Dalam Bayang-Bayang Irama dan Kata: Tentang Pentas Malam Sastra, Sekolah Sastra Jember

Rintik menyapa di halaman parkir Dinas Pendikan (Dispendik) Jember pada sabtu malam 11 maret 2017 kemarin. Serentak beberapa panitia membungkus lampu-lampu panggung yang digantungkan pada pohon. Dan beberapa yang lain terlihat telah lelah dengan beberapa tekanan yang sudah dialaminya sedari kemarin. Tapi itu semua tidak menyurutkan kegiatan malam itu. Aura semangat tetap menyebar. Ternyata semesta masih memberikan kesempatan kepada teman-teman pelaksana kegiatan untuk melanjutkan acara mereka. Awan tidak lagi mengucurkan air mata. Panitia Sekolah Sastra Dewan Kesenian Jember melanjutkan rangkaian kegiatan berikutnya, Pentas Malam Sastra.

Pementasan ini diadakan di halaman parkir Dispendik Jember,yang pada awalnya direncanakan untuk diadakan di aula. Ada beberapa kendala sehingga acara tidak bisa dilanjutkan di aula. Panitia menggunakan tata artistik dan properti yang sederhana untuk mengubah halaman parkir tersebut menjadi panggung pementasan. Dan ternyata dengan sederhana pun, tetap membuat pangung itu terlihat cantik.

Kegiatan malam itu diisi oleh beberapa pementasan. Dramatisasi Cerpen, Musikalisasi Puisi, Pembacaan puisi pamflet, musik puisi dan deklamasi. Sebagai pembuka adalah dramatisasi Cerpen “Aku Pembunuh Munir” yang dibawakan oleh Sultan Azis Jabbar anggota Teater Suwung M.A. Al Qodiri Jember. Sebagai penampil pertama, ternyata Sultan mampu memberikan penampilan terbaiknya. Kata demi kata hingga paragraf selesai dibacakan dengan ekspresi dan emosi yang seakan-akan menghadirkan sosok asli pembunuh Munir. Dramatisasi ini berlangsung selama kurang lebih 20 menit. Pada awalnya Sultan berpikir bahwa penonton akan bosan melihat penampilannya, ternyata hal itu berlaku sebaliknya. Tepuk tangan penonton yang hanya ada 30an orang itu mampu mengubah pusat perhatian di halaman parkir Dispendik. Setelah itu dilanjutkan dengan Musikalisasi Puisi oleh kelompok Lingkar Merimbun. Vindri, Fahmy, dan Fanggi dengan alunan nada dan vokal yang khas membuat para penonton ngelangut.

DSC_7077

Musikalisasi Puisi oleh Lingkar Merimbun

Pembacaan puisi pamflet berjudul “Kata-Kata Sudah Menjadi Debu” karya Abdul Gani dibawakan oleh Ratih anggota teater Q-Sa SMASA (SMAN 1 Jember). Pada puisi ini digambarkan dengan lugas jika ucapan sudah tidak akan didengar lagi. Sekuat apapun kita bersuara, hal itu hanya akan menjadi sebuah omong kosong, dengan hasil yang zonk. Satu-satunya jalan adalah dengan sebuah tindakan nyata. Ratih membawakan puisi ini dengan penuh semangat dan berapi-api.

Selain pembacaan cerpen, puisi dan musikalisasi, turut pula Ghuiral Safaragus dengan ekperimennya terhadap alat musik sebagai sebuah media untuk berkomunikasi. Dia mencoba mengalihkan media kata-kata visual dan intuitif pada puisi menjadi nada dan bunyi. Eksperimen ini yang menarik perhatian seluruh penonton. Ghuiral tidak hanya menawarkan musik yang enak didengar oleh telinga, tetapi dia juga bereksperimen terhadap bunyi pada alat musik yang disebut ongkek. Alat musik ini sendiri diciptakan dari hasil eksplorasi  kawan-kawan jawa barat. Sesekali musik puisi yang dimainkan Ghuiral membuat para pengunjung terlena, tapi waktu lain bunyi yang mereka ciptakan menggugah intuisi pengalaman keras pada diri seseorang.

Bisa dikatakan apa yang dilakukan Ghuiral ini merupakan sebuah pengalaman baru bagi para penonton yang hadir malam itu. Ghuiral menawarkan sebuah bentuk lain dari musik, bahwa musik itu tidak harus dengan nada-nada harmonis dan melodis, tetapi bisa juga dengan hal lain selama musik itu dapat menggugah intuisi pada para pendengar.

Deklamasi puisi oleh Irsa dari teater Q-Sa dengan judul puisi “Debur Malikan” karya Halim Bahriz menjadi penutup pementasan sastra malam itu. Alunan seruling dari Ghuiral menjadi pembuka pada pembacaan deklamasi ini. Mengalun dengan tempo yang pelan dan menghanyutkan. Irsa juga mengikuti alunan seruling tersebut dengan gerakan-gerakan kecil. sesaat kemudian Irsa terdiam mematung untuk kemudian melontarkan suaranya yang menggetarkan. Puisi itu dibacakan dengan penuh penghayatan, kata demi kata diucapkan dengan baik, artikulasi dan emosi yang sudah pas. Debur malikan dengan latar kondisi masyarakat tepi pantai, dimana banyak keluarga miskin yang akhirnya menyerah untuk bekerja sebagai nelayan dan kemudian memilih untuk ke luar negeri, merupakan puisi sedih. Irsa dengan sangat baik mampu menghantarkan kesedihan dan kemarahan masyarakat tepi pantai pada penonton malam itu. Hal ini dibuktikan dengan riuhnya tepuk tangan yang diberikan setelah pembacaan puisi tersebut, dan beberapa penonton juga turut merasakan kepedihannya.

DSC_7152

Dialog dan Apresiasi Pentas Malam Sastra

Kegiatan ini dilanjutkan dengan diskusi oleh para penonton yang notabene juga peserta Sekolah Sastra Jember. Pada sesi diskusi ada pembacaan spontanitas dari beberapa pegiat kesenian dan sastra, diantaranya Sony “Cimot”, Gatot Sukarman, Gunawan Trip., Ali, Iqbal. Untuk sesi diskusi, para peserta membincangkan problematika yang dihadapi oleh sastra. Dewan Kesenian Jember (DKJ) sebagai satu-satunya institusi formal yang bergerak pada kesenian memberikan beberapa solusi dan telah mencanangkan beberapa strategi untuk menggiatkan sastra diawali dari lingkungan sekolah. Pada penutup diskusi, para peserta mengharapkan adanya Sekolah Sastra Jember yang kedua, dan pementasan sastra dalam waktu dekat.

Share This:

About Ebhi Yunus 1 Article
Manajer Panggung Pentas Malam Sastra, Sekolah Sastra Jember

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*