Mesin hasrat dan kreativitas budaya tanpa batas: Menggugat psikoanalisis

GHANESYA HARI MURTI

 

Download artikel versi PDF

Abstrak

Dalam tradisi psikoanalisis, hasrat memiliki status yang negatif sehingga dalam segala aktivitas kebudayaan hasrat dipaksakan agar dapat ditundukkan dalam kode sosial dominan seperti semangat primordial, supremasi etnisitas, patriarki, kode maskulinitas, keyakinan, atau bahkan bentuk – bentuk tradisi tertentu lainnya yang melekat dan sulit dilepaskan pada subjek. Kode sosial tersebut yang mewujud dalam praktik keseharian menjadi cara hidup untuk membedakan apa yang patut dan tidak patut atau dalam psikoanalisis disebut sebagai superego dan the symbolic.  Segala bentuk keyakinan pada tradisi secara fakta nyatanya mengekang kehendak hasrat untuk bertumbuh karena diri tidak diijinkan untuk berbeda ataupun keluar dari tradisi sehingga perubahan diri yang keluar dari tatanan akan dianggap ancaman bagi tradisi yang sudah mapan. Padahal setiap laju hasrat yang dikekang adalah indikasi adanya dominasi karena terjadinya pengentalan kebudayaan yang habis-habisan. Deleuze dan guattari beranggapan berbeda bahwa hasrat adalah energi kreatif dan bukannya negatif karena secara de facto laju peradaban berikut perubahannya justru ditentukan oleh gerak hasrat ataupun kehendak yang selalu berubah. Artinya, hasrat memiliki keinginan untuk keluar dari dominasi dan mencipta realitas baru. Tujuan dari gerak hasrat adalah untuk mengurai sandi mutlak kebudayaan yang membuat masyarakat jatuh pada territory atau stagnansi kebudayaan yang didalamnya menjamin pihak-pihak tertentu untuk tetap berkuasa secara kultural. Deleuze ingin menunjukkan secara realistis bahwa laju kebudayaan bisa berkembang justru karena status hasrat yang menolak untuk dipatuhkan pada kode sosial apapun. Sehingga pergeseran dan perubahan laju peradaban tak lain adalah gerak hasrat yang menggebu karena tidak ingin dinormalisasi oleh superego. Hasrat ataupun kehendak tak ubahnya mesin yang ingin terus memproduksi realitas kebudayaan bukan karena dirinya semena – mena tapi untuk membongkar segala bentuk ketidakberesan sosial. Laju pembebasan hasrat tersebut kemudian dikenal sebagai deteritorialisasi yaitu usaha untuk lepas dari segala kekuasaan yang mengekang dan menubuh, territori, yang dirawat oleh psikoanalisa. Demi menunjukkan posisinya yang berseberangan dengan psikoanalisa maka Deleuze dan rekannya Guattari menawarkan model schizoanalisa, yang berarti menjamin segala kehendak agar mampu keluar dari rezim dominasi sekaligus membongkar rezim budaya agar mampu diurai ulang dan menemukan bentuk baru yang lebih kreatif, berbeda dan membebaskan.

Katakunci: Deterritorialisasi, Hasrat, Kebudayaan, Dominasi, Schizoanalisa

Mencabar psikoanalisis, mitos Oedipus dan subjek yang selalu kekurangan

Pembahasan hasrat dalam paradigma Deleuze harus dimulai dengan tradisi filsafat psikoanalisa yang menggangap kemampuan hasrat cenderung merusak dan negatif sehingga perlu dikategorisasi melalui formulasi Odiepus[1] yang tak lain adalah usaha anak untuk bersatu dan menginginkan tubuh ibu demi menemukan keutuhan asali. Hasrat dengan begitu adalah tabu dan harus dilarang. Bertentangan dengan itu, desire atau hasrat bagi Deleuze dan Guattari bukanlah logika kekurangan atau lack[2] atas objeknya melainkan sebaliknya, subyek lah yang kehilangan hasrat karena terepresi, sehingga subjek juga terepresi. (Deleuze dan Guattari, 2000:2).Penggunan logika hasrat ini menyoal tradisi psikoanalisa ala Odiepan yang selalu mencari pendasaran dari masa lalu. Hal ini menjadi tidak lagi logis karena dunia hasrat dan keinginan yang menggebu seolah-olah mencari alibi substitusi dan respresentasi karena secara asali dipandang sebagai kekurangan. Padahal hasrat merupakan daya kreatif yang menciptakan realitas.

(http://artandpractice.blogspot.co.id/2013/04/arts-1301-chapter-110-content-and.html)

Seperti pemikir paskastruktural pada umumnya, yang kembali pada problem bahasa, hasrat diartikulasikan pada level bahasa yang dinilai lebih sebagai aksi sehingga menuntut deteritorialisasi yaitu bahasa secara konten dan expresinya yang problematis (Deleuze dan Guattari, 2003:16). Seperti seseorang yang mengatakan akan lebih baik mendoakan seseorang yang korupsi agar bertaubat, padahal sebenarnya ini kegiatan menghibur diri dan mentiadakan tanggung jawab untuk membantu. Cara berfikir seperti ini sebenarnya adalah pembiaran yang artinya antara tindakan dan ucapan bisa sangat paradoks.  Dari pemikiran ini, hasratlah yang mampu mengungkap ideologi yang mengkristal karena bahasa tidaklah netral sehingga dia memiliki unsur politis yang berjalin kelindan dengan nilai kolektivitas (Deleuze dan Guattari, 2003:17). Hasrat pada kemampuan yang unik terkoneksi langsung dengan realitas untuk mencipta realitas-realitas baru, dan bukan ditundukan oleh superego.

Bentuk penolakan itu terlihat betul dalam bukunya yang berjudul Anti-Oedipus, Capitalism and Schizoprenia.

Desiring-production is pure multiplicity, that is to say, an affirmation that is irreducible to any sort of unity.  We live today in the age of partial objects, bricks that have been shattered to bits, and leftovers. We no longer believe in the myth of the existence of fragments that, like pieces of an antique statue, are merely waiting for the last one to be turned up, so that they may all be glued back together to create a unity that is precisely the same as the original unity (Deleuze and Guattari, 2000: 42)

(hasrat untuk memproduksi adalah multiplisitas murni, hal ini untuk menyatakan, sebuah afirmasi yang tidak dapat direduksi menjadi kesatuan apapun. Kita hidup pada suatu era objek parsial, layaknya batu bata yang telah hancur menjadi potongan kecil dan sisa –sisa. Kami tidak lagi percaya pada mitos keberadaan fragmen, seperti potongan-potongan patung antik, yang hanya menunggu bagian terakhir untuk muncul, sehingga mereka semua dapat direkatkan kembali bersama-sama untuk menciptakan sebuah kesatuan yang asali (Deleuze and Guattari, 2000: 42)

Penjelasan Deleuze akan lebih mudah dipahami ketika melihat seseorang melekatkan identitas tertentu pada dirinya, seperti seorang pegiat musik yang mengidentifikasi dirinya sebagai musisi akan dilihat oleh psikoanalisa sebagai cara subjek untuk mengkompensasi keutuhan dirinya di masa lalu. Maka kegiatan bermusik dianggap kegiatan semu dan hanya cara diri mengelak dari rasa kekurangan. Sebaliknya, Deleuze membatalkan konvensi psikoanalisis yang menganggap bermusik oleh musisi adalah kegiatan untuk menuju keutuhan ataupun kesatuan asali (batu bata yang utuh), yang dimaksudkan adalah justru merayakan bermusik (potongan batu bata) karena hanya dengan begitu ada produksi realitas. Hasrat bermusik tidak boleh diatur karena dia adalah gerak untuk menemukan gairah-gairah baru sehingga dapat diciptakan genre musik baru yang terus berubah. Siklus hasrat yang menolak ketetapan inilah yang menjadi ancaman.

Dalam kasus ekstrem, seorang pria yang lahir dari keluarga jawa mendadak ingin keluar dari rumahnya karena dia dipaksa untuk menikah dengan perempuan jawa walau dirinya ingin menikah dengan perempuan pilihannya sendiri. Tradisi jawa yang dijejalkan pada tubuhnya, seperti bibit, bobot bebet menjadi narasi yang mengekang hasrat karena semua diukur secara perspektif feudal dan celakanya bagi tradisi inilah kesatuan asali, sebuah identitas mutlak yang harus dipraktikan dan didaraskan. Maka tak heran akhirnya pria tersebut pergi keluar dari rumah dan bekerja dikota besar bukan karena mencari nilai ekonomi tapi ada usaha keluar dari pengentalan tradisi dan budaya. Di kota besar dengan masyarakat kapitalis tidak ada tekanan tradisi yang begitu kuat karena yang dihitung adalah lalu lintas ekonomi dan bukan lalu lintas tradisi.

Image result for Deleuze

(https://bluelabyrinths.com/2015/06/23/deleuze-v-dolezal-yeah-were-actually-doing-this/)

Penjejalan tradisi berlebih cenderung memutus dan menutup akses kebebasan dan pada saat yang sama menjadi kekerasan bagi tumbuhnya peradaban dan kreatifitas baru yang terus dicicil dengan cara penjinakan hasrat yang ingin berbeda ala Oedipus. Perereduksian hasrat ala Oedipus adalah bukti kegagalan psikoanalisa dalam mengkategorisasi aliran hasrat sehingga lebih suka menyebutnya sebagai kekurangan atau lack. Dengan kata lain hasrat harus ditekan dan direpresi dalam kategori Oedipan, segala hasrat harus dikaitkan dengan objeknya dan tentunya hukum yang mengatur (Deleuze and Guattari, 2000: 42). Sebagai tawaran atas problem yang hadir pada psikoanalisa maka tawaran yang diberikan adalah schizo-analisa. Schizo analisa jangan direlasikan dengan penderita schizophrenia karena yang dimaksud Deleuze sangat berbeda, yang dia lakukan hanya mengambil kualitas metaforik dari kata schizo yang tidak mau diatur penuh oleh struktur sosial mutlak. Kenapa schizo menjadi keharusan karena dia selalu berusaha merubah, memberi jalan alternatif, membawa kebaharuan dan mampu mengurai kode sosial yang mengekang.

schizo has his own system of co-ordinates for situating himself at his disposal, because, first of all, he has at his disposal his very own recording code, which does not coincide with the social code, or coincides with it only in order to parody it. The code of delirium or of desire proves to have an extraordinary fluidity. It might be said that the schizophrenic passes from one code to the other, that he deliberately scrambles all the codes (Deleuze dan Guattari, 2000:15)

skizofrenia memiliki sistem koordinat sendiri untuk memposisikan dirinya dalam penyelesaian, karena, pertama, ia memiliki pembagian atas rekam kode tersendiri, yang tidak bertepatan dengan kode sosial, atau bertepatan tapi hanya untuk meniru dengan nada mengejek. Kode delirium atau kode hasrat terbukti memiliki fluiditas yang luar biasa. Bisa dikatakan bahwa schizophrenic mampu meluluskan satu kode ke kode lainnya, bahwa ia sengaja mengacak semua kode, (Deleuze dan Guattari, 2000:15)

Kekuatan schizo analisa harus dilihat sebagai daya hasrat yang mampu merombak struktur kode menjadi lebih cair, negosiatif, kreatif dan mampu berfungsi secara mutual karena dia tidak mau dinormalisasi[3]. Schizo analisa menolak interpretasi, dia justru mensukseskan hasrat dan menganggap bahwa Oedipus sebagai penghalang karena darinya kode sosial ditentukan (Deleuze dan Guattari, 2000:314). Sehingga objek dari schizo analisa adalah mesin hasrat, dan mengapa disebut mesin karena mesin tidak pernah memiliki tujuan, dia hanya memiliki fungsi dan tujuan ketika dikaitkan dengan mesin lain sehingga mesin bisa berwujud apa saja, karena bisa dibongkar dan disambung kembali dengan yang lain agar memiliki struktur baru (Deleuze dan Guattari, 2000:25).

Pertanyaan selanjutnya bagaimana Deleuze menganalogikan schizo dalam bentuk yang konkrit dan terjadi dalam kehidupan sehari – hari? Apa yang mampu merombak kode sosial dan dapat menyambungkan kembali agar menjadi struktur baru? Harus dapat dipahami bahwa schizo yang kemudian menjadi subjek hasrat gila bukan berarti mana suka namun ada proses negosiatif-mutual yang harus dia lalui, dan dia memberikan contohnya dalam masyarakat ekonomi kapitalis. Kapitalisme adalah suatu bentuk schizo, dia mampu merubah, menukar kode sosial apapun dengan uang sehingga kekuatan uang mampu mengganti bentuk represi apapun (Deleuze dan Guattari, 2000:33). Masyarakat kapitalis sangat memuja uang sehingga semua sistem dan struktur sosial dapat berubah asal ada uang sebagai fetish (Deleuze dan Guattari, 2000:11). Kenapa hal ini terjadi karena organisasi kode menjadi tidak lagi penting, karena uang telah melarutkan segala yang kaku.

Deterritorialisasi, melacak limit kreativitas dan perubahan kebudayaan

Penjelasan mengenai konsep tentang deterritorialisasi hanya bisa dipahami melalui pengamatan Deleuze atas fakta sejarah yang berubah dan berganti pada momen fixity dimana kekuasaan memanifestasikan dirinya sebagai territorialization dan moment kehancuran dimana semua susunan yang tetap menjadi runtuh dan bertransformasi menjadi deterritorialization (Ryan dan Rivkin, 2004:378). Momen deterritorialisasi menjadi penting bagi Deleuze karena dia memungkinkan diri untuk menjadi kreatif dan tidak setia pada struktur yang mengekang subjek pada identitas apapun. Artinya Deleuze menolak kelekatan mutlak pada tradisi ataupun norma yang mengukung diri atau mendefinisikan agar selalu sesuai dengan struktur yang ada yaitu territory dalam hubungan relasi sosial.

Deleuze lalu mengandaikan ciri subjek berikut organisasi sosialnya melalui dua model yaitu seperti pohon yang selalu menginginkan ketetapan (order) yang mensyaratkan adanya hirarki sosial dengan model rhizome (seperti ginseng) yang selalu menolak hirarki atau aturan (Ryan dan Rivkin, 2004:378). Tentunya model yang pertama adalah bentuk dimana territory terbentuk, karena pohon memiliki awalan (root) dan akhiran (twig) dimana organisasi sosial ditentukan oleh tujuan kolektif yang sudah ditentukan syarat- syarat filiasinya (keturunan, hubungan darah, tradisi) sedangkan rhizome tidak memiliki ciri tersebut karena dia tidak memiliki awalan dan akhiran maka dia bekerja pada daya alliansi (hubungan mutual, blok dan penggabungan yang bisa dipisahkan) maka dia selalu dalam proses menjadi atau interbeing (Ryan dan Rivkin, 2004:385). Deleuze lalu mengkonseptualisasikan ciri masyarakat yang setia pada ciri pohon sebagai subjugated-group, yaitu subjek yang sudah dibekukan dan dihomogenkan dimana tatanan hasrat dilindas dan diberikan model yang ideal oleh wacana the other, maka menurut Deleuze satu – satunya cara untuk lepas dari hal itu adalah memunculkan group-subject yang selalu bersifat revolusiner karena mementingkan hasrat yang terus membedakan diri, membiak dan menggunakan segala sesuatu, atau struktur yang ada agar berguna bagi dirinya untuk mengurai determinasi simbolik-sosial (Deleuze dan Guattari,  2000:64). Rhizome dengan begitu mengafirmasi status hasrat yang asignifying atau tidak pernah patuh pada kode apapun (Deleuze dan Guattari, 1987:9)

Image result for Guattari

(http://hilobrow.com/2014/04/30/felix-guattari/)

Dalam kehidupan sehari – hari misalnya sebuah susunan partai mengandaikan ada ideology kepartaian yang tidak bisa ditawar, sehinga setiap kader harus masuk dalam sistem hirarki ala pohon, yang seolah jika satu kader hilang maka partai tidak berjalan tapi kenyataannya secara realistis yang terjadi sangat mungkin kader melompat dari satu partai ke partai lain, dan sistem partai toh masih bisa berjalan. Seseorang yang begitu setia pada partai mengisyaratkan dia berada pada wilayah kekuasaan, territory atau rela untuk disubjeksi sedangkan kader yang terus berpindah adalah model dari rhizome yang bisa lepas dan terkoneksi dengan partai lain melalui cara mengidentifikasi ulang diri terus menerus dengan mementingkan pengorganisasian hasrat. Dalam kaenyataan hidup nyatanya model rhizome juga dilakukan jadi tidak ada kelekatan diri pada suatu objek secara berlebihan.

Model rhizome dainggap penting karena grup subjek didalamnya selalu menolak definisi dan tidak ingin didisiplinkan, tetapi melihat secara intensif bagaimana diri meluluskan hasrat persis seperti rhizome yang ingin lepas dari struktur jika dirinya merasakan kungkungan dan bukan setia pada tradisi dengan membatinkan ciri pohon. Rhizome lalu menyediakan ruang bagi deterritorialisasi untuk menyatakan bahwa subjek adalah heterogen dan bisa dikoneksikan apapun, sekaligus membiak ke segala arah, multiplicities, karena tidak lagi lekat pada relasi yang mutlak melainkan relasi keterputusan, asignifying rupture (Ryan dan Rivkin, 2004:380-3).

Rhizome menegaskan secara de facto, hidup tidaklah selalu seperti ciri pohon tapi justru seperti rhizome. Subjek bisa terlibat dalam tradisi dan juga lepas dari tradisi, sehingga hubungan manusia bisa dikaitkan dan dilepaskan. Ciri pohon adalah rezim yang seolah mengandaikan kesatuan organik dimana jika ada bagian atau subjek yang terluka maka yang lain akan merasakan sakit namun nyatanya tidak seperti itu. Subjek bisa diganti dan dilepaskan karena yang terpenting adalah sistem hirarki berjalan, maka ketetapan rezim berjalan. Artinya, ciri pohon adalah ciri yang mengabsenkan subjek yang berbeda karena dibalik hirarki ada sistem kekuasaan yang secara berulang – ulang merepresi diri untuk tidak berbeda dari kesatuan organisme. Rezim menubuh pada sistem hierarki sekaligus membuktikan adanya pihak yang diuntungkan dan dirugikan. Kebaharuan tentunya tidak akan muncul jika hidup hanya setia pada tradisi. Subjek seharusnya bisa keluar dari struktur tersebut karena ia perlu pengaktualisasian diri. Subjek dengan begitu selalu dalam proses membedakan diri secara repetitif dan tidak tetap melalui fungsi hasrat ketika berjumpa dengan realitas. Repetisi dengan begitu bukanlah proses dimana perbedaan (contohnya perbedaan tradisi) itu diperbesar atau dihilangkan, tapi berbeda karena diri memang selalu dalam proses bertumbuh, dan membedakan diri it ‘goes on differing’ and ‘takes itself as its end (Deleuze, 1994:314).

Tujuan dari gagasan deterritorialisasi dan masyarakat rhizome agar subjek mau bereksperimentasi dan mencoba hal – hal baru karena hanya dengan begitu pengalaman baru akan terbuka. Deterritorialisasi menjadi hasrat untuk mengurai segala sandi, atau dalam hal ini proses dekodifikasi yang mirip dengan cara kerja kapitalisme. Bagi Deleuze capitalism memliki fungsi sama hasrat skizofrenik karena dia terus mendekodefikasi segala hal (Deleuze, 2000:233).

Uang bisa meluluskan segala hal bahkan membuat sistem yang kaku menjadi lentur, karena begitu uang berbicara maka akan terbuka jalan apapun. Namun perlu diingat bahwa kapitalisme selalu jatuh pada reteritorialisasi, dimana segalanya akhirnya diukur pada keuntungan, untung rugi dan jumlah. Seorang yang tua bisa menikahi yang muda karena uang tapi harus ada lalu lintas ekonomi yang merupakan cacat bawaan kapitalisme. Kapitalisme bagaimanpun harus diakui sebagai salah satu contoh konkrit mesin hasrat, istilah mesin tak lain digunakan Deleuze untuk menunjukkan bahwa mesin hadir untuk hanya untuk memproduksi, dan terus memproduksi realitas tanpa batas (Haryatmoko,2015:65).

Sayangnya pada kenyataannya banyak produksi realitas tidaklah kreatif melainkan hanya bentuk tiruan. Hal ini terjadi karena produksi sosial diatur ketat oleh norma, sehingga yang diproduksi harus memenuhi syarat kode sosial yang telah dikongkritkan sebagai realitas sosial. Hanya dengan membuat mesin tadi menjadi abstrak maka ada kemungkinan bahwa mesin untuk memproduksi dapat dirangkai ulang untuk memproduksi yang baru. Konsekuensi dari mesin abstrak bukanlah pada fungsinya untuk merepresentasikan realitas tetapi lebih kepada mengkonstruksi realitas yang akan hadir, atau bentuk realitas yang baru (Deleuze dan Guattari, 1987:142).

Secara simplistik akhirnya mesin abstrak dalam realitas memiliki bermacam-macam transformasi namun Deleuze membagi transformasi deterritorialisasi tersebut menjadi tiga bagian yaitu abstract machines of consistency, abstract machines of stratification dan axiomatic or overcoding abstract machines. Abstract machines of consistency adalah mesin hasrat yang meledak dan terus bermutasi serta memiliki multiplisitas koneksi, abstract machines of stratification adalah penggabungan dari objek satu ke objek lain karena prinisp kesesuaian, sedangkan yang terakhir adalah axiomatic or overcoding abstract machines dimana hasrat memproklamirkan totalisasi dan homogenisasi (Deleuze dan Guattari, 1987:514).

Status Abstract Machines of Stratification Axiomatic or Overcoding Abstract Machines Abstract Machines

of Consistency

Sasaran  menjadikan diri sebagai objek, tubuh. Terlihat betul sebagai bentuk pendisiplinan tubuh demi terjadinya hirarkisasi atau stratifikasi. Dengan begitu perubahan yang terjadi adalah mencipta hirarki sosial menciptakan sistem, seperti sistem komunikasi dan bahasa atau kode sosial, sehingga perubahan yang diharapkan menjadi kaku, apapun yang diluar kode yang kaku ini (overcoding) harus diabsenkan selalu menciptakan konsep, dengan begitu transformasi diri tidak pernah tetap selalu berada kondisi abstrak yang selalu menyoal bentuk-bentuk yang telah dikodekan (coding) ataupun kode yang kaku dan mapan (overcoding)
konsekuensi terjadinya pengkodean (coding), pemberian bentuk dan hirarkisasi pada fungsi dan bentuk terjadi kode yang kaku (overcoding) atau sistem yang didiseminasikan melalui bahasa penguaraian terus menerus (decoding) dimana segala konsep yang diciptakan adalah usaha lepas landas keluar dari sistem yang melindas hasrat
Resultan hasilnya teritori, kode yang mencengkeram, homogen hasilnya deteritorialisasi namun sekaligus kembali pada teritori atau reteritorialisasi, dimana perubahan jatuh lagi pada idealisme untuk menjadi homogen hasilnya deteritorialisasi absolut yaitu pembongkaran terus menerus, berpindah –pindah atau nomadik
Contoh cantik adalah rambut panjang,kulit putih, tinggi, kurus, dan bermata biru.Wanita dapat bekerja pada domain tertentu karena kodenya sesuai. sistem kecantikan didaraskan melalui iklan, ads, pengentalan secara historis standar kecantikan, berubah melalui kapitalisme  sekaligus menandai idealism kecantikan baru yang mengabsenkan cantik lain contoh cantik ala korea konsep cantik yang disseminatif, tidak ada ada standar ataupun hirarki, perayaan kecantikan ada pada tataran konsep tidak ada klasifikasi cantik mutlak

Deleuze memahami deteritorialisasi sebagai konsep kunci agar diri dapat lepas dari teritori, karena territory menghambat perubahan, dimana mesin asbtrak justru ingin keluar dari keterjebakan struktur. Sesuai dengan semangat tersebut, dan skema perbandingan yang disebutkan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa deteritorialisasi dapat memunculkan kekuatan positif perubahan yang memiliki skala dan batasan, namun disisi lain juga sangat mungkin memunculkan reteritorialisasi (kembali pada idealisme, atau teritori) (Deleuze dan Guattari, 1987:5). Keseluruhan sistem berpikir Deleuze hanya menyarankan satu hal yaitu tidak takut untuk bereksperimentasi pada daya hidup dan menjadi kreatif dalam memecahkan berbagai macam permasalahan (Haryatmoko, 2015:53)

Eksperimentasi dari mesin abstrak membentuk subjek menjadi tubuh tanpa organ. Tubuh tanpa organ bukan tubuh yang tidak memiliki organ tetapi tubuh tanpa organisasi yaitu tubuh yang dapat lepas karena dia berubah, bertranformasi lepas dari kerangka sosial dan membentuk hal baru (Haryatmoko, 2015:65-6). Artinya, tubuh tanpa organ memungkinkan terjadinya deteritorialisasi, dimana diri dapat lepas dari struktur, atau teritori.

Dalam bukti sejarah, kerja hasrat yang menolak ketetapan dapat terlihat pada bidang seni, filsafat dan ilmu pengetahuan. Interprestasi ulang pada seni, filsafat dan ilmu pengetahuan sadalah bentuk turunan hasrat yang tidak pernah pada status yang dapat didisiplinkan secara mutlak, sehingga pada mereka selalu ingin mencipta konsep baru demi memecahkan masalah.

Epilog, organisasi hasrat dan usaha melampaui struktur sosial

Deleuze ingin memberi perhatian lebih pada upaya pembebasan hasrat demi mengatasi dan melampaui struktur sosial yang mengekang. Hanya dengan membatalkan kode sosial yang mutak dan definitif dan mengorganisir diri ulang maka realitas baru bisa tercipta. Secara implisit dapat dinayatkan bahwa segala pengentalan kebudayaan yang menubuh pada masyarakat dan subjek tak lain adalah territory yang menancap dan memangkas akses kebebasan untuk bertumbuh. Deleuze menyarankan schizoanlisa untuk memeriksa sejauh mana hasrat mampu bebas mengatasi ketidakberesan sosial. Hasrat yang berkerja seperti mesin untuk memproduksi kebaharuan menjadi cara untuk membuka interaksi baru. Deleuze juga melihat adanya fungsi hasrat pad kapitalisme walaupun cacat bawaan seperti logika ekonomi menjadi membuat suatu perubahan masih melalui syarat lalu lintas ekonomi. Namun kapitalisme harus diakui mampu melarutkan segaal sandi mutlak yang kaku. Hasrat bukanlah gerak yang ingin mengabsenkan kode sosial maupun kebudayaan pada masyarakat tapi kemampuan memeriksa ulang dan membuat laju peradaban pada cara yang bijak tanpa memangkas hak diri untuk berkembang seperti yang terjadi pada seni, filsafat dan ilmu pengetahuan.

* Makalah dipresentasikan dalam Sekolah Kritik Budaya Angkatan I, 18 Mei 2017, bertempat di Perpusda Jember.

Catatan akhir

[1] Oedipus merupakan mitos karya Sopocholes yang berusaha membunuh ayahnya agar dapat menikahi ibunya untuk menjadi raja.  Freud menegaskan bahwa bawah sadar kita bekerja seperti kisah Oedipus sehingga hasrat ini negatif dan harus ditekan sedangkan bagi Lacan Oedipus Kompleks lebih bekerja sebagai struktur simbolik yang dibatinkan melalui hukum ayah (phallus yang secara signifier kemudian menuntut kategorisasi dalam bentuk the imaginer, the real, dan  the symbolic)  hal ini terjadi sejak proses  pemisahan anak dengan tubuh ibu secara tragis. Homer, Sean, 2005. Jacques Lacan. Routldge, London, hlm. 53-54.

[2] Deleuze dalam Anti Oedipus hal 51 menolak gagasan hasrat dalam tradisi Freudian hingga Lacanian karena masih kentalnya rezim Oedipus (segitiga ayah-ibu-saya). Desire dianggap negatif karena dia perlu dinetralkan oleh ego (Freud). Pemikiran ini berlanjut sampai konsep lack oleh Lacan yang melihat individu sulit menjadi subyek penuh karena adanya konstruksi oedipal yang merepresi karena menjadi pendasaran

[3] Normalisasi adalah kunci khas dari Foucault, kekuasaan berusaha mendisiplinkan dengan sasaran utama tubuh melalui kode sosial sehingga pengawasan berjalan secara efektif, subjeksi terjadi ketika individu menormalisir bentuk kekuasaan yang dibatinkan dalam praktik keseharian. Konsep ini dapat dilacak lebih lanjut dalam bukunya Discipline and Punish, The Birth of Prison, 1991 halaman 202-203. Sedangkan kegilaan bagi Foucault harus diletakkan pada periode apa fenomena itu disebut kegilaan atau tidak gila, gangguan kejiwaan atau perilaku normal, hal ini diartikan  bagaimana sistem pemikiran suatu zaman beroperasi untuk mengkategorisasi. Pembabakan tentang sejarah kegilaan dilakukan melalui analisa teks dokumen historis dari zaman klasik, renaissance hingga munculnya ilmu medis dan klinik moderen. Jejak pemikirannya dalam menganalisa kegilaan sebagai bentuk konfigurasi sosial dan rezim kekuasaan pengetahuan dapat dilihat di Madness and Civilisation: A History of Insanity in the Age of Reason,  1999 Halaman 57, 70, 252. Tidak dapat dipungkiri bahwa tradisi berfikir Deleuze juga memiliki banyak pengaruh atas kekagumannya terhadap Foucault. Sebagai sebuah legitimasi spesifik atas keseriusan Deleuze dalam memberikan jalan keluar bagi tradisi filsafat kritis Foucault yang cenderung menotalisir modernitas, dia menulis Preface pada Anti-Oedipus

Daftar pustaka

Deleuze, Gilles and Felix Guattari. 1987. A Thousand Plateaus,Capitalism and Schizophrenia.Minnepolis: Minnesota Press,Print

Deleuze, Gilles and Felix Guattari. 1994. Difference and Repetition. New Yorks: Columbia Univeristy Press

Deleuze, Gilles and Felix Guattari. 2000 Anti-Oedipus, Capitalism and Schizoprenia. Trans. Hurley et al. Minnepolis : Minnesota Press, 2000. Print

Deleuze, Gilles and Felix Guattari. 2003. Kafka, Toward a Minor Literature. Trans. Dana Polan Minnepolis : Minnesota Press,. Print

Foucault, Michel.1991. Discipline and Punish: The Birth of the Prison, Harmondsworth: Penguin

Foucault, Michel. 1999. Madness and Civilisation:A History of Insanity in the Age of Reason, London: Routledge

Haryatmoko, 2015. Membongkar Rezim Kepastian. Basis-Boekoe Tjap Petroek: Yogyakarta

Homer, Sean, 2005. Jacques Lacan. London: Routldge

Rivkin, Julie and Ryan. 2004. Literary Theory: An Anthology (Blackwell Anthologies). Blackwell Publishing:

 

 

Share This:

About Ghanesya Murti 8 Articles
Mahasiswa pascasarjana Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga dan peneliti di Matatimoer Institute

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*