Memahami Manusia Hotel: Sebuah Pengantar untuk Problem Diri Kelas Menengah

Sebuah pintu, dan hanya sebuah pintu: sekotak lubang yang mengubah siapa diriku untuk diriku dan siapa diriku untuk yang bukan diriku (Bahriz-Manusia Hotel).

Menikmati naskah monolog “Manusia Hotel” mungkin akan semakin mengukuhkan posisi Halim sebagai pekerja seni yang sangat khusyuk dalam isu tentang tubuh. Sedari awal Halim sudah membuat penikmatnya untuk berpikir keras bahwa ada relasi yang kuat antara tubuh manusia dan hotel sehingga sah apabila dirangkai hingga menjadi judul yang bakalan menggaruk kepala. Berangkat dari kegusaran tersebut, maka tulisan ini berikhtiar untuk memutus rantai dua alis yang bersengut dengan tempo sekali sruput.

Halim dan segala kemewahan diksinya, samar – samar ingin mengingatkan bahwa problem tubuh dalam naskahnya hanya mungkin menjadi penting jika disajikan pada kaum kelas menengah. Kelas tersebut kerap diberi gelar sebagai borjuis kecil karena masih memiliki kemampuan dalam memilih identitas apa yang sesuai untuk mereka konsumsi agar terlihat beda dengan yang lainnya. Konsekuensi kelas tersebut sering kali tergelincir untuk mengira bahwa tindakan mereka adalah kehendak murni sehingga harus diperjuangkan, dipertontonkan dan dipastikan sebagai diri yang otentik bak slogan harga mati yang tampaknya makin populer akhir – akhir ini. Alih-alih bersikap setuju, dan mengiyakan sikap kekinian atas selebrasi identitas tersebut, Halim justru mengambil jalan memutar dengan menunjukkan kemungkinan adanya “kita” dalam diri yang tidak mungkin bisa direduksi menjadi sebuah identitas tunggal nan pasti.

LELAKI KITA BERKHOTBAH: 

“Aku seorang doktor filsafat, tukang cat, kepala taman kematian. Seorang bekas

kakek, suami, dan binatang berkaki dua. Aku mengecat pagar perumahan paramayat,

tembok-tembok perkantoran, hunian orang-orang sombong. Aku mengecat sejarah

dan otak pejabat, dan agamawan, dan cucumu, dan kedangkalan iman, dan ibumu,

dan anggota partai politik yang tidak ngerti politik, dan suamimu, dan istrimu, dan

masa depan kota, dan masa lalu yang belum berlalu, dan siaran televisi, dan kampung

yang dilumuti siaran televisi, dan anak-anak yang kau tenggelamkan dengan caramu

menatap mereka.” (Halim, Manusia Hotel)

Penggalan tersebut diharapkan dapat menyudahi kegiatan menggaruk kepala, Manusia hotel secara cepat adalah pengandaian Halim untuk memetaforkan bahwa tubuh manusia tak ubahnya seperti hotel, tempat menginap figur idola, pengetahuan dan segala keyakinan yang mengatur tindakan. Segala hal yang menjadi keyakinan untuk hinggap dan berlalu lalang pada tubuh hari ini lalu dapat pergi keesokan paginya dan diganti dengan yang lainnya di siang harinya. Naskah ini hendak mengaduk – ngaduk sekaligus mengkritik pengalaman kedirian dalam tubuh yang kerap kali dianggap otentik, sekaligus mempertanyakan tentang identitas dan ilusi kemandirian berpikir khas kelas menengah yang kadang kebingungannya berkutat pada upload foto makanan di cafe mana besok? dan bukan pertanyaan kebingungan semacam apakah ada makanan besok ? Kegelisahan tersebut tentunya tidak mungkin dimiliki seseorang yang mampu membayar kamar hotel semalam. Adalah Diah Lestari, Komunitas Ghanta, yang teramat apik dan epik merapal segala problem diri dan identitas khas petite bourgeoisie yang juga terlampau fluid. Pergulatan kedirian, otoritas tubuh dan pikiran mampu dipraktikan secara luwes.

WhatsApp Image 2017-11-09 at 10.09.07 PM

Dengan kata lain, segala kecanggihan diksi yang sulit menjejak pada bumi nan kaya metafor, Halim nampaknya ingin menegaskan bahwa naskah monolognya juga bukan untuk kelas “pribumi” yang tiap hari berkutat dengan diksi receh ala warung kopi. Teknik akrobatik ala interteks yaitu mengumpulkan jejaring teks dari berbagai pengetahuan adalah cara Halim untuk mensyaratkan bahwa akan sulit bahkan tidak mungkin bagi “pribumi” untuk memikirkan deretan nama beken seperti Balzac, Modigliani dan Bonaperte yang tentunya hanya mampu dikonsumsi oleh kelas menengah.

Malam ini kau adalah Balzac dan aku adalah Modigliani.Lihatlah! Lihatlah! Salju membenamkan kekuasaan Napoleon.Bonaparte!Bonaparte! (Halim Bahriz, Manusia Hotel)

Semesta mozaik kutipan yang ada dalam naskah mungkin akan lebih mudah dipahami jika ada stock pengetahuan yang cukup untuk memetakan posisi Halim dan pesannya. Baiklah, sesuai dnegan janji sekali sruput diatas. Posisi tersebut dapat terlihat jelas di babak akhir, ketika Halim percaya bahwa pengalaman diri yang otentik hanya dimungkinkan untuk dikagumi melalui kebersatuan dengan sosok ibu. Sosok ibu adalah ingatan yang menenangkan ketika kita masih bersatu dengannya, ketika bahkan tak ada bahasa sebagai pembatasnya.  Ibu menjadi lambang keutuhan, dimana diri belum terbelah persis seperti kerangka berfikir freudian – lacanian. Didalam tubuh ibu, segala kemewahan tersedia, karena tidak perlu pesan go-food ketika lapar sebab plasenta telah menjalankannya, tidak perlu merasa terancam karena rahim ibu adalah tempat teraman, dan tentunya ada rasa sayang berlebih yang tentunya mengharamkan untuk sedih. Segala fasilitas kemewahan tersebut tentunya tidak memerlukan aktifitas “kita” yang melelahkan karena harus bongkar pasang identitas tiap harinya.

WhatsApp Image 2017-11-09 at 10.09.12 PM WhatsApp Image 2017-11-09 at 10.09.00 PM

Ketika kantuk menyederhanakan waktu. Manusia selamanya tertidur sebagai dirinya

sendiri. O, waktu, aku ingin terjada sebagai seorang Ibu. Dunia, ya, dunia, sudah terlalu

lama tidak memiliki Ibu. Anak-anak tak butuh perempuan. Anak-anak membutuhkan Ibu.

Ya, seorang ibu, seorang ibu, seorang ibu… Bukan perempuan. Bukan Ayah. Bukan lakilaki.” (Halim Bahriz. Manusia Hotel)

Naskah ini merupakan penguatan bahwa diri yang otentik adalah diri yang tidak diinapi apapun, diri yang hanya dialami selama 9 bulan dan mungkin sekali dalam seumur hidup.

 

Share This:

About Ghanesya Murti 8 Articles
Mahasiswa pascasarjana Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga dan peneliti di Matatimoer Institute

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*