Cinta dalam kuasa hegemonik patriarki: Membaca novel CINTA OH CINTA karya Ahmad Munif

IKWAN SETIAWAN

 

Download artikel versi PDF

Awalan: budaya populer sebagai medan pertarungan

Dalam tradisi budaya dan peradaban, budaya populer selalu ditempatkan dalam posisi yang marjinal karena karakteristiknya yang massif serta mengumbar nilai-nilai yang kasar dan kurang kontemplatif sehingga dianggap tidak bisa memberikan pencerahan serta hanya mengabdi kepada kepentingan kapital industri budaya. Tentu saja pemahaman tersebut tidak bisa dilepaskan dari perspektif kebudayaan yang diyakini oleh para pembela tradisi budaya dan peradaban. Matthew Arnold, misalnya, menganggap kebudayaan sebagai: (1) kemampuan untuk mengetahui apa-apa yang terbaik; (2) apa-apa yang terbaik itu sendiri; (3) aplikasi secara mental dan spiritual dari apa-apa yang dianggap terbaik itu, dan; (4) perburuan untuk memenuhi yang terbaik itu (Storey, 1992: 22).

Meskipun secara tekstual Arnold tidak pernah menjelaskan pengertian budaya populer, namun kajiannya cenderung mendekatkan budaya populer dengan sesuatu yang bersifat anarkis. Pengertian ini cenderung menganggap budaya populer sebagai kebudayaan kelas pekerja yang bersifat desruptif, yakni kasar, merusak, serta berbahaya bagi kelangsungan kebudayaan adiluhung dan akan mengganggu tatanan politik yang sudah mapan dalam masyarakat (Storey, 1992: 22). Lebih dari itu, banyak pemikir yang mengidentikkan budaya populer dengan budaya rendah atau budaya massa yang selalu saja mengedepankan orientasi komersil, berbahaya bagi eksistensi budaya tinggi/elit, berdampak buruk bagi penikmatnya, serta merusak tatanan moral dan nilai-nilai luhur yang berkembang dalam masyarakat (Gans, 1974).

Terlepas dari makna negatif yang diberikan kalangan tradisi budaya dan peradaban, budaya populer merupakan realitas kebudayaan yang berkembang pesat di tengah-tengah masyarakat. Pada awalnya, hanya kelas pekerja rendahan yang dianggap sebagai konsumen dari budaya populer. Namun, konsumen budaya populer saat ini semakin meluas, tidak hanya kelas pekerja, tetapi juga generasi muda terdidik. Tentu saja realitas ini menunjukkan betapa budaya populer mampu menjadi pilihan baru yang dianggap sesuai dengan kepentingan dan perkembangan selera dalam masyarakat secara luas.

Sastra populer sebagai bagian dari budaya populer juga memperoleh popularitas serupa di masyarakat. Karena ia merupakan produk dari industri budaya yang berusaha menjangkau kepentingan orang banyak maka sastra populer cenderung menyuguhkan persoalan-persoalan tematik yang sederhana, tidak complicated, dan bisa mendekati permasalahan orang kebanyakan, dari persoalan cinta remaja, perselingkuhan, hingga hingar-bingar kehidupan metropolis. Sebenarnya tema-tema tersebut juga tidak jauh berbeda dengan apa-apa yang disuguhkan oleh sastra serius. Kita juga sering menjumpai persoalan-persoalan serupa dalam karya sastra yang selama ini dianggap mewakili sastra serius.

Sastar populer mempunyai konteks maknanya sendiri dan tidak harus diperdebatkan terus-menerus dengan membandingkannya dengan perspektif budaya tinggi. Yang harus dilakukan oleh seorang pengkaji adalah membaca teks sastra populer untuk kemudian mengkaji makna-makna yang ada di dalamnya. Tentu saja, dibutuhkan pendekatan spesifik untuk bisa membedah makna-makna yang ada. Tulisan ini merupakan kajian dengan perspektif hegemoni Gramscian terhadap novel Cinta oh Cinta, karya Ahmad Munif. Pijakan dasar dari kajian ini adalah bahwa karya sastra populer telah menjadi arena hegemoni yang dilakukan kekuatan-kekuatan dominan dalam masyarakat. Sementara asumsi yang dikembangkan adalah bahwa dalam teks Cinta oh Cinta terdapat usaha untuk menegosiasikan hegemoni yang dilakukan tokoh-tokoh fiksional dalam cerita tersebut untuk meneguhkan kekuasaannya terhadap kelas-kelas subordinat dalam lingkungan sosial.

Perspektif hegemoni dalam kajian sastra populer

Teori hegemoni diperkenalkan oleh Antonio Gramsci, seorang Marxis Italia, ketika ia mendekam di penjara. Hegemoni dalam pandangan Gramsci merupakan sebuah proses di mana kelas dominan tidak semata-mata menguasai tapi mengarahkan masyarakat melalui pelaksanaan kepemimpinan moral dan intelektual. Dalam perskpekif tersebut, di dalam masyarakat berlangsung “konsensus tingkat tinggi”, ukuran yang cukup luas bagi stabilitas, di mana kelas-kelas subordinat muncul secara aktif untuk mendukung dan masuk ke dalam nilai-nilai, tujuan-tujuan, makna-makna budaya, yang mengikat mereka dalam struktur kekuasaan (Storey, 1992: 119).

Untuk mendapatkan dukungan populer dari masyarakat, maka kelas dominan harus mengartikulasikan dan memasukkan kepentingan kelas-kelas subordinat ke dalam kepentingan kelasnya. Tentang hal ini Bennet (1986: xiv-xv) menjelaskan:

Gramsci berargumen bahwa kelas borjuis bisa menjadi hegemonik, kelas kuasa, hanya ketika mereka mampu mengakomodasi budaya dan nilai-nilai kelas yang bertentangan. Hegemoni borjuis aman bukan melalui penghancuran (obliteration) budaya kelas pekerja, tetapi melalui artikulasi budaya dan nilai tersebut dalam budaya dan ideologi borjuis. Ketika bisa dimasukkan dan diekspresikan dalam bentuk budaya borjuis, maka afiliasi politik dirubah dalam proses…Sebagai konsekuensinya, budaya kelas borjuis tidak lagi murni. Budaya mereka menjadi ‘kombinasi mobil’ dari elemen-elemen kultural dan ideologis yang berasal dari lokasi-lokasi kelas berbeda yang berafiliasi ke dalam nilai-nilai, kepentingan, dan tujuan kelas borjuis, meskipun hanya sebagai prasyarat dan berlangsung dalam durasi konjunktur historis tertentu.

Dengan mengartikulasikan budaya dan nilai kelas subordinat ke dalam budaya kelas borjuis berarti telah berlangsung negosiasi-negosiasi kultural yang akan membentuk satu “budaya bersama” (common culture) yang menjadi protagonis baru dari tindakan politik selama hegemoni (Mouffe, 1981: 224-225). Untuk menjamin kemapanan dari hegemoni, maka kelas dominan akan mentransformasikan budaya atau kehendak bersama tersebut melalui aparatus hegemoniknya, yakni: institusi agama, instusi pendidikan, birokrasi, tempat kerja, sistem hukum, aktivitas budaya, media, keluarga, nama jalan, arsitektur, dan lain-lain (Mouffe, 1981: 227).

Dalam kajian budaya populer, perspektif hegemoni pada awalnya digunakan oleh para pemikir cultural studies sebagai sebuah alternatif dari dua kecenderungan sebelumnya, yakni strukturalisme dan kulturalisme. Dalam perkembangan awal, para pemikir cultural studies menggunakan hegemoni Gramscian dalam mengkaji medan budaya populer—seperti radio, televisi, dan permainan-permainan populer—yang digunakan kekuatan-kekuatan dominan untuk menaturalisasi, memperluas, dan melanggengkan kekuasaanya di masyarakat. Dengan perspektif ini, kita bisa menemukan relasi-relasi kuasa yang tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan ekonomi, tetapi juga kelas, gender, dan ras.

Kita bisa menggunakan perspektif hegemoni untuk membaca teks fiksional yang diciptakan seorang pengarang. Teks-teks tersebut merupakan ‘jagat sosial’ yang membentuk struktur relasional antarbagian serta mempunyai ‘sistem dan struktur sosial’ di mana terdapat individu-individu pelaku/tokoh yang menjalankan relasi-relasi sosial sehingga membentuk ‘masyarakat imajiner’ yang di dalamnya terdapat kelas-kelas. Dalam sebuah masyarakat imajiner tersebut kita bisa menemukan usaha dari kelas dominan untuk menghegemoni kelas subordinat dengan strategi dan cara yang dirancang sedemikian rupa sehingga kelas subordinat ‘mengiyakan’ kekuasaan yang diciptakan oleh kelas dominan. Pengarang, entah sadar atau tidak, ikut berperan dalam memasukkan nilai hegemonik tersebut ke dalam karyanya. Meskipun tujuan awalnya tidak semata-mata menyuguhkan tema hegemoni, namun dikarenakan ia adalah bagian dari sebuah masyarakat yang di dalamnya berlangsung hegemoni, maka ia secara sadar atau tidak akan menyisipkan nilai-nilai hegemonik sebagai bagian dari karya kreatifnya. Inilah yang harus dibaca dengan jeli oleh seorang pengkaji sastra populer.

Tentang Cinta oh Cinta

Meskipun tidak setenar Ayu Utami dengan Saman dan Larung-nya, atau Jenar Maesa Ayu dengan Waktu Nayla-nya, Ahmad Munif sebenarnya patut diperhitungkan dalam jagat sastra Indonesia. Sebagai sastrawan yang menulis karya-karya sastra populer, ia merupakan sosok multi-background, dari wartawan, redaktur, hingga penulis skenario sinetron. Latar belakangnya sebagai seorang wartawan yang banyak bersentuhan dengan persoalan-persoalan aktual dalam masyarakat, rupa-rupanya turut mempengaruhi banyak karya yang ditulisnya, mulai dari cerpen, cerbung, novelet hingga novel. Dunia wartawan yang menuntut kerja dalam aktualitas dan kecepatan berita, kiranya ikut mengkonstruk karakteristik karya-karyanya yang seringkali menciptakan setting, konflik, dan para tokoh, yang berpindah dan berganti dengan cepat.

Cinta oh Cinta merupakan novelnya yang terbit pada Maret 2005. Novel ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang pemuda, Ramadan alias Slamet, dalam menemukan kebenaran dan kesejatian cintanya. Ramadan adalah seorang mahasiswa semester akhir di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta, yang diberi nama Universitas Nusantara. Ia digambarkan sebagai pemuda yang banyak dicintai oleh para mahasiswi, tidak hanya di kampusnya, tetapi beberapa mahasiswi dari Universitas Gadjah Mada yang terkenal itu.

Ramadan diakui sebagai putra dari Karna Rajasa, seorang pengusaha pribumi dari Malang. Karena kekayaan orang tuanya, ia menikmati fasilitas yang sangat mewah selama menempuh kuliah di Yogya. Kemana-mana ia selalu berkendara dengan motor Harley Davidson-nya. Namun ia tidak terlalu sombong dengan segala fasilitias tersebut. Dengan teman-temannya Ramadan sering makan di angkringan. Dan, ketika pulang ke Malang ia selalu memilih untuk naik kereta api, bukannya travel ataupun pesawat, dengan terlebih dahulu transit di Surabaya.

Di Yogya Ramadan dekat dengan beberapa perempuan, di antaranya adalah Dita, seorang mahasiswi di UGM, dan Tini, seorang guru muda yang mengajar di SD dekat paviliun yang ia tempati. Ramadan sendiri tidak pernah bisa mengerti bagaimana sebenarnya perasaannya kepada kedua perempuan itu. Yang pasti, ia sebenarnya lebih tertarik dengan ‘adik perempuannya’ yang bernama Hardini. Ramadan merasa yakin bahwa cintanya kepada Dini sah secara agama karena ia yakin bahwa dirinya bukanlah anak kandung Karna Rajasa. Ia yakin bahwa dirinya adalah anak seorang perempuan kampung yang tinggal di daerah Kabuh, bagian utara Kabupaten Jombang yang berbatasan dengan Kabupaten Lamongan dan ditemukan oleh Karna ketika ia diusir dari rumah oleh ibunya karena berbuat kesalahan.

Karena keyakinan itulah, ketika Dini berlibur ke Yogya, pada suatu kesempatan Ramadan memberanikan diri mencium adiknya itu. Karna marah besar ketika mengetahui isi surat yang diberikan Ramadan kepada Dini. Ia mencoba meyakinkan Ramadan bahwa Dini adalah adik kandungnya sendiri, tetapi Ramadan menolak semua itu dan tetap teguh dengan cintanya. Akhirnya Karna memberikan pilihan kepada Ramadan mau tetap menjadi anaknya dan akan mendapatkan harta warisan ataukah pergi dari rumah karena telah mencintai adiknya. Ramadan memilih untuk pergi dari rumah dan kembali ke Yogya.

Ketika mengalami segala kejenuhan dan kebingungan karena persoalan itu, Ramadan memutuskan untuk mencari keluarganya di Jombang dan mengabaikan dua perempuan, Dita dan Tini, yang sangat berharap mendapatkan balasan cinta. Ramadan berhasil menemukan ibu dan saudaranya di Jombang, dan berhasil meyakinkan mereka bahwa ia tidak dibawa kalap—sejenis makhluk halus yang bisa membawa manusia masuk ke dimensi ghaib—ketika ibunya memukul dengan siwur, tetapi malah ditemukan oleh Karna Rajasa dan dibawa ke Malang sebagai anaknya yang pernah hilang. Selanjutnya ia meneruskan perjalanan ke Surabaya untuk mencari kakak perempuan dan kakak laki-lakinya yang telah menjadi pelacur dan preman di kota itu. Ia menemukan mereka berdua dan mengajaknya kembali ke Kabuh.

Selama Ramadan di Jombang, di Yogya, Bu Guru Tini, mengalami kebimbangan sebagai seorang perempuan yang mendambakan cinta seorang laki-laki. Ia tidak bisa berharap terus-menerus kedatangan Ramadan dengan cintanya, sementara ibunya selalu menyuruhnya untuk mau dimadu oleh Pak Gun, seorang pengusaha kaya di Yogya. Bingung akan kejelasan cinta dan nasibnya serta tingkah laku Pak Gun yang semakin baik dari hari ke hari, akhirnya Tini menerima cintanya. Ia rela berhubungan badan di luar nikah dengan Pak Gun. Akhirnya ia hamil, tetapi Pak Gun tidak kunjung mau menikahinya, meskipun ia siap membiayai Tini dan bayinya. Untuk menutupi rasa malu karena kehamilan di luar nikah, akhirnya Pak Jaya, tukang kebun tua yang bekerja di SD, rela menikahi Tini, meskipun sekedar formalitas belaka.

Sedangkan Dita juga mengalami kondisi serupa. Karena desakan dari kedua orang tuanya di Jakarta untuk segera menikah dengan Dr. Handoko, dosennya di UGM, dan disebabkan ketidakpastian cinta Ramadan, ia berada dalam kondisi bingung. Karena Handoko dari hari ke hari semakin baik dan menunjukkan perhatian kepadanya, akhirnya Dita menerima cintanya dan segera melangsungkan pernikahan. Ramadan tidak bisa berbuat apa-apa karena ia sendiri tidak pernah memberi kepastian kepada Dita.

Tiwi, adik kandung Dita, malah jatuh cinta kepada Ramadan. Dan ketika kuliah di Yogya, ia merasa bahagia karena bisa semakin dekat dengan Ramadan. Karena terpengaruh kondisi batin yang tidak menentu, pada suatu ketika ketika mereka berdua berada di Parangtritis, Bantul, Ramadan mencumbui Tiwi yang juga dengan senang melakukannya. Namun, pada dasarnya Ramadan tidak pernah mencintai Tiwi. Pada kesempatan lain, Rina—teman masa kecil Ramadan di Malang yang kemudian dinikahi oleh Karna setelah istri pertamanya meninggal—datang ke Yogya dan mnecoba merayu Ramadan untuk tidur bersama, tetapi ia menolaknya. Rina akhirnya bercerai dengan Karna dan menikah dengan salah satu sahabat dekat Ramadan.

Dalam hati, Ramadan sebenarnya tetap mengharapkan cintanya kepada Dini mendapat restu dari Karna. Tetapi Karna tetap tidak berubah pendapat. Hingga pada suatu ketika, Karna menulis surat dan meminta Ramadan pulang ke Malang karena ia sakit keras. Mengingat jasa baik Karna yang telah membesarkan dan memberikan fasilitas yang begitu banyak, akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Ternyata di Malang, ibu kandung Ramadan, alias Slamet datang, dan memberikan nasehat kepada Slamet agar tidak meneruskan niatnya untuk menikahi Dini, karena ia sudah seperti adik kandungnya sendiri serta kebaikan Karna sudah terlalu banyak kepada dirinya. Ramadan menerima saran ibunya, dan meskipun dengan berat hati, ia memutuskan untuk kembali ke Yogya, melupakan semua cintanya kepada Dini. Karna bahagia karena keputusan ini.

Di Yogya, Ramadan memutuskan untuk menemui Tini. Ia kaget ketika melihat Tini sudah hamil tua. Namun setelah mendapatkan penjelasan dari Pak Jaya tentang cinta Tini yang begitu tulus kepada Ramadan, ia bisa menerima kondisi itu dan memutuskan untuk menikahi Tini, tentunya setelah Pak Jara menceraikannya. Pak Gun marah mendengar hal itu, dan mengutus anak buahnya untuk melukai Ramadan. Untung Ramadan termasuk pelatih taek wondo dan berhasil mengalahkan mereka. Akhir dari cerita ini adalah Ramadan dan Tini yang hidup bahagia, meskipun Ramadan tidak pernah membayangkan akan menjadi suami dari Tini yang tengah mengandung anak Pak Gun.

Sebenarnya Achmad Munif telah menulis sebuah kisah yang sangat manusiawi dan berpotensi untuk menyentuh perasaan banyak pembaca, namun sangat disayangkan bahwa ia tidak bisa mengeksplor lebih jauh lagi tentang kompleksitas dan detil masalah yang dihadapi masing-masing tokoh. Tetapi, mungkin ini adalah pilihan penulis untuk menyajikan cerita yang cepat, mudah dipahami, dan tidak terlalu bertele-tele. Dan sayangnya lagi, novel ini tidak booming di pasaran karena kurangnya publikasi, atau mungkin karena karya Munif ini dianggap terlalu klise, gaya 70-an sehingga tidak mampu memberikan efek kejut kepada pembaca sebagaimana dilakukan para penulis perempuan. Atau mungkin Yogyakarta sebagai basis lokal kreatifnya, belum mampu menyediakan atmosfer bagi karya-karya seperti ini. Mungkin juga karya-karya seperti ini dianggap bukan merupakan bagian dari mainstream kesusastraan yang hendak diwacanakan oleh ‘para pengendali’ sastra Indonesia. Semua serba mungkin. Dan sayangnya tulisan ini tidak akan membahas persoalan itu, tetapi memaparkan bagaimana kuasa hegemoni yang ada di dalam Cinta oh Cinta.

Kelas dominan dan kelas subordinat

Novel adalah karya sastra dan di dalam karya sastra terdapat sebuah ‘masyarakat’ imajiner yang bisa jadi menyerupai masyarakat yang riil, meskipun tidak sepenuhnya. Terdapat ‘sistem’ dan ‘struktur’ yang tengah berlangsung sehingga muncul juga ‘kelas-kelas sosial’ yang tidak terlalu sulit ditemukan rujukannya dalam masyarakat riil. Kelas dalam pandangan Marxis terdiri dari kelas pemodal dan kelas buruh di mana kelas modal selalu menjalankan relasi-relasi kuasa melalui mekanisme produksi yang berlangsung serta menjadikan kelas pemodal borjuis serba berkuasa dalam segala aspek kehidupan. Ini merupakan pandangan reduksionis yang mengasumsikan kelas pemodal dengan penguasaan terhadap modal dan alat produksinya mampu mengendalikan seluruh kehidupan masyarakat.

Namun dalam pandangan Gramsci, kelas borjuis tidak selamanya menjalankan kuasanya dalam masyarakat secara mulus. Memang benar dengan modal dan alat produksi yang dimilikinya, mereka mampu menjadi sangat berkuasa, tetapi dalam praktiknya, kelas borjuis hanya dengan modalnya tidak selamanya mampu menjalankan relasi kuasanya. Modal memang tetap penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah strategi dan cara hegemonik untuk memperoleh dukungan populer dari kelas-kelas subordinat ataupun kelas oposan dalam masyarakat sehingga mereka tetap bisa menjadi kelas hegemonik.

Dalam Cinta oh Cinta, juga terdapat kelas dominan dan kelas subordinat yang terjalin dalam rangkaian cerita, meskipun secara tersurat penulis tidak pernah menyatakan eksistensi kelas-kelas tersebut. Namun, dengan memahami tindakan, ucapan tokoh yang bersangkutan, maupun cerita tokoh-tokoh lain dalam cerita ini, akan bisa ditemukan keberadaan kelas-kelas tersebut, dengan atribut dan karakteristiknya masing-masing.

Yang termasuk kelas dominan dalam novel ini adalah (1) Karna Rajasa; (2) Handoko, dan; (3) Pak Gun. Karna Rajasa bisa dikatakan sebagai kelas dominan karena ia merupakan pengusaha yang cukup sukses di kota Malang dengan kekayaan modal dan pengaruhnya yang cukup luas di masyarakat. Dalam lingkup keluarga, ia bisa menjadi begitu dominan bagi para anggota keluarganya, antara lain Ramadan dan Dini. Handoko, adalah dosen di UGM yang juga masih terhitung keluarga jauh dengan Dita, mahasiswinya. Ia mempunyai modal finansial dan pengetahuan yang membuat banyak mahasiswa kagum kepadanya. Dengan modal itulah ia bisa menaklukkan Dita dan keluarganya. Sementara Pak Gun adalah pengusaha sukses di Yogya yang dengan kekayaan dan perhatiannya yang cukup mendalam, mampu membuat Tini tunduk dan pasrah dalam kegundahan jiwanya.

Sedangkan yang termasuk dalam kelas subordinat dalam novel ini adalah (1) Ramadan; (2) Bu Guru Tini, dan; (3) Dita. Ramadan, alias Slamet, adalah anak kampung dari Kabuh Jombang yang ditemukan Karna dan diajak pulang ke Malang karena dianggap sebagai anak kandungnya yang hilang entah kemana. Meskipun ia mendapatkan banyak fasilitas dari Karna, sebenarnya ia tidak memiliki modal karena ia bukan anak kandung dari Karna Rajasa. Tini, seorang guru miskin yang cantik tidak punya kuasa apa-apa dalam hidupnya karena ia dipecat dari jabatan tersebut. Ketika Pak Gun datang dengan sekian perhatian dan janji-janji manisnya, ia bisa sedikit melupakan Ramadan dan bisa menerima kasih sayang dari Pak Gun. Dita meskipun anak orang kaya di Jakarta, namun ia ‘tidak mempunyai hak’ atas kehidupannya sendiri dan harus ikut apa-apa yang dikatakan orang tuanya, termasuk dalam hal menikah. Karena kondisi batinnya yang tidak pasti dan karena perhatian dan kasih sayang yang diberikan Handoko, akhirnya ia harus menerima lamarannya dan menikah dengan doktor yang pintar dan kaya itu.

Hegemoni lembut atas nama keluarga, cinta, dan pengetahuan

Hegemoni tidak berlangsung dalam nuansa paksaan dan kekerasan. Sebaliknya selalu berlangsung dalam nuansa negosiasi-negosiasi antara kepentingan kelas hegemonik dan kelas subordinat. Sebuah kelas bisa menjadi hegemonik ketika mampu mengartikulasikan kepentingan kelas-kelas lain ke dalam kepentingannya juga sehingga menjadi sebuah kepentingan yang dikesankan sebagai kepentingan bersama. Dengan demikian, kekuasaan mereka menjadi natural dan semakin mendapatkan dukungan dari kelas-kelas lain dalam masyarakat. Kelas dominan ini akan tetap bisa berkuasa selama mereka mampu terus menjalankan strategi artikulasi dan penciptaan kepentingan atau budaya bersama dalam masyarakat; kelas pemimpin. Namun ketika sudah memasukkan kekerasan dalam relasi kuasa, maka akan muncul counter-hegemony yang dengan keras akan mengkritisi dan melawan hegemoni yang ada.

Karna Rajasa adalah kelas dominan yang mampu menjadi kelas pemimpin dalam waktu yang cukup lama. Ia mampu meyakinkan banyak orang, dan juga Slamet, bahwa anaknya yang hilang telah kembali ke rumahnya. Slamet berhasil diyakinkan oleh Karna sebagai anaknya sendiri, dan Slamet tidak berani menolak semua itu karena ia merasa sudah berhutang budi kepada Karna dan mendapatkan banyak fasilitas untuk kebahagiaannya. Berikut penuturan Slamet kepada ibu dan kakak kandungnya ketika ia berhasil menemui mereka di Kabuh.

….Di jembatan itulah ia ketemu dengan orang yang tiba-tiba mengakui ia sebagai anaknya. Mula-mula ia membantah. Tetapi lelaki itu tetap pada pendiriannya……laki-laki yang membawanya itu bernama Karna Rajasa, orang kaya yang memiliki kebun apel dan beberapa toko. Ia dibawa ke rumah besar dengan perabotan mewah. Kampung yang hanya setengah kilometer dari kota Malang itu gempar. Ramadan putera Pak Karna Rajasa yang tigabelas tahun sebelumnya hilang ditemukan kembali…………

“Apakah waktu itu kamu tidak ingin pulang, Met?”

“Setelah keluarga Karna tidak percaya cerita itu, aku tidak lagi menyinggung-nyinggung masalah itu. Keluarga Pak Karna sangat gembira karena aku sudah sembuh dari stress.

“Lalu?”

“Lalu aku ingin melupakan semuanya. Aku berpikir bukankah menjadi anak dalam keluarga kaya itu hidupku lebih enak. Kalau aku kembali kemari hidupku akan susah. Bertahun-tahun aku merasa hidup kecukupan. Aku tidak pernah lagi menceritakan asal-usulku kepada siapapun. Sebab kalau aku cerita toh tidak akan ada yang percaya. Namun barangkali karena aku juga sudah semakin enggan meninggalkan hidup enak”. (Munif, 2005: 139-141)

Pernyataan Ramadan bahwa ia sudah berusaha untuk mengatakan tentang jatidiri yang sebenarnya dan kesenangan tinggal di rumah Karna Rajasa merupakan kontradiksi yang menandakan kegundahannya sebagai manusia. Namun, pada akhirnya ia berkepentingan juga untuk menjadi orang kaya yang hidup serba kecukupan. Keinginan inilah yang dibaca oleh Karna. Ia memberikan kenikmatan dan kesenangan sebagaimana yang didambakan oleh semua orang miskin. Dengan memberikan semua fasilitas layaknya orang kaya, ia bisa menyingkirkan keragu-raguan Slamet tentang jatidirinya selama lebih dari 13 tahun. Lebih dari itu, ia mampu meredam kemungkinan protes dari Slamet. Akhirnya Slamet merasa menjadi Ramadan dan berarti pula memasukkannya dalam relasi keluarga, di mana Karna bisa menguasai individu Slamet. Meskipun Ramadan tetap merasa sebagai Slamet, namun semua perhatian dan kasih sayang keluarga Karna mampu meredam keinginannya untuk keluar dari relasi keluarga itu. Karena hanya dengan menjadi bagian dari keluarga itu ia bisa kuliah di Yogyakarta tanpa kendala finansial dan bisa mengendarai motor Harley Davidson yang mahal itu.

Berbeda dengan Karna yang melangsungkan hegemoninya dengan cara memberikan fasilitas yang dibutuhkan si miskin Slamet, Pak Gun menggunakan posisinya sebagai Direktur untuk memenangkan hati Tini yang menjadi karyawannya setelah dipecat dari SD. Ia tidak hanya menggunakan jabatannya tetapi juga kata-kata manis yang mampu meluluhkan ingatan romantis Tini dengan Ramadan. Berikut paparan penulis tentang kondisi itu.

Maka sejak saat itu Bu Guru Tini mencoba melupakan Ramadan. Apalagi ia mulai merasakan perhatian yang besar dari Pak Gun, bossnya itu. Pertahanan hati seorang perempuan akan bobol juga jika mendapat godaan terus-menerus. Bu Guru Tini adalah perempuan yang sebenarnya haus kasih sayang. Maka sore itu Bu Guru Tini sudah berada di rumah makan bersama Pak Gun. Mula-mula ia hanya rikuh saja dan menolak ajakan laki-laki itu. Tapi kata-kata Pak Gun yang manis membuat perempuan lembut itu terlena. Ia menolak halus ketika Pak Gun mengelus punggung tangannya. Tapi itu hanya awalnya. Setelah itu ia sama sekali tidak menolak bossnya itu menciumnya di dalam mobil ketika ia diantar pulang. Untuk sesaat bayangan Ramadan muncul di benaknya. Namun hanya sekilas saja. Serangan Pak Guru yang gencar itu berhasil mengusir bayangan Ramadan (Munif, 2005: 121, italic, pen).

Perhatian yang diberikan Pak Gun dengan mengajaknya ke rumah makan dengan sembari mengucapkan kata-kata manis jelas menjadikan Tini luluh. Ia adalah perempuan yang haus kasih sayang. Dalam kondisi ini memberikan perhatian berupa kata-kata manis akan menjadikan perempuan mudah terlena dan masuk dalam relasi kuasa yang dimainkan laki-laki. Pak Gun berhasil memadukan kharismanya sebagai seorang boss yang kaya raya dengan peristiwa-peristiwa romantis yang sengaja diciptakannya untuk menguasai pikiran dan perasaan Tini. Dan ia berhasil. Tini tidak kuasa lagi menolak lagi ketika si boss mulai menciumnya. Pak Gun sadar benar bahwa yang dibutuhkan perempuan dalam kondisi seperti Tini adalah siraman-siraman kasih yang diwujudkan dalam tindakan-tindakan lembut, seperti mencium, bukan semata-mata materi.

Bahkan ketika dorongan untuk memberontak terhadap relasi kuasa dalam keluarga Karna yang diwujudkan melalui cintanya kepada Dini, Ramadan tetap saja harus menemui kenyataan bahwa ia tetap dianggap sebagai anak Karna sendiri. Ia dilarang keras untuk mencintai Dini, ‘adiknya sendiri’ (Munif, 2005: 210-211). Bahkan ketika pemberontakannya diwujudkan dengan tidak pulang sama sekali, toh ia tetap luluh dan tidak bisa menolak untuk pulang ketika Karna berkirim surat kepadanya dan menceritakan keinginannya untuk bertemu dengan Ramadhan. Ramadan akhirnya mengatakan bahwa ‘ia masih anak Karna Rajasa’ tetapi ia minta kepada Karna agar memberinya kebebasan untuk menemui ibunya yang masih hidup (Munif, 2005: 246). Di tambah dengan omongan ibunya yang malah mendukung larangan Karna karena kebaikan yang selama ini diberikan, Ramadan akhirnya lebih memilih untuk melupakan Dini serta memilih untuk menjadi suami dari Tini, yang tengah hamil tua (Munif, 2005: 247). Pak Gun juga sering memberikan pujian atas apa-apa yang diperbuat oleh Tini: “Apa-apa mau. Minuman apa saja yang Jeng Tin buat pasti segar” (Munif, 2005: 123).

Di samping itu Pak Gun juga memberikan janji untuk menikahi Tini:

“Kapan, Mas?”

“Pasti aku belikan, Jeng Tin.”

“Tidak Mas Gun, saya tidak ingin menuntut apa-apa dari Mas Gun. Tapi apakah hubungan kita tidak segera kita resmikan? Aku tidak tahan dengan omongan tetangga. Dan makin lama rasanya dosa kita semakin menumpuk saja, Mas.”

Gunawan tertawa.

“Jangan khawatir. Kita tunggu saja waktu yang tepat.”

“Tapi saya khawatir.”

“Memang, tapi jangan sekarang, ya?”

Dengan itu semua Pak Gun akan mudah untuk mengendalikan Tini sehingga ia tidak akan pernah menolak ketika diajak bercinta. Di sinilah bertemunya kepentingan untuk menguasai perempuan dari seorang laki-laki dengan kepentingan untuk disayangi serta mendapatkan kepastian masa depan. Dan Tini sebagai perempuan telah mengamini relasi-relasi kuasa dari Pak Gun dengan menikmati permainan-permainan yang diciptakannya serta meyakini janji-janji manisnya.

Hampir sama dengan apa yang dilakukan Pak Gun terhadap Tini, Handoko juga berusaha menaklukkan cinta Dita dengan perhatian-perhatian yang tidak pernah diberikan Ramadan kepadanya. Realitas Handoko yang masih termasuk kerabat dari keluarga Dita menjadikan kedua orang tuanya ingin menjodohkannya dengan Handoko. Pada awalnya Dita bersikeras untuk menolak rencana perjodohan itu karena ia masih mengharapkan cinta Ramadan. Namun karena tidak kunjung memberikan kepastian, maka kesempatan itu digunakan oleh Handoko untuk datang ke Jakarta dan melancarkan strategi-strategi hegemoniknya kepada Dita. Apalagi pada dasarnya, ia sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua Dita.

Mula-mula Dita acuh tak acuh dan cenderung mengajak Handoko beretorika tentang apa artinya cinta. Namun karena Handoko adalah doktor yang pintar, ia bisa mengimbangi retorika yang diajukan Dita dan menumbuhkan keraguan dan kebimbangan dalam diri Dita akan kebenaran cintanya kepada Ramadan.

Apakah Ramadan mencintainya? Lelaki itu sampai sekarang masih diam. Ramadan memang akrab dengan semua orang. Tapi mahasiswi mana di Universitas Nusantara yang tidak akrab dengan Ramadan? Ramadan memang akrab dengan semua orang. Memikirkan Ramadan, Dita putus asa, lalu, hatinya membisikan: Kalau Handoko serius kenapa harus menolak? Pikiran yang begitu saja datang……Tidak urung, Dita yang biasanya keras sedikit demi sedikit jadi luluh. Gadis itu tidak menolak ketika malamnya di teras yang berlampu temaram Handoko menciumnya…Dosen filsafat dan sosiologi itu masih muda, meskipun wajahnya tidak terlalu tampan. Ada kesimpatikan di wajahnya. Kalau memberi kuliah sangat memikat. Bicaranya selalu menunjukkan bahwa ia orang yang pandai. Analisa-analisanya tentang berbagai hal sering muncul di koran. Handoko juga sering memberi ceramag. (Munif, 2005: 190-191)

Sekali lagi perempuan diposisikan dalam kondisi yang terombang-ambing, lemah, dan kurang memiliki ‘kekuatan’ dalam memutuskan apa yang sebenarnya baik untuk dirinya sendiri. Kesabaran Handoko yang rela menyimpan cintanya selama 2 tahun memberikan nilai pertimbangan tersendiri bagi Dita. Perhatian, kasih sayang, dan kepandaiannya menarik, membuat Dita mulai melupakan Ramadan. Handoko mampu membaca kepentingan batin Dita yang mendambakan kepastian cinta dari seorang laki-laki. Dan Handoko memberikan itu semua. Dalam kondisi tanpa paksaan, akhirnya Dita lebih mengakui keunggulan Handoko dibanding Ramadan serta menerimanya sebagai suaminya.

Naturalisasi hegemoni patriarkal

Dengan menggunakan perspektif hegemoni, seorang pengkaji sastra populer bisa juga bisa menemukan hegemoni ideologi tertentu di balik sebuah karya, bukan hanya di antara para tokoh fiktifnya. Ini merupakan upaya dari kelas dominan dalam masyarakat untuk menggunakan medan budaya populer sebagai penyemai dan penentu dukungan populis bagi ideologi yang mereka yakini. Di balik hamparan teks yang sederhana dari sastra populer, bisa ditemukan ‘sisipan-sisipan’ ideologi tertentu yang dikesankan secara natural sehingga sangat mungkin pembaca untuk mengiyakan kebenaran ideologi tersebut. Hal itu menjadi sangat mungkin karena penulis merupakan anggota dari masyarakat yang di dalamnya terdapat ideologi. Dan sangat mungkin pula ia, secara sadar atau tidak, menjadi bagian dari ideologi itu sehingga ia memasukkan kebenaran ideologi ke dalam karya-karyanya. Contoh ini bisa dengan mudah kita temukan dalam Cinta oh Cinta.

Kenyataan teks yang menempatkan Tini dan Dita dalam posisi subordinat dengan segala kegundahan, kebimbangan, dan keinginan-keinginan untuk mendapatkan kejelasan tentang cinta dan masa depannya, merupakan gambaran riil betapa perempaun tidak berdaya menghadapi rayuan dan kuasa ideologi patriarkal yang masih terus berlangsung dalam masyarakat. Perempuan dalam pandangan laki-laki adalah makhluk yang begitu lemah, kurang menggunakan akal sehatnya, dan mudah terombang-ambing sehingga mereka butuh sesuatu yang sifatnya tegas, mengasihi, dan memberikan suasana damai, yang itu semua dimiliki oleh laki-laki.

Pencitraan posisi subordinat perempuan dalam masyarakat patriarkal, bisa kita temukan dari paparan yang disampaikan secara terbuka oleh penulis melalui tokoh Handoko beirkut.

“Pak Handoko belum tahu siapa Dita secara mendalam.”

“Ah, kamu perempuan. Itu saja yang aku ketahui. Dan aku mencintaimu. Mau apa lagi? Dan aku tahu betul perempuan pada umumya. Kesuakaan-kesukaannya, keinginan-keinginannya dan mimpi-mimpinya.”

“Pak Handoko sudah berpengalaman?”

“Perempuan saya pikir tidak banyak berbeda, bagi yang berpengalaman atau belum. Ada seorang ahli ilmu jiwa mengatakan, ia sudah 30 tahun hidup dengan perempuan, tapi ia tidak pernah mengerti siapa perempuan itu. Lantas untuk apa susah-susah Dita? Bagi saya perempuan itu suka dipuji, gampang terpengaruh dan mudah dirayu. Itu saja.”

“Bapak membuat saya tidak sempat berpikir. Menolak atau menerima.” (Munif, 2005: 195-196)

Dialog di atas dengan jelas memaparkan bagaimana sejatinya posisi perempuan dalam konstruksi relasi sosial yang masih dikuasai oleh kelas hegemonik, bernama laki-laki. Perempuan sebenarnya bisa dengan begitu mudah ditaklukkan ketika laki-laki memberikan janji-janji manis maupun rayuan-rayuan sehingga membuat ia harus mengakui keunggulan rasionalitas laki-laki. Serasional atau seintelek apapun perempuan, pada dasarnya ia tidak bisa lepas dari kuasa hegemonik laki-laki ketika ia membutuhkan kapastian tentang masa depan dan membuatnya tidak berdaya.

Penegasan hegemoni patriarkal terhadap perempuan juga bisa ditemukan dalam relasi yang terbangun antara Pak Gun dan Tini. Sekuat apapun ia mempertahankan rasionalitasnya sebagai mantan guru SD yang banyak mengajarkan ilmu dan pekerti kepada murid-muridnya, ia tetap harus mengakui ketidakberdayaannya ketika Pak Gun mengajaknya bercinta.

Bu Guru Tini menarik nafas lagi. Hatinya luluh dan memandang Gunawan yang agak memelas. Wanita itu mendekat kemudian ambruk di dada laki-laki itu. Gunawan mengelus rambutnya.

“Rambutmu wangi.”

Dan rambut itu diciumnya.

“Kita pergi Jeng Tin?

“Ke tempat biasanya, Mas?”

Gunawan mengangguk.

“Kapan kita akan berhenti dari dosa ini? Kapan kita menjadi orang-orang yang wajar. Mas, setiap kali kita pulang dari tempat itu rasanya sejuta dosa bertambah lagi dalam diri saya.”

Gunawan tetap mengelus rambut dan mencium leher perempuan itu.

“Kita pergi ya?”

Bu Guru Tini tengadah. Matanya berkaca-kaca.

“Kita pergi?”

Bu Guru Tini mengangguk akhirnya. Apa yang bisa ia perbuat kalau sukma dan keperempuannya sendiri memang menuntut untuk pergi. Untuk sesaat memang terjadi pertempuran. Tapi seperti biasanya, hati nurani selalu terdesak ke pinggir. (2005: 125-126)

Paparan di atas seperti ingin mengatakan, ‘ya, begitulah perempuan. Mau diapakan lagi, kalau hasrat untuk dicintai dan bercinta mengalahkan rasionalitasnya.’ Memang setiap manusia mempunyai hasrat tersebut, tetapi dalam kasus perempuan, mereka selalu berada dalam posisi terdesak dan tidak akan mampu menolak ajakan-ajakan yang sebenarnya merugikan mereka secara sosial dan batin. Sekali, lagi, itulah perempuan, makhluk lemah yang harus dilindungi dan disayangi serta, tentu saja, dipenuhi hasrat, mimpi, dan keinginan-keinginannya. Dan, lagi-lagi, laki-laki memang mampu memberikan itu semua.

Dua contoh di atas semakin menegaskan kepada kita, betapa penulis dengan ungkapannya yang lugas mampu menemukan dan memunculkan alasan-alasan psikis kenapa perempuan ‘memang sudah semestinya’ dihegemoni oleh laki-laki. Alasan-alasan psikis yang melemahkan potensi kekuatan mental perempuan itu, rupa-rupanya biasa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan banyak perempuan—bahkan dari golongan terpelajar—yang secara tidak sadar mengamini kelemahan-kelemahan psikis mereka sendiri dengan masuk ke dalam relasi kuasa bersifat manusiawi dalam kuasa laki-laki. Kalaupun pada akhirnya Tini hamil di luar nikah, itu bukan semata-mata karena kebrengsekan Gunawan, tetapi juga karena ketidakmampuannya sebagai subjek subordinat untuk menggunakan rasionalitas.

Karya ini, dengan demikian, telah menjadi bagian dari aparatus hegemonik yang berusaha menyebarkan dan menaturalisasi kebenaran ideologi patriarkal dalam masyarakat Indonesia. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari konteks sebagian besar masyarakat yang masih membenarkan patriarki sebagai kekuatan ideologis dan praksis, baik atas nama tradisi ataupun agama. Inilah yang menarik untuk terus dikaji karena di balik sebuah karya sastra yang begitu sederhana logika ceritanya ini, kuasa hegemonik tengah berlangsung dengan cara yang begitu mudah, apa adanya, dan natural. Dan ini pula yang lepas dari kajian para kritikus yang cenderung masuk dalam mainstream sastra feminis yang begitu serius. Mungkin kesederhanaan dan kelugasan cerita terbitan Yogya ini kurang menarik untuk dikaji secara ilmiah. Namun, dari yang sederhana dan lugas itulah, sejatinya terdapat sesuatu yang luar biasa, yang sering dianggap biasa, dan itu dinamakan penyebarluasan ideologi patriarki.

* Artikel ini merupakan tugas matakuliah Sastra Populer ketika saya menempuh S2 Kajian Budaya dan Media UGM, 2006-2008.

Bacaan pendukung

Bennet, Tony. 1986.”Introduction: ‘the turn to Gramsci’ dalam Tony Bennet, Colin Mercer, and Janet Woollacott (eds). Popular Culture and Social Relations. Philadelpia: Open University Press.

Gans, Herbert J.1974. Popular Culture and High Culture.New York: Basic Books Inc.

Mouffe, Chantal.1981. “Hegemony and Ideology in Gramsci”, dalam Tony Bennet, Graham Martin, Collin Mercer, & Janet Woolacott. Culture, Ideology, and Social Process. Batsford: The Open University Press.

Munif, Ahmad.2005. Cinta oh Cinta.Yogyakarta: Binar Press.

Storey, John.1993. An Introductory Guide to Cultural Theory and Popular Culture.Hertfordshire: Harvester Wheatsheaf.

Gambar cover diunduh dari: https://eng307womenwriters.wordpress.com/tag/mary-astell/

Share This:

About Ikwan Setiawan 123 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*