Membincang kearifan lokal di Jember: Keberagaman, kekuatan, dan tantangan

Download versi PDF

 

IKWAN SETIAWAN

Jemberan alih-alih Pendalungan/Pandalungan/Pandhalungan

Sejak 2016, Pemerintah Kabupaten Jember mulai mempopulerkan sebuah branding, “Jember Kota Pendalungan”, juga ada “Jember Bumi Pendalungan”. Kantor Pariwisata dan Kebudayaan dengan didukung Komunitas Budaya Pandhalungan dan Radar Jember gencar mempromosikan identitas ini melalui beberapa event besar seperti Festival Budaya Pendalungan, Festival Kuliner Pendalungan, dan Pandhalungan Night Show. Dalam pemahaman mereka, Pendalungan merupakan sebuah identitas yang diibaratkan sebagai ‘periuk besar’ tempat berkumpulnya bermacam etnis dan budayanya. Pemahaman ini sama dengan konsep melting pot ala Amerika Serikat yang digunakan sebagia formula bagi wilayah dengan keragaman kultural.

Pada dasarnya, tidak ada yang baru dengan pemaknaan tersebut. Beberapa karya akademis—Sutarto (2006), Yuswadi (2008), Raharjo (2006), Arifin (2006), dan Kusnadi (2001)—sudah terlebih dahulu mewacanakan identitas Pandhalungan/Pendalungan dengan variasi gagasan, meskipun belum merupakan final conclusion karena belum didukung riset mendalam. Mengapa saya katakan demikian? Karena tulisan mereka masih merupakan pembacaan awal terkait identitas itu. Salah satu wacana dominan dari pendapat para akademisi tersebut adalah keturunan hasil perkawinan campuran Jawa-Madura serta diperluas menjadi percampuran budaya Jawa-Madura dan beberapa etnis lain di Jember sejak zaman kolonial hingga masa kontemporer. Yang kedua adalah penggunaan istiah “dhalung” dari Kamus Bahasa Jawa yang bermakna “periuk besar” untuk menamai realitas keberagaman kultural yang hidup dan berkembang di masyarakat Jember. Pendapat terakhir inilah yang dijadikan rujukan oleh para penggagas identitas Pandhalungan. Tentu saja, ini cukup menggelikan, karena kok bisa-bisanya nama sebuah identitas diambilkan dari kamus. Ironisnya lagi, makna kamus tersebut tidak dipahami oleh mayoritas masyarakat Jember ataupun masyarakat di sekitar Jember; sebuah elitisme identitas. Kondisi itu tentu akan menjadikan Pandhalungan identitas yang tidak berasal dari rakyat kebanyakan.

BS 21

Acara “Bolo Srewu Jaranan Barong”, DKJ, 18 Pebruari 2017

Menariknya, para akademisi tersebut tidak memosisikan Pendalungan semata-mata sebagai identitas Jember, tetapi juga kabupaten-kabupaten lain di Tapal Kuda seperti Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso, dan Lumajang. Lalu, mengapa Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jember dan para pendukungnya getol mempromosikan identitas ini, sementara mayoritas masyarakat Jember kurang tahu atau mengerti tentang Pendalungan? Jawaban sederhana dari pertanyaan itu sebenarnya lebih berkaitan dengan kepentingan ekonomi pariwisata serta tidak sepenuhnya berkaitan dengan identitas budaya manusia dan masyarakat Jember (Setiawan, 2016). Bahkan, yang lebih menggelikan ada yang mengatakan bahwa Jember itu tidak punya identitas budaya? Saya sungguh heran dari mana simpulan aneh  itu. Bagaimana bisa Jember yang sangat kaya budaya ini dikatakan tidak punya identitas? Jelas, ada keinginan beberapa pihak agar masyarakat Jember hanya punya identitas tunggal yang berasal dari kekayaan kultural tersebut. Yang sangat disayangkan adalah kehendak ngotot untuk ‘menunggalkan identitas’ bisa berimplikasi kepada penyempitan makna dari keluasan dan kekayaan kultural serta beragam turunannya dalam dinamika masyarakat Jember, termasuk di dalamnya kearifan lokal.

Maka, alih-alih memobilisasi penamaan identitas Pendalungan ke tengah-tengah masyarakat Jember, saya lebih senang menggunakan istilah Jemberan untuk menamai keragaman kultural, etnis, bahasa, kearifan lokal, dan religi di Jember. Penyematkan Pendalungan secara historis, antropologis, dan sosiologis masih bermasalah serta tidak banyak dimengerti oleh warga Jember[1]—kalaupun sekarang mulai dikenal itu karena peran Radar Jember yang getol mempromosikan acara Pandhalungan Night Show dan acara-acara yang diselenggarakan Komunitas Budaya Pandhalungan. Apalagi kalaupun istilah ini benar-benar ada, secara geokultural ia mencakup beberapa kabupaten lain di wilayah ujung timur Jawa dan secara makna tidak sama dengan asumsi yang diwacanakan oleh para pendukungnya. Menurut Setiawan (2016) Jemberan bisa dimaknai sebagai segala hal khas yang berkenaan dengan Jember, baik itu aspek bahasa, kesenian, perilaku, ritual, cara hidup, religi, dan lain-lain. Jemberan ini bisa kita sejajarkan dengan istilah Suroboyoan, Malangan, ataupun Banyuwangian. Makna Jemberan lebih bisa menampung percampuran kultural antaretnis ataupun pemertahanan keunikan kultural masing-masing etnis di Jember. Selain itu, Jemberan juga lebih familiar bagi masyarakat multietnis ketika mereka harus mengidentifikasi diri; orang Jember, Jawa Jemberan, Madura Jemberan, bahasa Jemberan, dan lain-lain.

Kearifan lokal dalam ruang diaspora

Kenyataan historis dan antropologis yang tidak bisa ditolak oleh siapapun yang sekarang hidup di Jember adalah keberagaman etnis dan budaya masyarakatnya sejak zaman kolonial sampai sekarang. Sisa-sisa Blambangan, Jawa (Mataraman, termasuk Panaragan), Madura, Cina, Arab, Mandar, dan lain-lain. Artinya, adalah salah besar kalau mengatakan bahwa kearifan lokal masyarakat Jember itu Madura dan Jawa, meskipun mayoritas warga berasal dari kedua etnis tersebut. Kalau kearifan dimaknai sebagai nilai-nilai atau konsep-konsep luhur dalam memandang dan menjalani kehidupan, maka kearifan lokal Jemberan sungguh tidak bisa dilepaskan dari pandangan-pandangan ideal masyarakat berdasarkan subjektivitas etnis mereka. Selain berasal dari ajaran-ajaran leluhur, kearifan lokal juga bisa berasal dari kesenian maupun ritual yang masih dijalani warga masyarakat.

BS 13

Tari jathilan dalam “Bolo Srewu Jaranan Barong”, DKJ, Payangan, 18 Pebruari 2017.

Di dalam masyarakat diaspora[2] Jember, komunitas-komunitas etnis memang masih merindukan budaya ibu. Namun mereka juga terhubung dengan nilai dan praktik budaya modern yang ditanamkan oleh para pekebun kolonial dan praktik birokrasinya serta dilanjutkan oleh rezim negara pascakolonial. Selain itu, masing-masing etnis juga berinteraksi dengan etnis dan budaya lain dalam kehidupan sehari-hari. Komplektias kultural inilah yang menjadikan warna kearifan lokal masyarakat Jember beragam. Warna dominan pertama adalah kearifan lokal berbasis etnis yang merujuk pada kemurnian identitas kultural. Artinya, komunitas Jawa, Madura, Cina, Arab, dan etnis-etnis lain, di satu sisi, masih berusaha untuk mempertahakankan kearifan lokal yang berasal dari budaya ibu mereka. Namun, apa yang tidak bisa dielakkan bahwa di tengah-tengah usaha untuk mempertahankan kearifan berbasis etnis, sebagai akibat proses cultural encountering secara dinamis dan ajeg sejak zaman kolonial, di Jember muncul pula kearifan yang dihasilkan dari proses—meminjam istilah Bhabha (1994)—saling-melintasi dalam nuansa keberantaraan dan hibriditas kultural meskipun penuh ambivalensi.

Pandangan ideal etnis

Saryono (2008: 36) memaparkan bahwa karakteristik budaya Jawa Mataraman bisa dikategorikan dalam aspek religius, filosofis, etis, dan estetik. Kearifan multirupa tersebut mewujud dan direproduksi secara ajeg melalui tuturan/weweling/nasehat, ritual, maupun kesenian. Dalam aspek religi, misalnya, manusia-manusia Jawa mengedepankan konsep “keterikatan” dan “kemanunggalan” manusia dengan Gusti Pengeran, Gusti Allah, Tuhan Yang Mahaesa seeperti dikonstruksi dalam ungkapan sankan paraning dumadi (Tuhan menjadi asal-muasal dan arah-tujuan keberadaan manusia), Gusti kang murbeng dumadi (Tuhanlah satu-satunya yang menguasai kejadian), mulih mula mulanira (manusia pulang ke asal-usulnya, Tuhan), dan masih banyak lagi yang lainnya. Ekspresi dari kearifan ini diwujudkan, misalnya, dalam bermacam ritual tradisional yang tetap dilaksanakan sampai sekarang oleh masyarakat Jawa di Jember apapun agama mereka. Masyarakat di Semboro, Umbulsari, Wuluhan, dan Ambulu, misalnya, masih menjalankan ritual kelahiran seperti selapan dan mudun lemah, meskipun orang tua si anak berpendidikan tinggi. Dalam hal filosofis manusia Jawa mengenal konsep ngono yo ngono ning ojo ngono (begitu ya begitu, tetapi jangan begitu-begitu amat), bener ning ra pener (benar tetapi tidak tepat), ojo dumeh (jangan meremehkan), suro diro joyo ningrat lebur dening pangestuti (semua kemenangan yang dicapai dengan  angkara akan hancur oleh tindakan penuh budi), dan lain-lain.

Manusia-manusia Madura juga memiliki kearifan lokal terkait religi yang lebih praksis. Ungkapan ta’ tao battona langgar merupakan peringatan keras terhadap warga yang memiliki kelakuan yang seperti tidak pernah mengenal ajaran agama. Hal ini menunjukkan pentingnya ajaran Islam terhadap pandangan dan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Itulah mengapa, warga Madura di Jember masih senang mengirim putra-putri mereka ke pondok pesantren, termasuk ke luar daerah. Meskipun, banyak pondok pesantren yang memasukkan kurikulum modern, muatan agama masih lebih diutamakan. Di pondoklah mereka belajar memahami kehidupan yang jauh dari orang tua, berinteraksi dengan rekan dari bermacam wilayah, belajar menghormati kyai dan para ustadz. Bentuk kearifan lokal yang masih terkait dengan religi adalah ungkapan buppa’, babbu’, guru, rato, yakni ketaatan kepada kedua orang tua, guru (guru ngaji terlebih dahulu, baru kemudian guru umum), dan pemimpin (pemerintah). Bagi warga Madura, orang tua adalah subjek pertama dan paling utama yang harus dihormati, mengalahkan subjek-subjek yang lain. Setelah itu baru guru ngaji/kyai dan guru umum. Tuturan kyai merupakan titah yang harus dihormati karena bersumber dari ajaran-ajaran agama.

Sebagai komunitas yang mengalami pembatasan-pembatasan dalam hal kultural, warga Cina di Jember juga memiliki kearifan  sebagai siasat agar bisa terus survive di tengah-tengah etnis mayoritas. Salah satu kearifan mereka adalah membangun jejar ing, solidaritas, dan dukungan sesama keluarga besar dan sesama Cina (Suyanto, 2008: 164). Solidaritas ini akan bermanfaat dalam merintis usaha perdagangan di mana keluarga yang memiliki modal besar, berbekal prinsip kepercayaan, akan membantu keluarga dengan modal kecil, sehingga mereka akan sama-sama mendapatkan untung. Selain itu, keluarga Cina juga terkenal budaya hemat dalam urusan uang dan etos kerja tinggi. Seorang anak tidak bisa langsung mendapatkan uang berlebih dari orang tua kalau mereka tidak bekerja terlebih dahuulu ke orang tua mereka. Sikap inilah yang tidak dimiliki oleh etnis-etnis lain di Jember. Dalam hal religi dan filsafat, manusia-manusia Cina sangat percaya takdir dan keseimbangan (yin dan yang). Masih menurut Suyanto, sama dengan etnis-etnis lain, mayoritas wara Cina sangat menghormati leluhurnya dan selalu berusaha agar para leluhur di akhirat tidak kekurangan, bahkan lebih mulia. Mereka mengirim replika rumah, mobil, dan uang emas ke para leluhur  ketika bersembahyang untuk memastikan bahwa para leluhurnya tidak berkekurangan di akhirat.

Sementara, komunitas Arab, serupa dengan komunitas Cina, juga memiliki kemampuan bagus dalam hal berdagang, sehingga jarang dari mereka yang memilih menjadi pegawai pemerintah. Meskipun masih menunjukkan perilaku eksklusif, menurut Bahanan (2008: 158-159), sejatinya manusia-manusia Arab memiliki toleransi dan kekuatan untuk membangun masyarakat multi-etnik karena ajaran Islam mengajarkan hablum minanas, selain hablum minalloh. Selain itu, mereka juga memiliki kepedulian terhadap permasalahan yang ada di masyarakatnya.

Adapun komunitas Mandar di Puger memiliki kearifan lokal terkait dengan dunia maritim, karena sebagian besar mereka adalah nelayan yang menggantungkan hidupnya dari laut. Dalam komunitas ini, terdapat orang-orang tertentu yang memiliki kemampuan untuk mengetahui tempat-tempat mana di samudra yang sedang banyak ikannya. Mereka juga memiliki kecakapan dalam membuat perahu. Artinya, meskipun secara linguistik keturunan Mandar sudah menggunakan bahasa lokal, Jawa, mereka masih mewarisi pandangan dan perilaku ideal berbasis budaya maritim.

Proses saling-melintasi

Salah satu contoh kearifan lokal yang terlahir dari proses hibriditas terjadi dalam hal perilaku keagamaan. Beberapa warga dari komunitas Jawa di Semboro, misalnya, mulai membuat musholla di depan rumah. Ini tentu tidak lazim dalam tradisi Jawa. Komunitas Madura-lah yang biasa memiliki musholla di depan atau di samping rumah karena pengaruh sistem tanean lanjeng (sistem perumahan berkumpul dari beberapa keluarga yang masih termasuk keluarga inti). Memang, masih ada warga Jawa yang memapankan asumsi stereotip terhadap warga Madura. Namun untuk urusan membangun musholla di dekat rumah sebagai representasi usaha ideal untuk mendekatkan kepada Sang Pencipta, meniru tradisi Madura bukanlah sebuah aib.

Dalam hal linguistik, hibriditas juga terjadi dalam bahasa Jawa dialek Jemberan yang bagi orang-orang dari luar terdengar aneh. Dalam perspektif antropologi linguistik, bahasa—apapun bentuknya—merupakan sumber kultural untuk mengetahui secara komprehensif dinamika budaya dalam sebuah komunitas atau masyarakat (Duranti, 1997; Ahearn, 2012). Dalam kerangka demikian, apropriasi bahasa yang dilakukan warga Madura atau keturunan mereka terhadap bahasa Jawa merupakan bentuk siasat linguistik ketika mereka memosisikannya sebagai “sang ideal”. Mengapa bahasa Jawa menjadi “sang ideal”? Karena secara historis komunitas Jawa menempati posisi lebih superior di Jember dibandingkan komunitas Madura, termasuk dalam kerja-kerja birokrasi pemerintahan dan perkebunan. Akibatnya, warga Madura harus belaar menggunakan bahasa Jawa agar mereka bisa masuk dalam lingkaran komunikasi dan pergaulan manusia-manusia Jawa. Meskipun terdengar lucu, siasat linguistik ini terbukti menjadikan warga keturunan Madura di Jember mendapatkan keuntungan ekonomis, seperti mereka yang menjadi pedagang di pasar. Selain itu, mereka juga bisa leluasa untuk meniru budaya Jawa seperti tradisi mantenan.

Kecerdasan linguistik juga dikembangkan oleh komunitas pedagang Cina. Melayani para pembeli dengan menggunakan bahasa mereka merupakan cara cerdas untuk membangun ikatan emosional. Ketika pembeli berasal dari etnis Jawa, mereka akan melakukan alih kode ke dalam bahasa Jawa. Demikian pula kalau pembelinya berbahasa Madura. Meskipun demikian, untuk urusan-urusan yang bersifat privat dengan keluarga yang membantunya di toko, mereka akan menggunakan beberapa ungkapan dalam bahasa Cina. Strategi linguistik yang dilakukan komunitas Madura dan Cina ini, selain memberikan keuntungan ekonomi, dalam jangka panjang juga berkontribusi terhadap berseminya ikatan emosional sebagai orang Jember yang plural.

Berangkat dari kesenian, salah satu bentuk kearifan lokal yang patut kita kembangkan adalah tumbuhnya semangat solidaritas dan kerjasama. Saya tidak bicara kolaborasi estetik, tetapi bicara kerjasama pelaku kesenian yang melibatkan beragam etnis. Dalam kesenian barongsai, misalnya, kita bisa menemukan sebuah kenyataan yang asyik, yakni keterlibatan anak-anak muda keturunan Madura dan Jawa sebagai pelaku. Mereka berlatih dan pentas bersama kawan-kawan Cina. Kesenian telah mempertemukan bermacam pandangan etnis ke dalam sebuah gerak laku kreatif yang membebaskan mereka dari stereotipisasi yang dipelihara dan disuburkan selama masa Orde Baru. Dalam kesenian jaranan pun bisa kita jumpai bertemunya etnis Jawa dan Madura dalam pertunjukan lataran. Kerukunan dan kerjasama kreatif yang melampaui kekakuan etnisitas senyatanyanya merupakan modal kultural yang tidak bisa disepelakan dalam warna masyarakat multikultural Jember. Model kerjasama kreatif ini tentu bisa menjadi penyubur bagi berkurangnya stigmatisasi terhadap etnis-etnis tertentu yang dianggap lebih superior ataupun lebih inferior. Fakta bahwa masih terjadi perilaku etnis tertentu, tidak boleh mengendurkan semangat melampaui batasan tersebut. Mereka yang masih terjebak di dalamnya, alih-alih, bisa menjadi subjek untuk menikmati kolaborasi pelaku yang secara estetik juga menarik.

Prinsip kerja keras juga sudah menjadi bagian hidup mayoritas warga Jember, apapun etnis mereka. Kalau dalam kacamata stereotip orang Jawa dipandang ‘terlalu lamban’ dalam menjalani kehidupan karena tradisi masa lalu mereka, dalam tempaan dinamika Jember—di mana mereka bisa berinteraksi dengan warga Madura, Cina, dan Arab—mereka pun bertransformasi menjadi manusia-manusia ulet dan pekerja keras. Manusia-manusia Madura yang terkenal dengan sikap kerasnya—yang dalam tataran tertentu dianggap tidak etis oleh etnis lain—juga mengalami pergeseran orientasi dalam interaksi sosial ketika mereka belajar pada tradisi Jawa Mataraman.

Tentu masih banyak kearifan lokal yang dihasilkan dari proses saling-melintasi dalam masyarakat Jember. Tentu saja, realitas ini bisa menjadi modal kultural sekaligus karakteristik budaya Jemberan, selain keragaman kultural masing-masing etnis. Ketika kekuatan saling-melintasi tersebut terus menghasilkan pandangan dan perilaku hidup dinamis, masyarakat Jember sejatinya akan tumbuh menjadi masyarakat diasporik yang mampu menumbuhkan dan menyuburkan sikap positif dalam memandang keragaman dan keberbedaan satu sama lain. Dan, lebih jauh lagi, melampaui stereotipisasi antaretnis yang merupakan warisan segregasi kolonial.

Tantangan yang tak terelakkan

Dewasa ini, tantangan yang terelakkan bagi pengembangan kearifan lokal di Jember, baik yang berorientasi kepada pemertahanan etinisitas-ideal maupun produk dari hibriditas kultural, adalah semakin menguatnya hegemoni budaya modern dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Modernitas adalah orientasi ideal mayoritas warga Jember, apapun etnis mereka. Ketika warga Jember masuk ke dalam ritme kapitalistik, pada saat itulah, perlahan-lahan mereka akan menjadi subjek berpikir dan bertindak dalam mekanisme pasar. Tentu, hal itu tidak bisa dihindari karena secara nasional pemerintah, utamanya sejak Orde Baru, memang mengembangkan sistem kapitalisme yang ditutupi dengan penguatan Pancasila sebagai dasar negara. Ketika masyarakat Jember masih bisa memperkuat perilaku keberantaraanya, maka mereka masih bisa menegosiasikan sebagian kearifan lokal berbasis etnis dan terus menghasilkan kearifan lokal dari proses saling-melintasi. Namun, ketika mereka semakin asyik dan larut tanpa bisa bersiasat, bisa dipastikan keragaman kearifan lokal itu hanya akan menjadi hafalan dalam buku-buku teks tanpa implementasi dalam kehidupan sehari-hari. Dan, gejala tersebut semakin menguat saat ini.

Selain itu, tumbuh suburnya gerakan berbasis identitas agama yang dimanfaatkan oleh elit-elit tertentu bisa menjadi ancaman tersendiri terhadap keberagaman dan kerukunan sosial yang ada dalam tradisi Jemberan. Meskipun saat ini masih belum berkembang pesat, tetapi realitas menunjukkan sudah ada beberapa kelompok yang terus menyuarakan perjuangan politik melalui majelis-majelias keagamaan. Kita tidak melawan syiar mereka, tetapi melawan gerakan politik yang disandarkan pada ajaran agama tetapi sebenarnya dieksploitasi untuk kepentingan elit tertentu. Tentu saja, semua masyarakat Jember yang memiliki kesadaran akan prinsip keberagaman dan kekuatan kultural dalam membangun dinamika sosial memiliki tanggung jawab untuk sedikit demi sedikit mengurangi perkembangan gerakan tersebut.

Menumbuhkan ruang-ruang kultural di masing-masing wilayah etnis merupakan salah satu bentuk usaha yang dilakukan. Diakui atau tidak, kemiskinan imajinasi dan ekspresi kultural sebagai akibat seragamisasi modernitas dan kurangnya pemahaman lokalitas dalam syiar agama ikut berkontribusi kepada mudahnya warga terpengaruh ideologi politik berbasis agama yang menjurus kepentingan elit tertentu. Dengan menumbuhkan kembali ruang-ruang kultural berupa tempat berlatih kesenian dan olah raga yang sangat beragam, warga—khususnya generasi muda—akan mendapatkan alternatif untuk imajinasi dan idealisasi kultural, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh ideologi politik yang bertujuan menggeser dasar negara.

Penguatan kesenian-kesenian berbasis etnis di wilayah-wilayah perdesaan merupakan kemutlakan ketika kita ingin tetap melihat keragaman kultural Jember, sehingga tamu tidak hanya disuguhi JFC. Bagaimanapun juga dinas dan instansi terkait memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kekayaan tersebut. Para seniman rakyat selama ini terus berusaha megembangkan kesenian mereka meskipun minim perhatian dari negara. Ketika mereka sudah enggan dan malas untuk melanjutkan proses berkesenian, tentu saja Jember akan kehilangan salah satu karakteristik kulturalnya dan hanya bisa menikmati sajian budaya pop yang sangat seragam itu. Selain itu, dalam kesenian-kesenian berbasis etnis ataupun yang dihasilkan dari proses saling-melintasi seperti ludruk Madura, kita bisa belajar banyak kearifan lokal.

Mentransformasi kearifan lokal untuk menjawab permasalahan-permasalahan aktual dalam masyarakat juga tidak kalah pentingnya. Misalnya, tradisi ruwatan/rokat bumi dalam masyarakat Jawa dan Madura bisa kita transformasikan untuk memperkuat solidaritas antarwarga guna menolak eksploitasi alam untuk kepentingan pertambangan yang jelas-jelas merusak ruang kehidupan manusia-manusia Jember. Bagaimanapun juga, pertambangan hanya akan menghadirkan kerusakan dan penderitaan bagi manusia. Maka, memperkuat kembali tradisi ruwatan dengan mentransformasi nilai-nilainya ke dalam imajinasi dan pikiran generasi muda, paling tidak, akan memunculkan kesadaran bahwa bumi Jember dengan segala kekayaan alam dan budayanya haru terus dijaga dan dihindarkan dari nafsu rakus pemodal besar yang memiliki banyak cara untuk menguasai dan merusak. Dengan sudut pandang ini, kearifan lokal di Jember bukan sekedar menjadi sesuatu yang hanya dihafal atau dituturkan oleh orang tua kepada anak-anaknya, tetapi bisa didialektikakan dengan permasalahan-permasalahan nyata dalam kehidupan. Dan, saat ini masalah ekologis benar-benar sudah ada di depan mata; dibangunnya jalur lintas selatan adalah salah satu jalan untuk memuluskan kepentingan eksploitasi tambang.

* Makalah disampaikan dalam Dialog Budaya, “Produk Kearifan Lokal di Jember”, 4 Maret 2017, Univ. Muhammadiyah Jember.

Catatan akhir

[1] Sebagian besar warga tidak tahu apa itu Pandhalungan. Kalaupun ada yang tahu, maknanya tidak tunggal. Bagi orang-orang Sempolan yang mengenal istilah ini, Pandhalungan dipahami sebagai hasil pernikahan campur antara Madura dengan mancanegara. Pemahaman serupa juga muncul dalam sebagian masyarakat di Tamanan, Bondowoso. Istilah berbeda digunakan warga Menampu, Gumukmas untuk menamai anak hasil pernikahan Jawa-Madura, yaitu Blandongan (Prasisko, 2015). Artinya, pemahaman Pandhalungan sebagaimana dipahami Dinas dan para pendukung istilah ini ‘bermasalah’ karena tidak mengakar di masyarakat. Menurut hipotesis Prasisko (2016), penyematan identitas Pandhalungan tidak bisa dilepaskan dari kepentingan stereotipisasi terhadap komunitas Madura pendatang di wilayah Tapal Kuda yang diidentikkan dengan perilaku budaya yang kasar, sehingga bisa digunakan untuk memapankan kuasa budaya Jawa (Mataraman) di ujung timur Jawa.

[2] Safran (dikutip dalam Kral, 2009: 13) menjelaskan bahwa subjek diasporik memiliki beberapa karakteristik seperti (1) masih mengingat memori kolektif akan tanah kelahiran; (2) merasa tidak diterima sepenuhnya oleh masyarakat induk sehingga menjadi teralienasi atau merasa ‘tak punya rumah’ (unhomely); dan, (3) masih mengembangkan kesadaran dan solidaritas etno-komunal. Salah satu kelemahan pemikiran Safran ini adalah tidak adanya penenakan pada bagaimana subjek diasporik membuat strategi yang tepat dan bagaimana cara-cara untuk mengapropriasi—baik dalam kehidupan nyata maupun jagat representasional—budaya induk yang berbeda dengan budaya ibu/asal. Proses adaptasi dan apropriasi kultural yang dialami oleh subjek diasporik di tempat baru memungkinkan berkembangnya dinamika dan kompleksitas sosial-budaya. Mengikuti pemikiran Kral (2009: 14-15), subjek diasporik memasuki dan mengalami posisi liminal di tengah-tengah perbedaan kultural yang mereka jumpai ketika berinteraksi dengan warga etnis lain di tempat baru. Dalam ruang antara liminal itu, mereka sangat mungkin mengalami percampuran kultural, titik-singgung bagi munculnya budaya baru, negosiasi-negosiasi yang terus berjalan, dan identitas non-fixed yang muncul sebagai proses dinamis yang menantang pengertian tradisional identitas.

Daftar bacaan

Ahearn, Laura M. 2012. Living Langugae: An Introduction to Linguistic Anthropology. West Sussex (UK): Wiley-Blackwell.

Arifin, Edy Burhan. 2006. “Pertumbuhan Kota Jember dan Lahirnya Budaya Pandhalungan”. Makalah disampaikan dalam Konferensi Nasional Sejarah VIII, Jakarta.

Bahanan, Hasan. 2008. “Masyarakat Etnis Arab dan Identitas Budaya Lokal”. Dalam Ayu Sutarto dan Yuwana Sudikan (ed). Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Surabaya: Biro Mental Spiritual Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim.

Bhabha, Homi K. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.

Duranti, Alessandro. 1997. Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge University Press.

Král, Françoise. 2009. Critical Identities in Contemporary Anglophone Diasporic Literature. London: Palgrave MacMillan.

Kusnadi. 2001. “Masyarakat “Tapal Kuda”: Konstruksi Kebudayaan dan Kekerasan Politik,” dalam Jurnal Ilmu-ilmu Humaniora, Vol.III, No.2.

Prasisko, Yongky Gigih. 2015. Blandongan: Perebutan Kuasa Budaya Masyarakat Jawa dan Madura. Yogyakarta: LPRIS.

Prasisko, Yongky Gigih. 2016. “Pedalungan: Orang-orang perantauan di Ujung Timur Jawa”. Makalah dalam Seminar Budaya “Membincang Kembali Terminologi Pandalungan” yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Jember Komisariat Sastra didukung Matatimoer Institute, Graha Bina Insani, 10 Desember 2016.

Raharjo, Christanto P. 2006. “Pendalungan: Sebuah Periuk Besar Masyarakat Multikultural”. Makalah disampaikan dalam Jelalah Budaya 2006 yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, tanggal 13 Agustus.

Saryono, Djoko. 2008. “Budaya Mataraman: Mencari Definisi dan Karakteristik”. Dalam Ayu Sutarto dan Yuwana Sudikan (ed). Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Surabaya: Biro Mental Spiritual Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim.

Setiawan, Ikwan. 2016. “Mengapa harus Pendalungan?: Konstruksi dan kepentingan dalam penetapan identitas Jember”. Makalah dalam Seminar Budaya “Membincang Kembali Terminologi Pandalungan” yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Jember Komisariat Sastra didukung Matatimoer Institute, Graha Bina Insani, 10 Desember 2016.

Sutarto, Ayu. 2006. “Sekilas tentang Masyarakat Pandalungan”. Makalah disampaikan dalam Jelalah Budaya 2006 yang diselenggarakan oleh Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, tanggal 7 – 10 Agustus.

Suyanto, Bagong. 2008. “Etnik Cina: Antara Etos Kerja dan Dukungan Habitatnya”. Dalam Ayu Sutarto dan Yuwana Sudikan (ed). Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Surabaya: Biro Mental Spiritual Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim.

Yuswadi, Hary. 2008. “Budaya Pandalungan: Bentuk Multikulturalisme dan Hibriditas Budaya Antaretnik”. Dalam Ayu Sutarto dan Yuwana Sudikan (ed). Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Surabaya: Biro Mental Spiritual Provinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim.

 

Share This:

About Ikwan Setiawan 148 Articles
Ketua Umum Matatimoer Institute. Pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember. Anggota Dewan Pakar Dewan Kesenian Jember. Aktif dalam penelitian sastra, budaya lokal dan media dengan fokus kepada persoalan poskolonialitas, hegemoni, politik identitas, dan isu-isu kritis lainnya. Email: senandungtimur@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*