Investasi pengetahuan dan gairah ber-pendidikan dalam Kalisat Tempoe Doeloe 2

IKWAN SETIAWAN

 

Download versi PDF

Sebuah pilihan bernama investasi pengetahuan

Sebuah pameran foto dari tempo dulu adalah usaha nyata untu menjaga dan merawat ingatan akan peristiwa-peristiwa, manusia-manusia, gedung-gedung, ruang-ruang, kegiatan-kegiatan, ragam budaya, bermacam harapan, dan juga kompleksitas permasalahan. Apakah hanya berhenti di situ? Tentu tidak. Menjaga dan merawat ingatan berbasis foto atau produk visual lain merupakan sebuah “momentum politiko-historis”. Yang saya maksudkan dengan momentum politiko-historis adalah bahwa dalam foto-foto yang ditampilkan tentu muncul konstruksi beragam makna atau wacana yang bisa digunakan untuk membincang perjalanan sejarah sebuah subjek atau komunitas sehingga bisa dimanfaatkan oleh para aktivis atau penggerak untuk menyatakan atau menegosiasikan kepentingan mereka. Negosiasi kepentingan ini berkorelasi dengan usaha mereka untuk mengingatkan dan mengajak publik sekaligus mengevaluasi proses perubahan dan permasalahan dari masa ke masa serta singgungan-singgugannya dengan masa kini dan kemungkinan di masa mendatang. Artinya, momentum pameran foto-foto masa lalu, sejatinya, adalah peristiwa kultural berdimensi kompleks yang darinya kita bisa bergerak secara lentur dan santai dari masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Peristiwa itu pula yang saya resapi dan hayati ketika menikmati pameran foto Kalisat Tempo Doeloe 2 (7-8 Januari 2017, selanjutnya disingkat KTD 2) bersama Java, putra pertama saya. Java langsung tertarik dengan puluhan foto yang memajang budaya pendidikan—segala aktivitas murid dan guru, baik di ruang kelas ataupun di luar gedung—di Kalisat, baik dari era kolonial hingga pasca kemerdekaan. Mungkin karena dia sendiri juga masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar sehingga begitu matanya menatap puluhan gambar anak-anak dan para guru dari masa lalu sedang berkegiatan, Java langsung merasa perlu untuk menikmati dan membandingkan dengan dunianya sekarang. Terlepas dari hal itu, saya membaca, panitia memang sengaja menonjolkan wacana gairah dan budaya pendidikan dalam pameran kali ini sehingga puluhan foto itu dipajang di ruang pertama ketika penikmat masuk arena. Hal itu diperkuat dengan testimoni seorang guru perempuan yang membawa dan menghadirkan ingatan masa lalunya di dalam booklet pameran KTD 02. Pilihan ruang pameran untuk penempatan foto dan testinomi guru, paling tidak, memperkuat formasi wacana budaya pendidikan dan gairah berpendidikan yang tengah dinegosiasikan panitia.

Sebagai praktik budaya visual,[1] pameran foto-foto masa lalu merupakan usaha merekonstruksi dan menghadirkan ingatan kepada publik masa kini. Masa lalu Kalisat tentu menyimpan banyak permasalahan sekaligus beragam potensi, harapan, dan impian, baik di bidang pendidikan, ekonomi, budaya, hingga kebangsaan. Dari penghadiran itulah, paling tidak, warga bisa sedikit memahami sejarah masyarakat, budaya, permasalahan, dan harapan, yang sekaligus akan menjadi cahaya bagi generasi berikutnya. Inilah yang disuguhkan oleh panitia kepada para penikmat yang hadir dalam KTD 2 setelah melalui perjuangan yang cukup berat. RZ Hakim, salah satu penggagas acara ini, menuturkan dalam booklet sebagai berikut.

Teman-teman, hari ini kita bersusah payah mencari tahu sejarah kampung kita sendiri, tak hanya yang heroik tak hanya yang baik-baik. Itu semua untuk kebutuhan hidup kita sendiri, dan untuk generasi Kalisat yang bahkan kini belum lagi dilahirkan… Ada saatnya kita merasa lelah, merasa tak berdaya sebab tak kunjung menjumpai data-data yang kuat, kadang merasa iri dengan wilayah-wilayah lain yang kaya sumber sejarah, sedangkan milik kita terasa gersang. Namun, bila kita bersedia memelihara niat, insyaallah akan ada jalan. Setidaknya, saat-saat ketika kita melakukan proses pencarian sejarah kampung kita sendiri, tanpa disadari kita telah mengukir sejarah baru yang bermartabat.[2]

Tepat sekali yang dikatakan Hakim; mengusahakan ratusan foto dari masa lalu merupakan “proses menciptakan sejarah itu sendiri”. Saya bisa membayangkan betapa tingginya semangat kawan-kawan panitia yang terlibat dalam pelacakan foto-foto tersebut. Kadang mereka dengan mudah menemukan anak atau cucu dari individu yang memiliki foto. Kadang mereka harus bersusah payah menemukan foto-foto yang terkait dengan masa lalu Kalisat. Itu semua adalah proses historis yang harus direkam dalam benak mereka dan warga yang menyaksikan pameran ini. Menghadirkan masa lalu dengan beragam dinamika, permasalahan, dan kompleksitasnya, sejatinya, adalah pilihan dalam bentuk agensi yang jarang dilirik oleh banyak subjek dalam kehidupan mutakhir yang semakin cepat dan selalu berorientasi ke capaian masa depan ini.

Pilihan tersebut sekaligus menjadi investasi pengetahuan bagi generasi penerus di wilayah Kalisat, pada khususnya, dan Jember, pada umumnya. Mengapa investasi pengetahuan? Karena, bagaimanapun juga, ratusan foto dari KTD 1 hingga KTD 2 merupakan ‘tumpukan’ informasi, wacana, dan data yang bisa digunakan untuk mengetahui (1) partikularitas kondisi masyarakat Kalisat dan budayanya, (2) suasana batin individual dan komunal dalam menghadapi gerak zaman, (3) peristiwa-peristiwa historis yang sepantasnya menjadi ingatan komunal sebagai bahan pembelajaran; (4) capaian-capaian individual dan komunal, baik dalam lingkup institusi formal maupun informal, (5) permasalahan-permasalahan dominan yang berkembang dari masa ke masa, dan masih banyak lagi yang lain.

KTD 2

Pilihan investasi pengetahuan melalui KTD 2 ini sejalan dengan semakin terbiasanya warga, khususnya generasi muda dengan budaya visual, baik yang biasa mereka lakoni dan alami dengan android maupun yang mereka dapatkan dari media sosial, televisi, film, majalah, baliho, spanduk dan lain-lain. Sebagaimana diungkapkan Nicholas Mirzoef, bahwa pengalaman manusia saat ini lebih bersifat visual dari pada masa-masa sebelumnya, sehingga budaya visual bukan sekedar bagian kehidupan sehari-hari kita, tetapi ia adalah kehidupan sehari-hari kita.[3] Artinya, visualitas menjadi elemen penting yang ikut menentukan gerak kultural manusia dan masyarakat. Sementara mereka biasa mendapatkan beragam wacana dari kebiasaan menikmati visualitas tersebut, dengan menikmati foto-foto yang dipajang dalam pameran ini, generasi muda Kalisat atau yang berasal dari wilayah lain di Jember dan sekitarnya, bisa menikmati beragam wacana historis dari banyak foto yang dipamerkan. Visualitas dalam KTD 2 sekaligus menjadi jeda atau alternatif dari kebiasaan visual sehari-hari. Artinya, para penikmat akan mendapatkan wacana-wacana yang berbeda dari wacana yang mereka peroleh dari kebiasaan visual sehari-hari mereka. Di sinilah, menurut saya, letak kejelihan dan kecerdasan para penggagas dan panitia ini. Mereka memberikan alternatif—meskipun hanya beberapa hari—kepada generasi muda dan warga berupa pengetahuan historis yang sejatinya sangat menentukan wajah dan perkembangan wilayah, masyarakat, dan budaya Kalisat.

Dalam konteks yang lebih luas, penghadiran pengetahuan-pengetahuan historis sebagai alternatif juga bisa dibaca sebagai bentuk “pendidikan kritis via visualitas”. Memodifikasi pemikiran David Darts tentang seni, pedagogi, dan resistensi kreatif, KTD merupakan pendidikan kritis yang berlangsung dalam ruang-ruang alternatif (non-ruang kelas) yang berperan strategis dalam mentransformasikan kesadaran publik bahwa ada beragam bentuk dan wacana lain yang menarik untuk dinikmati sekaligus memunculkan aktivitas kultural oposisional terhadap kekuatan, ideologi, atau budaya dominan yang tengah mengarahkan, mengendalikan, dan menguasai mereka dengan beragam visualitas.[4] Memang KTD tidak melakukan resistensi frontal terhadap budaya visual-populer yang tengah menjadi trend dewasa ini, tetapi pameran ini mampu menjadi resistensi kreatif dengan menyuguhkan keunikan-keunikan foto lama yang sekaligus akan menjadikan para penikmat berpikir-ulang untuk tidak mengabaikan catatan-catatan peristiwa dan konstruksi wacana yang diusung. Saya meyakini bahwa perluasan penikmat dan penambahan variasi foto dalam KTD-KTD berikutnya akan menjadikan pameran ini di masa mendatang menjadi kekuatan visual-kultural alternatif sekaligus kreatif yang cukup strategis.

Gairah berpendidikan dari masa lalu

Sebagaimana saya singgung secara singkat sebelumnya, sebagian besar foto-foto masa lalu yang disuguhkan dalam KTD 2 menampilkan “gairah berpendidikan”. Tentu, saya tidak dalam kapasitas untuk memberikan jawaban mengapa kebanyakan foto yang dipajang bercerita tentang gairah berpendidikan. Saya hanya bisa berasumsi mungkin ketika dalam proses pencarian, pelacakan, dan pengumpulan, foto-foto tentang pendidikanlah yang lebih banyak didapatkan karena pada masa-masa ketika kamera dan foto masih menjadi benda budaya yang mewah, institusi pendidikanlah yang punya banyak kesempatan untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa yang melibatkan murid/siswa dan guru. Meskipun demikian, menyimpan dan memelihara foto-foto itu—terlepas apapun motifnya—tentu bukan hanya bertujuan mendokumentasikan peristiwa penting, tetapi juga menjaga dan menggerakkan ingatan sebagai sejarah yang akan terus menyertai perjalanan individu ataupun komunitas. Dan, kalau panitia memilih untuk menegosiasikan sejarah aktivitas pendidikan masa lalu di Kalisat, menurut saya, itu adalah sebuah pilihan tepat. Mengapa saya mengatakan demikian? Terdapat beberapa alasan yang bisa saya ajukan.

Pertama, dominasi foto-foto tentang pendidikan dalam KTD 2 merupakan sebuah penegasan bahwa warga Kalisat memiliki ‘gairah tinggi’ terhadap pendidikan, dari tingkat dasar hingga menengah (SMP-SMA). Di tengah-tengah keterbatasan fasilitas  pendidikan masa lalu, para murid menjaga semangat untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dari para guru.

KTD 1

Gambar di atas, misalnya, menunjukkan semangat belajar yang luar biasa dari para siswa dan guru. Ruang kelas yang terbuat dari kayu dan bambu tidak mengurangi gairah para siswa untuk berpendidikan. Pemunculan foto-foto seperti ini, tentu saja, diharapkan mampu memberikan semangat baru kepada para siswa masa kini yang mendapatkan fasilitas pendidikan yang secara umum bisa dikatakan lebih baik. Proses komparasi visual dengan kenyataan masa kini merupakan ‘momen jeda’ bagi penikmat KTD yang diharapkan mampu memunculkan proses refleksi-diri. Proses tersebut menjadi penting karena refleksi akan mengantarkan mereka pada kontemplasi penting yang menghadirkan keutamaan berpendidikan yang melampaui bermacam batasan dan keterbatasan. Dengan kata lain, ketika dengan bermacam fasilitas canggih di masa kini mereka kurang bersemangat untuk mendapatkan pengetahuan melalui ruang kelas, secara psikis mereka akan merasa malu dengan melihat foto proses belajar-mengajar tersebut. Selain itu, penghadiran foto-foto para siswa dan guru sedang berolah raga juga menegaskan betapa pendidikan itu sangat menyenangkan karena tidak melulu berada di ruang kelas. Itu semua mengonstruksi wacana gairah dan budaya berpendidikan di Kalisat sejatinya bersifat kompleks karena mencakup banyak aspek dan subjek manusia.

Kedua, bahwa budaya dan gairah berpendidikan bukan hanya terjadi di Jember Kota sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga di kota-kota kecil seperti Kalisat. Hal ini menjadi penting untuk mengubah mindset bahwa pendidikan yang baik dan bermutu hanya ada di Jember karena wilayah-wilayah lain juga punya sejarah panjang pendidikan dengan warna spesifik, selain keterbatasan-keterbasan yang melingkupinya. Foto-foto tersebut juga bisa menjadi rujukan untuk mengetahui alih fungsi bangunan-bangunan terkait pendidikan yang ada di Kalisat. Dalam booklet, misalnya, diuraikan testimoni Fatmanijah, seorang pendidik yang mengalami masa kolonial, tentang keberadaan sekolah Taman Siswa di Kalisat sejak 1922. Artinya, Kalisat sudah menjadi wilayah yang menjadi target ‘perluasan pendidikan’ perguruan Taman Siswa di masa kolonial dengan sekian pertimbangan khusus—seperti banyaknya anak-anak dan remaja, tingkat ekonomi warga, serta keberagaman kultural masyarakat. Sayangnya, bangunan itu kini beralih fungsi menjadi Bengkel Soponyono di Desa Glagahwero.[5] Ini tentu menegaskan betapa makna historis sebuah bangunan sekolah dari masa kolonial dengan begitu mudah dimusnahkan ketika  ada perubahan rezim negara dan kepentingan yang melingkupinya. Sebuah bangunan yang bisa menjadi warisan budaya dengan mudah difungsikan untuk bengkel ketika rezim penguasa juga tidak memiliki ketegasan dalam membuat kebijakan perlindungan. Dan, ini memang tidak hanya terjadi di Kalisat, tetapi juga di wilayah-wilayah lain, di mana banyak bangunan dari masa kolonial dialihkan fungsinya atau hancur tak terawat. Penghilangan makna historis ini merupakan kejahatan terhadap peradaban karena menghilangkan ingatan akan sejarah panjang menjadikan masyarakat berbudaya tulis dan pendidikan. Dengan kata lain, KTD 2 dan juga KTD-KTD selanjutnya, sejatinya, memiliki pesan agar semua piha—khususnya rezim negara dan pemilik modal—agar tidak mudah menghilangkan situs ingatan, khususnya yang berkaitan dengan peradaban tulis yang ditopang gairah dan budaya berpendidikan.

Sekedar catatan yang bukan akhir

Sungguh sangat disayangkan, saya belum punya waktu dan kesempatan untuk “memelototi” foto per foto karena keterbatasan waktu berkunjung ke KTD 02. Telaah foto per foto dari masa ke masa sangat diperlukan untuk mengetahui dinamika, transformasi, dan perubahan yang berlangsung dalam budaya dan gairah berpendidikan—dan juga persoalan lainnya—yang berlangsung di Kalisat. Bagaimanapun juga, setiap foto dari masa yang berbeda memiliki partikularitas baik terkait suasana, wujud, maupun subjek, yang bisa digunakan untuk membaca kekayaan wacana dan permasalahan dari masing-masing zaman. Terlepas dari hal itu, apresiasi harus kita berikan kepada para panitia yang telah memilih—sekali lagi—investasi pengetahuan sebagai persembahan kepada generasi muda.  Lebih-lebih, panitia dalam kesederhanannya mampu menciptakan suasana pameran di kafe yang santai tetapi tetap mengutamakan kreativitas-kreativitas ala anak muda. Misalnya, kita bisa menikmati sajian musik sederhana dari para musisi muda Kalisat sembari menyantap gorengan dan me-nyruput kopi. Ada juga talkshow sederhana yang melibatkan para pelajar. Pemaduan manis antara investasi pengetahuan, maksimaliasi potensi generasi muda, dan ekonomi kreatif kafe merupakan kekuatan yang perlu ditularkan ke komunitas-komunitas lain di Jember dan luar Jember.

 

Bagi saya pribadi, kegiatan KTD dan kegiatan-kegiatan lain yang sejenis, merupakan prestasi kawula muda dan sekaligus ‘tamparan manis’ kepada para birokrat yang berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan. Merekalah yang seharusnya memiliki kesadaran untuk membuat program atau kegiatan terkait pendidikan berbasis peristiwa masa lalu sebagai kaca benggala masa kini. Sudah seharusnya pula mereka memiliki kesadaran dan political will untuk merawat situs-situs ingatan warisan masa lalu sebagai kekayaan budaya dan peradaban yang tak ternilai harganya. Bukannya membiarkan bangunan-bangunan sejarah—apalagi terkait pendidikan—beralih-fungsi dengan begitu mudah untuk aktivitas lain atau hancur karena tidak ada perawatan. Kalau generasi muda Kalisat saja memiliki kepedulian terhadap usaha untuk merawat ingatan sebagai bentuk investasi pengetahun, maka sungguh terlalu kalau para birokrat dan dinas terkait tidak berani atau tidak berkeinginan membuat program serupa dengan tetap melibatkan generasi muda.

Catatan akhir

[1] Budaya visual secara sederhana bisa didefinisikan sebagai semua aspek budaya yang diekspresikan dalam citra visual, bermacam praktik visual dalam masyarakat, atau beragam representasi visual yang menghadirkan wacana-wacana partikular.

[2] RZ Hakim. 2017. “Ketika Kelak Anak-anak Bertanya tentang Kalisat”, Pengantar dalam Booklet Pameran Kalisat Tempo Doeloe 2.

[3] Mirzoef, Nicholas. 1999. An introduction to visual culture. New York: Routledge.

[4] David Darts. 2004. “Visual Culture Jam: Art, Pedagogy, and Creative Resistance”. Dalam Studies in Art Education, 45(4): 313-327.

[5] “Wajah Pendidikan Di Kalisat Tempo Dulu di Mata Seorang Fatmanijah”, dalam Booklet Pameran Kalisat Tempo Doeloe 2.

Share This:

About Ikwan Setiawan 123 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*