Menyoal ruang virtual dalam perspektif poskolonial

IRANA ASTUTININGSIH

 

Download artikel versi PDF

Awalan

Di era digital, penggunaan internetyang pada awal kemunculannya bersifat ekslusif kian marak merambah berbagai lini kehidupan dan telah menjadi satu pilihan untuk ber-gaya hidup. Dalam konteks akademik maupun non akademik, perbincangan tentang internet tak pernah kehilangan daya tariknya. Implikasinya adalah, studi tentang internet mestinya melampaui perspektif teknologi an sich terkait dengan persoalan teknis sekitar hardware maupun software. Jamak dipahami bahwa dalam dimensi sosial, studi tentang internet erat terkait dengan persoalan percepatan komunikasi dan perolehan informasi yang ‘tak terbatas ruang dan waktu’ sebagai dampak dari pesatnya teknologi sehingga diskursus tentang internet lazim dibingkai dalam konteks  ilmu pengetahuan yang  disebut teknologi informasi. Namun demikian, penting untuk dipikirkan bahwa dalam konteks kajian budaya, studi tentang internet semestinya tidak berhenti pada perspektif yang memosisikan internet sebagai media komunikasi dan perolehan informasi lengkap dengan segala dampak positif maupun negatifnya bagi pengguna.

Dalam kajian budaya, studi tentang internet mencakup  beragam konteks yang saling berkelindan termasuk diantaranya persoalan kapitalisme, konsumerisme dan komodifikasi, perbedaan kultural dan militerisasi dalam hidup keseharian (Silver, 2006: 6). Tulisan ini mencoba untuk menyoal studi internet dalam perspektif yang memosisikan ruang virtual tidak sekedar sebagai media komunikasi dan informasi, namun lebih sebagai arena  kontestasi kultural yang memungkinkan siapapun untuk terlibat aktif dalam proses produksi teks-teks kultural. Lebih jauh, ruang virtual atau ruang cyber sebagai konsekuensi teknologi berbasis komputer dibicarakan dalam perspektif poskolonial.

Identitas dalam ruang cyber: Suatu kompleksitas kultural

Membincang ruang cyber dan kompleksitas kulturalnya, penting untuk dibicarakan terlebih dahulu bagaimana istilah ‘cyber’ muncul berikut perkembangannya dalam konteks kajian budaya. Istilah ‘cyber’ pertama kali dikenalkan oleh William Gibson dalam novelnya Neuromancer (2010), bagian pertama dari trilogi Sprawl. Gibson mendefinisikan ‘cyberspace’ sebagai ruang halusinasi yang diterima khalayak… suaturepresentasi data yang diabstraksi oleh media penyimpanan komputer (2010:  84).  Meski Gibson tidak secara teoritis berbicara tentang realitas virtual yang tercipta oleh media komputer, pada perkembangannya istilah ‘cyberspace’ kerap dijadikan acuan dalam studi-studi tentang media cyber. Lebih jauh, istilah cyberspace disinggung oleh David Bell, seorang profesor yang menaruh perhatian pada studi internet. Terkait dengan ruang cyber, Bell berbeda pendapat dengan Benedikt yang mendefinisikan ruang cyber sebagai ruang yang ‘non-eksis’ (2000). Dalam pandangan Bell, ruang cyber itu ‘eksis’ bukan dalam konteks software maupun hardware namun dalam konteks ‘storytelling’ (2007: 7). Lebih jauh, Bell menyebut istilah ‘cyberculture’ yang dianggapnya bersinonim dengan ‘cyberspace’. Dalam pemahaman awam keduanya mungkin dimaknai secara berbeda. Jika ‘cyberspace’ dipahami sebagai ruang yang mewadahi aktivitas-aktivitas kultural, maka ‘cyberculture’ dipahami sebagai kultur yang terjadi didalamnya. Namun Bell menolak dengan tegas pemisahan dikotomis yang rigidantara keduanya, karena cyberspace  tak dapat dipisahkan dari konteks kulturalnya, dan karena teknologipun pada dasarnya adalah hal yang kultural (2001: 8)

Pada 5 Juli 1993, New Yorker memuat kartun karya Peter Steiner dengan caption “On the internet, nobody knows you are a dog”. Kartun yang mengilustrasikan dua ekor anjiing  yang salah satunya menghadap layar komputer ini mendapat banyak perhatiandan dikenal sebagai kartun yang sangat ramai direproduksi (Cavna, 2013). Sementara, caption kartun tersebut banyak menarik perhatian para sosiolog yang menginterpretasikannya secara beragam. Kehadiran ‘anjing’ yang tak diketahui ini dapat dipahami sebagai karakter internet yang liminal,cair dan menawarkan anonimitas serta ‘kebebasan’ sehingga pengguna dapat bebas eksis dan berekspresi didalammya tanpa diketahui identitas aslinya. Dalam tataran yang lebih ekstrim, internet memungkinkan ‘tidak hadirnya suatu identitas’. Identitas terkait gender, ras, umur, maupun penampilan fisik, dimungkinkan untuk absen, dipalsukan atau dilebih-lebihkan melalui satu lisensi tanpa kontrol untuk berbagai tujuan baik yang legal maupun illegal (Wikipedia). Berbeda dengan old media (media konvensional) yang berjalan dibawah kontrol,  ruang cyber sebagai kepanjangan new media memberi peluang bagi pengguna untuk mengubah identitas mereka dengan lebih mudah. Dengan kecilnya kontrol ini, dapat dikatakan bahwa ruang cyber adalah ruang yang menawarkan anonimitas dan ‘kebebasan’.

Related image

(http://www.diligentialegal.com/?attachment_id=192)

Pertanyaan yang mungkin muncul setelah uraian diatas adalah: bagaimana ruang cyber dipahami dalam perspektif poskolonial? Apakah ruang cyber sebagai ruang yang lahir dari teknologi barat dan marak dinikmati diseluruh belahan dunia termasuk masyarakt timur merupakan satu bentuk dominasi dari the colonizer terhadap the colonized? Dengan kata lain, apakah kegandrungan masyarakat timur terhadap internet merupakan ketidakberdayaan masyarakat pascakolonial terhadap hegemoni barat? Secara permukaan, bisa jadi demikian jika kegandrungan ‘tanpa syarat’ terhadap teknologi barat tidak lagi menyisakan ruang bagi teks-teks kultural timur untuk turut hadir dan bergerak aktif menunjukkan eksistesinya. Namun, benarkah ini satu-satunya fenomena yang terjadi dalam masyarakat pascakolonial? Untuk menjawabnya, penting sekali untuk mengetahui lebih jauh relasi timur-barat bukan sekedar dalam pandangan dikotomis yang rigid, namun dalam relasi kultural yang jauh lebih kompleks.

Ratna (2008: 77-78) dan Budiawan (2010: vi-ix) membedakan istilah pascakolonial dan poskolnial. Keduanya sepaham bahwa pascakolonial terkait dengan era atau zaman dengan batasan yang jelas, sedangkan  poskolonial sebagai teori adalah tradisi intelektual yang batasannya bersifat relatif. Sementara Loomba tidak secara spesifik membedakan keduanya dengan mengatakan bahwa keduanya dapat dipahami sebgai perlawanan terhadap dominasi kolonialisme dan warisannya (2005: 15). Ini menunjukkan bahwa poskolonialisme tidak dapat dipahami sebgai sebuah konsep yang tunggal dan statis (Moore-Gilbert dalam Faruk, 2007: 5). Jika Said sebagai salah satu penggagas teori poskolonial bertitik tekan terhadap diskursus oposisi biner antara barat dan timur yang meletakkan Barat sebagai superior dengan stereotyping dan hegemoninya terhadap timur, maka Bhabha menyoal persoalan poskolonial dengan lebih kompleks. Menurutnya, resistensi terhadap kolonialisme tidak harus dipahami sebagai tindak oposisional atau penolakan total, namun selalu bersifat ambigu dan tidak utuh atau terpecah. Kondisi terpecah ini menjadikan subjek berada pada liminal space between culture. Antara kultur the colonizer dan the colonized terdapat ruang antara yang memungkinkan keduanya saling berinteraksi dalam posisi interdependent.  Keberantaraan sekaligus resistensi yang ambigu inilah yang mendorong munculnya hibiriditas(1994: 1-5).

Posisi keberantaraan subjek poskolonial dalam pandangan Bhabha sangat sejalan dengan sifat liminal ruang cyber yang memungkinkan hibriditas berlangsung. Dalam konteks ini, persoalan identitas pun muncul bukan sebagai sesuatu yang terberi, namun satu hasil konstruksi yang bersifat kompleks. Pertanyaannya adalah: ketika menempatkan studi tentang ruang cyber dalam perspektif poskolonial, maka apakah subjek-subjek liminal yang bertemu dalam ruang cyber hanya terbatas pada subjek timur sebagai the colonized dan subjek barat sebagai the colonizer? Bagaimana dengan subjek-subjek lain yang juga terlibat secara aktif dalam produks teks kultural dalam ruang cyber namun tidak menunjukkan relasi antara the colonizer dan the colonized? Pertanyaan ini sangat mewakili kritik Dirlik yang mengatakan bahwa hibriditas tampaknya selalu dipahami sebagai relasi antara pascakolonial dengan Dunia Pertama, tidak pernah antara satu intelektual pascakolonial dengan intelektual pascakolonial lainnya (Loomba, 2003: 232). Untuk menyikapi pertanyaan dan kritik ini, perlu ditinjau lebih jauh bagaimana kultur cyber mempertemukan subjek poskolonial dalam ruang liminal.

Komplekstitas kultural yang mewujud sebagai  kultur cyber ini melampaui  relasi the colonizer dan the colonized, karena ia juga merupakan satu relasi kompleks antar the colonized, yang menariknya, tidak serta merta dapat dikatakan setara. Maraknya penggunaan media sosial sebagai ajang pertemuan subjek poskolonial misalnya, turut pula memarakkan wacana oposisi biner antar the colonized, bukan sekedar antara the colonizer dan the colonized. Teknologi android yang makin memudahkan akses subjek poskolonial ke dalam ruangcyber memberi akses luas pula terhadap wajah identitas lokal  untuk turut hadir dan menegosiasi dirinya, alih-alih sekedar tenggelam dan submisif terhadap teknologi dan budaya global yang dipersepsi sebagai budaya barat. Pada banyak kasus di media sosial, subjek-subjek poskolonial menegosiasi identitas lokalnya dalam ruang antara dan dengan demikian turut aktif memproduksi teks kultural yang hibrid, yang bersifat ambivalen. Munculnya selebriti ruang cyber makin marak dan menjadi konsumsi khalayak yang mewakili masyarakat dari budaya the colonized sekaligus the colonizer.Satu contoh identitas lokal yang dinegosiasi dalam cyberculture adalah seorang selebgram asal Malang yang dikenal dengan nama d_kadoor. Dalam akun instagramnya, bahasa dan aksen Jawa timuran yang ia gunakan untuk berekpresi secara komikal merupakan daya tarik yang bukan saja mengena di kalangan subjek dari kultur the colonized, namun sekaligus the colonizer. Ini dapat dilihat dari komentar yang diunggah sebagai feedback dari posting instagram d_kadoor. Beberapa subjek the colonizer menaruh perhatikan dan bahkan turut menikmati ekspresi d_kadoor yang dianggap sangat komikal dan menghibur, tanpa harus memahami makna bahasa Jawa yang dipakai. Demikian pula dengan subjek the colonized yang berbahasa ibu selain bahasa Jawa ataupun the colonized yang berbahasa Jawa dengan aksen non Jawa Timur,  ketidakpahaman terhadap bahasa Jawa timuran tidak menghalangi mereka untuk dapat menikmati hiburan yang disajikan di akun instagram d_kadoor dan memberi feedback berupa komentar pada postingannya. Jika pada uraian sebelumnya disinggung bahwa posisi antar the colonized pun tidak serta merta bersifat setara, dalam kultur cyber marak terjadi pemosisian budaya lokal yang satu sebagai yang lebih superior terhadap yang lain. Dalam kasus lain, sebuah video musik berbahasa madura berjudul Reng Madure yang diunggah di Youtube dan dibawakan oleh grup musik Al Abror, mendapat respon beragam. Yang menarik adalah, subjek poskolonial dengan budaya Jawa menempatkan dirinya dalam posisi superior dengan mengunggah komentar negatif terhadap bahasa Madura dalam video musik tersebut. Ini menunjukkan bahwa negosiasi identitas lokal tidak sekedar membawa dirinya pada ruang liminal sebagai survival strategy, namun sekaligus mengalami resistensi dan cemoohan dari identitas lokal lainnya. Dalam ruang cyber yang dibidani oleh teknologi dari kultur barat, yang timur menegosiasi ketimurannya sekaligus me-liyan-kan sesama timur.

Image result for Cyber literature

(https://www.worldliteraturetoday.org/2017/march/cyber-proletarian-claudia-salazar-jimenez)

Mengacu pada konsep Bhabha tentang mimicry yang terjadi pada proses hibriditas (1994: 85-92),  pada kasus media sosial Smule yang memberi fasilitas bagi pengguna untuk berduet dengan sesama pengguna Smule termasuk para penyanyi profesional mancanegara, interaksi antara subjek the colonized dan the colonizer terwujud dalam konteks musikal. Dalam salah satu akun Smule laki-laki Madura bernama Rofik, duet yang dilakukannya dengan penyanyi Amerika Jessie J mendapat respon yang sangat ramai. Alih-alih berduet dalam harmoni, lagu Flashlight yang dibawakan Jessie J dalam format duet yang mestinya dilengkapi secara harmonis olehnya justru dibawakan dalam bahasa Madura. Uniknya lagi, pembawaan lagu dalam bahasa Madura ini bukan dalam format terjemahan, namun merupa dalam lirik yang gagal meniru bahasa Inggris. Lebih jauh, gagalnya peniruan terhadap bahasa Inggris ini mengandung makna yang jauh berbeda (sekaligus mengundang tawa karena mengacu pada aktivitas buang air) namun diwakili oleh bunyi yang serupa.  Resistensi terjadi dalam konteks yang sangat cair dan ambivalen, bahwa disatu sisi bahasa Inggris tidak serta merta dipakai oleh the colonized yang berbahasa Madura, namun disisi lain si Maduramelakukan peniruan terhadap barat dan secara konsisten menggunakan media sosial Smule yang notabene merupakan produk teknologi barat.

Persoalan identitas dalam ruang cyber jika merujuk pada uraian diawal adalah identitas yang sangat cair, mudah dipalsukan atau dilebih-lebihkan, dan dalam tataran ekstrim dapat dikatakan ‘tidak hadir’ karena kecilnya kontrol yang berlaku dalam kultur cyber. Dalam perspektif poskolonial, ternyata ketidakhadiran identitas ini justru membuka peluang untuk kembali hadir dalam wujud yang hibrid, yang negosiatif  dan ambivalen. Dengan kata lain, ketidakhadiran identitas dalam ruang cyber bukan dipahami sebagai identitas kosong, namun identitas dalam keberantaraan yang aktif memproduksi teks-teks kultural yang didukung oleh karakteristik media sebagai bagian dari budaya populer, yang dalam Fiske disebut sebagai medan perang semiotik (dalam Storey, 1996: 33)

Sastra cyber: Relasi demokratis penulis – pembaca

Berbicara tentang ruang cyber dalam perspektif poskolonial terasa kurang lengkap tanpa berbicara tentang sastra cyber. Piret Viires, seorang kritikus sastra Estonia mengatakan bahwa pada dasarnya definisi sastra cyber berawal dari konsep sastra digital, yakni segala bentuk kesastraan yang diciptakan dan difasilitasi oleh media komputer. Sastra cyber dapat dipakai sebagai istilah payung yang meliputi: 1) semua teks yang terdapat di internet termasuk prosa maupun puisi yang dijumpai di homepage para penulis profesional, kumpulan teks sastra klasik di web-web khusus, maupun majalah online; 2) teks kesastraan yang ditulis penulis nonprofessional yang tersebar di penjuru ruang virtual. Teks kesastraan ini memungkinkan satu bentuk analisis yang berbeda daripada analisis teks sastra tradisional. Teks ini meliputi pula fanfiction[1]  (fiksi penggemar) dan berbagai tulisan harian di blog-blog, sehingga internet disini berfungsi sebagai wadah publikasi yang bersifat independen; 3) Sastra hypertext dan cybertext: yaitu teks kesastraan dengan struktur yang lebih kompleks dengan melibatkan visualisasi serta teks multimedia (Viires: 2005). Di antara tiga cakupan definisi istilah sastra cyber seperti disebutkan diatas, definisi yang kedualah yang lebih dijadikan pijakan. Sifat anonim yang ditawarkan oleh media internet sangat kental terlihat dalam sastra cyber yang ditulis oleh non profesional.

Umar Kayam pernah menyinggung tentang ‘corak lain’ sastra Indonesia pasca 2000 yang mungkin merupa sebagai satra komputer  (dalam Brahmanto, 1986: 24). Apa yang diprediksi Umar Kayam tersebut nampaknya kini telah makin marak dijumpai di ruang cyber. ‘Corak lain’ yang dikatakannya sejatinya memang merupakan keunikan tersendiri yang membedakan sastra cyber dengan sastra non- cyber.  Salah satu keunikan dari sastra cyber adalah sifatnya yang anonim sesuai dengan karakteristik kultur cyber, yang terlihat jelas pada fenomena maraknya anonymous writer di berbagai situs fiksi penggemar.  Hal unik lainnya adalah sifatnya yang ‘interaktif’. Ruang cyber memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara penulis dan pembaca. Jika pada sastra non cyber relasi interaktif pembaca dan penulis lazim terjadi setelah karya selesai atau diterbitkan, pada sastra cyber relasi tersebut dapat berlangsung sebelum karya diterbitkan. Pembaca dapat memberi komentar atau kritik secara langsung terkait dengan karya yang telah diunggah oleh penulis.  Lebih jauh lagi, interaksi yang terjadi atara pembaca dan penulis terkait dengan karyan yang telah diunggah di situs-situs tersebut tidak berhenti pada tataran interaksi yang bersifat basa-basi semata dan terlewatkan hanya sebagai komentar pembaca. Pembaca bahkan dapat ikut andil dalam proses penulisan fiksi dan sekaligus mengubah alur cerita, karakter, setting dan elemen-elemen lainnya. Ini terjadi karena karya fiksi penggemar yang diunggah di sebuah weblog atau situs khusus acapkali merupakan suatu karya yang belum selesai, dan biasanya disebut sebagai work in progress (Hellekson, 2006). Bahkan ketika suatu karya yang diunggah dan  dinyatakan selesai pun tak jarang mengalami perubahan sekian minggu setelah diunggah dan dibaca ratusan pembaca, karena mempertimbangkan saran pembaca yang dianggap lebih menawarkan perbaikan. Keunikan lain dari sastra cyber adalah pembaca dapat sekaligus berperan sebagai editor, yang lazim disebut sebagai beta reader. Ini menunjukkan bahwa relasi yang terbangun antara penulis dan pembaca bersifat sangat demokratis dan egaliter, meskipun pada akhirnya penulis tetap memiliki kuasa penuh atas fiksi yang diunggahnya.  Keterlibatan aktif pembaca sastra cyber ini membawa konsekuensi pula pada kolaborasi penulis yang disebut sebagai ‘round robin’, dimana nama penulis dicantumkan lebih dari satu orang. Struktur hirarkis yang ‘hilang’ antara penulis dan pembaca fiksi cyber ini jelas tidak bisa dipisahkan dari karakteristik media internet yang memungkinkan siapapun untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses kreatif seperti apa yang disebut oleh Fiske sebagai ‘demokrasi semiotik’, yaitu suatu kekuatan media dalam memungkinkan audiens untuk ikut terlibat dalam proses kreatif terhadap pembentukan simbol-simbol kultural, bukannya sebagai pihak konsumen yang pasif  (Fiske, 2001).

Genre unik dan identitas hibrid sastra cyber

Keunikan lain yang membedakan sastra cyber dari sastra non cyber ada pada genre nya. Kultur cyber yang liminal dan cair melahirkan genre baru pada karya fiksi penggemar yang tidak dimiliki oleh fiksi non cyber. Pada umumnya terdapat tiga genre utama fan fiction, yaitu: gen, het dan slash. Fanfic gen (singkatan dari ‘general’) adalah fanfic yang mempunyai konten yang bersifat umum, sesuai untuk segala usia karena tidak mengekspose hubungan romantik antarkarakternya. Fanfic het (singkatan dari ‘hetero’) berfokus pada hubungan heteroseksual antarkarakternya. Hubungan heteroseksual dalam fanfic het ini bisa sesuai dengan teks sumber atau diciptakan sendiri oleh penulis fanfic. Selain ketiga genre tersebut diatas, fanfic juga meliputi banyak sub genre; diantaranya ialah fanfic yang tidak mengikuti pakem teks sumbernya seperti deathfic, crossover, dan alternate universe (Hellekson, 2006: 10-11). Deathfic adalah fanfic yang menceritakan kematian tokoh utama; crossover merupakan fanfic yang mempertemukan karakter-karakter dari dua teks sumber yang berbeda, misalnya karakter Harry dari novel J.K Rowling Harry Potter dipertemukan dengan karakter Bella Swan dari novel Stephenie Meyer Twilight. Alternate Universe merupakan fanfic yang menggambarkan karakter dalam setting yang sama sekali berbeda dengan teks sumber.  Penulis fanfic juga bisa menciptakan karakternya sendiri yang dikenal dengan istilah OC (Original Character) atau Mary Sue.  Genre dan sub genre fanfic seperti yang dijelaskan diatas merupakan daya tarik sastra cyber yang unik, sehingga implikasinya sastra cyber sangat layak dan menarik untuk dikaji.

Ketika sastra cyber yang merupa dalam fiksi penggemar melampaui genre konvensional dalam sastra non cyber,  identitas kultural pun menjadi makin goyah dan rentan terhadap segala perubahan yang berakar dari persoalan dominasi, hegemoni maupun resistensi. Persoalan identitas selalu merupakan proses yang tak kunjung selesai, sebagaimana dikatakan Hall bahwa identitas bukan sesuatu yang mapan secara esensial, yang tidak berubah dan terlepas dari konteks historis dan kultural (1993: 227). Dalam perspektif poskolonial, goyahnya identitas yang diwakili oleh sastra cyber ini mewujud dalam dua konteks. Pertama, terkait dengan narasi teks dan kedua, secara otomatis terkait pula dengan kultur subjek poskolonial sebagai penulis maupun pembaca. Dalam fiksi berjudul “Halloween with Hantu Lokal Indonesia” yang diunggah di www.fanfiction.net, misalnya, persoalan identitas sangat kental mewujud sebagai yang liminal dan ternegosiasi. Lokalitas yang diwakili oleh subjek poskolonial (meski berwujud hantu) sekaligus menampilkan subjek the colonizer yang merupa dalam tradisi barat Halloween. Lebih jauh, karya yang merujuk pada teks sumber Naruto ini juga mempertemukan subjek-subjek poskolonial dengan the colonizer, yang direpresentasi oleh pertemuan tokoh fiktif Naruto dan Edward Cullen (Keyoppatra, 2011). Nilai-nilai lokal yang diwakili subjek poskolonial mewujud dalam limnalitas kultur cyber dan menegosiasi kelokalannya tanpa harus menampakkan penolakan total terhadap kultur barat. Dengan kata lain, ada relasi dinamis yang terjalin antara teknologi barat dan lokalitas timur yang kerap disebut sebagai glokalisasi. Dalam Setiawan disebutkan bahwa glokalisasi ini menunjukkan kultur lokal dapat menunjukkan resistensi sekaligus adaptasinya terhadap fenomena global (2009).

Tantangan bagi kajian budaya

Studi tentang ruang virtual dalam kerangka kajian budaya menantang pandangan esensialis yang kerap menafikan peran audiens sebagai subjek aktif  dalam produksi teks-teks dan simbol-simbol kultural. Dalam perspektif non esensialis, pengguna bukan sekedar konsumen yang secara pasif menerima dampak dari penggunaan media internet dalam arti positif atau negatif, namun melampaui persoalan-persoalan seputar ‘manfaat’ dan ‘kerugian’. Dengan kata lain, studi tentang media internet semestinya berangkat pula dari perspektif yang meletakkan internet lebih dari sekedar media perolehan informasi dan komunikasi, karena ruang virtual atau ruang cyber dapat dilihat sebagai satu arena bagi subjek-subjek untuk berkontestasi terkait dengan segala aspek kulturalnya, termasuki pula identitas yang selalu ternegosiasi dan ambivalen dalam keberantaraannya. Lebih jauh, penggunaan teknologi internet sebagai fenomena global tidak harus disikapi sebagai satu hal yang mengancam eksistensi kultur lokal karena sejatinya, dalam keberantaraan atau liminalitas ruang cyber, relasi antara keduanya dapat berjalan dinamis .

 

Referensi

Bell, David. 2001. An Introduction to Cyberculture. London: Routledge.

Bell, David. 2007. Cyberculture Theorists. USA: Routledge.

Benedikt, Michael. “Cyberspace: First Steps” dalam David Bell & Barbara M. Kennedy (eds). 2000. The Cybercultures Reader. New York: Routledge.

Bhabha, Hommi K. 1994. The Location of Culture. London: Routldge.

Brahmanto, B. 1986.“SastraKomputer” dalam Basis, Januari 1986. Yogyakarta: Yayasan Basis.

 

Budiawan (ed). 2010. Ambivalensi: Pos-kolonialisme Membedah Musik sampai Agama di Indonesia. Yogyakarta: Jalasutra.

Cavna, Michael. 2013. On the Internet, Nobody Knows You’re A Dog. https://www.washingtonpost.com/blogs/comic-riffs/post/nobody-knows-youre-a-dog-as-iconic-internet-cartoon-turns-20-creator-peter-steiner-knows-the-joke-rings-as-relevant-as-ever/2013/07/31/73372600-f98d-11e2-8e84-c56731a202fb_blog.html?utm_term=.233bb010ddc9  (diakses Desember 2015)

Faruk, 2007. Belenggu Pasca-Kolonial, Hegemoni dan Resistensi dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fiske, John. 2001. Television Culture.  New York: Routledge.

Gibson, William. 1984. Neuromancer. London: Grafton

Hellekson, Karen and Kristina Busse. 2006. Fan Fiction and Fan Communities in the Age of the Internet. London: McFarland & Company.

Keyoppatra. 2011. Halloween with Hantu Lokal Indonesia.https://www.fanfiction.net/s/7510496/1/Halloween-with-Hantu-Lokal-Indonesia. (diakses  5 Desember 2016).

Loomba, Ania. 2003. Kolonialisme/Pascakolonialisme (terj). Hartono Hadikusuma. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Poskolonialisme Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Setiawan, Ikwan. “Contesting the Global: Global culture, hybridity, and strategic contestation of local-traditional cultures”. Dalam Jurnal Sosial dan Budaya Bulak, Vol 4, Mei 2009. Yogyakarta: Universits Gadjah Mada Yogyakarta.

Storey, John. 1996. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.

Virees, Piret. 2005. Literature in Cyberspace.http://www.folklore.ee/folklore/vol29/cyberlit.pdf (diakses November 2012).

[1] Fanfiction adalah sebuah karya fiksi yang ditulis oleh penggemar satu teks sumber tertentu. Sebagai karya penggemar, fanfiction meminjam karakter atau setting dari satu teks sumber yang dapat berwujud novel, film, maupun serial televisi.

Share This:

About Irana Astutiningsih 4 Articles
IRANA ASTUTININGSIH adalah peneliti di Matatimoer Institute dan pengajar di Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*