LOR STASIUN KALISAT: Ruang budaya dalam semangat egaliter

IKWAN SETIAWAN

 

Download artikel versi PDF

Spirit dalam kesederhanaan dan kebersahajaan

Selepas petang, 3 Januari 2018, suasana sebuah perkampungan di utara Stasiun Kalisat (Lorstkal) tampak meriah dengan lalu-lalang kaum muda berusia belasan tahun. Sebagian mereka menunggu pameran foto-foto zaman dahulu yang berhasil dikumpulkan dengan sedikit perjuangan dari warga Kalisat. Sebagian melakukan gladi bersih pantomim. Sementara yang lain menyiapkan pentas sederhana di tanah lapang di sebelah selatan musholla kampung. Saya dan beberapa kawan dari Dewan Kesenian Jember (DKJ) benar-benar terpesona oleh gerak dinamis kaum muda Kalisat yang terlibat dalam gelaran Kalisat Tempo Doeloe (KTD) yang sudah memasuki tahun ketiga. Dari 30 Desember 2017 hingga 3 Januari 2018, kaum muda itu bersama-sama dalam koordinasi sepasang suami-istri, RZ Hakim dan Zuhana, mencurahkan tenaga dan pikiran untuk menyukseskan acara komunal ini. Kekompakan, komitmen, dan tanggung jawab itulah yang menurut saya patut menjadi apresiasi pertama yang bisa diberikan kepada KDT 3 ini. Bahwa dalam kesederhanaan dan kebersahajaan acara, ada spirit dan keyakinan yang menggerakkan mereka demi sebuah tanggung jawab historis sebagai subjek dalam dinamika dan kompleksitas masyarakat Kalisat.

Foto Shohifur Ridho'i.

Pengunjung asyik mengamati foto-foto lawas (Foto: Shohifur Ridho’i FB Sudut Kalisat Dokumenter)

Selain itu, gelaran KTD 3 dengan beragam acara yang menyertainya, menurut saya, bisa menjadi ruang budaya yang mengusung egalitarianisme. Di tengah hiruk-pikuk kebijakan dan politik kebudayaan Jember yang banyak dirayakan tetapi belum bisa dirasakan oleh para pelaku di tingkat bawah, kaum muda Kalisat mampu mendesain dan menghadirkan gelaran yang bukan hanya berdimensi “perjuangan akan ingatan”, tetapi juga bisa menjadi alternatif bagi penumbuhan, pengembangan, dan penguatan ruang budaya yang benar-benar berasal dari bawah. Keberhasilan inilah yang bisa dijadikan sebagai role model untuk melakukan gerakan kultual di Jember, khususnya yang berdimensi penguatan berbasis komunitas-komunitas dengan minat khusus atau tujuan-tujuan tertentu yang bisa memperkuat keberadaan mereka.

Ruang budaya untuk rakyat

Apa yang saya maksudkan sebagai ruang budaya merupakan adopsi dari bentuk arena kebudayaan komunitas di mana anak-anak sering bermain permainan tradisional, warga berkumpul membahas masalah tertentu, gelaran-gelaran seni di ruang terbuka, dan praktik-praktik serupa lainnya. Ruang budaya merupakan arena publik  di mana anggota sebuah komunitas atau masyarakat berhak dan bisa berperan secara aktif dalam penyelenggaraan aktivitas kultural, baik dalam babak persiapan, pelaksanaan, maupun evaluasi. Masing-masing subjek atau anggota komunitas memiliki posisi setara dalam memberikan pendapat, gagasan, atau masukan untuk keberlangsungan sebuah acara. Mereka bisa berperan sesuai dengan kapasitas masing-masing  dan sesuai dengan kesepakatan bersama. Artinya, mereka tidak lagi dibedakan oleh status sosial untuk bisa berperan. Kalaupun ada perbedaan dalam posisi dan peran dalam acara itu semata-mata untuk memudahkan koordinasi dan konsolidasi. Di masa lalu, ruang budaya seperti itu menjadi arena bagi para pelaku dan anggota sebuah komunitas atau masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif, baik dalam penyiapan ataupun pelaksanaan acara. Di masa kini ketika nilai-nilai individual, instan, dan pragmatis menjadi karakteristik utama dalam perkembangan masyarakat, praktik budaya komunal memang semakin termarjinaliasi. Namun demikian, kita masih bisa berharap, bahwa dalam kehidupan masyarakat dusun/desa atau pinggiran kota, tradisi komunal untuk bersama-sama memikirkan, meskipun budaya pop dan peradaban internet juga semakin biasa.

Saya mengidentifikasi beberapa karakteristik ruang budaya yang diformulasi oleh pihak-pihak yang terlibat dalam KTD 3. Pertama, kuatnya semangat kesetaraan yang menjadi landasan “bergerak” bagi pihak-pihak yang terlibat dalam gelaran. Kedua, dominannya perjuangan dan tanggung jawab historis yang dijalani dengan suka cita oleh kaum muda. Ketiga, tumbuhnya ruang dan praktik kreatif berbasis komunitas yang sekaligus menjadi arena untuk menumbuhkan bibit-bibit budaya di masa mendatang. Keempat, maksimalisasi ruang terbuka yang bisa mempertemukan anggota komunitas atau masyarakat, juga memungkinkan terjadinya silaturahmi kultural dengan para pengunjung yang berasal dari kecamatan atau kabupaten/kota lain. Kelima, keterlibatan anak-anak, kaum remaja, dan kaum muda sebagai penyokong utama gelaran adalah “prestasi regenerasional” yang sekaligus mematahkan streotipisasi  bahwa kaum muda hanya menjadi masalah sosial. Keenam, partisipasi publik—khususnya mereka yang memiliki koleksi foto masa lalu—merupakan bentuk kehendak untuk menyebarluaskan pengetahuan yang bisa digunakan untuk “mengingat” sekaligus berefleksi tentang perkembangan, permasalahan, dan dinamika masyarakat Kalisat. Keenam karakteristik tersebut merupakan “ruh” yang menarik untuk di-jlentreh-kan lebih detil lagi untuk bisa menemukan rujukan-rujukan bagi pengembangan serupa di wilayah lain. Bukan untuk menyombongkan capaian, tetapi sekedar untuk menceritakan spirit dan perjuangan yang sebenarnya sangat mudah untuk dilakukan tetapi sangat jarang dilakukan karena memang tidak mendatangkan keuntungan material bagi para panitia dan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Semangat kesetaraan

Meskipun “kesetaraan” (equality) sudah dikonstruksi secara akademis sebagai mantra manusia-manusia modern-Barat, bukan berarti manusia-manusia Indonesia tidak memilikinya. Kesetaraan manusia-Barat dibangun dengan ruh rasionalitas dan tiadanya pembedaan antarmanusia—meskipun hal itu juga seringkali dikhianati oleh mereka melalui praktik kolonialisme dan rasisme. Dalam pandangan lokal, kesetaraan tersebut tidak hanya mengedepankan rasionalitas, tetapi juga wilayah batin dan kebersamaan dalam mewujudkan agenda-agenda komunal. Kesetaraan yang dihadirkan adalah kesetaraan partisipatif di ruang-ruang publik, meminjam istilah Habermas.[1] Dan, praktik tersebut sudah berlangsung dalam praktik musyawarah, cangkrukan, dan yang lain. Artinya, kesetaraan partisipatif sebagai bagian dari ruang budaya masa kini adalah transformasi dan revitalisasi dari nilai dan praktik yang sudah ada sebelumnya dalam masyarakat.

KTD 03c

Salah satu rapat koordinasi dan evaluasi panitia (Foto: RZ Hakim, FB Sudut Kalisat Dokumenter)

Panitia dan pihak-pihak yang terlibat dalam KTD 3—dan saya yakin juga KTD 1 dan 2—meyakini dan melakoni prinsip kesetaraan tersebut dalam bingkai yang dinamis bermodal kepercayaan dan semangat untuk bertumbuh-kembang bersama. Meskipun tidak pernah datang dalam rapat koordinasi untuk persiapan acara, dari unggahan-unggahan yang dilakukan Hakim di Sudut Kalisat Dokumenter, misalnya, saya bisa membaca hadirnya prinsip kesetaraan yang dijalankan oleh mereka. Masing-masing panitia memiliki peran yang harus dijalankan, dari yang seksi pengumpulan foto hingga pementasan kreatif. Kesetaraan yang dikoordinasikan secara baik akan memunculkan sense of belonging, rasa memiliki yang mendorong partisipasi aktif untuk menyukseskan acara. Kalaupun ada pihak-pihak yang mengarahkan, hal itu semata-mata hanya ditujukan untuk memudahkan jalannya kepanitiaan. Kesetaraan pula yang mampu meyakinkan anak-anak, kaum remaja, dan kaum muda untuk terus menjalankan tugas dan memainkan peran dalam penyiapan dan pelaksanaan acara.

Sewaktu saya dan kawan-kawan DKJ berkunjung pada penutupan KTD 3, para panitia tampak asyik dan sibuk dengan tugas masing-masing. Ada dua lelaki muda yang bertugas menjaga meja tamu untuk mempersilahkan para tamu mengisi daftar hadir dan mempersilahkan mereka menikmati pameran. Tidak lama, mereka digantikan seorang perempuan muda. Panitia yang lain sibuk menyiapkan pentas terbuka di tanah lapang di utara Stasiun Kalisat. Semua pemandangan ini menegaskan bahwa kesetaraan yang diyakini akan mengantarkan mereka kepada kerja-kerja yang dihayati dan dinikmati, bukan sebuah paksaan yang menjadikan mereka tunduk dan patuh, tanpa bisa tersenyum dan tertawa.

Perjuangan dan tanggung jawab historis

Mengapa saya katakan demikian? Sebagaimana saya sampaikan dalam Zine KTD 3,

Di era ketika peradaban bergerak semakin cepat dengan bermacam rayuannya, kemauan dan keikhlasan kaum muda yang biasa berkumpul di sebuah rumah lawas di utara Stasiun Kalisat untuk bersusah-payah berembug dan bergerak untuk penyiapan acara bisa kita sebut perjuangan. Mereka ingin menjalankan tanggung jawab historis yang mengabarkan kepada warga Kalisat, bahwa ada gugusan peristiwa sejarah yang direkam dan dibekukan dalam bermacam foto lawas yang berhasil ditelusuri dan dikumpulkan melalui rayuan terhadap dan negosiasi dengan para pewaris foto tersebut. Tentang peristiwa keseharian, gaya fashion, semangat bersekolah, roda pemerintahan, ataupun impian yang berhasil dijepret oleh tukang foto, entah siapa dia atau mereka.[2]

Bahwa masing-masing manusia memiliki tanggung jawab historis terhadap diri, komunitas, masyarakat dan negaranya. Tentu saja, bentuknya bisa bermacam-macam. Memanggul senjata, seperti pahlawan Sroedji di Jember, mendidik rakyat, atau bersama-sama rakyat memformulasi ruang budaya. Anak-anak, kaum remaja, dan kaum muda yang terlibat dalam KTD 3 ini tentu tidak berpretensi untuk menjadi pahlawan atau nama mereka tercatat dalam sejarah besar masyarakat Jember atau Indonesia. Paling tidak, dalam dimensi kecil, mereka ingin bisa belajar untuk mengorganisir dan menyukseskan acara sembari mengantarkan pengetahuan kepada warga, baik dari Kalisat atau wilayah lainnya.

Foto Shohifur Ridho'i.

RZ Hakim tengah berbincang dengan pengunjung (Foto: Shohifur Ridho’i FB Sudut Kalisat Dokumenter)

Paling tidak, mereka bisa memberikan hiburan yang memperkuat keyakinan warga bahwa anak-anak mereka bisa berkarya dan berpartisipasi dalam gawe komunal. Belajar menjalankan tanggun jawab merupakan praktik yang bisa mengantarkan mereka ke dalam habitus yang akan bermanfaat untuk melatih kepekahan dan kreativitas. Selain itu, mereka juga akan terbiasa dalam menghadapi permasalahan atau mengembangkan potensi yang ada dalam masyarakat. Habitus ini perlu ditumbuh-kembangkan karena sikap individual yang semakin hari semakin biasa, baik di wilayah kota maupun desa. Habitus komunal adalah syarat mutlak untuk selalu menghidupkan keasyikan sosial di mana antarsubjek di dalam masyarakat terhubung, bukan lagi berdasarkan hitungan matematis untung-rugi, tetapi ada wilayah batin yang selalu mengikat mereka. Kesadaran komunal untuk terlibat dalam pengembangan potensi ataupun penyelesaian permasalahan merupakan buah implementasi tanggung jawab historis yang bisa diperoleh dari KTD. Dengan demikian, kelak di masa mendatang, mereka tidak gagap lagi ketika menghadapi kondisi serupa.

Ruang kreatif berbasis komunitas dan maksimalisasi ruang tebuka

Salah satu kekuatan ruang budaya adalah tumbuhnya ruang kreatif yang berasal dari potensi, permasalahan, atau kegelisahan komunal. Dalam ruang kreatif itulah anak-anak, kaum remaja, dan kaum muda bisa belajar bersama tentang gagasan dan karya kreatif. Sebuah rumah lawas bergaya Eropa yang disewa Hakim dan Zuhana, paling tidak, telah menjalani fungsi sebagai salah satu ruang kreatif yang menampung kegelisahan dan gagasan anak-anak muda Kalisat yang memiliki kepedulihan terhadap sejarah dan potensi budaya masyarakatnya. Di salah satu bagian rumah itu pula, beberapa remaja perempuan dan anak-anak berlatih tari, sedangkan yang lain berlatih pantomim. Dalam kesadaran spasial untuk memanfaatkan ruang-ruang alternatif, mereka menemukan dinamika dan keasyikan berproses kreatif ketika banyak kawan-kawan sebaya mereka yang asyik dengan game digital dan ramainya budaya pop lainnya. Ruang kreatif rumah lor Stasiun Kalisat dan kesabaran Hakim dan Zuhana menjadi ‘mata air’ yang dengan sabar dan tenang mengalirkan energi untuk menumbuh-kembangkan kepekaan dan nalar kreatif generasi mendatang. Ketenangan energi kreatif yang dialirkan juga membuat nyaman tamu-tamu dari kecamatan lain atau luar Jemmber yang sengaja datang untuk menikmati pameran sekaligus mendapatkan pengetahuan dan atmosfer kultural yang benar-benar didesain atas kehendak komunal.

Foto Shohifur Ridho'i.

Para penari sedang mempersiapkan diri untuk performance di acara penutupan KTD 3 (Foto: Shohifur Ridho’i FB Sudut Kalisat Dokumenter)

Pilihan untuk menggunakan lapangan terbuka di utara Stasiun Kalisat dan di selatan musholla menarik untuk dibaca lebih lanjut. Lapangan terbuka, meskipun tidak terlalu luas, merupakan ruang yang bisa dimanfaatkan untuk ekspresi komunal. Di masa lalu tanah lapang atau halaman rumah tempat anak-anak generasi 70-an hingga 80-an bermain gopak sodor, benteng-bentengan, pal-palan, dan lain-lain. Semua anak bisa bermain dengan riang gembira menjadikan tubuh mereka sehat sembari menginternalisasi nilai-nilai “kesetiakawanan”, “kompetisi sportif”, “perjuangan”, “kerjasama”, dan lain-lain.” Maka, lapangan terbuka bisa menjadi bagian dari ruang budaya atau ruang ekspresi komunal yang berperan penting. Salah satunya adalah menjadi tempat untuk mewariskan kekayaan ekspresi budaya komunitas yang kepada generasi penerus melalui aktivitas-aktivitas yang menyenangkan.[3] Budaya komunitas tersebut berasal dari warisan nenek moyang atau garapan-garapan baru yang menyerap dari budaya masa lalu ataupun masa kini.

Ketika ruang-ruang untuk bermain semakin terbatas, pilihan menggunakan lapangan di utara Stasiun Kalisat adalah strategi yang menarik karena tempatnya yang mudah dijangkau dan tidak jauh dari pemukiman Lorstkal. Dengan demikian, warga masyarakat dari bermacam usia yang ingin datang menikmati tidak kesulitan. Pilihan ini juga menegaskan maksimalisasi ruang terbuka untuk aktivitas kultural bisa dilakukan dalam kondisi yang sangat terbatas sekalipun. Meskipun tatanan panggung dibalut kesederhanaan, lapangan tersebut mampu menciptakan atmosfer komunalisme yang ‘mengikat’ secara kuat setiap panitia, warga, penampil, ataupun tamu-tamu dari luar kecamatan atau luar Jember. Suasana silaturahmi budaya model KTD 3 inilah yang sebenarnya mampu melekatkan ingatan-ingatan bersama tentang peristiwa sederhana yang bisa menjadi medan magnet untuk menarik dan mempertemukan hasrat dan keinginan untuk berpengetahuan sekaligus mendapatkan hiburan yang bersifat alternatif.

Capaian regenerasional dan reproduksi ingatan

4 anak perempuan dalam balutan kostum sederhana begitu gembira menarikan tari Jumpritan, meskipun sebelumnya terjadi sedikit permasalahan teknis terkait sound system. Ketiga penari belia itu begitu pede menyuguhkan tari yang bercerita tentang kegembiraan anak-anak kecil dalam bermain jumpritan, sebuah permainan tradisional yang pada masa kini semakin jarang dimainkan oleh anak-anak. Menikmati sajian tersebut, saya seperti terseret ke dalam sebuah dunia masa depan yang tidak terlalu menakutkan terkait hilangnya kreativitas komunal masyarakat, sebagaimana selama ini  banyak dikeluhkan oleh para birokrat kebudayaan tetapi mereka tidak mampu memformulasi kebijakan dan program yang tepat. Alih-alih, kebanyakan dari mereka hanya membuat program selebrasi yang tidak berdimensi penguatan dan pemberdayaan.

Foto RZ Hakim.

Menyiapkan mural (Foto: RZ Hakim FB Sudut Kalisat Dokumenter)

Kegigihan anak-anak itu untuk berlatih dan menari di pentas terbuka adalah sebuah prestasi regenerasional yang patut diacungi jempol. Sederhana apapun garapan mereka dan juga tari garapan beberapa penari remaja dalam pagelaran penutup juga kerja semua panitia dalam KTD 3 ini adalah kenyataan kreatif dan strategis yang mampu menangkal stereotipisasi generasi penerus sebagai generasi konsumtif dan hanya bisa membuat keonaran sosial. Dalam banyak narasi media ataupun pengetahuan akademis, kaum remaja dan kaum muda di sebagian besar belahan dunia ini seringkali diposisikan sebagai kelompok sosial yang sedang mencari jati diri dan tenggelam dalam gaya hidup penuh mimpi, terjebak dalam kriminalitas, dan bisa membahayakan ketahanan budaya; sebuah kepanikan moral.[4] Mereka yang terlibat dalam KTD 3, paling tidak, membuktikan bahwa generasi penerus yang berasal dari Kalisat masih memiliki keyakinan dan kemampuan untuk meneruskan kreativitas—sesederhana apapun—berbasis potensi dan permasalahan yang ada dalam komunitas atau masyarakat tempat mereka tinggal. Kedua hal tersebut tentu akan menjadi modal penting dalam perjalanan hidup mereka kelak di masa mendatang.

Catatan terakhir yang perlu saya utarakan adalah partisipasi publik, khususnya para pewaris foto lawas, yang rela menyertakan foto-foto yang mereka simpan dalam KTD 3. Kerelaan mereka merupakan bentuk partisipasi dalam mereproduksi ingatan, bukan lagi membekukan. Bahwa masa lalu Kalisat adalah gugusan peristiwa, permasalahan, hasrat, kehendak, kebahagiaan, maupun kesedihan yang saling berkontestasi untuk meng-ada sesuai dengan kekhususan zaman yang melingkupinya. Memang benar, sebagaimana dikatakan oleh Isnadi,[5] kemajuan teknologi yang semakin cepat menjadikan ingatan-ingatan masa lalu akan mudah lapuk. Namun demikian, dengan reproduksi ingatan warga Kalisat dan para tamu yang berkunjung akan disuguhi narasi-narasi visual dari beragam peristiwa seperti pernikahan masa lalu, poster bioskop, musik, tari tradisional, hingga keluarga pahlawan Sroedji. Tentu saja visualitas tersebut merupakan pengetahuan yang sekaligus bisa membawa mereka ke dalam perjalanan lintas-waktu yang diharapkan bisa memberikan informasi tertentu. Dalam konteks itulah, untuk KTD-KTD berikutnya, perlu kiranya disiapkan semacam ‘pemandu’ yang memang sudah dibekali pengetahuan tentang foto-foto yang akan ditampilkan, meskipun bersifat umum.

 

Foto RZ Hakim.

Tiga penerima tamu dalam KTD 3 (Foto: RZ Hakim FB Sudut Kalisat Dokumenter)

Sementara reproduksi ingatan oleh negara seperti melalui museum dan pameran-pameran serupa seringkali menargetkan kepentingan nasional, saya melihat pihak-pihak yang terlibat dalam KTD tidak terlalu muluk: berbagi narasi visual untuk menarik minat pengunjung belajar sesuatu yang bersifat historis secara asyik. Sebagai bentuk ruang budaya berbasis komunitas, KTD secara ajeg berusaha menghadirkan ingatan yang mengikat sense of communalism dan sense of history yang bisa menjadi jejak untuk menelusuri budaya, permasalahan, dan potensi serta dinamika dan perubahan mereka dari waktu ke waktu. Dengan demikian, KTD bukanlah pameran atau event yang bersifat selebrasi, tetapi peristiwa komunal dalam ruang budaya bersifat egaliter yang tidak hanya bermanfaat untuk menyebarluaskan pengetahuan masa lalu, tetapi juga bermanfaat untuk regenerasi kreatif bagi generasi penerus Kalisat dan Indonesia.

Catatan akhir

[1] Ruang publik (public sphere), dalam pemahaman Harbermas, merupakan sebuah area dalam kehidupan sosial di mana semua individu berkumpul bersama-sama untuk membahas dan mengidentifikasi permasalahan-permasalahan sosial. Dari diskusi-diskusi tersebut bisa diputuskan tindakan-tindakan apa yang bisa dilakukan anggota masyarakat atau komunitas untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Lihat, Jűrgen Habermas. 1989. The Structural Transformation of the Public Sphere: An Inquiry into a Category of Bourgeois Society. Massachusetts: The MIT Press.

[2] Ikwan Setiawan. 2017. “Perjuangan Historis Bernama KTD”, Zine Kalisat Tempo Doeloe 3.

[3] Ikwan Setiawan. 2017. “Mengelola ruang komunal: Strategi pemertahanan ekspresi budaya tradisional”. Makalah disampaikan dalam Peningkatan Kompetensi Pengelola di Bidang Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi pada Satuan Kerja Perangkat Kerja Bidang Kebudayaan, diselenggarakan oleh Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Tradsi, Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Malang, 16-20 Mei.

[4] Dalam pandangan Hebdige, kaum muda telah terbentuk di dalam dan di berbagai wacana tentang “gangguan” (pemuda-sebagai-gangguan: pemuda-yang-sedang-mengalami gangguan) atau “hura-hura”. Dalam sosok holigan sepak bola, pengendara sepeda motor, dan geng sudut jalan, misalnya, kaum muda diasosiasikan dengan kejahatan, kekerasan, dan penyimpangan. Sebagai alternatif kaum muda direpresentasikan sebagai konsumen yang menyenangkan dari fashion, gaya, dan berbagai aktivitas hiburan. Oleh media, representasi kaum muda cenderung distereotipkan sebagai “iblis masyarakat”. Respon masyarakat, kemudian, adalah kepanikan moral yang berusaha melacak dan menghukum segala budaya kaum muda yang menyimpang. Sedangkan kaum muda merespons dengan semakin meningkatkan penyimpangan, sehingga lingkaran pemberian label, pembesaran, dan penyimpangan terus bergerak. Chris Barker. 2004. Cultural Studies, Teori dan Praktik (terj. Nurhadi). Yogyakarta: Kreasi Wacana. hal. 337 & 352-353.

[5] Isnadi. 2017. “KTD: Pintu Ingatan Warga Kalisat”, Zine KTD 3.

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*