Memperluas ruang kreativitas sastrawi: Catatan kecil tentang Sekolah Sastra Jember 2017

IKWAN SETIAWAN

 

Download versi PDF

Peralihan dari taraf satu ke taraf yang berikut, senantiasa membawa persoalan-persoalan yang mengguncangkan manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Semua itu, seperti juga tekad hendak maju, tantangan dan kesulitan yang dihadapi, serta konflik-konflik yang menyertai proses kemajuan itu, sudah sepatutnya merupakan bahan-bahan mentah untuk beragam-ragam karya seni. Kita sebenarnya baru pada taraf permulaan saja, dalam menggali sumber kekayaan seni itu. Soal-soal yang bergandengan dengan industrialisasi, modernisasi kehidupan, baik di desa maupun di kota, masih kurang diperhatikan di dalam sasrta, drama, dan seni lukis kita. (Soedjatmoko)[1]

Titik berangkat

Pada era 1960-an ketika bangsa ini mengalami dinamika dan permasalahan kehidupan dalam segala bidang, Soedjatmoko, salah seorang pemikir sosialis Indonesia, mengingatkan para seniman—termasuk di dalamnya para sastrawan—tentang pentingnya “sumber kreativitas” yang berasal dari proses kultural di tengah-tengah masyarakat. Bagaimanapun masyarakat Indonesia pada masa itu, di tengah-tengah gempita politik dan geliat kultural yang mewarnai, mengalami dinamika yang melibatkan banyak individu—baik yang berasal dari masyarakat desa maupun kota, baik dari kelas bawah hingga kelas elit. Mereka tentu memiliki impian, harapan, keputusasaan, kesedihan, ataupun kegembiraan yang menjadi struktur perasaan dalam gerak industrialisasi dan mulai berkembangnya kehidupan modern. Mereka tentu mengalami ‘terbang tinggi’ bersama propaganda nasionalisme rezim penguasa, sekaligus merasakan masa-masa krisis ekonomi di tengah-tengah kampanye dan program pembangunan.

Soedjatmoko menekankan pentingnya kesadaran para seniman dan sastrawan untuk menggali sumber kreatif langsung dari kehidupan rakyat karena mereka memiliki tanggung jawab untuk ikut menyukseskan revolusi Indonesia yang masih berjalan pada era 60-an. Baginya, tugas seniman dan sastrawan adalah menjaga kemanusiaan manusia Indonesia.[2] Artinya, mereka melalui karya, bisa menyuarakan narasi yang memiliki pesan atau wacana agar manusia Indonesia tidak hanya larut, terjebak, dan tenggelam di dalam usaha pembangunan nasional. Karya mereka juga bisa menjaga agar manusia Indonesia tidak menjadi objek dan alat semata. Meskipun dalam proses dan produksi kreatif juga muncul kepentingan ekonomi, apa yang menjadi panggilan utama bagi seni dan seniman adalah penyelesaian revolusi Indonesia. Makna dari revolusi ini adalah sebuah tahapan pascakemerdekaan yang menekankan perubahan nilai, cara pandang, orientasi, dan praktik menuju perubahan hidup yang lebih tertata, baik, dan sejahtera yang melibatkan segenap elemen bangsa.

Saya sengaja menyampaikan pendapat Soedjatmoko tersebut di tengah-tengah kepemimpinan yang mengabarkan akan meneruskan program revolusioner Sukarno. Di tengah beragam capaian-capaian pembangunan infrastruktur yang membanggakan, senyatanya pemerintahan saat ini masih memiliki banyak kelemahan. Gerakan perlawanan terhadap pabrik semen di Rembang dan perusahaan emas di Tumpang Pitu Banyuwangi yang tidak segera direspons oleh pemerintah pusat merupakan bukti nyata betapa rezim penguasa sekarang tidak berani tegas ketika berhadapan dengan (pe)modal besar. Selain itu, untuk wilayah Jawa Timur, pada umumnya, dan wilayah Tapal Kuda, pada khususnya, kita menyaksikan beberapa pemimpin yang moncer, seperti Walikota Risma dari Surabaya, Bupati Anas dari Banyuwangi dan Bupati Faida dari Jember. Risma menjadi contoh bagaimana seorang perempuan bisa menjadi pemimpin yang tegas dan dianggap memberikan manfaat kepada mayoritas warga Surabaya. Banyuwangi tumbuh menjadi kekuatan pariwisata baru yang menyita pemberitaan nasional. Bermacam prestasi juga diperoleh pemerintah kabupaten Banyuwangi. Demikian pula dengan Faida yang memimpin Jember dengan ketegasan dan sikap non-komprominya terhadap korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Apakah di tengah-tengah semua prestasi itu masyarakat ikut merasakan rembesan hasil pembangunan secara merata ataukah masih dililit banyak masalah? Para sastrawan, baik yang sudah memiliki nama besar atau yang baru merintis jalan kepenulisan—mengikuti pemikiran Soedjatmoko di atas—memiliki tanggung jawab kultural untuk menarasikan, memuisikan, dan mendramakan permasalahan-permasalahan personal dan komunal yang dihadapi individu-individu dalam masyarakat yang tengah berubah saat ini. Secara sederhana bisa dikatakan, jangan sampai pemberitaan semua prestasi pemimpin menjadikan para pengarang “silau” dan ikut-ikutan lupa bahwa dalam masyarakat senyatanya masih banyak permasalahan, seperti orientasi menjadi modern dan maju di tengah-tengah batasan-batasan tradisional, pengaruh ketidakmerataan program pembangunan, serta kerakusan penguasa dan pemodal terhadap sumberdaya mineral yang bisa berdampak secara massif terhadap rusaknya lingkungan.

FB_IMG_1489928823338

Para peserta dan panitia Sekolah Sastra Jember 2017

Sekolah Sastra Jember: Meretas ruang kreativitas

Maka, bagi saya pribadi, Sekolah Sastra Jember (selanjutnya disinngkat SSJ), 11-12 Maret 2017, merupakan usaha luar biasa dari Bidang Sastra Dewan Kesenian Jember untuk meretas dan memperluas “ruang kreativitas sastrawi”. Ruang kreativitas sastrawi adalah sebuah ruang kultural yang menjadi arena bagi para penulis sastra untuk menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas tulis mereka berbasis permasalahan-permasalahan complicated yang ada dalam masyarakat tempat mereka hidup. Ruang ini memungkinkan para pengarang untuk menemukan pernik-pernik yang menarik dari realitas sosial masyarakatnya yang kemudian ditransfer dalam imajinasi untuk kemudian dituliskan dalam bentuk puisi, prosa, ataupun drama. Dalam ruang ini para penulis bisa mengambil inspirasi tidak hanya dari permasalahan sosial, ekonomi, dan politik, tetapi juga bisa dari budaya residual seperti sastra lisan—dongeng dan legenda—yang ada di masyarakatnya dengan prinsip “membawa masa lalu ke masa kini”. Cerita-cerita lisan ditransformasikan ke dalam latar waktu dan dikontekstualisasikan ke dalam permasalahan masa kini. Artinya, para penulislah yang harus aktif menciptakan ruang kreativitas sastrawi tersebut, sehingga bisa semakin meluas dan—syukur-syukur—bisa memengaruhi orang-orang di sekitarnya.

FB_IMG_1489812469245

Pemateri Kritik Sastra menyampaikan paparan dalam SSJ 2017

Hadirnya para pemateri dari bermacam latar belakang—dari dosen, sastrawan hingga aktivis—dan beragam materi—dari puisi, novel, cerpen, filolofi, sastra lisan, sastra anak, hingga kritik sastra—menjadi kekuatan diskursif dan praksis yang sejatinya bisa mempengaruhi pola pikir dan laku para peserta. Mereka yang berasal dari latar belakang pendidik (guru), aktivis, dan penulis muda dari beberapa daerah (Jember, Banyuwangi, Situbondo, hingga Surabaya) memiliki kesempatan untuk menyerap wacana dan pengetahuan yang disampaikan oleh para pemateri. Memang, pelatihan selama dua hari ini tidak akan menjamin para peserta menjadi sastrawan besar. Paling tidak, mereka mendapatkan masukan-masukan pengetahuan yang akan menjadi ‘teman’ dalam proses kreatif yang mereka jalani. Atau, bagi mereka yang memang sudah terbiasa menulis karya, masukan-masukan tersebut bisa semakin memperluas sudut pandang terkait pilihan genre, moda naratif, tema, dan wacana yang disampaikan dalam karya atau bisa memberikan alternatif bagaimana harus memahami masyarakat dan budaya tempat mereka hidup sebagai manusia.

Materi tentang sastra anak, misalnya, bisa memberikan gambaran bagaimana karya-karya terkait dunia anak yang sebenarnya sangat kaya akan persoalan ideologis. Bahwa karya-karya yang ditujukan untuk pembaca anak-anak memang berbicara dunia mereka, tetapi ketika karya-karya itu ditulis penulis-penulis dewasa, akan muncul dalam cerita representasi-representasi wacana dan pengetahuan yang berjalin-kelindan dengan posisi kelas sosial mereka, misalnya. Para peserta SSJ tentu bisa menemukan sumber cerita dari kehidupan sehari-hari, media, ataupun cerita lisan untuk dikembangkan menjadi cerita-cerita fiktif yang berdimensi sosio-kultural untuk mengenalkan mereka ke dalam dunia yang penuh warna. Para peserta juga bisa keluar dari bingkai didaktik/pedagogik yang selalu dengan mekanisme solutif-praktis bersifat “menggurui”. Alih-alih, mereka bisa membiasakan pembaca dengan opsi-opsi pemecahan masalah yang sesuai dengan imajinasi dan pikiran anak-anak. Pembiasaan anak-anak tentang budaya memilih merupakan langkah sejak dini untuk menjadikan mereka generasi penerus yang tidak terbiasa dengan dogma.

FB_IMG_1489928840128

Pemateri Sastra Anak sedang menyampaikan materi

Dari materi sastra lisan, paling tidak, para peserta selain mengerti bermacam jenisnya, juga bisa belajar bagaimana menjadikan kekayaan sastra lisan di Jawa Timur ataupun Indonesia sebagai sumber kreatif sastrawi baru. Dari wayang, misalnya, kita bisa belajar persoalan moral yang meskipun tampak hitam-putih, tetap bisa kita temukan dimensi keanekaragaman peran dalam kehidupan manusia. Romo Magnis Suseno mengatakan bahwa moral wayang adalah moral yang konkrit sekaligus kompleks.[3] Wayang menyuguhkan kemungkinan-kemungkinan tindakan manusiawi, tetapi tidak menawarkan jawaban-jawaban sederhana. Moral wayang menawarkan keanekaragaman hidup manusia, tentang beratnya tanggung jawab yang termuat dalam pengambilan setiap keputusan, tetapi ia tidak memutuskan sesuatu. Kita sendiri harus menemukan apa yang menjadi kewajiban masing-masing. Dalam wayang kita melihat bahwa setiap golongan—dewa, brahmana, satria, punakawan, dan lain-lain—mempunyai norma-normanya sendiri.[4] Lebih dari itu, masing-masing pribadi, entah itu Bima, Kresna, Karna, Resi Bisma, Destarata, ataupun Sengkuni, mempunyai tugas tersendiri yang ditentukan oleh para dewa, masing-masing memainkan peranannya entah luhur entah rendah karena justru itulah yang diperlukan untuk mempertahankan keselarasan alam dan masyarakat. Tentu, para penulis yang dekat dengan latar-belakang Jawa dan terbiasa dengan seni pertunjukan wayang bisa mentransformasikan atau mengubah acuan-acuan moral tersebut sesuai dengan kondisi zaman dan masyarakat.

Memperluas ruang kreativitas sastrawi

Terus menumbuhkan dan membangun ruang-ruang kreatif merupakan keutamaan yang sudah semestinya selalu dilakukan para penulis. Dengan cara seperti itulah para sastrawan bisa mewujudkan tanggung jawab estetika dan sosialnya untuk terus menulis karya-karya bermutu yang sekaligus mengusung dimensi diskursif untuk tanggung jawab kemanusiaan. Mochtar Lubis pada era 1970-an dengan lantang mengatakan:

Untuk dapat menumbuhkan sikap-sikap yang kreatif, tidak saja di kalangan pengarang dan seniman, tetapi di seluruh lapisan masyarakat kita, maka perlu pembina ruang kreatif bagi manusia Indonesia. Kita perlu membina apa yang dikatakan sebagai creative anxiety [rasa haru-cemas kreatif], yang menggerakkan manusia untuk bertindak. Ruang kreatif tentu hanya dapat dibina di atas landasan kebebasan kreatif. Orang suka lupa pada adanya saling-hubungan antara perkembangan kekuatan intelektual dengan adanya ruang kreatif yang mempengaruhi pula perkembangan dalam masyarakat. Masyarakat yang tidak menumbuhkan dalam dirinya toleransi pada ciptaan-ciptaan baru, pikiran dan sikap baru, betapapun juga dianggap tidak baik, tidak disenangi, dan tidak disetujui, menghukum dan mengutuk dirinya sendiri untuk bukan saja tidak akan maju, tetapi malahan akan terjatuh ke dalam kemunduran.[5]

Ucapan-ucapan Lubis di atas, rasa-rasanya, masih cukup relevan kita transoformasikan di masa kini. Ruang kreativitas sastrawi merupakan sebuah ruang imajiner sekaligus konkrit. Imajiner karena ia menuntut kecerdasan dan kejelihan pikiran para sastrawan untuk menumbuh-kembangkan dalam gerak kehidupan yang konkrit. Untuk bisa memperluas medan magnet ruang kreativitas, para penulis tidak bisa menutup diri terhadap pengetahuan, permasalahan, genre, moda naratif, dan gaya bertutur baru, baik yang berasal dari kecenderungan sastra di luar negeri maupun di dalam negeri. Sikap ulang-alik global-lokal dan lokal-global bisa menjadi kekuatan kreatif yang bisa memperjumpakan para penulis dengan kekayaan dan keragaman sastra internasional  untuk kepentingan mendialogkan dengan kekuatan sastra lokal/nasional.

FB_IMG_1489928949441

Pemateri Filologi memaparkan materinya

Lebih jauh lagi, para alumni SSJ juga bisa memosisikan diri mereka sebagai ‘pembina’ bagi tumbuh-kembang kreativitas sastrawi di wilayahnya masing-masing. Dr. Suporaharjo, pendiri Komunitas TANOKER, Ledokombo Jember, telah berbagi pengalaman bagaimana cara dan usaha untuk mendirikan komunitas bermain sekaligus literasi yang tidak hanya bisa membangun tradisi positif berbasis lokalitas bagi anak-anak dan generasi muda, tetapi juga warga dewasa. Beberapa tahun terakhir mulai tumbuh komunitas-komunitas literasi di beberapa wilayah seperti Banyuwangi, Situbondo, dan Jember. Keberadaan komunitas-komunitas ini tentu bisa menjadi medium untuk semakin memperluas ruang kreativitas kultural yang bisa menjangkau anak-anak, remaja, dan generasi muda. Pertemuan-pertemuan rutin alumni SSJ yang juga melibatkan para penulis lain bisa menjadi gerakan yang semakin memperluas medan magnet sastrawi di masing-masing wilayah. Komunikasi lintas-wilayah, baik melalui grup WA dan FB maupun perjumpaan langsung, bisa memperkaya informasi tentang perkembangan dan permasalahan masing-masing komunitas untuk saling memberikan masukan. Selain itu, pertemuan antarkomunitas juga bisa membincang permasalahan-permasalahan penting dalam masyarakat, sehingga para penulis mendapatkan sumber kreatif baru untuk proses menulis.

Apa yang tidak kalah pentingnya dilakukan adalah kemauan untuk “turun ke bawah”, melakukan observasi mendalam terhadap permasalahan individual dan komunal yang terjadi dalam sebuah masyarakat. Meskipun sastrawan bukan peneliti, tetapi mereka juga bisa melakukan metode etnografi—semisal melalui wawancara mendalam dan observasi terlibat—untuk menggali data-data secara mendalam langsung dari pelaku di masyarakat. Data-data itulah yang kemudian bisa diolah secara imajiner-fiksional untuk membuat cerita yang tidak jauh dari permasalahan yang dihadapi masyarakat. Masalah-masalah masyarakat perkebunan, pinggir hutan, dan pesisir, atau krisis ekologis akibat kerakusan penguasa dan pemodal tambang, misalnya, bisa dieksplorasi menjadi cerpen, novel, puisi, ataupun drama yang menarik sekaligus ber-misi. Artinya, karya-karya berbasis permasalahan dalam masyarakat sekaligus bisa menjadi manifesto pengarang untuk menentukan sikap dan keberpihakan dalam menyikapi permasalahan tersebut. Keberpihakan terhadap masalah hidup yang dialami rakyat sebagai akibat ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan penguasa dan pemodal sudah sepatutnya dilakukan penulis dalam karyanya, karena hal itu langsung berkaitan dengan permasalahan kemanusiaan sebagai kekuatan diskursif dalam semua karya sastra di manapun mereka tumbuh dan berkembang. Ketika para penulis hanya diam ketika terjadi peminggiran rakyat kecil melalui kebijakan dan program yang tidak berpihak, berarti mereka secara langsung telah melupakan tanggung jawab kultural dan ideologis sebagai manusia istimewa yang diberikan kemampuan kreatif dan kritis. Semoga para alumni SSJ 2017 tetap bisa menjaga, menumbuhkan, dan mengembangkan kekuatan kreatif dan kritis itu dalam setiap tulisan dan gerakan untuk memperluas ruang kreativitas sastrawi.

Catatan akhir

[1] Soedjatmoko, 1996. Etika Pembebasan, Pilihan Karangan tentang: Agama, Kebudayaan, Sejarah, dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: LP3ES.hlm.55.

[2] Ibid.

[3] Franz Magnis-Suseno. 1995. Wayang dan Panggilan Manusia. Jakarta: Penerbit Gramedia.

[4] Ibid.hlm.29.

[5] Mochtar Lubis. 1993. “Membina Ruang Kreatif”, dalam Budaya, Masyarakat, dan Manusia Indonesia: Himpunan “Catatan Kebudayaan” Mochtar Lubis di Majalah Horison. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.hlm.25.

Share This:

About Ikwan Setiawan 123 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*