Psiko-Kebudayaan: Freud dan Lacan

YONGKY GIGIH PRASISKO

 

Download tulisan versi PDF

Psiko-kebudayaan Sigmund Freud

Munculnya psikoanalisis Freud

Pada abad ke 19, khususnya di Jerman, psikologi muncul sebagai disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Psikologi bertugas menganalisis kesadaran seseorang. Pada waktu itu, tercatat satu aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme, yang digawangi oleh Wilhelm Wundt, seorang psikolog Jerman yang mendirikan laboratorium psikologi pertama di Leipzig pada tahun 1879. Pendirian laboratorium ini membuatnya dianggap sebagai bapak psikologi modern. Psikologi ini menekankan pada kesadaran yang tersususn dari elemen-elemen struktural yang berhubungan erat dengan proses pada oran-organ pancaindra. Psikologi strukturalisme ini juga kerap disebut psikologi elementalisme. Selain menenkankan elemen-elemen dasar, Wund dan para psikolog lain pada waktu itu juga melihat kesadaran sebagai aspek utama kehidupan mental. Segala sesuatu atau proses yang terjadi dalam diri manusia dianggap bersumber pada kesadaran.[1]Kesadaran turut menjadi tema pokok dalam semangat pencerahan pada abad 18 – 19. Mulai dari Descartes, Leibniz sampai Kant. Mereka berusaha memberikan dasar-dasar kesadaran pada subjek.

Related image

(http://www.servellu.it/blog/2014/05/psicoanalisi-del-voto/)

Sigmund Freud lahir dalam masa tersebut. Sigmund Freud lahir di Freiberg, Moravia, Jerman, pada tahun 1856, dan melewatkan sebagian besar masa hidupnya di Wina, Austria, sekaligus meraih gelar medisnya di sana pada tahun 1881. Freud menerbitkan tulisan pertamanyaOn the Physical Mechanism of Histerical Phenomena(1893), bersama dengan Josef Breuer. Karya tersebut ditulis setelahFreud menyelesaikan pelatihan medisnya di bawah bimbingan J.M. Charcot. Tahun 1895 Freud dan Breuer menerbitkan lagi karya Studies on Hysteria, yang kadang waktu penerbitannya dianggap sebagai awal lahirnya psikoanalisis. Setelah terbitnya karya tersebut, Freud mulai berselisih pandangan dengan Breuer. Freud kemudian mulai berkawan dengan Wilhem Flies, seorang dokter Berlin yang berperan sebagai kolaborator untuk pikiran-pikiran Freud yang baru berkembang. Akhir tahun 1890an adalah masa krisis kepribadian dan isolasi profesional Freud, yang mengakibatkan putusnya hubungan Freud dengan Flies.

Pada awalnya, pemikiran Freud sulit diterima dan banyak ditentang di masanya. Tahun 1884-1885, Freud melakukan eksperimentasi dengan kokain. Kokain dianggapnya memiliki khasiat sebagai obat anestisia yang efektif. Namun ia kecewa ketika kawannya, Carl Koller, yang mendapat penghargaan karena khasiat anestesik obat tersebut. Freud kemudian beralih dengan mempelajari histeria. Kesempatan ini ia dapatkan selama bekerja dengan Charcot di Paris. Dalam pandangan para dokter waktu itu, histeria hanya dialami oleh perempuan akibat posisi rahim yang berpindah-pindah (wandering uterus). Tetapi pada tahun 1886, Freud menyajikan makalah tentang histeria pria pada suatu perhimpunan dokter. Hasilnya kebanyakan dokter yang hadir tak memberi respon yang baik. Saat itu Freud merasa kecewa atas usahanya yang ditentang oleh dokter-dokter lain karena mempertahankan kokain dan keyakinannya terhadap faktor-faktor seksual dalam neurosis. Freud kemudian mendekati Breuer dan menerbitkan karya bersama Studies on Hysteria. Lagi-lagi ia kembali berselisih pandangan. Pada akhir tahun 1895 sampai awal 1896 proyek karyanya Project for Scientific Psychology, dianggap gagal dan tak dilanjutkan. Di tahun-tahun berikutnya, ia mengalami krisis kepribadian. Ia kemudian memilih menganalisis dirinya sendiri. Ia menganalisis mimpi-mimpinya sendiri setelah kematian ayahnya tahun 1896. Freud berusaha membangun pemikirannya lagi dalam usahanya untuk memberikan sumbangsih ilmiah yang penting. Salah satunya penemuannya tentang penyebab neurosis adalah seduksi terhadap anak yang dilakukan oleh orang tua. Tetapi pada tahun 1897, ia berfikir bahwa teori seduksinya tidak bisa dipertahankan lagi.[2]

Image result for psychoanalysis freud

(http://www.biography.com/video/sigmund-freud-psychoanalysis-19664963886)

Dalam masa-masa krisis kepribadiannya, ia berhasil menyelesaikan karyanya yang luar biasa, The Interpretation of Dream (1900). Buku ini banyak memuat analisis tentang mimpi-mimpi Freud sendiri. Pada awal penerbitannya, buku ini tidak menimbulkan kegemparan internasional, tetapi pada akhirnya buku ini mengantarkannya memperoleh reputasi dan pengakuan yang selama ini dicarinya. Setelah lima tahun semenjak penerbitan buku tersebut, Freud mulai percaya diri dan menulis beberapa karya penting yang memperkokoh dasar teori psikoanalisisnya antara lain:On Dreams(1901), Psychopathology of Everyday Life(1901), Fragment of an Analysis of a Case of Hysteria (1905), On Psychotherapy(1905), Three Essays on the Theory of Sexuality(1905), Jokes and Their Relation to the Unconscious (1905). Karya-karya tersebut membuat Freud menjadi dikenal di lingkungan ilmiah dan kedokteran. Pada akhir tahun 1902, Freud bersama rekan-rekannya membentuk Wendnesday Psychological Society, dan pada tahun 1908 nama perkumpulan ini berubah menjadi Vienna Psychoanalitic Society. Pada tahun 1906 Freud bergabung dengan Eugen Bleuler,C.G. Jung serta Alfred Adler. Pada tahun 1910 mereka mendirikan The International Psychoanaliycal Association, dengan Jung sebagai ketua. Tak lama berselang, Jung dan Adler meninggalkan asosiasi ini karena menolak teori Freud bahwa fenomena psikologis memiliki asal-muasal yang bersifat seksual.[3]

Di tengah atmosfer pemikiran yang menekankan pada kesadaran, Freud mengembangkan pemikirannya tentang alam bawah sadar. Freud menekankan bahwa sebenarnya alam bawah sadarlah yang menjadi dorongan manusia dalam bertindak dan beperilaku, dalam proses pertumbuhan dan pekembangannya.

Psikoanalisis dan kebudayaan

Perihal psikoanalisis kaitannya dengan kebudayaan dan peradaban, tertuang pada karya-karya akhir Freud antara lain; Totem and Taboo (1918), The Future of an Illusion (1928), Civilization and Its Discontents (1930) dan Moses and Monotheism (1939).Freud menganggap kebudayaan sebagai proyeksi dari dorongan alam bawah sadar. Dalam TotemandTaboo, Freud membahas bagaimana pola perkembangan mental manusia yang membentuk peradaban. Totem merupakan hewan tertentuyang dianggap sakral dan diidentikkan dengan suatu suku atau klan, oleh karena itu ia tidak boleh sembarangan dibunuh atau dimakan, kecuali hanya untuk ritual khusus. Anggota suku dengan totemyang sama dilarang kawin dengan sesama anggota.[4]Totem juga diberlakukan untuk menjaga garis keturunan dari ibu. Freud menganggap bahwa totem yang berisi pembatasan/pelarangan dan aturan hubungan antarsuku dan anggotanya merupakan gejala neurosis yang merepresi dorongan seksual manusia. Sedangkan soal tabu, Freud mmperkenalkan konsep ambivalensi dan proyeksi. Seseorang, dalam bawah sadarnya, menghasrati objek tertentu yang dianggap tabu, tetapi konvensi kultural melarangnya. Tabu kemudian diinstitusionalisasi melalui seperangkat kultur, yang mengasosiasikan dengan konsep setan dan kedewaan. Institusionalisasi ini merupakan mekanisme pertahanan diri yang mereduksi gejala neurosis.[5]

Dalam karya Moses and Monotheism, Freud mulai berbicara tentang agama, khususnya Yahudi Menurutnya Musa berasal dari bangsa Mesir dan penganut Arkhenathen, agama monoteis Mesir. Pada masa krisis di Mesir, Musa berhasil melarikan budak. Namun akhirnya ia dibunuh oleh para pemberontak. Beberapa tahun kemudian para pemberontak merasa menyesal dan bersalah. Dari perasaan bersalah inilah Yahudi kemudian menjadi agama, untuk menyelesaikan/meredam perasaan penyesalan mereka.[6]

Agama dan kepercayaan juga menjadi bahasan dalam Future of an Illusion. Freud menganggap agama sebagai sebuah ilusi. Agama diyakini berdasar tiga hal; pertama, karena nenek moyang kita sudah meyakininya; kedua, karena kita diceritai bukti-bukti secara turun-temurun dari jaman dahulu; ketiga, agama tidak boleh dipertanyakan/diragukan otentisitasnya. Secara psikoanalisis, keyakinan ini menunjukkan fenomena pemenuhan keinginan. Keinginan yang berdasar insting seksual, tentang kejayaan, kekayaan, kebahagiaan dan keabadian. Freud juga menyebut Tuhan sebagai cermin kerinduan manusia akan keutuhannya (Oedipus Complex).[7]

Dalam karya lain, Civilization and Its Discontents, Freud membahas tentang proses terbentuknya peradaban manusia. Freud mengembangkan teorinya tentang represi, superego, perasaan bersalah dan insting angresif.[8] Freud menunjukkan adanya antagonisme antara tuntutan insting individu dengan pembatasan/aturan dalam peradaban. Represi digunakan sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri untuk melanggengkan efektifitas fungsi sosial di masyarakat.

Kelengkapan konsep Freud

Konsep-konsep psikoanalisis yang dikembangkan Freud menemukan kelengkapannya pada karya-karya akhirnya antara lain: General Introduction to Psychoanalysis (1910), Wit and Its Relation to the Unconscious (1916), Beyond the Pleasure Principle (1922), Collected Papers (1924-1925), New Introductory Lectures  on Psychoanalysis (1933) dan An Outline of Psychoanalysis (1949). Setidaknya ada beberapa konsep kunci, antara lain perihal teori kepribadian, teori perkembangan individu dan mekanisme pertahanan diri.

1. Teori kepribadian

Dalam mengembangkan teorinya, Freud memberikan dasar/prinsip tentang alam bawah sadar. Pada tahun 1920, ia menerbitkan karya Beyond Pleasure Principle(1920) yang memberikan dasar pada alam bawah sadar. Alam bawah sadar merupakan dorongan insting yang terdiri dari insting seksual (Eros) dan insting kematian (Thanatos). Eros merupakan insting mengkombinasikan/menyatukan partikel-partikel kehidupan, sedangkan thanatosadalah inting membuyarkan atau merusaknya. Tegangan eros dan thanatos berada dalam wilayah id, yang memberikan energi atau dorongan terhadap ego.Ia menyempurnakan teori tersebut dalam karya The Ego and the Id pada tahun 1923. Ego merupakan wilayah yang dipengaruhi oleh persepsi (inderawi).[9]Ego mengikuti prinsip kenyataan (reality principle) dan berfungsi sebagai kontrol dalam proses pemuasan kebutuhan. Ketika ego mulai menginternalisasi norma sosial dan nilai moral, maka kemudian berkembanglah superego.Superego bekerja atas dasar prinsip moralistik [10], ia tidak berhubungan dengan dunia luar, sehingga tuntutannya bersifat ideal, tidak realistis.

2. Teori perkembangan

Secara garis besar Freud menjelaskan tahap perkembangan kepribadian individu menjadi tahap oral, tahap anal, tahap phallus, tahap laten, tahap genital. Tahap oral dianalogikan oleh Freud dalam pengalaman samudra (oceanic experience), yakni pengalaman akan keutuhan, keluasan dan ketaktebatasan. Pada tahap ini sang anak merasa menyatu dengan tubuh ibu, tidak ada pembeda yang memisahkan dirinya dengan dunia luar. Kenikmatan dalam tahap ini terletak pada mulut, yang dipraktikkan ketiika ia menyusu pada ibunya. Berikutnya, tahap anal, yakni ketika seorang anak sudah mengenal dunia luar, yang memisahkan dirinya dengan realitas di luar dirinya. Pada tahap ini kenikmatan terletak pada tindakan menghancurkan sesuatu.Kemudian tahap phallus yakni ketika anak mulai mengenali dirinya punya palus atau tidak, yang kemudian menyadari perbedaan laki-laki dan perempuan. Lalu tahap laten, yakni ketika insting seksual dialihkan pada hal-hal tertetentu seperti minat atau hobi. Terakhir, tahap genital merupakan tahap dengan basis kenikmatan pada alat

Setiap peralihan tahap perkembangan yang dialami individu mengandaikan adanya represi. Freud membagi dua macam represi dalam tahap perkembangan diri, yakni represi primer dan sekunder. Represi primer terjadi ketika peralihan antara tahap oral ke tahap anal. Represi primer diandaikan Freud sang anak mengalami pengalaman yang disebut dengan Oedipus Complex yakni ketika ia mengalami keterpisahan dengan tubuh ibunya. Keterpisahan ini membuat sang anak terus mengingini ibunya karena menginginkan pengalaman keutuhan. Selanjutnya represi sekunder terjadi pada peralihan tahap ana ke tahap genital. Represi sekunder mensyaratkan individu mengikuti aturan, norma atau nilai di masyarakat, dengan merepresi dorongan-dorongan instingnya.[11]

3. Mekanisme pertahanan diri

Ketika manusia berhadapan dengan realitas atau dunia di luar dirinya, maka ia, secara psikis, dituntut untuk memiliki mekanisme pertahanan dalam agenda untuk terus bertahan hidup (survival). Mekanisme pertahanan diri banyak diuraikan oleh Freud, namun anak perempuannya Anna Freud yang menyusun dan menyaring konsep pertahanan diri. Beberapa diantaranya adalah represi, pembentukan reaksi, pemindahan, sublimasi, fiksasi, regresi, proyeksi dan introyeksi.

Represi artinya menekan rangsangan/tuntutan id (insting) yang begitu besar, untuk dikembalikan pada alam bawah sadar. Insting yang terus ditekan memungkinkan untuk muncul ke kesadaran dalam bentuk lain, bahkan rangsangannya bisa mempengaruhi secara fisik. Insting yang ditekan juga kerap muncul di dalam mimpi, karena pada saat kita tertidur, filter ego (kesadaran) melemah. Orang yang terlalu kuat merepresi insting alam bawah sadar menyebabkannya mengalami neurosis.

Reaksi berarti penyamaran dorongan-dorongan yang muncul karena direpresi, dalam bentuk yang sebaliknya kepada suatu objek. Ketika kita mencintai seseorang, tetapi kondisi sosial dan realitas tidak memungkinkannya, perasaan itu akan direpresi dan diubah menjadi benci terhadap orang tersebut, namun dalam kadar yang berlebihan.

Sublimasi berari mengalihkan tuntutan-tuntutan insting ke dalam bentuk lain, yang kerap bisa diterima secara sosial dan kultural. Freud juga menjelaskan bahwa sublimasi merupakan kemampuan mengalihkan insting seksual ke dalam kanal non-seksual. Sublimasi mennganti insting tujuan genital ke tujuan budaya dan sosial, seperti karya-karya budaya kreatif seperti kesusastraan, kesenian atau musik.

Fiksasi adalah mekanisme pertahanan dengan menempatkan insting pada tahap perkembangan yang primordial. Kenikmatan pada mulut pada tahap oral, yang dialami anak pada saat menyusu ibunya, akan dilakukan melalui berbagai kegiatan dengan melibatkan organ mulut, seperti merokok atau banyak berbicara.

Regresi hampir mirip dengan fiksasi tetapi lebih bersifat temporal/sementara. Ketika seseorang mengalami kecemasan pada level perkembangan selanjutnya, maka ia ingin tetap pada tahap sebelumnya, karena merasa aman dan nikmat. Orang yang terus menerus nyaman di tempat tidur, bisa jadi ia ingin merasakan pengalaman berada di janin ibunya dulu.

Proyeksi merupakan strategi mengatasi kecemasan dengan menghubungkan dorongan insting dengan objek luar, biasanya pada orang lain. Ia melihat/memproyeksikan diri dan perasaannya dalam diri orang lain.Pada titik ekstrimnya proyeksi berbetuk paranioa, yakni kecemasan yang diakibatkan karena perasaan dikejar-kejar sesuatu, yang dalam alam bawah sadarnya, dia sendirilah yang mengingini sesuatu tersebut.

Introyeksi bekerja dengan memasukkan kualitas-kualitas pada objek luar ke dalam ego nya sendiri. Introyeksi mengembangkan superego, dengan menginternalisasi ego dengan nilai dan norma kultural di masyarakat. Freud menjelaskan introyeksi dini terjadi pada saat merasakan pengalaman Oedipus (peralihan tahap oral ke anal). Introyeksi merupakan tahap awal berkembangnya superego.[12]

Psiko-kebudayaan Jacques Lacan

Jacques Lacan dan perkembangan psikoanalisis di Perancis

Psikoanalisis mulai dikenal di Perancis setidaknya melalui dua jalur. Pertama, melalui pendekatan medis, yang pertama kali diperkenalkan pada tahun, 1925 oleh kelompok evolusi psikiater (Psychiatric Development Group) dan pada tahun 1926, oleh Societe Psychanalytique de Paris (Paris Psychoanalytical Society). Kedua, psikoanalisis diperkenalkan sebagai pendekatan intelektual, para pemikir sastra dan filsafat Avant Garde, yang menggunakan ragam interpretasi Freud satu sama lain.

Dalam bidang medis, pemikiran Freud masuk ke ranah yang terbagi menjadi tiga wilayah. Pertama psikiatri dinamis, yang berasal dari filsafat pencerahan yang direformasi pada awal abad 20 oleh aliran Zurich. Kedua, psikologi yang dikembangkan oleh Pierre Janet, mantan murid Charcot dan rival besar Freud. Ketiga filsafat Henri Bergson, yang pemikirannya menyaring Freud. Tiga wilayah pemikiran ini menjadi bagian dari kultur dominan yang berdasar pada pandangan ideal orang Perancis yang mengklaim dirinya superior atas Jerman, yang dianggap inferior, barbar dan sektarian.[13]

Related image

(http://freudquotes.blogspot.co.id/2014/08/lacan-for-beginners.html)

Selang 5 tahun setelah tulisan pertama Freud diterbitkan, Jacques Lacan, seorang penerus psikoanalisis Freud, lahir pada tahun 1901 di Paris, Perancis dalam keluarga borjuis dalam tradisi katolik yang ketat. Dia dididik di sekolah Jesuit. Setelah lulus, tahun 1927, dia menjalani pelatihan klinis dan mulai bekerja di institusi psikiater. Ia bertemu sekaligus bekerja dengan psikiater yang terkenal Gaetan Gatian de Clerambault. Lacan pertama kali mempresentasikan tulisannya tentang penelitian pasien kepada Societe neurologique pada 4 November 1926, di bawah bimbingan seorang neurologis hebat Theophile Alajouanine. Hari itu secara kebetulan bebarengan dengan pendirian La Societe Psychoanalytique de Paris (SPP). Tahun 1927-1931, Lacan belajar penanganan klinis mental dan gangguan chepalic di Hôpital Sainte-Anne. Pada agustus 1930, dia menjalani kursus dua bulan di klinik Burghölzi. Dua tahun berikutnya, di Henri Rousselle hospital, Lacan mencapai kualifikasi dokter forensik. Lacan mendapat gelarsarjana medis pada tahun 1932, dengan tesis doktoral De la psychose paranoïaque dans ses rapports avec la personnalité (On Paranoid Psychosis in its Relations with the Personality). Iajuga mengembangkan psikoanalisis dengan berkolaborasi dengan gerakan seni dadais dan surealis.Tahun 1934 ia bergabung dengan La Societe Psychoanalytique de Paris (SPP). Tahun 1936 Lacan mempresentasikan makalahnya berjudul “The Mirror State: The Theory of a Structural and Developmental Moment in the Construction of Reality, Conceived in Relation to Psychoanalytic Experience and Teaching,” Tahun 1953, Lacan memberikan seminar rutin di Universitas Paris. Di tahun yang sama, ia keluar dari Psychoanalytical Society of Paris sebagai akibat dari metodenya yang kontroversial. Dia membantu mengembangkan French Society for Psychoanalysis. Pada tahun 1964, Lacan mendirikan L’Ecole Freudienne de Paris (EFP) – Freudian School of Paris. Tahun 1966, Lacan menerbitkan magnum opus nya Ecrit: “Logical Time and the Assertion of Anticipated Certainty: A New Sophism” (1945); “Presentation on Psychical Causality” (1946); “Aggressiveness in Psychoanalysis” (1948); and “The Mirror Stage as Formative of the I Function as Revealed in Psychoanalytic Experience” (1949). Tahun 1980 ia membubarkan, EEP dan membentuk the Ecole for “La Cause Freudienne- Freudian cause.[14]

Karya teoritis pertama Lacan dipublikasikan pada tahun 1936 dengan judul “On the Mirror Stage as Formative of the I.”Dalam tulisannya tersebut, Lacan mengidentifikasi ego sebagai imaji narsistik awal/utama, yang menemukan dirinya berbeda dengan realitas/dunia luar diri. Fase mirror disebut Lacan dialami oleh anak melihat dirinya sebagai sesuatu yang utuh dalam bentuk imaji, yang mulai membedakan dirinya dan dunia eksternal. Fase ini dianalogikan seperti ketika subjek menemukan dirinya yang utuh (gestalt) ketika melihat dirinya dalam cermin. Fase ini juga kerap disebut sebagai fase imajiner.[15]

Selama tahun 1930an, Lacan terus memperkenalkan sekaligus mengembangkan teori Freud yang disampaikan melalui kuliah dan seminar. Lacan mulai dikenal sebagai ilmuwan menonjol ketika mulai mengadakan seminar rutin di Universitas Paris pada tahun 1953. Seminar dan kuliahnya kemudian dipublikasikan pada tahun 1966 berjudul Écrits. Semenjak itulah Lacan mulai tenar. Di dalam Écrits kita bisa melihat susunan konsep psikoanalisis Lacan, yang merupakan pemutakhiran dari teori Freud. Dalam esai “The Function and Field of Speech and Language in Psychoanalysis”, Lacan menjelaskan tentang fase simbolik, tatanan simbolik dan Other. Fase simbolik adalah tahap objektivikasi subjek ke dalam tatanan simbolik. Tatanan simbolik berupa tatanan bahasa dalam dunia sosial, yang mengatur hubungan intersubjektif dan konvensi pengetahuan atau ideologi. Subjek menyerahkan dirinya pada hukum-hukum sosial dan kultural. Lacan membedakan antara other menggunaka huruf ‘o’ kecil, dengan Othermenggunakan huruf ‘O’ besar. ‘other’ adalah liyan hasil objektivikasi diri pada tatanan simbolik. Sedangkan Other adalah liyan yang berupa institusi yang memproduksi dan mempraktikkan fungsi wacana simbolik.[16]

Fase lain yang dijelaskan Lacan adalah fase real. Konsep Lacan tentang alam real bisa dilacak dalam tesis doktoralnya, tahun 1936, yang membahas tentang psikosis. Kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam salah satunya dalam The Four Fundamental Concepts of Psychoanalysis. Alam real merupakan dunia di luar bahasa serta di luar pengalaman yang kerap bersifat resisten terhadap simbolik. Alam real tidak terdiferensiasi, tidak bisa dibayangkan oleh karena itu bersifat tidak terbatas. Alam real memiliki kualitas traumatis dan merupakan pengingat yang terus berulang.[17]

Seperti halnya Freud, tiap peralihan fase-fase tersebut mengandaikan adanya represi. Bagi Lacan, psikoanalisis merupakan irisan antara mental dengan bahasa. Represi diandaikan sebagai proses kastrasi subjek oleh hukum-hukum bahasa. Orang yang terlalu patuh terhadap hukum-hukum bahasa (hukum ayah) mengalami apa yang diebut dengan neurosis. Neurosis bagi orang awam adalah orang “normal”. Orang yang tidak tahan karena terlalu kuat merepresi diri akan mengalami histeria. Gejalanya ada di tubuh. Gejala lain ada di kepala, yang disebut neurosis obsessional. Orang yang mengalami neurosis obsessional akan banyak bicara dan banyak rasionalisasi.[18]Dalam kasus lain, jika subjek tidak mau mengakui atau tidak patuh terhadap hukum-hukum ayah, ia akan mengalami psikosis. Seorang psikosis akan kerap mengalami halusinasi, karena ia ingin tetap berada dalam alam real.[19] Kasus lain yakni perversi, yakni strategi negosiasi, ibarat tahu hukum-hukum ayah tapi tidak melakukannya.[20] Lacan membahas seluruh hal tersebut dalam kerangka struktur psikis manusia.

Kebudayaan sebagai wacana

Teks yang menjelaskan tentang pemikiran Lacan perihal kebudayaan sebagai wacana adalah seminar Lacan, The Other Side of Psychoanalysis.Ia memulai mengkonseptualisasikannya pada tahun 1969, dan kerap dikaitakan sebagai responnya terhadap peristiwa Mei 1968. Lacan menganggap wacana bersifat intersubjektif, penyataan selalu berkaitan dengan yang berbicata dan kepada siapa ia berbicara dan mentransformasi individu menjadi subjek. Pernyataam atau wacana adalah bagaimana kita menghubungkan diri kita sendiri, orang lain, dan dengan dunia. Ada empat hal yang terkandung dalam membaca kebudayaan versi Lacan antara lain psikologis (intrasubjektif), sosial (intersubjektif), lingkungan (ekstrasubjektif).

Dalam sifat tersebut, Lacan membagi wacana menjadi 4 tipe yakni wacana tuan, wacana universitas, wacana histeris dan wacana analis.

Related image

Keterangan:

S : Subjek yang terkastrasi,

S1: penanda tuan, penanda kosong,

S2: petanda (pengetahuan),

a: hasrat.

(Empat tipe wacana Lacan)[21]

 Wacana tuan : penanda tuan sebagai agen mengkomando pengetahuan untuk bekerja, dan menyisakan hasrat yang terepresi.Wacana tuan bersifat mengatur atau memerintah. S1, sebagai agen, bersifat layaknya hukum yang mutlak dipatuhi, dalam artian tidak ada diskursus yang bisa bekerja tanpa hukum S1. Contoh: praktik birokrasi dengan prinsip akuntabilitas (S1) yang memerintah kesadaran/pengetahuan (S2), yang dibalik itu ada kepentingan subjek (S), hasrat (a) menjadi tertekan.

  • Wacana universitas: pengetahuan (ilmu pengetahuan, teknologi), sebagai representasipenanda tuan, adalah agen yang mengirim pesan kepada hasrat untuk bekerja dan menghasilkan subjek yang terkastrasi.Wacana universitas bersifat mendidik (pedagogis/retoris) dan mengindoktrinasi. Pengetahuan diberikan untuk memenuhi hasrat subjek dan subjek berperan melestarikan/menjalankan status quo dari sistem pengetahuan. Contoh: Pengetahuan ilmiah (S2) yang didasari hukum-hukum objektif (S1) mengisi hasrat (a) dan menjadikan subjek terepresi (S).
  • Wacana histeris: subjek,yang merepresentasikan hasrat, mendeterminasi penanda tuan untuk bekerja yang merepresentasikan pengetahuan yang terepresi. Wacana histeris bersifat menghasrati atau memprotes. Wacana histeris mengandaikan subjek menentang hukum-hukum dan merepresi pengetahuan. Gejalanya nampak secara fisik atau pada tubuh. Contoh: Seorang feminis (S)yang memunculkan hasratnya (a) yang terepresi selama ini. Ia menentang hukum-hukum relasi laki-laki dan perempuan (S1) yang mendasari pengetahuan patriarki (S2), untuk memproduksi hukum (S1) dan pengetahuan (S2) baru.
  • Wacana analis: hasrat sebagai representasi pengetahuan memerintah subjek untuk bekerja, menyisakan penanda tuan/kosong yang terepresi.Wacana analis bersifat menganalisis dan mentransformasikan. Dalam wacana analis, subjek berperan untuk mengenali hasratnya sendiri. Contoh:Fantasi (a) berdasar pengetahuan (S2) dari seorang seniman (S) yang menciptakan karya (creation ex-nihilo), yang menekan hukum-hukum penanda (S1), dalam agenda transformasi wacana, norma dan pengetahuan.[22]

Menurut Lacan, dua poin terakhir, wacana histeria dan wacana analis, adalah diskursus kritis yang mampu mendorong perubahan sosial.

* Makalah disampaikan dalam SEKOLAH KRITIK BUDAYA, 18 Mei, di Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember, persembahan Matatimoer Institute.

Catatan akhir

[1] Yustinus Semiun, OFM, Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik Freud, (Yogyakarta:Kanisius,2006), hlm. 41-42.

[2]Ibid, hlm. 47-50.

[3] Ernest Jones, The Life And Work Of Sicmund Freud Volume I, 1856-1900, The Formative Years and the Great Discoveries, (New York: BASIC BOOKS, INC.Publishers, 1953), hlm 162, 283,

[4] S. Freud, Totem and Taboo: Some Points of Agreement between the Mental Lives of Savages and Neurotics, diterjemahkan oleh James Strachey, (London, 1950) hlm. 3

[5]Ibid, hlm.85-86

[6] S. Freud, Moses and Monotheism, diterjemahkan oleh Katherine Jones, (Great Britain: Hogarth Press dan Institute of Psycho-analysis, 1939), hlm. 140-142

[7] S. Freud, The Future of an Illusion, diterjemahkan dan disunting oleh James Strachey, (New York: W.W. Norton & Company. Inc, 1961), hlm.43

[8] S. Freud, Civilization and Its Discontents, diterjemahkan dan disunting oleh James Strachey, (New York: W.W. Norton & Company. Inc, 1961), hlm.85-86

[9] S. Freud, The Ego and the Id, dalam The Complete Psychological Works of Sigmund Freud, (New York:W. W.Norton Company, 1976), hlm. 3962

[10]Ibid, hlm. 3991.

[11] Perihal teori perkembangan individu disarikan dari S. Freud, On Sexuality: Three Essays on the Theory of Sexuality and Other Works, diterjemahkan dan disunting oleh James Strachey, (New York:Penguin Books, 1953).

[12] Perihal mekanisme pertahanan diri disarikan dari Anna Freud, The Ego and the Mechanism of Defense, (New York: International University Press, 1946) dan Yustinus Semiun, OFM, 2006, Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik Freud, Yogyakarta:Kanisius.

[13] Elisabeth Roudinesco, Jacques Lacan, diterjemahkan oleh Barbara Bray, (New York: Columbia University Press, 1997), hlm 16-17.

[14] Ibid, hlm 18-19.

[15] J. Lacan, “The Mirror Stage as Formative of the Function of the/as Revealed in Psychoanalytic Experience” dalam Écrit: A Selction, diterjemahkan oleh Alan Sheridan, (London: Routledge Classic, 2001), hlm. 1-6.

[16] Bruce Fink, A Clinical Introuction to Lacanian Psychoanalysis, (Cambridge:Harvard Universiy Press, 1999) hlm. 232,

[17] J. Lacan, “Of the Network of Signifier”, dalam The Seminar of Jacques Lacan, Book XI: The Four Fundamental Concepts of Psychoanalysis, diterjemahkan oleh Alan Sheridan, diedit oleh Jacques-Alain Miller, (New York: W.W. Norton & Company, 1981), hlm. 42-52.

[18]J. Lacan, The Seminar of Jacques Lacan, Book III: The Psychoses, 1955-1956, diterjemahkan oleh Russell Grigg, (New York: W.W. Norton and Company, 1997), hlm. 41-42.

[19]Ibid, hlm. 30-32.

[20]Ibid, 310-311.

[21]J. Lacan, The Seminar of Jacques Lacan, Book XVII: The Other Side of Psychoanalysis, (New York: W.W. Norton and Company), hlm. 31.

[22] Penjelasan perihal empat tipe wacana Lacan didapat dari Mark Bracher, Lacan, Discourse and Social Change: A Psychonalytic Cultural Criticism (Ithaca: Cornell University Press, 1993), hlm. 53-73.

Pustaka acuan

Bracher, Mark, 1993, Lacan, Discourse and Social Change: A Psychonalytic Cultural Criticism Ithaca: Cornell University Press.

Fink, Bruce, 1999, A Clinical Introuction to Lacanian Psychoanalysis, Cambridge:Harvard Universiy Press.

Freud, Anna, 1946, The Ego and the Mechanism of Defense, New York: International University Press.

Freud,Sigmund,1939, Moses and Monotheism, diterjemahkan oleh Katherine Jones, Great Britain: Hogarth Press dan Institute of Psycho-analysis.

Freud,Sigmund,1950, Totem and Taboo: Some Points of Agreement between the Mental Lives of Savages and Neurotics, diterjemahkan oleh James Strachey, London: Routledge Classics.

Freud,Sigmund,1953, On Sexuality: Three Essays on the Theory of Sexuality and Other Works, diterjemahkan dan disunting oleh James Strachey, New York:Penguin Books.

Freud,Sigmund,1961, The Future of an Illusion, diterjemahkan dan disunting oleh James Strachey, New York: W.W. Norton & Company. Inc.

Freud,Sigmund,1961, Civilization and Its Discontents, diterjemahkan dan disunting oleh James Strachey, (New York: W.W. Norton & Company. Inc.

Freud,Sigmund,1976, The Ego and the Id, dalam The Complete Psychological Works of Sigmund Freud, New York:W. W.Norton Company.

Freud,Sigmund,1976, The Complete Psychological Works of Sigmund Freud, dikumpulkan oleh Ivan Smith, New York:W. W.Norton Company.

Jones, Ernest, 1953, The Life And Work Of Sicmund Freud Volume I, 1856-1900, The Formative Years and the Great Discoveries, New York: BASIC BOOKS, INC.Publishers.

Lacan, Jacques, 1981, “Of the Network of Signifier”, dalam The Seminar of Jacques Lacan, Book XI: The Four Fundamental Concepts of Psychoanalysis, diterjemahkan oleh Alan Sheridan, diedit oleh Jacques-Alain Miller, New York: W.W. Norton & Company.

Lacan, Jacques,1997, The Seminar of Jacques Lacan, Book III: The Psychoses, 1955-1956, diterjemahkan oleh Russell Grigg, New York: W.W. Norton and Company.

Lacan, Jacques,2001, “The Mirror Stage as Formative of the Function of the/as Revealed in Psychoanalytic Experience” dalam Écrit: A Selction, diterjemahkan oleh Alan Sheridan, London: Routledge Classic.

Lacan, Jacques,2001, Écrit: A Selction, diterjemahkan oleh Alan Sheridan, London: Routledge Classic.

Lacan, Jacques, 2007, The Seminar of Jacques Lacan, Book XVII: The Other Side of Psychoanalysis, (New York: W.W. Norton and Company

Roudinesco, Elisabeth, 1997, Jacques Lacan, diterjemahkan oleh Barbara Bray, New York: Columbia University Press.

Semiun, Yustinus OFM, 2006, Teori Kepribadian dan Terapi Psikoanalitik Freud, Yogyakarta:Kanisius.

Share This:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*