Peradaban posmodern: Kembalinya pesona dunia dalam sastra

HAT PUJIATI

 

Download versi PDF

Salah satu hasil peradaban modern adalah cara pandang biner, ketika ada pemikiran lain dari modernisme maka ia akan dikategorikan sebagai oposan dari modern itu sendiri. Modern menjadi pusat, yang lahir sebelum modern disebutnya sebagai tradisional, yang lahir setelah kehadirannya menjadi pos-modern. Perihal bila yang tradisional adalah yang dieksklusi oleh modern dan cenderung inferior daripada modern, posmodern lebih dipandang sebagai kondisi, gerakan atau peradaban ‘setelah’ modern. ‘Setelah’ (post) pada kata ‘modern’ menghadirkan posisi biner antara modern dan posmodern. Namun demikian, posmodern yang asalnya lahir dari kekecewaan pada dampak modernisme, perang dunia sebagai puncaknya, tidaklah takluk pada klasifikasi modern. Secara ontologis, ia menekankan multiplisitas yang tumbuh dan berkembang dalam pemikiran posmodernisme bukan dalam bentuk pasca-modern yang terputus, tetapi sebagai organisme (Pamela Alen).Walau pun pada akhirnya, organisme sebagai model dari keterhubungan modern dengan posmodern ini dipertanyakan lagi, karena posmodern dipandang sebagai sesuatu yang baru, yang menentang keterhubungan. Pemikiran posmodern terus berkembang dari beragam sudut pandang, menghadirkan keberagaman dan multiplisitas.

Postmodern Zeitgeist by contemporary artist Francis Berry, postmodern painter

(http://www.postmodern-art.com/postmodern_art_21.html)

Dalam tulisan ini saya pun masih mengurutkan posmodern dari modern, juga menghadirkan yang tradisional. Bila modern cenderung menginferiorkan tradisi, posmodern memberi ruang pada keduanya. Sub-sub judul pada artikel berikut memberikan ruang pada tradisi dalam konteks biner dari modern tapi juga ruang pada perayaan tradisi dan moden  di bawah payung postmodern.

Eksklusi modern pada tradisi: Hilangnya pesona dunia (disenchantment of the world)

Ketika alam dianggap sahabat, diperlakukan sebagai bagian dari semesta yang menjadi milik manusia, ikatan antara alam dan manusia ini mengakar dalam wujud budaya. Manusia dan alam merasa saling terikat yang menimbulkan kesadaran psikis akan ikatan keduanya dan timbullah pesona (enchantment). Akan tetapi, Revolusi Scientifik abad 16-17, melalui sekat-sekat rasionalitasnya justru mengasingkan manusia dengan alam sehingga memutus pesona dunia yang tadinya ada dalam kesadaran manusia atau dunia psikisnya (Berman:1981;16-17). Descartes sebagai pengusung cikal-bakal pemikiran rasional yang berakibat pada kemajuan ilmu pengetahuan telah membuat manusia terkotakkan dengan kekhususan pengetahuannya dan menjadikan dirinya sebagai penguasa alam. Dengan demikian alam diposisikan sebagai objek sementara manusia sebagai subjek. Reifikasi terhadap segala bentuk yang terpikirkan oleh subjek, pada perkembangan berikutnya, seisi alam menjadi objek. Demikian pula manusia di dalamnya sehingga manusia teralienasi. Alienasi alam dengan manusia menghadirkan hilangnya pesona dunia (disenchantment). Weber menggambarkan disechantment of the world sebagai putusnya spiritualitas manusia dengan tuhan. Disenchantment of the world  dikatakan Weber sebagai berikut:

…the knowledge and belief that in principle there were no mysterious and incalculable forces that matter, but that all things in principle could be controlled by calculation. …unlike the primitive for whom such forces did exist you don’t have to use magical means to control or influence the ghosts. Technical means and calculation do it. (Weber dalam Max Preglau, 2003:25-6).

(…pengetahuan dan kepercayaan yang prinsipnya tidak mempercayai adanya kekuatan-kekuatan misterius dan tidak kalkulatif, tapi segala sesuatunya adalah terkendali oleh kalkulasi. …tidak seperti orang primitif yang yang menganggap kekuatan misterius dan yang tak dapat dikalkulasi itu ada, tetapi kamu tidak perlu menggunakan alat magis untuk mengendalikan atau mempengaruhi hantu-hantu. Alat-alat teknis dan kalkulasi lah yang melakukannya untukmu.)

Kepercayaan-kepercayaan dan pesona alam menghilang dengan penjelasan ilmiah, terukur atau rasional. Pendewaan pada rasionalitas semakin tegas dalam gambaran hilangnya pesona dunia pembacaan Weber dan muncullah economic man yang kehilangan tuhannya. Ritual keagamaan dan hubungan sosial hanya menjadi rutinitas yang tinggal cangkang tanpa hubungan mengikat antara manusia dengan tuhannya.

Postmodern Title by contemporary artist Francis Berry, postmodern painter

(http://www.postmodern-art.com/postmodern_art_26.html)

Rasionalitas yang garing spiritualitas membuat manusia ada dalam masa carut marut secara psikologis menghadapi kenyataan-kenyataan bermata ganda dan tak memenuhi harapan. Apa yang ditutupi modernisme dengan keterpusatannya dan reifikasinya yang ternyata mengalienasi manusia akhirnya diumbar kembali tetapi dengan perubahan-perubahan sesuai pencapaian perkembangan pikir manusia yang tak dapat dipungkiri dari era modern yaitu rasionalitas. Pada gilirannya pesona itu dihadirkan kembali- re-enchantment of the world.

Kapitalisme lanjut dan kembalinya pesona dunia

Perkembangan teknologi dalam peradaban manusia mempunyai andil signifikan. Posisi logika sebagai pemegang aturan main, menggiring manusia pada inovasi tiada batas, pengetahuan berkembang pesat. Perkembangan teknologi menjadi konsekwensi dari keadaaan tersebut. Lebih lanjut lagi, cara produksi masyarakat pun berubah yang berarti perubahan pada sistem ekonomi dunia (Faruk: 2001; 27).

Perubahan perspektif pada tanah berubah, Eropa mengalami Revolusi Industri sebagai akibat dari perkembangan teknologi dan pengetahuan. Produksi masal pun menjadi peluang penampungan kapital bagi produsen. Dunia tiba-tiba menjadi riuh karena semua menjadi pasar. Reifikasi ideologis juga dikomodifikasi sehingga masyarakat berubah signifikan dalam gelombang peradaban. Teknologi elektronik dan transportasi membuat globalisasi tak terbendung lagi (Faruk: 2001; 27), ruang dan waktu termampatkan, kapitalisme pun melibatkan masyarakat dunia dalam arus perubahan global tersebut.

Related image

(http://groundzeromongkok.blogspot.co.id/2011/03/chinese-postmodernity-chinese-popular.html)

Ketika gelombang perubahan melaju, cara-cara manusia berinteraksi, berbicara dan mempersepsi segala sesuatu dalam kehidupan sehari-hari juga berubah. Abstraksi-abstraksi kehidupan yang dilakukannya juga berubah. Dengan demikian kebudayaan masyarakat berubah. Peredaran barang yang mengglobal dan cara-cara menikmati hidup juga memiliki bentuk-bentuk baru.  Hubungan tanda-penanda beranjak dari semula. Jean Boudrillard menguraikan efek psikologis dari perubahan-perubahan kultural yang juga merupakan kelanjutan dari perubahan-perubahan moda produksi. Menurutnya, pergeseran makna itu terjadi dalam 4 tahap dan akhirnya peristiwa-peristiwa hanyalah simulasi-simulasi yang menghadirkan hiperrealitas; kesadaran palsu terasa lebih nyata dari kenyataan sebenarnya dan sulit dibedakan mana yang lebih nyata. Jadi kapitalisme pada puncaknya mengembalikan pesona dunia melalui teknologi.

Fiksi posmodernis

Gelombang perubahan yang masiv dalam peradaban masyarakat dunia juga terjadi pada wujud karya seni sebagai ekspresi anggota masyarakatnya. Karya sastra sebagai rekaman peradaban turut memeriahkan keriuhan dan kecarut marutan gelombang perubahan. Pemikiran-pemikiran filosofis dalam menerima peradaban muncul dalam bentuk puitik yang terbuka terhadap banyak kemungkinan bahkan kerab mengaburkan teks dan konteks. Brian McHale mencoba menstrukturkan fiksi posmodernis yang antistruktur sebagai praktik kebahasaan di dunia yang serba mungkin, dalam temuan-temuan baru media ekspresi dan moda informasi yang juga tak kalah masif menimbulkan perubahan.

Penghadiran dunia-dunia paranormal, the uncanny, dunia samping menurut McHale dalam Postmodernist Fiction adalah salah satu cara menghadirkan dominan ontologis dalam sastra postmodern. McHale membedakan posisi filosofis pemikiran dalam sastra ditentukan oleh dominan epistemologis dan ontologis. Sastra modernis dipimpin oleh dominan epistemologis yang berkaitan dengan pengetahuan, sementara sastra posmodernis menurutnya adalah yang dipimpin oleh dominan ontologism. Permainan mode-mode keberadaan (ontologis) dalam sastra dibangun dengan pembangunan dunia plural (Wolrds), kata-kata (Words), dan Konstruksi. Bila dunia paranormal dan keanehan-keanehan dalam fiksi itu dibawa pada konsep Weber sebelumnya, maka saya menilai itu sebagai bentuk pesona dunia yang dihadirkan kembali, yaitu pesona dunia bukan yang berasal dari peradaban tradisional, melainkan yang telah melampaui modernism atau disebut Bowman sebagai Reenchanment of the world. Reenchantment of the world yang merupakan konsep sosiologis diterjemahkan oleh McHale sebagai paranormal atau uncanny sementara Wendy B. Faris dalam Ordinary Enchantment: Magical Realism and the Remystification of Narrative menggarisbawahinya dengan kata Magical atau magis yang berarti di luar kenormalan. Dalam bukunya tersebut dia mengkategorikan lima penciri sastra realisme magis. Pertama, teks mengandung elemen magis tak tereduksi. Kedua, teks detil menghadirkan dunia penomenal yang kuat. Ketiga, teks membangun keraguan pada pembaca dari peristiwa yang kontradiktif. Keempat, narasi memunculkan realm yang berbeda. Kelima, realisme magis mengganggu penerimaan ide akan waktu, ruang dan identitas  (Faris, 2004:7). Dari pengklasifikasian pada lima ciri tersebut Faris memetakan posisi magical realism sebagai posmodernisme dan juga sebagai poskolonialisme. Realisme magis akan tergolong posmodern terkait dengan pluralitas dunia yang dibangunnya, penghancuran narasi besar, rasionalitas dan irasionalitas yang simultan hadir mengacaukan ruang dan waktu yang meragukan. Sementara bila realisme magis muncul sebagai strategi kedirian untuk melampaui batas-batas antara Barat dan Timur, asumsi-asumsi kebenaran yang dibangun kolonialis teks tersebut ada dalam kanopi poskolonial. Namun, kedua posisi tersebut masih berpotongan dalam konteks posmodern terkait dengan penghancuran narasi besar, pluralitas, dan strategi. Dengan demikian, teori posmodernis yang diajukan McHale sejalan dengan apa yang diajukan Faris dan saya masih menengarai keterhubungan re-Enchantment of the World dengan paparan McHale dan Faris. Hal ini menegaskan bahwa yang terjadi di tataran konseptual, yang abstrak seperti yang kerab dibicarakan dan perdebatkan dalam karya sastra, terhubung dengan yang ada di dunia nyata. Fenomena-fenomena kebudayaan di era tenologi dan informasi yang terus tumbuh saat ini, yang nyata, juga kembali diabstraksi, dipahami, diuraikan melalui jalur-jalur konseptual. Dunia tak habis menebar pesona bagi manusia yang menghuninya. Rekaan-rekaan virtual yang semula begitu utopis dalam karya sastra, film dan seni lainya kemudian dinikmati sebagai kenyataan dalam theme parks seperti yang dicontohkan Baudrillard. Teknologi membuat kita melihat diri palsu dalam dunia nyata namun menikmati kepalsuan semacam aplikasi-aplikasi beautyplus di Android. Manusia saat ini juga menikmati dunia gemerlap dan hedon tetapi break untuk menjalankan ritual religiusnya dan kembali dalam ajib-ajibnya. Sebagian dari kita juga mengadakan syukuran atas keberhasilan yang dicapai dengan usaha keras kita melalui jalur logis, namun bersyukur pada Tuhan yang (magis) karena telah membuat kita berhasil. Artinya, peristiwa ini merupakan perpaduan yang realis dan magis, postmodernman tidak berjejak pada satu posisi secara utuh. Maka sekali lagi, menurut saya pesona itu kembali lagi dengan memadukan logika yang bisa ditelusuri dalam kenyataan (realita) dengan yang magis.

Related image

(http://www.pomoculture.org/)

Jean Baudrillard dari paradigma sosiologis berbicara mengenai hiperrealitas terkait dengan hal yang tidak sepenuhnya nyata, yang mempesona, namun kerab dianggap nyata. Teknologi dianggap memberikan lonjakan-lonjakan kekaguman atau pesona sementara di waktu  yang sama hal itu disadari sebagai ciptaan yang tidak mampu dinalar logis namun peristiwa dinikmati sebagai peristiwa ‘nyata’. Simulasi-simulasi yang membentuk simulacrum menghadirkan hiperrealitas, menciptakan keterputusan antara tanda dan penandanya. Manusia postmodern ditengarainya sebagai manusia psyzhoprenic karenanya. Dengan demikian saya melihat permasalahan yang diangkat dalam cerita-cerita posmodern dengan menggunakan teknik-teknik penulisan dan penghadiran ‘ada’ itu sebagai bentuk psyzhoprenic masyarakat posmo yang memberikan ruang anything goes, sebagai masyarakat yang selalu berstrategi dan bernegosiasi dalam prosesnya “menjadi”. Maka McHale, Faris, Weber, Berman, dan Baudrillard menurut saya terhubung, apa yang berkembang dalam sastra tidak dapat dilepaskan dari peradaban manusianya. Melalui bahasa, sastra merekam peradaban, sastra menceritakan sejarah pemikiran manusia bukan sekedar peristiwa cerita pengalaman.

* Makalah disampaikan Sekolah Kritik Budaya, 18-19 Mei 2017, Aula Perpustakaan Daerah Jember, diselenggarakan Matatimoer Institute.

Daftar Bacaan

Allen, Pamela. 2004. Membaca, dan Membaca Lagi; [re]presentasi Fiksi Indonesia 1980-1995. Terjemahan Bakdi Soemanto. Magelang: Indonesia Tera.

Baudrillard, Jean. 1994. Simulacra and Simulation. Michigan: University of Michigan Press.

Berger, Peter.L dan Thomas Luckmann. 1966. The Social Construction of Reality: A Treatise in the Sociology of Knowledge. Maryland: Penguin Books.

Berman, Morris. 1981. The Reenchantment of the World. London: Cornell University Press

Curry, Pattrick. 1999. Magic Vs. Enchantment. (dalam Journal of Contemporary Religion, vol.14 Num) Cammeray, NSW: Carfax Publishing, Taylor & Francis Ltd.

Faris, Wendy B., 2004. Ordinary Enchantments: Magical Realism and the Remystification of Narrative. USA: Vanderbilt University Press.

Faruk. 2001. Beyond Imagination.Yogyakarta: Gama Media

Gablik, Suzi. 1992. The Reenchantment of Art. London: Thames and Hudson Inc.

Hutcheon, Linda. 1992. A Poetic of Postmodernism. New York and London: Routledge.

Lyotard, Jean-Francois. 2009. The Posmodern Condition: A Report on Knowledge (Kondisi Posmodern: Suatu Laporan Mengenai Pengetahuan, penerjemah Dian Vita Ellyati). Surabaya: Selasar Surabaya Publishing

McHale, Brian.1987. Postmodernist Fiction. New York & London: Routledge

Nicol, Bran. 2002. Posmodernism and the Contemporary Novel: A Reader. Edinburg: Edinberg University Press Ltd.

Payne, David. 2005. The Reenchantment of Nineteenth-Century Fiction: Dickens, Thackeray, George Eliot, and Serializatin. New York.: Palgrave Mcmillan

Preglau, Max. 2003. Disenchantment and Re-Enchantment of the World; Inscapable Dialegtics? dalam Religion, Society and Economics: Eastern and Western Perspectives in Dialogue seri XXIII Theology.Frankfurt am Main: Peter Lang GmbH- Europaischer Verlag der Wissenschaften.

Piliang, Yasraf Amir. 2003. Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Bandung: Jalasutra.

Schneider, Mark A..1993. Culture and Enchantment.Chicago: The University of Chicago Press.

Wrong, Dennis. 2003. Max Weber: Sebuah Khazanah. Yogyakarta:Ikon Teralitera.

Akses data dari internet

Jenkins, Richard. 2000. Disenchantment, enchantment and re-enchantment: Max Weber at The Millennium, dalam jurnal Max Weber Studies, vol. 1 (2000) no. 1, pp. 11-32. diakses di http:// www. maxweberstudies. org/1.1pdfs /1.1% 2011-32.pdf pada tanggal 26 Oktober 2008 pukul 5.40 WIB

Klages, Mary. Berupa materi kuliah elektronik untuk mahasiswanya di Colorado University, yang dipublikasikan di situs resmi Colorado University : http:// www.colorado. edu/English/ courses/ENGL 2012Klages/pomo.html. diunduh pada 14 November 2008 pukul 17.56 WIB.

Lyotard, Jean-Francois. The Postmodern Condition diakses dari http:// www.marxists.org/reference/subject/philosophy/works/fr/lyotard.htm pada tanggal 26 Agustus 2009 pukul 9.06 WIB yang dikutip dari The Postmodern Condition (1979) publ. Manchester University Press, 1984.

Gambar cover diakses dari: http://churchandpomo.typepad.com/conversation/2009/07/speculative-grace-spinoza-immanence-affect.html

Share This:

About Hat Pujiati 6 Articles
Hat Pujiati adalah peneliti di Matatimoer Institute, juga pengajar di Jurusan Sastra Inggris Fak. Ilmu Budaya Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*