Sekilas tentang kritik sastra

IKWAN SETIAWAN

 

Download versi PDF

Pemahaman awal

Dalam pemaknaan sederhana, Abrams (1999: 49-51) mendefinisikan kritik sastra (literary criticism) sebagai usaha untuk menjelaskan, mengklasifikasi, menganalisis, menafsir, dan mengevaluasi karya sastra. Kita bisa mengelaborasi pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa kritik sastra merupakan kerja aktif yang menggunakan nalar untuk menjabarkan sebuah karya (khususnya dalam hal prinsip-prinsip umum seperti unsur intrinsik dan ekstrinsik), menentukan klasifikasi sebuah karya terkait genre dan kekhususannya, menghubungkan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain, menemukan makna atau wacana yang dikonstruksi dalam karya, serta menentukan baik-buruk, layak-tidak layak, atau picisan-adiluhungnya karya. Meskipun demikian, seorang kritikus atau pengkaji tidak harus menjalani semua tahapan tersbut. Dalam tradisi kontemporer konsep “mengevaluasi” yang dulunya untuk mengatakan sebuah karya itu baik atau buruk serta picisan atau adiluhung mulai ditinggalkan karena semua karya, pada dasarnya, memiliki wacana yang hendak disampaikan ke pembacanya.

Itulah mengapaa kritik sastra tidak bisa dipisahkan dari keberadaan teori, bahkan, menurut pandangan mutakhir, kritik sastra tidak bisa seyogyanya dpisahkan dari teori sastra. Mengapa demikian? Karena untuk bisa mengunkapkan wacana-wacana yang ada dalam sebuah karya kita membutuhkan alat bantu yang bisa menjadi kerangka untuk membantu analisis. Dengan kata lain, kritik sastra merupakan sebuah usaha untuk menerapkan teori-teori tertentu untuk mengkaji sebuah karya. Masing-masing teori memiliki spesifikasi yang berbeda satu sama lain. Konsekuensinya, kritik yang dihasilkan juga akan berbeda meskipun menggunakan sebuah karya yang sama. Posisi teori dalam kritik sastra juga bisa memperkuat dan menjelaskan posisi ideologis yang kita ambil sebagai kritikus. Habib (2005: 3) mengatakan bahwa teori merupakan penjelasan sistematik dari tindakan kritik yang kita lakukan dalam kerangka yang lebih luas. Teori bisa menjadi penerang tujuan di balik tindakan kritik serta menunjukkan hubungan kegiatan kritik dengan ideologi, struktur kekuasaan, sikap politik dan religius, dan struktur ekonomi kita. Lebih dari itu, penggunaan teori menegaskan bahwa kritik sastra bukanlah sesuatu yang netral, tetapi konstruksi historis yang berjalin-kelindan dengan bermacam person, institusi, dan kepentingan ideologis.

Menjadi kritis dalam kritik sastra

Apa yang harus kita pahami adalah bahwa dengan menggunakan teori tertentu, kita sebenarnya sudah memilih untuk tidak memosisikan sebuah karya sekedar sebagai struktur bahasa indah dan membuai. Lebih dari itu, pilihan akan teori merupakan langkah awal untuk mengerangkai pemikiran dan tindakan kritis. Sebuah karya bukanlah sesuatu yang transparan, dalam artian bahwa pengarang tidak langsung menyampaikan pesan atau wacana secara gamblang kepada pembacanya. Pemahaman bahwa karya sastra transparan hanya akan menghasilkan pemahaman yang salah; bahwa apa-apa yang disampaikan dalam teks adalah kebenaran. Teks sastra sebagai produk representasional—mengikuti pemikiran Hall (1997)—mengkonstruksi sebuah jagat yang terdiri dari peristiwa-peristiwa imajiner yang melaluinya seorang pengarang menawarkan wacana-wacana partikular. Wacana-wacana tersebut berjalin-kelindan dengan jagat nyata yang di dalamnya terdapat kelas sosial, orientasi ideologis, praktik budaya, dan permasalahan-permasalahan yang dialami individu-individu dalam masyarakat. Sebagai produk tekstual-representasional, karya sastra ditulis dalam bahasa umum serta mengekspos masalah-masalah awam yang melaluinya kepentingan politik dan ideologi tertentu tampak tidak bermuatan politik—depolitisasi dan eksnominasi (Barthes, 1983)

Dengan pemahaman itu, bisa dikatakan bahwa tujuan dari kritik sastra adalah membicarakan kebenaran berdasarkan kerangka teori yang kita gunakan. Kebenaran itu bukan tidak terhubung dengan tek sastra, tetapi bukan isi dari ekspresi denotatif. Wacana sastrawi berupa pernyataan-pernyataan dalam bentuk dialog dramatik, paparan prosaik, maupun untaian puitis, misalnya, selalu membincang tentang sesuatu/objek/topik yang tidak berdiri sendiri. Mengikuti pemikiran Foucauldian (Foucault, 2015, 2013, 1998, 1984a, 1984b, 1981), wacana-wacana tekstual merupakan bagian dari sebuah formasi wacana tentang permasalahan tertentu dalam masyarakat, sehingga akan menegosiasikan gagasan atau pesan ideologis tertentu (Belsey, 1990). Dalam perspektif ini, kritik sastra selain mengungkapkan kebenaran wacana-wacana yang dikonstruksi, juga bisa menghubungkan wacana-wacana tersebut dengan kondisi historis yang ada dalam masyarakat sebagaimana sudah ditulis oleh para pemikir ekonomi, politik, gender, sejarah, hukum, dan lain-lain. Dengan menemukan keterhubungan tekstual-kontektual tersebut kita bisa menemukan kecenderungan pilihan ideologis/kritis yang dinegosiasikan oleh pengarang. Apa yang harus diingat, menemukan posisi ideologis/kritis pengarang kita tidak harus mengetahui biografinya karena yang apa-apa yang ia wacanakan dalam teks kreatifnya sebenarnya sudah -menunjukkan di mana ia memosisikan dirinya di tengah-tengah permasalahan yang ada dalam masyarakatnya; apakah ia mendukung, menolak, atau mendukung dengan syarat-syarat tertentu. Maka, sekali lagi, kritik sastra bukan sekedar bicara baik-buruk, tetapi bicara pilihan teoretis kita sebagai kritikus serta bicara konstruksi dan negosiasi kepentingan ideologis dan politis di dalam sebuah teks sastra.

* Makalah disampaikan dalam Sekolah Sastra Jember, 11-12 Maret 2017 yang diselenggarakan oleh Komisi Sastra Dewan Kesenian Jember, Aula Diknas Jember.

Daftar bacaan

Abrams, M.H. 1999. A Glossary of Literary Terms, Seventh Edition. Australia: Heinle & Heinle.

Barthes, Roland.1983. Mythologies. New York: Hill and Wang.

Belsey, Catherine. 1990. Critical Practice. London: Routledge.

Foucault, Michel. 2015b. “What is Literature?”, in Language, Madness, and Desire: On Literature. (English trans. by Robert Bannono). Minneapolis: University of Minnesota Press: 45-65.

Foucault, Michel. 2013. Archaeology of Knowledge. London: Routledge.

Foucault,. 1998. The Will to Knowledge, The History of Sexualities Volume 1 (English trans. Robert Hurley). London: Penguin Books.

Foucault, Michel. 1984a. “Truth and Power”. Dalam Paul Rainbow (ed). Foucault Reader. New York: Panthean Books.

Foucault, Michel. 1984b. “The Author”. Dalam Paul Rainbow (ed). Foucault Reader. New York: Panthean Books.

Foucault, Michel. 1981. “The Order of Discourse”, Inaugural Lecture at th College de France, 2 Desember 1976, dipublikasikan kembali dalam Robert Young (ed). Untying the Text: A Post-Structuralist Reader. Boston: Routledge & Kegan Paul Ltd.

Foucault, Michel. 1980. Power/Knowledge. Brighton: Harvester.

Hall, Stuart. 1997. “The Work of Representation”, dalam Stuart Hall (ed). Representation, Cultural Representation and Signifying Practices. London: Sage Publication in association with The Open University.

Habib, M.A.R. 2005. Modern Literary Criticism and Theory. Victoria: Blackwell Publishing.

Foto cover: https://blog.oup.com/2014/11/anthony-trollope-literary-criticism/

Share This:

About Ikwan Setiawan 123 Articles
Direktur Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*