Budaya Kalang Budaya Asli Jawa: Tentang Festival Budaya Kalang

Wong Kalang Blora
Peradaban asli Blora
Dengan Budaya Tinggi
Yang Sudah ada sejak
Masa Prasejarah[1]

Suara Wong Kalang dari Sudut Jatirogo

Di tengah hutan Jatirogo, Tuban, tepatnya KPH Kebonharjo, Festival Budaya Kalang berlangsung selama dua hari, pada 9-10 September 2017. Dalam suasana hutan dengan pohon yang rindang, berdiri panggung 12 x 10 m dengan soundsystem lengkap. Tampilan panggung dihiasi dengan akar-akaran pohon dan ranting kayu. Di depan panggung ada beberapa glondong kayu, kelihatan seperti hiasan, namun juga digunakan sebagai tempat duduk penonton di hari pertama, Dengan rajutan ranting pohon, di atas panggung tertulis FESTIVAL BUDAYA KALANG.

Sekitar 4 meter, sebelum memasuki tempat acara, ada sebuah resto makan. Di belakangnya ada musholla dan kamar kecil. Di sana digunakan tempat mandi dan sholat untuk panitia dan peserta yang tampil, khususnya peserta dari luar kota. Di depan mushola ada lapangan tenis, namun di situ juga digunakan anak-anak muda main sepak bola. Ketika sudah memasuki  tempat acara, sekitar 5 meter dari batas masuk, di kiri jalan ada tempat untuk parkir sepeda motor. Di sebelahnya ada lapak bertenda tempat beberapa pedagang berjualan, antara lain jualan bakso, cenderamata dan warung kopi. Berjalan sedikit ke depan, ada beberapa kera yang dikurung. Beberapa orang kerap terlihat memberi makan kera terebut. Berjalan sedikit lagi sebelah kanan jalan ada gardu dan pondok kayu, yang digunakan peserta penampil untuk istirahat dan berias.

Hari pertama acara dimulai pada malam hari sekitar pukul 19.30. Acara dibuka dengan penampilan campursari dan musik gamelan oleh Sanggar Gaung Prana Jati. Setalah penampilan sekitar 45 menit, lalu disusul dengan kata sambutan. Festival Budaya Kalang adalah acara yang diadakan oleh Sanggar Gaung Pranajati Sekaran Kecamatan Jatirogo Tuban kerjasama dengan Perhutani KPH Jatirogo, serta para pemerhati Kalang dari Tuban, Rembang dan Blora.

P9090671P9090664

Penampilan musik Campursari oleh Sanggar Gaung Pranajati

Budaya Kalang sudah banyak diteliti oleh para ahli. Wong Kalang diyakini sebagai nenek moyang orang Jawa. Keberadaan wong  Kalang tersebar di sepanjang sisi utara dan selatan Pulau Jawa. Acara ini berangkat dari semangat banyaknya sebaran situs Kalang yang mengalami pembiaran dari pemangku kebijakan sekaligus maraknya penjarahan situs Kalang. Situs makam Kalang umumnya tersebar di sekitar Perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, seperti di Cepu dan beberapa wilayah di Blora, Tuban dan Bojonegoro “Melalui acara ini, kami ingin mewujudkan budaya Kalang di Tuban, karena budaya Kalang adalah budaya nenek moyang kita. Festival Budaya Kalang yang pertama kali diadakan ini semoga menjadi acara tahunan dan juga bisa diadakan di Blora dan Bojonegoro” tutur Pak Sugiarto dari Gaung Pranajati sekaligus Ketua Panitia. Acara ini juga merupakan perayaan 12 tahun berdirinya sanggar Gaung Pranajati. Anggran biaya acara ditanggung secara swadaya dari sanggar Gaung Pranajati.

Saya meyakini bahwa Kalang, pulau Jawa, Hutan Jawa dan Perhutani pasti ada satu tarikan garis lurus. Semoga gagasan untuk membuat museum Kalang bisa direalisasikan di Jatirogo ini. Warga Jatirogo mesti mengetahui apa itu Kalang, dan diwariskan ke generasi berikutnya untuk “nguri-uri” (merawat/melestarikan) budaya kata ADM Kebonharjo, pak Imin dari Perhutani.

P9090680

Seni Barongan

Acara Festival Kalang pada malam hari pertama kebanyakan diisi oleh seni tradisi antara lain campursari, musik gamelan, barongan dan kuda lumping. Keseluruhan penampil di acara ini tak hanya berasal dari Tuban, tetapi juga dari luar Tuban antara lain, yakni dari Selendang Wangi (Dewan Kesenian Kampus, Universitas Jember), Saung Swara (Salatiga), Sekrtaji (Yogyakarta), Log Sankskrit (Yogyakarta), Ganesa Bakti Pertiwi (Karangkates), Agus Riyanto (Batu) dan Komunitas Walikukun (Tulungagung). Ada juga penampil dari luar negeri, yakni Arrington de Dionyso (Amerika) dan Gilles Saisi (Perancis).

 

Wong Kalang, Wong Asli Jawa

Esoknya, pada pagi hari, jagongan budaya Kalang diadakan di bawah pohon-pohon rindang. Di belakang tempat diskusi ada rumah pohon. Banyak anak muda-mudi sedang main di rumah pohon. Di sisi barat ada kegiatan melukis alam, beberapa pelukis terlihat sedang melukis hutan, gunung dan sungai. Tempat diskusi pada malam sebelumnya digunakan untuk tempat karaoke dengan tariff Rp.1000 per lagu. Sound karaoke semalam digunakan untuk pengeras suara untuk yang berbicara di diskusi. Tepat di belakang pembicara dan moderator diskusi, ada yang berjualan buku. Beberapa buku yang dijual antara lain Babad Pacitan, Napak Tilas Wong Kalang Bojonegoro, dan beberapa sastra/ antologi puisi Jawa. Kebanyakan terbitan dari Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegro (PSJB)

Peserta diskusi berjumlah sekitar 30an orang, antara lain berasal dari berbagai komunitas pemerhati budaya Kalang, pihak Perhutani, wartawan dan mahasiswa dari Dewan Kesenian Kampus, Universitas Jember.

P9100682 P9100687

Suasana Jagongan Budaya Kalang

Menurut J.F.X Hoery dari Pamasurdi Sastra Jawi Bojonegoro, Kalang adalah sebutan sekelompok atau suku yang hidup di pulau Jawa, khususnya perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka hidup pada zaman pra sejarah sampai sekarang. Manusia Kalang hidup di gugusan gunung Kendeng Utara, Kendeng Tengah maupun Kendeng Selatan (pantai selatan). Ada dugaan wong Kalang sudah ada sebelum agama Hinduk masuk ke Jawa. Mereka adalah penduduk yang hidup di hutan dengan sistem berpindah-pindah. Wong Kalang merupakan masyarakat pribumi yang sangat tua. Ketika agama Hindu masuk mereka digolongkan masuk kasta Sudra. Wong Kalang punya kemripan ciri dengan wong Lingga, yakni orang pribumi berciri pendek, badan kecil, kulit coklat, rambut ikal. Mereka pakai celana dalam terbuat dari kulit pohon waru atau kulit binatang. Mereka hidup di goa, makan buah-buahan, binatang buruan dan ikan.

Di Kawengan ada situs makam Kalang. Kawengan disebut di serat Centhini sebagai Kawangen sebagai Banjar atau pelabuhan besar. Budaya Kalang memang asli Jawa. Wong Kalang kerap disebut anake kethek (anaknya kera), punya ekor, untuk mendiskreditkan wong Kalang. Wong Kalang meskipun berinteraksi dengan kelompok lain masih bertahan dengan tradisinya. Hal ini terlihat dari makamnya, yang membujur dari timur ke barat, arah matahari terbit ke matahari terbenam. Sekarang banyak artefak dan makam Kalang diburu. Sudah ada pengepulnya dan pembelinya. Meskipun situs sudah ada penjaganya namun tetap sulit menjaganya. Pak Maduki sendirian menjaga makam yang jumlahnya ratusan di Kawengan. Setiap musim perhutani melakukan tanam-tebang tapi tidak memperhatikan situs sejarah. Ada situs makam yang diatasnya persis ditanami Jati. Seharusnya makam Kalang dijadikan Cagar Budaya. Orang Jawa punya sejarah sendiri, sebelum orang lain datang ke Jawa, Jawa sudah ada penduduknya, salah satunya wong kalang, tutur pak Siswo.

Menjawab keluhan pak Siswo, ADM Kebonhanjo, Pak Ismin mengatakan perlu komunikasi yang baik antara orang yang paham budaya dan sejarah dengan orang Perhutani. Dalam sistem Perhutani ada LDTI (Lahan dengan Tujuan Istimewa). Semestinya jika ada situs dalam radius tertentu diberi batas (border). Sebenarnya orang perhutani belum banyak tahu tentang semua situs, maka dari itu komunikasi yang baik dengan masyarakat perlu terus dilakukan untuk kepentingan bersama.

P9090654 P9090656

Beberapa peninggalan wong Kalang

Kembali ke pembahasan budaya Kalang, pak Widodo menyinggung bahwa sebenarnya manusia kalang sangat dekat dengan budaya hindu. Mereka punya tradisi Obong (pembakaran mayat). Pada saat Mataram Islam berkuasa, wong Kalang dipekerjakan dalam bidang arsitektur dan perabot. Orang kalang punya keahlian hias dan seni. Pernah ada insiden wong Kalang di lingkungan kerajaan. Salah satu orang Kalang melarikan putri Raja. Sang raja yang marah kemudian membuat opini publik bahwa perilaku wong kalang seperti hewan anjing. Hal ini berlanjut pada keturunannya yakni orang Samin. Orang Samin kerap diolok-olok. Saat samin melakukan pergerakan melawan belanda di Jatirogo, masyarakat sini termakan pandangan buruk orang Samin berperilaku buruk dan penjarah hutan. Sehingga perjuangannya tidak berhasil di Jatirogo, kata pak Widodo.

Seorang peserta diskusi Sugayo Jawama, seorang wartawan yang mengamati hutan Jawa sejak tahun 1986, menyatakan ketertarikannya pada budaya Kalang. Ia bercerita melalui riwayat awal Jati. “Mbah saya gendong pamannya dengan kecepatan loncat 80km/jam. Dahulu, khususnya di hutan ada manusia malam dan siang. Manusia malam punya radius lompatan ratusan kilometer, sedang manusia siang 10-30 kilomter pakai kuda. Manusia malam bergerak di atas pohon, sedangkan manusia siang di bawah pohon. Saya punya dua teori tentang orang Kalang. Pertama , orang Kalang adalah orang yang didatangkan dari India, yang terampil di bidang perkayuan untuk membuat kapal, mereka juga terampil di alas. Kedua yakni orang India yang kawin dengan pribumi dan jadilah wong kalang. Orang kalang dianggap tertinggal, teruji kekuatannya. Mereka orang asli, perawat hutan.” tutur Sugayo Jawama.

Sekarang orang (turunan) Kalang yang kentara ada di daerah Kelapan, Blora. Mereka menjaga kuat tradisinya. Itulah yang membedakannya dengan masyarakat lain. Mereka jujur, lurus. Mereka sekarang dikenal sebagai orang Samin, tutur penjual Bakso Timbul Jaya.

 

Gagap dengan Budaya Kalang dan Masyarakat Jatirogo

Pentas hari kedua dimulai pada malam hari. Sebelum dimulai, sore hari di sekitaran tempat acara terlihat pengunjung bermain-main dengan kera dalam kandang. Ada anak sedang mengendarai motor offroad mengelilingi sebuah lapangan. Sekitar 20 meter di belakang panggung, ada orang-orang yang sedang menggarap seni mural.

P9100690P9100692

Penampilan Sendratari Kebo-Keboan dari Dewan Kesenian Kampus, Universitas Jember

Malamnya pentas dibuka dengan penampilan Selendang Wangi, yang mementaskan sendratari Kebo-Keboan, denga ilustrasi musik gamelan Banyuwangian. Para penonton berduyun-duyun mendekati panggung. Setelah itu disusul dengan penampilan teatrikal, kemudian disusul dengan musik instrumental. Kebanyakan penampil berasal dari luar kota, juga ada yang dari luar negeri. “Masyarakat sini masih belum umum mas dengan musik seperti itu. Biasanya masyarakat sini sukanya seni tradisi, wayang atau campursarian. Malam ini tak seramai malam hari pertama yang sangat ramai. Perlahan penonton pulang sebelum pertunjukan usai”, tutur penjual bakso Timbul Joyo, yang berdagang di sekitar acara.

P9100695P9100700

Penampilan teatrikal

Barangkali itu musik untuk anak muda, musik kota zaman sekarang. Bonil dari Log Sankskrit (Yogyakarta) mengaku senang bisa tampil di acara Festival Budaya Kalang. Acara seperti ini bagus untuk menggerakkan anak muda sekitar biar lebih kreatif. Semoga acara ini bukan hanya bisa mengembangkan musik tetapi juga seni-seni kreatif yang lain.

P9100698

 

Penampilan musik instrumental

Setelah pentas usai, pada tengah malam, saya beranjak pulang bersama dengan rombongan penampil dari Dewan Kesenian Kampus menuju Jember. Sesaat sebelum berangkat terdengar teriakan beberapa orang di sudut mushola. Mereka berlari menuju hutan. Ketika menuju batas keluar tempat acara, pak supir, Eko, yang sebelumnya dari mushola, mengatakan bahwa “Itu tadi ada maling. Mungkin resto ini yang kemalingan”. “Acara ini mungkin belum bisa mengkondisikan preman-preman di sini. Ada pengunjung yang mengeluh. Hari pertama pengunjung ditarik Rp 2.000, pada hari kedua mereka ditarik Rp 5.000”, tutur Iral, penampil dari Jember. Mobil Elf kami berlalu dengan melihat orang-orang yang berlarian mengejar maling tersebut.

Keterangan Kutipan

[1] Tulisan kaos, bagian belakang, salah satu peserta diskusi Budaya Kalang dalam rangkaian acara Festival Budaya Kalang

Share This:

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*