali tidak berniat berhenti kuliah lantaran ikut suami merantau. Di sana aku tetap akan melanjutkan studi sampai rampung, hanya bedanya aku menikah sambil kuliah. Menjadi istri soleha. Memutus mata rantai dosa dengan bercinta yang halal secara agama.

7 tahun bukan waktu singkat bagi pasangan yang sedang kasmaran. 7 tahun adalah sebuah penantian yang sangat panjang. Dalam balutan gairah yang menggelora; ada rindu bergumul di sana. Rindu membara yang selalu menyesakkan dada, karena besarnya hasrat ingin selalu berdua, menghabiskan detik demi detik perjalanan waktu bersama. Rasanya dunia hampa tanpa dia, perih hati teriris tatkala cinta dipisahkan oleh jarak. Resah karena dia nun jauh di sana. Gelisah karena aku tidak bisa melihatnya, tidak selalu dekat dengannya, atau berada di sisinya. Dan karena cinta pula rela kami menjalani semua walau sebenarnya menyiksa.

Bercinta dengan batasan-batasan norma itu sungguh menyiksa. Kami tidak seutuhnya bahagia. Kalau bukan karena agama dan kehormatan orang tua, mungkin kami sudah terjerumus dalam kubangan dosa. Saat rindu menyeruak dan kami pun berjumpa, hanya tatapan mata disertai senyum dan saling berbagi cerita sebagai pengobat lara. Kami harus memendam segala ekspresi cinta untuk nantinya ditumpahkan di hari bahagia. Saat ikatan suci pernikahan menyatukan dua keluarga.

Salahkah bila kemudian aku membenci Mama? Kecewa dengan cara Mama meremukkan hatiku. Penolakan atas lamaran kekasihku merupakan wujud nyata bahwa dalam kurun 7 tahun restu Mama hanya rekayasa. Atau karena saking polosnya aku terlalu gede rasa. Aku yang terlalu berharap. Aku yang sangat percaya 7 tahun hubungan akan berakhir dengan bahagia. Hhhhh…aku benar-benar terpedaya!

“Tuhan, hatiku sakit…”

Jeritku dalam tangis. “Mama kejam!” pekikku pelan. Aku tak beranjak dalam diam, serasa bongkahan batu besar mengimpit dada. Nafasku sesak. Dadaku sakit. Sakit sekali.

Aku tak hendak menentang ketetapan Tuhan. Aku sadar membenci Mama adalah kesalahan besar. Penolakan Mama waktu itu pun pasti karena campur tangan Tuhan. Namun, menata hati untuk menerima takdir tak semudah membalikkan telapak tangan. Demikian halnya mencoba untuk tidak sakit hati terhadap keputusan Mama adalah hal yang teramat sulit.

Mama, andai malam itu kau beri restu mungkin hatiku tak sehancur ini. Mungkin ada janin yang bersemayam di rahimku pengganti kepergiannya yang tak kan pernah kembali. Andaikan saja itu terjadi.

 

Cover: https://favim.com/image/405761/

Share This:

About Mufidah Minkaryo 2 Articles
Mufidah Minkaryo adalah guru di SMK ANALIS KESEHATAN Jember. Alummni Prodi D-III Bahasa Inggris Fak. Sastra Universitas Jember dan FKIP Bahasa Inggris Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*