Kenang-Kenangan Bersama Ayah

Raina namamu, gadis kecil yang dulu sering saya angkat ke pundak agar rambutmu yang tebal itu menyentuh sulur Beringin, sebatang pohon yang berada tepat di depan rumah kita. Raina namamu, sebuah nama yang diam-diam diberikan oleh ibumu–perempuan yang kita cintai, selamanya.

Ketika kau membaca cerita ini, mungkin kau telah mengerti tentang sebuah ketenangan dalam hidup. Dan ketika kau benar-benar telah mengerti tentang sebuah ketenangan dalam hidup, pahamilah, bahwa tubuh saya telah terkubur di dalam tanah, berselimut kain putih. Jiwa saya telah terbang ke langit, bersama kenangan yang selalu terbungkus dalam ingatan. Kau tahu, sebenarnya saya hanya ingin berbagi ingatan denganmu. Sekadar ingin memberitahumu tentang sebuah rahasia yang mungkin belum sempat diceritakan oleh ibumu. Duduklah yang manis, dan nikmatilah cerita ini, Rai….

***

Saat usiamu genap empat tahun, setiap pagi kau selalu mengajak saya untuk berjalan-jalan ke sebuah taman yang berada di pusat kota. Maka ketika saya sedang sibuk membaca koran di sebuah beranda rumah, dengan lancang kau akan mengganggu saya. Mula-mula kau tarik ujung celana saya.

“Ayah … Ayah … ayo jalan-jalan ke taman.”

“Ayo … Yah!”

“Ah … Ayah!”

Ketika cukup lama ajakanmu itu saya abaikan, maka kemudian kau akan naik ke pangkuan saya. Tanganmu yang mungil itu akan sibuk membolak-balikkan koran yang saya pegang. Kau tampak begitu kesulitan menggerakkan tanganmu.

“Ayah baca yang mana?”

“Emang, Raina sudah bisa baca?”

“Bisa dong!”

Saya hanya tersenyum kecil ketika melihat tingkahmu yang menggemaskan. Cukup lama kau akan duduk di pangkuan saya. Kau lupa dengan ajakanmu untuk pergi ke taman. Dan memang seperti itulah saat kau sudah begitu asik dengan sesuatu yang ada di hadapanmu. Tapi ketika kau mulai mengingat kembali, kau akan bertingkah manja supaya saya mengabulkan keinginanmu. Dan di saat bersamaan, ibumu yang sibuk dengan urusan dapur itu  akan berteriak kepadamu. Juga kepada saya.

“Rai … ayo sarapan dulu. Biasakan sarapan pagi sebelum kau bermain dengan ayahmu.”

“Mas … ayolah beri contoh yang baik kepada putrimu.”

Maka kau akan menutup mulut ini dengan kedua tanganmu. Kau tak akan memberi kesempatan kepada saya untuk berbicara. Dan ketika beberapa menit kemudian suasana menjadi lengang, ketika ibumu itu semakin sibuk dengan urusan dapurnya, kau akan berbisik di sela-sela telinga.

“Ayo, Yah! Ibu sudah tidak ngomel lagi. Ini kesempatan kita!”

Dan kau akan meloncat keluar dari pangkuan saya. Kemudian kau berlari kecil sambil menarik tangan saya. Pada akhirnya saya telah meloloskan keinginanmu. Kau berlari dan meloncat-loncat di hadapan saya. Rambutmu yang panjang itu mengikuti irama langkah kakimu. Ketika kita sampai di pohon Beringin, kau akan minta untuk naik ke pundak ini. Entah kenapa kau begitu suka dengan pohon Beringin. Katamu, ketika rambutmu itu menyentuh sulur Beringin, kau akan merasa begitu dingin.

“Angkat Raina lebih tinggi, Yah!”

“Angkat lagi … angkat lagi!”

Maka seterusnya kau akan berada di pundak ini, sepanjang perjalanan menuju taman. Tanganmu itu selalu sibuk bermain dengan rambut ini. Dan kedua tumitmu kau hentak-hentakkan tepat di dada ini. Dan ketika kita sampai di taman, kau akan turun lalu duduk pada sebuah bangku taman. Sejenak kau tak ingin diganggu. Seperti biasa, beberapa detik kau akan menutup kedua matamu dan membiarkan angin pagi masuk melewati kulitmu. Ketika kau membuka mata, saya sudah berada di sampingmu. Dan kau akan bersandar di bahu ini.

Di saat seperti itu, kau akan mulai bercerita. Kau tahu, imajinasimu lebih tinggi daripada pengarang cerita. Kau akan bercerita sewajarnya. Tentang apa saja yang terlintas di hadapanmu. Atau tentang apa saja yang sedang kaurasakan.

“Raina ingin menjadi burung, Yah.”

“Pasti seru ketika Raina punya sayap dan melihat semua orang dari ketinggian.”

“Mungkin nanti Raina bisa bawa Ayah terbang.”

“Ayah takut ketinggian, Sayang.”

“Ah, masa Ayah kalah sama Raina yang masih kecil.”

“Ayah ingin menjadi pohon saja.”

Lengang.

“Kenapa pohon, Yah?”

“Karena pohon akan selalu menjadi tempat paling nyaman bagi burung-burung.”

“Coba Raina lihat itu.”

Saya menunjuk ke arah pohon di seberang.

“Banyak burung-burung yang hinggap di dahannya,” lanjut saya.

“Terus, Yah?”

Ah, kau tampak sedikit kebingungan. Tapi sebenarnya, pada saat itu sayalah yang lebih bingung. Sejenak saya berpikir kembali, untuk menjawab pertanyaanmu.

“Burung memang akan selalu terbang. Tapi ketika mereka lelah untuk terbang, mereka akan hinggap di dahan pohon, Sayang.”

“Oh, gitu … jadi bila nanti Raina lelah terbang, Raina akan hinggap ke Ayah?”

“Gitu, Yah?”

“Nah. Raina sudah pintar.”

“Kalau begitu, Raina juga ingin menjadi pohon!”

Wajahmu terlihat sedikit cemberut, lalu melihat ke arah saya. Saat seperti itu, kau tampak begitu cantik, benar-benar mirip dengan ibumu.

“Kalau Raina ingin menjadi pohon, Raina harus menjadi seorang ibu terlebih dahulu.”

“Ah, Ayah … Raina kan masih kecil.”

Kemudian sorot matamu terpojok ke sudut taman, kau melihat seorang gelandangan yang sedang tidur dengan selimut usang. Kau bertanya kepada saya, apakah seorang gelandangan itu bahagia. Tentu pada saat itu kau belum sepenuhnya mengerti tentang arti kebahagiaan. Seperti bunga-bunga di taman itu, kau mungkin hanya tahu namanya, tapi kau tak akan tahu berapa umurnya.

“Kasihan kakek itu, Yah. Apakah dia bahagia?”

“Dia sedang tidur, Sayang. Tentu saat ini dia merasa bahagia karena bisa tidur dengan nyenyak. Walaupun tanpa kasur.”

Kedua tanganmu menekan sisi bangku taman. Dan tatapanmu kaualihkan pada kedua kakimu yang menjuntai ke bawah. “Kita lebih beruntung dari dia, Yah,” katamu sambil menunduk lesu.

Sejenak saya menatapmu begitu lama, memandang sebuah wajah yang begitu lugu. Kemudian saya memelukmu, dengan lembut.

Maka seterusnya kau akan berbincang dengan saya, tentang apa saja. Kadang kau juga akan tertawa kecil, dengan nada yang jenaka. Oh, ayah mana yang tak bahagia ketika ia merasa begitu dekat dengan anaknya?

***

Dan rahasia yang ingin saya ceritakan adalah ketika usiamu menginjak enam tahun.

“Ayah kapan pulang, Bu?” tanyamu di sebuah pagi yang lain.

“Ayahmu sedang kerja di luar kota, Sayang.”

“Ayo cepat kemas buku-bukumu itu ke dalam tas. Ini adalah hari pertama Raina sekolah. Jangan sampai terlambat!”

Kau tahu, sebenarnya saya sedang berada di sana, di sampingmu. Memandang wajahmu dari dekat. Saya ingin menyentuh rambutmu yang semakin memanjang itu. Tapi ketika saya menggerakkan tangan ke arah kepalamu, tangan ini malah menembus kepalamu.

Tujuh hari sebelum kau bertanya tentang kapan saya pulang, saya sudah meninggal, tertabrak kereta. Di hari kematian itu, beberapa detik sebelum kereta itu menabrak saya, seorang pria bersayap hadir di hadapan saya.

“Kau siapa?” tanya saya.

“Saya sedang berada di mana?” tanya saya lagi, kepada pria itu.

“Kau sedang berada di detak terakhir jantungmu, antara dunia dan nasibmu.”

“Tidak!” tukas saya dengan lantang.

“Tak usah terkejut. Kau manusia. Kematianmu tak dapat dihindari.”

Mula-mula ia pegang bahu saya. Kemudian ia angkat saya. Terbang menuju langit. Dan saya melihat dari ketinggian, tubuh saya telah hancur. Orang-orang sibuk mencari bagian tubuh saya yang hilang.

Ketika mendengar kabar ini, ibumu sibuk berteduh dari basahnya air mata. Setiap saat ia tutupi kesedihannya agar kau tak menanyakan mengapa ia bersedih. Seolah-olah ia menjadi wanita yang pintar dalam hal berpura-pura. Tapi begitulah wanita: Pintar menyembunyikan sesuatu yang dirasa perlu untuk disembunyikan.

Di alam yang lain, saya selalu merindukanmu, juga ibumu. Saya selalu mencari cara untuk keluar agar dapat melihat kalian. Dan Tuhan, entah kenapa Dia selalu memberi waktu kepada saya, untuk selalu mengunjungi kalian.

Kadang saya datang ke alam bawah sadarmu. Maka ketika kau bermimpi terbang bersama seekor burung, burung itu adalah saya. Kau terlihat gembira ketika menari bersama awan. Dan ketika kau bangun dari mimpimu, kau akan berkata, “Ah, hanya mimpi. Aku rindu Ayah.” Kemudian kau akan pergi ke kamar mandi. Berhenti sejenak di depan kaca. Kau akan tertawa kecil ketika kau mulai bercermin dan melihat tubuhmu sendiri yang semakin tumbuh besar.

“Ayah kapan pulang? Ayah yang lain ini … bukanlah ayahku!” ucapmu pada saat itu.

Oh, saya menangis ketika kau mulai merasa rindu kepada ayah kandungmu. Saya tahu kau tak suka dengan ayahmu yang lain itu. Tapi kau harus terima. Sebab ibumu tak ingin jika kau selalu merasa kesepian. Maka ia mencari ayah lain untuk menjadi ayahmu yang baru.

Pada saat itu saya begitu kaget ketika melihatmu tergelincir tepat di depan pintu kamar mandi. Kau terjatuh, lalu pingsan. Oh, apa yang sedang Tuhan rencanakan?

Ketika kau tersadar di sebuah ranjang rumah sakit, kau melihat semuanya tampak begitu aneh. Mula-mula kau bertanya kepada dirimu sendiri, “Siapa aku?”. Kemudian di sampingmu, ibumu membelai kepalamu. Dan ayahmu yang lain itu berdiri di sampingnya, dengan keadaan tegang.

“Kau adalah Raina, anak gadis kami.” Ibumu mengangis sambil menekan kedua bahumu.

Kemudian ibumu memelukmu. Dan kau membalas pelukannya.

Maka seterusnya ingatanmu akan selalu menjadi baru. Kau akan lupa tentang masa lalumu. Kau akan lupa tentang pohon Beringin yang sangat kau sukai itu, tentang sebuah taman, bunga-bunga, atau tentang keinginanmu yang ingin terbang seperti seekor burung. Kau akan lupa, bahwa dulu kau sempat bermain dengan saya, ayah kandungmu.

Dan ketika kau telah selesai membaca cerita ini, barangkali kau akan merasa risih lalu berpikir bahwa yang menulis ini adalah orang yang sedang sakit jiwa. Tapi percayalah, saya sempat menjadi seorang ayah bagimu. Seorang ayah yang kini telah menjadi sebuah ingatan. Sebuah ingatan yang tak ingin pergi, dari jiwa yang telah pergi. Selamanya. (*)

Jember, 2017

Gambar diambil dari https://chirpstory.com/li/374803

Share This:

About Alif Febry 1 Article
Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Jember, asal Situbondo. FB: Alif Febry

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*