Cultural studies yang dikhawatirkan dan mengkhawatirkan

People on phones with social media icon chalkboard

IKWAN SETIAWAN

 

Download versi PDF

Menyoal status dan asal-mula cultural studies

Munculnya cultural studies (selanjutnya disingkat CS), dalam medan akademis merupakan babak baru yang cukup signifikan dalam perkembangan analisis budaya. Banyak intelektual yang mendukung dan kemudian terlibat dalam lingkaran diskusi kritis ini. Tapi, banyak juga intelektual yang kemudian merasa ‘keberatan’ dan ‘terkesampingkan’ dengan munculnya arus kajian yang dimotori para intelektual muda di Center for Contemporary Cultural Studies Birmingham University ini. Kelompok kedua ini biasanya terdiri dari mereka yang memandang dengan pesimis kehadiran dan ketenaran CS, bahkan mereka sering melakukan tindakan yang cenderung agitatif.

Memang, mereka juga punya landasan akademis tertentu. Secara umum keberatan mereka biasanya lebih berkaitan dengan karakteristik CS yang menitikberatkan pada gerakan intelektual kritis dengan beragam kerangka teoritis yang dianggap bertentangan dengan kemapanan ‘jurusan tradisional’ yang cenderung monodisiplin. Rosaldo menegaskan bahwas CS merupakan gerakan intelektual multidisiplin yang menggantikan analisis kultural dalam konteks formasi sosial. Ia melihat masyarakat dan budaya sebagai proses historis ketimbang sebagai artifak beku, menekankan relasi yang saling berkaitan antara kuasa dan budaya, serta lebih banyak memerhatikan ketidaksamaan sosial—ketimbang harus selalu membuat seruan demokratisasi.

Dan, memang hanya sedikit jurusan atau program yang bisa menaungi CS sebagai bagian disiplin ilmunya. Di samping itu, gerakan pemikiran interdisipliner CS juga kurang mempunyai ritual tahunan seperti seminar dan konferensi yang bisa merefleksikan dan memproduksi status disiplin yang sebenar-benarnya.[1] Bahkan gerakan ini mesti harus bergabung dalam Modern Language Association. Jadi, meskipun banyak intelektual yang merasa senang dengan CS, tapi basis materialnya sebenarnya sangat tipis atau rapuh dibandingkan dengan jurusan-jurusan lainnya, seperti antropologi, sosiologi, dan lain-lain.

Image result for Youth culture

(http://www.shrinktank.com/edm-burning-man-at-a-crossroads/)

Dalam usahanya untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang gerakan intelektual yang cukup berpengaruh ini, Rosaldo mengungkapkan rangkaian geneaologis yang mengimplikasikan proyek CS yang lebih luas. Pertama, kemunculan serba darurat dari ‘kelompok baca’ di sela-sela tumpukan pekerjaannya mencoba untuk memperbarui diri mereka melalui percakapan intelektual ketimbang harus membahas anggaran dan program-program pascasarjana. Salah satu yang pernah berkembang adalah seminar interpretasi di Universitas Stanford, di mana para anggotanya banyak berasal dari bidang hukum, humaniora, dan antropologi. Kedua, lebih bersifat generik. Dimulai dengan Raymond William, E.P. Thompson, dan Antonio Gramsci sebagai perwakilan pemikir budaya Marxis yang berusaha melakukan analisis ekonomi politik dan menekankan emansipasi manusia dalam memahami budaya, ideologi, dan agensi manusia. Jejaring lain dari geneaologi ini melibatkan rekonseptualisasi gender, ras, dan seksualitas sebagai konsep analitis yang berasal dari gerakan sosial feminis dan sekutu-sekutunya, anggota-anggota masyarakat yang secara historis tersubordinasi, kelompok-kelompok yang dirasiskan dan sekutu-sekutunya, serta gay dan lesbian beserta aliansinya.

Dengan geneaologi semacam itu, sebenarnya CS mempermasalahkan kesatuan-kesatuan sosial monolitik yang diterima secara taken-for-granted dan mengarah pada opresi-opresi sosial. Sehingga mereka bisa mempertanyakan: (1) bagaimana dan dalam hal apa opresi berkesesuaian, bertentangan, dan berbeda-beda dan (2) apa basis sosial mereka dan kemungkinan-kemungkinan mereka untuk beraliansi. Pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah satu-satunya agenda  CS yang paling bernilai, namun paling tidak itulah yang banyak mengemuka.

Kekhawatiran ilmuwan tradisional dan kemungkinan ‘percumbuan’

Perdebatan seputar disiplin kajian, tak pelak lagi, selalu menjadi isu utama dalam mempersoalkan cultural studies. Memang, kemultidisiplinan kajian dalam CS di satu sisi ‘menjadikan persoalan kultural semakin hidup’ dan bukan sekedar menjadi artifak mati yang hanya bisa disebut sebagai A atau B. Di sisi lain, hal itu melahirkan kritik-kritik seputar kejelasan dari kajian sehingga CS hanya dianggap semata-mata sebagai kajian literer.

Banyak para antropolog yang merasa khawatir dengan perkembangan CS karena mereka ‘merasa dibungkam dan didiamkan’ sehingga ‘terpaksa harus membawa pulang mainan yang selama ini menjadi kegemarannya karena mereka tidak diundang ke pesta’. Dalam wacana publik, kemudian banyak dari mereka yang mengatakan bahwa “CS tidak mampu menghasilkan sesuatu sebagaimana yang telah dihasilkan antropologi sekian lamanya” sehingga “para kritikus literer itu akan lebih baik jika membaca Frans Boas atau mengambil kursus pengantar antropologi.”

Kritik seperti di atas sebenarnya lebih didasarkan pada ‘perasaan kalah’ antropolog ketika pemaknaan budaya tidak lagi semata-mata berada dalam konteks tradisi esoterik komunitas di daerah pegunungan atau pedalaman dengan teknologi rendah. Budaya dalam perspektif kontemporer lebih berkaitan dengan perkembangan masyarakat yang sangat dipengaruhi kemajuan teknologi informasi dan komunikasi massa dengan komodifikasi-komodifikasi dalam jagat kapitalis lanjut. Realitas itulah yang bagi para antropolog dianggap akan mengganggu ‘komoditas’ yang selama ini diperjuangkan dan menjadi ladang emas intelektual.

Sedangkan para pengkaji CS yang meredefinisi persoalan gender, seksualitas, dan rasisme sebagai konstruk sosio-historis sebenarnya mengalami kesulitan analitis untuk guna mengkaji rasisme sebagai konstruk kultural yang berubah secara historis tanpa kehilangan sentuhan dengan kekerasan aktual, baik cesara fisik, verbal, ataupun institusional, yang dihasilkan melalui supremasi sistemik kulit putih.

Image result for Youth culture

(https://johnsonee.com/2014/11/29/effects-of-social-media-on-youth-culture-historical-social-and-cultural-framings-in-the-construction-of-ideological-meaning-and-control/)

Sementara para pengkaji di ethnic studies seringkali merasakan bahwa CS sebagai usaha yang menjijikkan untuk merestorasi otoritas kaum laki-laki kulit putih dalam area-area yang mana mereka sebenarnya bisa berbicara dengan otoritasnya. Sementara, kelompok minor menganggap bahwa agenda tersembunyi dari CS adalah untuk memberikan peluang bagi otoritas kulit putih untuk mengkooptasi jurusan ethnic studies. Kekhawatiran tersebut didukung oleh kenyataan bahwa karya-karya mereka tentang keberagaman; demokrasi pendidikan; ras; supremasi kulit putih; interseksi gender, ras, dan seksualitas; politik budaya; sejarah segregasi dan gerakan hak-hak sipil; gerakan untuk demokrasi ekonomi; isu-isu kritis perumahan, pelayanan kesehatan, pekerjaan, dan pendidikan akan dinilai oleh konferensi dengan panel ahli yang semuanya berkulit putih serta diorganisir oleh pimpinan yang semuanya berkulit putih dari program CS.

Di balik semua kekhawatiran dan persoalan yang muncul, sebenarnya masih terdapat satu harapan bahwa di antara CS dan bidang-bidang yang merasa terganggu tersebut bisa saling melengkapi satu sama lain. ‘Pertemuan’ dan ‘percumbuan’ tersebut bisa melahirkan satu kajian yang menarik dan menantang. Baik antropologi maupun CS bisa mendapatkan objek baru kajian yang dengan menggunakan perbincangan antropologis tentang arena-arena interaksi di antara para anggota budaya yang berbeda. Para mahasiswa pascasarjana, misalnya, bisa bekerja dalam contact zone multikultural yang luas daripada harus meneruskan survei untuk mencari tempat yang masih utuh budayanya yang semakin jarang saat ini.

Di samping itu, praktik-praktik CS secara khusus memberikan kesempatan untuk menempatkan kontribusi dari ethnic studies dalam latar arusutama. Baik ethnic studies maupun CS secara prinsip dapat mengerjakan program-program mutual yang menguntungkan, khususnya jika mahasiswa dan fakultas minoritas bekerja dalam kedua ha tersebut.  Kedua pihak, misalnya, harus waspada terhadap kecenderungan peristiwa-peristiwa yang terlihat legal yang memungkinkan otoritas kulit putih menyebar dan berusaha untuk mengklaim status monopoli. Tentu saja, tawaran tentang kemungkinan pertemuan antara CS dengan disiplin-disiplin yang sudah mapan sangat masuk akal. Apalagi karakteristik dasar CS adalah terbuka terhadap disiplin-disiplin lain tanpa mengabaikan keketatan metodologis yang sudah ada selama ini. Namun, itu semua juga berpulang kepada para ilmuwan dalam jurusan-jurusan yang sudah mapan: mau atau tidak mengakui dan menerima kontribusi penting CS dalam ranah ilmu pengetahuan.

Keberagaman dalam CS

CS memerlukan keragaman untuk mengusung kegiatan-kegiatannya. Keragaman tersebut terutama dalam bagian disiplinnya. Sangatlah absurd bagi sebuah kelompok pemberontak dari para ahli sastra untuk menyudutkan pasar pada interdisiplinaritas, meskipun sudah pernah dicoba dan yang-akan-jadi kaisar tidak bisa selalu diperhitungkan hanya dengan memperhatikan baju-bajunya.

Mereka yang berkecimpung dalam CS sudah semestinya bertanya dan bertanya terus-menerus. Tindakan afirmatif untuk representasi dengan disiplin-disiplin yang berbeda, pendukung teori global versus kajian wilayah, dan juga isu-isu gender, ras, dan seksualitas tidak berarti sekedar memenui kuota-kuota dan memenuhi kebijakan lembaga. Sekali proses berubah, hasil-hasilnya bisa berubah tanpa risiko produk-produk inferior. Dan kita mesti mempertanyakan hasil-hasil tersebut, baik dalam pengertian kualitas tambahan maupun yang bermutu tinggi. Prosedur pencarian yang tengah berubah untuk mendapatkan orang-orang yang tepat dan berkualitas dalam CS harus juga diterapkan pada panel-panel konferensi, komite-komite akademis, kelompok-kelompok pembaca, pengajaran kelas, para penulis yang dihadrikan di dalam pelatihan serta para penulis yang dikutip dalam artikel-artikel publikasi, dan buku-buku. Memang bisa saja seorang pengkaji laki-laki membicarakan persoalan perempuan, tetapi akankah semua panel hanya terdiri dari laki-laki? Haruskah sebuah tulisan tentang multikulturalisme ditulis semua oleh orang kulit putih? Yang harus diingat pastilah ada perbedaan antara berbicara X, berdiskusi dengan X, serta membicarakan X.

Memang tujuan-tujuan keragaman akan menghasilkan kesalahpahaman dan sakit hati, terutama dalam periode transisi, akan menjadikan kehidupan intelektual tidak senyaman dulu. Para ahli yang berkonsentrasi pada kajian lokal, misalnya, bisa menantang dengan kasar para perampok yang selalu mengedepankan teori. Beberapa teoretikus, di sisi lain, bisa menjadi resisten dengan membawa teori dalam praktik, khususnya narasi pengalaman dan bentuk-bentuk lain dari pengetahuan lokal. Dalam dialog tersebut dan juga dialog-dialog lainnya, proyek CS mungkin akan lebih menguntungkan karena disubjekkan pada perspektif yang lebih luas dan dibutuhkan.

Ke depan…

Paparan argumen di atas menyiratkan bahwa ke depan bagi para pengkaji CS sudah semestinya menemukan bentuk-bentuk baru kolaborasi antara dosen, mahasiswa, peneliti, dan organiser konferensi. Kerja kolektif akan bisa melawan suburnya universitas-universitas besar yang sangat individualistik. Namun, universitas-universitas kecil yang kurang populer yang memiliki reading groups bisa menjadi inspirasi bagi model yang dicari. Mungkin kehadiran CS bisa dikembangkan untuk jangka panjang dengan mengorganisir unit-unit riset, program-program, serta reading groups. Bagi para intelektual non-akademis mungkin bisa lebih sistematik dibawah ke dalam dialog dengan harapan akan munculnya kehidupan intelektual publik yang lebih baik.  Dengan concern dalam keadilan sosial dan emansipasi manusia dapat mengarahkan produksi intelektual dan komposisi manusia dari kelompok-kelompok kerja tersebut. CS memang semestinya terus melakukan perbaikan internal yang lebih kreatif. Dalam level teoretik, disiplin ini bisa memperbaiki dirinya untuk menimbang tidak hanya budaya-budaya terpisah di ruang-ruang terpisah, tetapi juga beraneka budaya yang ada dalam satu ruang. Dalam level praktik, CS bisa mendiversifikasi dirinya terus-menerus dalam hal gender, ras, lokalitas, orientasi seksual, dan orientasi-orientasi kultural yang kompleks dewasa ini.

Membaca Rosaldo yang sedang berwacana

Tawaran-tawaran pemikiran Rosaldo perihal CS memang menarik untuk dibaca ulang. Di satu sisi dengan pemikiran tersebut, bisa membuka peluang yang lebih luas dalam ranah kajian CS dengan perspektif disiplin keilmuan yang lebih jelas dan kolaboratif sifatnya dan juga bisa ‘memperbarui’ disiplin-disiplin ilmu tradisional agar lebih kontekstual. Untuk konteks Indonesia, pemikiran Rosaldo memang sangat menarik untuk dikaji. Sebagaimana kita ketahui banyak praktik-praktik kultural—terutama yang lebih berorientasi tradisi lokal—yang kurang diperhatikan oleh para pemikir CS di Inggris, Amerika, Eropa, maupun Australia. Mereka selama ini lebih banyak berkonsentrasi dalam kajian budaya populer serta media. Dengan menggabungkan perspektif CS dan antropologi, misalnya, kita yang di Indonesia bisa mengkaji praktik-praktik budaya lokal secara komperhensif dengan memahami bentuk dan nilai filosofis berpadu dengan pembacaan terhadap kecenderungan-kecenderungan ideologis-kuasa yang selama ini kurang diperhatikan oleh para antropolog tradisional.

Di sisi lain, Rosaldo sebenarnya sedang ‘berwacana politis’ dengan mengatakan bahwa yang harus dibangun dalam CS adalah disiplin yang kolaboratif. Ia membayangkan bahwa dengan disiplin kolaboratif tersebut disiplin CS akan lebih memperoleh justifikasi ilmiah. Di samping itu, kolaborasi dengan para intelektual non-akademis juga dianggap sebagai wacana yang bisa memperbanyak intelektual publik yang mencerahkan kehidupan masyarakat. Jelas sekali ia sedang berwacana karena berusaha menggiring CS dalam permainan yang ambisius. Dan ini memang sah-sah saja. Namun yang harus diperhatikan adalah kesan ‘meremehkan’ perspektif-perspektif yang sudah pernah dikembangkan sebelumnya, antara lain kulturalisme, strukturalisme, representasi, hegemoni, dan lain-lain. Perspektif-perspektif meskipun tidak secara langsung mengatakan berusaha membela kepentingan kelompok-kelompok subordinat, namun sebenarnya secara wacana sudah mengusahakan sebuah interpretasi kritis yang ‘mencerahkan’.

Menurut saya, tawaran Rosaldo itu harus diperlakukan sebagai alternatif, namun bukan berarti harus ‘membunuh’ perspektif yang dikembangkan oleh Williams, Hall, Bennet, Willis, Storey, Willis, Fiske, dan lain-lain. Artinya masing-masing perspektif bisa menemukan kontekstualisasinya sendiri-sendiri. Dengan demikian, peta disiplin CS akan semakin kaya dengan warna dan orskestra yang mampu menjelajah banyak arena, baik teks, media, maupun praktik-praktik budaya lokal. Yang pasti, memberikan kritik secara terus-menerus terhadap CS akan menjadikannya semakin baik, khususnya dalam hal keterlibatan dalam permasalahan-permasalahan nyata dalam masyarakat.

Keterangan:

Tulisan ini merupakan critical review dari tulisan Renato Rosaldo.1993. “Whose Cultural Studies? Cultural Studies and the Disciplines”, dalam Peter Gibian (Ed). Mass Culture and Everyday Life. London& New York: Routledge.26-33.

Catatan akhir

[1] Kondisi ini sangat berbeda dengan kenyataan terkini, khususnya di era 2000-an, di mana sudah banyak ritual tahunan seperti seminar dan konferensi yang khusus membahas perkembangan CS. Bahkan penerbit besar seperti Routledge dan Sage Publications menerbitkan jurnal khusus CS.

Share This:

About Ikwan Setiawan 123 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*