Kerusakan ekologis dalam rupa-rupa perlawanan

IKWAN SETIAWAN

 

Download versi PDF

Diakui atau tidak, kerusakan ekologis dengan bermacam dampak destruktifnya merupakan ancaman terbesar bagi umat manusia. Entah sudah berapa ribu laporan para akademisi di level nasional ataupun internasional yang mengingatkan pemanasan global, kerusakan lingkungan akibat tambang, hancurnya hutan karena perkebunan, rusaknya biota air karena limbah industri dan rumah tangga, serta masalah-masalah lain. Entah sudah berapa ribu kali aksi para aktivis lingkungan dan rakyat terdampak mengingatkan pemerintah, pemodal, dan masyarakat umum akan bahaya yang akan ditanggung manusia ketika terjadi kerusakan ekologis akibat ulah mereka sendiri. Namun, dari hari ke hari, nalar dan praktik ekspansionis manusia sebagai keutamaan dari subjek modern tetap memaksakan eksploitasi dengan dalil dan janji kesejahteraan.

Kondisi inilah yang menjadikan beberapa perupa yang ikut dalam LOCAL VISUAL Jember Visual Art Exhibition 2017 (LV-JVAE) memilih untuk me-rupa-kan kerusakan ekologis dan bahayanya bagi alam dan umat manusia. Sebagai subjek yang hidup di tengah-tengah permasalahan ekologis, para perupa memilih terlibat dalam permasalahan mayoritas rakyat Indonesia dan warga dunia. Ketika banyak pihak acuh tak acuh, mereka memilih untuk menggoreskan kuas dengan mengusung “propaganda” dan “perlawanan”. Propaganda dalam artian para perupa secara sadar membuat lukisan yang mengkampanyekan kesadaran ekologis tentang rusaknya alam Indonesia dan dunia. Bahwa, manusia kontemporer sejatinya tengah hidup bersama-sama dengan krisis lingkungan yang siap meledak menjadi bencana, sehingga mereka harus membangun kesadaran ekologis. Perlawanan dalam artian bahwa para perupa mewacanakan lukisan mereka dalam semangat melawan kekuatan-kekuatan dominan yang menyebabkan kehancuran lingkungan. Dalam kerangka propaganda dan perlawanan, para perupa adalah subjek yang memainkan fungsi agensi dalam kompleksitas permasalahan ekologis. Kedua hal tersebut menjadi ada karena para perupa memiliki kesadaran ekologis.

Kesadaran ekologis itulah yang mendorong Dedi Supmerah untuk membuat karya yang dengan jelas menolak pertambangan. Dialektika yang ia bangun dengan dunia gerakan perlawanan terhadap pertambangan semakin memperkuat daya kreatifnya dalam membahasakan propaganda dan penolakan.

IMG_20170226_201928

“….karena kita bisa HIDUP tanpa Emas tapi tidak tanpa AIR”, begitulah ungkapan verbal yang sengaja ia sematkan dalam karya tanpa judul di atas. Ya, kepentingan propaganda tidak membutuhkan judul spesifik dalam karya karena titik tekannya adalah bagaimana pengunjung bisa memahami maksudnya. Ungkapan lugas tersebut menegaskan sebuah oposisi biner antara pemenuhan kebutuhan primer dengan kebutuhan tertier—meminjam istilah pelajaran ekonomi sewaktu saya SMP (1990-1993). Binerisme di antara dua kebutuhan tersebut, nyatanya, seringkali menempatkan manusia tidak dalam posisi adil terhadap diri mereka sendiri. Mengapa? Karena sejatinya, kerakusan terhadap emas akan merusak sumberdaya air yang bisa menimpulkan tragedi kehidupan; sebuah perilaku yang sangat tidak adil tentunya. Menjadi tragedi ketika kebutuhan akan emas itu harus merusak sumberdaya air yang menghidupi rakyat banyak. Inilah yang berlangsung dalam kehidupan manusia kontemporer.

Emas diposisikan sebagai logam mulia yang bernilai tinggi sehingga siapapun yang memakainya akan mendapatkan ‘nilai tambah’ (added value) berupa kebanggaan dan citra sosial yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengenakan. Budaya mengenakan perhiasan emas, dengan demikian, mampu menjadi penanda sosial yang membedakan selera warga kelas menengah dan kelas atas dengan kelas bawah. Bahkan, mereka yang dari kelas bawah juga mengidamkan emas sebagai bentuk budaya material yang menempati posisi rezim kebenaran dalam hal ‘kemuliaan’. Menyadari potensi ekonomi itulah, para pemodal berusaha keras untuk membuka pertambangan emas dengan melakukan pendekatan kepada pemerintah daerah tertentu. Selain itu, rakyat yang sudah tahu manfaat ekonomi dari keberadaan emas di daerahnya ikut-ikutan berburu dengan cara menambang secara tradisional. Namun, kehadiran mereka tentu bisa ditertibkan oleh aparat keamanan. Yang tidak bisa ditertibkan karena memang sudah dilegalisasi oleh penguasa adalah kehadiran para penambang bermodal besar. Dengan dalih memberikan pajak kepada pemerintah daerah dan pusat, mereka terus melanjutkan eksploitasi. Kenyataannya, dampak buruk berupa pencemaran dan rusaknya sumberdaya air jelas tidak bisa diukur dengan milyaran rupiah hasil pajak tambang. Maka, melalui karya tersebut Dedi sebenarnya tidak hanya sedang menyuarakan kepentingan untuk menghentikan pertambangan emas dan juga pertambangan-pertambangan lain. Lebih dari itu, ia sedang menyampaikan propaganda kepada semua elemen masyarakat, pemerintah, dan pemodal betapa budaya mengenakan perhiasan emas ataupun menumpuk emas batangan yang dihasilkan dari pengerukan tambang bisa mengakibatkan penderitaan bagi manusia berupa terganggunya kebutuhan dasar, air.

IMG_20170227_123817a

Dengan pilhan gambar yang lebih garang, Dedi Supmerah mengobarkan solidaritas untuk perlawanan terhadap tambang emas Tumpang Pitu (T7), Banyuwangi. Kata-kata yang ia pilih lebih lugas dan keras, “manusia dan alam setara”, “semua tambang berbahaya”, “solidaritas tolak tambang T7”. Tentu saja, lukisan ini menunjukkan keberpihakan Dedi terhadap wacana dan gerakan perlawanan yang dilakukan oleh masyarakat dan aktivis lingkungan di Banyuwangi. Meskipun ada dari mereka yang dipenjara, meskipun bupati yang dipuja-puja karena Banyuwangi Festival-nya mendunia tidak pernah memperhatikan protes mereka, masyarakat dan aktivis yang menolak tambang tetap melakukan gerakan perlawanan. Maka, dengan membuat lukisan ini, Dedi, paling tidak, ingin mengabarkan kepada khalayak luas bahwa bumi gandrung yang terkenal dengan keindahan alam, kesuburan tanah, dan kekayaan kulturalnya itu tengah mengangis dan berduka. Para pemimpin yang seyogyanya mampu melindungi kepentingan masyarakat, ternyata malah mendukung dan menyetujui eksploitasi Gunung Tumpang Pitu. Segala fungsi strategis-ekologis Tumpang Pitu diabaikan oleh penguasa demi mendapatkan keuntungan ekonomi dari pertambangan emas. Segala risiko bencana dan kerusakan alam diabaikan. Maka, lukisan “solidaritas kepada T7” ini bisa terus kita jadikan prasasti perlawanan terhadap kesewenang-wenangan penguasa yang ‘bercumbu manis’ dengan para pemodal tambang.

 

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 161 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*