Kidungan Jula-Juli di Pasar Tanjung Jember: Keberagaman, ruang publik, dan gerakan budaya

IKWAN SETIAWAN

 

Download artikel versi PDF

Sebuah awalan untuk bergerak

Mak Lilik, pimpinan Ludruk Setia Kawan, Jember, berkaca-kaca malam itu (20 Desember 2017) melihat para peserta Festival Kidungan Jula-Juli dan pimpinan ludruk se Kabupaten Jember berdiri berjajar di atas pentas, di Panggung Rakyat, Pasar Tanjung. Perempuan yang sudah memimpin Setia Kawan sejak 1955 ini begitu bahagia dan terharu menyaksikan acara yang sempat diundur pelaksanaannya ini jadi dilaksanakan dengan sekian kelebihan dan kekurangannya. Baginya, Festival ini bukan hanya untuk mencari menang-kalah. Lebih dari itu, Mak Lilik berharap acara ini bisa menjadi kerjasama yang berkelanjutan antarseniman ludruk dan antara seniman ludruk dengan Dewan Kesenian Jember (DKJ) dan instansi-instansi terkait.

Memang, kerja untuk menyelenggarakan Festival ini tidaklah mudah. Bukan hanya persoalan pendanaan yang menyita pikiran panitia yang diketuai oleh Sony Cimot ini, tetapi juga menyamakan persepsi di antara penggiat ludruk di Jember tentang pentingnya acara ini. Entah berapa kali, Sony yang juga guru di SMA Muhammadiyah 03 Jember ini menemui para juragan dan seniman ludruk, dari satu kelompok ke kelompok yang lain. Selain untuk bersilaturahmi juga untuk mematangkan koordinasi dan memaksimalkan keterlibatan para seniman ludruk dalam acara ini. Itulah mengapa, figur senior seperti Mak Lilik dan juragan lain sangat bahagia ketika pagelaran di Pasar Tanjung ini berhasil diselenggarakan. Bisa dikatakan, Festival ini merupakan hajatan pertama di Jember yang melibatkan banyak insan ludruk secara bersama-sama, sekaligus terlibat dalam kompetisi kreatif. Kemauan para penggiat ludruk untuk bersama-sama memikirkan dan menyukseskan acara ini tentu patut mendapatkan apresiasi tersendiri.

KJJ 4

MC dan salah satu dewan juri, Pak Lesus, bersiap di atas panggung.

Lebih jauh lagi, ada beberapa hal yang menarik untuk dielaborasi lagi dari Festival Kidungan Jula-Juli ini. Pertama, tema dan praktik keberagaman budaya yang secara langsung dihadirkan oleh para seniman dan seniwati ludruk. Kedua, kehadiran pagelaran di ruang publik Pasar Tanjung yang bisa menjadi alternatif untuk masa-masa berikutnya. Ketiga, kemungkinan-kemungkinan strategis untuk melanjutkan pengembangan dan pemberdayaan yang melibatkan DKJ dan kelompok-kelompok ludruk Jemberan. Keempat, kemungkinan untuk melakukan gerakan ludruk yang mengusung spirit dan wacana resistensi terhadap ketidakadilan ekonomi dan imperialisme budaya. Keempat hal tersebut akan saya paparkan dalam tulisan ini. Dengan paparan ini, saya harapkan ada pemahaman bahwa ludruk dengan beragam permasalahan dan dinamikanya dalam masyarakat Jember multikultural, membutuhkan keseriusan untuk memahami dan mengembangkannya sehingga bisa menjadi kekuatan strategis yang menghidupkan ruang publik kebudayaan sekaligus terlibat dalam merespons permasalahan-permasalahan yang dihadapi publik.

Keberagaman yang bukan sekedar slogan

Memang benar, rezim pemerintah kabupaten sedang getol memromosikan budaya Pandhalungan dengan dukungan sebuah organisasi melalui beberapa gelaran seperti Pandhalungan Night Show. Setelah dikritik karena pemaknaan identitas Pandhalungan yang hanya memberi ruang kepada percampuran etnis Jawa dan Madura, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan bersama Rumah Budaya Pandhalungan (RBP) yang mengkampanyekan identitas tersebut mulai menggeser kampanye dan propaganda mereka dengan menggelar Pagelaran Seni Budaya Pandhalungan yang menghadirkan beragam kesenian berbasis etnis di Jember, seperti reog, jaranan, janger, ludruk, dan lain-lain. Ini tentu sebuah kekonyolan karena kalau yang diusung seperti itu, apa gunanya membuat identitas khusus. Kalaupun mereka menggunakan metafor “periuk besar” sebagai tempat bertemunya bermacam budaya etnis, pemaknaan tersebut tidaklah sesuai dengan pemahaman masyarakat akan Pandhalungan.

Tidak seperti usaha ngotot dinas dan organisasi penyokongnya, DKJ memilih untuk mengedepankan aspek pengembangan dan pemberdayaan kesenian-kesenian rakyat yang selama puluhan tahun terbukti berkontribusi dalam kehidupan masyarakat. Tidak mau terjebak dalam program-program propaganda yang melayani keinginan rezim yang sebenarnya kurang didukung penelitian akademis, DKJ berusaha merangkul beragam penggiat kesenian rakyat, dari ludruk, jaranan, reog, ta’-buta’an, can-macanan kaduk, barongsai, dan lain-lain. Merekalah penyokong sebenarnya dari keberagaman budaya sebagai salah satu karakteristik utama masyarakat Jember.

KJJ 1

Salah satu peserta dari Curahnongko

Salah satu usaha yang dilakukan DKJ adalah menggelar Festival Kidungan Jula-Juli. Tema sederhana yang diangkat dalam festival yang baru pertama kali dilaksanakan ini adalah “hidup dalam keberagaman”. Tema ini dipilih panitia karena sesuai dengan kondisi masyarakat Jember yang beragam secara budaya, suku, maupun agama. Kedewasaan masyarakat Jember dalam memaknai keberbedaan menjadi kunci utama dalam menciptakan kerukunan dan ketentraman sosial serta menghindari permasalahan berbasis SARA. Para seniman ludruk memiliki peran strategis untuk ikut terus menyemai dan menyuburkan kesadaran toleransi, meskipun secara nasional praktik tersebut tengah mengalami ujian dengan maraknya wacana yang digerakkan oleh kelompok-kelompok tertentu dengan memobilisasi kebencian terhadap etnis atau pemeluk agama lain. Melalui lirik kidungan, mereka bisa menawarkan gagasan dan wacana tentang bagaimana keberagaman berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Para peserta dengan cengkok kidungan ludrukan, menyampaikan pesan tentang pentingnya menghargai perbedaan yang merupakan anugrah bagi warga Jember, dari era kolonial hingga saat ini.

KJJ 5

Salah satu peserta perempuan

Keberagaman yang mereka suguhkan juga tampak dari bahasa yang digunakan. Ada peserta Festival yang menggunakan bahasa Madura, ada pula yang menggunakan bahasa Jawa. Tidak ketinggalan pula, ada peserta yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai campuran bahasa Jawa atau bahasa Madura. Mayoritas penggemar ludruk adalah komunitas Madura yang menyebar di kecamatan Ajung, Bangsalsari, Arjasa, Ledokombo, Jelbuk, dan yang lain. Wajar kiranya kalau banyak peserta yang menggunakan bahasa Madura. Namun, ada juga seniman yang memang berasal dari etnis Jawa, sehingga mereka menggunakan bahasa Jawa. Keberagaman dalam hal bahasa ini menegaskan bahwa masyarakat Jember adalah masyarakat multilingual karena memang migrasi di era kolonial menjadi fondasi linguistik yang berlanjut hingga saat ini. Memang ada campur-bahasa yang terjadi ketika komunitas Madura berbahasa Jawa dengan dialek Madura yang sangat khas. Misalnya, ada seseorang bertanya, “arep nang endi?” dijawab, “gak onok”. Ungkapan-ungkapan seperti, “gur perak ngono”, dan yang lain. Masyarakat menyebutnya bahasa Jawa Jemberan atau bahasa Jemberan. Kekayaan linguistik Jember juga dipengaruhi oleh etnis-etnis lain seperti Arab, China, Mandar, Using, dan yang lain. Kekayaan dan keberagaman ini menandakan bahwa sebagai wilayah diasporik, Jember merupakan sebuah ruang kultural dinamis dan kompleks di mana ada percampuran dan ada pula hasrat untuk mempertahankan identitas etnis. Maka, labelisasi identitas Pandhalungan untuk Jember tidaklah tepat karena akan menegasikan kompleksitas kultural yang menjadi ciri khas masyarakat. Selain itu, labelisasi yang didesain oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dan didukung oleh RBP tersebut punya potensi dilawan oleh komunitas-komunitas etnis yang ada di Jember.

Keberagaman lain yang dihadirkan dan dipraktikkan dalam gelaran ini adalah peserta Festival. Para pelaku ludruk laki-laki dan perempuan ambil bagian. Meskipun lazimnya, pengidung adalah lelaki, gelaran ini menjadi bukti bahwa perempuan juga bisa menyugukan kidungan dan jula-juli dengan versi mereka, tanpa harus takut bersaing. Dalam dunia pertunjukan ludruk perempuan bersama-sama dengan banci atau transvesti menjadi idola yang dinanti-nantikan oleh para penonton. Peran mereka biasanya dalam tari remo, kontes, nyanyi, dan lakon. Sangat jarang perempuan yang berprofesi sebagai pengidung dan jula-juli. Festival ini menjadi ajang bagi para pelaku ludruk perempuan untuk menunjukkan kepada publik bahwa mereka juga bisa berpartisipasi. Sangat menarik kalau ke depannya para pengidung dalam pertunjukan ludruk juga melibatkan perempuan.

Panggung Terbuka Pasar Tanjung: Ruang budaya resisten

Saya beruntung, sebagai mahasiswa yang masuk ke Universitas Jember pada tahun 1996, masih sempat menikmati sajian kesenian lengger (semacam tarian musikal dengan gamelan ringkes) di salah satu sudut Pasar Tanjung Jember. Lengger menjadi hiburan para pedagang yang sayur, ikan, dan barang-barang lain di malam hari. Selain itu, tukang becak dan masyarakat umum juga ikut nongkrong sambil sesekali minta lagu dengan cara nyawer. Akhir tahun 1990-an, pertunjukan lengger di Pasar Tanjung mulai menghilang. Sudut timur yang biasanya ramai oleh kerumunan orang tidak ubahnya menjadi tempat berjualan biasa. Yang pasti, hilangnya lengger merupakan sebuah kehilangan kultural yang menjadi salah satu kekayaan budaya Jember.

KJJ 3

Ratusan penonton memadati area di depan panggung terbuka

Beberapa tahun yang lalu, pemerintah mendirikan sebuah panggung terbuka di sudut barat Pasar Tanjung. Sempat beberapa kali digunakan, panggung tersebut sudah tidak pernah digunakan lagi untuk kegiatan seni dan budaya. Tentu sangat disayangkan karena pembangunan panggung tersebut menggunakan uang yang berasal dari pajak rakyat dan semestinya diperuntukkan untuk mengembangkan kebudayaan. Sayangnya, kurangnya koordinasi dinas terkait dengan pengurus DKJ periode-periode sebelumnya menjadikan panggung tersebut mangkrak. Atas inisiatif Suharsono alias Sony Cimot, panggung terbuka tersebut dihidupkan kembali melalui ajang Festival Kidungan Jula-juli. Dalam konteks ini, kita bisa membaca adanya usaha strategis DKJ untuk menghadirkan-kembali gelaran-gelaran kesenian rakyat yang berkembang di Jember sebagai suguhan di ruang kultural yang membaur dengan aktivitas perdagangan.

Revitalisasi semangat lengger ke dalam Festival Kidungan Jula-juli merupakan gerakan yang bisa menjadikan warga sekitar atau pedagang di Pasar Tanjung kembali merasakan atmosfer pagelaran yang selama ini menghilang dari tatapan mereka. Tidak mengherankan ratusan warga, termasuk para perempuan, masih bertahan sampai Festival selesai mengumumkan para pemenangnya. Hal ini menandakan bahwa kesenian rakyat seperti ludruk yang selama ini lebih banyak bergerak di wilayah perdesaan sebenarnya masih bisa menempati ruang batin warga kota. Sayangnya, selama ini tidak ada usaha dinas-dinas terkait untuk secara ajeg menggelar acara yang bisa mendekatkan-kembali kesenian-kesenian rakyat dengan masyarakat kota. Maka, Festival ini bisa meretas jalan agar Panggung terbuka di Pasar Tanjung kembali menjadi ruang publik tempat di mana para seniman bisa saling bertemu dan bertukar pikiran dan menampilkan kebolehan mereka. Warga kota juga bisa kembali berkumpul dan berbincang sembari menikmati suguhan kesenian. Ruang kultural yang tercipta ketika berlangsung gelaran kesenian merupakan ruang yang cair, asyik, dan dinamis di mana kita bisa menjumpai aneka perbincangan dan suguhan sekaligus praktik sosial publik yang tidak direkayasa untuk kepentingan kelompok atau individu tertentu. Semua pihak memiliki peran masing-masing serta memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, sekecil apapun itu.

Ke depannya, DKJ bekerjasama dengan para seniman rakyat bisa memanfaatkan panggung terbuka di Pasar Tanjung untuk kegiatan rutin yang bersifat bulanan atau 2-3 bulanan. Aneka kesenian rakyat di Jember bisa ditampilkan untuk menghibur sekaligus memberikan pesan-pesan kultural kepada warga penonton. Ajang tersebut bisa juga menjadi ajang unjuk kebolehan masing-masing komunitas seni yang ada di Jember sekaligus menjadi media promosi kesenian di tengah-tengah hiruk-pikuk budaya metropolitan yang mulai menjadi dominan di Jember, apalagi di jantung kota. Berdirinya pusat perbelanjaan baru seperti Lippo Plaza menjadi penanda yang cukup jelas bagaimana secara pasti para pemodal besar tengah memperkuat pengaruhnya melalui budaya metropolitan berupa tradisi belanja di ruang glamor. Sementara, Pasar Tanjung dengan segala kekurangan dan kelebihannya hanyalah menjadi bagian marjinal dari proses metropolitanisme tersebut. Dalam posisi itu, gelaran kesenian rakyat di panggung terbuka Pasat Tanjung bisa menjadi budaya tandingan, bukan hanya hegemoni budaya pop, tetapi juga budaya metropolitan yang digerakkan para pemodal melalui pusat-pusat perbelanjaan canggih yang sekaligus menjadi ruang budaya baru buat warga menengah ke atas Jember.

KJJ 6

Suasana penyerahan piala kepada para pemenang

Hadirnya warga menengah ke bawah dalam gelaran-gelaran kesenian bisa memperkuat gerakan budaya yang berdimensi lebih luas.  Resistensi simbolik terhadap peradaban metropolitan berbasis kapitalisme merupakan implikasi dari gerakan budaya yang menjadikan kesenian rakyat sebagai basis untuk memperbanyak dan memperkuat ruang publik egaliter di tengah-tengah masyarakat. Kesenian bisa menjadi pemantik bagi tumbuh-kembangnya kesadaran publik untuk memahami permasalahan dan alternatif-alternatif pemecahan yang tidak dogmatis karena semua masih bisa dinegoasiasikan dan diperdebatkan sembari menikmati kopi atau teh di warung-warung kaki lima di sekitar Pasar Tanjung. Lebih jauh lagi, resistensi simbolik yang hadir dari pangung terbuka tersebut bisa diarahkan untuk menandingi gelaran-gelaran yang bersifat seremonial dan selebrasi yang diselenggarakan oleh dinas-dinas terkait yang biasanya diisi oleh sanggar-sanggar tertentu yang mereka sukai. Rakyat menengah ke bawah memiliki kekayaan tradisi yang bisa dimunculkan-kembali sebagai sebuah anti-tesis yang lebih merakyat dan membumi. Dan, panggung terbuka Pasar Tanjung yang oleh banyak pihak dianggap tidak layak untuk pentas bisa dijadikan salah satu sentra gerakan kultural yang bukan hanya berdimensi pengembangan dan penguatan para pelaku dan komunitasnya, tetapi juga berdimensi perlawanan terhadap ketidakjelasan kebijakan budaya yang dibuat oleh dinas-dinas terkait di Jember.

Para seniman ludruk secara khusus bisa terlibat dalam gerakan resistensi dengan menciptakan kidungan, jula-juli, atau lakon pertunjukan yang memiliki misi tertentu sesuai dengan permasalahan dan konteks masyarakat. Kalau selama ini para seniman ludruk sudah terbiasa dengan cerita-cerita berlatar sejarah dan fantasi serta kidungan dan jula-juli berdimensi kritis, ke depannya, wacana yang diusung bisa lebih difokuskan kepada penumbuhan kesadaran untuk melawan ketidakadilan ekonomi dan permasalahan sosial yang muncul akibat ketiadilan penguasa. Apakah in memungkinkan? Tentu saja memungkinkan. Apalagi dalam sejarahnya, meskipun sempat dikooptasi oleh rezim Orde Baru, para seniman ludruk yang berasal dari rakyat sudah terbiasa membuat cerita-cerita rekaan sebagai respon terhadap permasalahan-permasalahan sehari-hari masyarakat. Tentu saja, DKJ bisa menjadi partner diskusi dalam pengembangan wacana tersebut, tanpa harus berpretensi mendikte para pelaku. Karena para pelaku tetap memiliki kemerdekaan dalam menuangkan ide-ide kreatif dan kritis dalam sebuah lakon atau kidungan dan jula-juli.

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 126 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*